BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Peningkatan Hasil Belajar Siswa
4.3.2 Pembahasan
Grafik 4.1 Peningkatan Hasil Belajar Siswa
4.3.2 Pembahasan
Peneliti telah melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di SD Negeri 3 Parakan Wetan. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, dengan 2 pertemuan di setiap siklusnya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada pembelajaran IPA materi perakaran tumbuhan menggunakan media pembelajarn berbasis metode Montessori.
4.3.2.1 Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri 3 Parakan Wetan Menggunakan Media Pembelajaran Berbasis Metode Montessori Pada Mata Pelajaran IPA Materi Perakaran Tumbuhan.
Peneliti menerapkan penggunaan media pembelajaran IPA berbasis metode Montessori dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada
0
Grafik Peningkatan Hasil Belajar Siswa
Nilai Rata-rata
77 materi perakaran tumbuhan. Pada penelitian ini akan digunakan media sebagai pendukung untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru mengedepankan penggunaan media karena hal ini dapat merangsang pemikiran siswa dalam menerima informasi, di mana informasi akan lebih mudah untuk diterima dan diolah (Prastowo, 2015: 295). Pada penelitian ini akan digunakan media pembelajaran berbasis metode Montessori. Media pembelajaran berbasis metode Montessori yang didesain menarik, bergradasi, auto-correction dan auto-education diharapkan mampu untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini didukung oleh Levie dan Lentz (dalam Prastowo, 2015:
301-302) yang mengungkapkan bahwa penggunaan media menarik dan sesuai dapat membantu siswa dalam memfokuskan perhatiaannya dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalahnya.
Adapun langkah-langkah penerapan penggunaan media pembelajaran IPA berbasis Metode Montessori yang dilaksanakan adalah 1) menyampaikan tujuan pembelajaran; 2) menyampaikan materi tentang perakaran tumbuhan dengan bantuan media pembelajaran; 3) pemberian lembar kerja siswa; 4) setelah selesai mengerjakan beberapa siswa diminta untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya; 5) guru memberikan umpan balik dan penguatan; 6) guru memberikan kuis dan siswa beradu cepat untuk menjawab; 7) guru menyampaikan kesimpulan dari pembelajaran yang sudah dilakukan.
78 Langkah pertama guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar siswa mengerti maksud dari pembelajaran yang akan dilakukan. Langkah kedua guru menjelaskan materi perakaran secara klasikal di depan kelas. Langkah ini sangat penting dilakukan oleh guru agar siswa mengetahui materi apa yang akan dipelajari sehingga bisa meningkatkan hasil belajarnya. Untuk mendukung penjelasan yang disampaikan, guru menggunakan beberapa media pembelajaran, yaitu media gambar, media replika akar dan media kartu Montessori. Hal ini didukung oleh Levie dan Lentz (dalam Prastowo, 2015: 301-302) yang mengungkapkan bahwa penggunaan media menarik dan sesuai dapat membantu peserta didik dalam memfokuskan perhatiaannya dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalahnya. Dalam langkah kedua ini, guru juga memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk mencoba menggunakan media pembelajaran berbasis Montessori mengenai perakaran tumbuhan. Sebelum memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba, guru terlebih dahulu memberikan penjelasan tentang cara penggunaan media. Dalam hal ini, penting dilakukan supaya siswa mengetahui gambaran dan cara penggunaan media tersebut. Langkah ketiga guru memberikan LKS kepada siswa untuk menguji pemahaman siswa tentang materi yang sudah diajarkan.
Pemberian LKS, dimaksudkan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang materi yang telah diajarkan. Seperti yang diungkapkan oleh Asfar dan Nur (2018: 33) pemberian tugas memberi manfaat terhadap
79 penguatan konsep yang diterima dan memperkaya konsep-konsep dasar, serta mampu meningkatkan kemampuan siswa untuk belajar mandiri.
LKS yang diberikan ada yang dikerjakan secara individu dan ada yang dikerjakan secara berkelompok dengan teman sebangku secara diskusi.
Langkah keempat siswa diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas. Mempresentasikan hasil belajar membuat siswa lebih terlatih untuk percaya diri saat berbicara di depan orang lain.
Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Sanjaya dan Budimanjaya (2017:
90) bahwa pemahaman bukan hanya sekedar mengingat fakta akan tetapi berkenaan dengan kemampuan menjelaskan dan menerangkan. Langkah kelima guru memberikan umpan balik kepada siswa yang mempresentasikan hasil kerjanya. Langkah ini diperlukan agar siswa mengetahui kesalahan yang telah dilakukan atau kebenaran yang perlu dipertahankan untuk meningkatkan hasil belajar. Setelah itu guru juga memberikan penguatan tentang hasil yang telah disampaikan agar tidak terjadi salah pemahaman. Langkah keenam guru memberikan beberapa pertanyaan kepada siswa sebagai evaluasi. Pertanyaan ini diberikan untuk menguji dan membantu meningkatkan pemahaman siswa tentang materi yang telah diajarkan. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Mustofa (2018: 70-71) bahwa evaluasi dilakukan agar memudahkan guru untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran dan mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru. Siswa beradu cepat untuk
80 menjawab soal yang diberikan oleh guru. Selain adu cepat, guru juga memberikan soal secara acak dengan menyebutkan nama siswa. Langkah yang terakhir guru memberikan kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilakukan.
Selain langkah-langkah yang sudah dilakukan, adapun beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Sebelumnya pada bab II telah dijelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.
Berikut adalah penjelasannya 1) Faktor Fisiologis, keadaan fisik siswa itu mempengaruhi cepat lambatnya siswa dalam menerima materi. Dengan fisik yang prima maka siswa akan lebih dapat menerima materi yang disampaikan guru sehingga berpengaruh pada tingkat keberhasilan hasil belajarnya. Saat penelitian siswa dikelas dalam keadaan sehat secara fisik sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar; 2) Faktor Psikologis/ Intern, faktor psikologis disini meliputi kecerdasan, perhatian, minat, bakat, motivasi dan daya nalar. Dengan faktor psikologis yang baik maka siswa akan lebih mudah untuk menangkap materi yang disampaikan sehingga berdampak pada meningkatnya hasil belajar. Hal yang paling menonjol saat penelitian adalah minat. Hal ini terlihat dari keaktifan dan keingintahuan siswa terhadap materi serta media yang dibawa oleh peneliti membuat siswa lebih fokus sehingga berpengaruh pada peningkatan hasil belajarnya; 3) Faktor Lingkungan/
Ekstern, pada faktor ini meliputi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Lingkungan yang baik dan sehat akan membuat siswa lebih
81 nyaman belajar sehingga bisa berpengaruh pada meningkatnya hasil belajar yang diperoleh. Hal yang paling terlihat pada penelitian ini adalah lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah yang hijau dan bersih membuat siswa untuk merasa nyaman belajar. Selain lingkungan sekolah, suasana kelas yang dibuat lebih menyenangkan karena adanya beberapa permainan juga meningkatkan semnagat sehingga berpengaruh pada hasil belajarnya; 4) Faktor Instrumental, faktor instrumental ini meliputi kurikulum, sarana dan guru. Ketersediaan kurikulum, sarana yang mendukung serta guru-guru yang berkompeten dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami materi yang diberikan di sekolah sehingga bisa meningkatkan hasil belajarnya. Namun pada penelitian ini tidak begitu terlihat faktor-faktor instrumental secara baik karena sarana/
media untuk pembelajaran tidak tersedia dengan lengkap untuk mendukung proses belajar. Selain itu usia guru kelas yang sudah tidak muda juga membuat kreatifitas dalam mengembangkan pembelajaran sudah menurun.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa pada penelitian ini telah membuktikan mengenai hipotesis tindakan upaya peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD menggunakan media pembelajaran berbasis metode Montessori pada mata pelajaran IPA materi perakaran tumbuhan dapat dilakukan dalam beberapa langkah tersebut. Upaya peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD menggunakan media pembelajaran berbasis metode Montessori pada mata pelajaran IPA materi perakaran
82 tumbuhan yang ditempuh dalam beberapa langkah telah terbukti keberhasilannya dengan melihat nilai rata-rata dari 62,35 menjadi 87,74.
4.3.2.2 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Media Pembelajaran IPA Berbasis Metode Montessori.
