DAFTAR TABEL
Halaman 1. Analisa tanah sarang pengeraman burung Mamoa ... 35 2. Dimensi sarang pengeraman ... 37 3. Hubungan temperatur dan kedalaman sarang pengeraman ... 39 4. Kelembaban sarang pengeraman ... 42 5. Interaksi burung Mamoa dengan satwaliar lain ... 43 6. Rataan morfometri telur burung Mamoa ... 46 7. Rataan bobot embrio burung Mamoa yang ditetaskan
secara buatan dan alami... 48 8. Tahapan perkembangan embrio burung Mamoa yang tetaskan
secara buatan dan alami ... 50 9. Daya Tetas Telur Burung Mamoa yang Ditetaskan Secara buatan
dan alami ... 58 10. Rataan Bobot Telur dan Bobot Tetas serta persamaan regresi... 60
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1. Kerangka pemikiran ... 4 2. Induk burung Mamoa ... 6 3. Peta lokasi penelitian ... 18 4. Kerangka kotak sarang... 24 5. Tahapan pelaksanaan penelitian ... 29 6. Lokasi bertelur di pantai Denamabobane ... 31 7. Lokasi bertelur di pantai Tiabo ... 33 8. Lokasi bertelur di pantai Uwo Uwo ... 34 9. a. Perubahan temperatur sarang menurut waktu (siang dan
malam pantai di Denamabobane ... 40 b. Perubahan temperatur sarang menurut waktu (siang dan
malam di pantai Tiabo ... 40 c. Perubahan temperatur sarang menurut waktu (siang dan
malam di pantai Uwo Uwo ... 41 10. Bentuk telur burung Mamoa ... 45 11. Histogram lama inkubasi telur yang ditetaskan secara buatan
Dan alami ... 47 12. Perkembangan bobot embrio burung Mamoa yang ditetaskan
Secara buatan dan alami ... 49 13. Tahapan perkembangan embrio burung Mamoa yang ditetaskan
Secara buatan dan alami ... 54 14. Proses pipping pada burung Mamoa ... 56 15. Anak burung Mamoa ... 61
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Prosedur pembuatan preparat utuh 69
2. a Vegetasi habitat bertelur burung Mamoa di pantai
Denamabobane... 70 b. Vegetasi habitat bertelur burung Mamoa di pantai Tiabo... 71 c. Vegetasi habitat bertelur burung Mamoa di pantai Uwo Uwo... 72 3. Hasil analisis tanah sarang pengeraman burung Mamoa... 72 4. a. Hasil analisis statistik deskriptif dimnsi sarang burung Mamoa di pantai Denamabobane ... 73 b. Hasil analisis statistik deskriptif dimnsi sarang burung Mamoa di pantai Tiabo... 74 c. Hasil analisis statistik deskriptif dimnsi sarang burung Mamoa di pantai Uwo Uwo... 75 5. Hasil analisis deskriptif temperatur dan kelembabab sarang
pengeraman di pantai Denamabobane, Tiabo dan Uwo Uwo... 76 6. a. Hasil analisis regresi hubungan temperatur dan kedalaman
sarang pengeraman di pantai Denamabobane ... 77 b. Hasil analisis regresi hubungan temperatur dan kedalaman sarang Pengeraman di pantai Tiabo ... 78 c. Hasil analisis regresi hubungan temperatur dan kedalaman sarang Pengeraman di pantai Uwo Uwo... 79 7. Rataan pengukuran temperatur tanah sarang pengeraman di pantai
Denamabobane, Tiabo dan Uwo Uwo ... 80 8. Hasil analisis statistik deskriptif kelembaban tanah sarang
Pengeraman ... 81 9. Hasil analisis statistik morfometri telur burung Mamoa yang
ditetaskan secara buatan dan alami ... 82 10. Hasil analisis bobot embrio burung Mamoa yang ditetaskan secara
Buatan dan alami ... 83 11. a. Hasil analisis regresi hubungan antara bobot telur dan bobot
tetas burung Mamoa yang ditetaskan secara buatan ... 85 11. b. Hasil analisis regresi hubungan antara bobot telur dan bobot
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Maluku Utara adalah salah satu daerah prioritas bagi konservasi, secara global menjadi daerah prioritas untuk biodiversity. Pulau Halmahera merupakan pulau utama yang mencakup bagian terbesar hidupan liar, dengan 210 jenis burung, sementara sebagian besar spesies burung endemik yaitu 26 speseies yang terdapat di kepulauan Maluku 24 diantaranya terdapat di Maluku Utara (Sujatnika et al. 1995).
