• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Wawancara Kepada warga belajar KUM di PKBM Handayani Kelompok Al-Ahsan)

4. Akses Terhadap Pemenuhan Pangan Sehari-Hari

6) Sebelum mengikuti program keaksaraan usaha mandiri bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan makan sehari-hari anda?

KS : “yah biasa mbak, makan sehari tiga kali. Kalau pagi tidak sempet memasak makanan yang kemarin diangetin lagi. Yang penting masih bisa makan mbak dengan lauk seadanya dan semampunya beli. Maklum mbak, uangnya dibagi-bagi untuk kebutuhan yang lain”

MS : “saya dan keluarga saya yaaah makan seadanya sayuran dan lauk di warung mbak, jarang saya ke pasar untuk belanja dalam jumlah banyak melihat kondisi keuangan juga. Makan dengan ayam bisa dihitung sebulannya paling 2-3 kali”

KR : “makan 3 kali sehari dengan lauk apa saja mbak yang penting bisa makan dan sehat mbak tidak perlu makan ayam sering. Kalau ada uang beli kakau tidak yaah makan ayamnya kapan-kapan saja”

SL : “makan yang penting pake nasi, kalau lauk paling tempe tahu saja itu sudah sehat mbak yang penting masih bisa makan”

RM : “saya mah makannya tiga kali sehari itupun kalau ada sayuran yang dimasak kalau tidak ada paling dapat kiriman dari anak saya ”

TK : “kadang 3 kali sehari kadang 2 kali sehari tergantung dapat rezekinya mbak, kadang juga dapat kiriman dari anak saya”

PN : “terpenuhi mbak 3 kali sehari, dengan sayur dan lauk apa saja ”

NK : “sangat terpenuhi mba 3 kali sehari kan saya juga masih ikut orangtua saat itu, belum bekerja juga”

SN : “sama mbak dengan kebanyakan orang makan 3 kali sehari, walaupun hanya sesekali makan dengan ayam atau telor”

TM : “tiga kali sehari mbak, kadang juga dua kali kalau keuangan suda mulai menipis, nanti ujung-unjungnya hutang”

Kesimpulan : Warga belajar rata-rata sudah makan tiga kali sehari dengan lauk dan sayur yang seadanya, mereka hanya beberapa kali saja makan ayam dan telor dan terkadang mereka mendapat kiriman dari putra-putrinya.

7) Berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk belanja sehari-hari?

KS : “besar-besarnya yaah diminimalkan jadi 15ribu, itu saja kadang kator masih hutang di warung untuk minyak atau berasnya mbak ”

177

MS : “besar-besarnya pada saat itu yaah 15ribu sampai 20ribu seharinya mbak”

KR : “10 ribu sampai 17ribu, itu saja kadang masih hutang di warung” SL : “paling mentok-mentoknya 15 ribu mbak, itu saja kadang masakannya

habis sampai makan siang saja”

RM : “17 ribu mbak setiap harinya buat makan, itu kalau persediaan beras dan bumbu-bumbu masih banyak ”

TK : “banyak-banyaknya setiap hari 20 ribu mbak, kadang kalau lauknya habis malamnya nasi yang sisa di buat nasi goreng”

PN : “15 ribu saja mbak, itu juga kalau belanja di warung sudah dapat banyak karena sisanya masih hutang ”

NK : “25 ribu setiap harinya mbak, kan yang makan juga satu keluarga bapak, ibu saya dan dua adik saya mbak”

SN : “15 ribu saja sudah cukup mbak, di minimalisir buat kebutuhan yang lain yang penting ada sayur dan lauknya

TM : “paling sekitar 15 ribu mbak”

Kesimpulan : Warga belajar rata-rata menghabiskan uang 15 ribu sampai 20 ribu untuk kebutuhan makan sehari-hari, itu saja di luar dari belanja bahan pokok seperti beras, minyak dan bumbu dapur.

8) Apakah penghasilan pada saat itu cukup untuk kebutuhan makan dan kebutuhan lain dalam satu bulan?

KS : “yah biasa mbak dicukup-cukupkan, dapat tambahan uang dari suami juga, pintar-pintarnya mengatur uang buat sekolah anak juga”

MS : “alhamdulillah dipas-pasin mbak, kadang juga masih hutang ke warung kalau sudah tidak ada pegangan uang lagi baik saya maupun suami”

KR : “cukup tidak cukup mbak, orang satu bulan saja penghasilannya tidak tentu ditambah buat biaya sekolah anak juga”

SL : “tidak cukup mbak, kadang saja jugahutang diwarung langganan RM : “tidak cukup mbak, apalagi harga bumbunya dan minyak mahal, kalau

tidak memiliki persediaan malah uang buat beli lauk malah buat beli minyak ”

TK : “kadang cukup kadang kurang tergantung rezeki yang didapat mba, suami juga kagang tidak tentu penghasilannya orang hanya buruh srawutan”

