• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi-studi tentang Indonesia seringkali berhadapan dengan problem-problem transliterasi. Pada dasarnya, baik sistem ejaan lama yang bergaya Belanda dan sistem ejaan resmi bahasa Indonesia yang baru yang disahkan pada tahun 1972 dipergunakan dalam studi ini, karena kedua ejaan tersebut memang dipakai dalam sumber-sumber tertulis yang merentang mulai dari tahun

1900-an sampai dengan saat ini. Meski demikian, terdapat beberapa pengecualian. Secara umum, ejaan oe (dalam ejaan Belanda/lama) akan digantikan dengan oleh u, kecuali manakala ejaan tersebut memang dipakai dalam kutipan-kutipan langsung, dalam nama-nama terbitan dan pengarang, dan juga dalam ‘kode-kode’ dari momen historis tertentu, seperti misalnya istilah kemadjoean sebagai kode bagi inteligensia generasi pertama.

Ejaan dari nama-nama personal sebisa mungkin akan mengikuti ejaan yang dipakai oleh individu-individu itu sendiri, namun secara umum huruf oeakan digantikan oleh huruf u. Sehingga,

Soekarnoakan digantikan dengan Sukarno. Beberapa pengecualian di antaranya ialah (Mohammad) Roem, Pramoedya (Ananta) Toer, (Deliar) Noer, dan (Wiratmo) Soekito karena mereka memang secara konsisten menggunakan ejaan tersebut untuk nama-nama mereka sampai dengan akhir abad ke-20. Nama- nama Indonesia yang diadopsi dari kata-kata Arab akan dieja dalam sistem ejaan Indonesia (lama dan baru—namun sekali lagi oeakan digantikan dengan u—seperti yang dilakukan sendiri oleh individu-individu pemilik nama tersebut. Sehingga, Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) akan dieja Achmad Dachlan. Di sisi lain, nama-nama dari orang-orang Arab (bukan orang Hindia Belanda) akan dieja sesuai dengan sistem ejaan Arab dalam huruf latin.

Nama-nama organisasi dan institusi akan dieja sesuai dengan konteks-konteks historis dari kehadirannya (dan huruf oe akan diganti dengan huruf u). Namun, demi konsistensi, nama-nama organisasi dan juga institusi-institusi dan prinsip-prinsip negara yang terus eksis sampai dengan akhir abad ke-20 akan dieja mengikuti sistem ejaan bahasa Indonesia yang baru. Jadi,

Permusjawaratan Rakjat akan dieja menjadi Majelis Permusyawaratan Rakyat, Pantjasilaakan dieja menjadi Pancasila. Yang terakhir, pengejaan dari nama-nama kota dan tempat- tempat lain akan menggunakan sistem ejaan bahasa Indonesia yang baru, sehingga kata Djakarta, Soerabaja, dan Tjirebon

akan dieja menjadi Jakarta, Surabaya, dan Cirebon.[]

Catatan:

1 Shils (1972: 387). 2 Gella (1976: 25). 3 Woodward (1996:34)

4 Konsepsi politik negara-negara tua di Asia Tenggara sering dilukiskan oleh para ahli sebagai ‘galactic polity’, ibarat lingkaran-lingkaran konsentris yang berpusat pada istana. Dan negara Orde Baru berusaha mereproduksi konsepsi politik seperti itu dengan berpusat pada ‘Cendana’.

5 Di antara figur publik dari inteligensia Muslim pada masa akhir kekuasaan Suharto ialah Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Dawam Rahardjo, Adi Sasono, Imaduddin Abdulrahim, Djalaluddin Rakhmat, Sri Bintang Pamungkas, dan Emha Ainun Nadjib.

6 Contoh figur-figur ini diantaranya ialah Mar’ie Muhammad, Beddu Amang, Muslimin Nasution, Sutjipto Wirosardjono, Setyanto P. Santoso, Sajuti Hasibuan, Marzuki Usman, Dipo Alam dan banyak lagi yang lainnya.

7 Pada Pemilu 2004, total prosentase suara yang diperoleh seluruh partai-partai Muslim sedikit naik dari Pemilu sebelumnya, yakni 39.1%, dan meraup sebanyak 42.0% dari total kursi di DPR (231 kursi dari total 550 kursi yang ada). Untuk mendapatkan deskripsi yang lebih rinci mengenai hasil jumlah suara yang diraih oleh partai-partai Muslim pada dua Pemilu ini, baca Bab 6.