Megapodidae adalah salah satu genus burung endemik yang terdapat di Maluku Utara. Dari 22 spesies Megapoda 3 diantaranya terdapat di Maluku Utara yaitu: Eulipoa wallacei (Megapodius wallacei = Burung Mamoa = Gosong Maluku), Megapodius bernsteinii (Gosong sula), dan Megapodius freycinent (Gosong kelam) (Sujatnika et al. 1995; Coates dan Bishop 2000). Burung Mamoa tidak mengerami telurnya sendiri seperti pada unggas lainnya, melainkan telurnya dibenamkan di dalam pasir dan menggunakan sumber panas matahari, dalam bumi atau keduanya untuk mengeramkan telurnya (Joanes 1995; Heij dan Rompas 1997).
Kecamatan Galela merupakan daerah populasi terbesar bagi burung Mamoa (Eulipoa wallacei). Masyarakat setempat memanfaatkan burung dan telurnya sebagai sumber protein untuk dimakan, juga sebagai sumber mata pencaharian. Ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup burung Mamoa yaitu adanya pemanenan telur yang berlebihan, berpotensi pada penurunan jumlah populasi burung ini serta dipercepat dengan degradasi dan fragmentasi lokasi bersarang.
Status populasi burung ini sudah dilindungi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 757/Kpts/Um/12/1979 tertanggal 5 Desember 1979 (Noerdjito dan Maryanto 2001). Namun sampai saat ini, lokasi bertelur burung Mamoa di Kecamatan Galela (Kabupaten Halmahera Utara) belum ada suatu keputusan untuk melindungi lokasi burung ini melangsungkan kehidupannya agar dapat terhindar dari ancaman kepunahan.
Lokasi atau lapangan bertelur adalah komponen yang penting yang harus diperhatikan, karena lapangan tempat bertelur juga berfungsi sebagai tempat untuk
mengeramkan telurnya. Megapodius tidak mengerami telurnya sendiri, telurnya
dibenamkan dalam pasir pada kedalaman tertentu di pantai sebagai sumber panas dari dalam bumi, setelah bertelur induk burung Mamoa meninggalkan telurnya yang telah dibenamkan di dalam pasir sampai waktunya menetas.
Dalam rangka upaya konservasi bagi burung Mamoa, diperlukan informasi baik ekologis maupun biologis dari satwa tersebut. Salah satu aspek biologis yang perlu diperhatikan adalah bagaimana tahapan perkembangan dari embrionya sehubungaan dengan penggunaan sumber panas bumi untuk inkubasi telurnya. dan selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah gangguan oleh aktivitas manusia serta hewan lain yang berada di lokasi bertelur.
Penetasan merupakan proses yang harus dilalui oleh unggas pada umumnya demi kelangsungan keturunannya. Sangatlah penting untuk mengetahui informasi tentang perkembangan embrio burung Mamoa, karena sampai saat ini informasi dasar tentang perkembangan burung Mamoa masih sangat kurang sehingga belum diketahui bagaimana tahapan perkembangan embrionya. Pada penelitian ini akan dilihat bagaimana tahapan perkembangan embrio burung Mamoa yang ditetaskan di dalam inkubator dan secara alami serta kemampuan hidup anak burung Mamoa setelah menetas sampai umur berumur 1 bulan.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini untuk mempelajari karakteristik sarang pengeraman di habitat bertelur serta mempelajari tahapan perkembangan embrio burung Mamoa yang ditetaskan secara buatan dan di alam, agar dapat memperoleh gambaran: (1) perkembangan embrio dari setiap tahapan pada proses penetasan buatan dan di alam; (2) membandingkan tingkat keberhasilan penetasan buatan dan di alam; dan (3) gambaran kemampuan hidup anak burung Mamoa sampai berumur 1 bulan.
