BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
2.1.3 Media Pembelajaran
2.1.3.3 Ciri-ciri Media Pembelajaran Berbasis Metode Montessori
Dalam setiap media Montessori pasti memiliki pengendali kesalahan, Maria Montessori menilai bahwa “kendali kesalahan” melalui materi membuat anak menggunakan alasan, kemampuan kritis, dan kemampuan membuat perbedaan yang terus meningkat (Roopnarine dan Johnson, 2015: 391). Materi Montessori umumnya berubah dari sederhana menjadi rumit, menambah satu tingkat kesulitan saat anak bergerak menuju pengalaman berikutnya. Selain perubahan dari sederhana ke rumit, materi Montessori umumnya dibuat sebagai persiapan bagi pembelajaran lain yang terjadi sesudahnya (Roopnarine dan Johnson. 2015: 32). Selain itu, media pembelajaran Montessori didesain memiliki unsur pengendali
17 kesalahan (Margini, 2013: 54). Media pembelajaran Montessori mengarah pada kemampuan sensorial anak-anak (Margini, 2013: 31-32). Media Montessori memiliki beberapa ciri khas, ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut (Montessori, 2002: 170-176):
a. Menarik
Setiap media Montessori harus mampu menarik perhatian siswa, sehingga secara spontan siswa ingin menyentuh, meraba, memegang, merasakan dan menggunakannya untuk belajar (Montessori, 2002:
174-175).
b. Bergradasi
Media yang baik seharusnya bergradasi, gradasi yang dimaksudkan adalah rangsangan yang rasional tentang suatu gradasi (Montessori, 2002: 175).
c. Auto-correction
Media yang baik harus memiliki pengendali kesalahan, maksudnya melalui media tersebut siswa dapat mengetahui sendiri setiap kesalahan yang dilakukan sehingga dengan sendirinya siswa tahu jika ia melakukan kekeliruan ketika selesai mencoba (Montessori, 2002:
172).
d. Auto-education
Media Montessori dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa melakukan pendidikan diri untuk meningkatan kemandirian
18 siswa dalam belajar dan meminimalisir campur tangan pendidik (Montessori, 2002: 172).
Dari pemaparan beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa setiap media pembelajaran berbasis metode Montessori memiliki ciri-ciri khusus yang mungkin tidak dimiliki media lain yaitu menarik, bergradasi, auto-correction dan auto-education. Hal tersebut dimaksudkan agar siswa tertarik dengan media yang ada sehingga meningkatkan semangat untuk belajar. Selain itu alat pengendali kesalahan yang terdapat pada media Montessori juga membuat siswa lebih mandiri lagi dalam proses belajar mengajar.
2.1.4 Teori Perkembangan Kognitif Anak Menurut Piaget
Perkembangan kognitif adalah perkembangan dari pikiran, pikiran disini berarti bagian dari berpikir dari otak, bagian yang digunakan yaitu untuk pemahaman, penalaran, pengetahuan dan pengertian (Susanto, 2014:
52). Schunk (dalam Nai, 2017: 90) menyebutkan tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget ada 4, yaitu :
a. Tahap Sensorimotor
Lahir sampai usia 2 tahun; ditandai dengan tindakan spontan dan usaha untuk memahami dunia. Santrock (Faizah, Rahma, dan Dara, 2017 : 20) menyatakan bayi memahami lingkungan sekitar dengan cara mengoordinasikan sensori (melalui penglihatan dan pendengaran dengan tindakan sensori (meraih, menyentuh, merasakan).
19 b. Tahap Pra-Operasional
Usia 2 sampai 7 tahun; periode ini disebut pra-operasional karena pada umur ini anak belum mampu untuk melaksanakan operasi mental, seperti yang telah dikemukakan terdahulu, yaitu menambah, mengurangi dan lain-lain (Dahar, 2011: 138). Anak pada usia ini mulai mempresentasikan pengalaman sehari-hari melalui kata-kata, simbol, dan gambar (Faizah, Rahma, dan Dara, 2017: 21)
c. Tahap Operasional Konkret
Usia 7 sampai 11 tahun; ditandai dengan pertumbuhan kognitif yang luar biasa dan merupakan tahapan formatif dalam pendidikan karena pada masa ini perkembangan bahasa dan penguasaan keterampilan berkembangan pesat (Faizah, Rahma, dan Dara, 2017: 21). Masa yang menunjukkan adanya sikap keingintahuan cukup tinggi untuk mengenali lingkungannya (Susanto (2015: 170). Tingkat ini merupakan permulaan berpikir rasional, ini berarti anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah yang konkret (Dahar, 2011: 138).
