• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggal Mei Disusun Oleh : MITHA NUR ARTHA MEDIKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tanggal Mei Disusun Oleh : MITHA NUR ARTHA MEDIKA"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA NY. C DENGAN

GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR

ISTIRAHAT DAN TIDUR PADA SISTEM PERSYARAFAN :

DEMENSIA ALZHEIMER DI PANTI SOSIAL TRESNA

WERDHA BUDI DHARMA CENGKARENG JAKARTA

BARAT

Tanggal 02-06 Mei 2017

Disusun Oleh :

MITHA NUR ARTHA MEDIKA

2014750026

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah segala puji dan syukur hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua makhluknya, sehingga dengan rahmatnya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Lansia Ny. C Dengan Demensia”di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Dharma Bekasi”.

Selama proses pembuatan laporan kasus ini, penulisan banyak menemui hambatan dan kesulitan, namun berkat pembimbing dan pengarahan dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini tepat pada waktunya. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada :

1. Kepada Allah SWT, karena saya telah diberi kemudahan dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini.

2. Bapak Dr. Muhammad Hadi, SKM.,M.Kep selaku dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

3. Ibu Ns. Titin Sutini,M.Kep.,Sp.Kep.An selaku Ka.Prodi program studi DIII Keperawatan FIK UMJ.

4. Ibu Ns. Lily Herlina, M.Kep.Sp.Kep.Kom selaku dosen dan pembimbing Keperawatan Gerontik yang telah banyak memberi bantuan, bimbingan dan pengarahan yang sangat berguna dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini, serta selaku penguji pertama pada ujian akhir program Studi DIII Keperawatan FIK UMJ.

5. Ibu Ns. Nurhayati, M.Kep, Sp.Kep.Kom selaku penguji II pada ujian sidang akhir Program DIII Keperawatan FIK UMJ.

6. Bapak Drs. Dedi Muhdiana, M.Kes selaku wali tingkat kami yang telah menemani dan membimbing kami selama 3 tahun, serta selaku penguji kedua pada ujian akhir program studi DIII Keperawatan FIK UMJ.

7. Ayahanda tercinta Asep Nur Azhar Iskandar.SE terima kasih yang tak terhingga atas Do‟a, semangat dan kasih sayangnya bahkan pengorbanannya yang telah berjuang membesarkan anak gadis yang satu ini mampu ke perguruan tinggi DIII Keperawatan “thanks Dad, you always support and the best for me”

8. Ibunda tercinta Nurjanah, terima kasih atas Do‟a, dukungan, semangat, dan kasih sayang kasih sayangnya yang tak terhingga pengorbanannya yang telah membesarkan anak-anaknya hingga salah satu anaknya mampu menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini di perguruan DIII Keperawatan FIK UMJ “ Mom, You always always the best and you my everything for me”.

(5)

9. Abang tersayang “Faisal Nur Muhammad” serta Adik tersayang “Akmalia Nur Husada Putri” terima kasih buat selalu dukungan semangat serta supportnya.

10.Teman-teman seperjuangan angkatan XXXII, terimakasih untuk kebersamaannya selama ini. Dalam perjuangan kita selama ini menggapai impian menjadi seorang “Perawat”. Apa yang kita lalui selama 3 tahun penuh akan menjadi suatu kenangan yang sangat indah untuk kita ingat selamanya. 11.Untuk teman-teman (Eka Widya, Dika F, Abdul M, Windy Y, Lailatul A,

Wardah A, Veggy S) Teman seperjuangan Tim Gerontik terima kasih karena sudah memberikan semangat dan supportnya.

12.Untuk teman-teman The Flowers (Euis Octaviani P, Maiyanti Wahidatunnisa, Eka Widya Y, Tri Amalia, Ayui Nila S, Wardah Apifah) terima kasih selalu ada buat saya, selalu support dan memberikan semangat dalam hal apapun. 13.Untuk adik-adik tersayang (Septy A, Nuvita I, Pratiwi S, Hermah D, May

Kartika, Maulana Ramadhan, Muhammad Arief, Muhammad Yani) terimakasih selalu ada dan selalu memberikan support dan semangatnya. 14.Bapak/Ibu Dosen pendidikan Akademi Keperawatan FIK UMJ yang banyak

membantu penulis dalam mengikuti pendidikan sampai menyusun Karya Tulis Ilmiah.

15.Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak dapat disebut satu persatu. Semoga bantuan dan kebaikannya dilimpahi keberkahan dalam hidupnya oleh Allah Azza Wa Jalla. Amin YaRabbal „Alamin.

Akhir dari penulisan saya dari Karya Tulis Ilmiah masih banyak kekurangannya, oleh karena itu saya harapkan adanya masukan yang baik dengan berupa saran ataupun kritikan yang dapat membangun dari semua pihak, semoga dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak kesehatan.

Jakarta, 03 Mei 2017

Mitha Nur Artha Medika

(6)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 8 B. Tujuan Penulisan ... 11 1. Tujuan Umum ... 11 2. Tujuan Khusus ... 11 C. Metode penulisan ... 11 D. Ruang lingkup ... 11 E. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II TUJUAN TEORI A. Konsep Dasar Proses Menua ... 13

1. Definisi ... 13

2. Klasifikasi Lanjut Usia ... 13

3. Teori Proses Menua... 14

4. Perubahan Terjadi Pada Lansia ... 17

B. Konsep Dasar Masalah Kesehatan Demensia ... 23

1. Pengertian ... 23 2. Klasifikasi ... 24 3. Etiologi ... 27 4. Patofisiologi ... 28 5. Manifestasi Klinis ... 29 5. Komplikasi ... 29 6. Penatalaksanaan ... ... 30 7. Data Penunjang ... ... 30

(7)

C. Konsep Kebutuhan Dasar Manusia ... 31

D. Konsep Proses Keperawatan Lansia ... 39

1. Pengkajian keperawatan ... 39

2. Diagnosa keperawatan ... 46

3. Perencanaan keperawatan ... 49

4. Pelaksanaan keperawatan ... 87

5. Evaluasi keperawatan ... 88

BAB III TIJAUAN KASUS A. Pengkajian Keperawatan ... 89 B. Diagnosa Keperawatan ... 102 C. Perencanaan Keperawatan ... 106 D. Pelaksanaan Keperawatan ... 110 E. Evaluasi Keperawatan ... 122 BAB IV PEMBAHASAN A. Pengkajian Keperawatan ... 124 B. Diagnosa Keperawatan ... 126 C. Perencanaan Keperawatan ... 128 D. Pelaksanaan Keperawatan ... 128 E. Evaluasi Keperawatan ... 129 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 130 B. Saran ... 131 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), terutama di bidang kedokteran, termasuk penemuan obat-obatan seperti antibiotika yang mampu “mematikan” berbagai penyakit infeksi, berhasil menurunkan angka kematian bayi dan anak, perbaikan gizi dan sanitasi sehingga meningkatkankualitas dan umur harapan hidup. Akibatnya, jumlah penduduk lanjut usia semakin bertambah banyak, bahkan cenderung lebih cepat dan pesat (Nugroho, 2008).

Lanjut usia adalah proses alami yang tidak dapat dihindari (Azwar,2006). Usia lanjut dikatakan sebagai tahap terakhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2),(3),(4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam,2008). Masa senium/lanjut usia, ada pula yang membaginya menjadi young old (70-75 tahun), old-hold (75-80 tahun) dan very old (80 tahun keatas) (Nugroho, 2008).

Jumlah lanjut usia saat ini diseluruh dunia lebih dari 629 juta jiwa (satu dari 10 orang berusia lebih dari 60 tahun), diperkirakan tahun 2025 lanjut usia akan mencapai 1.2 miliyar (Nugroho, 2008). Fenomena ini jelas mendatangkan sejumlah konsekuensi, antara lain timbulnya masalah fisik, mental, sosial, serta kebutuhan pelayanan kesehatan dan keperawatan, terutama kelainan degenerative (Nugroho, 2008).Menurut Departemen Kesehatan (2013) menyatakan adanya kecenderungan peningkatan persentase kelompok lansia dibandingkan kelompok usia lainnya yang cukup pesat sejak tahun 2013 8,9% di Indonesia dan 13,4%di Dunia hingga tahun 2050 diperkirakan 21,4% di Indonesia dan 25,3% di Dunia.

(9)

Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan terus menerus dan kesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh sehingga akan memengaruhi fungsi dan kemampuan secara keseluruhan (Maryam, 2008). Dalam memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran misal kemunduran dalam fisik, kulit mulai mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan juga penuaan dalam proses berpikir (Nuha Medika, 2013).