Perumusan Masalah
Penelitian burung Mamoa yang dilakukan selama ini masih bersifat eksplorasi pada habitat alaminya dan belum ada ada informasi karakteristik sarang pengeraman serta tahapan perkembangan embrio dan pertumbuhannya.
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian diharapkan berguna untuk :
1) memperoleh gambaran perkembangan embrio yang ditetaskan secara buatan dan di alam,
2) sebagai informasi dasar yang digunakan pada penelitian-penelitian selanjutnya untuk menunjang konservasi burung Mamoa dan
3) membantu program pegembangbiakan secara masal. Kerangka Pemikiran
Habitat hidup burung Mamoa di hutan dan habitat bertelur di pantai. Setelah bertelur induk burung Mamoa terbang kembali ke hutan. Burung Mamoa tidak mengerami telurnya sendiri seperti unggas pada umumnya. Telurnya diinkubasi di alam dengan menggunakan sumber panas matahari. Penetasan merupakan proses yang harus dilalui oleh semua unggas untuk melihat perkembangan embrionya. Dalam penelitian ini proses penetasan terbagi atas dua yaitu proses penetasan secara alami dan di dalam mesin tetas. Tujuan kedua proses ini untuk mepelajari tahapan perkembangan dari embrio burung Mamoa baik yang ditetaskan secara buatan maupun di alam. Pada penetasan alami selain melihat tahapan perkembangan embrio juga mempelajari karakteristik sarang pengeraman. Dari proses penetasan alami dan buatan akan dikaji secara deskriptif dan analisis untuk untuk menunjang program konservasi burung Mamoa di Kecamatan Galela Kabupaten Halmahera Utara.
Kembali
Gambar 1 Kerangka penelitian. Burung Mamoa
Hutan
Tahapan perkembangan Embrio Inkubasi
Alam (Matahari)
Karakteristik Sarang Pengeraman
Konservasi Pantai (Bertelur) Data dasar Habitat Buatan Komersialisasi
TINJAUAN PUSTAKA
Burung Mamoa (Eulipoa wallacei)
Menurut Jones et al. (1995) burung Mamoa termasuk ordo Galiformes, terdiri atas lima Famili antara lain Megapodidae. Daerah penyebaran burung Mamoa yaitu pulau Halmahera, Ternate, Buru, Seram, Ambon, Haruku dan Misol (Andrew 1992; Coates dan Bishops 2000). Menurut White dan Bruce (1986); Anonim (2006) klasifikasi burung Mamoa adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia Philum : Chordata Sub philum : Vertebrata Kelas : Aves Ordo : Galiformes Famili : Megapodiidae
Genus : Megapodius (Gaimard 1832)
Spesies : Eulipoa wallacei (Ogilvie dan Grant 1893 dalam Heij dan Rompas 1997).
Sinonim : Megapodius wallacei (Gray 1860).
Nama daerah : Mamua (Obi), Mamoa (Ternate dan Halmahera), burung Galela (Halmahera Barat), Nan lato (Buru Tengah), Mamor (Seram Timur), Manulai (Seram Utara) (Heij dan Rompas 1997).
Dari klasifikasi nama ini nampak bahwa pemberian nama famili Megapodidae ini terdapat beberapa pendapat pada pemberian nama. Megapodius wallacei (White dan Bruce 1986; Dekker 1990), menyebut Eulipoa wallacei (Ogilvie dan Grant 1860 dalam Heij dan Rompas 1997; MacKinon dan Wind 1980; Hoyo et al. 1994). Rosellar dalam Heij (1997) dan Jones et al. (1995) mengemukakan bahwa dalam taksonomi Eulipoa wallacei dekat hubungannya dengan Megapodius tetapi secara jelas terdapat perbedaan pada warna bulu dan beberapa perbedaan struktur sehingga spesies ini ditempatkan ke dalam genus Eulipoa.