8 Piagam ini dirancang menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, dan di antara isinya, terdapat sebuah ketentuan khusus yang menunjukkan bahwa frase Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dari Pancasila harus ditambah dengan anak kalimat ‘dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’. Anak kalimat inilah yang dikenal sebagai ‘tujuh kata’.

9 Lebih dari 80 tahun setelah kata ‘Islam’ digunakan secara eksplisit sebagai nama dari sebuah perhimpunan oleh Sarekat (Dagang) Islam, kata yang sama atau derivatnya seperti ‘Muslim’ masih tetap dipakai secara luas sebagai nama-nama dari partai politik dan kelompok-kelompok aksi. Lebih dari 70 tahun setelah kata ‘Islam’ (Islamieten

pelajar, yaitu Jong Islamieten Bond(JIB), istilah yang sama terus digunakan oleh banyak perkumpulan inteligensia dan mahasiswa, seperti Ikatan Cendekiawan ‘Muslim’ se- Indonesia (ICMI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa ‘Muslim’ Indonesia (KAMMI). 10 Sehingga, setelah menggambarkan penghulu sebagai semacam ‘priyayi yang santri’,

Geertz segera meragukan analisisnya sendiri, karena istilah tersebut menurutnya bisa mengandung suatu kontradiski dalam peristilahan, contradictio in terminis (1976: 133). Meskipun dia melihat bahwa di antara para pengikut partai-partai Islam (NU dan Masjumi) terdapat ‘kaum muda, kaum terdidik, kaum urban, dan mereka yang tidak terlalu taat keagamaannya’ yang cenderung untuk ‘menjadi lebih modern’ (1976: 163), namun dia tak pernah bisa membayangkan bahwa generasi muda Muslim yang terdidik ini akan berbondong-bondong masuk birokrasi modern. Menjadi santri baginya merupakan antitesis dari menjadi seorang birokrat: ‘Problem ini terutama lebih akut di kalangan santri, yang menganut nilai-nilai yang sedemikian anti-birokratik, “mandiri”, dan “egaliter” dalam karakternya; hal ini karena mereka menyadari bahwa begitu para pemimpin mereka menjadi para pegawai sipil berkat dukungan kekuatan politik santri, mereka menjadi kurang santridalam pandangannya’ (1976: 373).

11 Dalam pandangan Emerson, Islam politik pada masa itu telah ditaklukkan secara konstitusional, secara fisik, secara Pemilu, secara birokratik, dan secara simbolik (1989). 12 Studi diakronik ini terutama penting untuk menelaah masyarakat-masyarakat post- kolonial. Dikatakan bahwa post-kolonialitas merupakan sebuah kondisi historis yang ditandai dengan adanya kebebasan yang nyata (the visible apparatus of freedom) yang dibarengi dengan bayang-bayang ketidakbebasan yang terus mengancam (the concealed persistence of unfreedom), dan dengan adanya ketegangan-ketegangan yang terus berlangsung antara menjadi-ada (arrival) dan menjadi-lenyap (departure), antara kemerdekaan (independence) dan ketergantungan (dependence). Sehingga, ‘impian postkolonial untuk berpisah dari masa lalunya sendiri (the postcolonial dream of discontinuity) pada dasarnya rentan terkena infeksi-infeksi residu dari masa lalunya sendiri yang terpendam dan tak terselesaikan (unconsidered and unresolved past)’ (Gandhi 1998: 6-7).

13 Dalam karya Clifford Geertz, The Religion of Java(1960), masyarakat Jawa terdiri dari tiga sistem makna yang dikelompokkan ke dalam aliran(struktur-struktur identitas dan organisasi yang bersifat vertikal): yaitu priyayi, abangandan santri. Dikatakan bahwa tradisi priyayimerupakan sebuah ideologi dari istana dan pujangga yang berorientasi pada pandangan dunia mistik kejawen dan Hindu-Buddha. Tradisi abanganmerupakan sebuah ideologi sinkretik dari kaum tani yang sangat dipengaruhi oleh paham animisme Jawa, sementara tradisi santrimerupakan sebuah cara pandang dunia Islam yang taat yang dianut oleh elemen-elemen masyarakat Jawa maupun Luar Jawa.

14 ‘Perjuangan demi menyatakan-diri’ (Struggle for the real) merupakan ‘sebuah usaha untuk menerapkan kepada dunia sebuah konsepsi tertentu mengenai bagaimana sesungguhnya nilai dari benda-benda dan bagaimana manusia-manusia harus berperilaku’ (Geertz 1972: 324).

