• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cerita dari Zulfikar

Dalam dokumen Buku Migrasi Open Source (Halaman 34-37)

i Aceh Tengah, sosok yang berperan mengenalkan dan menjadi motor penggerak kampanye open source adalah Zulfikar Ahmad. Dia adalah Kepala Bidang Telematika Dishubkomintel Aceh Tengah. Bila kebetulan berkunjung ke Aceh Tengah dan bertanya tentang nama Zulfikar, bisa dipastikan banyak orang yang mengenalnya sebagai Zulfikar yang mengenalkan open source. Faktanya, di luar pekerjaannya sebagai PNS, Zulfikar adalah juga dosen di Fakultas Tehnik Universitas Gajah Putih.

Sebuah kampus, yang di dalamnya ada Pelita [Pengguna Linux Takengon]. Pelita terbentuk sebagai akibat langsung dari kegiatan migrasi open source di Aceh Tengah. Kelak, Pelita inilah yang menjalankan program migrasi open source di Aceh, dan Zulfikar adalah salah satu pendiri Pelita.

Cerita tentang ketertarikan Zulfikar kepada open source berawal pada 2006, tapi saat itu dia masih ragu dengan sistem operasi yang dianggapnya masih asing. Hanya rasa ingin tahu yang besar yang lantas mendorong Zulfikar berusaha untuk mengenal lebih jauh sistem operasi open source. Rasa ingin tahunya semakin membuncah ketika pada tahun 2007, tim dari AirPutih datang ke Aceh Tengah. Dia berkenalan dengan Mamad dan Faisal dari AirPutih. “Mereka menanyakan apakah kami ingin mengetahui open source lebih dalam, yang tentu saja kami jawab, ingin sekali,” kata Zulfikar.

Dalam perjalanannya, dia pun berupaya mengenal dan mempelajari open source. Tak hanya dari staf AirPutih, materi open source dia pelajari dari pelbagai sumber di internet. Setiap kali terkoneksi dengan internet, Zulfikar selalu menyempatkan diri mencari referensi mengenai open source. Dia juga membeli buku-buku mengenai perangkat terbuka ini. Kelak, Zulfikar makin mengenal dan jatuh cinta pada open source.

Setelah belajar open source dari staf AirPutih, Zulfikar mengaku mendapat “hidayah” untuk benar-benar mendalaminya. Setidaknya dia mulai memahami, open source

bukan saja sistem operasi legal yang tahan terhadap virus, tetapi juga murah dan karena itu cocok digunakan untuk menghemat anggaran daerah. Dia karena itu bertekad untuk membuat seluruh perangkat komputer di jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menggunakan sistem operasi terbuka ini.

Posisinya sebagai pegawai di bidang teknologi informasi membuat Zulfikar memungkin dirinya leluasa bergerak menyebarkan penggunaan open source. Dia juga berupaya meyakinkan atasannya agar perangkat komputer di kantornya menggunakan sistem open source. Awalnya dia hanya menyasar lima komputer yang bisa beralih dari Windows menjadi Linux. Namun setelah atasanya percaya, niat Zulfikar berubah. Dia lalu menghadap Sekretaris Daerah Aceh Tengah M. Ibrahim dan menjelaskan, pentingnya seluruh perangkat komputer di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menggunakan sistem operasi terbuka. Apalagi dia menemukan kenyataan, bahwa banyak kepala desa di Aceh Tengah yang menyampaikan keluhan bahwa masyarakatnya banyak yang ingin belajar komputer tapi tidak tahu harus belajar ke mana dan seperti apa. Singkat kata, antara lain berkat Zulfikar, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah lalu menawarkan sebagai proyek percontohan pelaksanaan migrasi open source.

Pada awal-awal pelaksanaan migrasi open source di Aceh Tengah, Zulfikar tentu menghadapi banyak kesulitan. Dia misalnya harus mendatangi kantor-kantor secara

door to door termasuk kantor-kantor kecamatan. Dia menjelaskan kepada para kepala kantor, maksud dan tujuan migrasi open source. Sebagian besar tertarik, termasuk para sejumlah kepala desa yang kebetulan datang berkunjung ke kantor kecamatan

dan ikut mendengarkan penjelasan Zulfikar. Alasan para kepala desa itu, mereka harus mengeluarkan dana mulai dari Rp 2 sampai Rp 3 juta hanya untuk keperluan instalasi ulang di komputer mereka.

