abupaten Aceh Tengah juga dikenal sebagai daerah tujuan wisata karena alamnya yang indah, seni budaya, dan sejarahnya. Banyak sekali objek wisata di Aceh Tengah, antara lain Danau Lut Tawar, Gayo Waterpark, Gua Putri Pukes, Gua Loyang Koro, Pacuan Kuda Tradisional Gayo, Taman Buru Linge Isak, Burni Klieten, lanskap Pantan Terong, Pantai Menye, Makam Raja Linge, Krueng Peusangan, dan Loyang Datu Merah Mege. Pariwisata, adat, dan budaya
K
Danau Lut Tawar adalah salah satu objek wisata andalan Aceh Tengah. Danau Lut Tawar di dataran tinggi Gayo berada di ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut. Danau di di Kecamatan Lut Tawar ini merupakan danau terluas di Provinsi Aceh, yaitu luas 5.472 hektare, dengan panjang 17 kilometer dan lebar 5,5 kilometer. Danau Lut Tawar juga disebut Danau Laut Air Tawar karena luasnya seperti laut, tetapi airnya tawar, tidak asin seperti air laut. Danau yang diapit dua bukit ini dikunjungi banyak wisatawan domestik hingga mancanegara karena keindahannya.
Wisata air lainnya di Aceh Tengah adalah Pantai Menye [Pantai Manja]. Objek wisata ini yang sangat menarik karena lokasinya strategis dan memiliki pemandangan yang sangat indah. Pantai Menye di Kecamatan Bintang, sekitar 18 kilometer dari ibu kota Takengon, tepatnya di sebelah timur Danau Laut Tawar. Pantai Menye yang eksotik merupakan tujuan rekreasi. Pantai ini juga dijadikan sebagai areal perkemahan. Tempat wisata lain di Aceh Tengah adalah Pantan Terong, sebuah bukit di puncak bukit Dataran Tinggi Gayo. Pantan Terong terletak di Kecamatan Bebesan, sekitar 7,5 kilometer dari ibu kota Takengon.Dari Pantan Terong bisa melihat ibu kota Aceh Tengah dan Danau Lut Tawar secara keseluruhan, lapangan pacuan kuda di Kecamatan Pegasing, dan Bandar Udara Rembele yang diapit serta dikelilingi punggung Gunung Bukit Barisan yang indah.
Pacuan kuda tradisional Gayo di Kecamatan Pegasing juga merupakan tujuan wisata Aceh Tengah. Pacuan ini diselenggarakan dua kali setiap tahun, yaitu pada bulan Februari untuk memperingati HUT Kota Takengon dan pada September untuk memperingati HUT Republik Indonesia. Pacuan kuda di Takengon ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda diselenggarakan setelah panen hasil pertanian. Uniknya, pacuan kuda ini dengan joki cilik usia 10 - 16 tahun dan tanpa pelana.
Salah satu kesenian asli Kabupaten Aceh Tengah adalah Didong. Kesenian Didong dimainkan sekelompok orang yang duduk bersila membentuk lingkaran. Seorang ceh mendendangkan syair-syair dalam bahasa Gayo dan anggota yang lain mengiringi dengan tepukan tangan dan tepukan bantal kecil dengan ritme yang harmonis.
Pendidikan
endidikan di Kabupaten Aceh Tengah berkembang pesat. Sarana pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas mencapai 418 sekolah, terdiri atas 274 sekolah negeri dan 144 sekolah swasta.
P
Bahkan, sebagai kota kabupaten pun di Aceh Tengah terdapat dua perguruan tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Gajah Putih dan Universitas Gajah Putih. Sekolah Tinggi Agama Islam Gajah Putih mempunyai tujuh program studi, yaitu Komunikasi dan Penyiaran Islam, Hukum Ekonomi Syariah [Muamalah], Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan Guru Raudhatul Athfal, Tadris Bahasa Inggris, dan Pendidikan Matematika.
