• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan Instalasi Pemeliharaan dan Sistem Penunjang

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 49-0)

II. TINJAUAN UMUM

3.5. Kegiatan Lafi Ditkesad

3.5.6. Kegiatan Instalasi Pemeliharaan dan Sistem Penunjang

Instalasi pemeliharaan dan sistem penunjang merupakan pelaksana fungsi pemeliharaan dan perbaikan terhadap peralatan produksi dan laboratorium, sehingga siap digunakan. Kegiatan lainnya yaitu penatalaksanaan limbah industri, menyiapkan utilitas guna mendukung kegiatan produksi, dan merencanakan kebutuhan suku cadang untuk mendukung kegiatan pemeliharaan dan perbaikan.

Seluruh kegiatan pemeliharaan dan perbaikan akan dilaporkan kepada Kalafi.

a. Fasilitas Pendukung atau Penunjang (Utility)

Fasilitas pendukung/utility yang ada di Lafi Ditkesad antara lain terdiri dari pengolahan air baku farmasi, instalasi listrik, uap/boiler, vacuum/dust, gas, Air Handling System (AHS) dan udara bertekanan. Sumber air bersih didapat dari pasokan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang kemudian diolah menjadi air baku farmasi melalui instalasi pengolahan air. Air baku farmasi adalah air yang telah memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan baku air untuk produksi steril maupun nonsteril. Penanggung jawab pengolahan fasilitas utility

ini adalah Kepala Instalasi Pemeliharaan dan Sistem Penunjang. Fasilitas utility terdiri dari:

i. Instalasi Listrik

Sumber listrik Lafi Ditkesad berasal dari PLN dengan daya sebesar 1000 KVA. Pada saat ini belum digunakan generator karena masih dalam pengajuan untuk pembelian. Pasokan listrik dari PLN dialokasikan pada gardu utama, kemudian dari gardu utama, Lafi Ditkesad membuat gardu induk utama yang kemudian dibuat panel utama yang dibagi menjadi 4 panel untuk memenuhi kebutuhan listrik masing-masing bagian, diantaranya:

1) Panel utama kebutuhan laboratorium 2) Panel utama kebutuhan produksi 3) Panel utama kebutuhan pompa

4) Panel kebutuhan kebutuhan betalaktam dan non betalaktam ii. Instalasi Air

Sumber air bersih berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kemudian diolah menjadi air baku farmasi melalui instalasi pengolahan air.

Pemilihan PDAM sebagai sumber air oleh Lafi Ditkesad adalah karena banyaknya kandungan logam pada air tanah dan kurang jernihnya air tanah. Air yang berasal dari PDAM terlebih dahulu ditampung pada tangki yang tertanam di dalam tanah (ground tank) berukuran 6x3x18 meter3 yang dibuat sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada CPOB, kemudian dialirkan melalui pipa ke dalam suatu alat filtrasi.

Air yang diolah menjadi air demineralisata mengalami beberapa tahap penyaringan:

1) Saringan Pasir (sand filter)

Saringan pasir berfungsi untuk mengendapkan dan menyaring kotoran-kotoran pada air seperti kaporit, cemaran besar, baik organik maupun anorganik yang terbawa air selama pengolahan air di PDAM.

2) Saringan Karbon (carbon filter)

Saringan karbon berfungsi untuk menyerap bau, rasa, warna, kontaminan organik dan unsur chlor yang ditambahkan pada pengolahan air di PDAM.

3) Resin Kation

Resin kation berfungsi untuk menghilangkan ion-ion positif dan ditukar dengan ion hidrogen.

