• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PERKEMBANGBIAKAN BURUNG MAMOA (Eulipoa wallacei) DI KECAMATAN GALELA

KAJIAN PERKEMBANGBIAKAN BURUNG MAMOA

(Eulipoa wallacei) DI KECAMATAN GALELA

KABUPATEN HALMAHERA UTARA

NUR SJAFANI

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Departemen Ilmu Ternak

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2006

Judul : Kajian Perkembangbiakan Embrio Burung Mamoa (Eulipoa wallacei) di Kecamatan Galela Kabupaten Halmahera Utara Nama : Nur Sjafani

NIM : D051030061

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Iman Rahayu H.S, M.S. Prof. Dr. Ir. Ani Mardiastuti, M.Sc. Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Ilmu Ternak Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, M.S. Tanggal Ujian : 2 Juni 2006 Tanggal Lulus :

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatka kepa Alla SWT, atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan. Tesis ini ditulis setelah melalui suatu proses penelitian yang dilaksanakan di Kecamatan Galela Kabupaten Halmahera Utara, dengan judul Kajian Perkembangan Burung Mamoa (Eulipoa wallacei) di Kecamatan Galela Kabupaten Halmahera Utara.

Tesis ini dapat diselesaikan atas bantuan dan dukungan dari beberapa pihak. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih kepada komisi pembimbing Dr. Ir. Iman Rahayu Hidayati Soesanto, M.S sebagai ketua dan Prof. Dr. Ir. Ani Mardiastuti, M.Sc, sebagai anggota komisi pembimbing, atas segala curahan ilmu, bimbingan, arahan dan semangat yang diberikan mulai dari persiapan penelitian hingga selesainya penulisan tesis ini.

Kepada Pimpinan Sekolah Pascasarjana IPB, Dekan Fakultas Peternakan IPB dan Ketua Program Studi SPs serta seluruh staf pengajar, penulis ucapkan terima kasih atas ilmu, bantuan dan dukungan yang diberikan selama menempuh Program Magister. Ucapan terimakasih pula disampaikan kepada Rektor Universitas Khairun Ternate dan Dekan Fakultas Pertanian atas izin yag diberikan sehingga penulis dapat melanjutkan studi program Magister. Kepada Ketua Program Studi Ilmu Ternak Universitas Khairun Ir. Abdurahman Hoda, Msi dan Ir. Lily Ishak, MSc, penulis ucapkan terimaksih atas dorongan, bantuan dan dukungannya.

Penulis ucapkan terima kasih kepada Kel. Umar Tjanaba, Mohcdar Gangsano, Camat Kecamatan Galela, Kepala Desa Pune, Limau, Toweka dan Mamuya, atas bantuan selama melaksanakan penelitian. Kepada Zulkifli, Spd, Ute, Amat, Memet, Amin, Murid Pattiha, Slamet Pattiha, terima kasih atas bantuannya selama melakukan penelitian.

Penulisan tesis ini dapat diselesaikan atas bantuan dan dukungan dari teman-teman seperjuangan di Program Studi Ilmu Ternak. Terima kasih diucapkan kepada Eli Sahara, SPt, MSi, Ir. Agus Triyanto, MSi, Zuraid Watihellow, SPt, Dwi Kusuma, SPt, MSi, Meisi Lianasari, SPt, MSi, Ir. Insun Sangaji, MSi, DR. Ir. Jasmal A. Syamsu MSi, Dra Diffah Hanim, MSi dan terima kasih kepada Insan

Kurnia S.Hut serta Asep Ahyat S.Hut yang telah membantu selama menempuh

studi di IPB.

Kepada Ayahanda Abu. B. Tamnge (Alm), Ibunda Norma Duwila, saudara-saudaraku Ruslia Tamnge, SH, Muchlis Tamnge dan Muhammad V. Tamnge, SH terimakasih atas segala kasih sayang, semangat dan dukungan kepada penulis untuk meraih dan mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Akhirnya kepada suamiku tersayang Ir. Sabrani penulis mengucapkan terima kasih atas pengertian yang diberikan serta semangat dan dukungan kepada penulis untuk meraih cita-cita.

