perbuatan baik. Tentu saja paling baik kalau orang bersedia melakukan kebaikan, tetapi sebagai manusia, kita adalah makhluk sosial. Tidak mungkin bagi kita untuk tidak bertemu dengan orang lain; karenanya, penting bagi kita untuk mengetahui cara mengembangkan diri saat berinteraksi dengan orang lain.
Cara terbaik untuk melakukan ini adalah dengan mengikuti nilai kerendahan hati. Orang yang rendah hati di dalam masyarakat menerima dukungan dan kepercayaan orang banyak. Jika memahami nilai kerendahan hati, mereka juga akan mengerti pentingnya memperbaiki diri terus-menerus. Perbaikan diri secara terus-menerus ini tidak hanya mencakup upaya mencari pengetahuan yang lebih tinggi, tetapi juga meliputi kebutuhan untuk menjadi manusiawi, untuk menjadi lebih baik lagi dalam tugas sehari-hari, dan memperbaiki komunikasi dengan kawan-kawan.
Banyak manfaat dan imbalan berasal dari bertingkah laku berdasarkan pemahaman terhadap kerendahan hati. Ajaran ini memusatkan perhatian pada manfaat kebajikan rendah hati, yang dibuktikan oleh pengalaman pribadi Liao-Fan. Orang akan menerima manfaat besar jika mereka dapat merenungkan dengan seksama dan memahami
Liao-Fan: Dalam I Ching, Kitab Tentang Perubahan, gambar segi enam
kerendahan hati mengatakan ...
Narator: “Hukum langit mengambil dari mereka yang sombong
dan memberi menfaat bagi mereka yang rendah hati. Hukum bumi tidak membolehkan mereka yang sombong dan mementingkan diri sendiri untuk tetap seperti itu, tetapi akan membawa perubahan bagi mereka. Orang rendah hati tidak akan kekurangan, tetapi akan terisi seperti air mengalir mengisi tempat lebih rendah yang dilaluinya. Hukum makhluk halus dan para dewa membawa kerugian bagi mereka yang arogan dan nasib baik bagi mereka yang rendah hati. Bahkan hukum manusia memandang rendah mereka yang sombong dan menyukai mereka yang rendah hati.”
Liao-Fan: Karena itu, bumi, makhluk halus, langit, para dewa, dan
manusia semuanya lebih suka pada kerendahan hati daripada kesombongan. Dalam I Ching, Kitab Tentang Perubahan, keenam puluh empat gambar segi enam menggambarkan perubahan terus-menerus dan pengaruh interaksi antara langit dan bumi, yin dan yang. Kitab itu mengajar orang bagaimana menjadi lebih manusiawi. Setiap segi enam memiliki hasil yang baik dan buruk.
Akibat buruk dari sebuah segi enam mengingatkan orang untuk berhenti berbuat jahat dan melakukan perbuatan baik. Hasil baik dari sebuah segi enam mendorong orang untuk lebih rajin memperbaiki diri dan berusaha keras menjadi lebih baik. Hanya segi enam kerendahan hati yang mengandung semua hasil baik tanpa akibat buruk sama sekali. Kitab Tiongkok tentang Sejarah juga mengatakan...
Narator: “Kesombongan akan membawa kehancuran; kerendahan
Liao-Fan: Saya sering pergi mengikuti ujian dengan ditemani orang
lain, dan tiap kali saya selalu bertemu dengan pelajar-pelajar yang sangat miskin. Saya perhatikan bahwa sebelum mereka berhasil lulus dalam ujian dan hidup makmur, wajah-wajah mereka menunjukkan kerendahan hati, kedamaian, dan keselarasan yang begitu dalam sehingga saya merasa hampir dapat memegang kualitas itu dalam tanganku.
Beberapa tahun lalu, saya mengikuti ujian kekaisaran di Beijing. Di antara sepuluh peserta dari desa saya, Ding Ching-Yu paling muda dan sangat rendah hati. Saya memberitahu salah satu peserta, Fay Po, bahwa anak muda ini pasti akan lulus ujian tahun ini. Fay Jin-Po bertanya ...
Fay Jin-Po: Bagaimana kamu bisa tahu?
