B. Paparan Data dan Temuan Situs 2 Pondok Pesantren Sidogiri
3. Cara Membangun Citra Pondok Pesantren Sidogiri
Cara membangun citra pondok pesantren salafiyah Sidogiri Pasuruan melalui tokoh pendiri, kharisma kiai dan pengabdian langsung di masyarakat, terutama para alumni dan santri. Hal ini sebagaimana temuan data di lapangan, yang peneliti paparkan berikut di bawah ini.
Pondok Pesantren Sidogiri sebagai lembaga pesantren tertua di Indonesia selalu berusaha membangun citranya, sehingga sebuah pesantren mempunyai nilai yang plus di mata masyarakat. Citra pondok pesantren Sidogiri tak lepas dari nama besar pendirinya, yaitu Sayid Sulaiman, yang merupakan putra dari Sayid Abdurrahman bin Umar ba Syaiban (Sunan Gunung Jati), seorang Habaib dari Hadratalmaut, Yaman. Hingga sekarang sudah sampai pada generasi ke-8. nama besar dan kharisma pengasuh ponpes salafiyah Sidogiri, KH. Abd. Alim bin Abdul Djalil membawa persepsi dan opini positif tersendiri di kalangan masyarakat. Selanjutnya ponpes salafiyah Sidogiri membangun citra lembaga melalui 5 cara, antara lain: alumni; ekonomi; media; pendidikan; sosial; dan dakwah serta branding.
Alumni berperan penting dalam membangun citra di pondok pesantren Sidogiri. Walaupun mereka sudah menjadi alumni, namun hubungan emosional dengan para Kiai masih terjalin. Ustadz Sholeh menjelaskan:
Kami memang mendidik dengan hati, sehingga ada hubungan emosional walaupun mereka sudah alumni dari ponpes ini. Bahkan mereka tetap disebut sebagai santri, karena ada waktu untuk tetap mengaji khusus bagi alumni setiap bulan sekali, namun akhirnya berkembang pada masyarakat umum juga ada yang ikut bergabung. Ada kitab khusus yang memang dikaji dalam kajian alumni ini (Fathul Mu‘in). Pengasuh akan datang ke daerah untuk mengaji. Sarana untuk menjaga hubungan emosional ini adalah yang mengaji ada pewakilan dari salah satu dewan masyayikh (majelis keluarga), sehingga ini sebagai sarana untuk menyambung ikatan tesebut dan mendidik hati para santri.113
Bahkan Samsul Huda menjelaskan tentang Ikatan Alumni Santri Sidogiri:
Ini memang perbedaan dari lembaga kami. Ada sisi yang memang kita sudah terlepas, dan ada hal-hal yang sepertinya melekat. Memang ikatan santri alumni ini banyak sekali kiprahnya di masyarakat. Ada 4 bidang: ekonomi bisnis, dakwah sosial, bantuan hukum, pendidikan dan pelatihan. Setiap tahun kami ada raker. Kalau pengajian itu di luar bidang kerja alumni tersebut. Kalau pengajian itu langsung dari pengasuh yang memiliki inisiatif, dan dari majelis keluarga pasti ada yang hadir, kalaupun tidak bisa/berhalangan maka pengurus yang hadir114
Bahkan Samsul melanjutkan:
Karena pengasuh masih menganggap alumni adalah tanggung jawab dan masih keluarga kita. Sebagai contoh kecil kemaren di Jember ada alumni yang menyeleweng dalam hal ibadahnya, dewan majelis langsung mendatangi untuk memberi tausiyah, dan langsung ke rumahnya. Saya ikut langsung itu.
