Bagaimana kita membumikan istilah ‘inteligensia’ dan ‘intelektual’ dalam sebuah formasi sosial dan konteks historis Indonesia? Memang benar bahwa peran intelektual atau fungsi sosial spesifik dari para pemikir (people of ideas) di kepulauan ini telah sejak lama dijalankan oleh pandita, resi, kyai atau ulama. Namun, penggunaan istilah ‘intelektual’ dan ‘inteligensia’ serta istilah turunannya dalam konteks Indonesia modern merujuk pada sebuah formasi sosial dan trayek historis yang spesifik, yang muncul sebagai akibat dari diintrodusirnya sistem pendidikan Barat di negeri ini—pada awalnya dilakukan oleh para misionaris Barat dan pemerintah penjajahan Belanda, lalu kemudian oleh lembaga-lembaga sosial yang lain.
Asal-usul lahirnya elit berpendidikan modern di Indonesia kurang lebih sama dengan asal-usul lahirnya inteligensia dalam konteks Polandia dan Rusia. Meskipun kondisi-kondisi sosio-
historis bagi perkembangan inteligensia Indonesia sangat berbeda dengan kondisi-kondisi Eropa Timur pada abad ke-19, namun terdapat satu kesamaan mendasar. Kesamaan ini, meminjam pendapat Gella, ialah tampilnya sebuah generasi yang terdidik dan terpengaruh oleh ide-ide dan pengetahuan Barat yang diserapnya (Gella 1976: 17). Lebih dari itu, sama dengan pengalaman Rusia, prototip-prototip dari orang-orang Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang terdidik secara Barat yang muncul pada akhir abad ke-19 juga terutama muncul dari keluarga bangsawan sebagai kelompok intinya. Namun dengan semakin berkembangnya birokrasi pemerintahan kolonial dan birokrasi kapitalis-swasta, orang-orang dari beragam kelompok status secara berangsur-angsur mulai memasuki pendidikan modern. Pada awal abad ke-20, kalangan homines novi yang berlatar pendidikan Barat ini tumbuh sebagai sebuah strata yang berdiri sendiri,22 yang memiliki kesamaan orientasi pekerjaan,
kebiasaan, bahasa, struktur kognitif serta tanggung jawab sosial. Sementara inteligensia klasik di Eropa Timur muncul sebagai sebuah strata yang relatif homogen dan memiliki tradisi-tradisi yang sama, inteligensia Indonesia sedari awal pembentukannya bersifat heterogen baik dalam posisi maupun tradisi sosialnya. Heteregonitas ini mencerminkan bukan hanya keragaman latar belakang kelas-sosialnya, namun juga pluralitas latar religio- kultural, etnis dan kedaerahannya. Sebagai akibat dari fragmentasi internal ini, inteligensia Indonesia tak pernah menjadi sebuah strata sosial yang menyatu. Selain itu, sementara negara Tsar
(Czarist state)—sebagai promotor dari pembentukan inteligensia dalam konteks Rusia—merupakan bagian integral dari masyarakat Rusia, negara kolonial yang bertindak sebagai promotor inteligensia Hindia Belanda merupakan negara ‘asing’ yang menerapkan berbagai kebijakan diskriminatif dan segregatif. Dalam situasi-
situasi yang diskriminatif dan segregatif itu, upaya untuk menciptakan suatu elit berpendidikan modern dengan anutan nilai-nilai dan prinsip-prinsip sekuler bisa melahirkan kecenderungan-kecenderungan antitetis manakala para anggota komunitas inteligensia tersebut menemukan jalan kembali ke jangkar identitasnya. Sebagai misal, beberapa di antara mereka yang berlatar keluarga Muslim yang taat, karena merasa kecewa dengan situasi penjajahan dan/atau karena pertemuan atau pertemuan-kembali dengan tokoh-tokoh Islam berikut komunitas epistemik serta asosiasi-asosianya, terdorong untuk mempertautkan kembali dirinya dengan komunitas intelektual Islam. Dalam pertautan ini, mereka mulai memperkaya pengetahuan keagamaannya, sehingga muncullah apa yang disebut sebagai
intelek-ulama(inteligensia yang melek pengetahuan agama). Selain itu, promosi pendidikan Barat oleh pemerintah kolonial telah menciptakan hirarki-hirarki pengetahuan dan nilai-nilai kolonial yang mematrikan apa yang disebut Edward Said sebagai ‘pengkelasduaan yang mengerikan’ (dreadful secondariness) terhadap beberapa lapisan masyarakat dan kebudayaan (Said 1989: 207). Pada gilirannya, hal ini mendorong hasrat serangan balik pengetahuan-pengetahuan ‘tersisihkan’ (subjugated knowledges) lewat jalan, di samping cara-cara lainnya, strategi peniruan (mimicry) dan apropriasi (appropriation). Komunitas epistemik Islam, misalnya, berusaha sekuat tenaga untuk mengadopsi aparatus, metode-metode, dan kurikulum pendidikan modern sebagai sarana untuk merevitalisai ajaran-ajaran dan daya tahan Islam. Upaya ini lalu melahirkan apa yang disebut sebagai sistem pendidikan madrasahdimana di dalamnya aparatus dan metode-metode modern diperkenalkan dan mata-pelajaran agama diajarkan secara berdampingan dengan mata-pelajaran sekuler. Hal ini melahirkan sejenis ‘clerical-intelligenstia’
(inteligensia-klerikus) yang dikenal dengan sebutan ulama-intelek
(ulama yang melek pengetahuan modern).