Akhirnya semoga tesis ini dapat bermanfaat untuk pengembangan konservasi burung Mamoa khususnya di Maluku Utara.

Bogor, Juni 2006

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ternate (Maluku Utara) tanggal 22 Agustus 1971, anak kedua dari empat bersaudara dari ayah Abu B. Tamnge (alm) dan Ibu Norma Duwila. Pada tahun 1990 penulis lulus dari SMA Negeri I Ternate dan pada tahun yang sama penulis diterima di Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi Manado. Penulis memilih Jurusan Ilmu Produksi Ternak dan meraih sarjana peternakan pada tahun 1996. Sejak tahun 2001 hingga sekarang penulis bekerja sebagai staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate. Kesempatan untuk melanjutkan studi ke Program Magister Sains pada Program Studi Ilmu Ternak Sekolah Pascasarjana IPB baru terlaksana pada tahun 2003 dengan beasiswa BPPS Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas.

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL xi

DAFTAR GAMBAR xii

PENDAHULUAN 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 1 Perumusan Masalah ... 2 Manfaat ... 3 Kerangka Pemikiran ... 3 TINJAUAN PUSTAKA ... 5 Burung Mamoa (Eulipoa wallacei) ... 5 Status Populasi ... 7 Habitat ... 8 Kebiasaan dan Tingkah Laku Umum ... 9 Penetasan Telur ... Perkembangan Embrio ...

11 12 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 16 MATERI DAN METODE PENELITIAN ... 19 Tempat dan Waktu Penelitian ... 19 Materi Penelitian ... 19 Alat dan Bahan ... 19 Pelaksanaan Penelitian ... 20 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30 Deskripsi Lokasi ... 30 Karakteristik Sarang Pengeraman ... 35 Tekstur Tanah Sarang Bertelur ... 35 pH (Keasaman) Sarang Pengeraman ... 36 Kandungan Kuarsa (SiO2) Sarang Pengeraman ... 36 Dimensi Sarang Pengeraman ... 37 Hubungan Temperatur dan Kedalaman Sarang Pengeraman... 38 Kelembaban ... 42

Interaksi dengan Satwaliar Lain ... 43

Deskripsi Telur ... 44 Lama Inkubasi ... 47 Perkembangan Bobot Embrio ... 48 Tahapan Perkembangan Bobot Embrio ... 49 Fertilitas ... 56 Daya Tetas ... 57 Hubungan Bobot Telur dan Bobot Tetas ... 59 Viabilitas ... 60 KESIMPULAN ... 63 DAFTAR PUSTAKA ... 64 LAMPIRAN ... 68

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Analisa tanah sarang pengeraman burung Mamoa ... 35 2. Dimensi sarang pengeraman ... 37 3. Hubungan temperatur dan kedalaman sarang pengeraman ... 39 4. Kelembaban sarang pengeraman ... 42 5. Interaksi burung Mamoa dengan satwaliar lain ... 43 6. Rataan morfometri telur burung Mamoa ... 46 7. Rataan bobot embrio burung Mamoa yang ditetaskan

secara buatan dan alami... 48 8. Tahapan perkembangan embrio burung Mamoa yang tetaskan

secara buatan dan alami ... 50 9. Daya Tetas Telur Burung Mamoa yang Ditetaskan Secara buatan

dan alami ... 58 10. Rataan Bobot Telur dan Bobot Tetas serta persamaan regresi... 60

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Kerangka pemikiran ... 4 2. Induk burung Mamoa ... 6 3. Peta lokasi penelitian ... 18 4. Kerangka kotak sarang... 24 5. Tahapan pelaksanaan penelitian ... 29 6. Lokasi bertelur di pantai Denamabobane ... 31 7. Lokasi bertelur di pantai Tiabo ... 33 8. Lokasi bertelur di pantai Uwo Uwo ... 34 9. a. Perubahan temperatur sarang menurut waktu (siang dan

malam pantai di Denamabobane ... 40 b. Perubahan temperatur sarang menurut waktu (siang dan

malam di pantai Tiabo ... 40 c. Perubahan temperatur sarang menurut waktu (siang dan

malam di pantai Uwo Uwo ... 41 10. Bentuk telur burung Mamoa ... 45 11. Histogram lama inkubasi telur yang ditetaskan secara buatan

