B. Ketentuan Nasab dalam Hukum Islam
4. Cara Penetapan Nasab
Nasab seorang anak harus ditetapkan supaya jelas garis keturunannya serta hak-hak yang kelak dia dapatkan. Ketentuan di Pengadilan Agama menyebutkan bahwa nasab dapat ditetapkan dengan salah satu dari tiga cara berikut:
I. Dengan membuktikan perkawinan yang sah atau fasid;
II. Dengan pengakuan;
III. Dengan saksi (bayyinah).55
I. Dengan perkawinan yang sah atau fasid
Perkawinan yang sah atau fasid menjadi sebab tetapnya hubungan nasab dan merupakan cara untuk menetapkan nasab yang ada. Maka bila telah terjadi perkawinan sekalipun perkawinan itu fasid, maka tetaplah nasab itu bagi anak-anak yang dilahirkan oleh perempuan dari ikatan perkawinan itu.
Ulama fiqh sepakat bahwa adanya ikatan hubungan suami istri (firāsy al-zaujiyyah) merupakan salah satu cara atau dasar yang sangat kuat untuk menetapkan nasab anak kepada kedua orang tuanya.
II. Pengakuan hubungan nasab
55 http//:www.pta-banjarmasin.go.id/index.php?content=mood_artikel&id=40.
(16/04/2014 05:46)
Pengakuan anak dalam literatur Hukum Islam disebut dengan istilhaq atau iqrar yang berarti pengakuan seorang laki-laki secara suka rela terhadap seorang anak bahwa dia memiliki hubungan darah dengan anak tersebut.56 Pengakuan dilakukan dengan cara mengaku bahwa seorang anak memiliki hubungan nasab dengan dirinya atau orang yang mengaku (muqrir).
Pengakuan semacam ini sah menurut hukum, dengan catatan memenuhi 4 syarat yang sebagian besar disepakati oleh beberapa madzhab yaitu:
Orang yang mengakui (muqrir) adalah seorang mukallaf, karena pengakuan orang gila atau orang yang belum cukup umur tidak dapat diterima;
Anak yang diakui tidak dikenal nasabnya dari seorang ayah yang lain.
Apabila telah dikenal nasabnya dari ayah yang lain (bukan muqrir), maka pengakuan ini batal karena hukum telah memastikan tetapnya nasab dari ayah tersebut;
Dibenarkan oleh perasaan, artinya anak tersebut layak dan patut untuk diakui oleh muqrir dari segi pandangan umum dan realita. Misalnya anak yang diakui itu di tahap umur munasabah atau sepadan usianya dengan anak orang yang mengakui, jika dilihat dari kelahiran dalam perkawinan orang yang mengaku;
56Abdul Manan, Aneka Permasalahan Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta:
Kencana, 2006), hal. 76. Selanjutnya disebut Abdul Manan, Aneka Permasalahan Hukum Perdata.
Anak yang diakui membenarkan pengakuan itu. Syarat ini diperlukan apabila anak yang diakui sudah cakap menyampaikan pembenaran yaitu ia sudah baligh, berakal sehat (menurut jumhur ulama) dan telah tamyiz atau cukup umur. Karena pengakuan itu adalah alat bukti minimal atau terbatas bagi orang yang mengakui, maka hanya bisa mengikat orang lain bila disertai bukti atau pembenaran dari pihak lain. Apabila anak yang diakui masih kecil atau gila maka tidak diperlukan pembenarannya karena keduanya tidak cakap untuk dimintai pengakuan dan pembenaran.
Lelaki yang mengakui nasab anak tersebut harus menegaskan bahwa ia bukan anak dari hasil perzinahan, karena perzinahan tidak bisa menjadi dasar penetapan nasab anak.57
Apabila pengakuan tentang hubungan nasab telah memenuhi syarat-syarat di atas, maka sah dan dapat ditetapkan hubungan nasab orang yang mengakui dan orang yang diakui dan terjadilah hubungan hukum kekeluargaan secara syar’i, dan apabila telah sah pengakuan tersebut maka pihak yang mengakui tidak boleh mencabut pengakuannya setelah itu, karena ketika hubungan nasab telah ditetapkan tidak dapat dibatalkan dengan pencabutan. Anak yang telah ditetapkan sah hubungan nasabnya berhak mendapatkan haknya, seperti nafkah, pendidikan, harta warisan, dan lain-lain.