Liao-Fan: Saya bilang, “Hanya orang rendah hati yang memenuhi
syarat untuk menerima nasib baik. Kawanku, lihatlah sepuluh diri kita; adakah yang sejujur, begitu murah hati, dan tidak pernah mencoba menduduki urutan pertama, seperti Ching-Yu?
Adakah orang yang kamu lihat selalu hormat, tenggang rasa, cermat, dan rendah hati seperti Ching-Yu? Adakah orang yang kamu lihat seperti Ching Yu, yang saat dihina tidak balas membantah, atau ketika difitnah tidak menyerang balik? Orang yang mampu mencapai tingkat kerendahan hati seperti itu akan menerima perlindungan dari bumi, makhluk halus, dan langit. Tidak ada alasan dia tidak dapat hidup makmur.”
Narator: Memang benar, ketika hasil ujian diumumkan, Ding
Liao-Fan: Satu tahun di Beijing, saya tinggal dengan kawan masa kecil
saya, Zung Kai-Zhi. Saya perhatikan bahwa dia selalu bersikap rendah hati dengan pembawaan yang baik hati dan suka menolong. Tidak ada sedikit pun rasa sombong dalam dirinya, jauh berbeda dibandingkan sikapnya di waktu kecil. Kai-Zhi mempunyai seorang kawan bernama Li Ji-Yen yang jujur dan terus terang. Ji-Yen sering memarahi Kai-Zhi atas kesalahannya, tetapi Kai-Zhi selalu menerima tuduhan itu dengan tenang tanpa membantah.
Saya mengatakan padanya “Seperti terdapat tanda-tanda peringatan saat nasib buruk datang, demikian juga halnya kita dapat melihat kemakmuran datang pada mereka yang telah mengembangkan sebab-sebab datangnya kemakmuran itu. Langit akan menolong mereka yang mempunyai kerendahan hati. Kamu, kawanku, pasti akan lulus ujian kekaisaran tahun ini!” Belakangan, dia benar-benar lulus ujian tersebut.
Ada seorang anak muda dari Propinsi Santong bernama Zhou Yu-Fong yang lulus ujian kekaisaran tingkat pertama sebelum dia berusia 20 tahun. Sayang sekali, meskipun telah berusaha mati-matian, dia tidak berhasil dapat lulus ujian tingkat selanjutnya. Pada waktu ayahnya dimutasikan ke bagian lain dalam pemerintahan, Yu-Fong turut pindah bersamanya, dan menjadi sangat mengagumi Chian Min-Wu, sarjana termahsyur yang tinggal di desa itu.
Yu-Fong membawa karangannya kepada orang ini. Dia tidak mengira Tuan Chian akan mengambil kuas tulis dan mencoreti seluruh karangannya. Tidak hanya tidak marah, Yu-Fong juga dengan ikhlas menerima semua koreksi yang dilakukan Tuan Chian dan segera mengubah tulisannya dengan patuh.
sangat sukar ditemukan. Tahun berikutnya, Yu-Fong lulus ujian kekaisaran itu.
Liao-Fan: Satu tahun, saya pergi ke ibukota memberi hormat kepada
kaisar. Saya bertemu dengan seorang sarjana bernama Hsia Jian-Suo yang memiliki semua kualitas orang besar tanpa jejak keangkuhan sama sekali. Saya merasakan aura yang luar biasa dari kebajikan dan kerendahan hati di sekeliling dirinya.
Ketika kembali ke rumah, saya memberitahu kawan saya, “Saat langit menginginkan seseorang hidup makmur, pertama-tama ia akan menganugerahinya dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan dapat membuat orang menjadi jujur dan berdisiplin. Langit telah menganugerahi Jian-Suo dengan kebijaksanaan, jika tidak dia tidak akan dapat begitu lembut, baik, dan bajik. Dapat dipastikan, langit sekarang akan membuatnya hidup makmur.” Memang benar, tatkala hasil ujian diumumkan, Jian-Suo lulus.
Ada seorang sarjana bernama Chang Wei-Yan dari Jiangying yang sangat terpelajar dan pandai mengarang. Dia juga sangat terkenal di antara sarjana. Satu tahun ia mengambil ujian di Nanjing, dan tinggal di sebuah kuil Tao.
