BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data
4.2.1 Maksud Tuturan Imperatif yang Disampaikan oleh Guru kepada
Ranah penelitian ini mengenai maksud tuturan imperatif dalam kajian pragmatik. Dalam analisis data, peneliti menggunakan teori dari Rahardi yang menyebutkan maksud tuturan imperatif dalam kajian pragmatik dengan istilah wujud pragmatik imperatif. Menurut Rahardi (2005: 93), wujud pragmatik adalah realisasi maksud imperatif dalam bahasa Indonesia apabila dikaitkan dengan konteks situasi tutur yang melatarbelakanginya. Maksud imperatif dalam bahasa Indonesia tidak selalu dalam konstruksi imperatif, tetapi dapat pula dalam konstruksi nonimperatif. Maksud tuturan imperatif dalam penelitian ini ditemukan baik dalam konstruksi imperatif, deklaratif, dan interogatif. Hasil analisis data disampaikan di bawah ini.
4.2.1.1 Tuturan Imperatif dalam Konstruksi Imperatif
Tuturan imperatif dalam konstruksi imperatif mengandung arti tuturan yang mengandung makna dan maksud imperatif, serta disampaikan oleh penutur menggunakan tuturan berkonstruksi imperatif. Di bawah ini diberikan masing-masing maksud tuturan imperatif dalam konstruksi imperatif.
a. Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Perintah
Perintah memiliki arti perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu; suruhan; aba-aba; komando; aturan dari pihak atas yang harus dilakukan (KBBI, 2008: 1057). Dari pengetian tersebut, dapat dikatakan bahwa perintah merupakan suatu perkataan baik berupa aba-aba atau komando yang bermaksud menyuruh untuk melakukan sesuatu dan harus dilakukan. Berikut beberapa tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah yang ditemukan dalam penelitian ini.
(1) Berdiri! (TIKI/TMMPIP/D1)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada salah satu siswa saat guru mengoreksi tugas membuat puisi yang telah diberikan guru pada pertemuan sebelumnya dengan berkeliling ke meja para siswa. Siswa tersebut ternyata tidak membuat puisi, sehingga dihukum dengan berdiri sambil membuat puisi. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi serta mata melotot.
(2) Lima belas menit untuk membuat puisi, untuk tiga anak ini! (TIKI/TMMPIP/D1)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada beberapa siswa saat guru mengoreksi puisi yang telah dibuat oleh para siswa. Beberapa siswa tersebut kedapatan tidak membuat puisi, sehingga dihukum untuk membuat puisi dengan durasi waktu selama lima belas menit dan dengan cara berdiri. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi dan mata menatap pada tiga siswa yang tidak membuat puisi.
(3) Menulisnya agak cepat ya! (TIKI/TMMPIP/D1)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada salah satu siswa yang maju untuk menuliskan puisi hasil karyanya di papan tulis. Setelah siswa selesai menuliskan puisinya di papan tulis, guru dan beserta siswa lain akan menyunting puisi tersebut, yang merupakan kompetensi dasar dari pelajaran. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi dan mata menatap murid yang menuliskan puisi.
(4) Yosua Gilbert! (TIKI/TMMPIP/D3)
Konteks: Tuturan dituturkan guru pada salah satu siswa saat membagikan kertas ulangan siswa yang telah dinilai. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi sambil menggerakkan tangan yang berisi kertas ulangan kepada siswa yang dipanggil.
(5) Heh, yang keras! Biasanya kamu suaranya sampai ruang guru, Mbak. (TIKI/TMMPIP/D8)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada salah satu siswa saat siswa menjawab pertanyaan guru dengan volume suara yang kecil dan cepat. Volume suara siswi tersebut berbeda ketika berada di luar kelas untuk istirahat dan di dalam ruang kelas saat kegiatan belajar mengajar. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi dan ekspresi wajah marah.
Tuturan (1), (2), (3) (4), dan (5) mengandung makna perintah, yaitu yang mengharuskan mitra tutur untuk melakukan hal yang disampaikan oleh penutur. Sebagai salah satu bukti bahwa data di atas merupakan tuturan yang mengandung makna perintah, tuturan tersebut dapat diparafrasa menjadi kalimat deklaratif, yang merupakan ciri dari tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah dalam konstruksi imperatif.