15 Pemakaian awal dari istilah ‘inteligensia’ (intelligentsia) ini masih merupakan bahan perdebatan. Beberapa sejarawan berasumsi bahwa istilah ‘inteligensia’ ini diperkenalkan oleh Peter Boborykin, seorang penulis Rusia pada tahun 1860. Namun pendapat ini ditentang oleh Waclaw Lednicki, yang menemukan bahwa istilah itu telah dipergunakan

dalam kesusastraan Rusia, terutama dalam karya V.G. Belinsky pada tahun 1846. Lebih dari itu, dia juga mengamati bahwa istilah tersebut dipakai kira-kira pada saat yang bersamaan di Polandia, dan karena itu dia menyimpulkan bahwa Rusia dan Polandia merupakan tempat kelahiran dari strata sosial ini, dan bahasa kedua negeri itulah yang menciptakan istilah inteligensia. Richard Pipes menyangsikan bahwa istilah itu dipakai pertama kali oleh Boborykin atas dasar temuannya bahwa kata berbahasa Jerman ‘intelligenz’ telah dipakai sejak tahun 1849, dan kata itu dipakai untuk menunjuk pada fenomena yang sama dengan inteligensia di Polandia dan Rusia. Yang terakhir, Aleksander Gella sendiri telah menunjukkan bahwa istilah tersebut pertama kali dipakai dalam kesusastraan Polandia oleh Karol Libelt pada tahun 1844 (Gella 1976: 12).

16 Dinyatakan bahwa sementara kalangan bangsawan cenderung hanya tertarik pada dunia sastra dan kemiliteran, para individu yang berasal dari kalangan pendeta cenderung memasuki pekerjaan-pekerjaan akademis dan professional, sedangkan kesempatan terbaik buat orang-orang biasa ialah memasuki bidang-bidang seni (pelukis, pematung, pemusik) dan teater (menjadi pemain, penyanyi) (Nahirny 1983: 27).

17 Dalam pandangannya, adalah tak mungkin untuk mendefinisikan dengan tepat sifat- sifat seperti ‘memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap yang sakral [atau] memiliki suatu daya reflektif yang luar biasa mengenai hakekat dari alam semesta’. Juga sulit dipahami mengapa seseorang yang hanya berpendidikan formal rendah atau tak berpendidikan formal tak bisa memiliki sifat-sifat semacam itu. Menurutnya, ‘tak ada aktivitas manusia yang tak melibatkan partisipasi intelektual dalam bentuk apapun:

homo fabertak bisa dipisahkan dari homo sapiens’. Dalam pandangannya, semua orang menggunakan inteleknya dalam tingkatan tertentu: yang berbeda hanyalah pada derajatnya saja, bukan jenisnya (Gramsci 1971: 8-9; Miller 1999: 25).

18 Weber membedakan dua aspek dasar lainnya dari distribusi kuasa yang berlangsung dalam sebuah masyarakat di samping konsepsi tentang kelas. Pertama, dia sebut sebagai

status, dan aspek kedua dia sebut sebagai partai. Statusmerujuk pada perbedaan derajat dalam prestise sosial di antara kelompok-kelompok sosial yang ada dalam suatu komunitas. Dalam kata-kata Weber sendiri, status (‘status situation’) digambarkan sebagai ‘setiap komponen tipikal dari nasib kehidupan orang-orang yang ditentukan oleh estimasi sosial yang spesifik atas nilai kehormatan (honor) orang-orang tersebut, baik yang bersifat positif ataupun negatif ’ (Weber 1967: 24). Sementara kelas merujuk pada ketidaksetaraan dalam distribusi imbalan ekonomi (economic rewards), status merujuk ketidaksetaraan dalam distribusi ‘kehormatan sosial’ (social honour). Sementara kategori diberikan secara obyektif, status tergantung pada evaluasi subyektif orang- orang mengenai perbedaan-perbedaan sosial (Giddens 1990: 212). Konsepsi Partai