Saat hasil ujian diumumkan, dia mendapatkan dirinya tidak lulus. Dia menjadi sangat marah dan dengan lantang menyalahkan pemeriksa ujian telah buta tidak dapat mengenali bakatnya yang jelas. Pada saat itu, seorang pendeta Tao berdiri di sampingnya sambil tersenyum, dan Wei-Yan serta-merta melampiaskan kemarahannya kepada pendeta ini. Pendeta itu berkata...
Liao-Fan: Wei-Yan makin marah.
Wei-Yan: Bagaimana engkau bisa tahu jika baca saja belum?
Pendeta: Saya sering mendengar orang berkata unsur paling penting
dalam mengarang adalah hati yang damai dan watak yang harmonis. Tuduhanmu yang keras dan dipenuhi kemarahan jelas menunjukkan bahwa pikiranmu tidak tenang dan watakmu kasar. Mana mungkin engkau bisa membuat karangan yang baik?
Liao-Fan: Wei-Yan bisa menerima kata-kata pendeta Tao itu, dan balik
meminta nasihatnya. Pendeta tersebut berkata...
Pendeta: Apakah lulus atau tidak sepenuhnya tergantung pada
nasibmu. Jika ditakdirkan tidak lulus, maka sebaik apa pun karanganmu, engkau tetap akan gagal. Dirimu sendiri perlu membuat beberapa perubahan!
Wei-Yan: Bagaimana saya dapat merubah sesuatu yang telah
ditakdirkan sebelumnya?
Pendeta: Walaupun kekuasaan membentuk takdir dirimu ada di
langit, hak untuk menciptakannya kembali ada dalam dirimu sendiri. Sepanjang bertekad untuk berbuat baik dan mengembangkan ‘kebajikan tersembunyi’, engkau akan menerima apa yang engkau inginkan.
Wei-Yan: Saya cuma seorang pelajar miskin. Perbuatan baik apa yang
mungkin saya lakukan?
Pendeta: Berbuat baik dan mengumpulkan kebajikan tersembunyi
menaburkan niat untuk mempraktikkan perbuatan baik dan mengumpulkan kebajikan, jasa-jasa yang engkau kumpulkan akan tak terbatas dan luas tak terkirakan! Kebajikan rendah hati misalnya, tidak memerlukan biaya apa pun; mengapa engkau tidak dapat bersikap rendah hati dan merenungkan kembali karanganmu daripada menyalahkan pemeriksa ujian telah bersikap tidak adil?
Liao-Fan: Chang Wei-Yan mendengarkan kata-kata pendeta Tao itu,
dan sejak itu melenyapkan sikap sombongnya. Dia menjadi sangat waspada atas segala tindakannya dan mencoba untuk tidak berbuat salah. Setiap hari dia berusaha lebih keras untuk berbuat baik lebih banyak lagi dan mengumpulkan lebih banyak jasa baik.
Tiga tahun kemudian, pada suatu malam dia bermimpi memasuki sebuah rumah yang sangat tinggi dan melihat sebuah buku yang berisi semua nama peserta yang lulus ujian tahun itu. Dia melihat banyak baris kosong. Tidak mengerti maksudnya, dia bertanya pada orang yang berada di sebelahnya...
Wei-Yan: Apa ini?
Orang Yang Ditanya: Buku ini berisi semua nama peserta yang lulus
ujian tahun ini.
Wei-Yan: Mengapa terdapat begitu banyak baris kosong?
Orang Yang Ditanya: Makhluk halus dari dunia gaib memeriksa para
peserta ujian setiap tiga tahun. Hanya nama-nama mereka yang melakukan perbuatan baik dan tidak membuat kesalahan dibolehkan dicatat pada buku ini. Baris yang kosong tadinya dipergunakan untuk menampung nama-nama mereka yang seharusnya lulus ujian, tetapi karena membuat pelanggaran baru-baru ini, nama-nama itu
Liao-Fan: Lalu, dengan menunjuk satu baris, orang itu berkata... Orang Yang Ditanya: Ah-ha, tiga tahun terakhir Anda sangat
berhati-hati dan telah berusaha mengendalikan diri sedemikian keras sehingga tidak melakukan kesalahan apa pun. Barangkali namamu akan mengisi baris kosong ini. Saya harap Anda tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan tetap menjaga diri untuk tidak berbuat kesalahan apa pun!
