• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

4.1 Citra Diri Perempuan

Dalam pendekatan sastra feminis terdapat teori citra perempuan. Citra perempuan merupakan wujud gambaran mental spiritual dan tingkah laku keseharian yang terekspresi oleh perempuan dalam berbagai aspeknya yaitu aspek fisik dan psikis sebagai citra diri perempuan serta aspek keluarga dan masyarakat sebagai citra sosial (Sugihastuti, 2019: 105).

Dalam pembahasan ini akan diuraikan citra perempuan, yang terekpresi oleh tokoh bernama Hanum. Citra diri perempuan terbagi menjadi dua kategori, yaitu citra Hanum dalam aspek fisik dan dalam aspek psikis. Berikut adalah citra tokoh Hanum yang terdapat pada novel BulanTerbelah di Langit Amerika.

4.1.1 Citra Hanum dalam aspek fisik

Citra fisik tokoh Hanum, akan dibahas dengan menguraikan keadaan fisik Hanum dari jenis kelamin, usia, keadaan tubuh, dan ciri-ciri wajah.

Dari segi fisik Hanum digambarkan sebagai perempuan yang cantik dan memiliki ciri khas, yaitu wajahnya seperti anak-anak, giginya yang putih, dan wajahnya yang sangat terawat. Terdapat pada teks seperti berikut:

26

Kukeluarkan sebuah kartu nama dari saku. Dan sebuah foto dari telepon genggam. Detik itu pula aku mendengar perempuan yang berwajah seperti anak-anak ini menjerit.

Dan sudah kuduga, dia lalu menggebuk-gebuk pundakku.

Kemudian dadaku (Hanum dan Rangga, 2014: 57).

Kini wajahnya tak hanya cerah. Dia memamerkan senyum dengan gigi-gigi putihnya yang selalu menawanku.

Menunggu nama tempat yang harus kami tuju (Hanum dan Rangga, 2014: 73).

Pada kutipan di atas Hanum memiliki wajah yang cantik seperti anak-anak, dia juga memiliki kebiasaan yang unik ketika senang, yaitu menjerit dan menepuk-nepuk atau menggebuk-gebuk pundak suaminya.

Biarpun Hanum memiliki wajah yang seperti anak-anak, Hanum tetaplah seorang perempuan dewasa yang pekerja keras yang kuat, namun terkadang sedikit ceroboh, apapun akan ia lakukan untuk memenuhi pekerjaannya.

Sampai pada suatu hari Hanum nekat berpisah dengan Rangga untuk mencari narasumbernya. Ia terjebak diantara para demonstran, ia terluka cukup parah. Terdapat pada teks seperti berikut:

Aku merasa kakiku terganjal kabel besar yang melintang di jalan. Detik itu aku hanya mengingat lututku terseret aspal saat mencoba menahan beban badanku yang limbung (Hanum dan Rangga, 2014: 105).

Perutku tiba-tiba sakit setengah mati. Aku meringkukkan tubuh untuk menahan perutku yang tiba-tiba melilit. Ini kesakitan yang bertubi. Aku mengelap lututku yang berdarah, jalanan berlubang tadi telah merobek sedikit celana panjangku dan menyayat kulit lututku selebar 2 sentimeter.

Syal yang melingkar di leher kucopot cepat dan kujadikan penahan darah yang mengalir (Hanum dan Rangga, 2014:

108).

Aku berjalan sedikit terpincang menahan beban tubuhku.

Perban putih yang sudah diikat di celanaku tiba-tiba

mengendur dan Julia berusaha untuk memperbaikinya. Kami duduk di bangku lagi, Sarah memperhatikan wajahku yang sekumal mantelku, ia kemudian mengeluarkan tisu basah untuk mengelap selapis debu yang bertahan di wajahku (Hanum dan Rangga, 2014: 137-138).

Kutipan di atas adalah citra tokoh Hanum dari aspek fisik diceritakan mampu bertahan dan menahan rasa sakitnya walaupun seorang diri ditengah-tengah kota yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

Apabila dilihat dari tingkat kedewasaan melalui faktor usia, Hanum termasuk dalam kategori perempuan dewasa karena Hanum sudah menikah dan memiliki suami. Status “dewasa” dapat dilihat berdasarkan tingkat kematangan fisik atau apabila pertumbuhan pubertas telah selesai dan apabila organ kelamin anak telah mampu bereproduksi. Secara fisiologis, perempuan dewasa dapat dicirikan oleh tanda-tanda jasmaninya, melalui perubahan-perubahan fisik, seperti tumbuhnya bulu di bagian tertentu, perubahan suara, dan lain sebagainya. Seperti halnya perempuan dewasa pada umumnya, secara fisiologis Hanum juga telah mengalami fase-fase perubahan fisik tersebut. Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa perempuan dewasa merupakan sosok individu, hasil dari pembentukan proses biologis bayi perempuan, yang perjalanan usianya telah mencapai taraf kedewasaan.

