B. Paparan Data dan Temuan Situs 2 Pondok Pesantren Sidogiri
5. Temuan Situs 2 Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan
Berdasarkan uraian data di atas, maka diperoleh temuan sebagai berikut.
a. Keberadaan Public relations di pondok pesantren Sidogiri secara legal formal sebagai pusat dan corong terdepan organisasi tidak ditemukan. Namun kiprah seluruh elemen ponpes diaktualisasikan dalam bentuk khidmah, dan telah menjalankan fungsinya sebagai public relations.
Secara internal ditemukan seksi kehumasan dan informasi di bawah sekretaris I, dengan tugas melayani tamu, memberikan informasi yang dibutuhkan, melayani urusan administrasi santri,
menjalin hubungan dengan pihak lain, melaksanakan organizer event intern santri. Sedangkan tupoksi yang lain adalah penanganan khusus website, desain grafis, dan informasi-informasi penting lainnya
Hal yang menarik di ponpes ini adalah tidak diperkenankannya publikasi oleh dewan masyayikh, sehingga ponpes ini tidak memiliki name board, spanduk, dan lain-lain, namun dewan masyayikh menganjurkan untuk sosialisasi langsung ke masyarakat. Pondok pesantren salafiyah Sidogiri lebih memilih tidak menggunakan mesin yang menderu-deru namun jalannya lambat, melainkan lebih memilih mesin yang tenang namun jalannya secepat kilat. Cara public relations yang dilakukan pondok pesantren Sidogiri melalui beberapa saluran seperti: 1) pendekatan ekonomi, yaitu dengan adanya BMT, pengolahan air limbah, Kopontren, air minum ‖santri‖, kalender dan, 2) pendekatan pendidikan, yaitu dengan adanya guru tugas, menerbitkan bulletin baik yang dibagi secara gratis maupun yang didistribusikan dengan mengganti ongkos cetak bahkan mendirikan panti asuhan.
Akan tetapi Kiai juga berperan dalam melakukan fungsi public relations. Peran Kiai adalah dengan menggunakan performance atau kharismanya. Karena seorang kiai sepuh dita‘dzimkan oleh seluruh masyarakat Sidogiri pada khususnya,
mulai dari masyarakat tingkat bawah sampai dengan pejabat dari unsur pemerintah maupun non pemerintah. Peran kiai dihormati dan ditaati oleh masyarakat sekitarnya, bahkan masyarakat kabupaten Pasuruan juga mentaatinya. Jadi melalui personal influence seorang kiai, public relations di ponpes Sidogiri tersebut eksis. Di samping itu, keberadaan public relations di ponpes Sidogiri secara eksplisit sudah terbentuk dan berjalan sesuai dengan program-program yang ada dalam kegiatan-kegiatan atau event yang diselenggarakan oleh pondok pesantren.
b. Temuan penelitian pada fokus kedua mengenai sistem komunikasi yang dibangun di ponpes salafiyah Sidogiri adalah sebagai berikut: Komunikasi internal yang dijalankan di Ponpes Sidogiri ditemukan secara bertingkat, diawali komunikasi antar santri-pengelola dan ustadz selanjutnya ke kiai. Namun tidak menutup kemungkinan santri mengadakan hubungan komunikasi langsung dengan kiai. Komunikasi yang dibangun tetap sangat mengutamakan adab dan juga memperhatikan situasi dan kondisi yang ada.
Adapun penggunaan bahasa yang dilakukan di ponpes Sidogiri tergolong modern, karena telah menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam waktu 24 jam (khusus untuk daerah/kamar bahasa) dan juga bahasa Indonesia, Jawa, dan Madura. Ini adalah komunikasi dalam bahasa lesan. Sedangkan komunikasi yang lain adalah komunikasi berbasis media. Terdapat
14 media pers (Bulletin Sidogiri, Sidogiri@net, Ijtihad, Istinbat, Tau‘iyah, Laziswa, Nasyith, Maktabati, Mading Himmah, Mading Ibtikar, Mading Tafaqquh, mading Madinah, mading Ash-Shihah dan mading Koreksi) di ponpes Sidogiri yang di publikasikan di kalangan intern maupun ekstern. Media pers ini merupakan upaya untuk pembelajaran reading-writing, sekaligus untuk mengikis pandangan negatif selama ini bahwa santri hanya bisa reading-speaking.
