• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. DUAL SEMI QUICK (DSQ) (du preez,1981)

3.3. Cara Perhitungan

Analisa gross energy dilakaukan baik terhadap makanan yang ditest maupun terhadap excreta. Untuk perhitungan MEN, kandungan nitrogen bahan makanan yang ditest dan excreta dianalisa dengan cara kyeldhal.

ME per gr diet = GE per gr diet – (BM x R) Dimana :

ME = energy metabolis GE = gross energy

BM = gross energy per g excreta

R = ratio indicator warna pada makanan ; pada excreta

MEN dihitung dengan cara mengurangi ME dengan NB x 34,4 KJ/g. Dimana NB adalah nitrogen balance yang dihitung sebagai berikut :

Buku Petunjuk Praktikum Ilmu Nutrisi Non Ruminansia 40 NM

Dimana : NM = jumlah makanan ; NE = jumlah N dalam excreta PEMBAHASAN

Perdebatan mengenai kebaikan akan metode cepat unutk penentuan kandungan energy metabolis bagi unggas, sampai saat ini masih terus berlangsung. Banyak kritik dilontarkan terutama tehadap metode Sibbaid untuk penentuan TME (Farrel 1981, 1987, 1987 ; Sibbald 1982 - 1985). Sebagian kritik berdasarkan pada kandungan energy endogen yang hilang (ELL) yang diukur dari ayam yang dipuasakan (du Preeez et al, 1981 ; Farrell 1981).

Tidak perlu disangsikan lagi bahwa nitrogen metabolism pada yam yang diberi makan secara penuh akan berbeda dengan ayam yang dipuasakan. Yang pada akhirnya juga akan berpengaruh pada metabolism energy.

Ayam jantan dewasa jika diberi makan seara jinventional akan berbeda atau dekat dengan keseimbangan nitrogen yang seimbang (N-equillibrium). Sedangkan ayam yang dipuasakan tidak dapat disangkal lagi tentu akan berada pada keseimbangan nitrogen yang negative. Ini berarti akan berpengaruh secara nyata pada perhitungan TMEN, tetapi tidak begitu nyata pada perhitungan AMEN.

Hartel (1986) berkesimpulan bahwa AME dan TME pada ayam yang diberi makan secara continue akan sama.

Sibbal (1977) dalam penelitihnannya dengan menggunakan ayam broiler, berkesimpulan bahwa AME dan TME pada ayam yang diberi makan secara continue akan sama.

Jika pada akhirnya terbukti bahwa nilai TME lebih tepat digunakan dalam menyusun ransum unggas, maka akan ada pekerjaan besar untuk menentukan kembali nilai kandungan energy metabolis bahan – bahan makanan.

Perdebatan tidak saja terjadi antar metode, tetapi juga terjadi dalam masing – masing metode itu sendiri. Pada metode conventional misalnya, penggunaan ayam yang lebih banyak tiap group dengan jumlah ulangan yang lebih sedikit memberikan hasil yang lebih konsisten dari pada penggunaan ayam yang lebih sedikit pada tiap group dengan jumlah ulangan yang lebih banyak. Disamping itu terbukti bahwa perbandingan antara makanan yang idtest dengan ransum basal berpengaruh pada nilai energy metabolism.

Buku Petunjuk Praktikum Ilmu Nutrisi Non Ruminansia 41 Pada penentuan TME, Guillaume dan Summer (1970) berpendapat bahwa perbedaan antara ME dan TME menjadi kecil dengan meningkatnya konsumsi energy oleh ayam. Dari hal itu dapat disimpulkan bahwa yang mendapat energy kurang dari pada kebutuhan minimalnya akan mengkatabolis energy dari jaringan tubuhnya. Berdaarkan hal ini du Preez et al (1981) berpendapat bahwa penentuan ME dengan menggunakan ayam jantan dewasa, minimal 75 g makanan harus diberikan untuk memenuhi kebutuhan energy minimal sebesar 1,086 KJ per hari.

