penetasan buatan (c) umur 2 minggu di alam (d) umur 3 minggu
di alam.
Fertilitas dan daya tetas yang tinggi dapat dijadikan ukuran nilai viabilitas.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa viabilitas dari anak burung Mamoa yang
ditetaskan secara buatan dan alami nilainya cukup tinggi yaitu 100%. Dari 45 telur
yang menetas pada penetasan buatan dan 52 telur yang ditetaskan secara alami,
menghasilkan anak burung normal dan tidak ada yang cacat. Anak burung Mamoa
yang ditetaskan secara buatan pada saat menetas sampai umur 2 hari belum
melakukan aktifitas seperti terbang dan makan.
Pada hari ke-3 di siang hari anak burung tidak melakukan aktifitas seperti
mencari makan tetapi duduk dan bertumpu pada kakinya. Anak burung Mamoa
terlihat aktif pada malam hari, mencari makan dengan cara mengais dan mencakar di
tanah. Sedangkan anak burung yang ditetaskan secara alami setelah menetas dan
muncul di permukaan tanah terlihat langsung aktif .
Pada malam hari anak burung yang di kandangkan terlihat mengais tanah
mencari makan. Makanan yang diberikan pada anak burung sewaktu menetas sampai
berumur 1 bulan; kroto, ulat dan semut. Anak burung yang di kandangkan dapat
bertahan hidup sampai 1 bulan, walaupun ada anakan yang mati. Pada malam hari
anak burung terlihat sangat aktif mencari makan. Bila didekati anak burung terbang
dan menabrak dinding kandang, diduga karena stres sehingga anak burung terbang
dan menabrak dinding kandang sehingga ada anak burung yang mati.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Pemilihan sarang untuk meletakkan telur di pantai oleh induk burung Mamoa ada
hubungannya dengan karakteristik tanah sarang pengeraman meliputi tekstur
tanah, temperatur dan dimensi sarang. pH (keasaman) tanah di lokasi bertelur
burung Mamoa yang terdapat di Kecamatan Galela tidak terlalu bervariasi yaitu
dari masam sampai agak masam pada kisaran pH 5.9 – 6.7 dengan kandungan
kuarsa (SiO
2) mencapai 52.1%, dianggap cukup efektif sebagai tempat untuk
menginkubasi telurnya demi kelangsungan keturunannya.
2. Tahapan perkembangan embrio yang ditetaskan secara buatan lebih cepat
dibandingkan dengan penetasan alami, tetapi waktu yang dibutuhkan untuk
mengetahui perkembangan embrio pada penetasan buatan dan alami sama pada
hari ke-10.
3. Organ tubuh embrio yang tergolong vital (kepala dan mata) tubuh lebih cepat
dibandingkan anggota tubuh lainnya. Selanjutnya diikuti oleh organ yang lain.
Pada saat menetas anak burung Mamoa sudah memiliki bulu primer pada sayap
yang lengkap, cakar yang keras dan tajam serta runcing. Oleh sebab itu anak
burung Mamoa yang ditetaskan di alam saat menetas dan mencapai permukaan
tanah sudah dapat mencari makan sendiri dan terbang beberapa saat kemudian.
4. Penetasan telur burung Mamoa dapat dilakukan dengan menggunakan mesin tetas
pada suhu 35
0C dengan kelembaban 70% menghasilkan daya tetas 81,18%,
sedangkan penetasan alami kedalaman 50 cm berhasil 100%. Viabilitas 100%
sampai unur 1 bulan.
Saran
1. Perlu dilakukan perlindungan terhadap habitat dan lingkungan sekitar tempat
bertelur burung Mamoa.
lanjutan, bagaimana menangani stres pada anak burung Mamoa dengan
mendesain kandangnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Itis Standar Report Megapodius. http://www.Megapodius
wallacei.htm [3 juni 2006].
Andrew P. 1992. The Bird of Indonesia. A Chicklist (Peters sequence). Kukila
checklist no 1. Indonesia Ornithology Jakarta.
Adamstone FB dan Shuway W. 1954. A Laboratory Manual of Vertebrate
Embryology : Anatomy of Selected embryos of the Frog, Chicken and
Pig. 3
rd. Edition. John Wiley and sons, Inc. New York.
[BPS] 2003. Kabupaten Maluku Utara dalam angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten
Maluku Utara. Maluku.
Bappeda Maluku Utara. 2000. Monografi Daerah Tinggakt II Kabupaten
Maluku Utara. Maluku.
Bruzual JJ, Brake SD, Peebles ED. 2000. Effects of relative umidity during
incubation on hatchability and weight of broiler chicks from young breeder
flokcks. Poultry Sci 79 : 827 – 830.
Bakst MR, Gupta SK, Akuffo V. 1997. Preincubation Storage of Turkey Egss :
Impact on rate of early embryonic development. Br Poult Sci 38:374-377.
Bellairs R. 1993. Fertilization and early embryonic development in poultry. Poultry
Sci 72 : 874 – 881.