Berkaitan dengan aspek fisik, secara umum perempuan mengalami hal-hal khas yang tidak dialami laki-laki, misalnya secara kodrat mengalami haid, dapat hamil, melahirkan, dan menyusui. Faktor-faktor biologis yang

28

secara fisik dimiliki perempuan tersebut tidak dapat diubah, sebab perempuan memang sudah dikodratkan berbeda dengan pria sejak awal terbentuknya kromosom.

4.1.2 Citra Hanum dalam aspek psikis

Citra diri perempuan terbentuk dari aspek fisik dan aspek psikis, oleh karena itu, citra fisik yang terbentuk secara tidak langsung dapat memberikan pengaruh terhadap citra psikisnya, begitupun sebaliknya.

Aspek psikis perempuan dapat tercitrakan dari gambaran pribadi. Gambaran pribadi perempuan dewasa secara karakteristik dan normatif sudah terbentuk dan sifatnya relatif stabil (Kartini, Kartono, 1981:179). Kestabilan tersebut memungkinkan baginya untuk memilih relasi sosial yang sifatnya juga stabil, misalnya perkawinan, pilihan sikap, pilihan pekerjaan, dan sebagainya.

Dalam teks novel Bulan Terbelah di Langit Amerika citra fisik Hanum digambarkan sebagai perempuan yang dewasa dan telah menikah. Sebagai citra perempuan yang telah dewasa, sudah sepantasnya Hanum dapat bertanggungjawab atas dirinya sendiri dalam berpikir, bersikap, bertingkah laku, dan dalam mengambil keputusan. Sebagai seorang istri, Hanum kerap kali merasa cemas jika suaminya pulang terlambat, Hanum tidak bisa lama-lama terpisah dengan suaminya. Terdapat pada teks seperti berikut:

Aku memandang keluar jendela apartemen. Matahari awal musim gugur masih menumpahkan sisa sinarnya, meskipun waktu sudah menunjukkan hampir pukul 21.00. Hingga selarut ini Rangga belum juga pulang dari kampus. Kelumrahan yang terjadi memasuki tahun kedua masa studi S-3-nya di Wina (Hanum dan Rangga, 2014: 20).

Dalam teks novel Bulan Terbelah di Langit Amerika citra psikis tokoh Hanum menunjukan kejiwaan seorang perempuan dewasa, yang telah memahami arti norma-norma susila, norma-norma agama, dan nilai-nilai etis, sehingga ketika ia melanggarnya, pelanggaran tersebut dapat disadarinya. Sebagai gambaran bahwa Hanum perempuan dewasa yang telah mampu menjaga norma susila, terlihat ketika Hanum sedang bekerja menulis profil seseorang yang disuruh oleh atasannya. Di dalam relung hatinya, Hanum merasa bersalah dan kesal. Batinnya bergejolak dan mendatangkan pertanggungjawaban dalam batin Hanum yang harus dipikulnya, yaitu berupa rasa bersalah dan penyesalan. Terdapat pada teks berikut:

Bagaimana tidak? Aku harus menyanjung-nyanjung pria tua tak tahu diri yang hobi gonta-ganti pacar setiap bulan?

Mewawancarainya pada pagi hari dikelilingi para selir imutnya membuatku seolah turun derajat. Jujur, itu dosa terbesarku selama menulis profil orang yang dianggap Getrud meraup kesuksesan besar (Hanum dan Rangga, 2014: 22).

Kutipan di atas menunjukkan walaupun yang dilakukan oleh Hanum terpaksa dan diluar kehendaknya, tetapi hal tersebut menimbulkan rasa sesal dan bersalah baginya. Hanum merasa harus bertanggungjawab atas perbuatan tersebut kepada Tuhan. Rasa tanggungjawab kepada Tuhan untuk memperbaiki kesalahannya menandai ciri psikis Hanum sebagai perempuan dewasa yang telah memahami norma-norma yang harus dijunjungnya. Hal tersebut senada dengan Kartono yang mengungkapkan bahwa dalam aspek psikisnya, kejiwaan wanita dewasa ditandai antara lain oleh sikap pertanggungjawaban penuh terhadap diri sendiri, bertanggung jawab atas

30

nasib sendiri, dan atas pembentukan diri sendiri (Kartini, Kartono, 1981:

175).

Tokoh Hanum dilihat dari aspek psikis yaitu perempuan yang memiliki perasaan yang sensitif untuk merasakan keadaan dalam dirinya dan diluar dirinya ataupun merasakan gejolak dalam hatinya. Hanum selalu merasakan keresahan dan kegelisahan untuk hal-hal tertentu, ia juga membayangkan dirinya berada diposisi orang-orang yang berada di dalam pesawat ketika kejadian dua pesawat yang menabrakkan diri ke WTC pada tahun 2001 silam. Terdapat pada teks seperti berikut:

Aku adalah manusia yang sensitif dengan turbulensi. Pesawat terasa menembus awan hitam yang bergelombang. Sayap pesawat di luar sana memercikan kilatan-kilatan sebagai respons terhadap gesekan antaratom awan. Lampu tanda kenakan sabuk keselamatan menguik-uik. Aku menutup cepat-cepat jendela pesawat. Tiba-tiba paranoidku kambuh begitu saja. Membayangkan pesawat ini adalah Pesawat American Airlines dan United Airlines yang nahas menghantam menara kembar! Apa yang dibayangkan ratusan orang di dalamnya pada akhir ajal mereka? Bagaimana jika aku yang ada di sana?