Pada system saraf pusat otak merupakan organ paling penting dalam tubuh kita, sebab dapat dikatakan segala aktivitas tubuh dikoordinir oleh organ lain. Apabila organ ini rusak, maka dapat menimbulkan gangguan fungsi otak dan dapat menyebabkan gangguan memori dan orientasi (Sudoyo, 2009). Gangguan memori dan orientasi disebut Demensia. Demensia adalah gangguan tingkat intelektual yang sebelumnya lebih tinggi. Gangguan mencakup memori dan bidang kognitif lainnya seperti berbahasa, orientasi pemikiran abstrak, penilaian, kepribadian, praksis dan harus cukup berat sehingga mengganggu kemampuan kerja dan sosial. (Arjatmo Tjokronegoro, 2004 , Sudoyo, 2010). Menifestasi klinik : Penurunan fungsi intelektual, perubahan kepribadian, Kerusakan penilaian, Perubahan afek, Kerusakan ingatan, khususnya jangka pendek, Kerusakan koordinasi fisik (Stockslager, 2008). Dampak lanjut dari Penyakit Demensia dapat mengakibatkan penurunan pemenuhan kebutuhan dasar manusia, terutama kebutuhan dasar stimulus/rangsangan, Nutrisi, Istirahat dan Tidur, Personal Hygine/Perawatan Diri.

Demensia merupakan masalah yang besar dan serius yang dihadapi oleh negara negara maju, dan telah pula menjadi masalah kesehatan yang mulai muncul di negara negara berkembang seperti di Indonesia. Demensia cukup sering dijumpai pada lansia, menimpa sekitar 10% kelompok usia di

(10)

atas 65 tahun dan 47% kelompok usia di atas 85 tahun. Pada sekitar 10-20% kasus demensia bersifat reversibel atau dapat diobati.

Studi Prevalensi menunjukkan bahwa di amerika serikat, pada populasi usia diatas 65 tahun, persentase orang dengan penyakit Alzheimer lebih tinggi pada wanita dan demensia multi-infark lebih banyak dijumpai pada pria. (Arjatmo Tjokronegoro, 2004, Sudoyo, 2010). Diperkirakan terdapat 35,6 juta orang di dunia yang menderita demensia pada tahun 2010. Negara-negara dengan angka kejadian demensia terbanyak di dunia adalah Cina (5,4 juta orang), Amerika Serikat (3,9 juta orang), Rusia (1,2 juta orang), Perancis (1,1 juta orang), Italia (1,5 juta orang) dan Brazil (1 juta orang) (WHO, 2012). Belum ada data yang pasti tentang prevalensi demensia di Indonesia. (Kemenkes RI, 2010). Pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi upaya pelayanan kesehatan yaitu peningkatan (promotion), pencegahan (preventive), pembatasan kecacatan serta pemulihan (rehabilitative) (Maryam, 2008). Upaya promotif, yaitu untuk menggairahkan semangat hidup para lansia agar merasa tetap hargai dan berguna, baik bagi dirinya, keluarga, maupun masyarakat. Upaya preventif, yaitu upaya pencegahan kemungkinan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan. Upaya kuratif, yaitu upaya pengobatan yang penanggulangannya perlu melibatkan multidisiplin ilmu kedokteran. Upaya rehabilitative, yaitu upaya untuk memulihkan fungsi organ tubuh yang telah menurun. (Maryam, 2008).

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mempelajari lebih dalam mengenal Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Demensia. Maka penulis mengambil judul karya tulis ilmiah “Asuhan Keperawatan Pada Lansia Ny CGangguan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Dengan Demensia di Panti Sosial Tresna Werdha Budhi Dharma 2 Cengkareng Jakarta Barat”.

(11)

B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum

Memperoleh pengalaman nyata dalam pemberian Asuhan Keperawatan pada lansia Ny C dengan Demensia.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian pemenuhan kebutuhan dasar pada lansia dengan Demensia.

b. Mampu menganalisa data untuk menentukan masalah keperawatan dengan pemenuhan kebutuhan dasar pada lanjut usia dengan Demensia.

c. Mampu merencanakan tindakan keperawatan dengan pemenuhan kebutuhan dasar pada lanjut usia dengan Demensia.

d. Mampu melakukan evaluasi pada lansia dengan pemenuhan kebutuhan dasar pada lansia dengan Demensia.

e. Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus dengan pemenuhan kebutuhan dasar pada lansia dengan Demensia.

f. Mampu mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan pengahambat serta dapat mencari solusinya.

C. Ruang Lingkup

Penulisan karya tulis ilmiah ini merupakan pembahasan dengan pemberian Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Lansia Ny/Tn... Dengan Demensia di Panti Sosial Tresna Werdha Budhi Dharma 2 Cengkareng Jakarta Barat pada tanggal 03-06 Mei 2017

D. Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah dengan metode deskriptif dan studi kepustakan. Dalam metode deskriptif pendekatan yang digunakan adalah studi kasus, dimana peserta didik mengelola satu kasus menggunakan proses keperawatan. Dalam metode ini disebutkan juga bagaimana peserta didik memperoleh data atau

(12)

informasi (wawancara secara langsung dan tidak langsung dari klien Ny. C dan petugas kesehatan, Observasi, Pemeriksaan Fisik).

E. Sistematika Penulisan

Penulisan karya tulis ilmiah ini disusun secara sistematik yang terdiri dari :

BAB I Pendahuluan meliputi latar belakang masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II Membahas tentang konsep dasar masalah kesehatan yang terdiri dari pengertian, patofisiologi dan penatalaksanaan dan konsep lanjut usia secara teori meliputi : pengkajian, diagnosa, perencanaan,

Implementasi dan evaluasi.

BAB III Tinjauan kasus yang merupakan laporan dari hasil langsung tentang asuhan keperawatan lanjut usia meliputi : pengkajian, diagnosa,perencanaan, implementasi dan evaluasi.

BAB IV Pembahasan yang membahas kesenjangan teori kasus, analisa, darifaktor-faktor pendukung dan penghambat serta alternatif pemecahan

masalah dalam memberikan asuhan keperawatan di tiap- tiap yang meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

BAB V Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(13)

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Proses Menua 1. Pengertian

Menua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup yang hanya di mulai dari satu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis, maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan-gerakan lambat, dan postur tubuh yang tidak proforsional (Nugroho, 2008).

2. Klasifikasi

a. Beberapa pendapat para ahli tentang batasan usia adalah sebagai berikut :

1) Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) ada 4 tahapan yaitu :

a) Usia pertengahan (middle age) usia 45-59 tahun b) Lanjut usia (eldery) usia 60-74 tahun

c) Lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun

d) Usia sangat usia tua (very old) usia >90 tahun

2) Menurut Burnside (1979, dalam Buku Keperawatan Gerontik & Geriatrik Edisi 3, 2008) :

a) Young old (Usia 60-69 tahun) b) Middle age old (Usia 70-79 tahun) c) Old-old (Usia 80-89 tahun)

(14)

3) Menurut Bee (1996, dalam Buku Kperawatan Gerontik & Geriatrik Edisi 3, 2008) :

a) Masa dewasa muda (usia 18-25 tahun) b) Masa dewasa awal (usia 70-79 tahun) c) Masa dewasa tengah (usia 40-65 tahun) d) Masa dewasa lanjut (usia 65-75 tahun)

e) Masa dewasa sangat lanjut usia (usia >75 tahun) b. Berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia :

1) Pralansia

Seseorang yang berusiaantara 45-59 tahun. 2) Lansia

Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih. 3) Lansiaresikotinggi

Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/ seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan (Depkes RI, 2003).

4) Lansia potensial

Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa (Depkes RI, 2003).

5) Lansia tidak potensial

Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung dengan orang lain (Depkes RI, 2003).

3. Teori Proses Menua

Proses menua bersifat individual : Dimana proses menua pada setiap orang terjadi dengan usia yang berbeda, setiap lanjut usia mempunyai kebiasaan atau style yang berbeda, dan tidak ada satu faktor pun yang ditemukan dapat mencegah proses menua. Teori-teori itu dapat digolongkan dalam dua kelompok, yaitu : kelompok biologis dan teori psikososial.

(15)

a. TeoriBiologis

Menurut Hay ick (1965, Buku Keperawatan Gerontik, 2013) secara genetik sudah terprogram bahwa material di dalam ini sel dikatakan bagaikan memiliki jam genetis terkait dengan frekuensi mitosis.