d. Tahap Operasional Formal
Usia 11 sampai dewasa; pikiran anak tidak lagi berfokus pada hal-hal yang dapat dilihat. Pada masa ini proses penalaran logis diterapkan ke ide-ide abstrak dan objek konkret (Faizah, Rahma, dan Dara, 2017:
23). Pada periode ini anak dapat menggunakan operasi-operasi
20 konkretnya untuk membentuk operasi yang lebih kompleks (Dahar, 2011: 138).
Dari teori perkembangan anak menurut Piaget dapat dilihat bahwa anak usia SD yang berkisar 1 sampai 11 tahun berada dalam tahap operasional konkret. Pada tahap ini keingintahuan siswa tentang suatu hal cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan subjek penelitian yang merupakan siswa kelas IV SD dengan usia 10 tahun.
2.1.5 Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) 2.1.5.1 Pengertian IPA
IPA merupakan salah satu mata pelajaran pokok dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, termasuk pada jenjang sekolah dasar (Susanto, 2016: 165). Menurut Samatowa (2011: 3) Ilmu pengetahuan alam merupakan terjemahan kata-kata dalam bahasa Inggris yaitu nature science, artinya ilmu pengetahuan alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. Menurut Permendiknas, IPA merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Menurut Carin dan Sund (dalam Sujana, 2014: 3) IPA merupakan pengetahuan yang sistematis, berlaku secara umum, serta berupa kumpulan data hasil observasi/ pengamatan dan eksperimen. IPA
21 merupakan ilmu yang pada awalnya diperoleh dan diekembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun pada perkembangan selanjutnya IPA juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori (deduktif) (Wisudawati dan Sulistyowati, 2014: 22).
Menurut pemaparan di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa IPA adalah suatu ilmu pengetahuan yang merupakan kumpulan dari hasil pengamatan atau observasi tentang sesuatu yang berkaitan dengan alam.
2.1.5.2 Pembelajaran IPA yang Ideal
Salah satu masalah yang dihadapi di dunia pendidikan saat ini adalah lemahnya pelaksanaan proses pembelajaran yang diterapkan para guru di sekolah. Pelaksanakan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas hanya diarahkan pada kemampuan siswa untuk menghafal informasi, otak siswa dipaksa hanya untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diperoleh untuk menghubungkankannya dengan situasi dalam kehidupan sehari-hari (Susanto, 2015: 165-166). Menurut Samatowa (2011: 2) IPA di SD hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu anak didik secara ilmiah guna membantu mereka mengambangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban atas berdasarkan bukti serta mengembangkan cara berpikir ilmiah. Oleh karena itu, pembelajaran IPA di sekolah dasar dilakukan dengan penyelidikan sederhana dan bukan hafalan terhadap kumpulan konsep IPA (Susanto, 2015 : 170).
22 Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA yang baik dan ideal adalah menggali keingintahuan siswa dan tidak hanya terfokus pada materi saja melainkan juga fokus untuk mengembangkan berpikir ilmiah pada siswa.
2.1.6 Materi Perakaran Tumbuhan
Materi perakaran tumbuhan ini terdapat di kelas VI semester 1. Pada kurikulum 2013, materi perakan tumbuhan masuk dalam Tema 3 Peduli Terhadap Makhluk Hidup, Subtema 1 Hewan dan Tumbuhan di Lingkungan Rumahku, dan Pembelajaran 3. Pada pembelajaran 3, mata pelajaran IPA masuk dalam KD 3.1 Memahami hubungan antara bentuk dan fungsi bagian tubuh hewan dan tumbuhan. Namun dalam penelitian ini, akan difokuskan untuk bentuk dan fungsi bagian tubuh tumbuhan yaitu akar.
