1. uMuM
PT Bank Ina Perdana ( Bank), berkedudukan di Jakarta, didirikan pada tanggal 9 Februari 1990 berdasarkan akta No. 32 notaris Kartini Muljadi, SH . Anggaran dasar Bank telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. 02-3639.HT.01.01 TH.90 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 84 tanggal 19 Oktober 1990. Anggaran dasar Bank telah beberapa kali diadakan perubahan antara lain akta notaris Winanto Wiryomartani, SH No. 63 tanggal 17 April 1997 mengenai perubahan anggaran perseroan yang telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2-11.942.HT.01.04 TH.97 dan yang terakhir dengan akta notaris Winanto Wiryomartani, SH No. 22 tanggal 25 September 2006 mengenai perubahan susunan kepengurusan Bank.
Bank telah memperoleh ijin usaha sebagai Bank Umum dari Menteri Keuangan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 524/KMK.13/1991 tanggal 3 Juni 1991.
Kegiatan utama Bank adalah menjalankan usaha dibidang perbankan.
Kantor pusat Bank berlokasi di Jalan Abdul Muis No. 40 Jakarta dan memiliki 3 kantor cabang, 4 kantor cabang pembantu dan 6 kantor kas.
Susunan pengurus PT Bank Ina Perdana adalah sebagai berikut : Komisaris:
Komisaris Utama : Nyonya Natalia Salim Komisaris Independen : Tuan Hari Sugiharto Komisaris Independen : Tuan Denny Susilo Direksi:
Direktur Utama : Tuan Ir. Adi Wiratama, MBA
Direktur : Tuan Adiyunianto*
Direktur Kepatuhan : Tuan Budiarto Santoso
Susunan pengurus diatas telah mendapat persetujuan dari Bank Indonesia.
* Tuan Adiyunianto selaku Direktur telah mengundurkan diri sejak 1 Januari 2009 sesuai surat pengunduran diri tanggal 1 Desember 2008.
Jumlah karyawan per 31 Desember 2008 dan 2007 sebanyak 177 orang dan 151 orang.
2. KeBIjaKan aKunTanSI
a. Penyajian Laporan KeuanganLaporan keuangan disusun dengan dasar pengukuran biaya historis dan mengikuti Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan Standar Akuntansi Keuangan yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Laporan arus kas disusun berdasarkan penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas yang dikelompokkan ke dalam kegiatan operasi, investasi, dan pendanaan dengan menggunakan metode Tidak Langsung (Indirect Method).
Laporan keuangan antar cabang disajikan dalam bentuk Laporan keuangan gabungan. Saldo penempatan dan pinjaman pada tanggal Neraca serta transaksi pendapatan dan pembebanan antar cabang dieliminasi.
Kas dan setara kas terdiri dari kas, giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain dan penempatan pada bank lain yang jatuh tempo sampai dengan 3 bulan.
Angka dalam laporan keuangan dinyatakan dalam Rupiah kecuali dinyatakan secara khusus.
b. Transaksi dan Saldo dalam Mata uang asing
Bank menyelenggarakan pembukuannya dalam mata uang Rupiah. Transaksi-transaksi dalam mata uang asing dijabarkan dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi yang bersangkutan.
2. KeBIjaKan aKunTanSI
(Lanjutan)b. Transaksi dan Saldo dalam Mata uang asing (Lanjutan)
Pada tanggal neraca, aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing dijabarkan dalam mata uang Rupiah dengan mempergunakan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. Keuntungan atau kerugian kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi tahun yang bersangkutan.
c. Giro pada Bank Indonesia
Giro pada Bank Indonesia disajikan sebesar saldo giro.
Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.7/29/PBI/2005 tanggal 6 September 2005 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/15/PBI/2004 tentang Giro Wajib Minimum (GWM) Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing. GWM bank ditetapkan:
- GWM dalam rupiah ditetapkan 5% dari DPK dalam rupiah.
- Bank wajib memelihara tambahan GWM dalam rupiah berdasarkan besarnya DPK sebagai berikut:
• DPK dalam rupiah sampai dengan Rp. 1.000.000.000.000,- dikenakan tambahan GWM dalam rupiah sebesar 0 %
dari DPK dalam rupiah
• DPK dalam rupiah lebih dari Rp. 1.000.000.000.000,- sampai dengan Rp. 10.000.000.000.000,- wajib memelihara
tambahan GWM dalam rupiah sebesar 1 % dari DPK dalam rupiah
• DPK dalam rupiah lebih dari Rp. 10.000.000.000.000,- sampai dengan Rp. 50.000.000.000.000,- wajib memelihara
tambahan GWM dalam rupiah sebesar 2 % dari DPK dalam rupiah
• DPK dalam rupiah lebih dari Rp. 50.000.000.000.000,- wajib memelihara tambahan GWM dalam rupiah sebesar 3
% dari DPK dalam rupiah
- Bank wajib memelihara tambahan GWM dalam rupiah berdasarkan besarnya LDR sebagai berikut:
• LDR lebih dari 90% dikenakan tambahan GWM sebesar 0 % dari DPK dalam rupiah
• LDR lebih dari 75% sampai dengan 90% wajib memelihara tambahan GWM dalam rupiah sebesar 1% dari DPK dalam
rupiah
• LDR lebih dari 60% sampai dengan 75% wajib memelihara tambahan GWM dalam rupiah sebesar 2% dari DPK dalam
rupiah
• LDR lebih dari 50% sampai dengan 60% wajib memelihara tambahan GWM dalam rupiah sebesar 3% dari DPK dalam
rupiah
• LDR lebih dari 40% sampai dengan 50% wajib memelihara tambahan GWM dalam rupiah sebesar 4% dari DPK dalam
rupiah
• LDR kurang dari 40% wajib memelihara tambahan GWM dalam rupiah sebesar 5% dari DPK dalam rupiah.
Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.10/25/PBI/2008 tanggal 23 Oktober 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/19/PBI/2008 tentang Giro Wajib Minimum (GWM) Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing. Pemenuhan GWM bank dalam rupiah ditetapkan:
- GWM Utama dalam rupiah sebesar 5 % dari DPK dalam rupiah, mulai berlaku tanggal 24 Oktober 2008. - GWM Sekunder dalam rupiah sebesar 2,5 % dari DPK dalam rupiah, mulai berlaku tanggal 24 Oktober 2009.
Tata cara pemenuhan GWM dalam rupiah, sebagai berikut :
1. Pemenuhan GWM Utama dalam rupiah dihitung dengan membandingkan saldo Rekening Giro Bank pada Bank Indonesia setiap akhir hari dalam 1 (satu) masa laporan terhadap rata-rata harian DPK dalam 1 (satu) masa laporan pada 2 (dua) masa laporan sebelumnya.
2. Pemenuhan GWM Sekunder dalam rupiah dihitung dengan membandingkan jumlah SBI, SUN dan/atau Excess Reserve setiap akhir hari dalam 1 (satu) masa laporan terhadap rata-rata harian jumlah DPK dalam 1 (satu) masa laporan pada 2 (dua) masa laporan sebelumnya.
d. Giro pada Bank Lain
Giro pada bank lain disajikan sebesar saldo giro setelah dikurangi penyisihan kerugian.
PT BANK INA PERDANA
caTaTan aTaS LaPOran KeuanGan
Laporan Tahunan Bank Ina 2008