1) Teori cross-linkage (rantai silang)

Kolagen merupakan unsur penyusun tulang diantara susunan moleculer, lam kelamaan akan meningkat kekakuannya (tidak elastis). Hal ini disebabkan oleh karena sel sel yang sudah tua dan reaksi kimianya menyebabkan jaringan yang sangat kuat 2) Teori radikal bebas

Radikal bebas merusak membrane sel yang menyebabkan kerusakan dan kemunduran secara fisik.

3) Teori genetic

Menurut teori ini, menua telah terprogram secara genetic untuk spesies spesies terrtentu. Menua bisa terjadi perubahan biokimia yang deprogram oleh molekul-molekul/DNA dan seiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.

4) Teori immunologi

Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak dapat tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah.System imun menjadi kurang efektif dalam mempertahankan diri, regulasi dan responsibilitas.

5) Teori stress-adaptasi

Menua terjadi akibat hilangnya sel sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh telah terpakai.

6) Teori wear and tear (pemakaian dan rusak)

Kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai)

(16)

b. Teori psikososial 1) Teori integritas ego

Teori perkembangan ini mengidentifikasi tugas-tugas yang harus dicapai dalam tiap tahap perkembangan. Hasil akhir yang dicapai dari penyelesaian integrias ego dan keputusan adalah kebebasan.

2) Teori stabilitas personal

Kepribadian seseorang terbentuk pada masa kanak-kanak dan tetap bertahan secara stabil. Perubahan yang radikal pada usia tua bisa jadi mengindikasikan penyakit otak.

3) Teori aktivitas atau kegiatan

a) Ketentuan tentang semakin menurunnya jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan banyak ikut serta dalam kegiatan sosial.

b) Lanjut usia akan merasakan kepuasan bila dapat melakukan aktivitas dan mempertahankan aktivitas tersebut selama mungkin.

c) Ukuran optimum (polahidup) dilanjutkan pada cara hidup lanjut usia.

d) Mempertahankan hubungan antara system social dan invidu agar tetap stabil dari usia pertengahan sampai usia lanjut usia.

4) Teori kepribadian berlanjut

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Identitas pada lansia yang sudah mantap

memudahkan dalam memelihara hubungan dengan

masyarakat, melibatkan diri dengan masalah di masyarakat, keluarga dan hubungan interpersonal. Pada teori ini terjadi pada seseorang lanjut usia sangat dipengaruhi olehtipe personality yang dimilikinya.

(17)

5) Teori pembebasan/penarikan diri (disengagement theory) Pokok-pokok dalam disengagement theory

a) Pada pria, kehilangan peran hidup utama terjadi pada masa pensiun.

Pada wanita, terjadi pada masa peran dalam keluarga berkurang, misalnya saat anak menginjak dewasa dan meninggalkan rumah untuk belajar dan menikah.

b) Menurut (Nugroho, 2008) menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara pelan tetapi pasti mulai melepaskan diri dari kehidupan social nyata untuk menarik diri dari pergaulan sekitarnya.

c) Ada tiga aspek utama dalam teori ini : - Kehilanganperan (loss of role)

- Hambatan kontak sosial (restriction of contacts and relationships).

- Berkurangnya komitmen (reduced commitment to social mores and values)

4. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia a. Perubahan Fisik dan Fungsi :

1) Sel : Jumlah sel menurun/lebih sedikit, ukuran sel lebih besar, jumlah cairan tubuh dan cairan intraseluler berkurang, Proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah dan hati menurun, jumlah sel otak menurun, mekanisme perbaikan sel terganggu.

2) Sel persarafan : Menurun hubungan persarafan, beratotak menurun 10-20% (sel saraf otak setiap orang berkurang setiap harinya), respon dan waktu untuk bereaksi lambat, khususnya terhadap stress, sarafpanca-indramengecil, penglihatan berkurang, pendengaran menghilang, saraf penciuman dan perasa mengecil, lebih sensitive terhadap perubahan suhu, dan

(18)

rendahnya pertahanan terhadap dingin, kurang sensitive terhadap sentuhan, deficit memori.

3) Sistem pendengaran: membrane timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran. Tulang-tulangp endengaran mengalami kekakuan.

4) Sistem penglihatan : Lapang pandang menurun, luas pandangan berkurang, adaptasi terhadap gelap menurun, dan katarak.

5) Sistem kardiovaskuler : Katup jantung menebal dan menjadi kaku, elastisitas dinding aorta menurun, kemampuan jantung untuk memompa darah menurun, curah jantung menurun (isi semenit jantung menurun), serta meningkatnya resitensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat.

6) Sistem pengaturan suhu tubuh : Temperature tubuh menurun (hipotermia) dapat mengakibatkan metabolisme yang menurun, merasa kedinginan, pucat dan gelisah.

7) Sistem pernafasan : Otot pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan, dan menjadi kaku, aktivitas silia menurun, paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik napas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dalam kedalaman bernafas menurun, ukuran alveoli melebar (membesar secara progresif) dan jumlah berkurang, berkurangnya elastisitas bronkus.

8) Sistem pencernaan : Kehilangan gigi, indra pengecapan menurun, adanya iritasi selaput lendir yang kronis, esophagus melebar, rasa laparmenurun, asam lambung menurun, motilitas dan waktu pengosongan lambung

(19)

menurun, peristaltic lemah dan biasanya timbul konstipasi, fungsi absorpsi melemah.

9) Sistem reproduksi: Perubahan system reproduksi lansia ditandai dengan menciutnya ovari dan uterus. Terjadi atrofi payudara. Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur. Dorongan untuk melakukan seksual menteap sampai usia diatas 70 tahun (asal kondisi masih baik), yaitu dengan kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia. Pada wanita selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, dan reaksi sifatnya menjadi alkali.

b. Perubahan social

1) Peran : Post power syndrome, single women, dan single parent.

2) Keluarga (emptiness) : Kesendirian, kehampaan.

3) Teman : Ketika lansia lainnya meninggal, maka muncul perasaan kapan akan meninggal.brada di rumah terus-menerus akan cepat pikun (tidak berkembang).

4) Abuse : Kekerasan berbentuk verbal (dibentak) dan nonverbal (dicubit, tidak diberi makan).

5) Masalah hukum : Berkaitan dengan perlindungan asset dan kekayaan pribadi yang dikumpulkan sejak masih muda. 6) Pension : Kalau menjadi PNS aka nada tabungan (dana

pension). Kalau tidak, anak dan cucu yang akan memberi uang.

7) Ekonomi : Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok bagi lansia.

8) Rekreasi : Untuk ketenangan batin. 9) Keamaaan : Jatuh, terpeleset.

(20)

10) Transportasi : Kebutuhan akan system transportasi yang cocok bagi lamsia

11)Politik : Kesempatan yang sama untuk terlibat dan memberikan, masukan dalam system politik yang berlaku. 12)Pendidikan : Berkaitan dengan pengentasan buta aksara dan

kesempatan untuk tetap belajar sesuai dengan hak asasi manusia.

13)Agama : Melaksanakan ibadah.

14) Panti Jompo : Merasa dibuang/diasingkan.

c. Perubahan Psikologis

Dalam psikologi perkembangan, lanisa dan prubahan yang dialaminya akibat proses penuaan digambarkan oleh hal-hal berikut :

1) Masalah-masalah umum yang sering dialami oleh lansia a) Keadaan fisik lemah dan tak berdaya, sehingga harus

bergantung pada orang lain.

b) Status ekonominya sangat terancam, sehingga cukup untuk beralasan untu melakukan berbagai perubahan besar dalam pola hidupnya.

c) Menentukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan status ekonomi dan kondisi fisik.

d) Mencari teman baru untuk menggantikan suami atau istri yang telah yang telah meninggal atau pergi jauh/ cacat.

e) Mengembangkan kegiatan baru untuk mengisi waktu luang yang semakin bertambah.

f) Belajar untuk memperlakukan anak yang sudah besar sebagai orang dewasa.

g) Mulai terlibat dalam kegiatan masyarakat yang secara khusus direncanakan untuk orang dewasa

(21)

h) Mulai merasakan kebahagiaan dari kegiatan yang sesuai untuk lansia dan memiliki kemauan untuk mengganti kegiatan lama yang berat dengan yang lebih cocok. i) Menjadi sasaran atau dimanfaatkan oleh para penjual

obat, buaya darat, dan kriminalitas karena mereka tidak sanggup lagi untuk mempertahankan diri.