Berdasarkan hasil penelitian yang terdapat pada tabel 4.5 halaman 74 penerapan media pembelajaran berbasis metode Montessori berhasil meningkatkan rata-rata hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan sebesar 1,17 dari kondisi awal ke siklus I serta peningkatan sebesar 24,22 dari siklus I ke siklus II. Media Montessori yang menarik dengan warna-warna yang bergradasi bisa membuat siswa tertarik untuk lebih memperhatikan guru saat menyampaikan materi.
Dengan media yang menarik tersebut, siswa menjadi tertarik dan lebih fokus dalam proses pembelajaran. Selain menarik dan bergradasi, media Montessori juga memiliki ciri-ciri lain yaitu education dan auto-correction yang membuat siswa lebih memahami materi yang disampaikan sehingga bisa meningkatkan hasil belajar dan membuat siswa menjadi lebih mandiri. Media Montessori dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa melakukan pendidik diri untuk meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar dan meminimalisir campur tangan pendidik (Montessori, 2002: 172). Maka dari itu penggunaan media pembelajaran sangat efektif digunakan untuk menambah pemahaman siswa tentang materi. Hal ini sesuai dengan penjelasan Susilana dan Riyana (2009: 176) yang mengatakan bahwa
83 media pembelajaran adalah salah satu cara yang paling efektif dan efisien yang dapat dilakukan guru dalam pembelajaran. Jika dilihat usia SD yang kelas 4 juga lebih bisa memahami materi jika dibantu dengan penggunaan media yang bersifat konkret bukan abstrak. Hal ini sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget. Menurut Dahar (2011: 138) tingkat operasional konkret ini merupakan permulaan berpikir rasional, ini berarti anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah yang konkret.
Menurut Nawawi, hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu (Susanto, 2015: 5). Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Peningkatan hasil belajar siswa pada penelitian ini diukur dengan data yang di dapat pada kondisi awal, soal evaluasi 1 dan soal evaluasi 2.
Peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini terbagi dalam 2 siklus. Setiap siklus terbagi ke dalam 2 pertemuan, dimana setiap pertemuan memuat 4 tahap penelitian PTK yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat peningkatan hasil belajar siswa kelas IV di SD Negeri 3 Parakan Wetan tahun pelajaran 2018/2019 menggunakan media pembelajaran
84 berbasis metode Montessori pada pembelajaran IPA materi perakaran tumbuhan. Di akhir setiap siklus, peneliti memberikan soal evaluasi guna untuk mengukur atau mengetahui hasil belajar siswa. Soal yang diberikan berupa soal pilihan ganda yang berjumlah 10 nomor.
Pada akhir penelitian siklus I dengan menerapkan media pembelajaran IPA berbasis metode Montessori, peneliti memberikan soal evaluasi 1 kepada siswa. Hasil belajar yang di dapat siswa mengalami peningkatan jika dibandingkan kondisi awal. Rata-rata hasil belajar pada siklus I ini adalah 63,52 dengan persentase ketuntasan sebesar 27,05%.
Angka ini masih belum memenuhi target yang sudah ditetapkan peneliti yaitu sebesar 70 dengan persentase ketuntasan 70%. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal, yaitu cara peneliti dalam menjelaskan materi menggunakan media dan tingkat fokus siswa yang masih rendah.
Jika dilihat hasil belajar yang didapatkan siswa belum sesuai dengan target yang ditetapkan peneliti, maka peneliti berusaha untuk mengubah cara dalam menyampaikan materi agar mudah dipahami siswa dan membuat siswa lebih fokus.
Data yang diperoleh pada akhir penelitian siklus II dengan menerapkan media pembelajaran IPA berbasis metode Montessori menunjukkan adanya peningkatan yang tinggi jika dibandingkan dengan siklus I. Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II ini adalah 87,74 dengan persentase ketuntasan sebesar 89,65%. Angka tersebut sudah
85 memenuhi target yang ditetapkan peneliti yaitu sebesar 75 dengan persentase ketuntasan 75%.
Dengan adanya peningkatan hasil belajar yang diperoleh siswa dari siklus I sampai siklus II yaitu sebesar 24,22 dan persentase ketuntasan yang mencapai 62,6%, maka peneliti tidak melanjutkan ke penelitian dengan siklus berikutnya. Dapat disimpulkan pada penelitian ini telah membuktikan bahwa hipotesis tentang penggunaan media pembelajaran IPA berbasis Metode Montessori dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi perakaran tumbuhan kelas IV di SD Negeri 3 Parakan Wetan. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 62,6%. Hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa penelitian ini memiliki keterkaitan dengan penelitian-penelitian terdahulu yang dijadikan dasar teori.