Sedangkan komunikasi dalam sidang majelis, pola komunikasi telah dimanaj oleh majelis masyayikh. Adapun pihak pengurus harian bisa mengajukan usul dan mengajukan sebuah program, akan tetapi ketok palu terakhir tetap berada di bawah majelis masyayikh. Posisi dewan masyayikh sebagai MPR.
Komunikasi eksternal yang dilakukan oleh Pondok pesantren Sidogiri tidak ada yang bersifat publikasi murni155 namun semata karena khidmah kepada masyarakat, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, dakwah dan sebagainya. Di samping itu, komunikasi juga dilakukan dengan menggunakan media yang berguna untuk menyampaikan informasi. Media di pondok pesantren Sidogiri ada yang bersifat elektronik atau berbasis WEB
155
Maksud dari publikasi murni di sini adalah usaha secara aktif menjual suatu produk tertentu dengan tujuan untuk mempengaruhi persepsi masyarakat melalui pesan ataupun kesan yang sengaja diciptakan . Website Sidogiri@net merupakan pusat informasi mengenai pondok pesantren dengan segala aktifitasnya, bertujuan untuk memberikan informasi secara umum mengenai ponpes kepada khalayak, cenderung sifatnya ke arah dakwah, sehingga berbasis pada nilai-nilai keagamaan.
dan ada yang bersifat media cetak. Pesan informasi yang disampaikan kepada masyarakat umum bisa diakses melalui media elektronik tersebut. Selain itu juga bisa di dapat melalui bulletin ataupun majalah. Semua media tersebut terdapat kolom ataupun ruang untuk komunikasi secara interaktif dengan masyarakat umum.
Komunikasi yang dijalankan di ponpes Sidogiri sebenarnya adalah bersifat public information yaitu memberikan informasi kepada publik mengenai pondok pesantrennya dan menuju ke arah two way asymmetric, namun disini peneliti mendeteksi beberapa perbedaan yang sifatnya agak mencolok dari two way asymmetric murni, yaitu mengarah pada pembinaan hubungan, keterbukaan dan saling memahami. Akan tetapi, otoritas penuh tetap berada di pondok pesantren dan peran personal figur juga sangat berpengaruh
c. Temuan penelitian fokus ketiga mengenai citra ponpes salafiyah Sidogiri dibangun melalui 5 cara, antara lain: alumni, ekonomi, media, pendidikan-sosial-dakwah dan branding. Pembangunan citra melalui alumni merupakan jaringan yang sangat kuat dan berdampak pada positive image masyarakat. Di setiap kota/daerah memiliki koordinator alumni santri sidogiri yang dinamakan Ikatan Santri Alumni Sidogiri (ISAS). Aktifitas santri alumni mampu
memberikan nilai kepuasan kepada masyarakat, sehingga almamater ‖sidogiri‖ menjadi terbangun.
Pembangunan citra selanjutnya melalui bidang ekonomi. BMT sebagai icon ekonomi di ponpes Sidogiri berawal dari keprihatinan kiai terhadap maraknya rentenir, sekarang BMT Sidogiri mampu sebagai pelopor penerapan ekonomi syari‘ah dengan memegang prinsip pada amanah dan shidiq yang diutamakan, selanjutnya merambah pada fatonah dan tableq. Selain itu melalui kopontren Sidogiri (usaha retail-kebutuhan sehari-hari) dengan cabangnya sebanyak 140 unit, di-manage secara terpusat dijadikan masyarakat sebagai rujukan utama. Bidang produktif yang lain adalah air minum santri, selain mampu merekrut tenaga kerja yang cukup banyak, juga mengkonsumsi air minum ‖santri‖ dipandang mampu memberikan barakah tersendiri, karena ada barakah do‘a dari kiai dan juga pembelian air minum tersebut sekaligus bisa shadaqah untuk pengembangan ponpes.
