B. Ketentuan Nasab dalam Hukum Islam
2. Sebab-sebab Hubungan Nasab
Nasab adalah nikmat dan karunia yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya, akan tetapi hubungan nasab tidak akan timbul dengan sendirinya tanpa melalui proses yang menyebabkan timbulnya ikatan nasab. Wahbah al-Zuhayly dalam kitabnya al Fiqh al-Islamiyy wa Adillatuh menyebutkan bahwa hubungan nasab seorang anak terhadap ibunya disebabkan dengan adanya kelahiran sebagai akibat dari hubungan seksual, baik hubungan tersebut berdasarkan akad nikah yang sah maupun tidak. Adapun hubungan nasab anak
36Ensiklopedi Hukum Islam, ed. Abdul Aziz Dahlan, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), jilid 4, hal. 1304. Selanjutnya disebut Ensiklopedi Hukum Islam.
37Ensiklopedi Indinesia, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1990), hal. 2337. Senjutnya disebut Ensiklopedi Indonesia
ayah ibu dengan ayahnya ditentukan berdasarkan halal atau tidaknya sebuah hubungan percampuran (jimā`) antara seorang pria dan wanita.
Jimā bearasal dari kata jama’a yang artinya berkumpul. Kata berkumpul
diartikan dalam hubungan sekual antara lawan jenis, atau dalam pengertian lain disebutkan berkumpulnya kelamin wanita dan pria. Persetubuhan ini mencakup semua hubungan, baik yang sah atau dibolehkan maupun yang dilanggar. Imam Taqiyyudin, seorang ulama fiqh mazhab Syafi’i, dalam kitabnya Kifāyat al-Akhyār mendefinisikan bahwa jimā adalah hubungan seksual yang ditandai
dengan masuknya ujung kelamin pria (zakar) ke dalam kelamin wanita (farj).38 Jima` sebagai penentu dari awal adanya hubungan nasab dapat diklasifikasikan menjadi tiga, sebagaimana yang digambarkan bagan berikut:
Berdasarkan konsep klasifikasi jima` di atas, semua hubungan jima` dapat menyebabkan adanya hubungan nasab anak terhadap ibunya. Sedangkan Wahbah al-Zuhayly mengemukakan bahwa hubungan nasab anak terhadap ayahnya hanya dapat disebabkan oleh hubungan jima` yang dihalalkan dan syubhat. Al-Zuhayly
38Ensiklopedi Hukum Islam, jillid 3, hal. 822 jima`
dihalalkan dalam hubungan pernikahan
syubhat bisa dalam atau diluar
hubungan pernikahan
diharamkan diluar hubungan pernikahan
lebih lanjut menyebutkan secara spesifik hubungan nasab ayah terhadap anaknya dapat ditimbulkan melalui tiga sebab, diantaranya:39
a. Pernikahan Sah
Pernikahan yang sah yaitu di mana sebuah pernikahan yang dilangsungkan dengan terpenuhinya semua syarat dan rukunnya. Status pernikahan yang sah dapat dibagi menjadi dua, yaitu pernikahan yang sah menurut agama saja, kemudian pernikahan yang sah menurut agama dan negara.
Hubungan nasab melalui pernikahan yang sah menurut hukum islam harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:
Suami adalah laki-laki yang memungkinkan untuk memberikan keturunan, di mana menurut para fuqaha adalah seorang laki-laki yang telah baligh;
Anak tersebut lahir sekurang-kurangnya setelah enam bulan dilangsungkannya pernikahan;
Suami istri pernah bertemu minimal sekali setelah menikah dan sudah melakukan hubungan badan.40
Setelah syarat dari aspek hukum Islam terpenuhi, pernikahan yang diaggap sah menurut negara, yaitu manakala terpenuhinya persyaratan yang telah diatur dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 dengan
39Wahbah al-Zuhayly, Al Fiqhu al Islamiyy, hal. 681
40Nurul Irfan, Nasab dan Status Anak, hal. 80-81
mencatatkan perkawinan tersebut kepada Pegawai Pencatat Perkawinan yang kemudia dicatatkan di Kantor Urusan Agama setempat.