Bentuk parafrasa tuturan data di atas, yaitu (1) Guru memerintahkan siswa supaya berdiri, (2) Guru memerintahkan tiga siswanya agar dapat membuat pusi dalam waktu lima belas menit, (3) Guru memerintahkan siswa agar lebih cepat menulisnya di papan tulis, (4) Guru memerintahkan Yosua Gilbert untuk mengambil kertas ulangan miliknya yang dibagikan guru, dan (5) Guru memerintahkan siswi supaya suaranya keras.
Kelima tuturan di atas memiliki maksud. Maksud yang terkandung dari setiap tuturan di atas di antaranya sebagai berikut.
Tuturan (1) memiliki maksud untuk memerintahkan salah satu siswa untuk mengerjakan puisi dengan cara berdiri. Guru memerintahkan seperti itu karena siswa tersebut tidak membuat tugas puisi yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya, sebagai bentuk hukumannya, maka guru meminta siswa tersebut untuk membuat puisi dengan cara berdiri. Tuturan (2) mengandung
maksud untuk memerintahkan kepada para siswa yang tidak membuat tugas puisi agar dapat menyelesaikan puisi karya mereka dengan durasi waktu lima belas menit.
Adapun, tuturan (3) memiliki maksud agar siswa yang akan menuliskan puisi dipapan tulis dapat menuliskan puisinya dengan cepat karena puisi tersebut akan disunting secara bersama-sama antara guru dan siswa lain, sehingga tidak menghabiskan jam pelajaran. Tuturan (4) memiliki maksud agar siswa yang bernama Yosua Gilbert untuk mengambil lembar ulangan yang diberikan oleh guru. Hal tersebut terlihat ketika guru memanggil nama siswa tersebut, lalu menggerakkan lembar ulangan yang berada ditangannya. Tuturan (5) memiliki maksud agar siswa menjawab pertanyaan guru dengan volume suara yang keras. Siswa tersebut biasanya berbicara dengan volume suara yang keras ketika di luar jam pelajaran, sehingga guru membandingkan volume suara siswa tersebut ketika menjawab pertanyaan dengan kondisi ketika siswi tersebut berbicara di luar kelas.
b. Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Suruhan
Suruhan berasal dari kata dasar suruh. Suruhan memiliki arti perintah; sesuatu yang disuruhkan; perbuatan (hal dsb) menyuruh; orang yang disuruh (KBBI, 2008: 1362). Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa suruhan merupakan tuturan atau tindakan yang mengandung makna perintah untuk melakukan suatu perbuatan dan memiliki kemungkinan untuk tidak melakukannya. Berikut beberapa tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif suruhan yang ditemukan dalam penelitian ini.
(6) Coba dibuka! Saya ingin melihat, kamu sudah membuat atau belum, kamu sudah mencari atau belum. (TIKI/TMMPIS/D1)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada para siswa saat pelajaran dimulai dan guru ingin melihat puisi yang dibuat oleh para siswa sebagai tugas yang diberikan guru pada pertemuan sebelumnya. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil menyenderkan pinggul di meja siswa. (7) Coba kamu lihat posisi saya! Saya berdiri tegak, bandingkan dengan begini! (TIKI/TMMPIS/D3)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada para siswa saat menyunting puisi salah satu siswa yang dituliskan di papan tulis. Guru merealisasi apa yang terdapat di dalam puisi ke dalam kenyataan. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil menunjuk posisi tubuh guru.
(8) Coba peragakan yang kamu lakukan tadi! (TIKI/TMMPIS/D5)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada salah satu siswa saat diketahui saling ejek menggunakan suara hewan dan memperagakan perilaku hewan tersebut. Kegiatan saling ejek tersebut dilakukan oleh siswa saat guru sedang menjelaskan materi pelajaran. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi dan ekspresi wajah marah.
(9) Nak, coba silahkan duduk! Tidak usah dicari siapa yang mengoreksi punyamu, nantikan kalau selesai, saya bagi. (TIKI/TMMPIS/D7)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada para siswa saat selesai mengoreksi hasil ulangan. Para siswa bertanya-tanya pada rekannya mengenai ulangan yang dikoreksi dan menyebabakan kegaduhan. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil menunjuk para siswa.
