• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Wawancara Kepada warga belajar KUM di PKBM Handayani Kelompok Al-Ahsan) A. Perubahan Warga Belajar Pasca KUM

1. Perubahan dalam Pengetahuan / Knowledge

Apakah warga belajar tahu tentang penyelenggaraan KUM?

KS : “yaah awal tidak tau sama sekali, KUM itu apa mbak”

MS : “tidak mbak, saya juga cuma katanya-katanya saja kalau KUM itu lanjutan dari KF dulu”

KR : “yaah,,boro-boro mbak saja tidak tau apa-apa waktu itu sekedar mau saja disuruh ikut”

SL : “tidak mbak, tahu-tahu setelah mengikutinya”

RM : “tidak tahu kalau ternyata KUM lanjutan dari pemberantasan buta huruf dulu”

TK : “tidak tahu, cuma diajak saya saat itu”

PN : “saya diajak sama bu UM untuk melanjiutkan ikut pemberantsana buta huruf seperti dulu”

NK : “yah, saya tahu mbak dikit-dikit dari bu UM, kalau ada program lanjutan KF yaitu KUM dan ada ketrampilannya. Iseng-iseng buat kegiatan mbak ikut KUM ini, Iseng-iseng buat kegiatan mbak ikut KUM ini. Waktu itu juga saya masih menganggur di rumah”

SN : “tidak tahu mbak, saya diajak PN”

TM : “saya cuma ikut-ikut saja mbak, ada sekolah gratis buat simbah-simbah seperti saya. Jadi ada kegiatan juga mbak kalau sore setelah dari sawah, tidak ngrumpi dengan ibu-ibu”

Kesimpulan : Mereka awalnya tidak tahu tentang program Kum yang diselenggarakan PKBM Handayani itu adalah lanjutan dari KF atau keaksaraan dasar yang pernah mereka ikuti, tetapi UM telah mengajak dan memberikan motivasi kepada mereka untuk mengkuti program KUM

Apakah warga belajar sudah mengimplementasikan kemampuan calistung dalam kehidupan sehari-hari?

KS : “sudah mba, kadang saya membantu anak saya mengerjakan PR, mencatat hasil memetik melati dan sesekali mencatat hutang di warung takut-takut saya lupa hutang sendiri”.

MS : “sudah diterapkan mbak, saya sekarang saya sudah bisa menghitung harga barang-barang yang saya jual untung dan ruginya tidak perlu bingung-bingung lagi atau salah menghitung, walaupun kadang masih

167

pakai kalkulator. Dan sering mencatat hasil panen suami saya juga, membeli bibit dan pupuk”

KR : “sudah mbak, bisa membantu anak mengerjakan PR sekolah”

SL : “yaah..sudah mbak sedikit-dikit untung menghitung hasil memetik bunga. . Saya tulis di catatan kecil setiap harinya”

RM : “sedikit-dikit sudah untuk membaca koran kadang-kadang mantu saya yang bawa dari pasar atau sekedar hitung-hitungan dengan warung ” TK : “yaah kadang-kadang masih perlu dieja untuk membaca, tapi kalau

hitung-hiutngan saya sudah lancar sambil diajari cucu”

PN : “sudah untuk hitung-hitung dengan suami atau cucu saya mbak” NK : “sudahlah mbak, saya kan juga bekerja di pabrik dan dibagian

pengemasan, jadi ada menghitun-hitung hasil kemasannya dalam satu hari”

SN : “sudah, buat mencatat hasil memetik bunga tiap harinya” TM : “sudah mbak, kadang belajar sama cucu saya”

Kesimpulan : Mereka telah mampu mengimplementasikan kemampuan calistung yang mereka miliki dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun pekerjaanya.

Apakah warga belajar memahami keinginannya berusaha berdasarkan minat dan kemampuan yang dimiliki?