113
Wawancara ustadz Sholeh, Koordinator Guru Tugas, 26 September 2011
114
Bukti alumni masih tanggung jawab dan keluarga kami adalah, kami membentuk 4 bidang kerja alumni, sebagaimana tersebut di atas, sehingga kalaulah ada alumni yang dirasa masih tergolong kurang mampu, kami memfasilitasi melalui bidang kerja tersebut (Ekonomi bisnis, bantuan hukum, dakwah sosial, pendidikan dan pelatihan). Jadi hubungan antara ponpes dengan santri dan alumni masih terjaga. (melatih jiwa enterpreneurship bagi para santri—sebagai tanggung jawab moral ponpes terhadap santri alumni).115
Sholeh, ketika menjelaskan mengenai peran alumni dalam perekrutan dan dakwah, juga menambahkan:
Tiap bulan kami ada pengajian alumni keliling. Kita mengajak alumni untuk sejenak menjadi santri kembali. Selama 1 tahun ini sudah terprogram untuk tempatnya. Kiai akan datang ke suatu tempat lokasi/desa alumni tersebut, bisa jadi alumni yang mempunyai pondok ataupun masjid yang dituju. Semua pembiayaan yang menanggung adalah pondok. Ini juga bagian dari syi‘ar. Namanya IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri) di tiap kabupaten dan kecamatan ada. Tiap satu tahun sekali ada haul masyayikh ini wadah berkumpulnya para alumni untuk saling berkomunikasi. Di sini berkumpulnya alumni, santri, wali santri dan masyarakat. Biaya swadaya santri dan ponpes.116
Jadi Implikasi dari label ‖santri‖ bagi seseorang yang sedang maupun telah selesai menuntut ilmu tersebut berimbas pada loyalitas mereka terhadap figur yang secara otomatis terhadap lembaganya. Hal ini tercermin jika ada kegiatan akbar seperti haul maupun akhirussanah, mereka akan meluangkan waktu, tenaga dan biaya untuk menghadiri acara tersebut, walaupun tanpa ada undangan resmi. Acara ini selain sebagai ajang yang bernuansa religi, secara tidak langsung juga bisa digunakan para santri,
115
Wawancara dengan sekret I (Samsul Huda), 17 September 2011
116
alumnus, masyarakat, tokoh agama, maupun stakeholder untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara langsung tentang segala hal (politik, ekonomi, sosial, dan lain-lain) sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan masing-masing. Tanpa disadari ini adalah ajang untuk menjalin hubungan yang baik dengan pihak lain, dan hal tersebut merupakan tujuan dari public relations.
Branding ‖santri‖ dipertahankan bahkan menjadi icon tersendiri yang membedakan dengan sekolah umum lain (walau sudah alumni namun gelar santri tetap melekat). Hal ini untuk menjaga hubungan/ikatan batin antara santri (baik yang masih ngaji ataupun sudah alumni) dengan kiai. Cara inilah yang dipakai pondok pesantren Sidogiri untuk membangun citranya.
b. Ekonomi
Pembangunan citra dalam bidang ekonomi ini dilakukan dengan mendirikan BMT, Kopontren117 dan sebagainya yang bergerak dalam bidang ekonomi. Bahkan BMT yang ada di pondok pesantren Sidogiri ini menjadi rujukan yang lain, demikian juga Kopontrennya. Samsul Huda menjelaskan:
Kita memprioritaskan anggota BMT adalah alumni santri Sidogiri. Taruhlah BMT kita ada 140 cabang. Setiap cabang ada 7 pegawai. Itu sudah 980 karyawan. Padahal
117
Peneliti menyempatkan diri untuk observasi kopontren yang ada di pondok pesantren Sidogiri. Dalam pengamatan peneliti, kopontren terletak di tempat yang strategis dengan akses terbuka untuk umum. Seluruh petugas yang ada di kopontren memakai seragam Sidogiri. Kopontren menyediakan semua kebutuhan sehari-hari santri dan masyarakat. Selanjutnya peneliti melanjutkan observasi ke UGT Sidogiri. Bangunan UGT Sidogiri telah menggunakan link on line berbasis IT, dengan tata ruang yang sangat rapi setara dengan bank konvensional. Observasi peneliti tanggal 17 September 2011 jam 14.30 WIB
alumni kita rata-rata tiap tahun 500-an alumni. Ini masih sangat mencukupi. Belum lagi yang kopontren yang ada di berbagai cabang, dan ke depan kami akan terus mengembangkan cabang-cabang yang ada di daerah. Sekarang ini kami sedang membangun balai pelatihan milik sendiri.