2) Perubahan umum fungsi panca indra pada lansia

a) Sistem penglihatan : lensa kehilangan elastisitas dan kaku, otot penyangga lensa lemah, ketajaman penglihatan dan daya akomodasi dari jarak jauh atau dekat berkurang, penggunaab kacamata dan penerangan yang baik dapat digunakan.

b) Sistem pendengaran : orang usia lanjut kehilangan kemampuan mendengar pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia di atas 60 tahun.

c) Sistem perasa : perubahan penting dalam alat perasa pada usia lanjut adalah sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan tunas terasa yang terletak di lidah dan di permukaan bagian dalam pipi.

d) Sistem penciuman : daya penciuman menjadi kurang tajam sejalan dengan bertambahnya usia, sebagian karena pertumbuhan sel di dalam hidung berhenti dan sebagian lagi karena semakin lebatnya bulu di dalam hidung.

e) Sistem integument :pada lansia kulit mengalami atrofi, kendur, tidak elastis kering dan berkerut. Kulit akan kekurangan cairan sehingga menjadi tipis dan berbecak, maka indra peraba di kulit semakin peka.

(22)

3) Perubahan umum kemampuan motorik pada lansia

a) Kekuatan motorik : penurunan kekuatan yang paling nyata adalah pada kelenturan otot-otot tangan bagian depan dan otot-otot yang menopang tegaknya tubuh. b) Kecepatan motorik : penurunan kecepatan dalam

bergerak bagi lansia dapat dilihat dari tes terhadap tes terhadap waktu, reaksi, dan keterampilan dalam bergerak tampak sangat menurun setelah usia 60 tahunan.

c) Belajar keterampilan baru : bahkan pada waktu orang berusia lanjut percaya bahwa belajar keterampilan baru akan menguntungkan pribadi mereka, mereka lebih lambat dalam belajar dibandingkan orang yang lebih muda dan hasil akhirnya cenderung kurang memuaskan. d) Kekuatan motorik : lansia cenderung menjadi canggung

dan kaku. Hal ini menyebabkan sesuatu yang dibawa dan dipegangnya tertumpuh dan terjatuh.

4) Perubahan kognitif

a) Memory (Daya Ingat, Ingatan)

Pada lanjut usia, daya ingat (memory) mrupakan salah satu fungsi kognitif yang seringkali paling awal mengalami penurunan. Ingatan jangka panjang (Long term memory) kurang mengalami perubahan, sedangkan ingatan jangka pendek (short term memory) atau seketika 0-10 menit memburuk. Lansia akan kesulitan dalam mengungkapkan kembali cerita atau kejadian yang tidak begitu menarik perhatiannya dan informasi baru.

(23)

b) IQ (Intellegent Quocient)

Lansia tidak mengalami perubahan dengan informasi matematika (analitis, linier, sekuensial) dan perkataan verbal. Tetapipenampilan persepsi dan keterampilan psikomotor menurun. Terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan factor waktu.

c) Perubahan spiritual

-Agama dan kepercayaan lansia makin berintegrasi dalam kehidupan.

-Lanjut usia semakin dapat dilihat dalam berfikir dan bertindak sehari-hari.

-Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurun menurut Folwer (1978), universal, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berfikir dengan cara member contoh cara mencintai dan keadilan (Nugroho, 2008).

B. Konsep Dasar Masalah Kesehatan Demensia 1. Pengertian

Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tiada gangguan fungsi vegetatif/keadaan yang terjadi pada memori, pengetahuan umum, pikiran abstrak, penilaian, & interpretasi atas komunikasi tertulis & lisan bisa terganggu.

(Corwin, 2009).

Demensia ialah sindrom klinis yang meliputi hilangnya fungsi intelektual & memoriyang sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari. Demensia adalah mewujudkan ketika keadaan ketika seseorang mengalami menurunnya daya ingat dan daya pikir lain yang secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari (Nugroho, 2008).

(24)

Demensia merujuk pada sindrom klinis yang mempunyai gangguan memori selain kemampuan mental lain seperti berfikir abstrak, penilaian, kepribadian, bahasa dan praksis. Deficit yang terjadi harus cukup berat sehingga

mempengaruhi aktivitas kerja dan sosial secara bermakna (Sudoyo, 2010).

2. Klasifikasi Demensia

Demensia dibagi menjadi 3 tipe (Lumbantobing, 2008) a. Demensia kortikal dan sub-kortikal

1) Demensia korkikal

Yaitu demensia yang muncul dari kelainan yang terjadi pada korteks serebri substansia grisca yang berperan penting terhadap proses kognitif seperti daya ingat dan bahasa. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan demensia kortikal adalah Penyakit Alzheimer, Penyakit Vaskular, Sindroma Korsakoff, Penyakit Pick.

2) Demensia sub-kortikal

Yaitu demensia yang termasuk non-Alzheimer, muncul dari kelainan yang terjadi pada korteks serebri substansia alba. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan demensia sub-kortikal adalah penyakit Huntington, hipotiroid, Parkinson, kekurangan vitamin B1, B12, hiperkalsemia, hipoglikemia, AIDS, gagal hepar, ginjal, nafas, dan lain-lain.

b. Demensia reversible dan non-reversible 1) Demensia reversible

Yaitu demensia dengan factor penyebab yang dapat diobati. Yang termasuk factor penyebab yang dapat bersigat reversible adalah keadaan/penyakit yang muncul dari proses inflamasi atau dari proses keracunan, gangguan metabolik, dan nutrisi.

(25)

2) Demensia non-reversible

Yaitu demensia dengan faktor penyebab yang tidak dapat diobati dan bersifat kronik progresif.

3) Demensia pre-senilis dan senilis

a) Demensia pre-senilis merupakan terjadi pada golongan umur lebih muda yaitu umur 40-50 tahun dan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis yang mempengaruhi jaringan fungsi otak dan anoksia.

b) Demensia senilis

Merupakan demensia yang muncul setelah umur 65 tahun terjadi akibat perubahan dan denegerasi jaringan otak yang diikuti dengan

adanya gambaran deteriorasi mental.

c. Demensia Alzheimer

Adalah penyakit degeneratif otak progresif yang mengakibatkan sel otak menjadi mati dan menurunnya daya ingat kemampuan berfikir, dan perilaku perubahan. Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan dalam mebuat keputusan, dan juga penurunan proses berfikir. Ada sekitar 50-60% penderita yang mengalami demensia disebabkan karena penyakit Alzheimer. Gejala klasik dalam penyakit Demensia Alzheimer adalah kehilngan proses daya ingat yang terjadi secara bertahap termasuk : Kesulitan dalam menemukan atau menyebutkan kata yang tepat, tidak mampu mengenal objek, suasana hati dan kepribadian dapat berubah.

Adapun Stadium Demensia Alzheimer

1) Stadium Awal (stadium amnesia-berlangsung 2-4 tahun) a) Kesulitan dalam berbahasa

b) Mengalami kemunduran daya ingat secara bermakna c) Disoreintasi waktu dan tempat

(26)

d) Kesulitan membuat keputusan

e) Kehilangan minat dalam hobi dan aktivitas

2) Stadium menengah (stadium bingung-berlangsung 2-10 tahun)

Klien mengalami kesulitan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari gejala sebagai berikut :

a) Sangat mudah lupa, terutama untuk peristiwa yang baru dan nama orang

b) Tidak dapat menelola kehidupan sendiri tanpa timbul masalah

c) Sangat bergantung pada orang lain

d) Membutuhkan bantuan untuk kebersihan diri e) Terjadi perubahan perilaku

f) Adanya gangguan kepribadian g) Dapat menunjukan halusinasi

d. Demensia Vascular

Adalah demensia yang disebabkan oleh disfungsi otak yang diakibatkan oleh penyakit serebrovaskuler (stroke) sering identik dengan demensia multi-infrak, karena sebagian terbesar penyakit serebrovaskuler atau stroke. Penyebab kedua paling sering Demensia pada lansia, setelah penyakit Alzheimer, Stroke juga dapat mengakibatkan berbagai lesi diotak, infark dapat terjadi di kortikal atau subkortikal, dapat tunggal atau multipel, dapat kecil sedang atau besar. (Nugroho, 2008)

(27)

3. Pemeriksaan MMSE

Hasil skor pada MMSE dipengaruhi oleh variabel demografi. Skor cenderung rendah pada lansia dan tingkat pendidikan yang rendah (O‟Bryant, 2008). Namun, skor MMSE yang rendah ketika faktor usia dan tingkat pendidikan dikontrol memiliki interpretasi yang mengarah kepada demensia (Pradier, 2014).

MMSE menilai sejumlah domain kognitif yaitu orientasi waktu dan tempat, registrasi, atensi dan kalkulasi, recall, dan bahasa yang terdiri dari penamaan benda, pengulangan kata, pemahaman dan pelaksanaan perintah verbal dan tulisan, menulis, dan menyalin gambar. Setiap penilaian terdiri dari beberapa tes dan diberi skor untuk setiap jawaban yang benar (Kochhann, 2009).

