• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.6 Ciri Penanda Tuturan Imperatif

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), pengertian ciri adalah tanda khas yang membedakan sesuatu dari yang lain. Sedangkan pengertian tuturan imperatif adalah ucapan atau ujaran yang sifatnya meminta agar mitra tutur melakukan sesuatu, baik berupa tindakan ataupun perbuatan. Sehingga dapat diambil

kesimpulan, pengertian dari ciri penanda imperatif adalah tanda khas dalam ujaran yang sifatnya meminta agar mitra tutur melakukan sesuatu sebagaimana diinginkan oleh penutur yang membedakannya dengan ujaran lain. Rahardi membagi maksud tuturan imperatif dalam kajian pragmatik ke dalam 17 makna, diantaranya sebagai berikut:

a. Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Perintah

Ciri penanda dari tuturan imperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah, yaitu tuturan mengandung makna menyuruh untuk melakukan sesuatu yang harus dilakukan dan dapat diparafrasa. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005: 94). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

“Dodi, duduk!” Konteks:

Tuturan disampaikan oleh guru kepada muridnya ketika ia melihat bahwa muridya sedang lari-lari di dalam kelas pada saat murid yang lain sedang mengerjakan tugas.

Nonimperatif Tuturan:

“Bumbu dapur sudah habis, aku tidak bisa masak.” Konteks:

Tuturan seorang istri kepada suaminya pada saat suaminya mencari-cari makanan di meja makan karena kelaparan.

b. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Suruhan

Secara struktural, imperatif yang bermakna suruhan dapat ditandai oleh pemakaian penanda kesantunan coba dan dapat di parafrasa. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif suruhan dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

“Coba gunakan gaun ini untuk pesta nanti malam!” Konteks:

Tuturan disampaikan oleh ibu kepada anak

perempuannya . Anak perempuannya bingung hendak memakai gaun yang seperti apa, sehingga sang ibu menyuruh anaknya memakai gaun yang ia pilihkan. Nonimperatif Tuturan:

Pemilik Rumah : “Tamu yang saya tunggu sedang dalam perjalanan ke rumah. Apakah kamu sudah membersihkan ruang tamu?’

Pembantu : “Sudah Bu, sudah saya bersihkan tadi pagi”.

Konteks:

Dituturkan oleh pemilik rumah kepada pembantunya saat ia sedang berbenah diri untuk menyambut tamu yang ditunggu-tunggu.

c. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Permintaan

Tuturan imperatif yang mengandung makna permintaan lazimnya terdapat ungkapan penanda kesantunan tolong atau frasa lain yang bermakna minta dan dapat di parafrasa. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif permintaan dapat diketahui melalui

konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

Ani : “Tolong bawakan buku saya yang tertinggal dirumahmu, ya!”

Reta : “Ooh, iya An, pasti aku bawakan.” Konteks:

Tuturan ini disampaikan seseorang kepada teman dekatnya melalui telepon. Ia menyampaikan untuk membawakan buku miliknya yang tidak sengaja tertinggal pada saat ia berkunjung kerumah teman dekatnya.

Nonimperatif Tuturan:

Bagas : “Sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian sekolah, sebaiknya kamu menjaga kesehatan.” Sinta : “Iya, sepertinya aku memang harus menjaga kesehatan.”

Konteks:

Tuturan ini dituturkan oleh kekasih kepada pasangan kekasihnya. Ia menemani pasangan kekasihnya yang sedang tergolek lemas di rumah sakit.

d. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Permohonan

Secara struktural, imperatif yang mengandung makna permohonan, biasanya ditandai dengan ungkapan penanda kesantunan mohon. Selain ditandai dengan hadirnya penanda kesantunan itu, partikel –lah juga lazim digunakan untuk memperhalus kadar tuntutan imperatif permohonan dan dapat di parafrasa. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif permohonan dapat diketahui melalui konteks situasi tutur

yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

“Mohon perbaiki tindak tutur dalam bersikap!” Konteks:

Tuturan seorang guru kepada muridnya di ruangan bimbingan konseling yang merasa bahwa muridnya tersebut telah berperilaku dan berbicara yang tidak sewajarnya lagi.

Nonimperatif Tuturan :

Orang tua pasien : “Bu, saya baru bisa bayar separuh dulu. Nanti sisanya saya lunasi segera, yang penting anak saya diobati dulu.”

Bagian administrasi : “Baik Bu, tidak apa-apa.” Konteks:

Tuturan ini cuplikan percakapan antara orang tua pasien dan bagian administrasi rumah sakit.

e. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Desakan

Imperatif dengan makna desakan menggunakan kata ayo atau mari sebagai pemarkah makna. Selain itu, kadang-kadang digunakan juga kata harap atau harus untuk memberi penekanan maksud desakan tersebut. Intonasi yang digunakan untuk menuturkan jenis imperatif ini, lazimnya, cenderung lebih keras dibandingkan dengan intonasi pada tuturan imperatif yang lainnya. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif desakan dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

Krisna kepada Ayah : “Ayo, kita liburan ke Lombok, Yah! Ayo, Yah! Kita sudah lama tidak liburan.”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan seorang anak kepada Ayahnya di ruang keluarga, pada saat melihat acara televisi mengenai pariwisata di Lombok.