Disamping itu umur ayam juga berpengaruh pada kandunagn ME. Mollah et al, (1983) dan Johnson (1987) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa ayam dewasa pada umumnya memberikan nilai ME yang secara nyata lebih besar daripada ayam muda. Farreall

et al, (1988) menganalisa kandungan energy dari 13 jenis gandum dengan menggunakan

ayam muda dan ayam dewasa, dan melaporkan bahwa ayam dewasa memberikan nilai MEN

13,92 MJ/Kg, sedangkan ayam nuda hanya 13.35 MJ/Kg (P<0,05). Hal yang sama dilaporkan juga oleh Pesti et al , (1988) dengan menggunakan sample feather meal.

Farrell et al, (1988) menganalisa kandungan ME bahan makanan dengan menggunakan 4 macam metoda yang berbeda yaitu: metoda konvensional, DSQ, metoda Sibbald dan metoda Farrell. Lima ekor ayam, sebagai ulangan, diberi makan salah satu dari ransum dimana 0, 20, 40 atau 60% dedak padi ditambahkan pada ransum basal yang terdiri dari 98%jagung dan 2% campuran vitamin dan mineral, dengan level pemberian 75, 35 atau 10 g per ekor. Hasilnya dapat dilihat pada table 3.

Baik metoda, jenis ransum maupun level pemberian makan memberikan hasil ME yang berbeda sangat nyata (p<0,01). Juga ada interaksi (p<0,01) antara metoda x ransum, metode x level pemberian makan dan antara ramsum x level pemberian makan.

Buku Petunjuk Praktikum Ilmu Nutrisi Non Ruminansia 42 Tabel 3. Kandungan energy rata2 (MJ/Kg) dari suatu bahan makanan yang ditest dengan 4

macam metoda, 4 jenis ransum dan 3 level pemberian makan (Farrell et al, 1988). Energy rata – rata

AME AMEN TME TMEN

Metode : DSQ 11,64a* 12,16a 13,86ab 13,28a konventional 11,37a 12,05ab 13,66a 13,21a Sibbald 9,06b 10,48b 14,17b 13,06a Farrel 11,49a 11,78b 15,97c 14,06b LSD (0,05) 0,338 0,282 0,340 0,279 Ransum : 1 12,44a 13,13a 15,90a 14,88a 2 11,18b 11,89b 14,72b 13,68b 3 10,57c 11,25c 14,09c 13,04c 4 9,39a 10,20d 12,97d 12,02d LSD (0,050 0,338 0,282 0,340 0,270 Feed intake : 75 12,24a 12,19a 15,93a 14,21a 35 11,73b 12,11a 14,05b 13,20b 10 8,71c 10,56b 13,27c 12,72c LSD (0,050 0,267 0,223 0,268 0,220

*)Nilai dalam kolom dengan tanda yang sama tidak berbeda secara nyata.

Dari table 3. Dapat dilihat bahwa, seperti diharapkan, nilai energy akan menurun dengan meningkatnya jumlah dedak padi yang ditambahkan.

Buku Petunjuk Praktikum Ilmu Nutrisi Non Ruminansia 45 Untuk AME pada umumnya tidak ada perbedaan yang nyata antara metoda conventional, metoda DSQ dan metoda Farrell (P<0,05). Pada ransum 2-4 pada semua level pemberian makan, metode Sibbald memberikan nilai ME yang secara nyata menurun dengan menurunnya level pemberian makan. Hal ini hanya terjadi pada rannsum 4 denang metoda Farrell. Pada semua metoda, nilai ME secara konsisten menurun pada level pemberian makan 10 g/hari. Dilaporkan juga bahwa variasi diantara ulangan cenderung meningkat dengan meningkatnya penambahan dedak padi dan menurunnya level pemberian makan.

Yang menaraik dari hasil penelitian Farrell tersebut adalah, terlepas dari jenis ransum maupun level pemberian makan, nilai AME dan AMEN yang ditest dengan menggunakan metoda DSQ, metoda conventional, ataupun metoda Farrell adalah konsisten. Hal ini berbeda dengan apa yang dilaporkan oleh Johnson dan McNab (1983), Sibbald (1985), dimana pada umumnya dengan metoda Farrell mereka mendapatkan nilai ME yang lebih rendah.

