• Tidak ada hasil yang ditemukan

Catatan Keperawatan

TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

6. Catatan Keperawatan

Hari/tanggal No. dx Evaluasi (SOAP) Paraf

Jumat, 06 Mei 2017

I S : Klien mengatakan masih tidak dapat mengingat hari, tanggal, jam, dan lupa nama -nama mahasiswa kemarin, namun dapat menyebutkan 5 mahasiswa.

O : Klien terlihat bingung dan lupa, disorientasi waktu dan orang. Klien terlihat hanya mampu melakukan pengulangan brain gym/senam otak saat kaki kiri menyilang ke atas dengan gerakan tangan kanan dan saat kaki kanan menyilang ke atas dengan gerakan tangan kiri.

A : Masalah belum teratasi. P : Lanjutkan intervensi.

Jumat, 06 Mei 2017

II S : Klien mengatakan sudah dapat menghabiskan makannya 1 porsi. O : Napsu makan klien bertambah dan dapat menghabiskan makannya. A : Masalah teratasi.

P : Hentikan intervensi

Mitha Nur Artha M

Jumat, 06 Mei 2017

III S : Klien mengatakan masih sulit tidur dan hanya dapat tidur ± 2 jam/hari. Klien mengatakan masih sering melamun.

O : Klien terlihat sering melamun, terdapat kantung mata, wajah terlihat lesu. A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi

Mitha Nur Artha M

Jumat, 06 Mei 2017

IV S : Klien mengatakan sudah dapat mandi secara mandiri namun masih sering lupa menggunakan sabun.

O : Klien terlihat bersih dan rapi namun badannya tercium bau karena klien mandi tidak menggunakan sabun.

A : Masalah belum teratasi. P : Lanjutkan intervensi .

BAB IV PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini penulis mencoba membahas kesenjangan antara tinjauan teoritis dengan tinjauan kasus tentang pemenuhan kebutuhan dasar pada lansia Ny. C dengan Demensia yang ada di Panti Sosial Tresna Werdha Budhi Dharma 2 Cengkareng Jakarta Barat, dengan mengikuti tahap-tahap proses keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Pada tahap pengkajian penulis mengarah pada format pengkajian yang telah disediakan dari institusi, dan mengacu pada proses pengkajian yang terdapat pada tinjauan teoritis. Untuk pengumpulan data pengkajian, penulis melakukan wawancara dengan klien, melakukan pemeriksaan fisik, observasi langsung, melihat catatan keperawatan serta hasil-hasil penunjang lainnya. Namun, untuk mendapatkan data yang lengkap tentang respon terhadap tindakan yang dilakukan, penulis mendapat kesulitan dalam pengkajian kerena banyak data yang tidak lengkap, misalnya pada pengkajian tidak ada data pemeriksaan diagnostic seperti hasil labotarium, CT-Scan, neuropsikiatrik dan neuro imaging serta pendokumentasian. Selain itu, minimnya sumber buku tentang asuhan keperawatan pada lansia dengan demensia juga menyulitkan penulis untuk melakukan pengkajian.

Dalam pengkajian setelah data yang diperoleh dan kemudian dianalisa serta dibandingkan dengan tinjauan teoritis dan laporan kasus, terdapat beberapa kesamaan pada tanda dan gajala yang terdapat pada tinjauan teori demensia. Pada teori tanda dan gejala stadium awal pada adalah kesulitan dalam berbahasa, mengalami kemunduran daya ingat secara bermakna, disorientasi waktu dan tempat, kesulitan membuat keputusan, kehilangan inisiatif dan motivasi, sering tersesat ditempat yang biasa dikenal,

yang didapatkan klien kesulitan berbicara bahasa, mengalami kemunduran daya ingat, disorientasi waktu dan tempat, kesulitan membuat keputusan, kehilangan inisiatif dan motivasi, skore MMSE : 18. Hal ini pada demensia terjadi karena demensia alzheimer yang mematikan sel otak sehingga mengakibatkan menurunnya daya ingat, kemampuan berpikir, dan perubahan perilaku serta demensia vascular yang disebabkan oleh disfungsi otak yang diakibatkan oleh penyakit serebrovaskuler (stroke). Ini merupakan penyebab kedua paling sering pada manula, setelah penyakit Alzheimer.

Berdasarkan teori, komplikasi yang di timbulkan pada penyakit demensia yaitu; Peningkatan risiko infeksi di seluruh bagian tubuh (Ulkus Dekubitus, Infeksi saluran kencing, Pneumonia), Thromboemboli, Infark miokardium, kejang, kontraktur sendi, kehilangan kemampuan untuk merawat diri, malnutrisi dan dehidrasi akibat nafsu makan kurang dan kesulitan menggunakan peralatan, Kehilangan kemampuan berinteraksi,

Harapan hidup berkurang. Pada kasus Ny. C terdapat kesenjangan dalam

aspek fisik yang penulis dapatkan dari penyakit pada Ny. C yaitu; Kehilangan kemampuan untuk merawat diri, hal ini dikarenakan Ny. C mandi 2x sehari dan keramas 2x sehari secara rutin namun sering lupa menggunakan sabun ataupun shampo, malnutrisi, klien sering malas makan dan hanya menghabiskan makan ½ porsi bila nafsu makan klien bisa menghabiskan makan 1 porsi dan Kehilangan kemampuan berinteraksi, terlihat dari keseharian klien sering menyendiri, melamun, mondar-mandir dan tidak pernah berinteraksi dengan lansia lainnya.