Hal yang hampir membuat Zulfikar balik badan, adalah anggapan bahwa open source

merupakan sistem operasi komputer yang susah digunakan. Ada beberapa kantor yang kemudian melakukan penolakan/keberatan untuk melakukan migrasi dengan alasan kegiatan pekerjaan mereka akan terhambat. Salah satu dari Satuan Kerja Perangkat Daerah [SKPD] yang gagal melakukan migrasi, bahkan tidak percaya kepada open source. Ketidakpercayaan itu semakin kuat, ketika hard disk dari satu komputer mereka tidak bisa melakukan instalasi. “Sampai dengan saat itu seluruh SKPD berhasil dilakukan migrasi kecuali dua SKPD yaitu KPU dan Dinas Peternakan. Keduanya gagal menyatakan keberatan untuk dilakukan migrasi,” kata Zulfikar. Perkembangan yang menggembirakan bagi Zulfikar terjadi menjelang berakhirnya proses migrasi di Aceh Tengah. Suatu hari ada pertemuan yang dihadiri kepala Dinas Keuangan dan Kekayaan Daerah. Dia saat itu menyepakati bahwa untuk tahun 2012 dan seterusnya, harus ada pemisahan antara harga software dan hardware dalam daftar barang [komputer] yang dibeli. Pemisahan harga itu juga harus tercantum dalam kontrak. Misalnya kalau komputernya belum terinstalasi perangkat lunak apa pun, maka harus dicantumkan sistem operasi yang akan digunakan. Lewat cara ini, pembelian komputer di Aceh Tengah diharapkan ada kejelasan: menggunakan perangkat lunak legal, atau yang ilegal.

Hal lain yang menggembirakan adalah badan daerah sudah meminta Kominfo agar memberi pelatihan kepada seluruh calon PNS menggunakan komputer termasuk pembekalan open source. Tujuannya agar para calon PNS itu sejak awal akan paham tentang semua tahap penggunaan open source, mulai dari instalasi, back up data dan pembaharuan-pembaharuan aplikasi.

Dua hal itu [penjelasan kepala Dinas Keuangan dan Kekayaan Daerah, dan pelatihan bagi calon PNS] bagi Zulfikar bisa membuat penggunaan open source di Aceh Tengah semakin luas. Pertama, ketentuan yang diminta oleh Dinas Keuangan itu, misalnya bisa berdampak kepada digunakannya open source pada setiap komputer yang dibeli, mengingat keuangan Aceh Tengah yang terbatas. Setidaknya akan ada standar harga. Kedua, pelatihan open source bagi calon PNS secara bertahap akan memunculkan tranfer pengetahuan bagi PNS lainnya. Dengan begitu Aceh Tengah akan semakin banyak memiliki SDM yang trampil menggunakan open source. “Melalui pola ini, kelak penerapan open source di Aceh Tengah tidak akan ada lagi masalah karena kami sudah melakukan pencegahan dari pengadaan, melakukan upgrading lewat pegawai baru dan pegawai-pegawai lama yang akan secara periodik dilatih,” kata Zulfikar.

PELATIHAN OPEN SOURCE DI SKPD ACEH TENGAH (FOTO : AIRPUTIH)

Ada beberapa alasan Zulfikar tertarik dengan open source. Pertama, karena open source terbukti mampu melakukan penghematan anggaran yang cukup besar. Dengan asumsi pemeliharaan komputer untuk satu SKPD mencapai kurang-lebih Rp 5 juta, maka untuk seluruh SKPD yang menggunakan open source bisa dihemat anggaran hampir Rp 250 juta. Penghematan sebesar itu, sama dengan biaya untuk membangun 250 meter jalan atau beberapa kelas belajar.

Penghematan yang sama juga terjadi di tingkat desa. Kalau setiap desa di Aceh Tengah membutuhkan biaya pemeliharaan komputer antara Rp 1 juta hingga Rp 2 juta setiap tahun, maka dengan jumlah 300 desa, anggaran yang bisa dihemat bisa mencapai Rp 600 juta. Itu baru untuk pemeliharaan komputer.

Penghematan yang sama juga akan didapat dalam hal pengadaan komputer mengingat pengadaan komputer dengan software berbayar sangat mahal. Artinya, dengan penghematan anggaran itu, akan lebih banyak lagi komputer baru yang bisa dibeli. Ujung-ujungnya akan semakin banyak pegawai di Aceh Tengah yang bisa menggunakan komputer.

Dalam dokumen Buku Migrasi Open Source (Halaman 34-37)

Dokumen terkait