• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Classroom Management

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Classroom Management

Setiap proses kegiatan belajar mengajar dibutuhkan pengelolaan kelas yang baik agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif serta tujuan pembelajaran dapat dicapai. Dapat dikatakan pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif, karena apabila guru dapat mengkondisikan kelas dengan baik maka proses pembelajaran akan berjalan lancar. Tentunya guru terlebih dulu harus memahami apa yang dimaksud dengan manajemen kelas.

Manajemen kelas berasal dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. manajemen dari kata management yang diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, memiliki arti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan (Mulyadi, 2009: 2).

Menurut Manulang dan Swardi dalam Martinis & Maisah (2009: 34) mengartikan manajemen sebagai seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan dari pada sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

Kelas menurut Hamalik adalah sekelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru. Sementara

Suharsimi menyebutkan bahwa kelas berarti sekelomok siswa dalam waktu yang sama menerima pelejaran dari guru yang sama.

Menurut Mulyadi (2009: 2) manajemen kelas mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut untuk dapat belajar dengan efektif.

Menurut Djamarah & Zaini dalam Swardi (2008: 108) secara sederhana pengelolaan kelas berarti kegiatan pengeturan kelas untuk kepentingan pengajaran. Sedangkan menurut Mulyasa (2007: 91) pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi ganguan dalam pembelajaran (Martinis & Maisah, 2009: 34).

Sebagai pemberian dasar serta penyiapan kondisi bagi terjadinya proses belajar yang efektif, pengelolaan kelas menunjuk kepada pengaturan orang (dalam hal ini terutama peserta didik) maupun pengaturan fasilitas. Fasilitas di sini mencakup pengertian yang luas mulai dari ventilasi, penerangan, tempat duduk, sampai dengan perencanaan progam belajar mengajar yang tepat, termasuk penggunaan perangkat lunak sebagai media pembelajaran.

1. Fungsi Manajemen Kelas

Selain memberi makna penting bagi tercipta dan terpeliharanya kondisi kelas yang optimal, manajemen kelas berfungsi:

a. Memberi dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas, misalnya: membantu pembentukan kelompok, membantu

kerjasama dalam menemukan tujuan-tujuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerjasama dengan kelompok/kelas, membantu prosedur kerja dan mengubah kondisi kelas.

b. Memelihara agar tugas itu dapat berjalan dengan lancar. 2. Tujuan Manajemen Kelas

Sedangkan tujuan manajemen kelas adalah:

a. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas sebagai lingkungan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan mereka semaksimal mungkin.

b. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.

c. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta media pembelajaran yang mendukung dan memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual mereka dalam kelas.

d. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya dan sifat-sifat individunya.

John W. Santrock (2004) dalam Mulyadi (2009: 5) berpendapat manajemen kelas yang efektif bertujuan membantu siswa menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan pembelajaran dan mencegah siswa mengalami problem akademik dan emosional.

3. Beberapa Pendekatan dalam Manajemen Kelas

a. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (Behavior Modivicatian Approach)

Pendekatan manajemen kelas berdasarkan perubahan tingkah laku bertolak dari sudut pandang psikologi behavioral yang mengemukakan asumsi sebagai berikut:

1) Semua tingkah laku yang baik dari yang kurang baik merupakan hasil proses belajar.

2) Dalam proses belajar terdapat proses psikologis yang fundamental berupa penguat positif (positive reinforcement), hukuman (punishment), penghapusan (extinction) dan penguat negatif (negative reinforcement) (Hadari Nawawi, 2002 dalam Mulyadi, 2009: 35).

Dalam hal ini tugas guru adalah menguasai dan menerapkan keempat proses diatas yang terbukti merupakan pengontrol tingkah laku manusia, berikut penjelasannya:

a) Penguat positif (positive reinforcement)/penghargaan Penguat adalah respons rhadap ttingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Pemberian penguat dalam kelas akan mendorong siswa meningkatkan usahanya dalam kegiatan belajar mengajar dan mengembangkan hasil belajar.

Adapun komponen-komponen yang harus dipahami dan haarus dikuasai penggunaannya oleh guru agar dapat memberikan penguat secara bijaksana adalah sebagai berikut:

(1) Penguat verbal, yaitu pemguat berupa kata-kata pujian, pengakuan, dorongan yang dipergunakan untuk menguatkan tingkah laku dan penampilan siswa.

(2) Penguat non verbal, yaitu penguat berupa mimik dan gerakan badan, penguat dengan cara mendekati, penguat dengan bentukan, penguat dengan kegiatan yang menyenangkan dan penguat berupa simbol atau benda.

b) Hukuman

Hukuman digunakan untuk mengurangi atau meniadakan tingkah laku siswa yang menyimpang. Penggunaan hukuman secara bijaksana terhadap hal-hal tertentu secara terbas dapat menimbulkan akibat yang baik secara cepat (segera), tetapi guru harus hati-hati mencatat akibat-akibat sampingan dari hukuman itu.