Dan alami ... 47 12. Perkembangan bobot embrio burung Mamoa yang ditetaskan

Secara buatan dan alami ... 49 13. Tahapan perkembangan embrio burung Mamoa yang ditetaskan

Secara buatan dan alami ... 54 14. Proses pipping pada burung Mamoa ... 56 15. Anak burung Mamoa ... 61

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Prosedur pembuatan preparat utuh 69

2. a Vegetasi habitat bertelur burung Mamoa di pantai

Denamabobane... 70 b. Vegetasi habitat bertelur burung Mamoa di pantai Tiabo... 71 c. Vegetasi habitat bertelur burung Mamoa di pantai Uwo Uwo... 72 3. Hasil analisis tanah sarang pengeraman burung Mamoa... 72 4. a. Hasil analisis statistik deskriptif dimnsi sarang burung Mamoa di pantai Denamabobane ... 73 b. Hasil analisis statistik deskriptif dimnsi sarang burung Mamoa di pantai Tiabo... 74 c. Hasil analisis statistik deskriptif dimnsi sarang burung Mamoa di pantai Uwo Uwo... 75 5. Hasil analisis deskriptif temperatur dan kelembabab sarang

pengeraman di pantai Denamabobane, Tiabo dan Uwo Uwo... 76 6. a. Hasil analisis regresi hubungan temperatur dan kedalaman

sarang pengeraman di pantai Denamabobane ... 77 b. Hasil analisis regresi hubungan temperatur dan kedalaman sarang Pengeraman di pantai Tiabo ... 78 c. Hasil analisis regresi hubungan temperatur dan kedalaman sarang Pengeraman di pantai Uwo Uwo... 79 7. Rataan pengukuran temperatur tanah sarang pengeraman di pantai

Denamabobane, Tiabo dan Uwo Uwo ... 80 8. Hasil analisis statistik deskriptif kelembaban tanah sarang

Pengeraman ... 81 9. Hasil analisis statistik morfometri telur burung Mamoa yang

ditetaskan secara buatan dan alami ... 82 10. Hasil analisis bobot embrio burung Mamoa yang ditetaskan secara

Buatan dan alami ... 83 11. a. Hasil analisis regresi hubungan antara bobot telur dan bobot

tetas burung Mamoa yang ditetaskan secara buatan ... 85 11. b. Hasil analisis regresi hubungan antara bobot telur dan bobot

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Maluku Utara adalah salah satu daerah prioritas bagi konservasi, secara global menjadi daerah prioritas untuk biodiversity. Pulau Halmahera merupakan pulau utama yang mencakup bagian terbesar hidupan liar, dengan 210 jenis burung, sementara sebagian besar spesies burung endemik yaitu 26 speseies yang terdapat di kepulauan Maluku 24 diantaranya terdapat di Maluku Utara (Sujatnika et al. 1995).

Megapodidae adalah salah satu genus burung endemik yang terdapat di Maluku Utara. Dari 22 spesies Megapoda 3 diantaranya terdapat di Maluku Utara yaitu: Eulipoa wallacei (Megapodius wallacei = Burung Mamoa = Gosong Maluku), Megapodius bernsteinii (Gosong sula), dan Megapodius freycinent (Gosong kelam) (Sujatnika et al. 1995; Coates dan Bishop 2000). Burung Mamoa tidak mengerami telurnya sendiri seperti pada unggas lainnya, melainkan telurnya dibenamkan di dalam pasir dan menggunakan sumber panas matahari, dalam bumi atau keduanya untuk mengeramkan telurnya (Joanes 1995; Heij dan Rompas 1997).

Kecamatan Galela merupakan daerah populasi terbesar bagi burung Mamoa (Eulipoa wallacei). Masyarakat setempat memanfaatkan burung dan telurnya sebagai sumber protein untuk dimakan, juga sebagai sumber mata pencaharian. Ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup burung Mamoa yaitu adanya pemanenan telur yang berlebihan, berpotensi pada penurunan jumlah populasi burung ini serta dipercepat dengan degradasi dan fragmentasi lokasi bersarang.