b. Pernikahan Fasid
Pernikahan fasid adalah pernikahan yang dilangsungkan dalam keadaan kekurangan syarat, contohnya seperti pernikahan yang dilangsungkan tanpa saksi. Walaupun status nikah fasid tidak sama dengan nikah yang dilakukan secara sah, namun dalam hal hubungan nasab anak terhadap ayahnya syaratnya sama seperti pernikahan yang sah.41 Adapun berkenaan dengan macam dan bentuk nikah fasid, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Pernikahan yang dianggap fasid oleh salah satu ulama madzhab, belum tentu dinilai fasid oleh ulama yang lain. Berikut pemaparan tentang klasifikasi macam dan bentuk nikah fasid menurut madzāhib al-arba’ah:42
Tabel 4
Bentuk Pernikahan Fasid Menurut Empat Imam Mazhab
Mazhab Hanafi Mazhab Maliki Mazhab Syafi’i Mazhab Hambali
J en is P er n ik a h a n F a si d
1. Nikah tanpa saksi;
1. Nikah dengan mahramny;
1. Nikah syighar; 1. Nikah syighar;
2. Nikah mut’ah; 2. Nikah dengan menghimpun 2 wanita;
2. Nikah mut’ah; 2. Nikah mut’ah;
3. Nikah dengan
41Wahbah al-Zuhayly, Al Fiqhu al Islamiyy, hal. 686-687
42Ibid., hal. 118-120
dalam satu akad;
Syubhat secara bahasa berarti kemiripan, keserupaan, kesamaran, dan
ketidakjelasan. Sedangkan secara istilah dapat diartikan dengan sesuatu yang tidak diketahui kehalalan dan keharamannya, apakah benar atau tidak, dan kejelasannya.43 Imam Al-Ghazali mendefinisikan syubhat sebagai suatu masalah yang di dalamnya terdapat dua keyakinan berlawanan yang timbul dari faktor yang menyebabkan sebuah peristiwa tersebut terjadi.44 Pengertian syubhat di atas jika dikaitkan dengan masalah persetubuhan dapat didefinisikan sebagai sebuah hubungan badan yang tidak berasaskan akad nikah yang sah ataupun fasid, namun juga bukan merupakan sebuah perbuatan zina.45
43Ensiklopedi Hukum Islam, jillid 5, hal. 1715
44 Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, (Semarang: Toha Putera, tth), jilid 2, hal. 99.
Selanjutnya disebut Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din.
45Nurul Irfan, Nasab dan Status Anak, hal. 97
Hubungan badan yang syubhat dapat ditimbulkan seperti dalam sebuah kejadian di mana seorang laki-laki yakin bahwa seorang wanita yang disetubuhinya adalah istrinya sendiri yang jelas-jelas halal untuk digauli. Akan tetapi, ternyata hal itu salah dan wanita yang tersebut ternyata bukan istrinya.
Kesalahan pelaku atas keyakinannya dalam hal ini dianggap sebagai penyebab timbulnya syubhat. Hubungan badan dengan segala macam dan bentuknya, sangat memungkinkan mengakibatkan adanya kehamilan. Oleh karena itu, berbagai ulama mazhab bahwa anak yang lahir akibat hubungan badan yang syubhat ini dapat dinasabkan kepada laki-laki yang berhubungan badan dengan ibu kandung anak tersebut.46
Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah memiliki klasifikasi tersendiri berkenaan dengan penyebab timbulnya syubhat, yaitu:47
Tabel 5
Klasifikasi Penyebab Syubhat
Imam Syafi’i Imam Abu Hanifah
46Nurul Irfan, Nasab dan Status Anak, hal. 112
47Ensiklopedi Hukum Islam, jillid 5, hal. 1716-1717
Penyebab Syubhat
1) Objek Perbuatan, ketidakjelasan berada pada orang yang dikenai perbuatan. Contohnya, istri yang digauli itu sedang melakukan puasa, tapi karen suami tidak mengetahui, maka suami menggauli istri, dan itu merupakan hak suami.
1) Perbuatan, pelaku perbuatan tidak mengetahui kehalalan dan keharaman perbuatan tersebut.
2) Subjek Perbuatan, pelaku meyakini bahwa apa yang dilakukannya tidak dilarang.
Contohnya, seorang lelaki menyetubuhi perempuan yang dikira istrinya, padahal orang lain.
2) Hukmiyyah (status hukum), ada dua dalil yang terlihat berlawanan dalam menjelaskan status hukum suatu perbuatan.