III. Pembuktian dengan saksi (bayyinah)
57Wahbah al-Zuhayly, Al Fiqhu al Islamiyy, hal. 863-865
Bukti adalah dalil yang mencakup atau mengikat orang lain. Alat bukti dalam hal menentukan nasab adalah berupa kesaksian. Pengaruh kekuatan saksi tersebut tidak hanya terbatas mengikat pada pihak lawan akan tetapi juga kepada pihak-pihak lain. Beda halnya dengan pengakuan (iqrar) sebagaimana kita ketahui yaitu bukti minimal yang terbatas bagi orang yang mengakui saja, tidak mengikat kepada pihak lain. Tetapnya nasab dengan dasar saksi (bayyinah) lebih kuat daripada pengakuan (iqrar), karena pengakuan yang tidak didukung oleh orang lain masih mungkin dibatalkan oleh adanya alat bukti berupa saksi yang benar.58
Para ulama fiqh dari empat mazhab tidak sepakat tentang jumlah saksi dalam perkara penetapan nasab. Imam Abu Hanifah dan Muhammad bin Hasan berpendapat bahwa saksi harus berjumlah empat orang, terdiri dari dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Menurut mazhab Maliki, kesaksian dari dua orang laki-laki dianggap cukup, sementara menurut ulama dari kalangan mazhab Syafi’i dan Hanbali serta Abu Yusuf bahwa semua ahli waris harus mengungkapkan kesaksiannya.59 Selain berkenaan dengan jumlah saksi, para ulama juga berbeda pendapat mengenai kondisi saksi. Rasulullah SAW bersabda:
ﻢﻌﻠﺻ ّﻲﺒّﻨﻟا نأ ﺎﻤﮭﻨﻋ ﷲا ﻲﺿر س ﺎﺒﻋ ﻦﺑا ﻦﻋ لﻮﺟﺮﻟ لﺎﻗ
" : يﺮﺗ
ﻤﺸﻟا
؟ﺲ "
لﺎﻗ ﻢﻌﻧ لﺎﻗ
"
ﻣ ﻰﻠﻋ
ْعد وأ ﺪھﺎﺸﻓ ﺎﮭﻠﺜ
"
58 http//:www.pta-banjarmasin.go.id/index.php?content=mood_artikel&id=40.
(16/04/2014 05:46)
59Nurul Irfan, Nasab dan Status Anak, hal. 130
“Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi SAW bersabda kepada seseorang (yang menjadi saksi) apakah kamu melihat matahari? Laki-laki itu menjawab, benar aku melihat, kemudian Rasulullah bersabda:
“Maka silakan kemukakan kesaksianmu, tapi apabila tidak (demikian) jangan menjadi saksi”. (HR. Al-Hakim)
لﺎﻗ سﺎﺒﻋ ﻦﺑا ﻦﻋ :
ﻞﺟّﺮﻟا ﻢﻌﻠﺻ ﷲا لﻮﺳر ﺪﻨﻋ ﺮﻛذ ﺎّﻣأ لﺎﻘﻓ ةد ﺎﮭﺸﺑ ﺪﮭﺸﯾ
ﻰﻣوأو ﺲﻤﺸﻟا هﺬھ ءﺎﯿﻀﻛ ﻚﻟ ﺊﯿﻀﯾﺮﻣأ ﻰﻠﻋ ﻻإ ﺪﮭﺸﺗ ﻼﻓ سﺎّﺒﻋ ﻦْﺑ ﺎﯾ ﺖﻧأ ﺲﻤﺸﻟا ﻰﻟإ هﺪﯿﺑ ﻢﻌﻠﺻ ﷲا لﻮﺳر
“Dari Ibnu Abbas berkata, diceritakan kepada Rasulullah tentang seorang yang memberikan kesaksiannya, maka beliau bersabda:
‘Sedangkan kamu wahai Ibnu Abbas, janganlah bersaksi pada suatu masalah kecuali telah jelas bagimu seperti jelasnya sinar matahari ini, ketika itu beliau menunjukan tangannya ke matahari.’ (HR. Al-Baihaqi)
Berdasarkan hadits di atas, seorang saksi tidak diperbolehkan menyampaikan kesaksiannya kecuali atas apa yang benar-benar diketahuinya secara meyakinkan dan jelas, sebagaimana seorang saksi mengetahui adanya matahari dengan jelas. Kesaksian tidak boleh didasarkan atas persangkaan semata, jika kesaksian itu terkait perbuatan, maka ia harus benar-benar melihat, jika berupa ucapan, maka ia harus benar-benar mendengar ucapan atau suara tersebut.60 Akan tetapi dalam penetapan nasab anak dikenal dengan adanya kesaksian tasamu’. Kesaksian tasamu’ adalah kesaksian melalui pendengaran. Para fuqaha dari kalangan empat mazhab memperbolehkan penetapan hubungan nasab berdasarkan saksi tasamu’, sebagaimana juga berlaku dalam hal kelahiran atau kematian.
60 Ash-Shan’ani, Subul Al-Salām, (Indonesia: tt, Dahlan, tth), jilid 4, hal. 130.
Selanjtnya disebut Ash-Shan’ani, Subul Al-Salām.
Alasan fuqaha memperbolehkan adanya saksi tasamu’ yaitu karena permasalahan ini tidak banyak diketahui kecuali oleh orang-orang tertentu.
Apabila kesaksian tasamu’ tidak diperbolehkan maka ditakutkan akan mendatangka kesulitan dan kekosongan hukum yang berkaitan dengan perkara tersebut, seperti masalah kewarisan dan keharaman perkawinan (kemahraman). Hal yang masih diperdebatkan di kalangan ulama adalah tentan definisi dari tasamu’. Menurut Abu Hanifah, pendengaran yang dapat dijadikan alat bukti adalah kabar yang telah tersebar sedemikian rupa di kalangan banyak orang dan sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi kebohongan, sehingga muncullah keyakinan yang kuat akan kebenaran berita tersebut. Namun sebagian fuqaha berpendapat bahwa berita tersebut tidak harus tersebar sedemikian rupa, cukuplah dengan dua orang saksi yang adil.61
61http//:www.pta-banjarmasin.go.id/index.php?content=mood_artikel&id=40.
(16/04/2014 05:46)