4) Resin Anion

Resin anion berfungsi untuk menghilangkan ion-ion negatif dan ditukar dengan ion hidroksida, sehingga menghasilkan air demineralisata dengan kandungan Total Dissolved Solid (TDS) kurang dari 10 ppm, pH 5 – 7 dan konduktivitas 1,3 µsimon/cm. Setelah mengalami beberapa tahap pemurnian, air demineralisata ditampung dalam tangki penampung dan dialirkan ke ruangan-ruangan produksi untuk digunakan sesuai kebutuhan.

iii. Instalasi Uap Panas (Boiller/ Steam)

Air baku untuk menghasilkan uap panas adalah aqua demineralisata yang ditekan melalui pompa air masuk ke filter kemudian ditampung di dalam tangki stainless steel untuk mensuplai steam. Air dipanaskan melalui boiler hingga menjadi uap. Alat ini bekerja secara semi otomatik dengan alat-alat pengaman yang lengkap. Udara panas yang dihasilkan dialirkan melalui pipa ke ruang-ruang produksi yang membutuhkannya. Pada saat ini Lafi Ditkesad mempunyai 2 alat pembentuk uap panas, yaitu :

1) Mesin ketel uap pipa air

Mesin ini bekerja dengan menghasilkan uap panas melalui pipa dengan sistem menggunakan plat pemanas.

2) Mesin ketel uap pipa api

Mesin ini bekerja dengan menghasilkan uap panas melalui pipa dengan sistem pembakaran tungku pemanas.

iv. Instalasi Udara Bertekanan

Udara bertekanan diperoleh dengan menggunakan alat kompresor yang bekerja secara otomatis dengan alat pressure switch. Kompresor juga dilengkapi dengan air dryer, main line filter, mist separator dan micro mist separator.

Kompresor ini digunakan hanya pada titik peralatan yang memerlukan udara bertekanan, contoh mesin stripping yang digunakan untuk menggerakkan pisau pemotong strip.

b. Penanganan Limbah

Limbah industri farmasi harus diolah sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan agar tidak mencemari lingkungan di sekitar industri tersebut. Limbah Lafi Ditkesad berasal dari proses produksi dan proses pengujian, yang terbagi atas limbah padat dan limbah cair.

Produksi obat Non Beta Laktam, pengolahan limbah padat dilakukan dengan menggunakan dust collector yaitu limbah (debu) disedot dari ruang produksi dengan vakum kemudian dikumpulkan dalam kantong penampung dan dibakar. Khusus untuk limbah dari proses penyalutan tablet, terlebih dahulu diolah dengan air washer, sedangkan limbah cair produksi Non Beta Laktam langsung dialirkan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah.

Pengolahan limbah produksi Beta Laktam, terlebih dahulu diolah melalui air washer, dimana limbah padat (debu-debu) disedot oleh vakum dari ruangan yang berdebu seperti ruangan strip, isi kapsul, cetak, coating, campur dan ruang isi sirup kering, kemudian disemprot dengan air bertekanan 4 bar sehingga debu akan jatuh di bak penampungan. Air dialirkan ke bak destruksi yang dilengkapi dengan dozing pump dan pH meter. Cairan ini didestruksi untuk memecah cincin Beta Laktam dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 N yang diteteskan secara otomatis sampai diperoleh pH 9, kemudian dinetralkan dengan penambahan HCl, sedangkan limbah cair produksi obat Non Beta Laktam tidak melalui air washer, kemudian limbah hasil produksi betalaktam disalurkan ke IPAL untuk dilakukan pengolahan lebih lanjut.

Pengolahan limbah pada IPAL menggunakan prinsip fisika, kimia dan mikrobiologi. Cara fisika dilakukan dengan cara mengendapkan kotoran pada bak pengendap. Cara kimia dilakukan dengan menambahkan koagulan PAC (Poly Aluminium Chloride) pada bak koagulan dan flokulan polimer anionik pada bak flokulasi. Cara mikrobiologi dilakukan pada bak aerasi dengan cara mengembangbiakkan bakteri aerobik di dalamnya agar dapat menghancurkan zat-zat organik. Untuk menjaga pertumbuhan bakteri ditambahkan pupuk urea atau NPK sebagai nutrisi untuk bakteri.

