• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 15 Anak burung Mamoa yang ditetaskan secara buatan dan di alam (a) umur 1 hari pada penetasan buatan (b) umur 1 minggu pada

penetasan buatan (c) umur 2 minggu di alam (d) umur 3 minggu

di alam.

Fertilitas dan daya tetas yang tinggi dapat dijadikan ukuran nilai viabilitas.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa viabilitas dari anak burung Mamoa yang

ditetaskan secara buatan dan alami nilainya cukup tinggi yaitu 100%. Dari 45 telur

yang menetas pada penetasan buatan dan 52 telur yang ditetaskan secara alami,

menghasilkan anak burung normal dan tidak ada yang cacat. Anak burung Mamoa

yang ditetaskan secara buatan pada saat menetas sampai umur 2 hari belum

melakukan aktifitas seperti terbang dan makan.

Pada hari ke-3 di siang hari anak burung tidak melakukan aktifitas seperti

mencari makan tetapi duduk dan bertumpu pada kakinya. Anak burung Mamoa

terlihat aktif pada malam hari, mencari makan dengan cara mengais dan mencakar di

tanah. Sedangkan anak burung yang ditetaskan secara alami setelah menetas dan

muncul di permukaan tanah terlihat langsung aktif .

Pada malam hari anak burung yang di kandangkan terlihat mengais tanah

mencari makan. Makanan yang diberikan pada anak burung sewaktu menetas sampai

berumur 1 bulan; kroto, ulat dan semut. Anak burung yang di kandangkan dapat

bertahan hidup sampai 1 bulan, walaupun ada anakan yang mati. Pada malam hari

anak burung terlihat sangat aktif mencari makan. Bila didekati anak burung terbang

dan menabrak dinding kandang, diduga karena stres sehingga anak burung terbang

dan menabrak dinding kandang sehingga ada anak burung yang mati.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1. Pemilihan sarang untuk meletakkan telur di pantai oleh induk burung Mamoa ada

hubungannya dengan karakteristik tanah sarang pengeraman meliputi tekstur

tanah, temperatur dan dimensi sarang. pH (keasaman) tanah di lokasi bertelur

burung Mamoa yang terdapat di Kecamatan Galela tidak terlalu bervariasi yaitu

dari masam sampai agak masam pada kisaran pH 5.9 – 6.7 dengan kandungan

kuarsa (SiO

2

) mencapai 52.1%, dianggap cukup efektif sebagai tempat untuk

menginkubasi telurnya demi kelangsungan keturunannya.

2. Tahapan perkembangan embrio yang ditetaskan secara buatan lebih cepat

dibandingkan dengan penetasan alami, tetapi waktu yang dibutuhkan untuk

mengetahui perkembangan embrio pada penetasan buatan dan alami sama pada

hari ke-10.

3. Organ tubuh embrio yang tergolong vital (kepala dan mata) tubuh lebih cepat

dibandingkan anggota tubuh lainnya. Selanjutnya diikuti oleh organ yang lain.

Pada saat menetas anak burung Mamoa sudah memiliki bulu primer pada sayap

yang lengkap, cakar yang keras dan tajam serta runcing. Oleh sebab itu anak

burung Mamoa yang ditetaskan di alam saat menetas dan mencapai permukaan

tanah sudah dapat mencari makan sendiri dan terbang beberapa saat kemudian.

4. Penetasan telur burung Mamoa dapat dilakukan dengan menggunakan mesin tetas

pada suhu 35

0

C dengan kelembaban 70% menghasilkan daya tetas 81,18%,

sedangkan penetasan alami kedalaman 50 cm berhasil 100%. Viabilitas 100%

sampai unur 1 bulan.

Saran

1. Perlu dilakukan perlindungan terhadap habitat dan lingkungan sekitar tempat

bertelur burung Mamoa.

lanjutan, bagaimana menangani stres pada anak burung Mamoa dengan

mendesain kandangnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Itis Standar Report Megapodius. http://www.Megapodius

wallacei.htm [3 juni 2006].

Andrew P. 1992. The Bird of Indonesia. A Chicklist (Peters sequence). Kukila

checklist no 1. Indonesia Ornithology Jakarta.

Adamstone FB dan Shuway W. 1954. A Laboratory Manual of Vertebrate

Embryology : Anatomy of Selected embryos of the Frog, Chicken and

Pig. 3

rd

. Edition. John Wiley and sons, Inc. New York.

[BPS] 2003. Kabupaten Maluku Utara dalam angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten

Maluku Utara. Maluku.

Bappeda Maluku Utara. 2000. Monografi Daerah Tinggakt II Kabupaten

Maluku Utara. Maluku.

Bruzual JJ, Brake SD, Peebles ED. 2000. Effects of relative umidity during

incubation on hatchability and weight of broiler chicks from young breeder

flokcks. Poultry Sci 79 : 827 – 830.

Bakst MR, Gupta SK, Akuffo V. 1997. Preincubation Storage of Turkey Egss :

Impact on rate of early embryonic development. Br Poult Sci 38:374-377.