3) Hukum (yuridis), berkaitan dengan perbedaan pendapat ahli hukum tentang hukum suatu perbuatan.
Muhammad Jawad Mughniyyah dalam bukunya Fiqh Lima Mazhab mengemukakan bahwa persetubuhan syubhat ditinjau dari hubungannya ada dua macam, yaitu:
Syubhat dalam akad, adalah manakala seorang laki-laki melakukan akad nikah dengan seorang wanita seperti halnya dengan akad nikah sah lainnya, namun kemudian ternyata akad tersebut fasid karena satu atau beberapa alasan;
Syubhat dalam tindakan (perbuatan), yakni ketika seorang laki-laki menggauli wanita yang tanpa adanya akad antara mereka berdua, semata-mata karena tidak sadar melakukannya, atau meyakini bahwa wanita tersebut halal untuk dicampuri, tapi kemudian ternyata bahwa wanita itu adalah wanita yang haram dicampuri.48
Tiga jenis huubungan di atas adalah sebab-sebab yang dapat menimbulkan adanya hubugnan nasab antara anak dan ayahnya. Hubungan persetubuhan yang diharamkan dan memliki konsekuensi atau akibat tidak adanya hubungan nasab antara anak dan ayah yaitu jima` yang dilakukan diluar hubugan pernikahan, atau disebut zinā. Kata zinā merupakan masdar dari zanā – yaznī, yang artinya hubungan seksual antara pria dan wanita tanpa adanya ikatan
perkawinan.49 Kemudian dalam Ensiklopedi Hukum Islam ditambahkan bahwan hubungan tersebut tanpa disertai unsur keraguan. Pengertian serupa juga dikemukakan oleh ulama mazhab Hanafi, bahwa zina adalah hubungan seksual antara pria dan wanita yang dilakukan secara sadar disertai nafsu, dan diantara mereka belum ada ikatan perkawinan.
Menurut Abdul Qadir Audah, ahli hukum pidana mesir, rukun zina ada dua, yaitu: pertama, hubungan seksual yang diharamkan. Kedua, dilakukan dengan sadar dan sengaja. Zina yang dimaksud dalam menentukan nasab adalah
48 Muhammad Jawad Mughniyyah, Fiqh Lima Mazhab – Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali, penerj. Masykur A.B, dkk., (Jakarta: Lentera, 1996), hal. 389. Selanjutnya disebut Jawad Mughniyyah, Fiqh Lima Mazhab.
49Ensiklopedi Islam, jilid 5, (Jakarta: Baru Van Hoeve, 1998), hal. 237
zina berupa jima`, artinya ada proses dukhul (masuknya) zakar ke farj baik keluar sperma ataupun tidak (iltiqā, khitānain). Kemudian disebutkan bahwa sebuah jima` dapat disebut zina apabila memenuhi beberapa syarat berikut:
Pelaku adalah orang yang cakap hukum, dalam artian baligh dan berakal;
Dilakukan secara sadar;
Objek dari perbuatan tersebut adalah manusia;
Terhindar dari keraguan dan syubhat;
Pelaku mengetahui bahwa hubungan tersebut diharamkan.50 3. Urgensi Keabsahan Nasab
Islam melarang segala bentuk perzinaan dan prostitusi serta menganjurkan pernikahan untuk melanggengkan keturunan umat manusia agar terhindar dari kepunahan dan mempunyai hubungan kekerabatan yang sah dan jelas. Salah satu tujuan dari ajaran agama Islam tadi tentunya untuk memelihara dan menjaga keturunan atau nasab. Ulama fiqh mengatakan bahwa nasab adalah suatu fondasi yang kokoh dalam membina suatu kehidupan rumah tangga yang bisa mengikat antar pribadi berdasarkan hubungan darah.
