BAB III METODE PENELITIAN
A. Deskripsi Objek Penelitian
4. Sumber daya manusia Badan Keluarga Berencana
Sumberdaya manusia merupakan salah satu persoalan mendasar dalam mendukung pelaksanaan kegiatan pembangunan di Kota Makassar. Dibutuhkan sumber daya yang kuat agar tidak terjadi ketimpangan-ketimpangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan di daerah kedepan. Untuk itu Badan Keluarga Berencana setiap tahunnya telah terus-menerus melakukan upaya peningkatan dan penguatan sumber daya aparatur maupun sumber daya sarana dan prasarana pendukung pelayanan aparatur, guna mewujudkan pencapaian tugas dan fungsi organisasi untuk membantu Walikota dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan pembangunan daerah di bidang urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera dengan dukungan sumber daya manusia yang kuat serta dukungan kapasitas asset/modal. Adapun Sumberdaya aparatur dan sumberdaya asset Badan Keluarga Berencana Kota Makassar sampai dengan tahun 2014.
Jumlah personil pegawai Badan Keluarga Berencana Kota Makassar pada tahun 2014 sebanyak 202 yang terdiri dari :
Tabel.1 Klasifikasi tingkat pendidikan pegawai Badan Keluarga Berencana Kota Makassar.
No Jenis Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah
12
Sumber Data : Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Badan KB th. 2014 Tabel. 2 Tenaga Kontrak Badan KB 2014
No Jenis Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah
1
Sumber Data : Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Badan KB th. 2014
Tabel.3 Klasifikasi tingkat pangkat/golongan pegawai badan keluarga berencana Kota Makassar
11 Tenaga kontrak 14 22 36
JUMLAH 63 139 202
Sumber Data : Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Badan KB th. 2014 Tabel.4 Klasifikasi tingkat jabatan pegawai badan keluarga berencana kota
Makassar
Sumber Data : Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Badan KB th. 2014
B. Peran Badan Keluarga berencana dalam Pengendalian pertumbuhan penduduk Peran Badan KB dalam hal ini adalah kemampuan Badan KB untuk mengarahkan dan mengatur laju pertumbuhan penduduk di suatu kawasan tertentu sesuai dengan kawasan pengawasannya agar supaya tidak terjadi kepadatan penduduk di kawasan itu. yaitu mencegah terjadinya ledakan penduduk dengan menekan laju pertumbuhan penduduk (LPP) dan hal ini tentunya akan diikuti dengan menurunnya angka kelahiran atau TFR (Total Fertility Rate) dari 2,87 menjadi 2,69 per wanita (Hanafi, 2002). Pertambahan penduduk yang tidak terkendalikan akan mengakibatkan kesengsaraan dan menurunkan sumber daya alam serta banyaknya kerusakan yang ditimbulkan dan kesenjangan penyediaan bahan pangan dibandingkan jumlah penduduk. Maka untuk meninjau atau untuk mengetahui lebih jauh tentang peran Badan keluarga berencana dalam pengendalian pertumbuhan penduduk peneliti menggunakan peran badan keluarga berencana meliputi : (a)
Melakukan advokasi, (b) menyelenggarakan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) (c) Melaksanakan pembinaan, membimbing dan menfasilitasi. Hasil pengkajian terhadap ketiga upaya tersebut adalah sebagai berikut:
1. Melakukan advokasi
Advokasi adalah upaya-upaya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah agar selaras dengan tujuan-tujuan dari kelompok masyarakat yang ingin diperjuangkan. Kurang berhasil atau kegagalan suatu program kesehatan, sering di sebabkan oleh karena kurang atau tidak adanya dukungan dari para pembuat keputusan, baik di tingkat nasional maupun lokal (provinsi, kabupaten, atau kecamatan). Akibat kurangnya dukungan itu, antara lain rendahnya alokasi anggaran untuk program kesehatan, kurangnya sarana dan prasarana, tidak adanya kebijakan yang menguntungkan bagi kesehatan dan sebagainya. Untuk memperoleh atau meningkatkan dukungan atau komitmen dari para pembuat kebijakan, termasuk para pejabat lintas sektoral diperlukan upaya disebut advokasi.
Advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kebijakan publik melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif. Dari beberapa catatan tersebut dapat disimpulkan secara ringkas, bahwa advokasi adalah upaya atau proses untuk memperoleh komitmen yang dilakukan secara persuasif dengan menggunakan informasi yang akurat dan tepat. Oleh karena itu pelaksanaan advokasi sangat perlu demi tercapainya suatu program kesehatan dan laju pertumbuhan penduduk dapat dikendalikan. Tujuan advokasi adalah mendukung dan mempromosikan suatu masalah/isu dan mencoba untuk mendapatkan dukungan dari pihak lain dalam rangka perubahan. Advokasi untuk mendekatkan problem publik kepada pembuat kebijakan.
Sehingga pembuat keputusan dan kebijakan publik membuat keputusan dan
kebijakan yang mengutungkan bagi masyarakat. Dalam melaksanakan advokasi dilakukan dengan cara mempengaruhi pembuat kebijakan, menggandeng kelompok pendukung, merangkul kelompok penentang dan memberdayakan masyarakat.
Seperti yang dikatakan oleh kepala bidang pengendalian keluarga berencana sebagai berikut :
“Kami dari pihak Badan Keluarga Berencana telah melaksanakan advokasi, salah satunya yaitu perumusan kebijakan, karena dukungan atau komitmen dari para pembuat kebijakan, termasuk para pejabat lintas sektoral sangat penting. Advokasi juga menurut saya merupakan langkah untuk merekomendasikan gagasan kepada orang lain atau menyampaikan suatu isu penting untuk dapat diperhatikan masyarakat serta mengarahkan perhatian para pembuat kebijakan” (Hasil wawancara: AH 18 Mei 2015).
Berdasarkan jawaban diatas dapat di simpulkan bahwa pihak Badan Keluarga Berencana sudah melaksanakan kebijakan yang sudah di bentuk sebelumnya sehingga apa yang menjadi program itu akan di laksanakan dengan baik kepada masyarakat. Jawaban serupa yang di lontarkan oleh Kepala sub bidang jaminan dan pelayanan keluarga berencana adalah sebagai berikut:
“Pelaksanaan advokasi telah di laksanakan, yaitu dengan tujuan tingginya komitmen dan dukungan dari stakeholders dan Pemerintah terhadap program pengendalian penduduk dan KB, terkait kelembagaan, kebijakan, perencanaan dan penganggaran. Karena advokasi ini ditujukan untuk menciptakan kebijakan publik yang bermanfaat bagi masyarakat atau mencegah munculnya kebijakan yang diperkirakan merugikan masyarakat. ” (Hasil wawancara: ZB 28 Mei 2015).
Berdasarkan kedua jawaban informan di atas dapat di simpulkan bahwa pelaksanaan advokasi yang di lakukan oleh pemerintah yaitu dengan menjalankan Program KB yang di tetapkan oleh pemerintah pusat sehingga dengan di jalankanya program ini akan sedikit mengurangi laju pertumbuhan penduduk.
a. Perumusan kebijakan
Perumusan kebijakan merupakan upaya untuk memecahkan masalah dalam masyarakat. perumusan masalah dapat dipandang sebagai suatu proses yang terdiri dari tiga tahap yang berbeda namun saling bergantung, yaitu 1) konseptualisasi masalah . (2)spesifikasi masalah (3) pengenalan masalah. Proses perumusan masalah dapat dimulai dari tahap manapun di antara ketiga tahap tersebut, namun suatu prasyarat dalam perumusan masalah adalah pengenalan atau menyadari keberadaan situasi problematis Untuk bergerak dari situasi problematis ke masalah substantif, analis kebijakan perlu mengkonsepsikan masalah, yaitu mendefinisikan menurut peristilahan dasar atau umum. Setelah masalah substantif dikonseptualisasikan, maka masalah formal yang lebih terperinci dan spesifik dapat dirumuskan. Proses memindahkan dari masalah substantif ke masalah formal diselenggarakan melalui spesifikasi masalah (problem spesification). Sesuai hasil wawancara dari Kepala bidang Pengendalian Keluarga Berencana menyatakan bahwa :
“Kami hanya menjalankan atau berpedoman saja pada Retranas Program KB yang sudah di tetapkan oleh pemerintah Pusat.” (Hasil wawancara.
AH.18 Mei 2015)
Berdasarkan jawaban diatas dapat di simpulkan bahwa mengenai perumusan kebijakan tentang pengendalian pertumbuhan penduduk pemerintah Kota Makassar hanya menjalankan program yang sudah di tetapkan oleh pemerintah Pusat seperti program KB. Jawaban diatas di perjelas oleh Kepala bidang Data dan Informasi berdasarkan hasil wawancaranya sebagai berikut :
“Iya program yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat seperti KB kami petugas berwewenang untuk melaksanakan tugas ini langsung mensosialisasikan kepada masyarakat baik itu melalui media seperti
koran, TV dan lainnya ataupun secara langsung.” (Hasil wawancara. MR.