Ketika para anggota dari komunitas inteligensia Indonesia mulai merumuskan suatu respons ideologis atas negara kolonial yang represif, pluralitas latar sosio-kultural mereka melahirkan perbedaan-perbedaan dalam ideologi. Sebagai konsekuensinya, para anggota komunitas inteligensia Indonesia terbelah ke dalam beberapa tradisi politik dan intelektual. Maka, lahirlah kelompok inteligensia Muslim, inteligensia komunis, inteligensia nasionalis, inteligensia sosialis, inteligensia Kristen, dan seterusnya. Dalam konflik di antara tradisi-tradisi intelektual ini, masing-masing kelompok berupaya untuk memperbanyak pengikutnya dengan jalan menggabungkan diri dengan kelompok-kelompok status
(status groups) yang telah mapan (yaitu kelompok-kelompok solidaritas kultural). Karena situasi demikian, inteligensia Indonesia menjadi sebuah strata sosial yang retak sehingga sulit untuk diidentifikasi sebagai sebuah strata sosial tersendiri yang menyatu. Meski demikian, mereka tetap menunjukkan kesamaan-kesamaan dalam keistimewaan sosial (social privilege), bahasa, kebiasaan, latar pendidikan dan orientasi pekerjaan. Dengan kata lain, inteligensia Indonesia merefleksikan suatu ekspresi kolektif dalam arti ‘suatu kesamaan identitas dalam perbedaan’ (identity in difference) dan ‘keberagaman dalam kebersamaan identitas’
(difference in identity).
Betapapun lebarnya perbedaan di antara mereka, inteligensia Indonesia merupakan suatu kelompok minoritas dari elit modern Indonesia yang memiliki kesanggupan untuk memikul tanggung jawab kepemimpinan dalam masyarakat, dunia politik dan birokrasi Indonesia. Istilah ‘elit’ di sini memiliki arti ‘minoritas orang yang sangat berpengaruh dalam membentuk beragam struktur kelembagaan atau ranah aktivitas masyarakat. Dalam
masyarakat modern, struktur-struktur dan ranah-ranah tersebut meliputi dunia politik, pemerintahan, dunia ekonomi, dunia militer, dan ranah kebudayaan’ (Etzioni-Halevy 1985: 15). Karena inteligensia Indonesia sebagai sebuah strata sosial bersifat kabur, maka istilah ‘elit’ juga bisa dipergunakan untuk menggambarkan formasi sosial inteligensia setelah tahun 1920- an. Inteligensia Indonesia merupakan bagian dari dinamika kesejarahan Indonesia, dan oleh karena itu, formasi sosialnya juga tunduk kepada proses kesejarahan dan transformasi.