Tahapan pengolahan air limbah di IPAL meliputi beberapa tahap proses sebagai berikut:

i. Bak Penampungan Awal

Air limbah yang masuk dari produksi Beta Laktam (dari bak destruksi) maupun Non Beta Laktam dan laboratorium akan ditampung dan pengotornya diendapkan dalam bak ini. Kemudian dialirkan ke bak pengendapan (sedimentasi pertama).

ii. Bak Sedimentasi Pertama

Disini terjadi proses pengendapan kembali dengan prinsip pengendapan, di dalam bak ini terdapat sekat-sekat yang menghambat laju aliran air sehingga reaksi pengendapan berlangsung lama. Air limbah dari bak ini mengalir ke bak Equalisasi.

iii. Bak Equalisasi

Di sini terjadi proses fisik, material padat pada bak ini dihancurkan dengan menggunakan communitor, pasir terbawa diendapkan. Bak ini dilengkapi dengan pompa untuk mengendalikan fluktuasi jumlah air kotor yang tidak merata, yaitu pada jam kerja dan di luar jam kerja. Bak ini juga dilengkapi dengan pengaduk untuk mengaduk bahan-bahan organik agar tidak mengendap.

iv. Bak Aerasi (Aeration Tank)

Air limbah masuk ke dalam bak ini dengan menggunakan pompa secara simultan. Pada bak Aerasi terdapat bakteri aerobik yang berguna untuk menghancurkan zat-zat organik. Bak ini dilengkapi dengan aerator untuk membantu agar oksigen di dalam udara yang dihasilkan oleh blower di transfer ke dalam air limbah, sehingga mikroorganisme mampu melanjutkan sintesis dan dekomposisi bahan pencemar menjadi gas yang tidak mencemari. Pengadukan juga dilakukan di dalam bak aerasi ini untuk menjamin seluruh material yang ada di dalam limbah cair dalam kondisi tersuspensi.

v. Bak Sedimentasi Kedua (Clarifier Tank)

Air limbah dari bak aerasi mengalir ke dalam bak sedimentasi kedua, dalam bak ini air mengalami penjernihan. Bak ini memiliki dinding pemisah bergerigi untuk menahan pengotor dan dasar yang berbentuk

kerucut untuk mengendapkan sedimen, sehingga air yang mengalir ke bak koagulasi hanya cairannya saja.

vi. Bak Koagulasi

Cairan dari bak sedimentasi kedua masuk ke dalam bak koagulasi. Di dalam bak ini ditambahkan koagulan PAC (Poly Aluminium Chloride) dengan menggunakan dozing pump yang disertai dengan pengaduk.

Konsentrasi PAC yang diteteskan dalam larutan yaitu 50 kg PAC dalam 50 L air. Bak koagulasi berfungsi sebagai bak penampung koagulan yang mempunyai fungsi untuk mengikat protein berantai panjang yang mungkin terbawa dalam air limbah.

vii. Bak Flokulasi

Cairan dari bak koagulasi dialirkan ke bak flokulasi yang berfungsi untuk mengendapkan endapan yang masih terbawa, di dalam bak ini ditambahkan polimer anionik sebagai flokulan dengan konsentrasi 25 g polianionik dalam 50 L air. Cairan yang sudah jernih dari bak flokulasi mengalir ke bak kontrol melalui bidang miring, sedangkan cairan yang masih mengandung endapan dialirkan ke bak sedimentasi ketiga.

viii. Bak Sedimentasi Ketiga (Bak Pengendapan Akhir)

Cairan yang masih mengandung endapan dari bak flokulasi dialirkan ke dalam bak sedimentasi ketiga yang berbentuk kerucut di bagian bawah bak, pada bak ini diberi karung dan sabut yang berfungsi sebagai penyaring untuk menampung endapan, sedangkan cairan yang lebih jernih masuk ke dalam bak penampung cairan.