25 Mei 2015).
Berdasarkan jawaban informan diatas dapat di simpulkan bahwa setelah pemerintah pusat menetapkan satu program untuk mengurangi pertumbuhan penduduk maka pemerintah Kota Makassar langsung mensosialisasikan kepada masyarakat melalui Media atau secara langsung sehingga nantinya masyarakat paham dengan program ini. Jawaban diatas senada dengan hasil wawancara dari masyarakat sebagai berikut :
“Iya pernah, saya mendengarkan informasi mengenai program KB yang di buat oleh pemerintah melalui TV, dan menurut saya ini sangat baik karena dengan program ini dapat mengurangi pertumbuhan penduduk.
(Hasil wawancara. AM. 29 Mei 2015)
Dari ketiga jawaban informan diatas maka dapat di simpulkan bahwa mengenai perumusan kebijakan pemerintah kota hanya melaksanakan program berpedoman pada retranas program KB, setelah itu pemerintah kota melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui media agar apa yang menjadi tujuan sebelumnya dapat tercapai.
b. Pengendalian
Pengendalian adalah sebuah usaha sistematik dari manajemen untuk mencapai tujuan dengan membandingkan kinerja dengan rencana awal kemudian melakukan langkah perbaikan terhadap perbedaan-perbedaan penting dari keduanya. Namun secara sederhana pengendalian dapat diartikan sebagai proses penyesuaian pergerakan organisasi dengan tujuannya. Sesuai jawaban yang di lontarkan oleh Kepala bidang Data dan Informasi adalah sebagai berikut :
“Kami telah melakukan pengendalian pertumbuhan penduduk diantaranya melaksanakan advokasi, selain perumusan kebijakan,
pengendalian agar supaya dukungan atau komitmen dari para pembuat kebijakan sehingga kebutuhan masyarakat yang ada di Kota Makassar ini sejalan dan selaras dengan kebijakan-kebijakan yang telah di buat, sehingga tidak merugikan masyarakat” (Hasil wawancara. MR 25 Mei 2015).
Dari jawaban diatas bahwa untuk melaksanakan pengendalian pertumbuhan penduduk pemerintah melaksanakan advokasi, perumusan kebijakan sehingga apa yang menjadi tujuan itu dapat dapat terjawab. Pernyataan yang sama dari Kepala sub bidang Pemberdayaan Ketahanan Keluarga yaitu :
“Dari beberapa cara yang telah dilakukan oleh Badan Keluarga Berencana Kota Makassar di antaranya kami telah melakukan pengendalian salah satunya yaitu mencari dukungan dan mempromosikan suatu masalah atau isu dan mencoba untuk mendapatkan dukungan dari pihak lain dalam program kami, agar selaras dan semua pihak tidak ada yang di rugikan dan program ini berjalan dengan lancer akan tetapi tingginya laju urbanisasi ke Kota Makassar menyebabkan meningkatnya jumlah penduduk kota Makassar tiap tahunnya” (Hasil wawancara. BM 28 Mei 2015).
Keseluruhan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan advokasi dengan perumusan kebijakan dan pengendalian telah di lakukan dan sudah di buktikan dengan tingginya dukungan dari stakeholders terhadap program pengendalian penduduk dan KB, yaitu terkait kelembagaan, kebijakan, perencanaan dan penganggaran serta pelaksanaan advokasi mengenai keluarga berencana, karena tujuan dari pelaksanaan Advokasi ini adalah mendukung dan mempromosikan suatu masalah atau isu dan mencoba untuk mendapatkan dukungan dari pihak lain dalam rangka perubahan. Advokasi untuk mendekatkan problem publik kepada pembuat kebijakan. Sehingga pembuat keputusan dan kebijakan publik membuat keputusan dan kebijakan yang mengutungkan bagi masyarakat. Dalam melaksanakan advokasi
dilakukan dengan cara mempengaruhi pembuat kebijakan, menggandeng kelompok pendukung, merangkul kelompok penentang dan memberdayakan masyarakat.
2. Menyelenggarakan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
Penyampaian informasi dan/atau peragaan alat, obat, dan cara kontrasepsi hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, penyuluh keluarga berencana dan tenaga lain yang terlatih serta dilaksanakan di tempat dan dengan cara yang layak.