Status populasi burung ini sudah dilindungi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 757/Kpts/Um/12/1979 tertanggal 5 Desember 1979 (Noerdjito dan Maryanto 2001). Namun sampai saat ini, lokasi bertelur burung Mamoa di Kecamatan Galela (Kabupaten Halmahera Utara) belum ada suatu keputusan untuk melindungi lokasi burung ini melangsungkan kehidupannya agar dapat terhindar dari ancaman kepunahan.

Lokasi atau lapangan bertelur adalah komponen yang penting yang harus diperhatikan, karena lapangan tempat bertelur juga berfungsi sebagai tempat untuk

mengeramkan telurnya. Megapodius tidak mengerami telurnya sendiri, telurnya

dibenamkan dalam pasir pada kedalaman tertentu di pantai sebagai sumber panas dari dalam bumi, setelah bertelur induk burung Mamoa meninggalkan telurnya yang telah dibenamkan di dalam pasir sampai waktunya menetas.

Dalam rangka upaya konservasi bagi burung Mamoa, diperlukan informasi baik ekologis maupun biologis dari satwa tersebut. Salah satu aspek biologis yang perlu diperhatikan adalah bagaimana tahapan perkembangan dari embrionya sehubungaan dengan penggunaan sumber panas bumi untuk inkubasi telurnya. dan selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah gangguan oleh aktivitas manusia serta hewan lain yang berada di lokasi bertelur.

Penetasan merupakan proses yang harus dilalui oleh unggas pada umumnya demi kelangsungan keturunannya. Sangatlah penting untuk mengetahui informasi tentang perkembangan embrio burung Mamoa, karena sampai saat ini informasi dasar tentang perkembangan burung Mamoa masih sangat kurang sehingga belum diketahui bagaimana tahapan perkembangan embrionya. Pada penelitian ini akan dilihat bagaimana tahapan perkembangan embrio burung Mamoa yang ditetaskan di dalam inkubator dan secara alami serta kemampuan hidup anak burung Mamoa setelah menetas sampai umur berumur 1 bulan.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini untuk mempelajari karakteristik sarang pengeraman di habitat bertelur serta mempelajari tahapan perkembangan embrio burung Mamoa yang ditetaskan secara buatan dan di alam, agar dapat memperoleh gambaran: (1) perkembangan embrio dari setiap tahapan pada proses penetasan buatan dan di alam; (2) membandingkan tingkat keberhasilan penetasan buatan dan di alam; dan (3) gambaran kemampuan hidup anak burung Mamoa sampai berumur 1 bulan.

Perumusan Masalah

Penelitian burung Mamoa yang dilakukan selama ini masih bersifat eksplorasi pada habitat alaminya dan belum ada ada informasi karakteristik sarang pengeraman serta tahapan perkembangan embrio dan pertumbuhannya.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian diharapkan berguna untuk :

1) memperoleh gambaran perkembangan embrio yang ditetaskan secara buatan dan di alam,

2) sebagai informasi dasar yang digunakan pada penelitian-penelitian selanjutnya untuk menunjang konservasi burung Mamoa dan

3) membantu program pegembangbiakan secara masal. Kerangka Pemikiran

Habitat hidup burung Mamoa di hutan dan habitat bertelur di pantai. Setelah bertelur induk burung Mamoa terbang kembali ke hutan. Burung Mamoa tidak mengerami telurnya sendiri seperti unggas pada umumnya. Telurnya diinkubasi di alam dengan menggunakan sumber panas matahari. Penetasan merupakan proses yang harus dilalui oleh semua unggas untuk melihat perkembangan embrionya. Dalam penelitian ini proses penetasan terbagi atas dua yaitu proses penetasan secara alami dan di dalam mesin tetas. Tujuan kedua proses ini untuk mepelajari tahapan perkembangan dari embrio burung Mamoa baik yang ditetaskan secara buatan maupun di alam. Pada penetasan alami selain melihat tahapan perkembangan embrio juga mempelajari karakteristik sarang pengeraman. Dari proses penetasan alami dan buatan akan dikaji secara deskriptif dan analisis untuk untuk menunjang program konservasi burung Mamoa di Kecamatan Galela Kabupaten Halmahera Utara.

