• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.11 Celah Pelolosan (Escape Gap)

Escape gap merupakan celah yang digunakan oleh rajungan yang belum layak tangkap untuk meloloskan diri. Escape gap dapat mengurangi jumlah hasil tangkapan biota lain berukuran kecil yang tertangkap dan terluka. Selain itu escape gap meningkatkan jumlah tangkapan kepiting yang berukuran komersial, dan memberikan kesempatan bagi ukuran dibawahnya untuk meloloskan diri dan kembali ke tempat asalnya dimana mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk hidup. Hasil Tangkapan yang masih berukuran kecil dapat kehilangan anggota tubuhnya sehingga mengurangi perkembangan anggota tubuh dan dapat meningkatkan angka kematian. Permasalahan ini dapat dikurangi dengan menggunakan escape gap (Treble et al, 1998). Tentu saja celah pelolosan hanya bekerja jika hewan yang ditangkap dapat menemukannya. Eldridge et al (1979), membuat suatu kriteria bahwa bubu yang dipasang escape gap seharusnya :

(1) Secara substansial mengurangi hasil tangkapan kepiting yang berukuran kecil.

(2) Hasil tangkapan kepiting yang berukuran ekonomis seharusnya tidak menurun secara signifikan.

Menurut Miller (1995) mengembangkan beberapa cara untuk mengurangi bycatch, yakni :

(1) Menggunakan umpan dengan bau yang dapat menjauhkan spesies yang tidak diinginkan.

(2) Memilih ukuran, bentuk, lokasi, dan bahan konstruksi pintu masuk bubu. (3) Memilih ukuran, bentuk, dan posisi escape gap.

(4) Mengelompokan hasil tangkapan sampingan di atas dek dan segera mengembalikannya ke air.

Escape gap yang biasa digunakan memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi tergantung species yang tertangkap (Brown 1982). Menurut Miller (1995) ukuran, bentuk, dan posisi escape gap sangat berpengaruh terhadap ukuran kepiting dan lobster yang tertangkap.

2.11.1 Bentuk celah pelolosan (escape gap)

Escape gap memiliki bentuk yang bervariasi disesuaikan dengan non target spesies yang ingin diloloskan. Bentuk escape gap yang paling banyak digunakan untuk meloloskan nontarget spesies adalah escape gap dengan bentuk kotak atau empat persegi panjang. Eldridge et al. (1979) melakukan penelitian dengan menggunakan escape gap berbentuk kotak dengan ukuran yang berbeda. Nulk (1978) melakukan percobaan dengan skala laboratorium untuk menentukan ukuran escape gap yang optimal untuk meloloskan lobster yang belum layak tangkap dan hasilnya adalah escape gap berbentuk kotak. Kemudian Brown (1982) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh dan selektivitas dari escape gap terhadap kepiting (Cancer pagurus) dengan menggunakan escape gap berbentuk empat persegi panjang. Boutson, et.al (2004) melakukan percobaan untuk meloloskan kepiting (Portunus pelagicus) dengan escape gap yang memiliki empat bentuk yang berbeda yaitu kotak, persegi panjang, lingkaran, dan elips (Gambar 11).

Gambar 11 Empat bentuk escape gap

2.11.2 Posisi celah pelolosan (escape gap)

Jirapunpipat et al. (2008) melakukan penelitian dengan menggunakan escape gap berbentuk kotak. Escape gap yang dipasang berjumlah 5 buah dengan lokasi yang berbeda pada bubu, pertama dibagian sudut sisi miring pintu masuk (a), kedua dipasang di sisi bagian atas (b), ketiga dipasang di sisi bagian bawah (c), keempat dipasang di atas bagian tengah (d), dan kelima dipasang di tengah sisi miring pintu masuk (e) (Gambar 12). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepiting lebih banyak keluar dari escape gap yang dipasang pada sisi bagian bawah (c). Selain itu, semakin banyak jumlah escape gap, akan memberikan peluang yang lebih besar bagi kepiting untuk keluar. Hal ini dikarenakan kepiting akan lebih mudah menemukan escape gap. Adapun Purbayanto (2006) meletakkan celah pelolosan di tengah bagian sisi bubu untuk meloloskan ikan kakap (Lutjanus sp.) yang berbentuk kotak (Gambar 13).