Total skor pada MMSE jika semua jawaban benar adalah 30. Berdasarkan skor pada MMSE, status demensia pasien dapat digolongkan menjadi:

Normal : skor 25-30

Demensia ringan : skor 20-24 Demensia sedang : skor 13-19 Demensia berat: skor 0-12

Sehingga, demensia dapat ditunjukkan dengan skor MMSE 0-24 (Alzheimer‟s Association, 2007)

4. Etiologi a. Penuaan b. Faktor genetic c. Infeksi virus

d. Lingkungan yang terdapat radiasi e. Imunologi

(28)
(29)

6. Manifestasi Klinis

a. Meningkatknya kesulitan dalam melaksakan kegiatan sehari-hari. b. Mengabaikan kebersihan diri

c. Sering lupa akan kejadian-kejadian yang dialami, dalam keadaan yang makin berat, sehingga orang yang berada disekitarnya seperti keluarga dilupakan.

d. Pertanyaan atau kata-kata yang diulang.

e. Tidak dapat mengenal waktu, ruang atau tempat.

f. Sifat dan perilaku menjadi keras kepala dan cepat marah. g. Menjadi depresi dan menganis tanpa alasan yang jelas.

(Maryam, 2008)

7. Komplikasi Demensia, Demensia Alzheimer : Adalah penyakit degenerative otak yang progresif, yang mematikan sel otak sehingga mengakibatkan menurunnya daya ingat, kemampuan berfikir, dan perubahan perilaku. Demensia Alzheimer merupakan penyakit neurodegenerative progresif dengan gambaran klinis dan patologi yang khas, bervariasi dalam awitan, umur, berbagai gambaran gangguan kognitif, dn kecepatan perburukkannya. Demensia vascular ialah sindrom demensia yang disebabkan oleh disfungsi otak yang diakibatkan oleh penyakit serebrovaskuler (stroke). Ini merupakan penyebab kedua paling sering daripada demensia pada lansia, setelah penyakit alzhaimer. Demensi vascular sering diidentikan dengan demensia multi-infark, karena pada sebagian terbesar penyakit serebroveaskuler yang mengakibatkan demensia terdapat lesi infark yang multiple (Nugroho, 2008).

(30)

8. Penatalaksanaan

Terapi farmakologi untuk pasien Demensia :

a. Anti-oksidan : vitamin E yang terdapat dalam sayuran, kuning telur, margarin, kacang-kacangan, minyak sayur, biasa menurunkan resiko demenisa alzheimer. Vitamin c dapat mengurani radikal bebas (mis. Sayuran, stroberi, melon, tomat, brokoli).

Terapi non-farmakologi meliputi :

a. Penyampaian informasi yang benar kepada keluarga. b. Program harian untuk pasien.

c. Istirahat yang cukup.

d. Reality orientation training (ROT) atau orientasi realitas. e. Validasi/rehabilitasi/reminiscence.

f. Terapi music. g. Terapi rekreasi.

(Nugroho, 2008).

9. Data Penunjang

a. CT Scan atau MRI

Merupakan suatu loncatan dalam kemajuan menegakkan diagnosis etiologi Demensia. Neoplasma, besar dan kecil, tunggal atau multiple, primer atau metastik dengan mudah dapat dideteksi dengan CT-Scan atau MRI. Demikian juga halnya dengan hematoma subdural, hidrosefalus. Infark diotak, tunggal atau multiple, letaknya kortikal atau subkortikal, dengan mudah dapat diketahu, dan dapat membantu menegakkan diagnosis Demensia vaskuler.

(31)

b. EEG

Bila gambaran EEG-nya teratur dan normal, maka kemungkinan gangguan kortikal lebih sedikit. Juga alat ini dapat membantu menunjukan kelainan fokal, kelainan paroksismal. Pada ginjal dengan kadar ureum tinggi yang menyebabkan fungsi luhur terganggu, umumnya didapatkan gangguan EEG berupa perlambatan.

C. Konsep Dasar Kebutuhan menurut Abraham Maslow

Teori hierarki kebutuhan dasar manusia yang dikemukakan Abraham Maslow dalam Potter dan Perry, dapat dikemukakan untuk menjelaskan kebutuhan dasar manusia sebagai berikut :

1) Kebutuhan fisiologi, merupakan kebutuhan paling dasar, yaitu kebutuhan fisiologis seperti oksigen, cairan (minuman), nutrisi (makanan), keseimbangan suhu tubuh, eliminasi, tempat tinggal, istirahat dan tidur, serta kebutuhan seksual, stimulus / rangsangan. 2) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan dibagi menjadi perlindungan

fisik dan perlindungan psikologis.

a) Perlindungan fisik, meliputi perlindungan atas ancaman terhadap tubuh atau hidup. Ancaman tersebut dapat berupa penyakit, kecelakaan, bahaya dari lingkungan, dan sebagainya. b) Perlindungan psikologis, yaitu perlindungan atas ancaman dari

(32)

yang dialami seseorang ketika masuk sekolah pertama kali karena merasa terancam oleh keharusan untuk berinteraksi dengan orang lain, dan sebagainya.

3) Kebutuhan rasa cinta serta rasa memiliki dan di miliki, antara lain memberi dan menerima kasih sayang, mendapatkan kehangatan keluarga, memiliki sahabat, diterima oleh kelompok sosial, dan sebagainya.

4) Kebutuhan akan harga diri ataupun perasaan dihargai oleh orang lain. Kebutuhan ini terkait dengan keinginan untuk mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa percaya diri, dan kemerdekaan diri. Selain itu, orang juga memerlukan pengakuan dari orang lain.

5) Kebutuhan aktualisasi diri, merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain/ lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya.

Masalah kebutuhan yang muncul pada kasus demensia yang mencakup pada kebutuhan dasar menurut maslow adalah sebagai berikut :

1. Kebutuhan stimulus / rangsangan :

Kebutuhan ini berasal dari fikiran atau dorongan seseorang untuk melakukan kegiatan kearah tujuan. Stimulus dapat dihubungkan dg emosi & proses pikir yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan suatu kegiatan / aktivitas.

2. Kebutuhan Nutrisi

Nutrisi adalah sejenis zat kimia organik atau anorganik yang terdapat dalam makanan dan dibutuhkan oleh tubuh untuk menjalankan fungsinya. (Fitri Respirati, 2014)

Nutrisi mempunyai tiga fungsi utama, yaitu :

a. Menyediakan energi untuk proses dan pergerakan tubuh.

b. Menyediakan “struktur material” intuk jaringan tubuh seperti tulang dan otot

(33)

Energi yang dihasilkan oleh nutrisi atau makanan disebut sebagai Kalori. Kalori digunakan sebagai pembakaran.

a. Jumlah kalori yang dihasilkan nutrisi : 1 gr karbohidrat dan protein : 4 kkal

1 gr lemak : 9 kkal

b. Rata-rata pemasukan energi : 45% energi dari karbohidrat 40% energi dari lemak 15 % energi dari protein

Macam-macam nutrisi :

a. Air : untuk membantu proses atau reaksi kimia dalam tubuh serta berperan mengontrol temperatur tubuh.

b. Karbohidrat : sebagai sumber energi tubuh

c. Protein : penting untuk pertumbuhan dan penggantian jaringan, juga dimanfaatkan sebagai sumber energi

d. Lemak : sebagai sumber energi

e. Vitamin : mengatur proses-proses dalam tubuh sesuai dengan jenis vitamin.

f. Mineral : mengatur proses-proses dalam tubuh, sebagian digunakan juga untuk pertumbuhan, dan penggantian jaringan.

(Fitri Respirati, 2014)

Masalah kebutuhan nutrisi

Secara umum, gangguan kebutuhan nutrisi terdiri atas kekurangan dan kelebihan nutrisi, obesitas, malnutrisi, diabetes mellitus, hipertensi, jantung koroner, kanker, dam anoreksia nervosa.

a. Kekurangan nutrisi

Kekurangan nutrisi merupakan keadaan yang dialami seseorang dalam keadaan tidak berpuasa (normal) atau resiko penurunan berat badan akibat ketidakcukupan asupan nutrisi untuk kebutuhan metabolisme.