Ya Tuhan. Ini mengerikan. Aku bisa merasakan telapak tangan dan kakiku berkeringat hebat (Hanum dan Rangga, 2014: 64).

Jones membaca kegelisahan yang menggurat di wajahku.

Jones menoleh ke kerumunan poster-poster itu. Dia juga tak kalah gelisah melihatmya (Hanum dan Rangga, 2014: 97).

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Hanum memang sangat sensitif terhadap apa yang ada di sekitarnya, begitu juga dengan paranoidnya yang tiba-tiba kambuh membuatnya pikirannya semakin kacau. Orang-orang di sekitar Hanum juga sudah hafal dengan gelagatnya ketika sedang merasa gelisah. Hanum bisa menjadi sangat sensitif ketika pekerjaannya belum

rampung, apalagi rencananya tidak berjalan lancar sesuai dengan apa yang telah ia prediksi sebelumnya. Terdapat pada teks seperti berikut:

Aku mendekap Hanum yang mulai berderai air mata karena kekesalan perasaan. Seerat-eratnya. Dirinya pun merasakan kegalauan hati yang tak berjalan keluar. Hingga titik terdalam sanubarinya bisa kurasa bergumam, Mas Rangga, maafkan Hanum (Hanum dan Rangga, 2014: 81).

Selain sensitif, Hanum juga merupakan perempuan yang perasa dan memiliki rasa simpati yang tinggi terhadap orang-orang disekitarnya, bahkan kepada narasumbernya yang baru ia kenal sekali pun.

Aku terenyak. Perasaanku tak terlukiskan bagaimana Sarah menjalani hari-harinya berdekapan dengan kitab suci agama yang berbeda. Aku teringat kata Azima. Dirinya belum bisa blak-blakan kepada ibunya. Termasuk kepada anak semata wayangnya. Tak mungkin membiarkan dirinya buka-bukaan mengajari Sarah tentang Islam di tengah tentangan ibunda tercintanya (Hanum danRangga, 2014: 162).

Aku mengingat sepasang suami-istri berbusana tertutup tadi sore yang jadi bulan-bulanan tiga berandal. Memoriku juga belum hilang menyaksikan sendiri polisi Mohammed yang kena timpuk kayu gara-gara pemabuk yang tak terkendali emosinya. Masih tertantancap dalam ingatan bagaimana para penumpang di metro saling berbisik menggunjingkan pasnagan suami-istri itu di belakang. Aku mencoba merasakan apa yang mereka rasakan di metro tadi. Sungguh, aku justru bersimpati pada mereka akhirnya (Hanum dan Rangga, 2014:

153).

Citra psikis perempuan tidak hanya langsung berkaitan dengan citra fisik, namun juga berkaitan dengan cara berpakaian. Pakaian dapat memberikan kepuasan secara emosional dan dapat mencitrakan kepribadian seseorang. Hal tersebut menggambarkan bahwa pakaian yang

32

dikenakan seseorang dapat memberikan gambaran mengenai konsep diri orang tersebut. Perhatikan kutipan berikut.

“Indonesia itu, negeri yang paling besar umat muslimnya, kan?” tanya perempuan itu sambil memberikan denah kepadaku. Kami mengangguk dan mengatakan kami juga muslim. Perempuan manis itu melirikku. Oh ya, sudah biasa.

Selalu saja orang Barat akan berpikir, seorang muslim? Tapi kenapa aku tidak pakai hijab? Tepatnya, belum pakai hijab.

Aku menunggu saat yang indah ketika menemukan hijab sejatiku. Aku tak ingin berhijab dengan keterpaksaan menemukan kemantapanku. Aku yakin, saat ketika Tuhan menciptakan kemantapan itu untukku pasti tiba (Hanum dan Rangga, 2014: 87)

Tidak dapat disangkal bahwa pakaian yang dikenakan perempuan, seringkali mempunyai efek yang penting terhadap suasana hati dan dapat mempengaruhi psikologis perempuan tersebut.Hal itu berhubungan dengan rasa percaya diri dibangun oleh pikiran positif dan kemudian tercitrakan oleh fisiknya, melalui sikap dan tingkah laku.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa citra diri perempuan terbangun dari aspek fisik dan aspek psikis. Dalam aspek fisik tokoh utama perempuan yang tergambar dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika diceritakan mampu bertahan dan menahan rasa sakitnya walaupun seorang diri ditengah-tengah kota yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Dalam aspek psikis Hanum merupakan perempuan yang mengerti norma-norma dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, Hanum juga merupakan perempuan yang perasa, memiliki rasa simpati yang tinggi, dan bisa sangat sensitif akibat tekanan pekerjaan.

Dokumen terkait