Nonimperatif Tuturan:

Seorang anak kepada ibunya : “Bu, kapan aku dibelikan handphone baru? Waktu itu ibu bilang kalau minggu ini aku akan dibelikan handphone.”

Konteks :

Tuturan ini disampaikan oleh anak kepada ibunya pada saat ia melihat ibunya melakukan transaksi penarikan uang dari mesin ATM.

f. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Bujukan

Imperatif yang bermakna bujukan di dalam bahasa Indonesia, biasanya, diungkapkan dengan penanda kesantunan ayo atau mari. Selain itu, dapat juga imperatif tersebut diungkapkan dengan penanda kesantunan tolong. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif bujukan dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

Seseorang kepada sahabatnya : “Kita belanjanya di akhir pekan aja, yuk! Kalo akhir pekan banyak yang diskon lho.”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan seseorang kepada

sahabatnya yang merencanakan hendak berbelanja. Berhubung di akhir pekan biasanya terdapat diskon di toko-toko, maka ia membujuk sahabatnya untuk berbelanja di akhir pekan.

Nonimperatif Tuturan:

Kakak kepada adiknya : “Kalau adik mau makan-makanan yang bergizi, tubuh adik akan menjadi sehat dan kuat.”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan kakak kepada adiknya pada saat ia sedang menyuapi adiknya yang tidak mau makan.

g. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Imbauan

Imperatif yang mengandung makna imbauan, lazimnya, digunakan bersama partikel –lah. Selain itu, imperatif jenis ini sering digunakan bersama dengan ungkapan penanda kesantunan harap dan mohon. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif suruhan dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

“Harap pelajari materi yang telah saya berikan selama semester ini!”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh guru kepada murid-muridnya yang hendak menghadapi ujian tengah semester.

Nonimperatif Tuturan:

“Siswa-siswi kelas VII, VIII, dan IX harus mendapatkan pengetahuan mengenai bahaya dari

penggunaan narkoba.” Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh salah seorang guru kepada rekan guru pada saat rapat mengenai kegiatan yang akan dilakukan pada hari kesehatan nasional.

h. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Persilaan

Imperatif persilaan dalam bahasa Indonesia, lazimnya, digunakan dengan penanda kesantunan silakan. Seringkali digunakan pula bentuk pasif dipersilakan untuk menyatakan maksud pragmatik imperatif persilaan itu. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif persilaan dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

Tuan rumah dan tamu : “Silakan dimakan dan diminum dulu suguhan sederhana ini!”. Konteks:

Tuturan ini disampaikan tuan rumah kepada tamu pada saat pembantu dari tuan rumah meletakkan suguhan diatas meja ruang tamu.

Nonimperatif Tuturan:

“Kemarin aku mendapatkan banyak oleh-oleh dari Lampung. Kalau kamu mau, ambil saja beberapa untuk kamu makan.”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh seseorang kepada teman dekatnya pada saat berbincang-bincang di trotoar. Teman dekatnya mengeluhkan bahwa ia tidak memiliki cadangan makanan.

i. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Ajakan

Imperatif dengan makna ajakan, biasanya, ditandai dengan pemakaian penanda kesantunan mari atau ayo. Kedua macam penanda kesantunan itu masing-masing memiliki makna ajakan. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif ajakan dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

Aini kepada tema-temannya : “Ayo, nanti malam nonton konser Afgan di Auditorium Sanata Dharma!” Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh Aini kepada teman-temannya pada saat berkumpul bersama di ruang kelas, ia mengajak teman-teman yang mengidolakan dengan Afgan untuk menonton konser.

Nonimperatif Tuturan:

Anak kepada ibu : “Martabak, enak nih.” Konteks:

Tuturan ini disampaikan anak kepada ibunya untuk membeli martabak.

j. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Permintaan Izin

Imperatif dengan makna permintaan izin, biasanya, ditandai dengan penggunaan ungkapan penanda kesantunan mari dan boleh. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif permintaan izin dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang

melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

Seseorang kepada Pedagang : “Bu, mari saya bantu dorong gerbobaknya!”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh seseorang kepada pedagang yang terlihat kesulitan mendorong gerobak dagangannya untuk melewati tanjakan.

Nonimperatif Tuturan:

Anak kepada Ayah : “Ayah, aku boleh beli es krim dan coklat?”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan anak kepada ayahnya pada saat sedang berbelanja di minimarket.

k. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Mengizinkan

Imperatif bermakna mengizinkan, lazimnya, ditandai dengan pemakaian penanda kesantunan silakan. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif mengizinkan dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

“Silakan duduk sesuai dengan nomor yang tertera pada karcis!”

Konteks:

Tuturan ini ditemukan di dalam bus untuk para penumpang.

