5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembahasan
5.2.2 Distribusi hasil tangkapan sampingan dominan
Distribusi ukuran panjang hasil tangkapan sampingan yang tertangkap berkisar antara 4-80 cm. Adapun ikan hasil tangkapan sampingan yang berhasil meloloskan diri melalui celah pelolosan berukuran antara 4-16 cm. Hal ini berarti bahwa celah pelolosan tersebut dapat melolosakan hasil tangkapan sampingan yang masih berukuran kecil. Pengurangan hasil tangkapan sampingan yang secara ekologis bermanfaat untuk meningkatkan laju rekruitmen yang secara berkesinambungan dapat memperbaiki stok ikan (Alverson et.al, 1996).
Beberapa negara telah menggunakan beberapa mekanisme untuk meloloskan hasil tangkapan sampingan yang berukuran kecil. Di Jepang pemerintah Kanagawa telah membuat kebijaksanaan untuk memperlebar diameter minimum lubang pelolosan (escape gap) pada conger eel tube (bubu paralon) untuk meloloskan conger eel yang berukuran kecil (Tokai, 2002). Ungfors (2008) menjelaskan bahwa di wilayah perairan Kattegat dan Skagerrak, escape gap dengan ukuran diameter 75 mm harus digunakan pada alat tangkap
bubu untuk meloloskan hasil tangkapan kepiting (edible crab) yang belum layak tangkap. Beberapa peneliti telah membuktikan bahwa escape gap dapat berperan untuk meloloskan hasil tangkapan yang berukuran kecil. Pemerintah semestinya turut mengupayakan terwujudnya penangakapan yang bertanggung jawab dengan menggunakan kebijakan untuk menggunakan escape gap pada alat tangkap bubu karena penggunaan escape gap ternyata tidak mengurangi kualitas hasil tangkapan utama pada bubu (Iskandar dan Lastari, 2007). Secara kuantitas hasil tangkapan ketika escape gap dipasang pada bubu lebih sedikit namun secara kualitas hasil tangkapan yang diperoleh relatif lebih besar dibandingkan dengan bubu yang tidak menggunakan escape gap (Iskandar dan Komarudin, 2009). Hal ini terjadi karena dengan memasang escape gap ukuran hasil tangkapan rata-rata lebih besar dibanding dengan ketika tidak menggunakan escape gap.
Mengacu pada penerapan By catch Excluder Device (BED) pada alat tangkap trawl, nelayan memang enggan untuk menggunakan BED karena berbagai alasan seperti kekhawatiran berkurangnya hasil tangkapan, beban yang bertambah, dan dinamika kapal trawl yang menjadi agak sulit untuk dikendalikan. Namun dengan pertimbangan adanya kebutuhan untuk memelihara keberlanjutan sumberdaya ikan maka pemerintah Indonesia dan dunia internasional mengharuskan penggunaan BED pada trawl. Kondisi yang sama semestinya dapat diberlakukan bagi nelayan yang menangkap dengan menggunakan bubu untuk memasang celah pelolosan sehingga hasil tangkapan sampingan dapat berkurang dan dapat mengurangi discard species. Mungkin pada awalnya nelayan pengguna bubu akan menolak untuk memasang celah pelolosan (escape gap) karena kekhawatiran berkurangnya hasil tangkapan. Namun dengan adanya kesadaran untuk memelihara agar sumberdaya bisa tetap lestari nelayan semestinya bisa mengikuti ketentuan.
5.2.3 Selektivitas hasil tangkapan sampingan dominan
Pada penelitian ini escape gap mampu meloloskan 41 spesies ikan ke dalam cover net yang terdiri dari 27 spesies hasil tangkapan utama yang berukuran kecil (tidak layak tangkap) dan 14 spesies hasil tangkapan sampingan
termasuk ke dalamnya crustacea. Sehingga keberagaman ikan hasil tangkapan bubu yang tertangkap pada bubu dapat dikurangi dengan keberadaan escape gap. Hal ini ditunjukkan dengan indeks Shannon Wiener nilai indeks keragaman pada seluruh bubu adalah 3,3498 sedangkan nilai indeks keragaman pada bubu adalah 3,228. Nilai index Shannon Wiener yang lebih kecil menunjukkan bahwa selektivitas celah pelolosan (escape gap) terhadap spesies yang tertangkap pada bubu yang menggunakan celah pelolosan (escape gap) relatif lebih baik dibandingkan dengan bubu yang tidak menggunakan celah pelolosan (non-escape gap). Penggunaan (non-escape gap pada bubu tambun terbukti dapat mengurangi jumlah spesies yang tertangkap. Pengurangan keberagaman ikan yang tertangkap pada bubu berarti mengurangi non target penangkapan yang terkadang dibuang karena tidak memiliki nilai ekonomis penting seperti ikan ke-kepe, kupas-kupas (Cantherhines fronticinctus), dan lepu. Alverson dan Hughes (1995) menyatakan bahwa salah satu penyebab menurunnya stok sumberdaya perikanan di beragai wilayah di dunia adalah banyaknya hasil tangkapan sampingan yang dibuang ke laut (discarded species). Dibandingkan alat tangkap lainnya discarded species bubu relatif lebih kecil. Kennely dan Craig (1989) menduga bahwa sekitar 75% spanner crabs yant tertangkap pada tangle net di New South Wales dibuang ke laut. Tingkat kelolosan yang tinggi pada hasil tangkapan sampingan yang bersifat non ekonomisa secara ekologis sangat penting dan dapat menunjang kelestarian ekosistem.