Di bidang ekonomi ada 8 orang menangani. Mengenai perekrutan tenaga pekerja, pada dasarnya kami tetap melihat prestasi akademik santri dulu. Namun perekrutan di sini ini modelnya unik. Kadang kami tidak tahu kalau kami mau direkrut untuk bergabung dalam pengurus. Hal ini biasanya penunjukan langsung dari anggota keluarga/kiai. Selain itu juga ada pertimbangan lain selain prestasi akademik. Di ponpes ini juga seringkali diadakan pelatihan kepemimpinan misalnya, dari situ pengelola bisa melihat santri mana yang memiliki potensi. Jadi kami belajar sambil jalan. Kalau saya melihat pengelola itu memegang prinsip bahwa santri itu dapat dipercaya (amanah dan shadiq) itu yang dipegang pertama. Santri sudah memiliki agama yang kuat, baru bekal selanjutnya kami belajar sambil jalan. Dan alhamdulillah teman-teman nyatanya bisa. Kami studi banding dulu, selanjutnya kami belajar baik secara personal maupun mengikuti pelatihan atau di sekolahkan dari lembaga118
Saifulloh juga menjelaskan:
Kami menggunakan SDM dari alumni santri yang sudah tamat Aliyah. Walau mereka tidak sekolah formal, tanpa ijazah S1 namun kami memegang prinsip bahwa masalah teknis bisa dipelajari 1, 2 minggu maksimal 1 bulan, selanjutnya sudah bisa berjalan lancar. Masalah perekrutan karyawan kami hanya memegang dua prinsip utama yaitu sidiq (benar/jujur) dan amanah (dapat dipercaya). Kami yakin kalaulah seseorang itu sudah memiliki dua sifat tersebut maka selanjutnya tinggal menggodok fatonah (kecerdasan) dan selanjutnya tableqh (menyampaikan). Dua hal yang terakhir ini bisa didapat by process.119
Hal ini juga didukung observasi yang peneliti lakukan: Beginilah suasana kantor pusat kegiatan ekonomi ponpes Sidogiri. (Kantornya sangat bagus, bersih dan rapi persis seperti kantor
118
Wawancara dengan sekret I (Samsul Huda), 17 September 2011
119
Wawancara dengan Ustadz Saifulloh Naji Sekretaris Umum PP Sidogiri, 16 September 2011
bank-bank konvensional sudah menggunakan layanan on line dengan sekat-sekat ruang yang sudah tertata jelas, menunjukkan bahwa manajemennya berjalan).120
Mengenai omset dan seputar BMT tersebut, Ustadz Saifulloh juga menjelaskan:
Omsetnya per-September kemarin mencapai angka 1 Trilyun. diawali dari 140 juta pada tahun 2000. Sebetulnya awal mula BMT dimulai dari keprihatinan pondok terhadap para masyarakat yang ada di sekeliling pondok yang memiliki usaha kecil (berjualan di sekitar ponpes) yang berhutang kepada rentenir untuk memulai usahanya. Modal dari rentenir, sementara dimakan oleh para santri menimbulkan inisiatif dari pengelola untuk membantu mengentaskan mereka dari para rentenir. Akhirnya muncullah BMT Sidogiri. Awalnya kami membantu memberi modal dengan tanpa laba. Setelah nasabah bisa mandiri akhirnya demi pengembangan BMT pada tahun-tahun seterusnya kami mengelolanya. Sampai dengan saat ini sudah ada 138 cabang BMT di seluruh Indonesia. Nanti jam 14.00 ini ada rapat pertemuan BMT sidogiri se-Indonesia di hotel Semeru Batu.121
Bahkan BMT tersebut dijadikan rujukan oleh BMT yang lain. Saifulloh menjelaskan:
Memang BMT ini menjadi rujukan yang lain. Kemarin ada utusan dari PBNU untuk mengadakan pelatihan langsung di sini selama 2 bulan untuk mengkaji tentang konsep Ekonomi Syari‘ah yang dikembangkan oleh UGT ini. Tempatnya ya di sini ini. (Gedung UGT terdiri dari tiga lantai, dengan lantai dasar untuk transaksi, ltu dua untuk ruang perkantoran, dan lantai tiga untuk gedung pertemuan).122
120
Observasi tanggal 16 September 2011
121
Wawancara dengan Ustadz Saifulloh Naji Sekretaris Umum PP Sidogiri, 16 September 2011
122
Wawancara dengan Ustadz Saifulloh Naji Sekretaris Umum PP Sidogiri, 16 September 2011
Memang pada dasarnya dan awalnya niat dari BMT ini adalah berjuang. Tapi apabila perjuangan tersebut disertai dengan keikhlasan, maka akan membuahkan hasil juga. Saifulloh menjelaskan hal ini panjang lebar sampai pada upah yang diberikan kepada para pegawai, dengan penjelasannya sebagai berikut:
Sebetulnya niat kami adalah berjuang. Ada yang berjuang lewat pendidikan, berjuang lewat pengajian (dakwah), dan urusan ekonomi ini kami juga berjuang. Di dunia ini juga butuh hidup. Keluarga bisa menyekolahkan anaknya di pondok juga butuh biaya. Kalaulah kami membantu memberikan modal usaha, semuanya supaya bisa survive di dunia untuk berjuang kembali menjalankan ibadah dan menegakkan agama. Sungguh sangat tragis kalau menengok nasib para ustadz-ustadz madrasah diniyah kita. Mereka hanya digaji sangat tidak seberapa dengan mengharap keikhlasan saja. Ikhlas yang bagaimana kalau satu bulan hanya digaji 50 ribu, sementara mereka memiliki istri dan anak. Dengan sumber daya yang seperti itu bagaimana pengelolaannya? Apalagi peningkatan kualitasnya? Sebetulnya inilah yang menjadi keprihatinan kami. Kalaulah ini dibiarkan terus maka nasib madrasah diniyah akan semakin tidak diminati oleh masyarakat. Kami ingin mengangkat kembali madrasah diniyah. Sekadar informasi saja, untuk karyawan kami yang baru masuk saja kami memberi UMR tertinggi di Jawa Timur, yaitu standar kami Gresik. Karyawan baru kami beri gaji Rp. 1.050.000,-.123
Dari paparan tersebut di atas menunjukkan bahwa niat pertama kali organisasi ekonomi di pondok pesantren Sidogiri adalah berjuang dan berdakwah. Hal inilah yang justru akhirnya mampu digunakan untuk membangun citra pondok dengan sendirinya.