Dalam menggunakan hukuman sebagai suatu upaya pendidikan guru harus memahami dan mengenali keuntungan dan kerugian penggunaan hukuman. Dalam bimbingan ini Edward Lee Thorndike (dalam Mulyadi,

2004) memberi beberapa saran untuk mengurangi dan memperbaiki akibat negatif dari hukuman, saran-saran tersebut antara lain:

(1) Memberi hukuman hendaknya diketahui dengan pasti bahwa hukuman itu ada hubungannya dengan pelanggaran.

(2) Adalah lebih baik mencegah hukuman dari pada memberi hukuman.

(3) Melakukan hukuman lebih buruk dari pada memneri ganjaran kepada anak yang berkelakuan baik.

Guru harus menyadari bahwa hukuman tidak boleh diberikan dalam keadaan marah, sebagai pembalasan dendam, dan hukuman yang diberikan akan berdampak positif terhadap perubahan tingkah laku siswa.

c) Penghapusan (extinction)

Penghapusan adalah menahan (tidak lagi memberikan) ganjaran yang diharapkan akan diberikan seperti yang sudah-sudah. Hal ini akan mengakibatkan penurunan frekuensi tingkah laku yang semula mendapat penguat.

Misalnya, guru selalu memberikan pujian pada salah satu siswa yang selalu mengemukakan pendapatnya di kelas, suatu hari saat siswa mengemukakan pendapatnya

guru tidak lagi memberikan pujian seperti yang diharapkan siswa sebelumnya. Pada kesempatan berikutnya siswa menjadi malas untuk mengemukakan pendapatnya lagi. d) Penguat negatif (negative reinforcement)

Yang dimaksud penguat negatif adalah peniadaan perangsang yang tidak mengenakkan (hukuman) setelah ditampilkannya suatu tingkah laku yang mengakibatkan menurunnya frekuensi tingkah laku yang dimaksud.

Misalnya, guru selalu menegur salah satu siswa yang suka membuat gaduh suasana kelas, walaupun sudah ditegur berulang-ulang tapi siswa tersebut tetap saja gaduh. Suatu ketika siswa tersebut lebih sedikit diam dari biasanya, guru tidak menegur dan tidak berkomentar apapun, selanjutnya siswa tersebut menjadi lebih memperhatikan dan tidak berbuat gaduh lagi.

b. Pendekatan Iklim Sosio Emosional (Socio Emosional Climate Approach)

Pendekatan iklim sosio emosional dalam manajemen kelas berdasarkan pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan). Untuk itu terdapat dua asumsi pokok yang dipergunakan dalam manajemen kelas sebagai berikut:

1) Iklim sosial dan emosional yang baik dalam arti terdapat hubungan inter personal yang harmonis antar guru dengan

guru, guru dengan siswa dan siswa dengan siswa merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif.

Asumsi ini mengharuskan guru kelas berusaha menyusun program kelas dan pelaksanaannya yang didasari oleh sikap saling menghargai dan saling menghormati antar personal di kelas. setiap siswa diberi kesempatan untuk ikut serta dalm kegiatan kelas sesuai dengan kemampuannya masing-masing, sehingga timbul suasana sosial emosional yang menyenangkan pada siswa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

2) Iklim sosial dan emosional yang baik menurut Nawawi dalam Mulyadi (2009: 46) tergantung pada guru dalam usahanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang didasari dengan hubbungan yang manusiawi yang efektif. Asumsi kedua menunjukkan bahwa dalam manajemen kelas guru harus berusaha mendorong guru-guru lain agar mampu dan bersedia mewujudkan hubungan yang penuh saling pengertian, hormat dan menhormati dan saling menghargai. Selain itu guru harus bersedia mendengar kritik, saran dan pendapat dari siswa sehingga manajemen kelas berlangsung dinamis.

c. Pendekatan Proses Kelompok (Group Process Approach)

Dasar dari pendekatan ini adalah psikologi sosial dan dinamika kelompok yang menmgemukakan dua asumsi sebagai berikut: 1) Pengalaman belajar sekolah berlangsung dalam konteks sosial.

Guru dalam manajemen kelas harus selalu mengutamakan keggiatan yang dapat mengikutsertakan seluruh personal di kelas, kegiatan kelas harus diarahkan pada kepentingan bersama dan sedikit mungkin kegiatan yang bersifat individual. 2) Tugas guru yang terutama dalam manajemen kelas adalah

pembinaan dan memelihara kelompok yang produktif dan efektif (T. Raka Joni, 1989 dalam Mulyadi, 2009: 55).