Nonimperatif Tuturan:

“Area bebas rokok.” Konteks:

Bunyi sebuah tuturan pemberitahuan yang terdapat pada sebuah warung makan yang memiliki dua bagian tempat khusus untuk area merokok dan tidak merokok.

l. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Larangan

Imperatif dengan makna larangan dalam bahasa Indonesia, biasanya, ditandai oleh pemakaian kata jangan. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif larangan dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

Ibu kepada Dhani : “Jangan hujan-hujanan Dhan, nanti sakit!”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh seorang ibu kepada anaknya pada saat ia melihat anaknya bermain sepak bola di halaman rumah pada saat hujan turun.

Nonimperatif Tuturan: “Lantai licin” Konteks:

Tuturan ini ditemukan pada peringatan yang terdapat dilantai mall saat lantai masih basah karena baru saja di pel.

m. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Harapan

Imperatif yang menyatakan makna harapan, biasanya, ditunjukkan dengan penanda kesantunan harap dan semoga. Kedua macam penanda kesantunan itu di dalamnya mengandung makna harapan. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif harapan dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

“Aku harap, kamu mengerti keadaan aku!” Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh seorang kekasih kepada pasangan kekasihnya yang sedang bertengkar hebat mengenai keluarga.

Nonimperatif Tuturan:

“Kalau semua barang dagangan ini laku, aku pasti bisa membelikan adik mainan.”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh seorang kakak pada dirinya sendiri yang sedang menunggui barang dagangannya untuk dibeli oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya.

n. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Umpatan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian umpatan adalah makian. Imperatif jenis ini banyak ditemukan dalam pemakaian bahasa Indonesia pada komunikasi keseharian. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif umatan dapat diketahui melalui

konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

Budi dan Heru : “Anak tidak tahu diri! Sudah tahu orang tuanya susah, malah tidak sekolah dengan baik.”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh kakak kepada adiknya pada saat mengetahui nilai rapor adiknya jelek dan sering bolos sekolah.

Nonimperatif Tuturan:

“Anjing ya bisanya hanya menggonggong.” Konteks:

Tuturan seseorang kepada sahabatnya yang sedang sedih karena menjadi bahan perbincangan teman-teman kampus.

o. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Pemberian Ucapan Selamat Ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif pemberian ucapan selamat dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

Vani kepada Dian : “Selamat wisuda kak! Semoga aku juga cepat wisuda ya.

Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh seorang teman kepada temannya pada saat menghadiri pesta wisuda. Nonimperatif Tuturan:

Dita : “Wow, keren kak.” Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh kakak kepada adiknya pada saat makan bersama, sembari ia menunjukkan novel tersebut kepada adiknya.

p. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif Anjuran

Secara struktural, imperatif yang mengandung makna anjuran, biasanya ditandai dengan penggunaan kata hendaknya dan sebaiknya. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif anjuran dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

Reni kepada Dinda : “Sebaiknya kamu pulang sekarang saja sebelum hujan turun!”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh seseorang kepada temannya pada saat bermain di taman dan keadaan awan sudah mulai mendung.

Nonimperatif Tuturan:

Suharjo kepada Ratni : “Apakah seluruh siswa disini sudah mendapatkan dana BOS?”

Konteks:

Tuturan ini disampaikan oleh kepala dinas pendidikan kepada kepala sekolah pada saat memantau

perkembangan sekolah didaerah pedesaan.

q. Tuturan yang Mengandung Makna Imperatif “Ngelulu”

Di dalam bahasa Indonesia terdapat tuturan yang memiliki makna pragmatik “ngelulu”. Kata “ngelulu” berasal dari bahasa Jawa, yang bermakna seperti

menyuruh mitra tutur melakukan sesuatu namun sebenarnya yang dimaksud adalah melarang melakukan sesuatu. Sedangkan ciri penanda dari tuturan nonimperatif yang mengandung makna pragmatik imperatif ngelulu dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya (Rahardi, 2005). Berikut ini contoh untuk memperjelas hal tersebut.

Tuturan Tuturan dan Konteks Imperatif Tuturan:

Ibu : “Main PES saja terus Dik, tidak penting juga kan belajar!”

Anak : “Iya, iya Bu. Sebentar lagi selesai mainnya”. Konteks:

Tuturan antara ibu dan anaknya yang banyak menghabiskan waktu untuk bermain PES dan tidak pernah belajar.

Berdasarkan penjabaran mengenai wujud tuturan imperatif di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa wujud tuturan imperatif dalam kajian pragmatik terdiri dari tuturan imperatif dalam konstruksi imperatif dan nonimperatif. Tuturan imperatif dalam konstruksi imperatif dapat diketahui makna dari setiap tuturan melalui ciri penanda dan konteks yang terdapat dalam tuturan imperatif. Sedangkan tuturan imperatif dalam konstruksi nonimperatif, dapat diketahui makna imperatifnya melalui konteks.

Dokumen terkait