Tujuan KIE (Hartanto, 2004)
a. Meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek KB sehingga tercapai penambahan peserta baru.
b. Membina kelestarian peserta KB
c. Meletakkan dasar bagi mekanisme sosio-kultural yang dapat menjamin berlangsungnya proses penerimaan.
Jenis Kegiatan KIE yang dilakukan oleh Badan Keluarga Berencana yaitu : a) Motivasi b) Edukasi. c) konseling
a) Komunikasi
Komunikasi adalah pertukaran pikiran atau keterangan dalam rangka menciptakan rasa saling mengerti dan saling percaya, demi terwujudnya hubungan yang baik antara seseorang dengan orang lain. Komunikasi adalah pertukaran fakta, gagasan, opini atau emosi antara dua orang atau lebih.
Komunikasi kesehatan adalah usaha yang sistematis untuk mempengaruhi secara positif perilaku kesehatan masyarakat, dengan menggunakan berbagai prinsip dan metode komunikasi, baik menggunakan komunikasi antar pribadi maupun komunikasi massa (Notoatmodjo, 2003).
Seperti yang dikatakan oleh kepala bidang pengendalian keluarga berencana sebagai berikut :
“ Penyelenggaraan komunikasi telah dilakukan dengan cara kami saling berkomunikasi kepada masyarakat yang ada di Kota Makassar tentang pentingnya ikut program KB ini demi menekan laju pertumbuhan penduduk dan mengajak masyarakat agar ikut berperan serta karena masyarakat tetap menjadi prioritas dalam rangka pelaksanaan kebijakan keluarga berencana diselenggarakan secara menyeluruh dan terpadu dan dilakukan oleh penyuluh KB yang ada disetiap kelurahan. ” (Hasil wawancara AH tanggal 18 Mei 2015).
Berdasarkan jawaban diatas maka dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan komunikasi telah di lakukannya, baik itu komunikasi langsung dengan masyarakat terutama membahas tentang pentingnya ikut program KB, sehingga dengan melakukanya secara langsung maka masyarakat akan paham dengan program tersebut. Sama dengan yang dikatakan oleh kepala sub bidang Pemberdayaan Ketahanan keluarga sebagai berikut :
“ Ya, Kami sering turun ke masyarakat dan berkomunikasi langsung kepada mereka dan mendapat respon yang baik dengan program kami, dan kami juga mengajak masyarakat untuk ikut berperan serta dalam mensukseskan program ini demi untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di Kota Makassar karena laju pertumbuhan penduduk tiap tahunnya meningkat tapi tingginya laju urbanisasi menyebabkan meningkatkan jumlah penduduk Kota Makassar tiap tahunnya”. (Hasil wawancara a. BM 28 Mei 2015).
Dari kedua jawaban diatas dapat disimpulkan bahwa pemerintah dalam menjalankan programnya melakukan komunikasi secara langsung kepada masyarakat agar masyarakat lebih paham terhadap program tersebut dan dengan melaksanakan komunikasi secara langsung ini akan menjalin hubungan yang baik antara pemerintah dengan masyarakat.
b) Informasi
Informasi adalah keterangan, gagasan, maupun kenyataan-kenyataan yang perlu diketahui oleh masyarakat (BKKBN, 1993). Sedangkan menurut DEPKES, 1990 Informasi adalah pesan yang disampaikan. Menurut pernyataan dari Kepala Bidang Data dan Informasi sebagai berikut :
“ Kami biasa terjun langsung ke wilayah-wilayah yang ada di Kota Makassar untuk berkomunikasi langsung kepada mereka untuk untuk mengajak dan ikut dengan serius dalam mensukseskan semua program kami, namun jumlah penduduk kota Makassar tiap tahunnya bertambah di akibatkan oleh urbanisasi” (Hasil wawancara. MR 25 Mei 2015).
Dari jawaban diatas dapat disimpulkan bahwa pemerintah turun langsung untuk memberikan informasi terhadap masyarakat agar ikut untuk menyukseskan program pemerintah. Jawaban serupa juga di lontarkan oleh Kepala sub bidang Jaminan dan Pelayanan Keluarga berencana sebagai berikut :
“Iya, tidak hanya berkomunikasi, kami juga memberi informasi terhadap masyarakat Makassar tentang pentingnya ber KB dalam menekan jumlah penduduk yang ada di Kota Makassar ini agar tidak terjadi kepadatan jumlah penduduk di setiap wilayah di kota makassar ” (Hasil wawancara.
ZB 28 Mei 2015).