Islam memandang bahwa kemurnian nasab sangat penting, karena hukum Islam terkait dengan struktur kekeluargaan, baik hukum perkawinan, maupun kewarisan dengan berbagai derivasinya yang meliputi hak perdata dalam hukum Islam, baik menyangkut hak nasab, perwalian, nafkah, bahkan konsep
50Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 6, hal. 2027-2028
mahram-an atau kemuhriman dalam Islam akibat hubungan persemendaan atau
perkawinan. Dengan demikian seseorang dilarang mengingkari keturunannya dan diharamkan pula menisbahkan (menghubungkan) seseorang kepada yang bukan orang tuanya, seperti dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yag berbunyi:
دﺎﮭﻟا ﻦﺑ ﻦﻋ ﺚﯿﻠﻟا ﺎﻨﺛﺪﺣ لﺎﻗ ﺐﯿﻌﺷ لﺎﻗ ﻢﻜﺤﻟا ﺪﺒﻋ ﻦﺑ ﷲا ﺪﺒﻋ ﻦﺑ ﺪﻤﺤﻣ ﺎﻧﺮﺒﺧأ ﻊﻤﺳ ﮫﻧأ ةﺮﯾﺮھ ﻲﺑأ ﻦﻋ يﺮﺒﻘﻤﻟا ﺪﯿﻌﺳ ﻲﺑأ ﻦﺑ ﺪﯿﻌﺳ ﻦﻋ ﺲﻧﻮﯾ ﻦﺑ ﷲا ﺪﺒﻋ ﻦﻋ ﺖﻟﺰﻧ ﻦﯿﺣ لﻮﻘﯾ ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ ﷲا لﻮﺳر أ ﺔﻨﻋﻼﻤﻟا ﺔﯾآ
ﺖﻠﺧدأ ةأﺮﻣا ﺎﻤﯾ
ﺎﻤﯾأو ﮫﺘﻨﺟ ﷲا ﺎﮭﻠﺧﺪﯾ ﻻو ءﻲﺷ ﻲﻓ ﷲا ﻦﻣ ﺖﺴﯿﻠﻓ ﻢﮭﻨﻣ ﺲﯿﻟ ﻼﺟر مﻮﻗ ﻰﻠﻋ ﻦﯿﻟوﻷا سوءر ﻰﻠﻋ ﮫﺤﻀﻓو ﮫﻨﻣ ﷲا ﺐﺠﺘﺣا ﮫﯿﻟإ ﺮﻈﻨﯾ ﻮھو هﺪﻟو ﺪﺤﺟ ﻞﺟر ﺔﻣﺎﯿﻘﻟا مﻮﯾ ﻦﯾﺮﺧﻵاو
51
“Dari Abu Hurairah, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda ketika ayat li’an turun, wanita mana saja yang melahirkan anak melalui perzinaan, Allah mengabaikannya, sekali-kali Allah tidak memasukkannya ke dalam surga. Dan lelaki mana saja yang mengingkari nasab dengan anaknya, sedangkan ia mengetahuinya, maka Allah akan menghalanginya masuk surga dan aib yang menimpanya akan dibukakan kepada pembesar orang-orang terdahulu dan orang-ornag yang belakangan di hari kiamat.” (HR. An-Nasa’i)
Di samping itu, seorang anak juga diharamkan menasabkan dirinya kepada laki-laki selain ayah kandungnya sendiri, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
يﺪﮭﻨﻟا نﺎﻤﺜﻋ ﻲﺑأ ﻦﻋ لﻮﺣﻷا ﻢﺻﺎﻋ ﻦﻋ ﺔﯾوﺎﻌﻣ ﻮﺑأ ﺎﻨﺛ ﺪﻤﺤﻣ ﻦﺑ ﻲﻠﻋ ﺎﻨﺛﺪﺣ ﻲﺒﻠﻗ ﻰﻋوو يﺎﻧذأ ﺖﻌﻤﺳ لﻮﻘﯾ ﺎﻤﮭﻨﻣ ﺪﺣاو ﻞﻛو ةﺮﻜﺑ ﺎﺑأو ﺪﻌﺳ ﺖﻌﻤﺳ لﺎﻗ
51Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib An-Nasa’i, Sunan An-Nasa’i, jilid 6, (Beirut:
Dar al-Fikr, 1995), hal 750. Selanjutnya disebut An-Nasa’i, Sunan An-Nasa’i.
ﻢﻠﻌﯾ ﻮھو ﮫﯿﺑأ ﺮﯿﻏ ﻰﻟإ ﻰﻋدا ﻦﻣ لﻮﻘﯾ ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ اﺪﻤﺤﻣ
menasabkan dirinya kepada lelaki lain selain ayahnya, padahal di amengetahui bahwa lelaki itu bukan ayahnya, maka diharamkan baginya surga.’ (HR. Ibnu Majah)Hukum Islam mengatur bahwa nasab tidaklah dapat dihapus atau diputus.