86 BAB V
PENUTUP
Pada Bab V ini dibahas tentang kesimpulan, keterbatasan penelitian dan saran.
5.1 Kesimpulan
1. Upaya peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 3 Parakan Wetan tahun pelajaran 2018/2019 pada pembelajaran IPA materi perakaran tumbuhan dengan penggunaan media pembelajaran berbasis metode Montessori dapat dilakukan dengan cara 1) menyampaikan tujuan pembelajaran; 2) menyampaikan materi tentang perakaran tumbuhan dengan bantuan media pembelajaran; 3) pemberian lembar kerja siswa; 4) selelah selesai mengerjakan beberapa siswa diminta untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya; 5) guru memberikan umpan balik dan penguatan; 6) guru memberikan kuis dan siswa beradu cepat untuk menjawab; 7) guru menyampaikan kesimpulan dari pembelajaran yang sudah dilakukan.
2. Penggunaan media pembelajaran berbasis metode Montessori dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SD Negeri 3 Parakan Wetan pada pembelajaran IPA materi perakaran tumbuhan. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata pada kondisi awal yaitu 62,35 dengan persentase ketuntasan sebesar 27,02% meningkat pada sikus I menjadi 63,52 dengan persentase ketuntasan 27,05% dan kembali meningkat pada siklus II menjadi 87,74 dengan persentase ketuntasan 89,65%.
87 5.2 Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini masih ada keterbatasan penelitian yaitu ketidakseimbangan antara jumlah siswa dan juga media yang disediakan oleh peneliti. Dimana hanya ada 1 media yang digunakan secara bergantian untuk 37 siswa sehingga membuat suasana kelas kurang kondusif karena beberapa siswa tidak mau mengalah dan bergantian dengan teman lainnya.
5.3 Saran
Untuk penelitian yang selanjutkan diharapkan untuk lebih menyiapkan media yang lebih dari 1. Atau bisa disesuaikan dengan jumlah siswa pada kelas tersebut.
88 DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S. & Sutanto, T.E. (2015). Statistika Tanpa Stres. Jakarta : Transmedia.
Arifin, Z. (2016). Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Arikunto, S. (2010). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Arikunto, S., Suhardjono., & Supardi. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Jakrta : Bumi Aksara.
Arsyad, A. (2013). Media Pembelajaran. Depok : PT Rajagrafindo Persada.
Asfar, I.T. & Nur, S. (2018). Model Pembelajaran Problem Posing dan solving:
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah. Sukabumi: CV Jejak.
Azwar, S. (2012). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Baharudin & Wahyuni, E.N. (2015). Teori Belajar dan Pembelajaran.
Yogyakarta : Ar-ruz Media.
Bungin, B. (2017). Metodelogi Penelitian Kuantitatif. Jakarta : Kencana.
Dahar, R.W. (2011). Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Erlangga.
Djiwandono, S. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Grasindo.
Duludu, U. (2017). Buku Ajar Kurikulum Bahan dan Media Pembalajaran PLS.
Yogyakarta : Deepublish.
Edi, F.R.S. (2016). Teori Wawancara Psikodignostik. Yogyakarta : Leutikaprio.
Faizah., Rahma, U., & Dara, Y.P. (2017). Psikologi Pendidikan : Aplikasi Teori di Indonesia. Malang : UB Press.
Fathurrohman, M. (2017). Belajar dan Pembelajaran Modern. Yogyakarta : Garudhawaca.
Hadiyanto. (2016). Teori Pengembangan Iklim Kelas dan Iklim Sekolah. Jakarta : Kencana.
Hanifa, N. (2014). Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar “Membedah Anatomi Kurikulum 2013 Untuk Membangun Masa Depan Pendidikan Yang Lebih Baik”. Bandung : UPI Sumedang Press.
89 Jalinus, N & Ambiyar. (2016). Media dan Sumber Pembelajaran. Jakarta :
Kencana
Kunandar. (2008). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
Kustiawan, U. (2016). Pengembangan Media Pembelajaran Anak Usia Dini.