Kembali

Gambar 1 Kerangka penelitian. Burung Mamoa

Hutan

Tahapan perkembangan Embrio Inkubasi

Alam (Matahari)

Karakteristik Sarang Pengeraman

Konservasi Pantai (Bertelur) Data dasar Habitat Buatan Komersialisasi

TINJAUAN PUSTAKA

Burung Mamoa (Eulipoa wallacei)

Menurut Jones et al. (1995) burung Mamoa termasuk ordo Galiformes, terdiri atas lima Famili antara lain Megapodidae. Daerah penyebaran burung Mamoa yaitu pulau Halmahera, Ternate, Buru, Seram, Ambon, Haruku dan Misol (Andrew 1992; Coates dan Bishops 2000). Menurut White dan Bruce (1986); Anonim (2006) klasifikasi burung Mamoa adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Philum : Chordata Sub philum : Vertebrata Kelas : Aves Ordo : Galiformes Famili : Megapodiidae

Genus : Megapodius (Gaimard 1832)

Spesies : Eulipoa wallacei (Ogilvie dan Grant 1893 dalam Heij dan Rompas 1997).

Sinonim : Megapodius wallacei (Gray 1860).

Nama daerah : Mamua (Obi), Mamoa (Ternate dan Halmahera), burung Galela (Halmahera Barat), Nan lato (Buru Tengah), Mamor (Seram Timur), Manulai (Seram Utara) (Heij dan Rompas 1997).

Dari klasifikasi nama ini nampak bahwa pemberian nama famili Megapodidae ini terdapat beberapa pendapat pada pemberian nama. Megapodius wallacei (White dan Bruce 1986; Dekker 1990), menyebut Eulipoa wallacei (Ogilvie dan Grant 1860 dalam Heij dan Rompas 1997; MacKinon dan Wind 1980; Hoyo et al. 1994). Rosellar dalam Heij (1997) dan Jones et al. (1995) mengemukakan bahwa dalam taksonomi Eulipoa wallacei dekat hubungannya dengan Megapodius tetapi secara jelas terdapat perbedaan pada warna bulu dan beberapa perbedaan struktur sehingga spesies ini ditempatkan ke dalam genus Eulipoa.

Burung Mamoa merupakan burung dataran yang memiliki paruh pendek, keras dan melengkung ke bawah, sayapnya pendek, mampu berlari dengan baik

tetapi tidak bisa berenang. Burung Mamoa memiliki jari kaki dan kuku yang besar

serta kuat, ini ada hubungannya dengan fungsi dari kuku yaitu untuk menggali lubang pada tempat-tempat bertelur (Jones et al.1995).

Gambar 2 Induk burung Mamoa (Eulipoa wallacei) (Sumber : Coates dan Bishop 2000).

Jumlah telur yang dihasilkan seekor burung betina per tahun per musim tidak diketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan seekor burung bertelur antara 12 – 14 hari atau sekitar 8-9 butir per musim bertelur (Heij dan Rompas 1997). Warna telur dari burung ini dikatakan merah karat, semakin lama dalam penetasan warna telur akan semakin luntur. Berat telur dari burung ini berkisar antara 103.6-120 g/butirr pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau berkisar antara 100 – 124 gr/butir dengan panjang antara 78.1-85.5 mm dan lebar 42.0-51, 8 mm (Heij dan Rompas 1997; Gilliant 1998).

Anak burung yang baru menetas mempunyai bobot 61.1g. Berlainan dengan unggas lainnya anak burung Mamoa sewaktu menetas tidak mempunyai gigi telur (egg tooth). Anak burung ini dapat mencari makan secukupnya dalam jangka waktu sehari (Heij dan Rompas 1997). Burung Mamoa dewasa mempunyai panjang tubuh : 325-350 mm, sayap 190-200 mm, ekor 65-80 mm, tarsus 44-55 mm, paruh 133 mm, jari tengah 37 mm dan jari tengah dengan cakar 58 mm Anak burung memiliki sayap panjang 86,96 mm; panjang tarsus 25.5-28.1 mm; dengan

berat badan 68-79 (Gray 1986). Selanjutnya Menurut Heij dan Rompas (1997)

kisaran bobot burung betina dewasa 450-515 g/ekor.

