LAPORAN PENDAHULUAN LAPORAN PENDAHULUAN
HALUSINASI HALUSINASI
A.
A. Masalah UtamaMasalah Utama
Perubahan proses sensori: Halusinasi Perubahan proses sensori: Halusinasi B.
B. Proses Terjadinya MasalahProses Terjadinya Masalah 1.
1. PengertianPengertian
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana pasien mengalami Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana pasien mengalami perubahan
perubahan sensori sensori persepsi, persepsi, merasakan merasakan sensasi sensasi palsu palsu berupa berupa suara, suara, penglihatan,penglihatan, pengecapan,
pengecapan, perabaan perabaan atau atau penghiduan. penghiduan. Klien Klien merasakan merasakan stimulus stimulus yang yang sebetulnyasebetulnya tidak ada (Mukhripah Damaiyanti, 2008: 87).
tidak ada (Mukhripah Damaiyanti, 2008: 87).
Menurut Varcarolis, halusinasi adalah terganggunya persepsi sensori Menurut Varcarolis, halusinasi adalah terganggunya persepsi sensori seseorang, dimana tidak terdapat stimulus (Iyus Yosep, 2009: 217)
seseorang, dimana tidak terdapat stimulus (Iyus Yosep, 2009: 217)
Halusinasi adalah persepsi sensori tentang suatu objek, gambaran, dan Halusinasi adalah persepsi sensori tentang suatu objek, gambaran, dan pikiran
pikiran yang yang sering sering terjadi terjadi meliputi meliputi semua semua sistem sistem penginderaan penginderaan (pendengaran,(pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan atau peng
penglihatan, penciuman, perabaan atau pengecapan) (Nita Fitria, 2011: 29).ecapan) (Nita Fitria, 2011: 29). 2.
2. EtiologiEtiologi a.
a. Faktor PredisposisiFaktor Predisposisi 1)
1) Faktor PerkembanganFaktor Perkembangan
Tugas perkembangan klien terganggu misalnya rendahnya control dan Tugas perkembangan klien terganggu misalnya rendahnya control dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stress.
mudah frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stress. 2)
Seseorang yang merasa tidak diterima di lingkungannya sejak bayi (
Seseorang yang merasa tidak diterima di lingkungannya sejak bayi (unwantedunwanted child
child ) akan merasa disingkirkan, kesepian dan tidak percaya pada) akan merasa disingkirkan, kesepian dan tidak percaya pada lingkungannya.
lingkungannya. 3)
3) Faktor BiokimiaFaktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress yang Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress yang berlebihan
berlebihan maka maka di di dalam dalam tubuhnya tubuhnya akan akan dihasilkan dihasilkan suatu suatu zat zat yang yang dapatdapat bersifat
bersifat halusinogenik halusinogenik neurokimiaseperti neurokimiaseperti Buffofenon Buffofenon dan dan DimetytransferaseDimetytransferase (DMP). Akibat stress berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya (DMP). Akibat stress berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter otak.
neurotransmitter otak. 4)
4) Faktor PsikologisFaktor Psikologis
Kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada Kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada penyalahgunaan
penyalahgunaan zat zat adiktif. adiktif. Hal Hal ini ini berpengaruh berpengaruh pada pada ketidakmampuan ketidakmampuan klienklien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien lebih dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal.
memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal.
5)
5) Faktor genetik dan pola asuhFaktor genetik dan pola asuh
Penelitian menunjukkan bahwa anak yang diasuh oleh orangtua skizofrenia Penelitian menunjukkan bahwa anak yang diasuh oleh orangtua skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi menunjukkan bahwa factor cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi menunjukkan bahwa factor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini. keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini. b.
b. Faktor PresipitasiFaktor Presipitasi 1)
1) Rangsangan dari lingkungan seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlaluRangsangan dari lingkungan seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama tidak diajak berkomunikasi, objek yang ada di lingkungannya dan sauna lama tidak diajak berkomunikasi, objek yang ada di lingkungannya dan sauna sepia tau terisolasi.
sepia tau terisolasi. 2)
Dapat berupa rasa curiga, takut tidak aman, gelisah dan bingung, berperilaku yang merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata.