Malang : Gunung Samudra.
Latip, A. E. (2018). Evaluasi Pembelajaran di SD dan MI: Perencanaan dan Pelaksanaan Penilaian Hasil Belajar Autentik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Lefudin. (2014). Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta : Deepublish.
Margini, A.P. (2013). Sejarah Pendekatan Montessori. Yogyakarta : Kanisius.
Masidjo, I. (1995). Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Peserta Didik di Sekolah.
Yogyakarta: Kanisius.
Montessori, M. (2002). The Montessori Method. New York: Dover Publication.
Mumpuni, A. (2018). Integrasi Nilai Karakter Dalam Buku Pelajaran Analisis Konten Buku Teks Kurikulum 2013. Yogyakarta : Deepublish.
Mustofa, J. (2018). Manajemen Pendidikan. Jakarta : Prenamedia Group Nai, F.A. (2017). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta : Deepublish.
Neolaka, A. & Neolaka, G.A. (2017). Landasan Pendidikan: Dasar Pengenalan Diri Sendiri Menuju Perubahan Hidup. Depok : Kencana.
Pianda, D. (2018). Kinerja Guru. Sukabumi : Jejak.
Prasetiyo, E. (2009). Menjadi Juara Olimpiade Sains. Depok : Wisma Hijau.
Prayitno. (2009). Dasar Teori dan Praktis Pendidikan. Jakarta : Grasindo.
Prastowo, A. (2007). Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik Terpadu. Yogyakarta: Kencana.
Rangkuti, F. (2009). Mengukur Efektivitas Program Promosi dan Analisis Kasus Menggunakan SPSS. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Roopnarine, J.L. & Johnson, J.E. (2015). Pendidikan Anak Usia Dini : Dalam Berbagai Pendekatan. Jakarta : Kencana.
90 Rusman. (2012). Belajar dan Perkembnagan Berbasis Komputer
Mengembangkan Profesionaliskme Guru Abad 21. Bandung : Alfabeta.
Samatowa, U. (2011). Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta : Indeks.
Sanjaya, W. & Budimanjaya, A. (2017). Paradigma Baru Mengajar. Jakarta : Kencana
Sarasvati, D.P & Sumardinata, J. (2016). Mendidik Pemenang Bukan Pecundang.
Yogyakarta : PT Bentang Pustaka.
Setyosari, P. (2016). Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta : Kencana.
Sinar. (2018). Metode Active Learning. Yogyakarta : Deepublish.
Syah, M. (2012). Psikologi Belajar. Yogyakarta : Raja Grafindo Persada.
Sudjana, N. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sudjana, N. & Rivai, A. (2013). Media Pengajaran. Bandung : Sinar Baru Algensindo
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatakan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sujana, A. (2014). Dasar-Dasar IPA : Konsep dan Aplikasinya. Bandung : UPI Press.
Suparno, P. (2008). Riset Tindakan untuk Pendidik. Jakarta: Grasindo.
Suprihatiningsih. (2016). Perspektif Manajemen Pembelajaran Progaram Keterampilan. Yogyakarta : Deepublish.
Suryani & Hedryadi. (2015). Metode Riset Kuantitatif. Jakarta : Prenadamedia Group.
Susanto, A. (2014). Perkembangan Anak Usia Dini : Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya. Jakarta : Kencana.
Susanto, A. (2015). Teori Belajar dan Pembelajaran di SD. Jakarta : Prenamedia Group.
Susanto, A. (2016). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta : Fajar Interpratama Mandiri.
91 Susilana, R & Riyana, C. (2009). Media Pembelajaran : Hakikat, Pengembangan,
Pemanfaatan dan Penilaian. Bandung : CV Wacana Prima.
Suwendra, I.W. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bali : Nilacakra.
Tim Penyusun. (2015). Modul Praktikum Metode Riset Untuk Bisnis dan Manajemen. Bandung : Universitas Widyatama.
Widoyoko, S. (2009). Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis bagi Pendidik dan Calon Pendidik. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Wisudawati, W.A & Sulistyowati, E. (2015). Metodologi Pembelajaran IPA.
Jakarta : Bumi Aksara.
