(Wawancara Kepada warga belajar KUM di PKBM Handayani Kelompok Al-Ahsan) 5. Akses terhadap Kepemilikan Rumah / Kondisi Rumah
6) Sebelum mengikuti KUM bagaimana kondisi bangunan fisik rumah? KS : “seperti-seperti ini saja mbak”
MS : “dari dulu seperti ini mbak” KR : “seperti ini”
SL : “dari dulu seperti ini mbak” RM : “dari dulu seperti ini mbak” TK : “dari dulu seperti ini mbak” PN : “seperti ini saja”
NK : “ya dulu saya masih ikut orangtua mbak” SN : “dari dulu seperti ini mbak”
TM : “seperti ini”
Kesimpulan : Warga belajar Kelompok usaha Al-Ahsan memiliki bangunan rumah yang dapat dikatakan sudah layak huni dan tempat, walaupun beberapa diantara mereka ada yang masih berlantai non kermik, tapi dinding sudah tembok.
7) Adakah perubahan fisik rumah dengan adanya kelompok usaha ini? KS : “tidak ada”
MS : “yaah sedikit berubah mbak, sekedar bagian belakang rumah ditambahkan kamar mandi mbak, ada mushola dan ruang depan yang disekat sebagai tempat berjualan supaya tidak memakan lahan lagi untuk membangun”” KR : “tidak ada” SL : “tidak ada” RM :“tidak” TK : “tidak mbak” PN : “tidak”
NK : “Alhamdulillah mbak, sudah bisa bangun rumah sendiri dengan suami, tidak ikut orangtua lagi. Walaupun masih kecil-kecilan ataus ederhana yang penting sudah bisa untuk berteduh, tidak bocor dan buat kumpul dengan keluarga besar”
SN : “tidak”
TM : “sama saja mbak”
Kesimpulan : Sebagian besar warga belajar tidak mengalami perubahan pada kondisi fisik rumah mereka masing-masing hanya ada dua orang
181
warga belajar yang bisa membangun dan memperbaiki rumah mereka.
8) Apakah kebutuhan sandang terpenuhi?
KS : “Alhamdulillah masih bisa pake baju mbak” MS : “Alhmdulillah cukup mbak, ada ganti-gantinya” KR : “terpenuhi mbak”
SL : “terpenuhi mbak” RM : “Alhmdulillah”
TK : “Alhamdulillah masih bisa pakai baju mba seadanya dilemari saja, kalau lebaran ya beli mbak setahun sekali itu saja kadang masih hutang. Nama saja lebaran mba, biar tidak hanya hatinya saja yang baru bajunya juga sesekali ikut baru”
PN : “Insya Allah terpenuhi mbak, bisa pakai baju ganti-ganti tapi ya tetep seadanya dan sepunyanya di lemari, yang penting anak-anak saya justru yang harus beli mbak kan kadang kekecilan atau sobek, maklum mbak mainnya saja di sawah, naik-naik pohon. Kalau saya tunggu ada rezeki lebih mbak baru beli”.
NK : “Insyaallah terpenuhi mbak, bisa ganti-ganti” SN : “masih bisa pake baju mbak”
TM : “terpenuhi mbak”
Kesimpulan : Kebutuhan sandang para warga belajar terpenuhi dengan baik masing-masing.
9) Apakah mempunyai perhiasan dalam bentuk emas sebelum dan sesudah ikut KUM?
KS : “Alhamdulillah ada cincin pernikahan dulu mbak, saya simpan sampai sekarang takut ditanya suami”
MS : “Alhamdulillah ada mbak, setelah saya ikut KUM dan mulai bangun warung kecil-kecilan ini, pemasukan meningkat jadi perhiasan buat simpenan mbak, kalau sewaktu-waktu butuh”
KR : “sudah tidak punya mbak, uang saya pake untuk kebutuhan sehari-hari”
SL : “tidak ada mbak”
RM : “Alhamdulillah, masih punya perhiasan dari suami dulu” TK : “tidak punya”
PN : “uangnya cuma cukup untuk makan”
NK : “Alhamdulillah mbak, bisa beli perhiasan buat anak juga mbak kecil-kecil tapi setidaknya ada simpanan takut suatu ketika ada kebutuhan mendadak yang datang”
182 TM : “tidak ada mbak”
Kesimpulan : Sebagian warga belajar memiliki perhiasan, sebagai bentuk tabungan atau simpanan jika sewaktu-waktu ada kebutuhan mendadak
10)Apakah sarana transportasi yang dimiliki saat ini?