Makhluk yang dibangun atas dasar unsure bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi yaitu:
a) Dimensi Fisik
Kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alcohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.
b) Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan karena masalah yang tidak dapat diatasi, halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan, klien tidak sanggup menentang perintah tersebut sehingga berbuat sesuatu terhadap ketakutannya.
c) Dimensi Intelektual
Terjadi penurunan fungsi ego. Usaha ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tidak jarang akan mengontrol semua perilaku klien.
d) Dimensi Sosial
Kecenderungan untuk menyendiri, klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi di alam nyata sangat membahayakan.
Adanya kehampaan hidup, dan tidak jelas tujuan hidupnya, rutinitas tidak bermakna, hilangnya aktivitas ibadah dan jarang berupaya secara spiritual
untuk mensucikan diri.
3. Patofisiologi
Menurut Stuart dan Sundeen, 1995 ada dua teori yang menjelaskan tentang halusinasi, yaitu:
a. Teori Biokimia
Terjadi sebagai respon metabolisme terhadap stress yang mengakibatkan terlepasnya zat halusinogenik neurotic (buffofenon dan dimethytransferase).
b. Teori Psikoanalisis
Merupakan respons pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar yang mengancam dan ditekan untuk muncul dalam alam sadar.
4. Tanda dan Gejala
a. Bicara sendiri, senyum/ tertawa sendiri b. Menggerakkan bibir tanpa suara
c. Respons verbal yang lambat d. Menarik diri dari orang lain
e. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata f. Ekspresi muka tegang
h. Ketakutan
i. Tampak tremor dan berkeringat
j. Rendahnya kemampuan sosialisasi diri
k. Kepala mengangguk-angguk seperti mendengar orang bicara l. Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan
m. Tidak dapat mengurus diri
n. Sulit berhubungan dengan orang lain 5. Klasifikasi Halusinasi
a. Halusinasi Dengar
Data Subjektif Data Objektif
a. Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
b. Mendengar suara melakukan sesuatu yang berbahaya
c. Mendengar suara-suara atau kegaduhan
d. Mendengar seseorang yang sudah meninggal
a. Bicara atau tertawa sendiri b. Marah-marah tanpa sebab
c. Menutup telinga
d. Mendekatkan telinga kea rah tertentu e. Ada gerakan tangan
f. Mulut komat-kamit
b. Halusinasi Penglihatan
Data Subjektif Data Objektif
Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, kartun, melihat hantu atau monster
a. Menunjuk-nunjuk kearah tertentu b. Ketakutan pada sesuatu yang tidak
jelas
c. Halusinasi Penciuman
Data Subjektif Data Objektif
Membaui bau-bauan seperti bau darah, urine, feses, dan terkadang bau tersebut menyenangkan bagi
klien
a. Mengedus-endus seperti mencium sesuatu
b. Menutup hidung
d. Halusinasi Pengecapan
Data Subjektif Data Objektif
Merasakan sesuatu atau mengunyah sesuatu
a. Sering meludah b. Muntah
e. Halusinasi Perabaan
Data Subjektif Data Objektif
Merasa seperti tersengat listrik, mengatakan ada serangga dipermukaan kulit
Menggaruk-garuk permukaan kulit
f. Halusinasi Kinestetik (merasa badan bergerak)
Data Subjektif Data Objektif
Memegang kakinya yang dianggapnya bergerak sendiri
Mengatakan badannya melayang di udara
g. Halusinasi Viseral
Data Subjektif Data Objektif
dianggapnya berubah bentuk dan tidak normal seperti biasanya
setelah minum soft drink
6. Tahapan Halusinasi
a. Tahap I (Non-Psikotik)
Halusinasi mampu memberikan rasa nyaman pada klien, tingkat orientasi sedang. Tahap ini halusinasi merupakan hal yang menyenangkan bagi klien.
Karakteristik:
1) Mengalami kecemasan, kesepian, rasa bersalah, dan ketakutan.
2) Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan kecemasan. 3) Pikiran dan pengalaman sensorik masih ada dalam control kesadaran. Perilaku yang muncul:
1) Tersenyum atau tertawa sendiri 2) Menggerakkan bibir tanpa suara 3) Pergerakan mata yang cepat
4) Respon verbal lambat, diam dan berkonsentrasi.
b. Tahap II (Non-Psikotik)
Klien bersikap menyalahkan dan mengalami tingkat kecemasan berat. Halusinasi dapat menyebabkan antisipasi.
Karakteristik:
1) Pengalaman sensori menakutkan atau merasa dilecehkan oleh pengalaman tersebut.
2) Mulai merasa kehilangan kontrol 3) Menarik diri dari orang lain
Perilaku yang muncul:
1) Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah. 2) Perhatikan terhadap lingkungan menurun.
3) Konsentrasi terhadap pengalaman sensori pun menurun. c. Tahap III (Psikotik)
Klien biasanya tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, tingkat kecemasan berat, dan halusinasi tidak dapat ditolak lagi.
Karakteristik:
1) Klien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya. 2) Isi halusinasinya menjadi atraktif
3) Klien menjadi kesepian bila pengalaman sensori berakhir. Perilaku yang muncul:
1) Klien menuruti perintah halusinasi 2) Sulit berhubungan dengan orang lain
3) Perhatian terhadap lingkungan sedikit/ sesaat 4) Tidak mampu mengikuti perintah yang nyata 5) Klien tampak tremor dan berkeringat
d. Tahap IV (Psikotik)
Klien sudah sangat dikuasai oleh halusinasi dan biasanya klien terlihat panik. Perilaku yang muncul:
1) Risiko tinggi menciderai 2) Agitasi/ kataton
Timbulnya perubahan persepsi sensori halusinasi biasanya diawali dengan menarik diri, halusinasi lihat dan dengar/ salah satunya yang menyuruh pada kejelekan, maka akan berisiko terhadap perilaku kekerasan.
7. Rentang Respons
Respons Adaptif Respons Maladaptif
- Pikiran logis - Pikiran kadang-kadang - Gangguan pikiran/
- Persepsi akurat menyimpang waham
- Emosi konsisten - Ilusi - Halusinasi dengan pengalaman - Reaksi emosional - Kesulitan untuk - Perilaku sesuai berlebihan/ kurang memproses emosi - Hubungan sosial - Perilaku ganjil - Ketidakteraturan
(tidak lazim) - Isolasi Sosial - Menarik diri
8. Penatalaksanaan Medis a. Psikofarmakologi
Pengobatan pada pasien halusinasi, yaitu:
1) Chlorpromazine (CPZ) adalah derivat yang mempunyai khasiat dan bekerja pada Susunan Saraf Pusat (SSP) dengan mendepresi sub kortikal SSP yang menimbulkan efek psikotropik, sedasi, anti emetic dan dapat menekan refleks batuk. Efek samping: pusing, pingsan, hipotensi, orthostatik, palpitasi,
takikardi, pandangan kabur, konstipasi, dan lain-lain.
2) Haloperidol (HLP) adalah derivat yang khasiatnya hampir sama dengan derivat fenotiazin (CPZ). Efek samping: gelisah, ataksia, mulut kering, konstipasi (diare), urine diaphoresis (berlebihan), anemia, dan lain-lain.
3) Trihexyphenidil (THP) yaitu untuk merelaksasi otot polos dan sposmodik. Efek samping: mulut kering, pusing, pandangan kabur, mual, mengantuk, bingung, dan lain-lain.
b. Terapi kejang listrik/ elektro compulsive teraphy (ECT) c. Terapi aktivitas kelompok (TAK)
C. Pohon Masalah
Effect Risiko tinggi perilaku kekerasan
Care Problem Perubahan persepsi sensori: halusinasi
Causa Isolasi sosial
Harga diri rendah kronis
D. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang mungkin muncul, yaitu: 1. Resiko tinggi perilaku kekerasan
2. Perubahan persepsi sensori: halusinasi 3. Isolasi sosial
E. Intervensi Keperawatan Diagnosa
Keperawatan
Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Resiko menciderai diri sendiri/ lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran dan penglihatan Tujuan Umum: Klien dapat mengontrol halusinasi yang dialaminya. TUK 1: Klien dapat membina hubungan saling percaya Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 kali interaksi klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada perawat: a. Klien membalas sapaan perawat b. Ekspresi wajah bersahabat dan senang
c. Ada kontak mata, mau berjabat tangan
Bina hubungan saling percaya menggunakan prinsip komunikasi
terapeutik.