Sedangkan pembangunan citra melalui pendidikan, dakwah dan sosial dilaksanakan melalui penugasan da‘i di daerah terpencil, mengadakan kerjasama filial madrasah diniah, pengiriman guru tugas, pelaksanaan program religi kerjasama dengan sekolah formal aktivitas-aktivitas sosial keagamaan melalui LAZISWA, dan lain sebagainya. Dari serangkaian aktivitas nyata yang dilakukan
ponpes salafiyah berdampak positif terhadap masyarakat, sehingga citra positif ponpes terbangun secara alamiyah.
Selain branding yang berupa produk khas ponpes Sidogiri, kiai sebagai pengasuh ponpes juga memiliki branding tersendiri, bahkan cukup besar. Kiai merupakan figur yang berperan sebagai panutan di pondok pesantren Sidogiri tersebut. Dengan demikian personal kiai juga merupakan branding tersendiri untuk membangun citra pondok pesantren.
d. Temuan penelitian yang berkaitan dengan fokus keempat, mengenai proses public relations yang digunakan di pondok pesantren Sidogiri adalah sebagai berikut:
Public relations di ponpes salafiyah Sidogiri Pasuruan yang berjalan adalah fungsinya, keberadaan public relations secara khusus sebagai corongnya lembaga belum ditemukan. Keberadaan public relations diterjemahkan dalam seksi kehumasan dan informasi yang menangani urusan intern ponpes dan juga ekstern, namun dalam hubungan ekstern ini keputusan akhir adalah di dewan masyayikh, sehingga hakekat public relations yang dijalankan masih bersifat natural atau dikatakan masih tradisional, karena secara formal legalitas tidak ada, namun secara fungsi berjalan. Namun sifat tradisional di sini bukan berarti tanpa adanya desain. Karena setiap nasehat maupun petuah dari kiai dan para ustadz pada hakekatnya adalah desain yang paling utama terhadap
pembentukan karakter pribadi santri, dan inilah yang diistilahkan dengan mendidik dengan hati pada setiap elemen yang ada di ponpes salafiyah. Selain itu yang menarik di ponpes ini adalah penggunaan perangkat public relations yang sudah berbasis IT (media pers, administrasi ponpes, data base santri, penggunaan bahasa bilingual) didukung oleh peningkatan sumber daya manusia, santri sendiri. Inilah yang menurut peneliti integrated based on IT. Di sisi lain penerapan media salafiyah tetap dilaksanakan, seperti mengutamakan how to perform, yaitu perilaku akhlakul karimah, baik itu kiai, ustadz, santri maupun alumni semuanya secara sinergi menjaga how to perform tersebut di tengah-tengah masyarakat.
Pendekatan public relations yang lain adalah melalui kuatnya jaringan alumni, kuatnya sumber-sumber produksi berbasis entrepreneurship, sehingga para santri selain telah matang dalam hal ilmu agamanya juga memiliki jiwa entrepreneurship untuk selanjutnya mampu bersaing dengan tantangan kehidupan di masyarakat.
Kiai dan ustadz dengan perfomanya juga merupakan pelaksana fungsi public relations. Jadi personal influence juga sangat berpengaruh di sini. Sehingga proses public relations yang dikembangkan di sini adalah proses yang bersifat natural integrated menuju pada komunikasi yang two way asymmetric.