2.1.6.1 Pengertian Akar
Akar tumbuhan merupakan struktur tumbuhan yang terdapat dalam tanah. Akar sebagai tempat masuknya mineral (zat-zat hara) dari tanah menuju ke seluruh bagian tumbuhan. Secara morfologi, akar tersusun atas rambut akar, batang akar, ujung akar, dan tudung akar. Secara anatomi, akar tersusun atas epidermis, korteks, endodermis, dan silinder pusat.
2.1.6.2 Jenis-jenis Akar
Berikut adalah jenis-jenis akar beserta gambar, contoh dan fungsinya:
23 Tabel 2.1 Jenis-jenis Akar
No Jenis Gambar 2.1 Akar Serabut
Pohon pisang, Gambar 2.4 Akar Napas
Pohon bakau
Sirih Berfungsi untuk
melekatkan batang pada tembok maupun tumbuhan lain
24 rningnow.blogspot.com)
Gambar 2.5 Akar Pelekat
2.1.6.3 Bagian-bagian Akar
(Sumber:https://simplenews05.blogspot.com) Gambar 2.6 Bagian-bagian Akar Berikut adalah penjelasan mengenai bagian bagian akar :
1) Tudung akar
Tudung akar terletak pada bagian ujung akar. Fungsi dari tudung akar adalah melindungi akar saat menembus ke tanah.
2) Inti akar
Pada bagian inti akar terdapat dua macam pembuluh yaitu, pembuluh kayu (xilem) dan pembuluh tapis (floem). Pembuluh kayu (xilem) berfungsi untuk mengangkut air dari akar ke daun. Pembuluh tapis (floem) berfungsi untuk mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.
3) Rambut akar
Rambut akar mempunyai karakter unik yaitu berserabut tidak beraturan tetapi berstruktur halus yang melekat kuat pada kulit akar bagian luar yang berfungsi menyerap semua air dan garam mineral yang ada dikedalamam tanah.
25 4) Epidermis
Epidermis merupakan bagian yang terletak di bagian paling luar akar. Epidermis umumnya berdinding tipis
5) Korteks
Korteks merupakan jaringan yang terletak setelah jaringan epidermis.
2.2 Penelitian Yang Relevan
Penelitian pertama dilakukan oleh Anggraeni (2018). Penelitian ini berjudul Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Metode Montessori Materi Perakaran Tumbuhan Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran berbasis metode Montessori materi perakaran tumbuhan berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV SD. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan uji signifikansi pengaruh perlakuan yang memperoleh sig.(2 tailed) 0,000 < 0,05 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengaruh perlakuan kelas eksperimen ditunjukkan dengan r = -0,617, r2 = 0,3803, dan persentase sebesar 38,03% yang memiliki efek besar.
Penelitian kedua dilakukan oleh Azizah dan Jualianto (2018). Penelitian ini berjudul Penerapan Media Monopoli Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Di Sekolah Dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil observasi aktivitas guru mengalami peningkatan
26 sebesar 9% dari 83% pada siklus I menjadi 92% pada siklus II. Hasil observasi aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 11% dari 79% pada siklus I menjadi 90% pada siklus II. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan 22% dari 73% pada siklus I menjadi 90% pada siklus II. Respon siswa juga mengalami peningkatan sebesar 8% dari 77% pada siklus I menjadi 85% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan agar guru menerapkan media monopoli untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Penelitian ketiga dilakukan oleh Christi (2017). Penelitian ini berjudul Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar IPA Menggunakan Fabel Aesop Untuk Siswa Kelas III SD Kanisius Condongcatur Tahun Pelajaran 2016/2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rata-rata skor motivasi seluruh siswa dari kondisi awal 60,9 menjadi 74,9 pada siklus I dan meningkat menjadi 82,9 pada siklus II. Persentase siswa yang memiliki motivasi tinggi juga mengalami peningkatan dari kondisi awal 41,7% menjadi 63,0% pada siklus I dan meingkata menjadi 87,5% pada sikus II. Peningkatan hasil belajar dilihat dari adanya peningkatan rata-rata nilai kelas dari kondisi awal 66,6 menjadi 75,8 pada siklus I dan meningkat menjadi 76,8 pada sikus II. Persentase siswa yang lulus KKM juga mengalami peningkatan dari kondisi awal 25,9% menjadi 55,6% pada siklus I dan meningkat menjadi 62,5% pada siklus II.