(10) Coba diulangi dan pelan! (TIKI/TMMPIS/D8)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada salah satu siswa saat siswa menjawab pertanyaan guru dengan volume suara yang kecil dan cepat sehingga suara tersebut tidak dapat tersengar jelas oleh guru. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi dan mata menatap siswa.
Dalam tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif suruhan di atas, ditandai dengan penanda kesantunan coba dan tuturan dapat diparafrasa yang merupakan ciri dari tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif suruhan dalam konstruksi imperatif. Penggunaan penanda kesantunan coba ditunjukkan dalam tuturan (6) “Coba dibuka! Saya ingin melihat, kamu sudah membuat atau belum, kamu sudah mencari atau belum”, (7) “Coba kamu lihat
posisi saya! Saya berdiri tegak, bandingkan dengan begini!”, (8) “Coba peragakan yang kamu lakukan tadi!”, (9) ”Nak, coba silahkan duduk! Tidak usah dicari siapa yang mengoreksi punyamu, nantikan kalau selesai, saya bagi”, dan (10) “Coba diulangi dan pelan!”.
Bentuk parafrasa dalam setiap tuturan data di atas, yaitu tuturan (6) Guru menyuruh siswa supaya membuka buku dan catatan mereka, tuturan (7) Guru menyuruh para siswa supaya melihat posisi berdirinya, tuturan (8) Guru menyuruh siswa supaya memperagakan gerakan yang mereka lakukan sebelumnya, tuturan (9) Guru menyuruh siswa supaya duduk, dan tuturan (10) Guru menyuruh siswa supaya mengulangi menjawab pertanyaan dan dengan kecepatan yang pelan.
Kelima tuturan di atas memiliki maksud. Maksud yang terkandung dari setiap tuturan di atas diantaranya sebagai berikut.
Tuturan (6) mengandung maksud agar para siswa membuka buku pelajaran mereka, yang berisi tugas membuat puisi, yang diberikan oleh guru pada pertemuan sebelumnya. Guru ingin mengetahui apakah para siswa sudah membuat dan mencari puisi yang ditugaskan. Tuturan (7) mengandung maksud untuk menyuruh para siswa melihat guru, terlebih pada posisi berdiri guru. Guru meminta siswa untuk membandingkan dua posisi yang berbeda dari posisi tubuh yang ia peragakan. Hal itu dilakukan guru untuk memberikan pandagan mengenai perbedaan dua hal yang terdapat dalam larik puisi yang sedang disunting.
Selanjutnya, tuturan (8) mengandung maksud agar dua orang siswa yang ditunjuk oleh guru untuk melakukan hal yang baru saja dilakukan oleh mereka,
yaitu mengikuti suara hewan untuk saling ejek. Kegiatan yang dilakukan mereka menyebabkan siswa lain menjadi menonton kegiatan saling ejek tersebut dan tertawa sehingga tugas yang diberikan oleh guru tidak diindahkan. Tuturan (9) mengandung maksud agar para siswa duduk. Karena pada saat itu, para siswa berdiri dan sibuk mencari korektor dari ulangan miliknya untuk mengetahui nilai yang diperoleh dari ulangan yang telah dikerjakan. Tuturan (10) mengandung maksud agar siswa mengulangi menjawab pertanyaan dari guru dengan kecepatan suara yang lambat. Guru menyuruh siswa melakukan hal itu karena saat menjawab pertanyaan sebelumnya, suara siswa tersebut cenderung kecil dan cepat dalam membaca sehingga menyebabkan suara murid terdengar tidak jelas di telinga guru.
c. Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Permintaan
Permintaan berasal dari kata dasar minta. Permintaan memiliki arti perbuatan (hal dsb) meminta; apa yang diminta (KBBI, 2008: 917). Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan permintaan merupakan tuturan atau tindakan yang mengandung makna untuk meminta. Berikut beberapa tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permintaan yang ditemukan dalam penelitian ini.
