BAB III METODE PENELITIAN
4.2 Citra Sosial Perempuan
Manusia sebagai makhluk sosial, secara naluri manusia tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan orang lain. Pada dasarnya citra sosial perempuan merupakan citra perempuan yang erat hubungannya dengan norma dan sistem nilai yang berlaku dalam satu kelompok masyarakat tempat perempuan tersebut menjadi anggota dan mengadakan hubungan antar manusia. Citra sosial perempuan juga menyangkut masalah pengalaman diri atau pengalaman hidup yang pernah dialami. Pengalaman-pengalaman inilah yang menentukan interkasi sosial perempuan dalam masyarakat. Citra sosial perempuan memberi arti kehidupan baginya dan merupakan realisasi diri dalam masyarakat.
4.2.1 Citra Hanum dalam aspek keluarga
Sebagai perempuan dewasa, salah satu peran yang menonjol adalah perannya dalam keluarga, yaitu menyangkut perannya sebagai istri. Dalam aspek keluarga, perempuan dapat berperan sebagai istri, sebagai ibu, maupun sebagai anggota keluarga, namun masing-masing peran tersebut mendatangkan konsekuensi sikap sosial yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Ketika seorang perempuan menikah, akan terjadi perubahan peran dari masa lajang menuju ke jenjang perkawinan.
Perubahan tersebut secara langsung atau tidak langsung akan membawa tanggungjawab dan kewajiban yang berbeda dengan perempuan yang masih lajang. Perhatikan kutipan berikut.
Malam hari adalah waktu pertemuan yang kami berdua selalu dambakan. Saat keluh kesah satu hari mendapatkan wadah
34
yang sempurna: makan malam. Ya, makan malam menu Indonesia yang ku masak spesial setiap malam untuknya.
Spesial terutama dari ukuran volume, agar cukup dikonsumsi hingga pagi dan siang hari berikutnya. Agar tak melulu memasak tiga kali sehari. Karena kami tahu untuk memasak masakan Indonesia begitu mengonsumsi waktu kami sebagai pekerja (Hanum dan Rangga, 2014: 20).
Dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika citra Hanum dalam keluarga hadir sebagai sosok individu yang harus menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dengan berbagai rutinitas pekerjaan yang digelutinya. Citra Hanum dalam keluarga menggambarkan perempuan yang mandiri tetapi juga terkadang sangat bergantung pada suaminya.
Sabtu pagi, Hanum harus pergi ke kantor pagi-pagi sekali menjumpai atasannya yang bernama Getrud. Karena tidak tega membangunkan suaminya, Hanum meninggalkan pesan untuk Rangga sebagai rasa patuhnya agar tidak disangka pergi tanpa seizin suami. Perhatikan kutipan berikut.
Aku tinggalkan sehelai pesan untuk Rangga yang masih terlelap usai shalat Subuh tadi, bos besar membutuhkanku (Hanum dan Rangga, 2014: 37).
Secarik kertas bertanda tangan Hanum itu kubaca. Dia meminta maaf tak dapat menepati janji yang telah dibuat bersama, melanggar komitmen bernama Saturday Freeday.
Janjinya adalah akan pulang dari kantor sebelum pukul 12.00 dan bertemu di kedai makan pilihanku (Hanum, Rangga, 2014:
53).
Selain patuh, Hanum juga peduli dan sangat menyayangi suaminya.
Hanum selalu memberikan dukungan kepada Rangga untuk menggapai impian suaminya. Walaupun sedang dalam kesulitan untuk mencari
narasumber untuk kepentingan pekerjaannya, Hanum sebisa mungkin mengusahakan agar ia dapat mendampingi suaminya dalam situasi penting.
Tiba-tiba aku teringat suamiku. Pesan teksnya terakhir tadi, dia akan segera menelpon selepas pembukaan konferensi usai.
Aku hanya yakin, tidak akan terjadi apa pun denganku, karena Tuhan masih mengamanahiku dengan sebuah tugas penting.
Tuhan pasti akan mempertemukanku dengan Rangga segera setelah tangga ini berenti. Ya, tugas penting untuk Heute ist Wunderbar (Hanum dan Rangga, 2014: 217).
Hari ini kesempatan terakhir. Sore ini juga, giliran aku harus mendampingi Rangga ke Washington DC. Esok siang ia harus berdiri di hadapan ratusan orang, mempresentasikan jurnalnya.
Jurnal yang sudah ditempuhnya siang dan malam untuk dipamerkan. Menjejakkan jurnalnya di Amerika adalah satu impian besarnya (Hanum dan Rangga, 2014: 83).