Bellairs R. 1993. Fertilization and early embryonic development in poultry. Poultry

Sci 72 : 874 – 881.

Balinsky BI.1970. An Introduction to Embryology. 3

rd

Edition. Saunders WB

Company. Philadelphia, London.

Benyamin EE, Grew JM, Faher FL, Termoblon WD. 1960. Marketing Poulyty

Production. 5

rd

Edition. John Wiley and Sons. Inc, New York.

Coates BJ, KD Bishop. 2000. Panduan Lapangan Burung-Burung di Kawasan

Wallace. Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. BirdLife

Internasional-Indonesia Bogor.

Card LE. 1962. Poultry Production. Lea and Febinger Philadephia.

Dekker R. 1988. Notes on Ground Temperatures at Nesting Sites of Maleo,

Etches RJ. 1996. Reproducton in Poultry. CAB. International.

Elliot HJA de, Sargatal J. 1994. Handbook of the Birds of the World. New Word

Cultures to Guineafowl. Lynx editions. Barcelona.

Funk EM dan Irwin MR. 1955. Hatchery operation and Management. John Wiley

and sons, Inc New York.

Foth HD. 1991. Fundamental of Soil Science. Purbayanti ED, Lukiwati DR, dan

Trimulatsih R (Terj). Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Fisser PS, Macpherson JW. 1974. Development of embryonic structures from

dispersed chick balstoderm cell. Poult Sci 53 : 565-571.

Gayo I. 2000. Atlas Indonesia Baru. Upaya warga Negara Jakarta.

Gilliant B. 1998. Bird of The Spice Island Molucan Megapoda Conservation Project

University of Sussex.

Gupta S, Bakst MK. 1993. Turkey embryo development from cleavage through as

influenced by egg weight and inbreeding. Poultry Sci : 65 : 812 – 818.

Gray GR. 1986. List of Bir Collected by Mr. Wallace At The Moluccan Island With

Description of New New Species, etc. Proc Zool Soc Lond 321-3666.

Heij CJ dan Rompas CFE. 1997 Ekologi Megapoda Maluku (Burung Momoa,

Eulipoa Wallacei) di Pulau Haruku dan Beberapa Pulau di Maluku, Indonesia

Roterdam Belanda.

Hardjowigeno S. 1992. Ilmu Tanah. Medyatama Sarana Pustaka. Jakarta.

Hadijah S. 1987. Hubungan antara bobot telur, indeks telur dengan fertilitas, daya

tetas dan bobot tetas burunh puyuh. [Karya Ilmiah]. Fakultas Peternakan Institut

Pertanian Bogor.

Hafez ESE. 1987. Reproduction in Farm Animal. Lea and Febiger. Philadelphia.

Hakim N, Nyapaka MY, Lubis AM, Nugroho SG, Hiha MA, Hong GB, Bailey HH.

1986. Dasar- Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.

Hamburger V dan Hamilton LH. 1951. A series of normal stages in development of

the chick embryo. J Morphol 88 : 49-92.

Humanson GL, 1962. Animal Tissue Technology. W.H. Freeman and Company, San

Fransisco and London.

Huettner AF. 1957. Fundamental of Comparative Embryology of The Vertebrates

Macmillian Company New York.

Hamiltonn HL. 1952. Lilie’s Development of the Chick An Introduction to

Embryology. 3

rd

. Edition. Henry Holt and Company, Inc. New York.

Iman RHS. 2001. Karakteristik fisik dan nutrisi telur ayam merawang. Bulletin of

animal science edisi tambahan. Fakultas Peternakan UGM, Jogyakarta.

Jones DN, Dekker WRJ dan Roselaar CS. 1995. The Megapopdes Megapodiidae.

Oxford University Press. Oxford

Jull MA.. 1951. Poultry Husbandry. 3

rd

Edition. Mc. Graw Hill Book Co., Inc New

York.

Mardiastuti A. 1991. Differens in Size Among Waterbird Egg in Pulau Rambut :

Some Preliminary Observation. Media Konservasi III (2) : 66 – 77.

Mackinon J dan Wind J. 1980. Birds of Indonesia. Food and agricultur organization

of the United Nations. Bogor

Nggobe M. 2003. Perkembangan bobot dan penampilan embrio itik alabio dan hasil

persilangannya dengan entok jantan sebagai pedoman untuk menduga umur

embrio. [Tesis] Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Noerdjito M dan Maryanto I.. 2001. Jenis-Jenis Hayati yang Dilindungi

Perundang-undangan Indonesia. Balitbang Zoologi Puslitbang Biologi LIPI Cibinong.

Nugroho E dan Whendarto I. 1993. Teknik Budidaya Walet. Eka Offset Semarang.

North MO dan Bell DD. 1990. Comersial Chicken Production Manual. 4

rd

Edition,

AVI Book Publisher van Nostrand Reinold, New York.

Neishem MC, Austic RE dan Card LE. 1979. Poultry Production Lea and Febinger.

Philadelphia.

Purwowidodo. 1998. Mengenal Hutan : Penampang Tanah. Laboratorium

Pengaruh Hutan, Jurusan Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan Institut

Pertanian Bogor.