Adapun Temuan dari keempat fokus penelitian di situs 2 sebagaimana terdapat dalam matrik berikut:
Tabel 4.4. Matrik Temuan Situs 2 Ponpes Salafiyah Sidogiri
No Fokus Temuan Penelitian Keterangan
1 Keberadaan public relations di pondok pesantren salafiyah Sidogiri
- Keberadaan Public relations di pondok pesantren Sidogiri secara legal formal sebagai pusat dan corong terdepan organisasi tidak ditemukan. Namun kiprah seluruh elemen ponpes diaktualisasikan dalam bentuk khidmah, telah menjalankan fungsinya sebagai public relations.
- Secara internal ditemukan seksi kehumasan dan informasi di bawah sekretaris I, dengan tugas melayani tamu, memberikan informasi yang dibutuhkan, melayani urusan administrasi santri, menjalin hubungan dengan pihak lain, melaksanakan even organizer intern santri. Sedangkan tupoksi yang lain adalah penanganan khusus website, desain grafis, dan informasi-informasi penting lainnya - Hal yang menarik di ponpes ini adalah
tidak diperkenankannya publikasi oleh dewan masyayikh, sehingga ponpes ini tidak memiliki name board, spanduk, dan lain-lain, namun dewan masyayikh menganjurkan untuk sosialisasi langsung ke masyarakat. Cara yang dilakukan pondok pesantren Sidogiri melalui pendekatan ekonomi, yaitu dengan adanya BMT, pengolahan air limbah, Kopontren, air minum ‖santri‖, kalender dan pendekatan pendidikan, yaitu dengan adanya guru tugas, menerbitkan bulletin baik yang dibagi secara gratis maupun yang didistribusikan dengan mengganti ongkos cetak bahkan mendirikan panti asuhan.
- Akan tetapi Kiai juga berperan dalam melakukan fungsi public relations. Peran Kiai adalah dengan memakai performa
- Keberadaan public relations di pondok pesantren akan semakin kokoh manakala seluruh elemen ponpes mengaktualisasikan diri dalam bentuk khidmah dengan memegang prinsip salafiyah sebagai nilainya, aktual dalam manajemennya dan terpadu dalam menjalankan
atau kharismanya. Karena seorang kiai sepuh tentu saja dihormati dan ditaati oleh masyarakat sekitarnya, bahkan masyarakat kabupaten Pasuruan juga menaatinya. Jadi melalui personal influence seorang kiai, public relations di ponpes Sidogiri tersebut bertahan. Di samping itu, keberadaan public relations di ponpes Sidogiri tersebut memang secara organisasi sudah dibentuk dan berjalan sesuai dengan program namun bersifat internal (seksi humas dan informasi). 2 Sistem komunikasi yang dibangun di pondok pesantren salafiyah Sidogiri
- Sistem komunikasi yang dibangun di ponpes salafiyah Sidogiri adalah sebagai berikut: Komunikasi internal yang dijalankan di Ponpes Sidogiri ditemukan komunikasi antar santri-pengelola dan ustadz selanjutnya ke kiai. Namun tidak menutup kemungkinan santri mengadakan hubungan komunikasi langsung dengan kiai. Komunikasi yang dibangun tetap sangat mengutamakan adab dan juga memperhatikan situasi yang terjadi
- Adapun penggunaan bahasa yang dilakukan di ponpes Sidogiri tergolong modern, karena telah menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam waktu 24 jam (khusus untuk daerah/kamar bahasa) dan juga bahasa Indonesia, Jawa, dan Madura. Ini adalah komunikasi dalam bahasa lesan
- Komunikasi yang lain adalah komunikasi berbasis media. Terdapat 14 media pers (Bulletin Sidogiri, Sidogiri@net, Ijtihad, Istinbat, Tau‘iyah, Laziswa, Nasyith, Maktabati, Mading Himmah, Mading Ibtikar, Mading Tafaqquh, mading Madinah, mading Ash-Shihah dan mading Koreksi) di ponpes Sidogiri yang di publikasikan di kalangan intern maupun ekstern. Media pers ini merupakan upaya untuk pembelajaran reading-writing, sekaligus untuk mengikis pandangan negatif
- Komunikasi akan terbangun lebih efektif ketika suatu lembaga memiliki personal influence dan menjunjung tinggi adab dan situasi konteks yang tercipta.
selama ini bahwa santri hanya bisa reading-speaking.