Istilah pertama dalam bahasa Indonesia (Melayu) yang mengindikasikan lahirnya inteligensia Hindia Belanda adalah ‘bangsawan pikiran’ yang mulai muncul dalam ruang publik pada dekade pertama abad ke-20. Istilah itu merupakan sebuah kode untuk menamai generasi baru dari orang-orang Hindia Belanda yang terdidik secara modern dan ikut serta dalam gerakan menuju kemadjoean, berlawanan dengan istilah ‘bangsawan oesoel’ yang dikaitkan dengan kebangsawanan yang lama. Istilah ‘bangsawan pikiran’ digunakan baik untuk menunjuk pada individu ‘intelektual’ maupun pada entitas kolektif ‘inteligensia’ Hindia Belanda. Untuk menegaskan mulai hadirnya komunitas baru inteligensia seperti yang dibayangkan, maka kolektivitas ‘bangsawan pikiran’ itu kemudian diberi nama ‘kaoem moeda’, sementara kolektivitas ‘bangsawan oesoel’ diberi nama ‘kaoem toea’ atau ‘kaoem koeno’. Pada tahun 1910-an, penentangan para anggota inteligensia terhadap bangsawan tua memunculkan sebuah upaya untuk memisahkan kata ‘pikiran’ dari kata ‘bangsawan’, karena istilah ‘bangsawan’ secara implisit berarti mengagung-agungkan hak istimewa dari bangsawan lama. Maka, kemudian muncullah istilah ‘kaoem terpeladjar’, ‘pemoeda- peladjar’ atau jong (dalam bahasa Belanda). Istilah-istilah ini digunakan untuk merujuk kepada sebuah entitas kolektif dari
orang-orang yang terdidik secara modern.
Sementara formasi sosial dari elit berpendidikan modern di Indonesia menyerupai pembentukan inteligensia dalam konteks Eropa Timur, kerangka-kerja intelektual dan konseptual dari inteligensia Indonesia sangat dipengaruhi oleh literatur-literatur teoretis Eropa Barat. Kata ‘Dreyfusiana’—yang merujuk pada pahlawan intelektual Eropa Barat, Alfred Dreyfus—digunakan oleh koran berbahasa daerah di Hindia Belanda, Pembrita Betawi
(1901-1903) sebagai nama dari salah satu rubriknya. Istilah Belanda ‘intellectueel(en)’—untuk mengatakan ‘intelektual’— diadopsi dalam tulisan-tulisan para anggota inteligensia Hindia Belanda sejak tahun 1910-an dan mulai mendapatkan populeritasnya di ruang publik pada tahun 1920-an. Hal ini ditandai dengan berdirinya perhimpunan pertama di Hindia Belanda yang menggunakan kata ‘intellectueelen’ pada tahun 1923 yang bernama ‘Bond van Intellectueelen’. Di sisi lain, istilah ‘inteligensia’ baru mulai diadopsi dalam tulisan-tulisan komunitas inteligensia di Hindia Belanda pada tahun 1930-an dan lebih sering digunakan dalam wacana intelektual sejak tahun 1940-an, namun tak pernah sepopuler kata ‘intellectueel(en)’ atau intelektuil.23 Kecenderungan orang Indonesia untuk
menggunakan istilah ‘intellectueelen’ (dengan ragam ejaannya) secara saling dipertukarkan dengan istilah ‘inteligensia’ mengikuti kecenderungan yang sama seperti yang berlangsung di Eropa Barat. Maka, sesuatu yang umum dalam wacana intelektual Indonesia untuk menggunakan istilah ‘intellectueel(en)’ untuk merujuk pada entitas kolektif dari suatu kelompok inteligensia tertentu, atau untuk menggunakan istilah ‘intelegensia’ untuk merujuk pada individu intelektual.
Kesulitan yang dialami oleh orang Indonesia untuk membedakan antara ‘intelligentsia’ dan ‘intelektual’ menjadi lebih parah lagi
setelah populernya istilah ‘cendekiawan’. Istilah ini pada dasarnya merupakan sebuah neologisme, yang disinonimkan baik dengan ‘inteligentsia’ maupun dengan ‘intelektual’ (Kridalaksana 1994). Istilah tersebut merupakan neologisme karena makna asal dari istilah tersebut sangat berbeda dari makna dan asosiasinya pada masa kini. Sebagai sebuah neologisme, istilah tersebut mengandung kemungkinan perbedaan pemaknaan dan formasi diskursif yang berlawanan.