1. Sapa klien dengan ramah, baik secara verbal maupun non verbal.
2. Perkenalkan nama perawat.
3. Tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai. 4. Jelaskan tujuan Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi perawat dan klien.
d. Mau menyebut-kan nama
e. Klien mau duduk ber-dampingan dengan perawat f. Klien mau mengutara kan masalah yang dihadapi. pertemuan. 5. Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji.
6. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien. 7. Dengarkan ungkapan klien dengan empati. TUK 2: Klien dapat mengenali halusinasi nya Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 kali interaksi klien dapat menyebutkan : 1. Jenis 2. Isi 3. Waktu 4. Frekuensi 5. Situasi 6. Respon (marah, takut, SP1 1. Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya (dengar/ lihat/ penghidu/ raba/ kecap). a. Tanyakan apakah klien menglami sesuatu (halusinasi dengar/ lihat/ Tingkah laku klien terkait halusinasinya menunjukkan jenis,isi, waktu, frekuensi, situasi dan respon yang menimbulkan halusiasi. Tahap awal untuk
sedih, senang, cemas, jengkel)
penghidu/ raba/ kecap)
b. Jika ya, tanyakan apa yang sedang dialaminya.
2. Bantu klien mengidentifikasi isi halusinasinya, jika menemukan klien yang sedang berhalusinasi,
tanyakan apakah ada mendengar suara (suara apa yang didengar), apakah melihat bayangan (bayangan apa yang dilihat), mengetahui adanya tanda dan gejala terjadinya halusinasi. Dengan klien mengetahui
katakan perawat percaya dengan apa yang dilihat dan didengar klien (sampaikan dengan nada bersahabat tanpa menuduh/ menghakimi). 3. Bantu klien mengidentifikasi waktu terjadinya halusinasi. 4. Bantu klien mengidentifikasi frekuensi terjadinya halusinasi. halusinasinya maka klien dapat mem- bedakan hal
yang nyata atau tidak. Mengetahui kualitas dan kuantitas halusinasi dan indikator memberikan intervensi selanjutnya. Mengetahui apa yang klien rasakan terkait halusinasinya.
5. Bantu klien mengidentifikasi respon klien saat terjadi halusinasi (marah, takut, sedih, senang, cemas, jengkel). TUK 3: Klien dapat mengontrol halusinasi nya Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 kali interaksi diharapkan : g. Klien dapat menyebut-kan tindakan yang biasa dilakukan untuk mengendali kan halusinasi nya. h. Klien dapat memperaga kan cara baru dalam mengontrol
1. Identifikasi bersama klien tindakan yang biasa dilakukan bila
terjadi halusinasi
2. Diskusikan manfaat dan cara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian
3. Ajarkan klien cara mengontrol halusinasi dengan Mengetahui tindakan yang dilakukan dalam mengontrol halusinasinya. Meningkatkan harga diri klien.
Klien dapat mencoba dan
halusinasi dengan cara menghardik i. Klien mau membuat jadwal kegiatan harian bersama perawat. cara menghardik (katakan pada diri sendiri bahwa ini tidak nyata “saya tidak mau dengar/ lihat/ penghidu/ raba/ kecap pada saat halusinasi terjadi) 4. Masukkan kegiatan menghardik halusinasi ke dalam jadwal kegiatan harian klien. kemudian mempraktik kan cara baru tersebut. Mengingat kan tugas harian klien TUK 4: Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 kali interaksi diharapkan : j. Klien dapat menyebut kan SP2 1. Evaluasi kegiatan lalu (SP1) 2. Latih klien mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-Untuk mengetahui kemampuan klien Membantu klien untuk berinteraksi dengan orang
orang lain. kegiatan yang sudah dilakukan. k. Klien dapat
memperagakan cara baru dalam mengontrol
halusinasi dengan bercakap-cakap
dengan orang lain. l. Klien mau
membuat jadwal kegiatan harian bersama perawat.