(11) Papan tulis dibagi dua dan tolong tulisannya jangan terlalu melebar kekanan ya! (TIKI/TMMPIPmin/D3)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada salah satu siswa saat menuliskan puisi di papan tulis. Papan tulis dibagi dua agar dua puisi dapat dituliskan dalam satu papan tulis dan mudah disunting guru. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil menunjuk papan tulis.
(12) Nak, saya minta tolong anak putri saja yang mengumpulkan! (TIKI/TMMPIPmin/D3)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada para siswa dimaksudkan agar beberapa siswi yang mengambil tugas siswa lain dari meja ke meja dan mengumpulkannya di meja guru. Guru memilih siswi yang mengumpulkan buku tugas karena mereka tidak membuat kegaduhan saat proses pengumpulan berlangsung, seperti siswa. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil menatap para siswa.
(13) Lalu minta tolong, apa namanya, pintunya, eh kok pintunya, buku paketnya diambil di 8B! (TIKI/TMMPIPmin/D5)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada para siswa saat pelajaran akan dimulai. Guru meminta salah satu siswa mengambilkan buku paket yang akan digunakan sebagai pemandu belajar di kelas 8B. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil menunjuk keluar kelas.
(14) Ya sudah, tolong saya ambilkan apa namanya, soal ulangan tempat Bu Yayuk! (TIKI/TMMPIPmin/D5)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada salah satu siswa dimaksudkan untuk mengambilkan soal ulangan pada salah satu guru yang berada di ruang kantor guru. Soal ulangan tersebut akan digunakan oleh guru untuk panduan dalam mengoreksi jawaban dari ulangan para siswa karena guru yang bersangkutan tidak memiliki file dari ulangan tersebut. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil menunjuk keluar kelas.
Dalam tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permintaan, ditandai dengan penanda kesantunan tolong dan tuturan dapat diparafrasa yang merupakan ciri dari tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permintaan dalam konstruksi imperatif. Penggunaan penanda kesantunan tolong ditunjukkan dalam tuturan (11) “Papan tulis dibagi dua dan tolong tulisannya jangan terlalu melebar kekanan ya!”, (12) “Nak, saya minta tolong anak putri saja yang mengumpulkan!”, (13) “Lalu minta tolong, apa namanya, pintunya, eh kok pintunya, buku paketnya diambil di 8B!”, dan (14) “Ya sudah, tolong saya ambilkan apa namanya, soal ulangan tempat Bu Yayuk!”.
Bentuk parafrasa dalam tuturan diatas, antara lain tuturan (11) Guru meminta siswa supaya membagi papan tulis menjadi dua dan tulisannya jangan terlalu melebar ke kanan, tuturan ( 12) Guru meminta supaya para siswi saja yang
mengumpulkan buku, tuturan (13) Guru meminta siswa supaya mengambilkan buku paket di kelas 8B, dan tuturan (14) Guru meminta siswa supaya mengambilkan soal ulangan di tempat Bu Yayuk.
Keempat tuturan di atas memiliki maksud. Maksud yang terkandung dari setiap tuturan di atas diantaranya sebagai berikut.
Tuturan (11) mengandung maksud agar para siswa membagi papan tulis menjadi dua bagian agar dapat digunakan oleh dua orang murid untuk menuliskan puisi karya mereka. Kemudian, guru juga meminta agar tulisan siswa yang menuliskan puisinya di papan tulis untuk tidak melebar kekanan karena guru akan menggunakan ruang yang kosong disebelah kanan puisi siswa untuk menyunting puisi yang dituliskan oleh siswa. Tuturan (12) mengandung maksud agar para siswi yang mengumpulkan tugas para siswa di kelas tersebut ke meja guru. Pada tuturan tersebut, guru lebih memilih para siswi yang mengumpulkan tugas para siswa ke meja guru ditandai dengan adanya adverbia “saja” dalam tuturan yang makna arti anjuran. Guru menuturkan hal tersebut dengan alasan karena siswi cenderung lebih bisa menjaga sikap saat mengumpulkan tugas sehingga tidak menimbulkan kegaduhan.