ix. Bak Penampung

Cairan dari bak ini yang kemungkinan masih mengandung limbah dialirkan ke bak ekualisasi untuk dilakukan pengolahan kembali sampai limbah tersebut benar-benar bersih dari senyawa kimia yang berbahaya.

x. Bak Bidang Miring

Bak bidang miring berbentuk miring ke satu arah untuk menahan endapan dan partikel-partikel lain yang masih terdapat dalam air limbah dari bak flokulasi, melalui bak bidang miring ini, air yang telah bersih dari bak flokulasi mengalir ke bak kontrol.

xi. Bak Kontrol (Bak Pembuangan Akhir)

Cairan yang sudah jernih dialirkan ke bak kontrol yang berisi ikan mas sebagai kontrol biologi untuk diperiksa kadar COD dan BOD, jumlah zat padat total yang terlarut (TDS) dan pH. Hasilnya yang memenuhi syarat air dapat dibuang ke saluran pembuangan umum.

Denah IPAL dapat dilihat pada lampiran 14.

3.5.7 Dokumentasi

Dokumentasi merupakan bagian dari sistem informasi manajemen dari sebuah organisasi perusahaan. Dokumentasi di Lafi Ditkesad meliputi:

a. Dokumentasi seluruh pedoman yang berkenaan dengan aktifitas Lafi Ditkesad dengan pelaksanaan fungsinya sebagai lembaga produksi obat yang dituangkan dalam Prosedur Tetap (Protap) yang meliputi bidang personalia, administrasi dan logistik, operasional peralatan dan instalasi umum, sanitasi dan higiene, prosedur operasional dan perawatan alat, prosedur pembersihan alat atau ruangan, kalibrasi dan validasi, spesifikasi bahan, prosedur pengolahan dan pengujian, metode dan instruksi serta protap-protap lain yang diperlukan.

b. Dokumen seluruh proses pembuatan obat yang dituangkan dalam dokumen produksi meliputi spesifikasi, prosedur, metoda dan instruksi, catatan dan laporan selama proses produksi berlangsung dari mulai penimbangan sampai pengemasan yang menggambarkan riwayat lengkap dari batch obat yang diproduksi.

c. Dokumentasi untuk setiap pengambilan sampel dan bahan uji, baik bahan baku, bahan setengah jadi, produk ruah maupun obat jadi serta hasil pengujiannya.

d. Dokumentasi juga dilakukan untuk segala aktifitas yang berkenaan dengan perbaikan, pemantauan dan pengendalian, misalnya lingkungan, perlengkapan, peralatan dan personalia.

Seluruh dokumen di atas dikelola dan disimpan oleh bagian-bagian yang bersangkutan dengan aktifitas yang dilaksanakan, tetapi Master Formula dan Batch Record yang sudah diisi, disimpan di bagian Pemastian Mutu.

BAB IV PEMBAHASAN

Lembaga Farmasi Direktorat Angkatan Darat (Lafi Ditkesad) merupakan salah satu Direktorat TNI AD yang bergerak dibidang kesehatan dengan tugas pokok pelayanan kesehatan pada prajurit, PNS TNI AD dan keluarganya. Sebagai industri farmasi, Lafi Ditkesad dituntut untuk menghasilkan obat jadi yang bermutu tinggi, aman, dan berkhasiat.

Lafi Ditkesad mempunyai tugas membantu Diskesad dalam memproduksi obat-obatan, administrasi logistik, penyimpanan dan pendistribusian material kesehatan, pemeriksaan laboratorium terhadap bahan-bahan farmasi dan obat jadi.

Lafi Ditkesad juga melakukan penelitian dan pengembangan serta tugas-tugas lain yang ditentukan oleh Dirkesad dalam upaya melaksanakan penyelenggaraan dan fungsi produksi obat-obatan yang sangat diperlukan oleh keluarga besar TNI AD.