cakap dengan orang lain (menemui orang lain seperti perawat, klien lain untuk menceritakan halusinasinya). 3. Masukkan latihan bercakap-cakap ke dalam jadwal kegiatan harian klien.
lain dan dapat melupakan halusinasinya. Mengingat kan tugas harian klien TUK 5: Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktivitas terjadwal Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 kali interaksi diharapkan: m. Klien mampu menyebut kan kegiatan yang sudah dilakukan n. Klien dapat menyusun jadwal SP 3 1. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1 dan SP2)
2. Latih klien melakukan kegiatan agar halusinasi tidak muncul dengan: o. Diskusikan aktivitas yang Untuk mengetahui kemampuan klien Membantu klien untuk memutuskan halusinasinya
kegiatan dari pagi sampai tidur malam dan mampu melaksana kannya. biasa dilakukan oleh klien p. Membuat dan melaksanakan jadwal kegiatan sehari-hari yang telah disusun (dari bangun tidur pagi sampai tidur malam) TUK 6: Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara teratur minum obat (klien dapat memanfaat kan obat dengan baik) Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 kali interaksi diharapkan: a. Klien mampu menyebut kan: q. Manfaat minum obat. r. Kerugian tidak minum obat. s. Nama, warna, dosis, efek terapi, dan efek
SP4
1. Evaluasi kegiatan pasien yang lalu
(SP1, 2 dan 3)
2. Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi, dan efek samping Untuk mengetahui kemampuan klien Untuk menyukses kan program klien dan mengoptimalkan kerja dari obat terhadap klien.
samping obat. b. Klien mampu mendemons trasikan penggunaan obat dengan benar. c. Klien dapat informasi tentang manfaat dan efek samping obat. d. Klien mampu
menyebut kan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter. e. Klien dapat menyebutkan prinsip 6 benar penggunaan obat. penggunaan obat.
3. Pantau klien saat penggunaan obat.
4. Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat yang dirasakan. 5. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi. 6. Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 6 benar.
Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasi nya. tindakan keperawatan 1kali interaksi diharapkan: - Keluarga menyatakan setuju untuk mengikuti pertemuan dengan perawat - Keluarga mampu menyebut kan pengertian, tanda dan gejala, proses terjadinya halusinasi dan tindakan untuk mengendali kan halusinasi. keluarga untuk pertemuan (waktu,tempat dan topik). 2. Diskusikan dengan kelurga (pada saat pertemuan keluarga/
kunjungan rumah) a. Pengertian
halusinasi
b. Tanda dan gejala halusinasi
c. Proses terjadinya halusinasi
d. Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi. e. Obat-obatan halusinasi. f. Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah (beri keluarga dalam memberikan dukungan untuk mengontrol halusinasi klien.
kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, memantau obat-obatan dan cara pemberiannya
untuk mengatasi halusinasi).
g. Beri informasi waktu kontrol ke rumah sakit dan bagaimana cara mencari bantuan jika halusinasi tidak dapat diatasi di rumah.
F. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan dengan memperhatikan dan mengutamakan masalah utama yang actual dan mengancam integritas klien dan lingkungannya. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan perawat perlu memvalidasi dengan singkat, apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan oleh klien saat ini, serta hal yang tidak boleh dilupakan bahwa perawat harus mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilaksanakan.
G. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan kepada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang dilaksanakan.
Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan SOAP mencakup : S : Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan.
O : Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
A : Analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada.
P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon. Hasil yang diharapkan pada asuhan keperawatan klien dengan halusinasi adalah:
a. Klien mampu memutuskan halusinasi dengan berbagai cara yang telah diajarkan. b. Klien mampu mengetahui tentang halusinasinya.
c. Meminta bantuan / partisipasi keluarga. d. Mampu berhubungan dengan orang lain. e. Menggunakan obat dengan benar.
Pada Keluarga:
a. Keluarga mampu mengidentifikasi gejala halusinasi.
b. Mampu merawat klien di rumah tentang cara mengatasi halusinasi dan mendukung kegiatan-kegiatan klien.