Penelitian keempat dilakukan oleh Sukirman (2015). Penelitian ini berjudul Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPA Pokok Bahasan
27 Penggolongan Hewan Melalui Media Gambar Pada Siswa Kelas III Di MI Ma’arif Nu 03 Karangsembung. Hasil penelitian menunjukkan nilai rat-rata tes formatif pada pra siklus diperoleh nilai rata-rata 61,42 dengan prosentase siswa yang tuntas KKM (65) adalah 37,71% atau hanya 5 siswa yang tuntas.Kemudian pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 69,28 tingkat ketuntasan mencapai 64,2% atau 9 siswa yang tuntas dan pada siklus II nilai rata-rata 74,57 tingkat ketuntasan mencapai 78,57% atau 11 siswa yang tuntas. Hasil nilai tes formatif menunjukan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah pembelajaran pada siklus I dan siklus II dengan menggunakan media gambar. Artinya pada siklus II peningkatan ketuntasan siswa sudah sesuai dengan harapan peneliti yaitu 75% dari 14 siswa tuntas belajarnya atau memenuhi kriteria ketuntasan minimal( KKM ) yaitu 65 dan penelitian ini berakhir pada sklus II. Jadi Penelitian Tindakan Kelas pada Mata Pelajaran IPA dengan menggunakan Media Gambar untuk meningkatkan hasil belajar siswa berhasil.
Dari penelitian-penelitian di atas, terdapat kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Kesamaan tersebut adalah penggunaan media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa SD. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan media pembelajaran berbasis metode Montessori untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada penelitian sebelumnya sudah dibuktikan bahwa media pembelajaran berbasis metode Montessori dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Selain itu, penelitian terdahulu juga membuktikan bahwa penggunaan media pembelajaran dapat
28 meningkatkan hasil belajar siswa SD. Dalam penelitian ini peneliti akan meneliti tentang peningkatan hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran berbasis metode Montessori yang akan diterapkan dalam mata pelajaran IPA materi perakaran tumbuhan.
2.3 Kerangka Berpikir
Sudjana (dalam Hadiyanto, 2016: 22) menjelaskan hasil belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Menurut observasi yang
Cicilia Novita
Peningkatan Hasil Belajar Melalui Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Metode Montessori Siswa Kelas IV SD Pada Materi Perakaran Tumbuhan
29 telah dilakukan di SD Negeri 3 Parakan Wetan, hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPA materi perakaran tumbuhan terhitung rendah. Rata-rata nilai siswa hanya mencapai 62,35, dimana angka tersebut masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan sekolah yaitu 70.
Dari wawancara yang sudah dilakukan sebelumnya kepada guru dan siswa.
Siswa menyampaikan bahwa kurang tertarik mendengarkan penjelasan guru karena model pembelajaran yang digunakan hanya ceramah yang dilakukan guru dari awal hingga akhir pembelajaran. Sedangkan menurut guru permasalahan tersebut muncul salah satunya dikarenakan tidak adanya media yang dapat digunakan guru sebagai pendukung dalam pembelajaran.
Salah satu materi pelajaran yang memerlukan pembelajaran konkret atau nyata adalah Ilmu Pengetahuan Alam. Hal ini sejalan dengan Wisudawati dan Sulistyowati (2015: 16) yang mengatakan bahwa karakteristik materi-materi IPA yang cenderung abstrak akan menuntut seorang guru IPA untuk berinovasi dalam merumuskan model pembelajaran yang tepat untuk menyampaikannya. Sebagai mata pelajaran yang membutuhkan media untuk mempermudah pemahaman siswa, guru dituntut untuk dapat menggunakan media pembelajaran IPA dengan baik. Menurut Samatowa (2011: 2) IPA di SD hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu anak didik secara ilmiah guna membantu mereka mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban atas berdasarkan bukti serta mengembangkan cara berpikir ilmiah. Oleh karena itu, pembelajaran IPA di sekolah dasar dilakukan dengan penyelidikan sederhana dan bukan hafalan terhadap
30 kumpulan konsep IPA (Susanto, 2015 : 170). Jalinus dan Ambiyar (2016: 2) mengatakan bahwa pembelajaran yang efektif terutama pada pembelajaran IPA adalah menggunakan media pembelajaran karena siswa mampu menghayati objek secara langsung.