(34)

Tanda klinis :

1) Berat badan 10 – 20% dibawah normal 2) Tinggi badan dibawah ideal

3) Lingkar kulit trisep lengan tengah kurang dari 60% ukuran standar

4) Adanya penurunan albumin serum 5) Adanya penurunan transferin

Kemungkinan penyebab :

1) Meningkatnya kebutuhan kalori dan kesulitan dalam mencerna kalori akibat penyakit infeksi atau kanker

2) Disfagia karena adanya kelainan persarafan

3) Penurunan absorpsi nutrisi akibat penyakit crohn atau intoleransi laktosa

4) Nafsu makan menurun

b. Kelebihan nutrisi

Kelebihan nutrisi merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang yang mempunyai resiko peningkatan berat badan akibat asupan kebutuhan metabolisme secara berlebih.

Tanda klinis :

1) Berat badan lebih dari 10% berat ideal 2) Obesitas (> 20% berat ideal)

3) Lipatan kulit trisep lebih dari 15 mm pada pria dan 25 mm pada wanita

4) Adanya jumlah asupan yang berlebihan 5) Aktivitas menurun atau menonton Kemungkinan penyebab :

1) Perubahan pola makan

(35)

c. Obesitas

Obesitas merupakan masalah peningkatan berat badan yang mencapai > 20% berat badan normal. Status nutrisinya adalah melebihi kebutuhan metabolisme karena kelebihan asupan kalori dan penurunan dalam penggunaan kalori.

d. Malnutrisi

Malnutrisi merupakan masalah yang berhubungan dengan kekurangan zat gizi pada tingkat seluler atau dapat dikatakan sebagai masalah asupan zat gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh. Gejala umumnya adalah berat badan rendah dengan asupan makanan yang cukup atau asupan kurang dari kebutuhan tubuh, adanya kelemahan otot dan penurunan energi, pucat pada kulit, membran mukosa, konjungtiva, dan lain-lain.

3. Kebutuhan Istirahat dan Tidur (Fitri Respati, 2014)

Istirahat dan tidur adalah kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi oleh semua orang. Dengan istirahat yang cukup, tubuh baru berfungsi secara optimal.

Secara umum istirahat berarti suatu keadaan yang tenang, relaks tanpa tekanan emosional dan bebas dari perasaan gelisah. Jadi beristirahatbukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali. Terkadang, berjalan-jalan ditaman juga bias dikatakan sebagai suatu bentuk istirahat.Sedangkan tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun. Tidur dikarakteristikkan dengan aktivitas fisik yang minimal, tingkat kesadaran yang bervariasi, perubahan proses fisiologis tubuh, dan penurunan respons terhadap stimulus eksternal.

(36)

Fisiologi Tidur Tahapan Tidur :

1. Tidur NREM. Tidur NREM disebut juga sebagai tidur gelombang-pendek karena yang ditunjukan oleh orang yang tidur lebih pendek daripada gelombang alfa dan beta yang ditunjukkan orang yang sadar.

Tahap-tahap Tidur NREM : a. Tahap I-II disebut tidur ringan b. Tahap III-IV disebut tidur dalam

2. Tidur REM. Tidur REM biasanya terjadi setiap 90 menit dan berlangsung selama 5-30 menit. Tidur REM tidak senyenyak tidur NREM, dan sebagian besar mimpi terjadi pada tahap ini. Selama tidur REM, otak cenderung aktif dan metabolismenya meningkat 20%. Pada tahap ini individu menjadi suit untuk dibangunkan atau justru dapat bangun dengan tiba-tiba, tonus otot terdepresi, sekresi lambung meningkat, dan frekuensi jantung dan pernapasan sering kali tidak teratur.

3. Kebutuhan tidur pada lansia

Dewasa tua : ± 6 jam/hari dengan 20-25% REM dan sering sulit tidur

Lanjut usia (65 tahun ke atas): Kategori baru. Durasi tidur 7-8 jam per hari.

Faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur

1. Penyakit, dapat menyebabkan nyeri atau distress fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur.

2. Lingkungan, tidak adanya stimulus tertentu atau adanya stimulus yang asing dapat menhembat upaya tidur.

3. Kelelahan, kondisi tubuh yang lelah dapat memengaruhi pola tidur seseorang. Semakin lelah seseorang, semakin pendek siklus tidur REM yang dilaluinya. Setelah beristirahat, semakin pendek siklus REM akan kembali memanjang.

(37)

4. Gaya hidup, individu yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bias tidur di waktu yang tepat.

5. Stress emosional, kondisi ansietas dapat meningkatkan kadar neropinefrin darah melalui stimulasi sitem saraf simpatis. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya siklus tidur NREM tahap IV dari tidur REM serta seringnya terjaga saat tidur.

6. Stimulus dan alcohol, kafein yang terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang ssp sehingga dapat menggangu pola tidur. Sedangkan konsumsi alcohol yang berlebihan dapat menggangu siklus tidur REM. Ketika pengaruh alcohol telah hilang, individu sering kali mengalami mimpi buruk.

7. Diet, penurunan berat badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan seringnya terjaga di malam hari.

Gangguan tidur umumnya terjadi 1. Insomnia

Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik secara kualitas maupun kuantitas. Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada individu dewasa. Penyebabnya bias karena gangguan fisik karena faktor mental seperti perasaan gundah atau gelisah.

2.Parasomnia

Perilaku yang dapat mengganggu tidur atau muncul saat seseorang tidur. Gangguan ini umumnya terjadi pada anak-anak. Beberapa turunan parasomnia antara lain sering terjaga (mis. Tidur berjalan, night terror), gangguan transisi bangun-tidur (mis. Mengingau), dan lainnya (mis. Bruksime).

3.Hypersomnia

Tidur yang berlebihan terutama pada siang hari. Kondisi ini disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti kerusakan system saraf, gangguan pada hati atau ginjal, atau karena gangguan metabolisme (mis. Hipertiroidisme). Pada kondisi

(38)

tertentu, hypersomnia dapat digunakan sebagai mekanisme koping untuk menghindari tanggung jawab pada siang hari.

4.Narkolepsi

Gelombang kantuk yang tak tertahankan yang muncul secara tiba-tiba pada siang hari. Gangguan ini disebut juga sebagai :serangan tidur” atau sleep attack. Penyebab pastinya belum diketahui.

5.Apsnea saat tidur

Kondisi terhentinya napas secara periodic pada saat tidur. Kondisi ini diduga terjadi pada orang yang mengorok dengan keras, sering terjaga di malam hari, insomnia, mengantuk berlebihan di siang hari, sakit kepala di pagi hari, iritabilitas, atau mengalami perubahan psikologis seperti hipertensi atau aritmia jantung.

4. Kebutuahan Perawatan Diri

Menurut Poter. Perry, Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan phisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya.

a. Jenis-jenis perawatan diri

1) Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan

Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.

2) Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias. Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.

(39)

Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan.

4) Kurang perawatan diri : Toileting

Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri

(Mubarak, 2008).

D. PROSES KEPERAWATAN LANSIA 1. Konsep Proses Keperawatan Demensia

a. Pengkajian Keperawatan

Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat professional harus menggunakan proses keperawatan. Proses keperawatan ini adalah proses pemecahan masalah yang mengarah perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Pengkajian langkah pertama pada proses keperawatan, meliputi pengumpulan data, analisis data dan menghasilkan diagnosis keperawatan. Tujuan pengkajian :

1) Menentukan kemampuan klien untuk memelihara diri sendiri 2) Melengkapi dasar rencana perawatan individu

3) Membantu menghindarkan bentuk dan penandaan klien 4) Memberi waktu kepada klien untuk menjawab

Pengkajian meliputi aspek : 1. Fisik

a. Wawancara :

1) Pandangan lanjut usia tentang kesehatannya 2) Kegiatan yang mampu dilakukan lanjut usia 3) Kebiasaan lanjut usia merawat diri sendiri 4) Kekuatan fisik lanjut usia : otot, sendi,

(40)

5) Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, buang air besar/kecil

6) Kebiasaan gerak badan/olahraga/senam lanjut usia

7) Perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan

8) Kebiasaan lanjut usia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan dalam minum obat 9) Masalah seksual yang dirasakan

b. Pemeriksaan fisik

1) Pemeriksaan dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi untuk mengetahui perubahan fungsi system tubuh 2) Pendekatan yang digunakan dalam pemeriksaan

fisik adalah head to toe (dari ujung kepala sampai ke ujung kaki) dan system tubuh

2. Psikologis

a. Apakah mengenal masalah utamanya

b. Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaannya c. Apakah dirinya merasa dibutuhkan atau tidak d. Apakah memandang kehidupan dengan optimis e. Bagaimana mengatasi stress yang dialami f. Apakah mudah dalam menyesuaikan diri

g. Apakah lanjut usia sering mengalami kegagalan h. Apakah harapan pada saat ini dan akan datang i. Perlu dikaji juga mengenai fungsi kognitif, daya

ingat, proses pikir, alam perasaan, orientasi, dan kemampuan dalam penyelesaian masalah.

