• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ciri Orang Yang Mendapatkan Wahyu

Dalam dokumen Konsepsi wahyu dalam ajaran sapta darma (Halaman 65-79)

BAB I PENDAHULUAN

G. Ciri Orang Yang Mendapatkan Wahyu

Untuk mengetahui bahwa orang tersebut telah meneriama wahyu dari Hyang Maha Kuasa perlu kiranya untuk diketahui dulu tentang ciri-ciri orang- oarng yang telah menerima wahyu itu. Di sini, penulis akan membagi kedalam dua segi, yaitu segi positf dan segi negatif:

Pertama, dari segi positif, bahwa orang yang telah menerima wahyu akan menjadi sumber panutan semua umat bagi para penganutnya dan menjadi sumber kasih sayang yang tidak terhingga atau tidak terbatas, dan kasih sayang ini menyebar kemana-mana. Siapa pun orang yang dekat dengan dia akan mendapatkan rasa kasih sayang dari orang yang telah menerima wahyu tersebut, sehingga orang yang dekat dengannya akan meraskan ketentraman jiwa dan akan merasakan harmonis dalam kehidupannya.

Hal ini dapat dilihat dari roman wajahnya yang nampak berseri-seri dan kelihatan bersinar, tingkah laku, budi bahasa yang sopan dan tata susial dengan masyarakat.

Kedua, dari segi negatif, bahwa orang yang berbudi luhur dan telah

mendapatkan Wahyu Wewarah Kerohanian Sapta Dama, tidak akan membuat

54

telah dapat mencapai tingkatan yang lebih tinggi, atau menjadi manusia yang berbudi luhur dan sejati. Orang tersebut tidak akan bertingkah laku yang aneh- aneh untuk menarik perhatian dari halayak masyarakt banyak.

55

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Sekripsi ini membahas tentang Konsepsi Wahyu Menurut Ajaran Sapta Darma, maka dari itu penulis berkesimpulan bahwa:

Sapta Darma adalah sebagai organisasi yang di dirikan pada tanggal 27 Desember 1955, atas perintah Hyang Maha Kuasa, setelah Hardjosopoero yang bergelar Panuntun Agung Sri Gutama menerima Wahyu pada suatu malam pada tanggal 26 Desenbar 1952 di daerah Pare kediri. Sapta Darma berpedoman kepada kitab suci Wewarah Kerohanian Sapta Darma atau berpegang pada buku-

buku ajaran lainnya, yaknai: dasa-warsa kerohanian Sapta Darma, Pedoman

Penggalain Pribadi Manusia, Pemaparan budaya spritual, Sejarah Penerimaan

Wahyu Wewarah dan perjalanan Panuntunn Agung, dan lain sebagainya.

Wahyu yang diterima oleh Bapak Panuntun Agung Sri gutama atau yang sering disebut Hardjosopoero semuanya terkumpul dalam kitab suci yang bernama wewarah kerohanian sapta Darma. Dan sebagaimana judul skripsi di atas, dimana skripsi ini membahas tentang konsepsi Wahyu Menurut Ajaran Sapta Darma, untuk itu penulis mencoba memberi kesimpulan, bahwa:

Wahyu dalam jaran Sapta Darma secara bahasa disebut Wewarah Kerohanian Sapta Darma, sedangka menurur istilah wahyu menurut Sapta Darma adalah, petunjuk Allah untuk mengatur umat supaya dapat hidup bahagia mulai di dunia sampai di alam langgeng, atau sesuatu hal yang di turunkan oleh Hyang Maha Kuasa kepada orang-orang yang terpilih, setelah melalui ujin-ujian yang berat dengan melalui utusan-Nya, dan dapat juga diakatan bahwa wahyu sebagai

56

derajat kejiwaan yang telah dicapai oleh seseorang dengan cara yang susah payah untuk mendapatkannya.

Dan jalan mendapatkan wahyu dalam ajaran Sapta Darma, diperoleh dengan jalan setapak demi setapak artinya tidak langsung di terunkan sekaligus tetapi secara bertahap, dalam jangka waktu yang lama sekali. Jalan Untuk mencapai kesana sangatlah berat banyak rintangan dan ujianya yang harus di jalani, dan harus menjalankan beberapa syarat diantara: menjalankan Wewarah tujuh, Sujud wajib, Sujud penggalin, Racut, dan ening atau bersamadi dan lain sebaginya.

Mengenai nama Wahyu dalam ajran Sapta Darma adalah semua sabda- sabda yang telah di turunkan oleh Hyang Maha Kuasa, kemudian dikumpulkan melalui Hardjosopoero dan diperdengarkan kepada orang yang di tunjuk untuk melnulisnya, kemudian sabda-sabda itu dikumpulkan dan di bukukan menjadi sebuah kitab suci yang di namakan Wewarah Kerohanian Sapta Darma.

Kemudian tentang isi dan kandungan dari wahyu Wewarah Kerohanian Sapta Darma diantaranya adalah, wewarah tujuh, sabda usaha, sujud, sujud penggalin, racut, ening san sebagainya.

Manfaat turynnya Wahyu Wewarah Kerohanian Sapta Darma bagi manusia yang menerimanya akan tercermin sifat-sifat yang Mulia atau akan mempunyai sifat-sifat ke Tuhanan, dan akan selalu memberi kebahagian kepada manusia.