PN : “dicukup-cukupin mbak, biarpun harus hutanghutang yang penting anak bisa makan dan sekolah ”

178

NK : “dulu saya belum berpenghasilan jadinya kebutuhan makan masih ditanggung orangtua mbak”

SN : “kadang pas minim kadang kurang, maklum mbak say juga ada cucu yang tinggal di rumah jadi kadang buat beli jajan cucu”

TM : “tidak cukup mbak, upah tidak seberapa untuk makan 2minggu saja kadang sudah habis”

Kesimpulan : Warga belajar mersa penghasilannya saat itu setiap bulannya masih kurang untuk memenuhi kebutuhan pangan dan lain-lain sehari-hari. Terkadang mereka sampai hutang di warung untuk bisa makan dan menyekolahkan anak-anaknya.

9) Apakah makanan yang anda konsumsi sudah mencakup 4 sehat lima sempurna?

KS : “yah insyaallah sudah mbak, sayur , tahu dan tempe buahnya paling pisang dari kebun, kalau susu mahal masih sehta minum air putih” MS : “sepertinya sudah mbak, ada sayurnya, lauknya buahnya juga ada

kalau musim angga makan mangga, kalau rambutan yaah makan rambutan mbak”

KR : “yaaah yang penting sehatnya tu dapat mbak, apa saja yang dimakan yang penting juga halal”

SL : “bagi saya yaah belum, orang saya dan keluarga saya juga makan seadanya mbak”

RM : “sudah mbak biarpun tidak pakai susu tapi kan air putih lebih sehat dan murah meriah mbak ”

TK : “yaah belum mbak, makan ikan atau ayam saja jarng mbak gimana mau 4 sehat 5 sempurna apalagi minum susu mbak tidak pernah”

PN : “4 sehatnya sudah mbak, tapi tidak dengan makan ayam mbak jarang-jarang ”

NK : “4 sehat 5 sempurna mbak, kalau ada buah atau susu ya dimakan. Makan ayam ya kadang-kadang kan saya maish ikut orangtua yaag semasaknya ibu mbak di rumah”

SN : “belum,makan saja seadanya mbak”

TM : “belum, buat makan sama ayam saja itu satu bulan sekali mbak itu saja kalau dapat rezeki lebih”

Kesimpulan : Warga belajar rata-rata makanan yang mereka konsumsi belum mencakup 4 sehat 5 sempurnya, untuk makan ayam maupun ikan saja hanya satu sampai dua kali dalam satu bulan, yang penting bagi mereka adalah sehat dengan makan apa saja.

179

10)Setelah mengikuti program KUM apakah penghasilan saat ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari? Jika sudah adakah perubahan dalam pemenuhan kebutuhan pangan?

KS : “alhamdulillah dicukup-cukupkan mbak, sedikit-sedikit bisa belajar untuk menutup hutang di warung mbak, sesekali makan ayam”

MS : “alhamdulilah mbak, sangat jauh perubahannya terlebih sekarang saya juga punya warung sediri jadi lebih mudah dan menguntungkan mbak. Bisa makan ayam dan telor dalam satu minggu, setidaknya berusaha untuk memenuhi kebutuhan gizi anak saya”

KR : “yaah alhamdulillah mbak biarpun sedikit-dikit bisa makan dengan ayam satu dua kali dalam 2 minggu dan masih punya simpanan untuk kebutuhan anak. Lebih dari cukup”

SL : “yaaah sama saja mbak, dari dulu orang penghasilan saya juga naik turun mbak, buat memenuhi kebutuhan makan kdang cukup kadang kurang banyak”

RM : “perubahannya ya ada mbak, namanya juga kebutuhan makan semakin hari semakin naik, itu juga buat kesehatan anak dan keluarga saya juga mbak”

TK : “sami mawon mbak, dari dulu yaah makannya seperti itu-itu saja yang penitng sehat”

PN : “sama saja mbak, yang penting alhamdulillah masih bisa makan dan diberi kesehatan sampai sekarang ”

NK : “alhamdulillah mbak, semenjak saya juga bekerja dan punya keluarga saya bisa mandiri dan memenejemen keuangan setidaknya tidak kelaparan dan anak-anak bisa sekolah. Makannya tidak hanya sayur maupun tahu tempe sesekali ayam dan ikan dalam satu minggu”

SN : “sedikit-dikit ada perubahan mbak, biarpun masih harus berutang tapi setidaknya kebutuhan makan kami tercukupi”

TM : “masih sama mbak dari dulu, yang penting alhamdulillah sudah bisa makan saja sudah bersyukur

Kesimpulan : Warga belajar rata-rata penghasilannya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dan pangan yang mereka konsumsi mengalami perubahan dari yang semula hanya makan tahu tempe, saat ini bisa makan ayam walaupun satu dua kali.

180