Menurut kamus bahasa Melayu sebelum abad ke-20 yang disusun oleh R.J. Wilkinson (1903; 1985), istilah ‘cendekiawan’ secara etimologis berasal dari bahasa Hindustan ‘chhandi-kya’ atau ‘chandakiya’ yang ketika diadopsi ke dalam bahasa Melayu klasik (sebelum abad ke-20) memiliki arti ‘penipu’ atau ‘pendaya’ (orang yang licik). Kata ini misalnya dipakai dalam teks Melayu tradisional, Hikayat Gul Bakuwali, dalam ungkapan-ungkapan seperti ‘chandakiya mana’, yang memiliki arti ‘sungguh seorang penipu’, ‘sungguh seorang yang licik’. Sir Richard Winstedt dalam kamusnya (1960) juga mendeksripsikan kata chèndèkia
dalam bahasa Melayu sebagai bentuk ubahan dari kata chandakia
yang bermakna penipuatau pendaya, namun di daerah Negeri Sembilan,24hal itu berarti ‘cherdek’ (cerdik) atau ‘pintar’.
Dalam bahasa Indonesia, kata ‘tjendekia’ muncul dalam kamus yang disusun oleh W.J.S Poerwadarminta, yaitu Kamus Umum Bahasa Indonesia (1951), dimana kata itu disebutkan berarti berakal, pandai, tjerdik dan litjik, dan dalam kamus susunan Sutan Mohammad Zain, yaitu Kamus Modern Bahasa Indonesia (1960), disebutkan kata itu memiliki arti tjerdik. Lebih dari itu, Zain menyatakan bahwa kata itu berkaitan dengan kata Tjanakja, yang merupakan mantan Perdana Menteri dari sebuah Kerajaan di India pra-modern, yang cukup terkenal karena kepintarannya dalam beretorika. Yang terakhir, J. Gonda
dalam karyanya Sanskrit in Indonesia(1952) berargumen bahwa kata ‘cendekia’ atau ‘candakiya’ (dalam bahasa Melayu klasik) merupakan turunan dari kata ‘canakya’. Kata ini mungkin merujuk pada nama dari seorang menteri dalam pemerintahan Candra Gupta di India (pada abad ke-4) yang terkenal karena dia cerdik dan pintar dalam retorika. Sebagai alternatif, dia mengatakan kata ‘canakya’ bisa juga merupakan turunan dari kata Hindi ‘chandi’ yang memiliki arti licik dan penipu. Sehingga, dalam dunia Minangkabau, kata itu telah dipakai untuk menyebut seseorang yang sangat cerdik ataupun licik.
Pada tahun 1960-an, istilah ‘cendekiawan’ (atau ‘tjendekiawan’ dalam ejaan lama) mulai memiliki konotasi politiknya bersinonim dengan konsep ‘intelektual’ atau ‘inteligensia’. Ini terlihat dari berdirinya sebuah perhimpunan intelektual sayap kiri, Organisasi Tjendekiawan Indonesia (OTI) pada awal tahun 1965. Tidak lama kemudian, majalah perjuangan milik Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI) cabang Bandung, yaitu Tjendekiawan Berdjuang
terbit pada tahun 1966. Pada tahun 1970-an, istilah tersebut dipergunakan secara reguler dalam wacana publik Indonesia sebagai dampak dari kebijakan Orde Baru untuk menggantikan kata-kata dan peristilahan-peristilahan dari Barat dengan kata- kata dan peristilahan-peristilahan Indonesia. Pada tanggal 29 Maret – 2 April 1979, berlangsung sebuah seminar di Menado mengenai ‘Peranan dan Tanggung Jawab Cendekiawan dalam Pembangunan’. Beberapa bulan kemudian (November 1976), majalah Prisma (yang merupakan jurnal sosial ekonomi Indonesia yang paling terkenal sepanjang tahun 1970-an dan 1980-an) menerbitkan sebuah edisi khusus (No. 11) yang berjudul ‘Cendekiawan’. Dalam kedua kasus itu, istilah ‘cendekiawan’ dipergunakan untuk merujuk baik pada individu ‘intelektual’ (yang mencakup mulai dari ulama dan jenius lokal sampai
dengan intelektual berpendidikan modern) maupun pada representasi kolektif dari ‘intelligentsia’.25
Sepanjang tahun 1980-an dan 1990-an, istilah ‘cendekiawan Muslim’ telah dipergunakan secara luas dalam wacana publik. Pengaitan cendekiawan dengan kata sifat ‘Muslim’ dalam rentang waktu ini mencerminkan semakin berkembangnya pengaruh dari inteligensia Muslim sebagai akibat dari meningkatnya jumlah
sarjana Muslim, penemuan ruang-komunikatif inteligensia Muslim yang berpusat di masjid-masjid kampus universitas ‘sekuler’, berkembangnya pengaruh para intelektual Muslim yang berlatar pendidikan universitas di Barat, serta pendalaman akomodasi inteligensia Muslim ke dalam politik dan birokrasi Orde Baru. Dalam konteks inilah, istilah ‘cendekiawan’ terutama dipertautkan dengan identitas-identitas kolektif partikular yang berasal dari kesamaan habitus, sistem nilai, struktur kognitif dan ingatan-ingatan kolektif, ketimbang dari ‘panggilan’ historis atau fungsi sosial tertentu (yang merupakan dasar bagi terbentuknya kolektivitas intelektual).