Artinya walaupun ada orang yang tidak megakui nasabnya, namun pada hakikatnya hubungan nasab itu tetaplah ada sehingga berlakulah peraturan mengenai hak dan kewajiban yang disebabkan karena hubungan nasab diantara mereka. Oleh karena itu, Allah SWT dalam firmannya surah Al-Ahzab ayat 4 melarang seseorang mengada-ada tentang hubungan nasab, ayat tersebut berbunyi:
Artinya: Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar. itu sebagai ibumu, dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). yang demikian itu
52Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), hal 1023. Selanjutnya disebut Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah.
hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah mengatakan yang Sebenarnya dan dia menunjukkan jalan (yang benar).53
Nasab dalam arti keturunan juga merupakan salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam keserasian antara kedua calon mempelai yang akan melangsungkan pernikahan, atau disebut kafa’ah. Pria dan wanita hendaknya memilih calon pasangan yang se-kufu’ atau sederajat, sebagaimana bunyi sebuah hadits Rasulullah SAW:
ﻰﯿﺤﯾ ﺎﻨﺛﺪﺣ اﻮﻟﺎﻗ ﺪﯿﻌﺳ ﻦﺑ ﷲا ﺪﯿﺒﻋو ﻰﻨﺜﻤﻟا ﻦﺑ ﺪﻤﺤﻣو بﺮﺣ ﻦﺑ ﺮﯿھز ﺎﻨﺛﺪﺣ ﻦﻋ ةﺮﯾﺮھ ﻲﺑأ ﻦﻋ ﮫﯿﺑأ ﻦﻋ ﺪﯿﻌﺳ ﻲﺑأ ﻦﺑ ﺪﯿﻌﺳ ﻲﻧﺮﺒﺧأ ﷲا ﺪﯿﺒﻋ ﻦﻋ ﺪﯿﻌﺳ ﻦﺑ
ﮭﻟﺎﻤﻟ ﻊﺑرﻷ ةأﺮﻤﻟا ﺢﻜﻨﺗ لﺎﻗ ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ ﻲﺒﻨﻟا ﺎﮭﻟﺎﻤﺠﻟو ﺎﮭﺒﺴﺤﻟو ﺎ
كاﺪﯾ ﺖﺑﺮﺗ ﻦﯾﺪﻟا تاﺬﺑ ﺮﻔﻇﺎﻓ ﺎﮭﻨﯾﺪﻟو
Artinya: Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena keturunannya (nasab), karena kecantikannya, atau karena agamanya.
Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, jika tidak (semoga kau) menjadi miskin.54
Dari hadits, firman Allah SWT dan beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa nasab adalah sebagai salah satu dari adh-dharrūriyyāt al-khamsah, atau al-kulliyyah al-khamsah sebagai pancajiwa syari’at yang harus selalu dijaga dengan baik. Persoalan nasab merupakan masalah yang sangat
53zhihar ialah perkataan seorang suami kepada istrinya: punggungmu Haram bagiku seperti punggung ibuku atau perkataan lain yang sama maksudnya, adalah menjadi adat kebiasaan bagi orang Arab Jahiliyah bahwa bila dia Berkata demikian kepada istrinya maka istrinya itu haramnya baginya untuk selama-lamanya dan telah jatuh talak terhadapnya. Tetapi setelah Islam datang, maka adat ini dibatlkan, yang haram untuk selama-lamanya itu dihapuskan dan istri-istri itu kembali halal baginya dengan membayar kaffarat (denda).
Kemudian anak angkat atau adopsi selama-lamanya tidak akan menjadi anak sebenarnya atau berubah menjadi anak kandung. Lihat Mahmud Yunus, Tafsir Qur`ān Karīm, (Jakarta:
Hidakarya Agung, 2004), cet. ke-72, hal. 613
54 Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, al-Jami’u al-Shahih (Shahih Bukhari), jilid 3,(Beirut: Dar al-Fikr, 1995) , hal. 161. Selanjutnya disebut al-Bukhari Shahih Bukhari.
penting dalam rangka membina dan memelihara keturunan umat manusia serta merupakan salah satu unsur pokok yang harus dijaga keabsahannya.