- Komunikasi dalam sidang majelis, pola komunikasi telah di-manage oleh majelis masyayikh. Adapun pihak pengurus harian bisa mengajukan usul dan mengajukan sebuah program, akan tetapi ketok palu terakhir tetap berada di bawah majelis masyayikh. Posisi dewan masyayikh sebagai MPR.
- Komunikasi eksternal yang dilakukan oleh Pondok pesantren Sidogiri tidak ada yang bersifat publikasi murni namun semata karena khidmah kepada masyarakat, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, dakwah dan sebagainya. Di samping itu, komunikasi juga dilakukan dengan menggunakan media yang berguna untuk menyampaikan informasi. Media di pondok pesantren Sidogiri ada yang bersifat elektronik atau berbasis WEB dan ada yang bersifat media cetak. Pesan informasi yang disampaikan kepada masyarakat umum bisa diakses melalui media elektronik tersebut. Selain itu juga bisa di dapat melalui bulletin ataupun majalah. Semua media tersebut terdapat kolom ataupun ruang untuk komunikasi secara interaktif dengan masyarakat umum.
- Komunikasi yang dijalankan di ponpes Sidogiri sebenarnya adalah bersifat public information dan menuju ke arah two way asymmetric, namun disini peneliti mendeteksi beberapa perbedaan yang sifatnya agak mencolok dari two way asymmetric murni, yaitu sudah mengarah pada pembinaan hubungan, keterbukaan dan saling memahami. Akan tetapi, otoritas pondok pesantren tetap lebih besar dan peran personal figur juga sangat berpengaruh
3 Pembangunan citra/image melalui manajemen
- Citra ponpes salafiyah Sidogiri dibangun melalui 5 cara, antara lain: alumni, ekonomi, media, pendidikan-sosial-dakwah dan branding. Pembangunan
- Citra positif lembaga akan tercipta dengan sendirinya manakala suatu lembaga tidak
public relations
di pondok
pesantren salafiyah Sidogiri
citra melalui alumni merupakan jaringan yang sangat kuat dan berdampak pada positive image masyarakat. Di setiap kota/daerah memiliki koordinator alumni santri sidogiri yang dinamakan Ikatan Santri Alumni Sidogiri (ISAS). Aktifitas santri alumni mampu memberikan nilai satisfaction kepada masyarakat, sehingga almamater ‖sidogiri‖ menjadi terbangun.
- Pembangunan citra selanjutnya melalui bidang ekonomi. BMT sebagai icon ekonomi di ponpes Sidogiri berawal dari keprihatinan kiai terhadap maraknya rentenir, sekarang BMT Sidogiri mampu sebagai pelopor penerapan ekonomi syari‘ah dengan memegang prinsip pada amanah dan shidiq yang diutamakan, selanjutnya merambah pada fatonah dan tableq. Selain itu melalui kopontren Sidogiri (usaha retail-kebutuhan sehari-hari) dengan cabangnya sebanyak 120 unit, di manaje secara terpusat dijadikan masyarakat sebagai rujukan utama. Bidang produktif yang lain adalah air minum santri, selain mampu merekrut tenaga kerja yang cukup banyak, juga mengkonsumsi air minum ‖santri‖ dipandang mampu memberikan barakah tersendiri, karena ada barakah do‘a dari kiai dan juga pembelian air minum tersebut sekaligus bisa shadaqah untuk pengembangan ponpes.