(41)

3. Social-ekonomi

a. Sumber keuangan lanjut usia

b. Apa saja kesibukan lanjut usia dalam mengisi waktu luang

c. Dengan siapa ia tinggal

d. Kegiatan organisasi apa yang diikuti lanjut usia e. Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap

lingkungannya

f. Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain diluar rumah

g. Siapa saja yang biasa mengunjungi h. Seberapa besar ketergantungannya

i. Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginannya dengan fasilitas yang ada.

4. Spiritual

a. Apakah secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya

b. Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan

c. Bagaimana cara lanjut usia menyelesaikan masalah apakah dengan berdoa

d. Apakah lanjut usia terlihat sabar dan tawakkal

Pengkajian dasar

Perawat harus ingat, akibat adanya perubahan fungsi yang sangat mendasar pada psoses menua yang meliputi seluruh organ tubuh,

dalam melakukan pengkajian, perawat memerlukan

pertimbangan khusus. Pengkajian harus dilakukan terhadap fungsi semua system, status gizi, dan aspek psikososialnya.

1. Temperature/suhu tubuh

(42)

b. Lebih teliti diperiksa di sublingual 2. Denyut nadi

a. Kecepatan, irama, volume b. Apical, radial, pedal 3. Respirasi (pernapasan)

a. Kecepatan, irama, dan kedalaman b. Pernapasan tidak teratur

4. Tekanan darah

a. Saat berbaring, duduk, berdiri b. Hipotensi akibat posisi tubuh

5. Berat badan perlahan hilang pada beberapa tahun terakhir 6. Tingkat orientasi

7. Memori (ingatan) 8. Pola tidur

9. Penyesuaian psikososial

System persarafan

1. Kesimetrisan raut wajah

2. Tingkat kesadaran, adanya perubahan dari otak a. Tidak semua orang menjadi senil

b. Kebanyakan mempunyai daya ingatan menurun atau melemah

3. Mata : pergerakan, kejelasan melihat, adanya katarak 4. Pupil : kesamaan, dilatasi

5. Ketajaman penglihatan menurun karena menua : a. Jangan diuji didepan jendela

b. Gunakan tangan atau gambar c. Cek kondisi kacamata

6. Gangguan sensori 7. Ketajaman pendengaran

a. Apakah menggunakan alat bantu dengar b. Tinnitus

(43)

c. Serumen telinga bagian luar, jangan dibersihkan 8. Adanya rasa sakit atau nyeri

System Kardiovaskuler

1. Sirkulasi perifer, warna, dan kehangatan 2. Auskultasi denyut nadi apical

3. Periksa adanya pembengkakan vena jugularis 4. Pusing 5. Sakit/nyeri 6. Edema System Gastrointestinal 1. Status gizi 2. Asupan diet

3. Anoreksia, tidak dapat mencerna, mual, muntah 4. Mengunyah, menelan

5. Keadaan gigi, rahang, dan rongga mulut 6. Auskultasi bising usus

7. Palpasi, apakah perut kembung, ada pelebaran kolon 8. Apakah ada konstipasi (sambelit), diare, inkontinensia alvi

System Genitourinaria 1. Urine (warna dan bau)

2. Ditensi kandung kemih, inkontinensia (tidak dapat menahan untuk buang air)

3. Frekuensi, tekanan, atau desakan 4. Pemasukan dan pengeluaran cairan 5. Dysuria

6. Seksualitas

a. Kurang minat melakukan hubungan seks b. Adanya disfungsi seksual

(44)

d. Dorongan/daya seks menurun

e. Hilangnya kekuatan dan gairah seksualitas

f. Adanya kecacatan social yang mengarah ke aktivitas seksual

Sistem Kulit 1. Kulit

a. Temperature, tingkat kelembapan b. Keutuhan kulit: luka terbuka, robekan c. Turgor (kekenyalan kulit)

d. Perubahan pigmen 2. Adanya jaringan parut 3. Keadaan kuku

4. Keadaan rambut

5. Adanya gangguan umum

Sistem Muskuloskeletal 1. Kontraktur

a. Atrofi otot b. Tendon mengecil

c. Ketidakadekuatan gerakan sendi 2. Tingkat mobilisasi

a. Ambulansi dengan atau tanpa bantuan peralatan b. Keterbatasan gerak

c. Kekuatan otot

d. Kemampuan melangkah atau berjalan 3. Gerakan sendi

4. Paralisis 5. Kifosis

(45)

Psikososial

1. Menunjukan tanda meningkatnya ketergantungan 2. Focus pada diri bertambah

3. Memperlihatkan semakin sempitnya perhatian

4. Membutuhkan bukti nyata rasa kasih saying yang berlebihan.(Nugroho, 2008)

Penatalaksanaan

Terapi farmakologi untuk pasien Demensia :

1. Anti-oksidan : vitamin E yang terdapat dalam sayuran, kuning telur, margarin, kacang-kacangan, minyak sayur, bias menurunkan resiko demenisa alzheimer. Vitamin c dapat mengurani radikal bebas (mis. Sayuran, stroberi, melon, tomat, brokoli).

Terapi non-farmakologi meliputi :

1. Penyampaian informasi yang benar kepada keluarga. 2. Program harian untuk pasien.

3. Istirahat yang cukup.

4. Reality orientation training (ROT) atau orientasi realitas. 5. Validasi/rehabilitasi/reminiscence.

6. Terapi music. 7. Terapi rekreasi.

(46)

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Sindrom stres relokasi berhubungan dengan : 1) Perasaan tidak berdaya.

2) Gangguan status kesehatan psikososial.

3) Tidak ada persiapan untuk masuk ke rumah sakit. 4) Perubahan dalam aktivitas kehidupan sehari – hari. 5) Menurunnya status kesehatan fisik, gangguan sensori. 6) Kurangnya system dukungan yang adekuat.

b. Resiko terhadap trauma/cedera berhubungan dengan : 1) Kurangnya pendidikan tentang keamanan. 2) Riwayat trauma terdahulu.

3) Kurangnya penglihatan.

4) Ketidakmampuan mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan.

5) Disorientasi, bingung, gangguan dalam pengambilan keputusan.

6) Kesulitan keseimbangan, kelemahan, otot tidak terkoordinasi, aktivitas kejang.

c. Perbahan proses pikir berhubungan dengan :

1) Perubahan fisiologis (degenarasi neuron ireversibel). 2) Kehilangan memori/ingatan.

3) Konflik psikologis. 4) Gangguan penilaian.

d. Perubahan persepsi-sensorik berhubungan dengan :

1) Pembatasan lingkungan secara terapeutik (isolasi, perawatan intensif, tirah baring).

2) Pembatasan lingkungan social (institusional, panti jompo), stigma (gangguan jiwa, keterbelakangan mental).

3) Perubahan persepsi, transmisi dan/atau integrasi sensori (penyakit neurologis, tidak berkomunikasi, gangguan tidur, nyeri).

(47)

4) Stress psikologis (penyempitan pandangan perseptual disebabkan kecemasan).

5) Gangguan kimiawi (endogen, eksogen).

e. Perubahan pola tidur berhubungan dengan : 1) Perubahan lingkungan.

2) Perubahan sensori.

3) Tekanan psikologis, kerusakan neurologis. 4) Perubahan pola aktivitas.

f. Kurang perawatan diri berhubungan dengan :

1) Gangguan kemampuan untuk pindah atau mobilitas. 2) Intoleransi aktivitas, menurunnya daya tahan dan

kekuatan.

3) Penurunan kognitif, keterbatasan fisik.

4) Frustasi atas kehilangan kemandiriannya, depresi.

g. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan :

1) Perubahan sensori.

2) Kerusakan penilaian dan koordinasi 3) Agitasi.

4) Mudah lupa, kemunduran hobi.

h. Perubahan pola eliminasi urinarius atau

konstipasi/inkontinensia berhubungan dengan : 1) Disorientasi.

2) Kehilangan fungsi neurologis/tonus otot.

3) Ketidakmampuan untuk menentukan letak kamar mandi/mengenali kebutuhan.

(48)

i. Ketidakefektifan koping keluarga : menurun atau tidak mampu berhubungan dengan :

1) Tingkah laku klien yang tidak menentu (terganggu). 2) Keluarga berduka karena ketidakberdayaan menjaga orang

yang dicintai.

3) Perkembangan penyakit.

4) Hubungan keluarga sangat ambivalen.(Kushariyadi, 2010).