Universitas Gajah Putih memiliki empat fakultas, yaitu Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Ekonomi, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas di Takengon ini menggunakan nama gajah putih untuk mengenang kejayaan Kerajaan Linge Isaq dan anak raja Linge Sengeda yang menyumbangkan seekor gajah putih kepada Kerajaan Aceh Darussalam pada abad XVI sebagai lambang keberanian dan kesucian, kewaspadaan, dan kecerdasan. Universitas Gajah Putih berdiri sejak tahun 1984, berdasarkan surat keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten
Daerah Tingkat II Aceh Tengah Nomor : 421/4/06/1984. Hal ini mencerminkan bahwa perguruan tinggi ini merupakan milik dan tanggung jawab masyarakat dan pemerintah daerah.
Data Kabupaten Aceh Tengah Provinsi : Aceh Ibu kota : Takengon Luas : ± 4.318,39 km2 Tinggi rata-rata : 200 - 2.600 m
Dasar hukum : UU No. 10 Tahun 1948 Hari jadi : 14 April 1948
Koordinat : 4° 10” - 4° 58” LU / 96° 18” - 96° 22” BT Kecamatan : 14
Gampong : 18
Desa : 295
Kode area telepon : 0643 Suku : Aceh, Gayo
Bahasa : Gayo, Aceh, Indonesia Agama : Islam
Bab 4
Merebut Yogyakarta dengan JGOS
Migrasi open source di Pemerintah Kota Yogyakarta dilakukan dalam dua kali periode. Tim JGOS dan komunitas Linuk di Yogyakarta dan sebagainya, memiliki peran penting.ENGENALAN dan penggunaan open source di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta termasuk yang paling panjang waktunya. Awalnya adalah Jogja Goes Open Source [JGOS], Maret 2009. Program itu melibatkan AirPutih, Combine Resource Institution [CRI], POSS UGM, Kelompok Pengguna Linux Indonesia dan komunitas open source dari beberapa kampus. Lewat program itulah, dilakukan migrasi open source di lingkungan Satuan Kerja Pemerintah Daerah [SKPD]. Program ini berlangsung selama kurang-lebih setahun.
P
Tahun berikutnya [November 2011], program JGOS dilanjutkan untuk beberapa SKPD yang belum selesai melakukan migrasi open source. AirPutih melibatkan Infest, komunitas Ubuntu-ID, dan Kelompok Pengguna Linux Indonesia. Program ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan yang diteken oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dengan AirPutih dan Infest, 19 Oktober 2011. Isinya antara lain mengenai periode, proses, target, pelaksanaan dan biaya migrasi. Sasaran utamanya adalah 18 Puskesmas di Yogyakarta.
Sebelum tercapai kesepakatan ini, Infest menggelar koordinasi dengan beberapa komunitas open source di Yogyakarta. Tujuannya, mendaftar delegasi anggota komunitas yang akan terlibat dalam JGOS 2011 dan mendorong kerja kolaborasi para pegiat open source untuk menyusun kerangka kerja bersama penanganan migrasi.
Koordinasi ini penting karena keberadaan komunitas open source menjadi ujung tombak pelaksanaan migrasi.
Lewat cara ini pula, Infest memperoleh gambaran tentang kendala pelaksanaan JGOS pada periode sebelumnya [2009-2010] dan cara mengatasinya. Antara lain, diperoleh gambaran bahwa rancangan pelaksanaan JGOS seharusnya tidak hanya terarah pada penyelesaian target migrasi, tapi juga untuk membentuk ruang belajar bersama bagi para pegiat open source di Yogyakarta.
Hasilnya, rancangan kerja yang tidak hanya menempatkan pegiat migrasi sebagai pelaksana teknis instalasi, melainkan pula sebagai unit belajar dan kolaborasi. Rancangan itu disusun bersama oleh Infest, KPLI dan Ubuntu-ID; termasuk hingga perincian kerangka umum pelaksana kegiatan dan tugas-tugasnya.
Bagi AirPutih, kesepakatan kerja sama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta menjadi penting karena akan membantu tim migrasi untuk berkoordinasi dengan pimpinan SKPD yang ditunjuk. Kesepakatan itu juga turut membantu proses fomal, seperti izin dan dukungan melakukan penggantian sistem operasi perangkat lunak di masing- masing SKPD.