Burung Mamoa merupakan burung dataran yang memiliki paruh pendek, keras dan melengkung ke bawah, sayapnya pendek, mampu berlari dengan baik
tetapi tidak bisa berenang. Burung Mamoa memiliki jari kaki dan kuku yang besar
serta kuat, ini ada hubungannya dengan fungsi dari kuku yaitu untuk menggali lubang pada tempat-tempat bertelur (Jones et al.1995).
Gambar 2 Induk burung Mamoa (Eulipoa wallacei) (Sumber : Coates dan Bishop 2000).
Jumlah telur yang dihasilkan seekor burung betina per tahun per musim tidak diketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan seekor burung bertelur antara 12 – 14 hari atau sekitar 8-9 butir per musim bertelur (Heij dan Rompas 1997). Warna telur dari burung ini dikatakan merah karat, semakin lama dalam penetasan warna telur akan semakin luntur. Berat telur dari burung ini berkisar antara 103.6-120 g/butirr pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau berkisar antara 100 – 124 gr/butir dengan panjang antara 78.1-85.5 mm dan lebar 42.0-51, 8 mm (Heij dan Rompas 1997; Gilliant 1998).
Anak burung yang baru menetas mempunyai bobot 61.1g. Berlainan dengan unggas lainnya anak burung Mamoa sewaktu menetas tidak mempunyai gigi telur (egg tooth). Anak burung ini dapat mencari makan secukupnya dalam jangka waktu sehari (Heij dan Rompas 1997). Burung Mamoa dewasa mempunyai panjang tubuh : 325-350 mm, sayap 190-200 mm, ekor 65-80 mm, tarsus 44-55 mm, paruh 133 mm, jari tengah 37 mm dan jari tengah dengan cakar 58 mm Anak burung memiliki sayap panjang 86,96 mm; panjang tarsus 25.5-28.1 mm; dengan
berat badan 68-79 (Gray 1986). Selanjutnya Menurut Heij dan Rompas (1997)
kisaran bobot burung betina dewasa 450-515 g/ekor.
Seluruh permukaan tubuh burung betina yang ditemukan di lokasi bertelur tertutup bulu, pada bagian punggung berwarna abu-abu; tungging dan ekor berwarna abu-abu terang, abu-abu kebiruan, abu-abu gelap dengan sedikit kehijauan pada bagian tepinya. Bulu penutup sayap utama berwarna abu-abu dengan pita merah marun dan abu-abu dengan warna kuning tua pada bagian tepi, sedangkan pada bulu penutup atas bagian tengah berwarna abu-abu dengan warna hijau pada bagian tepi. Bulu primer sayap atas kecoklatan, abu-abu coklat atau abu-abu gelap dengan warna kuning tua pada ujung bawah bagian dalam. Bulu sekunder berwarna abu-abu terang kehijauan, coklat kehijauan atau abu-abu dengan coklat kehijauan. Dada berwarna abu-abu atau abu-abu gelap, pada bagian perut berwarna abu-abu gelap tetapi lebih terang dari dada (Heij dan Rompas 1997).
Jumlah telur yang dihasilkan seekor burung betina per tahun per musim tidak diketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan seekor burung bertelur antara 12-14 hari atau sekitar 8-9 butir per musim bertelur (Heij dan Rompas 1997). Warna telur dari burung ini dikatakan merah karat, semakin lama dalam penetasan warna telur akan semakin luntur. Berat telur dari burung ini berkisar antara 103.6-120 g/butirr pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau berkisar antara 100- 124 gr/butir dengan panjang antara 78.1-85.5 mm dan lebar 42.0-51. 8 mm (Heij dan Rompas 1997; Gilliant 1998).
Status Populasi
Burung Mamoa terdapat di Kepulauan Maluku, Buru, Seram, Haruku, Ambon, Halmahera. Populasi burung Mamoadi alam mengalami penurunan tajam karena keterbatasan habitatnya. Berdasarkan pembagian wilayah biografi burung-burung yang terancam punah, status dari burung-burung adalah rentan karena hilangnya habitat, dan perburuan (Shannaz dan Rudiyanto 1995).