Untuk itu, peneliti akan menggunakan media pembelajaran berbasis metode Montessori yang akan diterapkan pada mata pelajaran IPA materi perakaran tumbuhan. Di sekolah Montessori, 80% kegiatan belajar dilakukan secara menarik karena setiap murid bisa melakukan kegiatan yang berbeda-beda (Sarasvati dan Sumardianta, 2016: 64). Metode Montessori sendiri dikembangkan oleh seorang bernama Maria Montessori, ia adalah seorang yang luar biasa dalam segala hal yang mengatasi kesulitan besar untuk menjadi salah seorang dokter wanita pertama di Italia (Nurulita, 2016: 381).
Media pembelajaran Montessori yang memiliki ciri-ciri khusus diharapkan dapat meningkatkan ketertarikan siswa untuk lebih memperhatikan guru saat mengajar. Selain itu siswa juga diharapkan bisa lebih mandiri dalam proses pembelajaran.
Siswa SD adalah siswa yang berusia antara 7 – 11 tahun dan pada usia tersebut berdasarkan tahap perkembangan berpikir Piaget, siswa memasuki tahap operasional konkret (Mumpuni, 2018: 46). Pada tahap operasional konkret ini anak mulai dapat mempresentasikan pengalaman sehari-hari melalui kata-kata, simbol dan gambar. Teori Piaget juga disebut sebagai teori konstruktivisme yaitu bahwa anak-anak membangun keyakinan dan pemahaman mereka berdasar pengalaman (Faizah, Rahma, Dara, 2017: 25).
31 Maka dari itu dengan penggunaan media pembelajaran berbasis metode Montessori, peneliti akan menggunakan alat yang bersifat konkret untuk pembelajaran. Untuk itu, peneliti akan menggunakan media berupa replika akar. Replika akar ini dimaksudkan agar siswa dapat mengetahui bahwa akar memiliki bagian-bagiannya sendiri dengan fungsi yang berbeda pula.
Oleh karena itu peneliti berupaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI di SD Negeri 3 Parakan Wetan menggunakan media pembelajaran berbasis metode Montessori. Dimana sudah dijelaskan di atas, bahwa media Montessori memiliki beberapa ciri, salah satunya adalah bergradasi atau berwarna-warni. Dengan adanya media pembelajaran yang berwarna-warni diharapkan siswa dapat lebih tertarik untuk mendengar penjelasan dari guru, sehingga akan berpengaruh pada peningkatan hasil belajar.
2.4 Hipotesis Tindakan
1. Upaya peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 3 Parakan Wetan tahun pelajaran 2018/2019 pada pembelajaran IPA materi perakaran tumbuhan dengan penggunaan media pembelajaran berbasis metode Montessori dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut 1) menyampaikan tujuan pembelajaran; 2) menyampaikan materi tentang perakaran tumbuhan dengan bantuan media pembelajaran; 3) pemberian lembar kerja siswa; 4) selelah selesai mengerjakan beberapa siswa diminta untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya; 5) guru memberikan umpan balik dan penguatan; 6) guru memberikan kuis dan siswa beradu cepat
32 untuk menjawab; 7) guru menyampaikan kesimpulan dari pembelajaran yang sudah dilakukan.
2. Penggunaan media pembelajaran berbasis metode Montessori dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SD Negeri 3 Parakan Wetan pada pembelajaran IPA materi perakaran tumbuhan.
33 BAB III
METODE PENELITIAN
Pada Bab III memuat tentang jenis penelitian, setting penelitian, rencana tindakan, pengumpulan data, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas, instrumen penelitian, teknik analisis dan data kriteria keberhasilan.
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran (Arikunto, Suhardjono dan Supardi, 2009: 58). Penelitian tindakan kelas menurut Kunandar (2008: 45) yaitu aktivitas mencermati sekelompok siswa dalam waktu bersamaan yang bertujuan memperbaiki masalah dalam belajar mengajar. Penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat mengatasi masalah dalam proses belajar mengajar yang pada akhirnya meningkatkan mutu pembelajaran berupa peningkatan kepercayaan diri dan kerjasama siswa.