Kata sifat ‘Muslim’ sebagai suatu ikon dari suatu identitas/tradisi kolektif tertentu sering dihidupkan dalam perjuangan kuasa baik dalam poros relasi negara-masyarakat maupun dalam perbenturan-perbenturan antar kelompok dalam masyarakat. Berdirinya berbagai perhimpunan kaum terdidik Muslim seperti JIB (1925), SIS (berdiri tahun 1934), GPII (berdiri tahun 1945), HMI (berdiri tahun 1947), PII (berdiri tahun 1947), IPNU (berdiri tahun 1954), PMII (berdiri tahun 1960), IMM (berdiri tahun 1964), Persami(berdiri tahun 1964), ICMI (berdiri tahun 1990), dan KAMMI (berdiri tahun 1998) bisa dilihat sebagai monumen-monumen dalam reproduksi tradisi-tradisi dan identitas- identitas kolektif inteligensia Muslim dalam pergulatannya untuk menyejarah.
Dalam konteks ini, jelas bahwa kolektivitas dari orang-orang terdidik Muslim dalam berbagai perhimpunan tersebut dan juga dalam banyak organisasi kultural dan politik lainnya lebih baik dipahami sebagai kolektivitas dari ‘inteligensia’ ketimbang sebagai kolektivitas dari ‘para intelektual’. Meski demikian, penting dicatat bahwa tak ada kolektivitas tanpa para intelektual. Mengutip pendapat Gramsci (1959: 67):
Tak ada organisasi tanpa intelektual, dengan kata lain, tanpa pengorganisir dan pemimpin, tanpa aspek teoretis dari kesatuan teori-dan-praktik yang dalam kongkretnya terwujud dalam strata orang-orang yang ‘berspesialisasi’ dalam elaborasi konseptual dan filosofis.
Untuk menyebut individu-individu intelektual sebagai perumus- ulang dan artikulator dari ideologi-ideologi dan identitas-identitas kolektif, dalam buku ini akan digunakan istilah ‘intelektual organik’ yang diadopsi dari Gramsci. Namun berbeda dengan konsepsi Gramsci (yang mendasarkan istilah tersebut dengan landasan kelas sosial), ‘intelektual organik’ dalam studi ini akan dipertautkan terutama dengan kelompok-kelompok solidaritas kultural (terkadang disebut aliran). Gramsci berteori bahwa para intelektual organik dari suatu kelas tertentu (atau kelompok tertentu untuk konteks kajian ini) harus muncul dari kelas (atau kelompok) mereka sendiri, sementara dalam konteks Indonesia, hal itu tidak berlaku. Banyak pemimpin partai komunis, seperti Tan Malaka, Alimin dan Aidit, justru berasal dari keluarga- keluarga priyayi (rendahan) dan keluarga borjuis kecil. Saat bersamaan, para intelektual organik dari kelompok santri
mungkin saja berasal dari keluarga non-santri. Dalam proses pergaulan dan interrelasi sosial, setiap identitas bisa berubah
dan bertransformasi. Maka, ‘organik’ dalam artian ini hanya sekadar untuk menunjukkan bahwa jenis intelektual semacam ini merupakan bagian integral dari kekuatan-kekuatan sosial, dan ini berarti menentang konsepsi Weber mengenai intelektual yang terpisah dari masyarakat.