(49)

3. PERENCANAAN KEPERAWATAN

No. Diagnose Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional

1. Sindrom stres relokasi

berhubungan dengan :

a. Perasaan tidak berdaya.

b. Gangguan status kesehatan psikososial.

c. Tidak ada persiapan untuk masuk ke rumah sakit.

d. Perubahan dalam aktivitas kehidupan sehari – hari.

e. Menurunnya status

kesehatan fisik, gangguan

a. Mengidentifikasi perubahan lingkungan dan aktivitas kehidupan sehari – hari. b. Mempertahankan rasa berharga pada diri dan identifitas pribadi yang positif

c. Membuat pernyataan

positif tentang

lingkungan yang baru.

1. Jalin hubungan saling mendukung dengan klien.

2. Orientasi pada lingkungan dan rutinitas baru.

3. Kaji tingkat stressor (seperti penyesuaian diri, krisis

perkembangan, peran

keluarga, akibat perubahan status kesehatan).

4. Tempatkan pada ruangan pribadi jika mungkin dan

1. Untuk membangun

kepercayaan dan rasa aman.

2. Menurunkan kecemasan dan perasaan terganggu. 3. Untuk menentukan persepsi

klien tentang kejadian dan tingkat serangan.

4. Perawatan dirumah sakit mengubah aktivitas klien

(50)

sensori.

f. Kurangnya system

dukungan yang adekuat.

Ditandai dengan : a. Kebingungan,

keprihatinan, gelisah, tampak cemas, mudah tersinggung, tingkah laku defensive, kekacauan mental, tingkah laku curiga, dan tingkah laku agresif.

b. Depresi, keyakinan diri yang menurun, menarik diri, dan ketergantungan. c. Tampak tanda stimulasi

saraf simpatis, gangguan gastrointestinal, dan d. Memperlihatkan penerimaan terhadap perubahan lingkungan dan penyesuaian kehidupan. e. Mampu menunjukan

rentang perasaan yang sesuai/tidak cemas dan rasa takut berkurang.

f. Tidak menyimpan

pengalaman menyakitkan.

g. Menggunakan bantuan dari sumber yang tepat

selama waktu

pengaturan pada

bergabung dengan orang terdekat dalam aktivitas perawatan, waktu makan, dan sebagainya.

5. Tentukan jadwal aktivitas yang wajar dan masukkan dalam kegiatan rutin.

6. Identifikasi kekuatan klien yang dimiliki sebelumnya.

7. Berikan penjelasan dan

informasi yang

menyenangkan mengenai kegiatan/peristiwa.

dan meningkatkan masalah tingkah laku. Memberi kesempatan menngontrol lingkungan dan melindungi dari kelainan tingkah laku. 5. Konsistensi mengurangi

kebingungan dan

meningkatkan rasa

kebersamaan.

6. Memfasilitasi bantuan dengan komunikasi dan

manajemen dari

kekurangan sekarang serta selanjutnya.

7. Menurunkan ketegangan,

mempertahankan rasa

saling percaya dan

orientasi. Saat klien mengetahui secara perlahan

(51)

perubahan kebiasaan makan.

d. Gangguan tidur

lingkungan baru. 8. Catat tingkah laku,

munculnya perasaan

curiga/paranoid, mudah tersinggung, defensive.

9. Pertahankan keadaan

tenang. Tempatkan dalam lingkungan tenang yang memberikan kesempatan untuk “beristirahat”.

10.Atasi tingkah laku agresi dengan pendekatan yang tenang.

11.Gunakan sentuhan jika tidak mengalami paranoid/sedang mengalami sgitasi sesaat.

12. Rujuk ke sumber

pendukung perawatan diri.

tentang apa yang terjadi,

koping klien akan

meningkat.

8. Stress meningkat, rasa tidak nyaman/nyeri fisik dan kelelahan mencetuskan penurunan tingkah laku dan

gangguan komunikasi.

Perilaku katastopik ini menimbulkan panic dan rasa bermusuhan.

9. Menenangkan situasi dan memberi klien waktu untuk

memperoleh kendali

terhadap perilaku dan emosinya.

10.Rasa diterima menurunkan rasa takut, dan respons agresif.

(52)

11.Memberikan keyakinan, menurunkan stress, dan meningkatkan kualitas hidup.

12.Meningkatkan perasaan,

dukungan selama

(53)

2. Resiko terhadap trauma/cedera berhubungan dengan : a) Kurangnya pendidikan tentang keamanan. b) Riwayat trauma terdahulu. c) Kurangnya penglihatan. d) Ketidakmampuan mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan. e) Disorientasi, bingung, gangguan

Tujuan : Cedera terkontrol Kriteria Hasil :

a. Meningkatkan tingkat aktivitas.

b. Dapat beradaptasi

dengan lingkungan

untuk mengurangi risiko trauma/cedera. c. Tidak mengalami trauma/cedera. d. Keluarga mengenali potensial dilingkungan dan mengidentifikasi tahap – tahap untuk

1) Kaji derajat gangguan

kemampuan, tingkah laku impulsive dan penurunan persepsi visual. Bantu keluarga

mengidentifikasi risiko

terjadinya bahaya yang

mungkin timbul.

2) Hilangkan sumber bahaya

lingkungan.

3) Alihkan perhatian saat perilaku teragitasi/berbahaya, seperti memanjat pagar tempat tidur.

1. Mengidentifikasi risiko

dilingkungan dan

mempertinggi kesadaran perawat akan bahaya. Klien

dengan tingkah laku

impulsive berisiko trauma

karena kurang mampu

mengendalikan perilaku. Penurunan persepsi visual berisiko jatuh.

2. Klien dengan gangguan kognitif, gangguan persepsi adalah awal terjadi trauma akibat tidak bertanggung jawab terhadap kebutuhan keamanan dasar.

(54)

dalam pengambilan keputusan. f) Kesulitan keseimbangan, kelemahan, otot tidak terkoordinasi, aktivitas kejang.

memperbaikinya. 4) Gunakan pakaian sesuai

lingkungan fisik/kebutuhan klien.

5) Kaji efek samping obat, tanda

keracunan (tanda

ekstrapiramidal, hipotensi

ortostatik, gangguan

penglihatan, gangguan

gastrointestinal).

6) Hindari penggunaan restrain

terus menerus. Berikan

kesempatan keluarga tinggal bersama klien selama periode agitasi akut.

3. Mempertahankan

keamanan dengan

menhindari konfrontasi yang meningkatkan risiko terjadi trauma.

4. Perlambatan proses

metabolisme

mengakibatkan hipotermia. Hipotalamus dipengaruhi proses penyakit yang

menyebabkan rasa

kedinginan.

5. Klien yang tidak dapat melaporkan tanda/gejala obat dapat menimbulkan kadar toksisitas pada

lansia. Ukuran

dosis/pengganti obat

(55)

mengurangi gangguan.

6. Membahayakn klien,

meningkatkan agitasi dan timbul risiko fraktur pada klien lansia (berhubungan dengan penurunan kalsium tulang).

(56)

3. Perubahan proses pikir berhubungan dengan : a) Perubahan fisiologis (degenarasi neuron ireversibel). b) Kehilangan memori/ingatan. c) Konflik psikologis. d) Gangguan penilaian. Ditandai dengan : a. Hilang konsentrasi (distrakbilitas) b. Hilang ingatan/memori. c. Tidak mampu membuat keputusan, menghitung,

Tujuan : Agar mampu proses pikir meningkatkan interaksi dengan orang lain. Kriteria hasil : a. Mampu memperlihatkan kemampuan kognitif untuk menjalani konsekuensi kejadian yang menegangkan

terhadap emosi dan pikiran tentang diri. b. Mampu mengembangkan

strategi untuk mengatasi anggapan diri yang negative.

c. Mampu mengenali

perubahan dalam berpikir

1) Kembangkan lingkungan yang mendukung dan hubungan klien perawat yang terapeutik.

2) Kaji derajat gangguan kognitif, seperti perubahan orientasi, rentang perhatian kemampuan berpikir. Bicarakan dengan keluarga mengenai perubahan perilaku

3) Pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang.

1. Mengurangi kecemasan dan

emosional, seperti

kemarahan, meningkatkan pengembangan evaluasi diri yang positif dan mengurangi konflik psikologis.

2. Memberikan dasar

perbandingan yang akan dating dan memengaruhi rencana intervensi. Catatan : evaluasi orientasi secara

berulang dapat

meningkatkan respons yang negative/tingkat frustasi.

3. Kebisingan merupakan

sensori berlebihan yang

meningkatan gangguan

Referensi

Dokumen terkait