Berdasarkan kurva selektivitas yang diperoleh terlihat bahwa celah pelolosan dapat meloloskan hasil tangkapan sampingan dominan yang berukuran kecil. Pada ikan betok hitam (Neoglyphidodon melas) berukuran 5 cm mempunyai peluang tertangkap 2% berarti 98% ikan betok hitam (Neoglyphidodon melas) berukuran 5 cm dapat meloloskan diri dari bubu tambun melalui celah pelolosan, sedangkan ukuran juvenil dari betok hitam (Neoglyphidodon melas) adalah berkisar antara 5 cm, sehingga celah pelolosan dapat meloloskan 98% ikan betok hitam (Neoglyphidodon melas) berukuran remaja. Betok hitam (Neoglyphidodon melas) termasuk ke dalam kelompok ikan mayor yang merupakan kelompok ikan utama yang berperan penting dalam rantai makanan (Adrim, 1993), sehingga keberadaan dan kelestarian ikan betok
hitam (Neoglyphidodon melas) ini penting bagi ekosistem terumbu karang. Akan tetapi pada penangkapan ikan karang ikan betok hitam (Neoglyphidodon melas) adalah ikan yang tertangkap dalam jumlah banyak (dominan) seperti pada penangkapan ikan karang di Pulau Harapan di Kepulauan Seribu dengan bubu tambun ikan betok hitam (Neoglyphidodon melas) tertangkap sebanyak 43% dari total hasil tangkapan (Susanti, 2005).
Pada kurva selektivitas celah pelolosan terhadap ikan kupas-kupas (Cantherhines fronticinctus), ikan berukuran 1 cm masih mempunyai peluang tertangkap sebesar 2%. Hal ini disebabkan oleh morfologi ikan kupas-kupas (Cantherhines fronticinctus) yang mempunyai duri yang tajam di atas kepalanya yang menghambat ikan kupas-kupas (Cantherhines fronticinctus) untuk meloloskan diri melalui celah pelolosan. Akan tetapi ikan selang panjang atau SR dari kurva selektivitas celah pelolosan terhadap ikan kups-kupas ini mempunyai selang yang panjang sehingga celah pelolosan masih mampu meloloskan ikan kupas-kupas (Cantherhines fronticinctus) dalam jumlah yang banyak.
Perbedaan kemampuan lolosnya ikan melalui escape gap dipengaruhi oleh morfologi tubuh ikan yang tertangkap. Reis dan Pawson (1999) juga mendapatkan data bahwa bentuk tubuh ikan yang berbeda akan memiliki peluang untuk tertangkap yang berbeda. Adanya duri pada bagian tubuh ikan turut mempengaruhi peluang untuk lolos dan tertangkap pada suatu alat tangkap tertentu. Iskandar et.al (2006) juga mengamati bahwa morfologi pada conger eel berpengaruh terhadap lolosnya conger eel pada bubu. Adanya lendir pada tubuh conger eel mengakibatkan conger eel dapat meloloskan diri dari bubu walaupun ukuran mesh size bubu lebih kecil dari body girth. Selanjutnya Miller (1995) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang berpengaruh pada selektivitas hasil tangkapan pada bubu diantaranya adalah (1) mulut bubu, yang meliputi bentuk dan ukuran; escape gap, yang meliputi bentuk ukuran, dan posisi. Selanjutnya Iskandar (2006) menjelaskan secara lebigh detil mengenai faktor teknis yang mempengaruhi selektivitas terhadap bubu yang menyangkut bentuk dan ukuran mesh size, dan escape gap. Nulk (1978) menjelaskan bahwa
bentik dan posisi escape vent yang berbeda mempengaruhi selektivitas bubu lobster.