Dalam aspek sosial terdapat kesamaan menurut teori lansia cenderung memusatkan diri pada persoalan pribadi dan mempersiapkan diri menghadapi kematian. Sedangkan yang penulis dapatkan pada kasus Ny. C cenderung menyendiri, melamun, mondar-mandir dan kurang berinteraksi dengan lansia lainnya.

Dalam aspek psikologis menurut teori lansia akan mengalami gejala psikologis berupa rasa takut, tegang, depresi, mudah sedih, cepat marah, mudah tersinggung, dan curiga karena pada seorang lansia cenderung sudah tidak dibutuhkan lagi. Sedangkan klien mengatakan Ny. C saat diwawancara klien menunjukan ekspresi wajah senang, namun klien tertutup dan tidak mengingat dengan masalah-masalah yang dihadapi. Dalam aspek spiritual menurut teori pada tinjauan teoritis bahwa lansia akan semakin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini sesuai dengan Ny. C baik dalam melakukan ibadah klien setiap hari Senin dan Kamis selalu mengikuti Ibadah Rohani di Aula.

Selain tanda dan gejala pada demensia, ada juga kesenjangan pada penatalaksanaan terapi farmakologi dan non farmakologi. Dalam teori ada beberapa penatalaksanaan terapi farmakologi seperti Anti-oksidan (vitamin E dan vitamin C), obat anti inflamasi dan obat penghambat asitilkolin (mis, Exelon). Sedangkan pada kasus Ny. C pada saat dilakukan pengkajian klien mengatakan tidak pernah meminum obat-obatan atau tidak pernah mendapatkan obat. Penatalaksanaan non farmakologi dalam teori adalah program harian untuk pasien, terapi music, dan terapi rekreasi. Namun saat dilakukan pengkajian klien mengatakan tidak pernah mendapatkan terapi music maupun terapi rekreasi.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Berdasarkan konsep asuhan keperawatan yang ada pada tinjauan teoritis terdapat 9 diagnosa keperawatan dengan “Demensia”, yaitu sebagai berikut:

1. Sindrom stres relokasi berhubungan dengan perasaan tidak berdaya 2. Resiko terhadap trauma/cedera berhubungan dengan kurangnya

pendidikan tentang keamanan

3. Perbahan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memori/ingatan 4. Perubahan persepsi-sensorik berhubungan dengan pembatasan

5. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan lingkungan 6. Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kognitif

7. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan perubahan sensori

8. Perubahan pola eliminasi urinarius atau konstipasi/inkontinensia berhubungan dengan kehilangan fungsi neurologis/tonus otot

9. Ketidakefektifan koping keluarga : menurun atau tidak mampu berhubungan dengan hubungan keluarga sangat ambivalen

Pada kasus Ny. C ada 4 diagosa keperawatan yang muncul, yaitu :

1. Perubahan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memori/ingatan

2. Resiko perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.

3. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan lingkungan 4. Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kognitif.

Dapat disimpulkan bahwa terdapat 5 diagnosa yang tidak muncul pada Ny. C menurut tinjauan teoritis, yaitu :

1. Sindrom stres relokasi berhubungan dengan Perasaan tidak berdaya. 2. Resiko terhadap trauma/cedera berhubungan dengan kurangnya

pendidikan tentang keamanan.

3. Perubahan persepsi-sensorik berhubungan dengan pembatasan lingkungan secara terapeutik (isolasi, perawatan intensif, tirah baring).

4. Perubahan pola eliminasi urinarius atau konstipasi/inkontinensia berhubungan dengan kehilangan fungsi neurologis/tonus otot. 5. Ketidakefektifan koping keluarga : menurun atau tidak mampu

C. PERENCANAAN KEPERAWATAN

Pada tahap perencanaan penulis mengacu pada perencanaan yang terdapat dalam tinjauan teoritis, perencanaannya terdiri dari 4 tahap yaitu menentukan prioritas masalah, menentukan tujuan, kriteria hasil dan melaksanakan tindakan keperawatan. Adapun yang menjadi prioritas masalah pada Ny. C adalah perubahan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memori/ingatan. Hal ini menjadi prioritas karena data – data yang menunjang. Prioritas yang ada pada teori sudah sesuai dengan kasus Ny. C

Pada perencanaan ini tidak terdapat kesenjangan yang berarti. Adapun hal yang mendukung dalam perencanaan adalah tersedianya format untuk menuliskan rencana tindakan, sehingga tidak terjadi miskomunikasi secara langsung antara perawat. Dalam penyusunan tujuan dan kriteria hasil sudah dibuat sesuai tinjauan teoritis yaitu mencakup variable SMART sehingga tujuan dan kriteria hasil yang dibuat bersifat spesifi dan dapat diukur, dapat dicapai. Rasional dan dapat mencakup batas waktu pencapaian tujuan yang diharapkan dari setiap masalah keperawatan yang ada.

Tujuan yang ditetapkan pada masing – masing diagnosa disesuaikan berdasarkan kondisi klien, beratnya masalah dan study diagnostic, sehingga dibuat dengan tujuan jika tujuan tersebut belum teratasi pada batas waktu yang ditentukan, maka rencana tindakan yang telah dibuat dapat dilimpahkan kepada perawat di panti. Sedangkan dalam merencanakan tindakan keperawatan, penulis tidak banyak menemui kesulitan, hal ini dikarenakan klien kooperatif dan mau diajak bekerjasama.

D. PELAKSANAAN KEPERAWATAN

Setelah rencana keperawatan dibuat kemudian di implementasikan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat penulis. Pada tahap pelaksanaan penulis melaksanakan tindakan keperawatan yang sesuai pada rencana tindakan sampai dengan hari ketiga.

Dokumen terkait