123
Wawancara dengan Ustadz Saifulloh Naji Sekretaris Umum PP Sidogiri, 16 September 2011
Cara membangun citra yang lain melalui bidang ekonomi selain melalui BMT adalah melalui Kopontren. Kopontren Pondok pesantren Sidogiri merupakan Kopontren percontohan se-Indonesia. Samsul Huda menguraikan:
Kalau saya lihat pesantren-pesantren lain kopontren itu miliknya kiai/ustadz. Memang dulu di sini awalnya juga begitu. Namun sejak tahun 1960-an menjadi dikelola oleh pengurus ponpes sehingga manajemennya terpusat. Sejak itu keluarga memiliki saham, yang mengelola pondok, sehingga masing-masing kiai tinggal menerima bagi hasil bersihnya saja, dengan barang-barangnya yang dijual tetap.124
Kopontren yang ada di ponpes Sidogiri dulunya adalah miliknya kiai, namun dalam perkembangannya dikelola dengan manajemen yang baik sehingga mempunyai nama dan sekarang tersebar di seluruh Indonesia. Data mengenai BMT dan Kopontren dapat dilihat di lampiran.
c. Media
Media merupakan salah satu wahana komunikasi dan membangun citra sebuah lembaga pendidikan, terutama pesantren. Pondok pesantren Sidogiri mempunyai beberapa media yang digunakan sebagai wahana komunikasi eksternal dengan cara memberikan informasi-informasi seputar perkembangan pondok pesantren Sidogiri dan seputar pendidikan juga pengetahuan. Tedapat 14 nama media komunikasi di pondok pesantren Sidogiri dengan sasaran yang berbeda-beda. Satu diantaranya merupakan
124
media elektronik, enam diantaranya diperuntukkan untuk kalangan umum sedangkan delapan untuk kalangan intern pondok pesantren.125
Mengenai materi dari bulletin-bulletin tersebut, Samsul Huda mengemukakan: Itu awalnya ketika kami memfasilitasi teman-teman yang memiliki bakat tulis-menulis. Kami mengadakan pelatihan jurnalistik. Karena santri tidak diperkenankan membawa laptop, maka santri diperkenankan menulis secara manual, lalu diserahkan ke pengurus. Pengguna komputer kami membolehkan yang sudah kelas aliyah, dan itu pun tertentu, tidak semua.126
Jadi santri memperoleh materi bulletin secara otodidak, lalu menulis secara perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit. Namun materi bulletin yang akan diterbitkan harus melewati BPPS terlebih dahulu. Ketua BPPS mengemukakan:
Isi bulletin yang banyak tentang kajian keislaman kalau berita tidak begitu banyak. Kajian keislaman yang bisa masuk tergantung pada pengelolaan bidang masing-masing. Misalnya bidang perpustakaan memiliki mading sendiri, materinya tergantung pada pengelolaan bidang tersebut. Ada mading al-Ittihad yang dikelola oleh laboratorium bahasa Arab, sehingga topiknya berkenaan dengan bahasa Arab. Ada mading as-Shihah yang dikelola oleh bidang kesehatan/balai pengobatan.
Tugas utama BPPS adalah pembinaan dan pendampingan. Kami menjadi atasan media itu bukan secara struktural tetapi fungsional. Secara fungsional ya berada di bawah naungan bidang masing-masing, namun secara
125
Nama-nama media dapat dilihat di lampiran.