Philips RE, William CS. 1994. External morphology of the turkey during the

incubation. Poultry Sci 19 : 396-400.

Patten ME. 1987. Early Embryology of the Chick. McGraw-Hill Book

Company, Inc. London.

Romanoff AL dan Romanoff AJ. 1963. The avian Egg. John Wiley and sons

Inc. New York.

Srigandono B. 1997. Produksi telur dan beberapa varietas local itik

Indonesia (Anas domesticus) di Semarang. Pusat Riset dan

Pengembangan Universitas Diponegoro Semarang.

Schoenwolf GC. 1995. Laboratory Studies of Veteryner and Invertebrata

embryos. Prentice Hall Jersey.

Shannaz JP dan Rudiyanto. 1995. Burung-Burung Terancam Punah di Indonesia.

Birdlife Indonesia. Jakatra.

Steel RGD dan Torrie JH. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika. PT Gramedia

Pustaka Utama Jakarta.

Sumangando A. 2002. Biologi Perkembangan Burung Maleo (Macrocephalon maleo,

Sall, Muller 1846) yang Ditetaskan Secara Ex-situ. {Tesis] Sekolah

Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Sujatnika, Jepson P, Soerhartono TR, Crocby MJ, Mardiastuti A. 1995. Melestarikan

Keanekaragaman Hayati Indonesia : Pendekatan Daerah Endemik. BirdLife

Internasional Indonesia Program. Bogor.

Suhana DS dan Rafiah R. 1982. Diferensial-Embriologi dalam Tingkat Seluler,

Subsluler dan Molekuler. Fakultas Kedokteran, Universitas Indonsia. Jakarta.

Suratmo FG. 1979. Prinsip Dasar Tingkah Laku Satwaliar. Training School for

Animal Wildlife (ATA, 1990) dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Susanto. 1998. Studi Interaksi Antara Komodo (Veranus Komodoensis Ouwens,

1912) Dengan Burung Gosong (Megapodius reindwardt Galmardt 1823) di

Pulau Komodo Taman Nasional Komodo Nusa Tenggara Timur. [Skripsi]

Jurusan Konsevasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian

Bogor.

White CMN, Bruce MD. 1986. The Birds of Wallacea British Ornithologist Union

London.

Winter AR dan Funk EM. 1956. Poultry Science and Practice. 4

rd

Edition. JB

Lippincot Company Chicago, Philadelphia, New York.

Lampiran 1 Prosedur Pembuatan Preparat Utuh (Humanson, 1962) sebagai

berikut :

1. Telur yang digunakan untuk membuat preparat utuh adalah telur yang sudah

terlihat perkembangan embrionya.

2. Telur dipecahkan secara perlahan-lahan, diusahakan agar selaput kuning telur

tidak sobek, albumen dipisahkan, selanjutnya kuning telur diletakkan dalam

cawan Petri dan diupayakan agar bagian yang ada embrio (blastodisc) selalu

berada di bagian atas kuning telur sehingga mudah dalam pengambilan.

3. Kertas saring di buat menyerupai bentuk “reket” yang diameternya disesuaikan

dengan ukuran embrio. Kertas tersebut diletakkan pada embrio sambil menekan

secara perlahan-lahan agar semua bagian kertas terlihat basah lalu digunting

secara melingkar mengikuti ukuran kertas.

4. Kertas yang terdapat embrio diangkat kemudian dimasukkan ke dalam cawan

Petri yang berisi larutan NaCl fisiologis. Agar embrio dapat terlepas maka kertas

yang terdapat embrio tersebut digoyang secara perlahan-lahan dan diusahakan

embrio tersebut tidak sobek. Setelah terlepas dicuci beberapa kali dengan

menggunakan larutan NaCl fisiologis agar sisa-sisa kuning telur yang melekat

pada embrio dapat dibersihkan. Selanjutnya NaCl fisiologis yang ada dicawan

disedot keluar dari cawan Petri lalu dilakukan fiksasi dengan menggunakan

larutan Bouin dan dibiarkan selama 24 jam.

5. Keesokan harinya larutan bouin disedot keluar dari cawan Petri dan dicuci dengan

alkohol bertingkat berturut-turut dari 70, 80, 90 dan 100%. Embrio dibiarkan

selama 5 menit pada setiap tingkat konsentrasi alkohol.

6. Setelah bersih alkohol disedot keluar kemudian dimasukkan larutan aseton

karmin selama 1-2 malam. Selanjutnya larutan aseton karmin disedot keluar

kemudian dicuci dengan alkohol bertingkat.

7. Kemudian dilakukan penarikan alkohol dari embrio dengan menggunakan xylol.

8. Langkah terakhir adalah menempelkan embrio pada kaca preparat. Setelah kaca

preparat dan kaca penutup dibersihkan, entelan diteteskan pada kaca preparat 2-3

tetes kemudian diratakan lalu diletakkan embrio pada entelan yang telah

diratakan, selanjutnya beberapa tetes entelan diletakan pada embrio dan ditutupi

Dokumen terkait