Narator: Memang benar, Wei-Yan lulus ujian tahun itu dan berada di
peringkat ke-105.
Liao-Fan: Dari contoh-contoh di atas, kita tahu bahwa makhluk halus
dan para dewa selalu memperhatikan tingkah laku kita.
Narator: Karenanya, kita harus segera berbuat apa saja yang
bermanfaat bagi orang lain dan menghindari berbuat apa saja yang merusak, membahayakan, atau merugikan orang lain. Ini adalah semua hal yang dapat saya putuskan untuk diri sendiri. Sepanjang mengembangkan niat baik; menahan diri untuk tidak berbuat salah; tidak melanggar aturan bumi, makhluk halus, langit dan para dewa; bersikap rendah hati; tenggang rasa, dan tidak sombong; maka bumi, makhluk halus, langit dan para dewa akan terus memiliki welas asih untukku. Hanya dengan demikian, saya akan memiliki landasan bagi kemakmuran masa depan saya.
Mereka yang dipenuhi rasa sombong pasti tidak ditakdirkan menjadi orang besar. Bahkan jika hidup makmur, mereka tidak akan mampu menikmati nasib baik itu untuk waktu yang lama. Orang cerdas tentu tidak akan membuat diri mereka kecil dan picik atau menolak nasib baik yang menjadi hak mereka.
mengajari dia? Selain itu, orang yang rendah hati selalu sudi belajar dari kelebihan orang lain. Ketika orang lain melakukan perbuatan baik, orang rendah hati akan belajar dan mengikuti teladan mereka. Dengan cara ini, perbuatan baik yang dapat dilakukan orang rendah hati tidak terbatas! Orang yang ingin mengembangkan dan meningkatkan nilai kebajikan, tidak akan dapat melakukannya tanpa memiliki nilai kerendahan hati.
Liao-Fan: Para leluhur kita memiliki pepatah kuno...
Narator: “Mereka yang berteguh hati mencapai sukses dan ketenaran,
tentu akan mencapai sukses dan ketenaran. Mereka yang berteguh hati mencapai kekayaan dan kedudukan, tentu akan mendapatkan kekayaan dan kedudukan.”
Liao-Fan: Orang yang memiliki tujuan hidup yang ‘besar dan
menjangkau jauh’ seperti pohon yang mempunyai akar. Pohon yang memiliki akar akhirnya akan tumbuh menjadi cabang, daun dan bunga. Orang yang telah menetapkan tujuan hidup yang ‘besar dan menjangkau jauh’ harus bersikap rendah hati dalam setiap pikirannya dan berusaha melepaskan beban orang lain meskipun kejadiannya tidak berarti seperti setitik debu.
Narator: Jika dapat mencapai tingkat kerendahan hati seperti ini,
orang dengan sendirinya akan menyentuh hati bumi dan langit.
Liao-Fan: Lagi pula, saya adalah pencipta kemakmuran hidup saya
sendiri; jika benar-benar ingin menciptakannya, saya tentu akan berhasil. Lihatlah para peserta ujian yang mencari ketenaran dan kekayaan. Pada awalnya, mereka tidak menumbuhkan hati yang tulus; cuma minat yang iseng. Jika lagi suka, mereka mengejarnya. Saat minat mereka turun, mereka berhenti. Mencius pernah berkata
Mencius: Yang Mulia mencintai musik. Akan tetapi kecintaan Yang
Mulia pada musik sekadar kesenangan pribadi. Jika Yang Mulia dapat meluaskan hati, dari yang mencari kebahagiaan pribadi menjadi hati yang berbagi kebahagiaan dengan semua rakyat dan membuat mereka sama gembiranya dengan Yang Mulia, maka negara pasti menjadi makmur!
Liao-Fan: Saya pikir hal itu sama dengan mereka yang berusaha
memperbaiki hidup dengan mengubah takdir. Jika orang dapat meluaskan hatinya, dari yang tadinya berharap lulus ujian menjadi hati yang dengan rajin berbuat kebajikan, mengumpulkan jasa baik, dan berusaha keras memperbaiki watak, maka nasib dan kemakmuran akan menjadi milik mereka untuk diciptakan.