Balinsky BI.1970. An Introduction to Embryology. 3
rdEdition. Saunders WB
Company. Philadelphia, London.
Benyamin EE, Grew JM, Faher FL, Termoblon WD. 1960. Marketing Poulyty
Production. 5
rdEdition. John Wiley and Sons. Inc, New York.
Coates BJ, KD Bishop. 2000. Panduan Lapangan Burung-Burung di Kawasan
Wallace. Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. BirdLife
Internasional-Indonesia Bogor.
Card LE. 1962. Poultry Production. Lea and Febinger Philadephia.
Dekker R. 1988. Notes on Ground Temperatures at Nesting Sites of Maleo,
Etches RJ. 1996. Reproducton in Poultry. CAB. International.
Elliot HJA de, Sargatal J. 1994. Handbook of the Birds of the World. New Word
Cultures to Guineafowl. Lynx editions. Barcelona.
Funk EM dan Irwin MR. 1955. Hatchery operation and Management. John Wiley
and sons, Inc New York.
Foth HD. 1991. Fundamental of Soil Science. Purbayanti ED, Lukiwati DR, dan
Trimulatsih R (Terj). Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Fisser PS, Macpherson JW. 1974. Development of embryonic structures from
dispersed chick balstoderm cell. Poult Sci 53 : 565-571.
Gayo I. 2000. Atlas Indonesia Baru. Upaya warga Negara Jakarta.
Gilliant B. 1998. Bird of The Spice Island Molucan Megapoda Conservation Project
University of Sussex.
Gupta S, Bakst MK. 1993. Turkey embryo development from cleavage through as
influenced by egg weight and inbreeding. Poultry Sci : 65 : 812 – 818.
Gray GR. 1986. List of Bir Collected by Mr. Wallace At The Moluccan Island With
Description of New New Species, etc. Proc Zool Soc Lond 321-3666.
Heij CJ dan Rompas CFE. 1997 Ekologi Megapoda Maluku (Burung Momoa,
Eulipoa Wallacei) di Pulau Haruku dan Beberapa Pulau di Maluku, Indonesia
Roterdam Belanda.
Hardjowigeno S. 1992. Ilmu Tanah. Medyatama Sarana Pustaka. Jakarta.
Hadijah S. 1987. Hubungan antara bobot telur, indeks telur dengan fertilitas, daya
tetas dan bobot tetas burunh puyuh. [Karya Ilmiah]. Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor.
Hafez ESE. 1987. Reproduction in Farm Animal. Lea and Febiger. Philadelphia.
Hakim N, Nyapaka MY, Lubis AM, Nugroho SG, Hiha MA, Hong GB, Bailey HH.
1986. Dasar- Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.
Hamburger V dan Hamilton LH. 1951. A series of normal stages in development of
the chick embryo. J Morphol 88 : 49-92.
Humanson GL, 1962. Animal Tissue Technology. W.H. Freeman and Company, San
Fransisco and London.
Huettner AF. 1957. Fundamental of Comparative Embryology of The Vertebrates
Macmillian Company New York.
Hamiltonn HL. 1952. Lilie’s Development of the Chick An Introduction to
Embryology. 3
rd. Edition. Henry Holt and Company, Inc. New York.
Iman RHS. 2001. Karakteristik fisik dan nutrisi telur ayam merawang. Bulletin of
animal science edisi tambahan. Fakultas Peternakan UGM, Jogyakarta.
Jones DN, Dekker WRJ dan Roselaar CS. 1995. The Megapopdes Megapodiidae.
Oxford University Press. Oxford
Jull MA.. 1951. Poultry Husbandry. 3
rdEdition. Mc. Graw Hill Book Co., Inc New
York.
Mardiastuti A. 1991. Differens in Size Among Waterbird Egg in Pulau Rambut :
Some Preliminary Observation. Media Konservasi III (2) : 66 – 77.
Mackinon J dan Wind J. 1980. Birds of Indonesia. Food and agricultur organization
of the United Nations. Bogor
Nggobe M. 2003. Perkembangan bobot dan penampilan embrio itik alabio dan hasil
persilangannya dengan entok jantan sebagai pedoman untuk menduga umur
embrio. [Tesis] Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Noerdjito M dan Maryanto I.. 2001. Jenis-Jenis Hayati yang Dilindungi
Perundang-undangan Indonesia. Balitbang Zoologi Puslitbang Biologi LIPI Cibinong.
Nugroho E dan Whendarto I. 1993. Teknik Budidaya Walet. Eka Offset Semarang.
North MO dan Bell DD. 1990. Comersial Chicken Production Manual. 4
rdEdition,
AVI Book Publisher van Nostrand Reinold, New York.
Neishem MC, Austic RE dan Card LE. 1979. Poultry Production Lea and Febinger.
Philadelphia.
Purwowidodo. 1998. Mengenal Hutan : Penampang Tanah. Laboratorium
Pengaruh Hutan, Jurusan Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan Institut
Pertanian Bogor.
Philips RE, William CS. 1994. External morphology of the turkey during the
incubation. Poultry Sci 19 : 396-400.