Hasil lain yang menarik dari penelitian tersebut adalalh, nilai AME dan AMEN pada level pemberian makan 75 dan 35 g/hari adalah sama. Hal ini bertentangan dengan konsep yang diajukan oleh Guillaume dan Summer (1970) dimana pada tingkat intake 35 g/hari nilai ME diharapkan menurun.

Dari tulisan ini dapat disimpulkan bahwa penentuan AME dengan menggunakan metoda conventional, DSQ dan Farrell pada umumnya memberikan hasil yang tidak berbeda secara nyata.

Usulan untuk menggunakan nilai TME pada bidang makanan unggas saat ini masih terlalu pagi.

Buku Petunjuk Praktikum Ilmu Nutrisi Non Ruminansia 46 DAFTAR PUSTAKA

AEC (1978) Animal Feeding : Energi, Amino Acids, Vitamins, Minerals. Document no.4

aec, Commentry Franc.

ARC (1975) The Nutrient Requirement of Farm Livestock. No.1 Poultry. 2nd Ed. HMSO London.

de Haart,N (1977) Rapport 182,77 Spelderholt Institute for Poultry Research. du Preez,J.J., du Minnaar,A and Duckitt,J.S (1984). World Poult.Sci.J., 40:121-129 du Preez,J.J., Hayes,J.P and Duckitt,J/S (1981). S.Afr.J.Anim.Sci., 11:269-272 Farrell,D.J (1978). Brit.Poult.Sci., 19:303

Farrell,D.J (1981). World Poult.Sci.j., 37:72-82

Farrell,D.J (1982). Proc.Maryland Nutr. Conf. pp. 79-87

Farrell,D.J (1987). Proc.3rd.Conf.WPSA.Far East & S.Pacific Fdn. P14. Hamilton, New Zealand. Feb.87

Farrell,D.J., Surisdiarto and Thomson,E (1988). Proc.Poult.Res.Fdn. D3. University of Sydney

Guillaume,J and Summer,J.D (1970). Can.J.Anim.Sci. 50:363-369 Hartel,H (1986). Brit.Poult.Sci., 27:11-39

Haynes,J.P and Austic,R.E (1982). Poult.Sci., 61:2294 Hill,F.W and Anderson,D.L (1958). J.Nutr., 64:587-603 Johnson,G and McNab,J.M (1983). Brit.Poult.Sci., 24:349-359

McDonald,P., Edwards,R.A and Greenhalgh,J.F.D (1988). Animal nutrition. 4th.Ed. Jon Wiley Sons.Inc. New York

NRC (1984). Nutrient Requirements of Farm Livestock. No.1. Poultry. 2nd.Ed.London Pesti,G.M., Dale,N.M and Farrell,D.J (1988). Polut S.ci., in press.

Sibbald,I.R (1976). Poult.S.ci., 55:303 Sibbald,I.R (1977). Peedstuffs. 49:21

Buku Petunjuk Praktikum Ilmu Nutrisi Non Ruminansia 47 LEMBARAN KERJA

NAMA MAHASISWA : ……… DISETUJUI OLEH : ………..

NIM : ……… TGL : …………

ACARA : PENENTUAN KANDUNGAN ENERGI METABOLIS

DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONVENSIONAL

1. Ayam

Jenis :……….. umur:………. 2. Bahan makanan yang ditest : ……….. 3. Susunan ransum basal :

Bahan makanan jumlah

4. Perbandingan antara bahan makanan yang ditest dengan ransum basal : ……….. ransum ini selanjutnya disebut dengan ransum test.

5. Kandungan bahan kering (BK) dari : Bahan makanan = ……… % Ransum basal = ………%

6. Data penelitian : Variable Ulangan I II III IV V VI VII P0 P1 P2 P3 P0 P1 P2 P3 P0 P1 P2 P3 P0 P1 P2 P3 P0 P1 P2 P3 P0 P1 P2 P3 P0 P1 P2 P3 Konsumsi pakan (g) Jumlah excreta (g) Energy bruto (kkal/g) Ransum basal Ransum test Energy metabolis

Buku Petunjuk Praktikum Ilmu Nutrisi Non Ruminansia 48 PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

Buku Petunjuk Praktikum Ilmu Nutrisi Non Ruminansia 52 METODE UNTUK MENENTUKAN

Dokumen terkait