Seluruh permukaan tubuh burung betina yang ditemukan di lokasi bertelur tertutup bulu, pada bagian punggung berwarna abu-abu; tungging dan ekor berwarna abu-abu terang, abu-abu kebiruan, abu-abu gelap dengan sedikit kehijauan pada bagian tepinya. Bulu penutup sayap utama berwarna abu-abu dengan pita merah marun dan abu-abu dengan warna kuning tua pada bagian tepi, sedangkan pada bulu penutup atas bagian tengah berwarna abu-abu dengan warna hijau pada bagian tepi. Bulu primer sayap atas kecoklatan, abu-abu coklat atau abu-abu gelap dengan warna kuning tua pada ujung bawah bagian dalam. Bulu sekunder berwarna abu-abu terang kehijauan, coklat kehijauan atau abu-abu dengan coklat kehijauan. Dada berwarna abu-abu atau abu-abu gelap, pada bagian perut berwarna abu-abu gelap tetapi lebih terang dari dada (Heij dan Rompas 1997).

Jumlah telur yang dihasilkan seekor burung betina per tahun per musim tidak diketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan seekor burung bertelur antara 12-14 hari atau sekitar 8-9 butir per musim bertelur (Heij dan Rompas 1997). Warna telur dari burung ini dikatakan merah karat, semakin lama dalam penetasan warna telur akan semakin luntur. Berat telur dari burung ini berkisar antara 103.6-120 g/butirr pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau berkisar antara 100- 124 gr/butir dengan panjang antara 78.1-85.5 mm dan lebar 42.0-51. 8 mm (Heij dan Rompas 1997; Gilliant 1998).

Status Populasi

Burung Mamoa terdapat di Kepulauan Maluku, Buru, Seram, Haruku, Ambon, Halmahera. Populasi burung Mamoadi alam mengalami penurunan tajam karena keterbatasan habitatnya. Berdasarkan pembagian wilayah biografi burung-burung yang terancam punah, status dari burung-burung adalah rentan karena hilangnya habitat, dan perburuan (Shannaz dan Rudiyanto 1995).

Di Maluku Utara populasi burung Mamoa terdapat di Pulau Halmahera, Tidore dan ternate, tetapi di pulau Tidore dan Ternate sekarang ini satwa ini tidak temukan (Heij dan Rompas 1997). Pengumpulan telur yang berlebihan untuk

keperluan sehari-hari dan perdagangan sering dilakukan penduduk setempat.

Pemerintah Daerah diharapkan berperan aktif untuk melindungi jenis burung ini, karena sampai saat ini lokasi tempat bertelur yang juga sekaligus berfungsi sebagai lokasi untuk pengeraman telurnya belum dilindungi. Populasi burung Mamoa di Galela sampai saat ini belum diketahui dengan pasti berapa populasinya. Selain rawan terhadap gangguan manusia, gangguan lain adalah predator seperti biawak (Varanus salvator), ular dan anjing (Gilliant 1998).

Ancaman yang berpotensi terhadap penurunan jumlah populasi burung Mamoa adalah kerusakan habitat dan pemanenan telur yang berlebihan serta perburuan. Kerusakan hutan, pengambilan pasir serta penutupan permukaan pasir pada lokasi bertelur oleh tanaman bawah (undergrowth) merupakan penyebab berkurangnya populasi burung Mamoa (Shannaz dan Rudiyanto 1995, Pengamatan pribadi 2005).

Habitat

Burung ini merupakan penghuni hutan pegunungan tropika, sebagaimana genus Megapodidae lainnya. Selanjutnya Wallace (1886) dalam Heij dan Rompas (1997), mengatakan burung ini terdapat dalam hutan dan perbukitan. Burung-burung betinanya akan terbang ke pantai untuk meletakkan telurnya. Satwa ini juga menghuni hutan hujan yang selalu hijau dan hutan pantai sampai hutan dataran rendah, dengan ketinggian antara 750-1 650 m dpl, juga hidup di hutan yang rusak.