Di Maluku Utara populasi burung Mamoa terdapat di Pulau Halmahera, Tidore dan ternate, tetapi di pulau Tidore dan Ternate sekarang ini satwa ini tidak temukan (Heij dan Rompas 1997). Pengumpulan telur yang berlebihan untuk
keperluan sehari-hari dan perdagangan sering dilakukan penduduk setempat.
Pemerintah Daerah diharapkan berperan aktif untuk melindungi jenis burung ini, karena sampai saat ini lokasi tempat bertelur yang juga sekaligus berfungsi sebagai lokasi untuk pengeraman telurnya belum dilindungi. Populasi burung Mamoa di Galela sampai saat ini belum diketahui dengan pasti berapa populasinya. Selain rawan terhadap gangguan manusia, gangguan lain adalah predator seperti biawak (Varanus salvator), ular dan anjing (Gilliant 1998).
Ancaman yang berpotensi terhadap penurunan jumlah populasi burung Mamoa adalah kerusakan habitat dan pemanenan telur yang berlebihan serta perburuan. Kerusakan hutan, pengambilan pasir serta penutupan permukaan pasir pada lokasi bertelur oleh tanaman bawah (undergrowth) merupakan penyebab berkurangnya populasi burung Mamoa (Shannaz dan Rudiyanto 1995, Pengamatan pribadi 2005).
Habitat
Burung ini merupakan penghuni hutan pegunungan tropika, sebagaimana genus Megapodidae lainnya. Selanjutnya Wallace (1886) dalam Heij dan Rompas (1997), mengatakan burung ini terdapat dalam hutan dan perbukitan. Burung-burung betinanya akan terbang ke pantai untuk meletakkan telurnya. Satwa ini juga menghuni hutan hujan yang selalu hijau dan hutan pantai sampai hutan dataran rendah, dengan ketinggian antara 750-1 650 m dpl, juga hidup di hutan yang rusak.
Masa bersarang terjadi pada saat meletakkan telurnya, dan telur diletakan dalam lubang-lubang di pantai berpasir. Panas matahari merupakan salah satu faktor yang berperan untuk inkubasi. Tidak banyak yang diketahui mengenai habitat hidup burung Mamoa, karena dalam literatur hanya terdapat informasi yang terbatas dan kebanyakan hanya pengamatan sepintas. Burung ini merupakan hewan pemalu dan sulit untuk ditemukan, burung ini hanya akan ditemukan di tempat bertelur dan sebagian besar adalah induk betina, sedangkan yang jantannya jarang ditemukan di tempat bertelur (Heij dan Rompas 1997).
Lubang pengeraman terletak di pantai dan tanah vulkanik yang berada di gunung atau di hutan. Ukuran lubang pengeraman bervariasi dan kedalamannya
tergantung pada substrat dan temperatur serta musim dimana burung Mamoa ini
bertelur. Luas permukaan lubang 345 cm dengan kedalaman 78-100 cm dan pada musim kemarau luas permukaan 300 cm dengan kedalaman 60-70 cm, sedangkan suhunya pada kedalaman 60-100 cm berfluktuasi antara 31-350C (Heij dan Rompas 1997; Gilliant 1998). Predator merupakan salah satu ancaman bagi telur-telur burung ini seperti; biawak (Varanus salvator), soa-soa (Hydrosaturus amboinensis) dan manusia.
Di Galela lokasi bersarangnya di Desa Toweka dan Mamuya. Lokasi bersarang terdiri dari pasir vulkanis hitam di pantai Tiabo dan pantai Uwo-uwo. Pantai merupakan Lokasi bersarang yang utama, dengan vegetasi hutan pantai dan kelapa yang terletak di belakang lokasi bersarang (Gilliant 1998).
Kebiasaan Hidup dan Tingkah Laku Umum
Kebiasaan hidup dan tingkah laku umum dari burung Mamoa ini nampaknya hidup menetap di hutan. Memiliki sifat pemalu sehingga jarang sekali terlihat di luar daerah bertelur dan habitat hidupnya (Heij dan Rompas 1987). Di dalam hutan mereka mencari makan dan melakukan aktivitas hariannya seperti beristirahat, bermain dan bersuara. Burung ini termasuk hewan yang monogami hidupnya selalu berpasangan di dalam hutan, kadang-kadang terbang, kemudian hinggap dan bertengger di pohon untuk tidur (White dan Bruce 1986).