Adapun, tuturan (13) mengandung maksud agar salah satu siswa di kelas tersebut (8A) untuk mengambil buku paket bahasa Indonesia di kelas 8B karena buku paket tersebut akan digunakan guru dan siswa kelas 8A sebagai bahan pembelajaran pada pertemuan hari ini. Tuturan (14) mengandung maksud agar salah satu siswa untuk mengambilkan soal ulangan yang akan digunakan untuk panduan mengoreksi ulangan pada salah satu guru bahasa Indonesia juga di SMP
tersebut, bernama Bu Yayuk. Panduan mengoreksi ulangan tersebut akan digunakan oleh guru pada pertemuan hari itu. Guru meminta siswa untuk mengambilkan soal ulangan pada guru yang bernama Bu Yayuk karena guru tidak memiliki file mengenai soal ulangan yang dimaksudkan, sehingga meminta siswa untuk mengambil sekaligus meminjam soal ulangan milik Bu Yayuk.
d. Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Desakan
Desakan berasal dari kata dasar desak. Desakan memiliki arti dorongan (tolakan) yang keras; tekanan yang keras; permintaan (anjuran dan sebagainya) yang menekan keras (KBBI, 2008: 319). Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa desakan merupakan tuturan yang mengandung makna permintaan, baik berupa anjuran dengan menggunakan tekanan yang keras. Berikut beberapa tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif desakan yang ditemukan dalam penelitian ini.
(15) Ayo Nak, silahkan duduk Nova! (TIKI/TMMPID/D3)
Konteks: Tuturan dituturkan guru pada salah satu siswa yang masih berdiri saat guru telah masuk di dalam kelas dan ingin memulai pelajaran. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil menatap tajam Nova.
(16) Ayo, buat kalimat langsung ini menjadi kalimat tidak langsung! (TIKI/TMMPID/D6)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada para siswa saat tanya jawab mengenai materi pelajaran kalimat langsung dan tidak langsung yang mendorong para siswa untuk membuat contoh kalimat. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi dan ekspresi wajah marah.
(17) Ayo, cepet! (TIKI/TMMPID/D5)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada dua orang siswa yang saling ejek saat guru meminta para siswa mengerjakan latihan soal. Guru meminta siswa tersebut untuk duduk di depan kelas. Dimaksudkan sebagai hukuman bagi mereka karena tidak mengindahkan tugas. Guru menuturkan dengan intonasi keras dan ekspresi wajah marah.
(18) Dalam membuat puisi, kita harus membuat orang berimajiinasi! (TIKI/TMMPID/D3)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada para siswa saat menerangkan materi pelajaran mengenai puisi. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil menatap para siswa.
(19) Nah, milikmu ini boleh digunakan, tapi harus ditambahi! Jika tidak ditambahi, maka tidak saya nilai karena ini tadi Bu Domas yang
mengerjakan. (TIKI/TMMPID/D4)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada salah satu siswa saat menjelaskan mengenai tugas yang harus dikumpulkan siswa pada pertemuan selanjutnya. Guru menuturkan tuturan itu pada salah satu siswa yang puisi hasil karyanya telah di sunting bersama-sama antara guru dan para siswa di kelas saat pembelajaran. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil berjalan menuju keluar kelas.
Dalam tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif desakan, ditandai dengan penggunaan penanda kesantunan ayo dan harus, serta tuturan dapat diparafrasa yang merupakan ciri dari tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif desakan. Penggunaan penanda kesantunan ayo, ditunjukkan pada tuturan (15) “Ayo Nak, silahkan duduk Nova!”, (16) “Ayo, buat kalimat langsung ini menjadi kalimat tidak langsung!”, (17) “Ayo, cepet!”. Sedangkan penanda kesantunan harus, ditunjukkan pada tuturan data (18) “Dalam membuat puisi, kita harus membuat orang berimajiinasi!” dan (19) “Nah, milikmu ini boleh digunakan, tapi harus ditambahi! Jika tidak ditambahi, maka tidak saya nilai karena ini tadi Bu Domas yang mengerjakan”.