Menurut jawaban di atas dapat disimpulkan bahwa Badan keluarga Berencana telah melakukan komunikasi dan juga memberi informasi kepada masyarakat Kota Makassar sehingga masyarakat lebih paham dan mengerti akan pentingnya ikut KB.
c) Edukasi/ Pendidikan
Edukasi/ Pendidikan adalah proses perubahan perilaku kearah yang positif (DEPKES RI, 1990). Menurut Effendy (1998), pendidikan kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dari tenaga kesehatan, karena merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap memberikan pelayanan
kesehatan, baik itu terhadap individu, keluarga, kelompok ataupun masyarakat.
Pernyataan yang di sampaikan oleh Kepala Pengendalian Keluarga Berencana sebagai berikut :
“Pelaksanaan Edukasi atau semacam pendidikan sudah kami lakukan terhadap warga yang ada di Kota Makassar ini, Kami memberikan pendidikan mengenai program KB, agar tingkat pemahaman masyarakat bertambah karena ini sangat penting demi menekan laju pertumbuhan penduduk di Kota Makassar ini” (Hasil wawancara. AH. 18 Mei 2015).
Berdasarkan yang diatas dapat disimpulkan bahwa pelaksanakan edukasi atau semacam pendidkan kepada masyarakat sudah dilakukan oleh Badan keluarga Berencana Kota Makassar, Jawaban serupa yang di lontarkan oleh salah seorang masyarakat kota Makassar adalah sebagai berikut:
“ Kami sering berkomunikasi dan mendapat berbagai informasi serta edukasi/pendidikan dengan memotivasi kami demi untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di Makassar. Member pendidikan diantaranya penyuluhan kesehatan reproduksi dan program dari Pemerintah Dua anak lebih baik ” (Hasil wawancara. AM 29 Mei 2015).
Dari pernyataan salah seorang masyarakat Kota Makassar dapat disimpulkan bahwa pemerintah dalam hal ini adalah Badan Keluarga Berencana sering melakukan edukasi atau semacam pendidikan seperti penyuluhan kesehatan refroduksi terhadap masyarakat di Kota Makassar. Jawaban serupa yang di lontarkan oleh salah seorang masyarakat kota Makassar lainnya adalah sebagai berikut:
“ Kami juga sering mendapat edukasi atau pendidikan dengan di beri motivasi kepada kami di sekitar wilayah ini dari pihak yang terkait dan mendapat berbagai informasi-informasi tentang pelayanan KB, antara lain usia ideal perkawinan, yaitu laki-laki 25 tahun dan perempuan 20 tahun, Usia ideal melahirkan, dan jumlah ideal anak ” (Hasil wawancara.
S 29 Mei 2015)
Dari tujuh pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa masyarakat biasa berkomunikasi dan mendapat berbagai informasi-informasi, serta Edukasi atau semacam pendidikan dari pihak Badan Keluarga berencana Kota Makassar yang di lakukan oleh penyuluh KB yang ada di setiap kelurahan, dengan tujuan agar supaya tingkat pemahaman masyarakat tentang pentingnya ber KB ini tinggi dan di terima di masyarakat khususnya yang ada di Kota Makassar.
3. Melaksanakan pembinaan, pembimbingan dan Menfasilitasi
Pelaksanaan Pembinaan, Bimbingan, dan Fasilitasi , tetap menjadi kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota melakukan pembinaan, bimbingan, dan fasilitasi penyelenggaraan perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga.
Dalam rangka mendukung pengembangan kualitas dan fungsi keluarga Pemerintah dan/atau masyarakat menyelenggarakan pembinaan dan pelayanan keluarga. dilakukan melalui KIE termasuk penyediaan sarana dan prasarana serta upaya lainnya. KIE termasuk penyediaan sarana dan prasarana dalam rangka pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga dan keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dilakukan dengan cara:
1. Pembinaan keluarga balita dan anak, dalam rangka meningkatan kapasitas keluarga dalam upaya untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak dengan pemberian akses informasi, pendidikan, penyuluhan, dan pelayanan tentang perawatan, pengasuhan, dan perkembangan anak;
2. Pembinaan ketahanan keluarga remaja dan Pembinaan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja/Mahasiswa, dalam rangka meningkatan kapasitas keluarga dalam upaya untuk meningkatkan tumbuh
kembang remajanya dan peningkatan kapasitas remaja dalam upaya untuk meningkata kualitas tumbuh kembang bagi dirinya sendiri dengan pemberian akses informasi, pendidikan, konseling, dan pelayanan tentang kehidupan berkeluarga;
3. Pembinaan ketahanan keluarga lansia, dalam rangka meningkatan kapasitas keluarga dalam upaya untuk meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap produktif dan berguna bagi keluarga dan masyarakat dengan pemberian kesempatan untuk berperan dalam kehidupan keluarga;
4. Pemberdayaan ekonomi keluarga, dalam rangka meningkatan akses dan peluang terhadap penerimaan informasi dan sumber daya ekonomi melalui usaha mikro keluarga khususnya keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I.
