• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1.Pemasaran 1.Pemasaran

5. Citra Merek ( Brand Image ) a.Pengertian Citra a.Pengertian Citra

Citra adalah persepsi masyarakat terhadap perusahaan atau produk

dari perusahaan itu sendiri. Citra berkaitan erat dengan persepsi, sikap

atau pendirian, dan opini perorangan dalam kelompok publik. Menurut

Kotler dan Keller (2007:388) citra adalah masyarakat yang mempersepsi

(memikirkan) perusahaan atau produknya.

Menurut Kotler (2002:338), citra yang efektif melakukan tiga hal.

Pertama, memantapkan karakter produk dalam dan proposisi nilai. Kedua,

menyampaikan karakter itu dengan cara yang khas. Ketiga, memberikan

kekuatan emosional yang lebih dari sekadar citra mental. Supaya bisa

berfungsi citra itu harus disampaikan melalui setiap sarana komunikasi

Citra dibangun agar menjadi positif di mata publik, baik publik

yang telah menggunakan produk tersebut maupun publik yang dijadikan

potential customer yang dibidik agar mengkonsumsi produk tersebut.

Membangun citra yang kuat membutuhkan kreativitas, kerja keras,

dan citra tidak bias dibangun melalui satu media saja. Citra harus

dibangun melalui seluruh media secara berkelanjutan dan

berkesinambungan, seperti halnya penggunaan media yang dapat

memperkuat karakter produk yang disampaikan dengan lambang, media

cetak dan audio visual, suasana dan acara.

Citra yang kuat memiliki satu atau lebih lambang yang dikenal

perusahaan atau juga dapat disebut dengan logo dan merek. Logo dan

merek perusahaan harus dirancang agar memudahkan publik untuk

mengenalinya. Perusahaan harus dapat memilih suatu objek yang mudah

diingat oleh konsumen sehingga menjadi trademark dari perusahaan.

b. Pengertian Merek

Merek merupakan hal yang sangat penting, baik bagi produsen

maupun konsumen. Dari sisi produsen, merek dapat dipromosikan. Merek

dapat dengan mudah diketahui ketika ditempatkan atau diperlihatkan pada

suatu display atau pada tempat-tempat umum. Dari sisi konsumen, merek

mempermudah dalam melakukan pembelian. Bila tidak ada merek,

memberikan keyakinan serta jaminan bagi konsumen bahwa mereka akan

mendapatkan kualitas yang baik serta jaminan terhadap hal-hal yang tidak

diinginkan saat membeli sebuah produk.

Menurut UU Merek No. 15 Tahun 2001 pasal 1 ayat 1, merek

adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka,

susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki

daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau

jasa (Fandy Tjiptono, 2005:2).

Menurut American Marketing Association definisi merek yaitu

nama, istilah, tanda, simbol,atau rancangan, atau kombinasi dari

semuanya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa

penjual atau kelompok penjual dan untuk mendiferensiasikannya dari

barang atau jasa pesaing (Kotler & Keller, 2007:332). Sedangkan menurut

Kotler dan Armstrong (2005:301) merek adalah “a name, term, sign, symbol, or design, or a combination of these, that identifes the maker or

seller of a product or services”.

Kotler dan Keller (2009:258) mendefinisikan merek sebagai nama,

istilah, tanda, lambang, atau kombinasi yang dimaksudkan untuk

mengidentifikasikan barang atau jasa dari salah satu penjual atau

kelompok penjual dan mendiferensiasikan mereknya dari para pesaing.

Dari beberapa definisi merek tersebut, dapat disimpulkan bahwa

diproduksi adalah untuk mengidentifikasikan produk atau jasa yang

dihasilkan oleh perusahaan pesaing dan memudahkan konsumen

konsumen untuk mencarinya di pasar.

c. Pengertian Citra Merek

Setelah kita mengetahui pengertian citra dan merek dari beberapa

pendapat ahli, maka selanjutnya kita akan memehami pengertian dari citra

merek dari beberapa ahli, menurut Kotler dan Keller (2007:346) citra

merek yaitu “perceptions and beliefs held by consumers. As reflected in

the association held in consumer memory”.

Dalam buku Fandy Tjiptono (2005:49), citra merek yaitu deskripsi

tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu. Citra

merek umumnya mendefinisikan segala hal yang terkait dengan merek

yang ada di ingatan konsumen. Citra merek mempresentasikan

keseluruhan persepsi konsumen terhadap merek yang terbentuk karena

informasi dan pengalaman konsumen terhadap suatu merek. Citra terhadap

merek mempunyai peran penting dalam mempengaruhi niat konsumen

untuk melakukan pembelian.konsumen yang mempunyai citra positif

terhadap suatu merek cenderung akan memilih merek tersebut untuk

dipilihnya.

Citra merek sebagai “a set of associations, usually organized in

tersebut akan menghasilkan citra merek yang dapat mencerminkan

identitas merek yang jelas (Aaker dalam Chandra (2009:15)).

Menurut Tjiptono (2004:99), secara garis besar terdapat tiga tipe

utama merek yang masing-masing memiliki citra merek yang berbeda.

Ketiga tipe itu meliputi:

1. Attribute brands, yaitu merek-merek yang memiliki citra yang mampu

mengkomunikasikan keyakinan atau kepercayaan terhadap atribut

fungsional produk.

2. Aspirational brands, yaitu merek-merek yang menyampaikan citra

tentang tipe orang yang membeli merek bersangkutan.

3. Experience brands, yaitu merek-merek yang menyampaikan citra

asosiasi dan emosional secara bersama (shared association and

emotions).