Di sisi lain, fakta bahwa para pemimpin Partai Komunis Indonesia kebanyakan berasal dari keluarga-keluarga yang bukan kelas-buruh, mengindikasikan pentingnya mempertimbangkan penegasan Weberian mengenai sumber-sumber kultural dari legitimasi keintelektualan. Penguasaan pengetahuan melalui lembaga-lembaga pendidikan keagamaan dan sekuler selalu merupakan satu komponen penting untuk menyandang predikat intelektual, meskipun tipe pengetahuan dan lembaga pendidikan yang memiliki prestise sosial itu mungkin sangat beragam pada waktu yang berlainan dan dalam konteks-konteks sosio-kultural yang berbeda-beda (Miller 1999: 26). Jadi, para intelektual organik dari kolektivitas-kolektivitas Muslim modern muncul dari para anggota komunitas ‘inteligensia’ dan ‘clerical inteligensia’
(inteligensia-klerikus)—bernama ‘ulama-intelek’, yang memiliki kualifikasi-kualifikasi pendidikan sebagai sumber legitimasi (keintelektualannya).
Kuasa (Power)
Mengikuti pandangan Foucault, istilah ‘kuasa’ (power) di sini merujuk pada ‘totalitas struktur tindakan’ untuk mengarahkan tindakan dari individu-individu yang merdeka. Kuasa dijalankan terhadap mereka yang berada dalam posisi untuk memilih, dan ditujukan untuk mempengaruhi pilihan mereka. Maka, kuasa melibatkan ‘permainan-permainan strategis di antara pihak- pihak yang memiliki kebebasan memilih’ (strategic games between liberties) (Foucault 1980: 220; Hindess 1996: 99-100).
Foucault mengeritik teori politik tradisional tentang kuasa (power) paling tidak karena tiga alasan.26Pertama, teori dominasi
ortodoks atau ‘teori kedaulatan’ tentang kuasa (power) memandang kuasa sebagai sesuatu yang secara fundamental bersifat occasional
(hadir sekali-kali). Kuasa dianggap sebagai apa yang dimiliki oleh yang berkuasa, dan terserah kepada yang berkuasa untuk menggunakannya atau tidak. Konsepsi kuasa ini, menurut Foucault, beresiko menghalangi pemahaman kita akan semakin meningkatnya intervensi-intervensi kuasa dalam kehidupan sosial (Foucault 1980: 92-114; Pasewark 1993: 7-9).
Kedua, konsepsi tradisional, seperti halnya teori-teori Marxis, memandang kuasa sebagai sesuatu yang secara fundamental terkait dengan Negara dan hanya dimiliki oleh sekelompok kecil orang. Pandangan monolitik atas kuasa ini dikritik Foucault karena menutup mata terhadap praktik kuasa yang dilakukan oleh beraneka ragam aktor dan kekuatan sosial serta melupakan usaha untuk menganalisa strategi-strategi resistensi terhadap kuasa (Foucault 1980: 156; Pasewark 1993: 9). Untuk beranjak dari pemahaman kuasa seperti itu, Foucault mengembangkan suatu model pemahaman kuasa (power) yang berbeda, dengan tidak menempatkan kuasa sebagai suatu pemilikan (melulu) di tangan Negara secara monolitik. Foucault menyatakan: ‘Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Negara itu tidak penting; namun saya hanya hendak mengatakan bahwa relasi-relasi kuasa...niscaya melampaui batas-batas kekuasaan Negara’ (1979: 38). Jadi, Foucault tampaknya tidak bermaksud mengecilkan pentingnya kuasa Negara; alih-alih dia hendak menegaskan bahwa ‘kuasa’ itu beroperasi di seputar dan melalui jejaring yang tumbuh di sekeliling institusi-institusi Negara; dalam artian tertentu, kuasa itu selalu tersebar secara lebih luas di seluruh masyarakat ketimbang yang kita sadari. Kuasa dianggap sebagai
sebuah sosok yang selalu ada dalam interaksi sosial. Kuasa (power) ada di mana-mana dan bisa dijalankan oleh siapapun (Mills 1999: 39; Hindess 1996: 100).