Bentuk parafrasa dalam tuturan diatas, antara lain tuturan (15) Guru mendesak siswa bernama Nova supaya duduk, tuturan (16) Guru mendesak siswa supaya membuat kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, tuturan (17) Guru mendesak siswa supaya cepat, tuturan (18) Guru mendesak siswa supaya dalam membuat puisi dapat membuat orang lain berimajinasi, dan tuturan (19)
Guru mendesak siswa agar menambahi. Jika tidak ditambahi, tidak akan beliau nilai karena puisi tadi beliau yang mengerjakan.
Kelima tuturan di atas memiliki maksud. Maksud yang terkandung dari setiap tuturan di atas diantaranya sebagai berikut.
Tuturan (15) mengandung maksud agar siswa yang bernama Nova untuk duduk karena guru akan memulai kegiatan belajar mengajar. Siswa tersebut berdiri terus dari awal guru masuk kelas, seolah-olah tidak mengetahui keberadaan guru di kelas dan pada waktu itu, guru sudah saatnya memulai kegiatan belajar mengajar. Tuturan (16) mengandung maksud agar para siswa dapat mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, yang merupakan materi dalam kegiatan belajar mengajar pada pertemuan itu. Tuturan (17) agar siswa segera duduk didepan kelas sebagai bentuk hukuman dari guru karena siswa tersebut tidak mengindahkan tugas yang diberikan, yaitu tidak mengerjakan soal dalam latihan soal yang terdapat di BPM. Siswa tersebut menggunakan waktu yang diberikan oleh guru untuk mengerjakan latihan soal, hanya untuk bercanda dengan saling ejek sehingga menyebabkan kegaduhan dan guru marah.
Selanjutnya, tuturan (18) mengandung maksud agar para siswa mampu membuat pembaca ataupun pendengar berimajinasi terhadap puisi yang dibuat oleh penyair. Yang dimaksud penyair dalam tuturan guru disini adalah siswa sendiri. Tuturan (19) mengandung maksud agar salah satu siswa yang dimaksudkan oleh guru dapat menambah larik dalam puisi yang telah dibuatnya karena dalam puisi siswa tersebut, sebelumnya telah disunting oleh guru dengan
menambahkan beberapa larik puisi agar puisi tersebut terlihat lebih indah. Guru mengancam jika siswa tersebut tidak memberikan tambahan larik dalam puisinya saat mengumpulkan tugas, guru tidak akan memberikan nilai.
e. Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Bujukan
Bujukan berasal dari kata dasar bujuk. Bujukan memiliki arti rayuan (KBBI, 2008: 216). Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa bujukan merupakan tuturan yang mengandung makna untuk merayu atau membujuk orang dengan kata-kata manis. Berikut beberapa tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif bujukan yang ditemukan dalam penelitian ini.
(20) Mohon maaf, tolong ditulis lagi ya, Nak, Galih, kamu tulis lagi puisinya! (TIKI/TMMPIB/D4)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada salah satu siswa yang telah menuliskan puisi pada pertemuan sebelumnya dan puisi tersebut belum disunting. Sehingga siswa diminta untuk menuliskan puisinya kembali agar dapat disunting. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil menatap wajah Galih.
(21) Ayo Yuda, tidak apa-apa! (TIKI/TMMPIB/D8)
Konteks: Tuturan dituturkan guru kepada salah satu siswa yang malu-malu untuk menuliskan puisinya di papan tulis. Guru menuturkan dengan intonasi tinggi, sambil mengayunkan tangan pada Yuda.
Dalam tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif bujukan, ditandai dengan penggunaan penanda kesantunan tolong dan ayo yang merupakan ciri dari tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif bujukan dalam konstruksi imperatif. Penggunaan penanda kesantunan tolong, ditunjukkan dalam tuturan (20) “Mohon maaf, tolong ditulis lagi ya, Nak, Galih, kamu tulis lagi puisinya!”. Sedangkan penggunaan penanda kesantunan ayo, ditunjukkan dalam tuturan (21) “Ayo Yuda, tidak apa-apa!”.
Kedua tuturan di atas memiliki maksud. Maksud yang terkandung dari setiap tuturan di atas diantaranya sebagai berikut.
Tuturan (20) mengandung maksud agar siswa yang bernama Galih menuliskan lagi larik puisi miliknya di papan tulis karena akan disunting secara bersama-sama antara guru dan para siswa lain. Guru memintanya untuk