Menurut Keller (2008:56) citra merek merupakan cara masyarakat

mempersepsi (memikirkan) perusahaan atau produknya. Dengan

demikian, citra merek merupakan persepsi dan keyakinan konsumen,

seperti tercermin dalam asosiasi yang terjadi dalam ingatan konsumen

mengenai merek dari suatu produk yang dilihat, dipikirkan, dan

dibayangkanya. Dengan menciptakan citra merek yang tepat untuk suatu

produk, tentunya akan sangat berguna bagi pemasar, karena citra merek

diharapkan. Yang bukan hanya dapat memenuhi kebutuhan konsumen,

tetapi dapat memberikan kepuasan yang lebih baik dan lebih terjamin.

Saat ini merek bukan hanya sekedar nama, istilah, tanda, atau

simbol dari perusahaan saja, tetapi merupakan sebuah janji perusahaan

untuk secara konsisten memberikan gambaran, semangat, dan pelayanan

kepada konsumen. Saat ini pemberian merek tlah menjadi masalah yang

penting dalam startegi produk. Para pemasar menyadari bahwa pemberian

merek adalah seni dan bagian yang paling penting dalam pemasaran.

Nama merek yang kuat akan memiliki kesetiaan konsumen yang kuat

pula, merek-merek terbaik dapat memberikan jaminan kualitas bagi para

konsumennya.

Keberadaan citra merek tidak dapat dipungkiri lagi telah menjadi

sangat penting bagi perusahaan. Citra merek yang baik dari suatu produk

akan mendorong para calon pembeli untuk membeli produk tersebut dari

pada membeli produk yang sama dengan merek lain dan perusahaan harus

mengusahakan cara-cara tertentu agar dapat mempengaruhi citra merek

tersebut agar menjadi positif dimata konsumen, baik dalam rangka

meningkatkan maupun mempertahankannya (Pahlawan, 2012:16).

Dari beberapa pendapat para ahli yang telah dijelaskan, citra merek

sangat berkaitan erat dengan kesan yang ditimbulkan. Kesan-kesan positif

pelanggan terhadap suatu merek tergantung pada kemampuan pelanggan

dalam mengidentifikasi bermacam informasi mengenai merek tersebut,

serta kemampuan pelanggan untuk menyimpan informasi dari merek

tersebut dalam ingatannya. Pemahaman pelanggan terhadap suatu merek

merupakan cerminan dari penilaian pelanggan atas merek produk-produk

yang ditawarkan.

d. Pengukuran citra merek

Menurut pendapat Keller (2008:56) pengukuran citra merek adalah

subjektif, yang artinya tidak ada ketentuan baku untuk pengukuran citra

merek. Pengukuran citra merek dapat dilakukan berdasarkan pada aspek

sebuah merek, yaitu strengthness, uniqueness, dan favorable.

a. Strengthness

Strengthness (kekuatan) dalam hal ini adalah

keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh sebuah merek yang bersifat fisik dan

tidak ditemukan pada merek pesaing lainnya. Keunggulan merek ini

mengacu pada atribut-atribut fisik atas merek tersebut sehingga biasa

dianggap sebagai sebuah kelebihan dibandingan dengan merek pesaing

lainnya. Yang termasuk dalam kelompok strengthness ini antara lain,

penampilan fisik produk, kualitas yang dimiliki semua fasilitas

produk, harga produk dibandingkan dengan produk lainnya, maupun

b. Uniqueness

Keunikan adalah kemampuan untuk membedakan sebuah merek

diantara merek lainnya. Keunikan ini muncul dari atribut produk yang

menjadi kesan unik atau diferensiasi antara produk satu dengan produk

lainnya yang memberikan alasan bagi konsumen bahwa mereka harus

membeli produk tersebut. Perusahaan harus bisa membuat produk

mereka unik dan beda dengan produk pesaing. Contohnya, dengan cara

yang sama konsumen akan mengekspektasikan bahwa sebuah

pedagang online akan melayani mereka dengan segala kemudahan,

variasi layanan, cara pilihan pengiriman, prosedur pembelian yang

aman, pelayanan konsumen yang bertanggung jawab, pedoman privasi

yang ketat, dan berbagai hal lainnya yang diharapkan konsumen adalah

yang paling baik dan berbeda dibandingkan dengan pedagang online

lainnya.

Singkatnya, untuk membuat produk berbeda dari yang lain,

pemasar harus membuat dan memastikan hal-hal dalam produk yang

kuat (strength) dalam merek agar merek tidak hanya disukai

(favorable) tapi juga memiliki keunikan dan berbeda dengan merek

pesaingnya.

Yang termasuk dalam kategori unik ini adalah hal berbeda yang

produk dan variasi produk yang tersedia, penampilan atau nama yang

unik dari sebuah merek yang memberikan kesan positif, cara

penyampaian informasi kepada konsumen, pedoman privasi yang ketat

dari perusahaan, serta prosedur pembelian yang terjamin.

c. Favorable

Untuk memilih mana yang disukai dan unik yang berhubungan

dengan merek, pemasar harus menganalisis dengan teliti mengenai

konsumen dan kompetisi untuk memutuskan posisi terbaik bagi merek

tersebut.

Kesukaan (favorable) mengarah pada kemampuan merek

tersebut agar mudah diingat oleh konsumen. Yang termasuk dalam

kategori favorable ini antara lain kemudahan merek produk untuk

diucapkan, kemudahan merek produk untuk dapat dikenal,

kemampuan merek untuk tetap diingat oleh konsumen, kemudahan

penggunaan produk, kecocokan konsumen dengan produk, serta

kesesuaian antara kesan merek di benak pelanggan dengan citra yang

diinginkan perusahaan atas merek bersangkutan.

Dokumen terkait