Obat-obatan yang diproduksi Lafi Ditkesad tidak dipasarkan dan hanya digunakan untuk kebutuhan kesehatan intern prajutit TNI Angkatan Darat, PNS, beserta keluarganya. Untuk menghasilkan obat yang memenuhi persyaratan, Lafi Ditkesad selalu mengacu pada CPOB dalam proses produksinya, meskipun untuk produksi obat Non Betalaktam belum seluruhnya memiliki fasilitas bangunan yang memenuhi persyaratan CPOB. Usaha-usaha dalam pemenuhan persyaratan CPOB terus dikembangkan, terbukti dengan telah diperolehnya 4 buah sertifikat CPOB untuk sediaan Non Betalaktam dan 5 buah sertifikat CPOB untuk sediaan antibiotika betalaktam.

Pedoman CPOB meliputi 12 aspek, yaitu: manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri dan audit mutu, penanganan keluhan terhadap obat dan penarikan kembali obat jadi serta obat kembalian, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak, dokumentasi serta validasi dan kualifikasi. Pelaksanaan CPOB di Lafi Ditkesad tercakup dalam pembahasan berikut:

4.1 Manajemen Mutu

Dalam CPOB mensyaratkan industri farmasi perlu adanya manajemen mutu agar obat yang diproduksi sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan resiko yang membahayakan penggunaannya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Manajemen Mutu terdiri dari Pemastian Mutu dan bagian Pengawasan Mutu. Kedua bagian itu memiliki tugas yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menjamin mutu produk. Tugas bagian Pemastian Mutu dalam sistem Manajemen Mutu yaitu dalam memastikan bahwa produk telah diproses dengan benar, pelulusan obat jadi dengan cara mengeluarkan sertifikat analisis (Certificate of Analysis), menyetujui spesifikasi obat baru, dan evaluasi produk jadi Bagian Pemastian Mutu di Lafi Ditkesad mulai Januari 2013 sudah melaksanakan tugas dan wewenangnya sehingga Manajemen Mutu di Lafi Ditkesad sesuai dengan yang dipersyaratkan CPOB.

4.2 Personalia

Lafi Ditkesad telah memiliki struktur organisasi dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas dan terbagi antara instalasi dan bagianya, sehingga setiap personil yang bekerja mengetahui tugas, wewenang, dan tangung jawabnya masing-masing.

Posisi Kepala Instalasi Produksi, Kepala Instalasi Pengawasan Mutu dan Kepala Pemastian mutu telah dijabat oleh Apoteker dengan orang yang berbeda,serta masing-masing memiliki tanggung jawab dan wewenang sendiri sesuai aturan CPOB sehingga diharapkan tidak terjadi tumpang tindih tugas dan tanggung jawab serta dapat saling melakukan proses pengawasan dan perbaikan.

Secara umum pelatihan CPOB bagi personil Lafi Ditkesad telah dilaksanakan sesuai dengan teori dasar sebuah pelatihan maupun pedoman CPOB yang ditetapkan pemerintah dan prosedur tetap yang dibuat oleh Lafi Ditkesad sendiri. Pelatihan CPOB bagi personil Lafi Ditkesad merupakan salah satu wujud komitmen Lafi Ditkesad dalam melaksanakan fungsinya untuk memproduksi obat yang terjamin mutu dan khasiatnya. Misalnya, untuk para personil yang terlibat dalam proses produksi, setiap 6 bulan atau setahun sekali dilakukan pelatihan

untuk meningkatkan kinerja sehingga mutu produk akan senantiasa terjamin.

Selain itu untuk personil yang ada di Laboratorium dan seluruh pihak, minimal setiap 1 bulan sekali dilakukan pelatihan.

Tujuan pelatihan telah dirancang dan ditetapkan sebelum pelatihan dilaksanakan. Materi pelatihan telah dibuat secara berjenjang yang dituangkan secara rinci dan tertulis dalam bentuk prosedur tetap serta disetujui oleh Kepala Instalasi Pengawasan Mutu dan Kepala Instalasi Produksi. Materi tersebut juga disampaikan secara bertahap dalam jangka waktu yang ditetapkan dan disusun secara terjadwal serta disampaikan dengan metode yang disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis materi. Pelatihan yang diadakan juga telah diusahakan dari atasan yang bersangkutan, para praktisi dan profesional di bidang industri farmasi.