Dalam penelitian ini, digunakan model Kemmis dan Mc.Taggart, dikarenakan mudah dipahami dan dilaksanakan. Model Kemmis dan Mc.
Taggart (dalam Arikunto, Suhardjono dan Supardi, 2009: 16) terdiri dari empat langkah atau tahapan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, yaitu: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan/tindakan (action), (3) pengamatan/observasi (observing), dan (4) refleksi (reflecting).
34 1. Perencanaan,
Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil penjajagan refleksi awal. Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau merubah perilaku dan sikap yang diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan. Perlu disadari bahwa perencanaan ini bersifat fleksibel dalam arti dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata yang ada.
2. Aksi/tindakan,
Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan. Jenis tindakan yang dilakukan dalam PTK hendaknya selalu didasarkan pada pertimbangan teoritik dan empirik agar hasil yang diperoleh berupa peningkatan kinerja dan hasil program yang optimal.
3. Observasi,
Kegiatan observasi dalam PTK dapat disejajarkan dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan ini peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Istilah observasi digunakan karena data yang dikumpulkan melalui teknik observasi.
4. Refleksi
Pada dasarnya kegiatan refleksi merupakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi terhadap semua informasi yang diperoleh saat
35 kegiatan tindakan. Dalam kegiatan ini peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil-hasil atau dampak dari tindakan. Setiap informasi yang terkumpul perlu dipelajari kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau hasil penelitian yang telah ada dan relevan. Melalui refleksi yang mendalam dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam. Refleksi merupakan bagian yang sangat penting dari PTK yaitu untuk memahami terhadap proses dan hasil yang terjadi, yaitu berupa perubahan sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan.
Gambar 3.1 Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis dan Mc Taggart (dalam Arikunto, Suhardjono dan Supardi, 2009)
Identifikasi
36 3.2 Setting Penelitian
3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 3 Parakan Wetan yang beralamatkan di JL. Letnan Suwaji, No. 116, Parakan, Parakan Wetan, Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sekolah ini terletak di tempat yang sangat strategis karena terletak di tengah kota. Namun pembelajaran di sekolah ini kurang kondusif karena letaknya yang berada di pinggir jalan utama sehingga menyebabkan suara bising dari kendaraan yang melintas. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV. Peneliti memilih kelas IV karena materi perakaran tumbuhan tergabung dalam Tema 3 pada kurikulum 2013.
3.2.2 Subjek Penelitian
Penelitian ini ditujukan khusus untuk kelas VI SD Negeri 3 Parakan Wetan Tahun Ajaran 2018/2019. Penelitian ini melibatkan seluruh siswa kelas VI yang berjumlah 37 siswa dengan 15 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
3.2.3 Objek Penelitian
Objek dari penelitian ini adalah hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 3 Parakan Wetan dengan penerapan media pembelajaran berbasis metode Montessori pada materi perakaran tumbuhan.
3.2.4 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus I dimulai tanggal 12 Desember 2018 sampai 13 Desember 2018. Siklus II dimulai tanggal 19
37 Desember 2018 sampai 20 Desember 2018. Secara keseluruhan penelitian ini dilaksanakan kurang lebih 10 bulan. Berikut adalah jadwal penelitian yang dilakukan peneliti :
Tabel 3.1 Waktu Penelitian
Kegiatan
Bulan
2018 2019
September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli
Observasi permasalahan
Pengolahan data penelitian Penyusunan laporan
Ujian
3.3 Persiapan
Persiapan yang dilakukan untuk melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Meminta ijin kepada kepala sekolah SD Negeri 3 Parakan Wetan untuk melaksanakan penelitian.
2. Mengurus surat sebagai perijinan secara tertulis yang ditujukan kepada kepala sekolah SD Negeri 3 Parakan Wetan.
38 3. Melakukan wawancara kepada wali kelas IV tentang pengalaman
memberikan materi perakaran tumbuhan pada siswa kelas IV 4. Melakukan observasi pada pembelajaran IPA di kelas IV 5. Mengkonsultasikan instrumen kepada wali kelas IV
memberikan materi perakaran tumbuhan pada siswa kelas IV 4. Melakukan observasi pada pembelajaran IPA di kelas IV 5. Mengkonsultasikan instrumen kepada wali kelas IV