Ketiga, ‘teori kedaulatan’ menempatkan kuasa dan pengetahuan dalam suatu relasi yang tidak saling berhubungan satu sama lain. Pengetahuan diasosiasikan bukan dengan kuasa (power), namun dengan rasio. Pemisahan ini, dalam pandangan Foucault, menyembunyikan keterlibatan kuasa dalam pengetahuan. Pengetahuan dianggap sebagai sebuah ranah yang berdiri sendiri, seolah-olah tak memiliki kepentingan dengan kuasa. Bagi Foucault, pengetahuan itu tak terpisahkan dari kuasa karena kuasa saat ini (modern power) memasuki semua aspek kehidupan sosial. Pengetahuan dipahami sebagai sebuah instrumen sekaligus efek dari kuasa (Foucault 1979a: 27, 257-308; Pasewark 1993: 8-9).
Foucault lalu membedakan antara relasi kuasa sebagai ‘permainan strategis antara pihak-pihak yang merdeka (strategic games between liberties) dengan dua tipe relasi kuasa lainnya, yaitu ‘dominasi’ (domination), dan ‘pemerintahan’ (government) (Foucault 1988: 19). Konsepsi kuasa sebagai permainan-permainan strategis antara pihak-pihak yang merdeka menjadi inti dari cara Foucault memahami kuasa secara umum. Dalam konsepsi ini, kuasa ‘menentukan relasi antar mitra’ dalam suatu ensemble tindakan-tindakan (Foucault 2000: 17). Jadi, kuasa mengandaikan adanya kebebasan untuk memilih dan dijalankan terhadap subyek-subyek bebas yang memiliki kebebasan untuk memilih dan mempengaruhi. Maka, ‘dimana tak ada kemungkinan untuk melakukan resistensi, tak ada pula relasi kuasa’. ‘Karena itulah, relasi kuasa seringkali bersifat tak stabil, ambigu dan timbal- balik’ (Hindess 1996: 101).
masih tetap mungkin dilakukan, hanya saja jauh lebih sulit dilakukan. Dominasi sendiri menunjuk pada relasi kuasa yang bersifat asimetris dimana di dalamnya orang-orang yang tersubordinasi memiliki sedikit ruang untuk bermanuver karena ‘ruang kebebasan mereka untuk bertindak sangat terbatas’ oleh karena efek dari kuasa (Foucault 1988: 12; Hindess 1996: 103).
Kuasa yang dijalankan dalam ‘pemerintahan’ terletak di antara ‘dominasi’ dan ‘permainan-permainan strategis antara pihak-pihak yang merdeka’. Konsepsi ‘Pemerintahan’ terutama berasosiasi dengan konsepsi tentang ‘memimpin’ (conducting) (dalam artian mengarahkan dan atau mengontrol serangkaian tindakan). Konsep itu merujuk pada pelaksanaan kuasa atas pihak lain yang kurang bersifat spontan (dalam artian dengan cara-cara yang lebih diperhitungkan dan dipertimbangkan seksama), dan terutama sekali, pada penggunaan dan pembentukan cara-cara untuk mengatur perilaku. Dalam pandangan Foucault, ‘terdapat berbagai bentuk pemerintahan yang terentang mulai dari yang menjalankan dominasi secara nyata di satu sisi, sampai dengan yang menjalankan relasi-relasi kuasa yang bersifat tak stabil dan bersifat timbal-balik (riversible) di sisi yang lain’ (Hindess 1996: 107). Pemerintahan otoritarian secara ekstensif menjalankan tipe kuasa dominasi, sementara pemerintahan yang demokratik memberikan lebih banyak ruang bagi relasi-relasi kuasa yang bersifat timbal-balik.
Berdasarkan pembedaan Foucault mengenai tiga tipe relasi kuasa, dalam studi ini akan ditekankan bahwa yang menjadi problem dalam relasi kuasa di Indonesia ialah karena ‘kuasa pemerintahan-negara’ untuk kurun terpanjang dalam sejarah Indonesia secara ekstensif telah menjalankan tipe kuasa ‘dominasi’ ketimbang relasi-relasi kuasa yang bersifat timbal-balik. Karena
praktik dominasi senantiasa diiringi dengan praktik diskriminasi dan favoritisme, hal ini pada gilirannya mempengaruhi relasi- relasi kuasa antar individu serta antar kelompok yang ada dalam masyarakat. Sehingga, ‘dominasi’ dijalankan bukan hanya dalam interaksi negara dan masyarakat, namun juga dalam relasi-relasi kuasa yang terjadi dalam masyarakat.