KS : “Alhamdulillah ada satu motor walaupun motor lama mbak, tapi bisa dipake buat bolak-balik ke sawah”
MS : “Alhamdulillah baru dituker motor lama saya yang baru walaupun masih ada tanggungan bayar mbak”
KR : “Ada motor satu dirumah, itu juga membelinya dibantu uang dari anak saya yang sudah bekerja di Jakarta, walaupun motor lama tapi yang penting bisa bawa hasil panenan ke pasar. Jadi tidak perlu pakai sepeda lagi jauh-jauh mbak”
SL : “motornya si anak mantu saya mbak”
RM : “Alhamdulillah, ada satu mba motor utangan itu juga. alhamdulillah jadi lebih mudah untuk mengakses kebutuhan, ditambah ada sepeda jadi tidak perlu rebutan engan anak kalau mau pakai sepeda ada motor juga ada”
TK : “punya mbak satu motor saja” PN : “motornya suami mbak”
NK : “Alhamdulillah ada mbak satu motor saya buat gantian dengan suami pakainya”
SN : “boro-boro punya motor mbak, sepeda saja sudah sepeda tua punya suami. Kalau saya yang penting bisa makan, masalah kendaraaan selagi masih bisa jalan yaah saya mending jalan untuk kesawah atau ke warung-warung. Kalau ketempat saudara yang jauh saya naik angkot mbak”.
TM : “tidak ada mbak”
Kesimpulan : Sebagian warga belajar KUM PKBM Handayani kelompok usaha Al-Ahsan memiliki sarana transportasi berupa sepeda motor.
6. Akses Pelayanan Keuangan
3) Apakah mempunyai tabungan di bank? Berapa jumlahnya? KS : “tidak punya mbak, adanya tabungan anak di sekolah” MS : “tidak punya mbak, disimpan dilemari saja”
KR : “tidak, bunga bank kadang tinggi” SL : “disimpan dilemari saja mbak”
RM : “tidak, nabung diwarung lah banyak mbak” TK : “tidak ada”
183 PN : “tidak”
NK : “Alhamdulillah ada yaah tabungan kecil-kecil saja buat simpanan, tidak seberapa mbak”
SN : “tabungannya anak” TM : “tidak ada mbak”
Kesimpulan : Warga belajar tidak memiliki tabungan di Bank atau sejenisnya, mereka lebih memilih menyimpan uang di rumah, tanpa adanya bunga dan potongan seperti kalau menyimpan di bank.
4) Apakah mempunyai sawah atau ladang? Berapa luas tanah atau sawahnya? KS : “Alhamdulillah saya cuma buruh saja mbak di swah tetangga”
MS : “Alhmdulillah ada paling tidak ada 1 hektar mbak, namanya saja warisan dari mertua”
KR : “tidak punya, suami juga buruh bangunan”
SL : “tidak punya, saya hanya sebagai buruh pemetik melati di sawah orang”
RM : “tidak punya”
TK : “adanya sawah tetangga mbak”
PN : “hanya buruh saya di sawah milik orang”
NK : “Alhmadulillah tidak punya sawah atau ladang mbak” SN : “tidak punya”
TM : “tidak ada mbak”
Kesimpulan : Warga belajar yang bekerja sebagai pemetik melati, mereka hanya memetik di ladang dan sawah tetangga, mereka tidak memiliki ladang dan sawah sendiri.
184 Lampiran 7. Data Warga Belajar