merujuk pada kekuasaan atas tindakan-tindakan atau keputusan-keputusan kolektif dari setiap kelompok yang terorganisir, yang berorientasi pada perolehan ‘kekuasaan’ sosial, atau dengan kata lain, pada upaya untuk mempengaruhi sebuah tindakan komunal, apapun tindakan tersebut (Weber 1967: 27). Sementara Marx cenderung menjelaskan baik perbedaan status maupun pengorganisasian partai dalam kerangka kelas, Weber berargumen bahwa dalam kenyataannya, tak ada satu pun dari kedua konsepsi tersebut yang bisa direduksi ke dalam pembagian kelas. Meskipun pengaruh ‘situasi kelas’ terhadap ‘status’ dan ‘partai’ tampak jelas, namun hal yang sebaliknya juga berlaku. Yaitu, ‘status’ dan ‘partai’ bisa mempengaruhi kondisi-kondisi ekonomi dari orang per orang maupun kelompok, sehingga pada gilirannya juga berpengaruh pada kelas. Lebih

jauh lagi, Weber berargumen bahwa dalam masyarakat-masyarakat tertentu, relasi-relasi kelas, status dan partai bisa saling terkait (Weber 1967: 24-27).

19 Buku ini diterbitkan pertama kali di Paris pada tahun 1927 dan pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1928.

20 Untuk komentar mengenai konsepsi intelektual yang diajukan oleh ketiga penulis tersebut, baca Miller (1999: 13).

21 Kritik terhadap konsep tersebut, bisa dibaca pada tulisan Konrád & Szelényi (1979), Etzioni-Halevi (1985), Ross (1990).

22 Seperti yang diamati oleh Harry J. Benda (1962: 240): ‘Adalah lebih merupakan sebuah perkecualian ketimbang suatu keteraturan bahwa kaum bangsawan muda, anak pemilik tanah ataupun bahkan keturunan dari kelas borjuis yang baru muncul, setelah memperoleh pendidikan Barat di bidang apapun, akan menjadi pembela dan juru bicara dari kelas asalnya.

23 Proses masuknya istilah ‘inteligentsia’ ke dalam ruang publik Indonesia sangat mungkin lewat jalan memutar via pengaruh intelektual Eropa Barat ketimbang diimpor langsung dari Rusia atau Polandia.

24 Daerah di Semenanjung Malaya yang didiami oleh banyak orang Melayu yang datang dari Sumatra Barat.

25 Konsepsi cendekiawan sebagai intelektual bisa dilihat misalnya dalam tulisan Harsja W. Bachtiar, ‘Kaum Cendekiawan di Indonesia: Suatu Sketsa Sosiologi’. Sementara konsepsi

cendekiawansebagai inteligentsia bisa dilihat dalam tulisan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, ‘Cendekiawan Dunia Ketiga: Orang ‘Barat’ di Dunia ‘ Timur’’ dan juga dalam tulisan Selo Soemardjan, ‘Peranan Cendekiawan dalam Pembangunan’. Semua artikel ini bisa dibaca dalam sebuah buku yang dieditori oleh A. Mahasin dan I. Natsir (1983). 26 Sebuah ringkasan yang sangat bagus mengenai beragam konsepsi power (atau kuasa)

yang dikritik oleh Foucault bisa dilihat dalam Pasewark (1993: 7-13).

27 Satu-satunya contoh dari teks pidato yang diterbitkan ialah pidatonya Hatta yang berjudul ‘Tanggung Djawab Moril Kaum Inteligensia’ yang disampaikan di Universitas Indonesia pada 11 Juni 1957. Buku Dawam Rahardjo, ‘Intelektual, Inteligensia, dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim’ (1993) merupakan satu-satunya contoh dari antologi. Sementara tulisan-tulisan karya Arief Budiman (1981) dan Selo Soemardjan (1981) merupakan contoh-contoh dari artikel-artikel mengenai inteligensia Indonesia sebagai bab-bab dari sebuah buku kumpulan karangan. Tulisan Wiratmo Soekito berjudul ‘Posisi Kaum Inteligensia Indonesia Dewasa Ini’ dalam majalah Siasat Baru (No. 655, 30 Desember 1959) merupakan sebuah contoh dari artikel-artikel mengenai inteligensia Indonesia dalam jurnal.

28 Buku Legge berjudul Intellectuals and Nationalism in Indonesia: A Study of the Following Recruited by Sutan Sjahrir in Occupation Jakarta (Intelektual dan Nasionalisme di Indonesia: sebuah Kajian tentang Kelompok Sutan Sjahrir selama Pendudukan Jakarta). Disertasi Sparringga berjudul Discourse, Democracy and Intellectuals in the New Order Indonesia, a Qualitative Sociological Study. Buku Dhakidae berjudul

Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru.