Adapun ciri orang yang sudah menerima Wahyu akan menjadi sumber panutan bagi para penganutnya, dan akan menjadi sumber kasih sayang yang tidak terbatas. Orang itu akan mempunyai budi pakarti yang luhur sehingga orang tersebut tidak akan membikin kekacauan di bumi ini, dia akan selalu menjaga keamanan dan ke tentraman.

B. Saran

Tidak dapat disangkal, bahwa semenjak kemerdekaan negara Indonesia telah muncul bermacam-macam Aliran kebatinan yang tumbuh begitu pesat. Oleh sebab itu penulis berharap hendaklah umat beragama khususnya umat Islam bisa menghayati bagian esotenik agamanya, agar tidak kering dari nilai-nilai spiritual, selanjutnya penulis berharap juga, bagi umat islam dapat menghargai perbedaan yang ada, baik perbedaan keyakinan antar sesama umat, perbedaan mazhab maupu perbedaan agama/kepercayaan. Selanjutnya pemerintah hendaklahh lebih memperhatikan dan mengakomudir Aliran-aliran yang ada di nusantara, karna ini sebagai penghargaan terhada khazanah budaya bangsa.

57

DAFTAR PUSTAKA

Rahnip, Aliran-Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Dalam Sorotan. Surabaya:

Pustaka Progresif, 1997.

Manna’ Kholil al-Qottan, Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran Bogor: P.T. Pustaka Litera Antar

Nusa, 2000.

M. Suf’at, Beberapa Pembahasan Tentang Kebatinan Yogyakarta: Kota Kembang,

1985.

Hadiwijono, Harun. Kebatinan dan Injil . Jakarta: BPK Gunung Mulya, 2002.

Soeryono Naen, Soeryono, “Gema Sesanti,” Media komunikasi Antar Warga

Kerohanian Sapta Darma , 1Juni, 2010

Hermanto, Dadan “Pendekatan Wilfred Canwell Smith Terhadap Studi Agama,” Skripsi SI Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Jakarta.

Pengurus Pusat Persatuan Warga Sapta Darma, Pemaparan Budaya Spritual Sapta

Darma Yogyakarta: Sanggar Candi Sapta Rengga-Surokarsan,2010.

Sekertariat Tuntunan Agung Kerohania Sapta Darma, Sejarah penerimaan Wahyu

Wewarah Sapta Darma dan Perjalanan Panuntun Agung Sri Gutama

Yogyakarta: Sanggar Candi Sapta Rengga- Surokarsan, 2010.

Romdon, M,A. Ajaran Ontologi Aliran Kebatinan Jakarta: PT, Raja Grafindo

Persada, 1996.

El Hafidi, As’ad, Aliran-aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia Jakarta:

Ghalia Indonesia, 1982.

Pedoman tuntunan kerohanian Sapta Darmma, keputusan Saresehan Agung

Tuntunan nomor:03/sat/xII2009 Yogyakarta: sekertariat Tuntunan Agung

Kerohanian Sapta Darma, 2009.

Dwiyanti, Djoko. Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Yogyakarta: Pararaton Gruf Elmatera, 2010.

Pawenang, Sri. Wewarah Kerohanian Sapta Darma, Yogyakarta: Surokarsan, 1962.

Hardjoprakoso, R. Soemantri. Wahyu Sasangka Jati. Jakarta: Proyek Penerbit dan

Perpustakaan Pangestu, 1977.

kartapraja, Kamil. Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia . Jakarta :

yayasan Masagung, 1985.

Hadiwijono, Harun, Kebatinan islam dakam abad ke- 16, Jakarta: BPK Gunung

Rahman, Fazlur, Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam. Bandung: Mizan, 1987.

Munir A, dan Sudarsono. Aliran Moderen Dalam Islam. Jakarta: PT, Rineka Cipta,

1994.

Gibb H.A.R, Aliran-Aliran Moderen Dalam Islam, Jakarta: PT, Raja Grafindo

Persada, 1995

Pawenang, Sri, Dasa Warsa Kerohanian Sapta Darma, Yogyakarta: Sekertariat

Tuntunan Agung, 1962,

Pawenang, Sri, pedoman Penggalian Pribadi Manusia secara Kerohanian Sapta

Gambar Simbol Sapta Darma atau Simbol Manusia

Foto Panuntun Agung Sri Gutama sewaktu menjejerkan Sri pawenang menjadi Panuntun Wanita

Awal meret, 1957

Panuntun Agung Sri Gutam sedang melakukan sujud di atas dasar pondasi Sanggar Candi Sapta Rengga

Foto Panuntun Wanita, Ibu Sri Pawenang

Cara melaksanakan olah Rasa

Tatacara pelaksanaan sujud

Para Warga Sapta Darma sedang melaksanakan Sujud Bersama Di rumah salah satu warganya

Foto bersama dengan Staf tuntunan Agung Sapta Darma, sesudah melaksanakan wawancara

Foto bersama dengan Tuntunan Agung Sapta Darma, setelah melaksanakan Wawancar langsung

Foto bersama Tuntunan Agung Sapta Darma dan Staf Tuntunan Agung Sapta Darmas setelah selesai penelitian

Dalam dokumen Konsepsi wahyu dalam ajaran sapta darma (Halaman 65-79)

Dokumen terkait