Gambar 12 Beberapa posisi pemasangan escape gap pada bubu Sumber : Jirapunpipat (2008) b a c d e

a. sudut sisi miring pintu masuk

b. sisi bagian atas

c. sisi bagian bawah

d. atas bagian tengah

e. tengah sisi miring pintu masuk Sumber : Boutson ( 2004)

Gambar 13 Letak escape gap pada bubu untuk meloloskan ikan kakap

2.11.3 Ukuran celah pelolosan (escape gap)

Ukuran escape gap bergantung pada ukuran ikan target tangkapan dari bubu yang akan digunakan. Penentuan ukuran escape gap pada umumnya beradasarkan dengan tingkat matang gonad ikan, nilai ekonomis ikan, dan peraturan pemerintah keterkait escape gap yang bertujuan untuk meningkatkan efektifitas penangkapan dan kelestarian ikan-ikan hasil tangkapan.

Pada perairan Kattegat dan Skagerrak, escape gap harus digunakan pada alat tangkap bubu untuk meloloskan hasil tangkapan kepiting (edible crab) (Ungfors, 2007). Di Perairan tersebut escape gap yang dipasang pada bubu dipasang pada ukuran 75 mm. Eldridge et al. (1979) melakukan penelitian dengan menggunakan escape gap berbentuk kotak dengan ukuran yang berbeda dan hasilnya adalah escape gap berbentuk kotak berukuran 1,5 x 2,125 inchi bisa mengurangi kepiting yang tidak layak tangkap sebanyak 43, 53 %. Nulk (1978) melakukan percobaan dengan skala laboratorium untuk menentukan ukuran escape gap yang optimal untuk meloloskan lobster yang belum layak tangkap dan hasilnya adalah escape gap berbentuk kotak yang berukuran 45 x 152 mm berhasil meloloskan lobster berukuran tidak layak tangkap sebanyak 83 % dan menangkap 100 % lobster berukuran layak tangkap. Kemudian Brown (1982) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh dan selektivitas dari escape gap terhadap kepiting (Cancer pagurus) dengan menggunakan escape gap berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 38 x 74 mm, 38 x 115 mm dan 42 x 74 mm. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa escape gap yang paling efektif adalah escape gap berukuran 42 x 74 mm. Escape gap tersebut berhasil mengurangi

kepiting di bawah ukuran layak tangkap sebesar 34 % dan mengurangi hasil tangkapan sampingan sebesar 125 %. Escape gap yang paling efektif untuk lobster adalah escape gap berukuran 42 x 100 mm. Escape gap tersebut berhasil mengurangi lobster di bawah ukuran layak tangkap dan mengurangi hasil tangkapan sampingan sebesar 35%. Treble et al. (1998) pada saat melakukan penelitian di Teluk Apollo membandingkan hasil tangkapan lobster (Homarus americanus) pada bubu tanpa escape gap dan bubu dengan escape gap yang berukuran 60 x 250 mm mendapatkan bahwa bubu dengan escape gap secara signifikan menangkap lebih sedikit lobster yang berukuran kecil. Sekitar 65 % lobster yang belum layak tangkap mampu meloloskan diri dari bubu dengan escape gap. Shepherd et.al (2000) menggunakan escape gap berbentuk kotak untuk meloloskan black sea bass (Centropristis striata). Escape gap yang digunakan

Di Indonesia beberapa penelitian tentang escape gap telah mulai dilakukan seperti Irawati (2002) yang menggunakan escape gap untuk mempelajari tingkah laku kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dalam meloloskan diri pada bubu yang diberi escape gap. Purbayanto et.al (2006) melakukan penelitian tentang selektivitas celah pelolosan berbentuk kotak dengan tiga ukuran berbeda pada bubu kawat yang dioperasikan di perairan karang agar kakap (Lutjanus sp) muda dapat lolos tanpa terluka dengan metode cover net. Hasil yang diperoleh adalah bubu dengan celah pelolosan 15 x 5 cm adalah ukuran yang paling efektif untuk meloloskan ikan muda dibandingkan dengan ukuran 12 x 5 cm dan 10 x 5 cm. Kemudian Iskandar and Lastari (2007) melakukan penelitian dengan menggunakan bubu lipat yang diberi escape gap berukuran 5,2 x 3,8 cm. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa bubu dengan menggunakan escape gap menangkap rajungan dengan ukuran layak tangkap sebesar 100 %. Adapun bubu tanpa escape gap hanya menangkap 36,84 % ukuran layak tangkap dan 63,16 % yang belum layak tangkap.

Dokumen terkait