Masa bersarang terjadi pada saat meletakkan telurnya, dan telur diletakan dalam lubang-lubang di pantai berpasir. Panas matahari merupakan salah satu faktor yang berperan untuk inkubasi. Tidak banyak yang diketahui mengenai habitat hidup burung Mamoa, karena dalam literatur hanya terdapat informasi yang terbatas dan kebanyakan hanya pengamatan sepintas. Burung ini merupakan hewan pemalu dan sulit untuk ditemukan, burung ini hanya akan ditemukan di tempat bertelur dan sebagian besar adalah induk betina, sedangkan yang jantannya jarang ditemukan di tempat bertelur (Heij dan Rompas 1997).

Lubang pengeraman terletak di pantai dan tanah vulkanik yang berada di gunung atau di hutan. Ukuran lubang pengeraman bervariasi dan kedalamannya

tergantung pada substrat dan temperatur serta musim dimana burung Mamoa ini

bertelur. Luas permukaan lubang 345 cm dengan kedalaman 78-100 cm dan pada musim kemarau luas permukaan 300 cm dengan kedalaman 60-70 cm, sedangkan suhunya pada kedalaman 60-100 cm berfluktuasi antara 31-350C (Heij dan Rompas 1997; Gilliant 1998). Predator merupakan salah satu ancaman bagi telur-telur burung ini seperti; biawak (Varanus salvator), soa-soa (Hydrosaturus amboinensis) dan manusia.

Di Galela lokasi bersarangnya di Desa Toweka dan Mamuya. Lokasi bersarang terdiri dari pasir vulkanis hitam di pantai Tiabo dan pantai Uwo-uwo. Pantai merupakan Lokasi bersarang yang utama, dengan vegetasi hutan pantai dan kelapa yang terletak di belakang lokasi bersarang (Gilliant 1998).

Kebiasaan Hidup dan Tingkah Laku Umum

Kebiasaan hidup dan tingkah laku umum dari burung Mamoa ini nampaknya hidup menetap di hutan. Memiliki sifat pemalu sehingga jarang sekali terlihat di luar daerah bertelur dan habitat hidupnya (Heij dan Rompas 1987). Di dalam hutan mereka mencari makan dan melakukan aktivitas hariannya seperti beristirahat, bermain dan bersuara. Burung ini termasuk hewan yang monogami hidupnya selalu berpasangan di dalam hutan, kadang-kadang terbang, kemudian hinggap dan bertengger di pohon untuk tidur (White dan Bruce 1986).

Menurut Heij dan Rompas (1997) menyatakan bahwa burung Mamoa bertelur pada sepanjang malam sampai pagi hari. Di pulau Haruku pada saat bertelur burung Mamoa terbang sejajar dengan garis pantai dan setinggi pohon. Saat tiba di pantai tempat bertelur berdiri diam sambil mengamati daerah tersebut. Kemudian seringkali burung ini bergerak ke kiri dan kanan, berhenti sambil melihat sekelilingnya. Jika merasa aman burung ini akan melakukan penggalian lubang sarang pengeraman dengan menggunakan cakarnya yang runcing dan keras. Dalam waktu 2 menit burung ini sudah berada dibawah pasir. Selama membuat lubang sarang pengeraman, burung ini selalu merubah arah, dan membuat 3 sampai 4 lubang, sehingga dapat berlansung sampai berjam-jam. Seteleh melakukan penggalian beberapa lubang, indunk burung Mamoa menghilang dalam salah satu lubang selama beberapa menit untuk meletakkan

telurnya. Setelah bertelur, kemudian keluar dari lubang sarang pengeraman induk

burung Mamoa menggetarkan bulunya dan membuang pasir kedalam lubang tersebut.

Pada lokasi bertelur yang terdapat di pantai Uwo Uwo, terlihat saat bertelur burung ini terbang dari habitat hidupnya di pegunungan Dukono menuju lokasi bertelur secara berkelompok. Dalam semalam biasanya terdapat tiga kelompok

Dokumen terkait