92 Lampiran 1a. RPP Siklus I
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
SILKUS I
Satuan Pendidikan : SD Negeri 3 Parakan Wetan Kelas / Semester : IV/ 1
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa mampu menyebutkan 3 fungsi akar bagi tumbuhan melalui media dengan tepat.
2. Siswa mampu menjelaskan 5 jenis akar tumbuhan melalui media dengan benar.
3. Siswa mampu menganalisis 5 jenis akar dan fungsinya dengan tepat.
4. Siswa mampu menjelaskan 3 bagian akar dan fungsinya melalui diskusi kelompok.
5. Siswa mampu mengidentifikasi 5 tumbuhan berdasarkan jenis akarnya melalui diskusi kelompok.
6. Siswa mampu menggambar struktur bagian akar secara individu.
B. Kompetensi Inti
1. Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
93 2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya.
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, membaca dan menanya) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis, dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan peri-laku anak beriman dan berakhlak mulia.
C. Kompetensi Dasar 1. Muatan IPA
No Kompetensi Dasar No Indikator
3.1 Memahami hubungan antara bentuk dan fungsi bagian tubuh hewan dan tumbuhan
3.1.1
3.1.2
3.1.3
3.1.4
Menjelaskan fungsi akar bagi tumbuhan
Menjelaskan bagian-bagian akar dan fungsinya
Menganalisis jenis akar dan fungsinya
Mengidentifikasi tumbuhan berdasarkan jenis akar 4.1 Menyajikan laporan hasil
pengamatan tentang bentuk dan fungsi bagian
4.1.1 Menggambar struktur bagian akar tumbuhan.
94 2. Muatan Bahasa Indonesia
No Kompetensi Dasar No Indikator
3.6 Menggali informasi dari seorang tokoh melalui wawancara menggunakan daftar pertanyaan
3.3.1 Menemukan informasi tentang bagian-bagian tumbuhan melalui wawancara
4.6 Melaporkan hasil wawancara menggunakan kosakata baku dalam kalimat efektif dalam bentuk teks tulis
4.3.1 Menyampaikan hasil wawancara tentang bagian-bagian tumbuhan
D. Metode Pembelajaran
Ceramah, diskusi dan tanya jawab.
E. Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 1
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu Pendahuluan 1. Guru memberikan salam dan
mengajak semua peserta didik berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing.
2. Guru mengecek kesiapan diri dengan mengisi lembar kehadiran dan memeriksa kerapihan pakaian, posisi dan tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran.
15 menit
95 Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu 3. Guru melakukan ice breaking melalui
kegiatan bernyanyi atau bermain tebak-tebakan atau kegiatan lain.
4. Guru menginformasikan kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu.
5. Guru melakukan apersepsi dengan melakukan salah satu kegiatan berikut, yaitu tanya jawab, mengulas kembali beberapa hal tentang kegiatan sebelumnya, menceritakan pengalaman, atau kegiatan lainnya.
Inti 1. Guru menampilkan gambar-gambar tentang bagian-bagian tumbuhan.
2. Peserta didik diminta untuk mengamati gambar tersebut dengan seksama. (mengamati)
3. Peserta didik diberi kesempatan untuk bertanya terkait gambar yang ditampilkan. (menanya)
Contoh : Apa fungsi dari setiap bagian tumbuhan tersebut?
4. Guru menyampaikan materi tentang perakan tumbuhan yaitu fungsi akar bagi tumbuhan dan menjelaskan bagian-bagian akar dan fungsinya.
5. Guru bertanya tentang pengalaman peserta didik terkait dengan perakaran tumbuhan.
90 menit
96 Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu 6. Guru memandu peserta didik untuk
mengaitkan pengalaman tersebut dengan materi. (menalar)
7. Guru memberikan lembar kerja kepada peserta didik
8. Peserta didik mengerjakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).
(mencoba)
9. Peserta didik menyampaikan hasil pekerjaannya ke depan kelas.
(mengkomunikasikan)
10. Guru memberikan umpan balik serta penguatan kepada peserta didik.
Penutup 1. Guru dan peserta didik melakukan kegiatan refleksi kegiatan hari itu.
Dalam kegiatan refleksi, guru memberikan salah satu pertanyaan berikut ini:
a. Apa yang kamu pelajari hari ini?
a. Apa yang kamu pelajari hari ini?