126
struktural yang berada di bawah naungan pepustakaan, kami mendampingi dan mengoreksi. Setiap kali ada media yang akan terbit kami harus mengoreksi. Kami merekom, namun penebitannya kami kembalikan pada bidang masing-masing. Ibarat buku kami ini ISBN-nya. Kami mengontrol, karena tulisan santri terkadang ada istilah-istilah yang tidak diperkenankan atau dipandang tidak pantas, maka kami yang mengedit dan merevisinya.127
Bulletin-bulletin tersebut terbit dengan waktu yang berbeda-beda. Bulletin Sidogiri terbit setiap 2 minggu sekali, sedangkan Tau’iyah terbit setiap hari jum‘at. Abdul Ghafar mengemukakan: ‖ Majalah khusus untuk sidogiri, laziswa, tamasya – laporan tahunan ponpes sidogiri, yang terbit setiap 2 Jum‘at (Tau’iyah) diberikan secara gratis ke mushola/masjid berisi tentang dakwah keislaman dan forum tanya jawab‖128. Sedangkan pendistribusian bulletin-bulletin tersebut dilakukan oleh Alumni. Ahyat mengemukakan:
Cara mendistribusikan melalui jaringan alumni yang bersedia. Dan alhamdulillah kebanyakan mereka bersedia, karena alumni yang sudah di masyarakat, rata-rata pendidikan dan pengalamannya semakin bertambah, sehingga komunikasinya dengan masyarakat semakin luas. Kami juga mempertimbangkan waktu dan tenaga. Artinya, alumni selain memiliki ikatan batin dengan ponpes, tapi kami juga tidak Cuma-cuma, artinya kami menghargai waktu dan tenaganya. Kami memberikan 40% dari harga jual bagi yang mendistribusikan. Pemasarannya melalui alumni, namun ada juga yang bukan alumni. Pendistribusian mulai daerah Probolinggo, Bali, Madura, Surabaya, Jakarta, Kalimantan dan lain-lain mencapai puluhan kota. Rata-rata tiap distributor meminta 500 eksemplar. Misalnya di Bangkalan, di sini terdapat hanya satu distributor, namun menguasai 2 kabupaten, Bangkalan dan Sampang. Sehingga masing-masing distributor ini memiliki segmen pelanggan tersendiri. Kami sengaja memiliki distributor satu saja di tiap titik kota.
127
Wawancara dengan Ustad Yasir ketua BPPS, 24 September 2011
128
Distributor yang di Bangkalan tidak boleh menjual di Pamekasan. Kami memberikan 40% dari harga jual itu untuk distributor. Selanjutnya distributor membaginya dengan agen. Rata-rata tiap agen dapat 15-20%.129
Ahyat juga menambahkan:
Rata-rata kami menerbitkan sekitar 7.000-10.000 oplah, dengan distribusi mencapai 90% habis terjual. Karena kami memiliki kesepakatan dengan distributor, bahwa barang yang sudah dibawa tidak boleh kembali. Mereka sudah memiliki pasar dan pelanggan yang ada di daerah-daerah, sehingga tidak pernah ada bulletin yang kembali, semuanya habis terjual. Distributor-distributor biasanya meminta sekitar 500. kalaulah mereka meminta lebih dari 500, misalnya 510 begitu, maka ya yang 10 itu tidak boleh kembali.130
Yasir menambahkan:
‖Bulletin mulai cetak tahun 2005. dengan terbit setiap bulan sekali. Dibagikan ke masyarakat luas, melalui distibutor yang sudah ada di beberapa kota, yang kebanyakan adalah para alumni. Namun jika bulan liburan atau ramadhan biasanya digabung sehingga dua bulan terbit sekali. Bulletin terbit satu bulan sekali cuman pada waktu liburan digabungkan dua bulan sekalian bulan ramadlon dan syawal. Pendistribusiannya lewat alumni dan distributor‖131
Akhyat juga menjelaskan peranan bulletin-bulletin tersebut dengan ungkapannya: ‖Peranan bulletin penting sekali, karena otomatis masyarakat akan memandang ponpes ini. Tujuan bulletin: Menyambung komunikasi ponpes dengan alumni dan masyarakat, Memperluas jaringan dakwah, dengan alumni ataupun masyarakat.