Selain pelatihan resmi yang dilakukan, untuk meningkatkan semangat kerja para karyawan, Lafi Ditkesad juga melakukan pendekatan persuasif sehingga tercipta suasana kerja yang baik.

4.3 Bangunan dan Fasilitas

Pemilihan lokasi bangunan Lafi Ditkesad telah memenuhi persyaratan CPOB dimana transportasinya mudah, memiliki fasilitas air, listrik dan telepon, ketersediaan tenaga kerja yang cukup, bebas pencemaran dan tidak mencemari lingkungan. Namun demikian, lokasi bangunan Lafi Ditkesad yang berada dekat dengan pemukiman masyarakat tidak sesuai dengan yang disyaratkan dalam CPOB, hal ini terjadi karena situasi dan kondisi Lafi Ditkesad yang memanfaatkan bangunan yang sudah ada.

a. Instalasi Produksi

Pembagian ruang produksi Non Betalaktam terdapat pemisahan ruang tablet, sirup, dan kapsul. Bangunan produksi betalaktam terpisah dengan bangunan Non Betalaktam. Pemisahan ini untuk menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi silang dan kesalahan karena tercampurnya bahan obat.

Tata ruang untuk proses produksi telah memperhatikan urutan proses. Sebagai contoh untuk proses pembuatan tablet, terdapat ruang penimbangan, pencampuran, granulasi, pengeringan, pengayakan, pencampuran akhir, pencetakan, penyalutan, stripping, dan kemas.

Gedung yang digunakan untuk produksi obat Non Betalaktam telah memiliki klasifikasi kelas ruang yaitu kelas E, F dan G. Termasuk dalam ruang kelas E yaitu ruang sampling, ruang timbang, dan ruang stagging, yang ditujukan untuk mencegah terjadinya kontaminan yang terbawa oleh personil.

Kemudian termasuk dalam ruang kelas F adalah ruang pengemasan sekunder dan kelas G yaitu gudang bahan baku, gudang bahan kemas dan gudang sejuk.

Lantai, dinding dan langit-langit licin dilapisi dengan epoksi, bebas dari keretakan dan sambungan terbuka serta mudah dibersihkan. Sudut-sudut antara dinding, lantai, dan langit-langit berupa lengkungan (hospital shape). Pada gedung ini telah disiapkan daerah-daerah tertentu untuk kegiatan penerimaan bahan, karantina barang masuk, penyimpanan bahan awal dan penyerahan, pengolahan, penyimpanan produk ruahan, pengemasan, pengiriman barang dan pencucian peralatan.

Gudang yang ada pada gedung ini baik gudang bahan baku maupun bahan jadi telah memiliki penerangan yang cukup. Limbah padat dari produksi non betalaktam dikumpulkan dengan dustcollector dan ditampung pada tempat tertentu.

Pengolahan limbah dari produksi obat beta laktam termasuk pengolahan limbah cair telah mengalami proses destruksi terlebih dahulu yaitu pemecahan cincin betalaktam dengan larutan NaOH 0,1 N yang kemudian mengalami pengolahan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebelum dibuang ke pembuangan akhir (saluran umum).