Ikan kepe-kepe (Chaetodon octofasciatus) yang merupakan ikan yang termasuk ke dalam kelompok ikan indikator yaitu kelompok ikan yang merupakan indikator dari kesuburan terumbu karang sehingga keberadaannya sangat erat kaitannya terhadap kesuburan terumbu karang (Adrim, 1993, Dahuri 2003; Terangi, 2004) akan tetapi merupakan ikan yang langsung dibuang (discarded species). Pada kurva selektivitas celah pelolosan terhadap ikan kepe-kepe (Chaetodon octofasciatus) ini juga mempunyai SR yang panjang bahkan hingga panjang 12 cm yang merupakan panjang maksimal ikan kepe-kepe (Chaetodon octofasciatus) ini masih mempunyai nilai kelolosan ikan sebesar 2%. Sehingga ikan ini dapat diloloskan oleh celah pelolosan dalam jumlah yang besar.
Ikan-ikan hasil tangkapan sampingan dominan ini diharapkan dapat diloloskan dari bubu tambun karena walaupun tertangkap, ikan-ikan ini tidak dapat dimanfaatkan dengan maksimal oleh nelayan seperti ikan kepe-kepe (Chaetodon octofasciatus) dan kupas-kupas (Cantherhines fronticinctus) yang hanya dibuang setelah tertangkap. Padahal ikan yang tidak berhasil lolos dari bubu tambun ini sudah dalam keadaan terluka ketika dilepaskan oleh nelayan, karena usahanya untuk meloloskan diri (Gambar 66). Luka yang terdapat pada tubuh ikan dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bagi ikan seperti berkurangnya kemampuan reproduksi (Abello et al, 1994; Lee and Seed, 1992), menurunnya laju pertumbuhan (Bennet, 1973; Chitttleborough, 1975; Davis, 1981), berkurangnya kemampuan mempertahankan diri (Simonson and Hochberg, 1986; Smith, 1995), dan berkurangya kemampuan mencari makan (Smith and Hines, 1991).
Gambar 66 Ikan yang terluka karena tidak berhasil meloloskan diri
Pemasangan celah pelolosan pada bubu taernyata tidak mengurangi hasil tangkapan utama yang bernilai ekonomis seperti kerapu koko. Kurva selektivitas celah pelolosan yang diperoleh dari hasil tangkapan bubu tambun (Gambar 67 dan 68, serta Lampiran 15) menunjukkan bahwa L50 kurva tersebut adalah 18,21. Adapun nilai (Length at first maturity) LM untuk kerapu koko tersebut adalah 14 cm (FAO, 2009). Hal ini berarti bahwa bubu tersebut mampu meloloskan kerapu koko yang berukuran matang gonad. Namun escape gap tersebut masih terlalu besar untuk sekedar meloloskan hasil tangkapan kerapu koko yang sudah matang gonad. Kerapu koko dengan ukuran panjang total 14 cm memiliki berat 50 gram. Pada bobot tersebut ikan kerapu koko belum layak jual apabila dinilai secara ekonomis, karena itu apabila ikan pada ukuran tersebut tertangkap harus dilakukan pembesaran pada karamba jaring apung atau hanya menjadi bahan baku ikan asin atau dikonsumsi sendiri oleh nelayan. Kerapu koko baru memiliki nilai ekonomis atau layak jual pada bobot minimal 100 gr yaitu pada panjang berkisar 18 cm. Oleh karena itu ukuran escap gap disesuaikan dengan ukuran ekonomis kerapu koko
Gambar 67 Kurva selektivitas escape gap terhadap ikan kerapu koko (Ephinephelus quoyanus)
Gambar 68 Master curve selektivitas celah pelolosan terhadap kerapu koko (Ephinephelus quoyanus)
Escape gap menunjukkan pengaruh yang baik bagi penangkapan ikan karang oleh bubu tambun karena itu sosialisasi tentang penggunaan escape gap perlu dilakukan, mengingat escape gap memberikan pengauh positif terhadap operasi penangkapan karena dapat mengefisienkan waktu operasi penangkapan dan pengaruh positif terhadap hasil tangkapan karena dapat mengurangi hasil tangkapan sampingan tetapi hasil tangkapan utama pun dapat tertangkap lebih maksimal. Escape gap memberi pengaruh baik juga terhadap lingkungan sehingga dapat membantu menjaga kelestarian lingkungan. Akan tetapi escape gap juga tidak mengurangi kualitas hasil tangkapan utama.
0 0.25 0.5 0.75 1 1.25 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 Sel ekt ivi ta s Panjang (cm) 0 0.25 0.5 0.75 1 1.25 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 Sel ekt ivi ta s Panjang (cm) 18,21; 0,5 18,21; 0,5