KS : “kalau untuk usaha saya tidak ingin mbak, tidak ada modal juga mbak”

MS : “yaah saya tahu mbak, karena itu saya telah membuka warung walalupun kecil-kecil tapi saya tekuni mbak”

KR : “tidak punya modal mbak, walaupun keinginan itu ada mbak” SL : “boro-boro mbak, yang saya bisa cuma ke sawah saja”

RM : “terhalang modal mbak.. ”

TK : “yaah saya sudah menikmati bekerja di sawah mbak, memetik melati saja”

PN : “tidak punya modal mbak,”

NK : “sebenarnya ingin buka usaha mbak seperti warung, tapi bekerja dipabrik saja sudah menyita banyak waktu mbak. Yaah sudah menikmati saja bekerja dipabrik juga sudah lumayan gajinya”

SN : “tidak punya modal, dari sawah saja kadang pulang sudah cape mbak” TM : “tidak ada uang mbak..”

Kesimpulan : Mereka cenderung telah merasa nyaman dengan pekerjaan mereka sehari-hari, sedangkan keinginan untuk membuka usaha ada tapi

168

kembali terhalang karena keterbatasan modal usaha atau uang yang dimilikinya.

Apakah warga belajar mengetahui etika kerja dalam kelompok usaha? KS : “yaah pembagian keuntungan rata mbak”

MS : “Pembagian keuntungan rata mbak”

KR : “saling kerjasama sama dan pembagian keuntungan semua rata” SL : “bagi hasil bersama mbak”

RM : “saling mengingatkan, yaah kan takutnya ada yang korupsi” TK : “bagai keuntungan sama rata”

PN : “pembagian keuntungan rata,”

NK : “keterbukaan, kerjasama, adil dalam membagi hasil kerja” SN : “saling percaya satu sama lain”

TM : “yang sama-sama adil”

Kesimpulan : Mereka telah memahami dan mengetahui bagaimana bekerja dalam sebuah kelompok usaha yang harus ada keterbukaan, kerjasama, keadilan dalam membagi hasil atau keuntungan usaha bersama.

2. Perubahan dalam Skill

Apakah warga belajar berkemampuan menyusun rancangan usaha dan menjalankan usaha mandiri yang dikembangkan?

KS : “waah sekarang sudah lupa mbak, dulu waktu masih ikut KUM kami diajari”

MS : “Alhamdulliah sudah bisa mbak, walaupun kecil-kecilan seperti ini” KR : “sudah lupa mbak”

SL : “tidak mbak, sudah lama tidak dipakai”

RM : “tidak mbak”

TK : “tidak mbak”

PN : “sudah lupa mbak dulu, sudah tidak pernah produksi lagi seperti dulu rutin setiap minggu”

NK : “sudah tidak bisa mbak, lupa dulu waktu kum. fokus saya sudah bekerja di pabrik.”

SN : “tidak lah mbak, sudah lupa”

TM : “sama sekali tidak bisa mbak, saya waktu itu ikut-ikutan saja”

Kesimpulan : Sebagian besar dari mereka tidak bisa merancang sebuah usaha, dan menjalankan usaha mandirinya. Pengetahuan yang didapatkan mereka ketika pelaksanaan KUM sudah sebagian besar merak lupakan karena terlalu sibuk dengan bekerjaanya.

169

Apakah warga belajar berkemampuan meningkatkan pendapatannya dengan pekerjaan saat ini?

KS : “Insyaallah sedikit-dikit mbak”

MS : “Alhamdulliah pelan-pelan mbak sambil bantu suami” KR : “Insyaallah sudah cukup untuk makan dan sehari-hari”

SL : “belum mbak, kadang masih suka hutang kewarung tetangga, tapi mau bagaimana lagi tetap disyukuri”

RM : “yaah Insyaallah mba pelan-pelan saja” TK : “belum mba, masih kadang sangat berhemat” PN : “sedikit-dikit mba”

NK : “Insyaallah sudah mbak, bisa buat beli susu anak dan masak sehari-hari sambil menabung”

SN : “yaah pelan-pelan mbak, bisa menutup hutang juga diwarung” TM : “belum, masih kadang dikasih sama anak saya mbak”

Kesimpulan : Sebagian besar dari mereka sudah bisa meningkatkan pemasukan atau pendapatan keluarga walaupun belum maksimal tetapi mereka sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan membantu suami, adanya perubahan tingkat kesejahteraan hidup sebagian warga belajar.