Gedung produksi Sefalosporin untuk proses produksi serbuk injeksi steril sudah di rancang namun belum di produksi, telah dilengkapi dengan sarana ruang penyangga udara yang menghubungkan ruang ganti pakaian dengan ruang pengisian. Untuk mengendalikan udara, di ruang produksi dilengkapi dengan sarana pengatur suhu dan kelembaban. Penyaringan udara dilakukan melalui filter udara yang dilengkapi dengan pre-filter, medium filter dan HEPA filter. HEPA filter mampu menyaring partikel berukuran 0,5 mm dengan tingkat kemampuan 99,95%.

b. Instalasi Penyimpanan

Ruang penyimpanan di Lafi Ditkesad menjadi satu bangunan dengan ruang produksi Non Betalaktam. Ruang karantina bahan baku obat hanya terdapat di Gupus II, sedangkan Lafi belum memiliki gudang karantina. Hal ini ditujukan untuk mengefisiensikan waktu dan karena Gupus II menggunakan Instalwastu Lafi Ditkesad untuk pemeriksaan bahan baku obat, sehingga saat menerima bahan baku obat dari Gupus II Lafi tidak perlu lagi melaksanakan pemeriksaan bahan baku obatnya. Seharusnya Gupus II juga mempunyai Instalwastu tersendiri untuk memeriksakan bahan baku obat dari rekanan/pihak luar, begitu juga dengan Lafi Ditkesad yang harus mempunyai gudang karantina tersendiri sebagai tempat transit bahan baku obat yang diterima dari Gupus II selama menunggu hasil pemeriksaan Instalwastu Lafi Ditkesad.

Bangunan Instalasi Penyimpanan telah dirawat dan dijaga kebersihannya, sehingga dapat melindungi bahan-bahan yang disimpan dari kerusakan, dan juga sudah terdapat ruang sejuk (suhu 8-15ºC) untuk menyimpan bahan baku obat yang tidak tahan terhadap suhu lingkungan yang panas.

Khusus untuk bangunan bahan baku dan obat jadi sediaan beta laktam, penyimpanannya dipisahkan dari bahan baku dan obat jadi lainnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya kontaminasi silang. Sistem administrasi di gudang masih dilaksanakan dengan cara manual yaitu dengan menggunakan kartu kendali dan kartu barang untuk mengontrol pengeluaran dan pemasukan barang. Kekurangan cara manual ini antara lain informasi data ke bagian lain berjalan lambat sehingga dapat terjadi kesalahan dalam penulisan jumlah meteril yang ada.

c. Instalasi Pengawasan Mutu

Bangunan laboratorium Instalasi Pengawasan Mutu telah memenuhi persyaratan CPOB, karena pembagian ruangan yang sudah jelas untuk setiap bagian di laboratorium, yaitu laboratorium uji kimia, laboratorium uji fisika, laboratorium mikrobiologi, ruang instrumen, ruang timbang, ruang kantor, ruang penyimpanan contoh pertinggal dan ruang penyimpanan reagen.

4.4 Peralatan

Lafi Ditkesad memiliki rancang bangun dan konstruksi peralatan yang tepat dengan ukuran yang memadai dan ditempatkan pada tempat yang sesuai akan menghasilkan suatu mutu obat yang baik karena memudahkan dalam pembersihan dan perawatannya. Mesin-mesin produksi dan peralatan penunjang dalam proses produksi non beta laktam, produksi beta laktam, produksi Sefalosporin serta pengawasan mutu sebagian besar telah memenuhi persyaratan CPOB. Perawatan dan kalibrasi dilakukan secara berkala untuk menjamin proses kerja dari peralatan tersebut. Bahan peralatan yang digunakan tidak menimbulkan

Lafi Ditkesad memiliki rancang bangun dan konstruksi peralatan yang tepat dengan ukuran yang memadai dan ditempatkan pada tempat yang sesuai akan menghasilkan suatu mutu obat yang baik karena memudahkan dalam pembersihan dan perawatannya. Mesin-mesin produksi dan peralatan penunjang dalam proses produksi non beta laktam, produksi beta laktam, produksi Sefalosporin serta pengawasan mutu sebagian besar telah memenuhi persyaratan CPOB. Perawatan dan kalibrasi dilakukan secara berkala untuk menjamin proses kerja dari peralatan tersebut. Bahan peralatan yang digunakan tidak menimbulkan

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 49-0)

Dokumen terkait