Dari kutipan-kutipan di atas citra tokoh Hanum dalam aspek keluarga sangat jelas tergambarkan sebagai perempuan dewasa yang telah menikah dan bertanggungjawab atas keluarganya. Hanum tidak lupa dengan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang istri walaupun ia juga memiliki kesibukan dalam pekerjaannya.
4.2.2 Citra Hanum dalam aspek masyarakat
Di dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, secara naluri manusia tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan orang lain. Dalam aspek masyarakat, citra perempuan adalah makhluk sosial yang erat hubungannya dengan norma dan sistem nilai yang berlaku dalam satu kelompok masyarakat tempat perempuan tersebut menjadi anggota dan mengadakan hubungan antarmanusia. Hubungan dengan manusia lain dapat bersifat khusus maupun umum tergantung kepada bentuk hubungan itu. Hubungan
36
perempuan dalam masyarakat dimulai dari hubungannya dengan orang-seorang, antarorang, sampai ke hubungan dengan masyarakat umum.
Termasuk ke dalam hubungan orang-seorang adalah hubungan perempuan dengan pria dalam masyarakat. (Sugihastuti, 2000: 142). Citra sosial perempuan juga menyangkut masalah pengalaman diri atau pengalaman hidup yang pernah dialami. Pengalaman-pengalaman inilah yang menentukan interaksi sosial perempuan dalam masyarakat.
Hanum mengambil peran dalam lingkungan sosial atau masyarakat yaitu dengan bekerja sebagai seorang jurnalis di kantor surat kabar bernama Heute ist Wunderbar. Hanum adalah karyawan yang cekatan sehingga atasannya selalu memberikan dia tugas, karena atasannya selalu merasa puas dengan apa yang telah dikerjakan oleh Hanum. Perhatikan kutipan berikut.
Getrud Robinson merasa dirinya berutang budi padaku atas keberhasilan besarku mewawancarai Natascha Kampuch. Tak ada satu media pun yang sanggup mewawancarai perempuan muda ini, yang sukses melepaskan diri setelah Sembilan tahun dikurung penculik yang menyekapnya di bungker rumah di Wina (Hanum dan Rangga, 2014: 27).
Itulah bentuk kegigihanku yang kebablasan demi mencuri perhatian bos-bos di media Heute ist Wunderbar. Itulah caraku mencari jalan keluar. Agar Getrud tidak menugasiku meliput berita yang tidak kusukai (Hanum dan Rangga, 2014: 28).
Hanum juga dipandang sebagai sosok perempuan yang baik, ramah.
Dan peduli terhadap orang-orang disekitarnya
Sebagai karyawan, aku mencoba patuh memenuhi permintaannya, walaupun terkadang sering membuat tersedak.
Hatiku sendiri sudah luluh padanya. Sejak dia merasa cocok dengan tulisan-tulisanku tentang profil tokoh, Getrud tak hanya menjadikanku karyawan, tetapi juga sahabatnya (Hanum dan Rangga, 2014: 37).
Kedua, tampaknya aku tahu apa yang sedang dialami ibu Getrud. Ini persis yang dialami Frau Altmann, perempuan berusia 90 tahun yang pernah aku asuh dulu di panti jompo, sebelum aku bekerja di koran ini (Hanum dan Rangga, 2014:
39).
Getrud sangat mempercayai Hanum, bahkan atasannya itu menganggap Hanum sebagai sahabatnya. Selain masalah pekerjaan, Getrud juga menghubungi Hanum untuk memberinya solusi tentang masalah keluarganya, Getrud sangat kebingungan karena ibunya mengatakan bahwa ia butuh keajaiban dalam dirinya. Perhatikan kutipan berikut.
Katakan padanya, setiap hari dia harus tidur lebih awal. Lalu saat sepertiga malam, dia harus bangun. Minta dirinya mencuci muka. Lalu membuka tirai jendela kamarnya dan pandanglah malam yang penuhnbintang dengan sorot bulan.
Tundukkan kepalanya resapi apa kesalahan yang selama ini telah dia lakukan dalam hidupnya, dan katakan ‘Ampunilah aku, Tuhan, atas segala perjalanan hidup yang tak menyusuri perintah-Mu. Masukkan aku dalam surga-Mu jika Engkau mengehendakiku kelak (Hanum dan Rangga, 2014: 41-42).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa citra perempuan dari aspek sosial dilihat dari peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Dalam lingkungan keluarga citra perempuan yang digambarkan adalah perempuan dewasa yang telah menikah yang aktif dalam mengurus pekerjaan rumah tangga ataupun memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Dalam lingkungan masyarakat, Hanum terbukti mampu berbaur dan
38
menyesuaikan diri, ia juga membuat atasannya menganggap dirinya seperti sahabat sendiri.