Menurut Heij dan Rompas (1997) menyatakan bahwa burung Mamoa bertelur pada sepanjang malam sampai pagi hari. Di pulau Haruku pada saat bertelur burung Mamoa terbang sejajar dengan garis pantai dan setinggi pohon. Saat tiba di pantai tempat bertelur berdiri diam sambil mengamati daerah tersebut. Kemudian seringkali burung ini bergerak ke kiri dan kanan, berhenti sambil melihat sekelilingnya. Jika merasa aman burung ini akan melakukan penggalian lubang sarang pengeraman dengan menggunakan cakarnya yang runcing dan keras. Dalam waktu 2 menit burung ini sudah berada dibawah pasir. Selama membuat lubang sarang pengeraman, burung ini selalu merubah arah, dan membuat 3 sampai 4 lubang, sehingga dapat berlansung sampai berjam-jam. Seteleh melakukan penggalian beberapa lubang, indunk burung Mamoa menghilang dalam salah satu lubang selama beberapa menit untuk meletakkan
telurnya. Setelah bertelur, kemudian keluar dari lubang sarang pengeraman induk
burung Mamoa menggetarkan bulunya dan membuang pasir kedalam lubang tersebut.
Pada lokasi bertelur yang terdapat di pantai Uwo Uwo, terlihat saat bertelur burung ini terbang dari habitat hidupnya di pegunungan Dukono menuju lokasi bertelur secara berkelompok. Dalam semalam biasanya terdapat tiga kelompok burung yang mengunjungi lokasi/sarang untuk meletakan telurnya. Kelompok pertama datang antara pukul 19.30-23.00, kelompok kedua datang antara pukul 24.00-02.00 dan kelompok ketiga datang pada pukul 03.00–05.30. Induk burung ini saat terbang ke habitat bertelur dari dua arah. Induk yang terbang dari arah barat dari lokasi bertelur akan terbang sampai melewati garis pantai kemudian berbalik menuju lokasi bertelur, sedangkan yang terbang dari arah selatan langsung menuju ke lokasi bertelurnya. Bila lokasi bertelur tidak aman induk ini akan hinggap di pepohonan yang terdapat dibelakang lokasi bertelur sampai merasa aman untuk bertelur (pengamatan pribadi 2005).
Peletakkan telur dari induk burung betina terjadi sepanjang malam hari sampai menjelang pagi. Setiap induk burung betina menggali 3-4 lubang tempat bertelur dan menutupnya kembali setelah telurnya diletakkan. Setelah itu akan kembali ke habitat aslinya (Wiljes 1953 dalam Susanto 1998). Perkawinan (kopulasi) pada burung Mamoa tidak pernah terjadi di lokasi bertelur, ini berarti perkawinan terjadi di dalam hutan tempat burung-burung ini melakukan aktivitas kesehariannya (Heij dan Rompas 1997; Gilliant 1998).
Musim bertelur pada sepanjang tahun di pantai, tetapi biasanya berlangsung pada musim kemarau di pulau Haruku, antara bulan Februari sampai Oktober, karena diduga pada musim tersebut merupakan kondisi yang terbaik untuk pengeraman yang optimal (Heij dan Rompas 1997).
Burung Mamoa yang ditemukan pada saat bertelur di habitat bertelurnya yang terlihat hanya betinanya saja (Heij dan Rompas 1997), berbeda dengan burung Maleo pada saat bertelur jantan dan betina bekerja sama dalam penggalian lubang sarang secara bergantian, bila salah satu menggali yang lainnya mengawasi dan mengusir pengganggunya (Jones et al. 1995). Kedalaman lubang sarang telur
diletakkan bervariasi tergantung pada bulan (gelap/terang). Pada saat bulan gelap
lebih dalam dibandingkan dengan bulan terang (Heij dan Rompas 1997).