29 Buku yang ditulis Hassan berjudul Muslim Intellectual Response to ‘New Order’ Modernization in Indonesia. Sementara buku Federspiel berjudul Muslim Intellectuals

and National Development in Indonesia. Buku Anwar berjudul Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik tentang Cendekiawan Muslim Orde Baru. 30 Contoh-contoh karya-karya minor adalah buku karya Ridwan Saidi (1990), Cendekiawan

Islam zaman Belanda, dan tesis masternya Fuadi Mardatillah (1997), Intellectual Responses to the Establishment of Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), 1990- 1995. Sementara contoh-contoh dari antologi-antologi di antaranya karya-karya Dick Hartoko, Golongan Cendekiawan, Mereka Yang Berumah di Angin (1981); karya Aswab Mahasin (ed.), Cendekiawan dan Politik (1983); karya Dawam Rahardjo, Intelektual, Inteligensia, dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim (1993); dan karya A.E. Priyono (ed.), Kebebasan Cendekiawan: Refleksi Kaum Muda 91996). Sementara contoh-contoh artikel, bisa dilihat pada Lampiran A dan B dalam disertasi Yudi Latif (2004).

31 Miskonsepsi semacam ini bisa dilihat dalam Dhakidae (2003), Anwar (1996), Azra (2000).

32 Dikutip dari Eyerman (1994: 70).

33 ‘Minat pengetahuan’ (knowledge interest)bisa didefinisikan sebagai jenis pengetahuan yang terbentuk dalam konteks sebuah generasi intelektual tertentu (Eyerman dan Jamison 1991: 45-65). Sebagai perbandingan, Weber memandang bahwa ide-ide itu ‘tersituasikan’ (situated) secara sosial dan dibentuk oleh pandangan dunia (world-views) atau ‘gaya-gaya pemikiran’ (styles of thought). Adapun gaya-gaya pemikiran ini berkaitan dengan, selain dengan yang lainnya, periode dan generasi tertentu (Burke 2000: 5). 34 Karena alasan-alasan inilah, buku Habermas diberi judul ‘Strukturwandel der Öffentlicheit

(Transformasi Struktural dari Ruang Publik), yang pertama kali diterbitkan di Jerman pada tahun 1962. Terjemahan pertama dalam bahasa Inggris pertama kali terbit pada tahun 1989.

35 Klaus Eder (1993: 20-27) berargumen bahwa kunci bagi penjelasan mengenai jalan kemajuan menuju modernitas dalam pengalaman Barat terletak dalam proses belajar dan praktik-praktik simbolik yang berlangsung dalam ranah kebudayaan. Saat sebuah masyarakat bergerak dari kehidupan tradisional menuju kehidupan modern, medan proses pembelajaran kolektif beralih dari ikatan-ikatan komunal yang bersifat tertutup kepada ikatan-ikatan patembayan (associational-bonds)yang bersifat terbuka, dari estat

dan kasta-kasta kepada masyarakat kelas. Perubahan medan bagi pembelajaran sosial ini pada gilirannya akan mengubah universum simbolik. Dalam asosiasi, universum simbolik itu diproduksi lewat komunikasi diskursif yang melibatkan rasionalitas yang tinggi dan hak-hak yang sama untuk berpikir dan berbicara secara bebas. Di sisi lain, masyarakat Indonesia pada abad ke-20, masih merupakan masyarakat yang komunal, bukan masyarakat patembayan. Solidaritas kulturalnya masih terpaku pada sistem-sistem primordial (yang menjadi dasar pembentukan ikatan kelompok) ketimbang pada afiliasi kelompok yang berorientasi prestasi (achieved group affiliations). Asosiasi-asosiasi patembayan sebagai sebuah prasyarat yang niscaya untuk membangun masyarakat sipil masih belum hadir secara kuat. Proses pembelajaran sosial secara kolektif kebanyakan difasilitasi oleh kelompok-kelompok komunal, ketimbang oleh asosiasi-asosiasi patembayan. Akibatnya, penciptaan universum simbolik, sebagai mediasi bagi segenap tindakan sosial, lebih dipacu oleh semangat komunalisme ketimbang oleh ukuran-ukuran rasional dari asosiasi patembayan.

36 Mengenai perbedaan sosiologi pengetahuan yang lama dan yang baru, lihat karya Peter Burke (2000).

37 Mengenai perbedaan sosiologi politik yang lama dan yang baru, lihat karya Kate Nash (2000: x-xiv).

38 Untuk mendapatkan sebuah ringkasan yang bagus mengenai teori-teori ‘intertekstualitas’, lihat Graham Allen (2000).

BAB 2