129
Wawancara dengan Akhyat (Ketua Bulletin Sidogiri-BS), 24 September 2011
130
Wawancara dengan Akhyat (Ketua Bulletin Sidogiri-BS), 24 September 2011
131
Wawancara dengan Ustad Yasir ketua BPPS, 24 September 2011. Ketika wawancara peneliti berada di kantor BPPS. Ruangan sekitar 4x5m² ini dijadikan sekretariat . namun tidak ada bulletin, majalah, buku ataupun berkas lain yang berserakan. Semuanya tertata dengan rapi, begitu pula dengan laporan pengiriman dan pendistribusiannya. (Observasi peneliti, 24 September 2011, pukul 11.30 WIB)
Paling tidak masyarakat mengetahui tentang insitusi/lembaga ponpes‖132
Dari berbagai penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan bulletin adalah menyambung komunikasi ponpes dengan alumni dan masyarakat, memperluas jaringan dakwah dan pendidikan dengan alumni ataupun masyarakat.
Selain media cetak atau bulletin, di Pondok pesantren Sidogiri juga terdapat website yang bisa dikunjungi siapapun di dunia maya. Samsul Huda mengemukakan:
Informasi untuk tahun ini sedang meningkatkan teknologi berbasis IT. SDM-nya sudah kami persiapkan. Website juga kami operasionalkan. SDM-nya dari santri yang masih aktif, cuman kita kerjasama dengan alumni. Sekarang kita sedang mengubah tampilan di website dengan 3 bahasa. Yang menggarap kerjasama dengan alumni. Santri dari Sidogiri yang disekolahkan ke Bandung kembali ke ponpes menggarap informasi IT. Untuk sementara teman-teman yang di sini belajar autodidak sebanyak 2 orang yang sangat fokus. Kami telah berhasil membuat data base santri yang rencananya akan di link ke semua bidang. Data base santri bisa di link ke bidang kesehatan, perpustakaan dan presensi. Termasuk catatan-catatan akademik santri bisa langsung diakses melalui web. Untuk program ini, kami sudah ditawari 150 juta, tapi alhamdulillah kami bisa belajar autodidak. Kondisi santri gimana, kesehatannya gimana? Catatan akademiknya gimana? Bisa langsung dilihat di web kami. Kami membuatnya sekitar 3 tahunan dan alhamdulillah mulai tahun ini sudah bisa dioperasikan 133
Samsul juga mengakui bahwa sebenarnya tahun ini belum sepenuhnya berbasis WEB, namun sudah dioperasionalkan. Ia menguraikan sebagai berikut:
132
Wawancara dengan Akhyat (Ketua Bulletin Sidogiri-BS), 24 September 2011
133
Kita masih belum berbasis web sepenuhnya, tapi masih di link secara intern di bidang-bidang yang ada di pesantren ini. Antara madrasah (terkait dengan pelajaran) dengan daerah (kegiatan ma‘hadiyah). Ada menu-menu yang akan tampil di link tersebut. Kita ada koordinasi per-instansi (bidang). Ada rapat bulanan, per semester, tahunan. Yang rutin bulanan. Sebenarnya semuanya sudah berjalan rutin di sini, namun kalau melalui link internet khan bisa dideteksi secara global dan cepat.134
Akhyat menambahkan: ‖Di dalam website kami juga menayangkan. Profile, logo, simbol institusi muncul di dalam website http://www.sidogiri@com. Kami selalu meng-update setiap kali ada email yang masuk ataupun kajian-kajian khazanah keilmuan keislaman, materi bulletin, materi khotbah jum‘ah, dan lain-lain, dengan tujuan supaya masyarakat luas yang mengakses website kami bisa mengikuti seluruh informasi dan aktifitas yang ada di dalam ponpes.‖135
Jika sudah masuk ke dalam website maka seluruh dunia akan mengetahui informasi seputar pondok pesantren Sidogiri tersebut. Maka dari itu, pondok pesantren Sidogiri selalu berusaha mengembangkan IT dan membina santrinya untuk belajar IT secara lebih intensif sehingga mempunyai kompetensi khusus dalam bidang website. Kami memiliki prinsip, bahwa media adalah ‗dalang‘. Ibarat pertunjukan wayang, siapa yang memberikan informasi, dan mau dibawa ke mana informasi/cerita tersebut, judul apa yang akan dijadikan cerita dalam pertunjukkan tersebut,
134
Wawancara dengan sekret I (Samsul Huda), 17 September 2011
135
semuanya tergantung pada dalangnya. Demikian pula media massa. Masyarakat luas bisa mengetahui informasi tanpa batas, ruang dan waktu melalui media, baik elektronik maupun non elektronik.