Heij dan Rompas (1997) menyatakan bahwa burung ini mencari makan dengan cara menggaruk dan mencakar serasah di tanah dan memakan makanan yang kebetulan ditemukan di atas tanah. Jenis makanan yang biasanya dimakan oleh megapoda cukup beragam seperti : serangga (belalang, kaki seribu, semut, rayap, lalat dan kumbang), cacing, lintah dan beberapa jenis buah-buahan (pepaya, pinang-pinangan hutan dan manggis) serta biji-bijian (ketapang, kenari dan pala).
Penetasan Telur
Penetasan merupakan serangkaian proses reproduksi (perkembangbiakan) yang harus dilewati oleh semua unggas, baik yang secara alami maupun buatan. Proses penetasan dapat menggunakan inkubator, karena pada prinsipnya alat ini dikondisikan seperti keadaan induknya. Penetasan merupakan proses dimana akan terjadi beberapa peristiwa yang meliputi perubahan anatomi, morfologi, fisiologis dan biokimia yang bersamaan dengan peristiwa tersebut terjadi absorbsi zat makanan yang diambil dari kuning telur untuk menjadi individu baru.
Megapodidae seperti juga pada burung Mamoa tidak mengerami telurnya sendiri seperti unggas pada umumnya. Burung ini tidak mengerami telurnya sendiri, telurnya dibenamkan di dalam pasir vulkanik di pinggir pantai yang memiliki temperatur yang cukup hangat untuk menetaskan telurnya (Heij dan Rompas 1997). Baik penetasan secara alamiah maupun buatan ternyata faktor penting yang perlu diperhatikan adalah temperatur dan kelembaban. Gilliant (1998) menyatakan bahwa temperatur lubang sarang pengeraman di Galela berkisar antara 32-35oC pada kedalaman 30-60 cm, tetapi kelembaban tidak diukur. Pada musim hujan temperatur tanah 24oC ini akan berpengaruh pada lamanya penetasan. Menurut Heij dan Rompas (1997) temperatur lubang sarang pengeraman di Haruku berkisar antara 31-34oC pada kedalam 40–80 cm, dengan kelembaban 60-70%.
Penetasan telur di alam dipengaruhi oleh panas dari dalam bumi. Apabila panas dari sumber bumi cukup kuat maka kedalaman lubang pengeraman tidak terlalu dalam, tetapi bila panas bumi kurang maka lubang yang di gali bertambah
dalam. Semakin dalam lubang yang digali semakin bertambah ukuran lebar.
Kedalaman lubang sarang telur selain dipengaruhi oleh temperatur juga di pengaruhi oleh bulan gelap dan bulan terang pada bulan terang lebih dalam sedangkan bulan gelap tidak sedalam bulan terang. Lokasi/sarang beretelur burung Mamoa yang terdapat di Kecamatan Galela terdapat di pantai dan mendapatkan sumber panas dari matahari.
Perkembangan Embrio
Fisher dan Macpherson (1974) menyatakan bahwa perkembangan merupakan perubahan yang terjadi secara progresif dan akumulasi, termasuk pembagian sel, diferensiasi, determinasi, perubahan bentuk (morfogenesis) dan pertumbuhan. Kehidupan individu baru dimulai dari penembusan ovum oleh sperma yang menyebabkan bercampurnya bahan-bahan kromosom dari ovum dan sperma yang disebut fertilisasi (Patten 1987). Selanjutnya fertilisasi merupakan langkah pertama dalam pembentukan individu baru melalui proses interaksi antara sperma dengan sel telur, setelah mengalami proses kapasitasi (Suhana dan Rafiah 1982), lebih lanjut dikatakan sel telur yang pada awalnya dalam keadaan istirahat menjadi aktif melakukan kegiatan yang ditandai terjadinya perubahan morfologi dan meningkatnya metabolisme sel secara mendadak.
Menurut Etches (1996) bahwa perkembangan embrio pada unggas dan mamalia pada prinsipnya sangat berbeda, (1) fertilisasi pada unggas melibatkan