Patten ME. 1987. Early Embryology of the Chick. McGraw-Hill Book
Company, Inc. London.
Romanoff AL dan Romanoff AJ. 1963. The avian Egg. John Wiley and sons
Inc. New York.
Srigandono B. 1997. Produksi telur dan beberapa varietas local itik
Indonesia (Anas domesticus) di Semarang. Pusat Riset dan
Pengembangan Universitas Diponegoro Semarang.
Schoenwolf GC. 1995. Laboratory Studies of Veteryner and Invertebrata
embryos. Prentice Hall Jersey.
Shannaz JP dan Rudiyanto. 1995. Burung-Burung Terancam Punah di Indonesia.
Birdlife Indonesia. Jakatra.
Steel RGD dan Torrie JH. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika. PT Gramedia
Pustaka Utama Jakarta.
Sumangando A. 2002. Biologi Perkembangan Burung Maleo (Macrocephalon maleo,
Sall, Muller 1846) yang Ditetaskan Secara Ex-situ. {Tesis] Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Sujatnika, Jepson P, Soerhartono TR, Crocby MJ, Mardiastuti A. 1995. Melestarikan
Keanekaragaman Hayati Indonesia : Pendekatan Daerah Endemik. BirdLife
Internasional Indonesia Program. Bogor.
Suhana DS dan Rafiah R. 1982. Diferensial-Embriologi dalam Tingkat Seluler,
Subsluler dan Molekuler. Fakultas Kedokteran, Universitas Indonsia. Jakarta.
Suratmo FG. 1979. Prinsip Dasar Tingkah Laku Satwaliar. Training School for
Animal Wildlife (ATA, 1990) dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Susanto. 1998. Studi Interaksi Antara Komodo (Veranus Komodoensis Ouwens,
1912) Dengan Burung Gosong (Megapodius reindwardt Galmardt 1823) di
Pulau Komodo Taman Nasional Komodo Nusa Tenggara Timur. [Skripsi]
Jurusan Konsevasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian
Bogor.
White CMN, Bruce MD. 1986. The Birds of Wallacea British Ornithologist Union
London.
Winter AR dan Funk EM. 1956. Poultry Science and Practice. 4
rdEdition. JB
Lippincot Company Chicago, Philadelphia, New York.
Lampiran 1 Prosedur Pembuatan Preparat Utuh (Humanson, 1962) sebagai
berikut :
1. Telur yang digunakan untuk membuat preparat utuh adalah telur yang sudah
terlihat perkembangan embrionya.
2. Telur dipecahkan secara perlahan-lahan, diusahakan agar selaput kuning telur
tidak sobek, albumen dipisahkan, selanjutnya kuning telur diletakkan dalam
cawan Petri dan diupayakan agar bagian yang ada embrio (blastodisc) selalu
berada di bagian atas kuning telur sehingga mudah dalam pengambilan.
3. Kertas saring di buat menyerupai bentuk “reket” yang diameternya disesuaikan
dengan ukuran embrio. Kertas tersebut diletakkan pada embrio sambil menekan
secara perlahan-lahan agar semua bagian kertas terlihat basah lalu digunting
secara melingkar mengikuti ukuran kertas.
4. Kertas yang terdapat embrio diangkat kemudian dimasukkan ke dalam cawan
Petri yang berisi larutan NaCl fisiologis. Agar embrio dapat terlepas maka kertas
yang terdapat embrio tersebut digoyang secara perlahan-lahan dan diusahakan
embrio tersebut tidak sobek. Setelah terlepas dicuci beberapa kali dengan
menggunakan larutan NaCl fisiologis agar sisa-sisa kuning telur yang melekat
pada embrio dapat dibersihkan. Selanjutnya NaCl fisiologis yang ada dicawan
disedot keluar dari cawan Petri lalu dilakukan fiksasi dengan menggunakan
larutan Bouin dan dibiarkan selama 24 jam.
5. Keesokan harinya larutan bouin disedot keluar dari cawan Petri dan dicuci dengan
alkohol bertingkat berturut-turut dari 70, 80, 90 dan 100%. Embrio dibiarkan
selama 5 menit pada setiap tingkat konsentrasi alkohol.
6. Setelah bersih alkohol disedot keluar kemudian dimasukkan larutan aseton
karmin selama 1-2 malam. Selanjutnya larutan aseton karmin disedot keluar
kemudian dicuci dengan alkohol bertingkat.
7. Kemudian dilakukan penarikan alkohol dari embrio dengan menggunakan xylol.
8. Langkah terakhir adalah menempelkan embrio pada kaca preparat. Setelah kaca
preparat dan kaca penutup dibersihkan, entelan diteteskan pada kaca preparat 2-3
tetes kemudian diratakan lalu diletakkan embrio pada entelan yang telah
diratakan, selanjutnya beberapa tetes entelan diletakan pada embrio dan ditutupi
Dalam dokumen
Kajian Perkembangbiakan Embrio Burung Mamoa (Eulipoa wallacei) di Kecamatan Galela Kabupaten Halmahera Utara
(Halaman 188-198)