a) Pembinaan
Pembinaan adalah suatu proses penggunaan manusia, alat peralatan, uang, waktu, metode dan sistem yang didasarkan pada prinsip tertentu untuk pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan daya dan hasil yang sebesar-besarnya.
pembinaan hanya diperankan kepada unsur manusia, oleh karena itu pembinaan haruslah mampu menekan dan dalam hal-hal persoalan manusia. Seperti yang dikatakan oleh kepala sub bidang pemberdayaan ketahanan keluarga sebagai berikut :
“ Kami dari badan Keluarga Berencana kota Makassar sudah melakukan pembinaan seperti sosialisasi kepada masyarakat kota Makassar dalam mengakses pelayanan KB berkualitas melalui pelayanan statis yaitu pelayanan KB melalui titik KB yang tersebar di Makassar, akan tetapi tingginya laju urbanisasi membuat jumlah penduduk kota Makassar meninggkat tiap tahun ” (Hasil wawancara. BM 28 Mei 2015).
Kesimpulan dari jawaban di atas adalah pemerintah sudah melakukan pembinaan kepada masyarakat dengan mengadakan kegiatan sosialisasi pada
masyarakat. Jawaban serupa dari Kepala Bidang pengendalian keluarga berencana adalah sebagai berikut :
“ Kami dari Badan Keluarga berencana sudah melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang ada di Kota Makassar ini demi suksesnya program kami agar masyarakat Kota Makassar mengetahui dengan jelas tentang pentingnya ber KB akan tetapi tingginya laju urbanisasi ke Kota Makassar menyebabkan jumlah penduduk terus bertambah tiap tahunnya” (Hasil wawancara AH 18 Mei 2015).
Jadi dapat disimpulkan bahwa Badan Keluarga berencana telah melakukan perannya yaitu salah satunya adalah melaksanakan pembinaan pada masyarakat kota Makassar dengan tujuan program ini dapat berjalan dengan lancar.Sama dengan hasil wawancara dengan kepala bidang data dan informasi adalah sebagai berikut:
“ Kami biasanya melakukan pembinaan dengan cara sosialisasi, worshop terhadap masyarakat serta melalui pelayanan KB dalam berbagai momentum hari jadi lintas sector, namun banyaknya masyarakat yang berpindah tinggal di Makassar mengakibatkan laju pertumbuhan penduduk kota Makassar meningkat tiap tahunnya ” (Hasil wawancara MR. 25 Mei 2015).
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Badan Keluarga Berencana telah melakukan pembinaan dengan mensosialisasikan program-programnya serta mengadakan worshop kepada masyarakat. Hal serupa yang di lontarkan oleh salah seorang masyarakat sebagai berikut :
“ Iya. Kami biasa mendapat pembinaan bukan hanya sosialisasi, kami juga mendapat pelatihan konseling dan kegiatan itu sangat bermanfaat bagi kami karena disitulah kami banyak tau tentang program KB ini” (Hasil wawancara BH 28 Mei 2015)
Berdasarkan 4 pernyataan informan di atas dapat disimpulkan bahwa pemerintah telah melakukan pembinaan terhadap masyarakat seperti mengadakan sosialisasi, worshop, dan juga pelatihan konseling kesehatan reproduksi dan kegiatan
ini sangat bermanfaat bagi masyarakat yang tadinya kurang tahu program ini kemudian menjadi tahu.
b. Pembimbingan
Salah satu peran dari Badan Keluarga Berencana adalah pembimbingan.
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam membuat pilihan – pilihan dan penyesuaian – penyesuaian yang bijaksana. Bantuan itu berdasar atas prinsip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hidupnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak diwarisi, tetapi harus dikembangkan. Hasil wawancara dari Kepala Sub bidang pemberdayaan ketahanan keluarga sebagai berikut :
“ Kegiatan pembimbingan telah kami selenggarakan, kami turun
“ Kegiatan pembimbingan telah kami selenggarakan, kami turun