Guru harus mampu mmembentuk dan mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Proses belajar dalam kelompok harus dilaksanakan secara efektif agar hasilnya lebih baik dari pada siswa belajar sendiri-sendiri.

Adapun pandangan Richard A. Schmuck dan Patricia A. Schmuck berhubungan dengan pendekatan proses kelompok ada enem unsur yang mmenyangkut manajemen kelas yaitu: a) Harapan, b) Kepemimpinan, c) Kemenarikan, d) Norma, e) komunikasi, f) keeratan.

4. Faktor-Faktor Penghambat Manajemen Kelas

Dalam pelaksanaan manajemen kelas akan ditemui berbagai faktor penghambat, yaitu:

a. Faktor guru

Dalam manajemen kelas, guru pun dapat merupakan faktor penghambat dalam melaksanakan penciptaan suasana yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar. Faktor penghambat yang datang dari guru dapat berupa:

1) Tipe kepemimpinan guru yang otoriter

Tipe kepemimpinan guru dalam mengelola proses belajar mengajar yang otoriter dan kurang demokratis akan menumbuhkan sikap agresif atau pasif dari murid-murid.

2) Format belajar mengajar yang monoton

Format balajar mengajar yang monoton akan menimbulkan kebosanan bagi siswa, format belajar yang tidak bervariasi dapat menyebabkan para siswa bosan, kecewa, frustasi dan hal ini merupakan sumber pelanggaran disiplin. Karena dalam situasi tersebut para siswa akan mengalihkan rasa bosan dengan kegiatan-kegiatan yang negatif seperti melawak dalam kelas.

Sebaliknya, format belajar yang bervariasi merupakan kunci manajemen kelas untuk menghindari kejenuhan serta pengulangan-pengulangan aktivitas yang menyebabkan menurunnya kegiatan belajar dan tingkah laku positif siswa.

3) Kepribadian guru

Seorang guru yang berhasil dituntut untuk besikap adil, hangat, objektif dan fleksibel sehingga terbina suasana

emosional yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Sekiap yang bertentangan dengan kepribadian tersebut akan menimbulkan masalah manajemen bagi siswa.

4) Terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku siswa dan latar belakangnya

Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya usaha guru dengan sengaja memahami siswa dan latar belakangnya, mungkin karena tidak tahu caranya ataupun karena beban mengajar guru yanh di luar batas kemampuannya yang wajar.

5) Terbatasnya pengetahuan guru tentang masalah manajemen dan pendekatan manajemen baik yang sifatnya teoritis maupun pengalaman praktis

Untuk mengatasi masalah ini, salah satu cara yabg disarankan adalah mendiskusikan masalah ini dengan para kolega, diharapkan dengan cara ini dapat membantu mereka dalam meningkatkan keterampilan manajemen proses belajar mengajar.

b. Faktor siswa

Setiap siswa harus memiliki perasaan diterima terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam kegiatan-kegiatan kelas. perasaan diterima itu akan menentukan sikap bertanggung jawab terhadap kelas yang secara langsung berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan masing-masing.

Setiap siswa harus mengetahui hak-hak dan kewajibannya sebagai anggota kelas dan menghormati hak-hak siswa lain. Kekurangsadaran siswa dalam memenuhi tugas dan hak-haknya sebagai anggota satu kelas atau satu sekolah dapat menjadi faktor masalah manajemen kelas. Pembiasaan yang baik di sekolah dalam bentuk tata tertib sekolah yang disetujui dan diterima bersama oleh sekolah dan siswa penuh kesadaran akan membawa siswa menjadi tertib.

c. Faktor keluarga

Keluarga merupakan pendidik yang pertama yang mempengaruhi tingkah laku dan kepribadian anak. Pada masa sebelum sekolah orang tua lah yang menjadi pendidik. Segala bentuk perilaku siswa di kelas merupakan cerminan bagaiman perilakunya di rumah. Dari itu dibutuhkan kerjasama antara keluarga dan pihak sekolah dalam mengatasi perilaku siswa agar terdapat keselarasan antara situasi dan tuntutan dalam lingkungan keluarga dengan situasi dan tuntutan di kelas atau sekolah.

d. Faktor fasilitas

Fasilitas merupakan penunjang pembelajaran, fasilitas tersebut meliputi besar kelas, besar ruangan kelas dan ketersediaan alat belajar. Semua itu harus di sesuaikan dengan kondisi siswa, misalnya banyak siswa harus disesuaikan dengan besar ruangan kelas atau jumlah buku pelajaran harus sama dengan banyak siswa.

Jika antara semua itu tidak berjalan dengan sinkron maka akan menimbulkan masalah dalam manajemen kelas.

Dokumen terkait