- Sedangkan pembangunan citra melalui pendidikan, dakwah dan sosial dilaksanakan melalui penugasan da‘i di daerah terpensil, mengadakan kerjasama filial madrasah diniah, pengiriman guru tugas, pelaksanaan program religi kerjasama dengan sekolah formal aktivitas-aktivitas sosial keagamaan melalui LAZISWA, dan lain sebagainya. Dari serangkaian aktivitas nyata yang dilakukan ponpes salafiyah berdampak positif terhadap masyarakat, sehingga citra positif ponpes terbangun secara
melupakan sejarah pendirinya dan berkiprah secara
langsung di
masyarakat melalui berbagai bidang dan jaringan, seperti: alumni, ekonomi, media, pendidikan-sosial-dakwah dan branding
alamiyah.
- Selain branding yang berupa produk khas ponpes Sidogiri, kiai sebagai pengasuh ponpes juga memiliki branding tersendiri, bahkan cukup besar. Kiai merupakan figur yang berperan sebagai panutan di pondok pesantren Sidogiri tersebut. Dengan demikian personal kiai juga merupakan branding tersendiri untuk membangun citra pondok pesantren 4 Proses public relations di pondok pesantren salafiyah Sidogiri
- Public relations di ponpes salafiyah Sidogiri Pasuruan yang berjalan adalah fungsinya, keberadaan public relations secara khusus sebagai corongnya lembaga belum ditemukan. Keberadaan public relations diterjemahkan dalam seksi kehumasan dan informasi yang menangani urusan intern ponpes dan juga ekstern, namun dalam hubungan ekstern ini keputusan akhir adalah di dewan masyayikh, sehingga hakekat public relations yang dijalankan masih bersifat natural atau tradisional, karena secara formal legalitas tidak ada, namun secara fungsi berjalan. Namun sifat tradisional di sini bukan berarti tanpa adanya desain. Karena setiap nasehat maupun petuah dari kiai dan para ustadz pada hakekatnya adalah desain yang paling utama terhadap pembentukan karakter pribadi santri, dan inilah yang diistilahkan mendidik dengan hati pada setiap elemen yang ada di ponpes salafiyah. Selain itu yang menarik di ponpes ini adalah penggunaan perangkat public relations yang sudah berbasis IT (media pers, administrasi ponpes, data base santri, penggunaan bahasa bilingual) didukung oleh peningkatan sumber daya manusia, santri sendiri. Inilah yang menurut peneliti integrated based on IT. Di sisi lain penerapan media salafiyah tetap dilaksanakan, seperti how to inform, dan mengutamakan how to perform, yaitu
Proses public relations yang berjalan secara alamiah akan lebih kokoh manakala fungsi public relations di-manage sebagai software-nya lembaga
bukan sekadar
hardware-nya lembaga. Hal ini disebabkan
karena adanya
kewajiban moral dalam diri setiap anggota walaupun secara langsung tidak ada setting/komando formal dari pimpinan.
perilaku akhlakul karimah, baik itu kiai, ustadz, santri maupun alumni semuanya secara sinergi menjaga how to perform tersebut di tengah-tengah masyarakat, lalu secara tidak langsung akan terjadi how to persuade, yaitu mempengaruhi opini masyarakat dan akhirnya akan dilaksanakanny, yaitu how to integrate - Pendekatan public relations yang lain
adalah melalui kuatnya jaringan alumni, kuatnya sumber-sumber produksi berbasis entrepreneurship, sehingga para santri selain telah matang dalam hal ilmu agamanya juga memiliki jiwa entrepreneurship untuk selanjutnya mampu bersaing dengan tantangan kehidupan di masyarakat.
- Kiai dan ustadz dengan perfomanya juga merupakan pelaksana fungsi public relations. Jadi personal influence juga sangat berpengaruh di sini. Sehingga proses public relations yang dikembangkan disini adalah proses yang bersifat public information, namun sudah menuju kepada two way asymmetric.
6. Proposisi Temuan Situs 2 Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan