• Tidak ada hasil yang ditemukan

No. Kelompok kegiatan

A Ruang genset

B Ruang pompa air C Ruang panel listrik D Ruang mesin AC

E Ruang telekomunikasi F Ruang teknisi G Ruang petugas keamanan

H Gudang umum

I Pantry

6.2.3. Zonifikasi Ruang

Lahan site yang berdekatan dengan Jl. Parang Tritis dioptimalkan menjadi zona yang lebih publik (terbuka), karena pencapaiannva yang mudah dan lebih optimal, termasuk

A  B  C  D  E  G H  I  F 

commit to user

pertimbangan orientasi bangunan (baik kedalam maupun keluar site), sedangkan bagian belakang di optimalkan untuk zona privat (pengelola) yang lebih tertutup. Sedangkan pencapaiannya dapat melalui Jl. Lingkungan.

commit to user

Level bawah sesuai untuk kegiatan (kelompok ruang) yang bersifat publik (kemudahan pencapaian), tingkatan di atasnya semi publik, dan semakin ke atas adalah ruang-ruang yang bersifat lebih privat dan klimaks dari sebuah pameran.

Gambar 6.3 Analisis zonifikasi kelompok ruang Sumber : Anlisis pribadi

commit to user

6.3. Konsep Penataan Site

6.3.1. Klimatologis

Respon dari analisa peredaran matahari terhadap site adalah memaksimal orientasi

massa bangunan yang membujur dari arah timur-barat dan meminimalisir orientasi bangunan yang membujur utara-selatan, hal ini guna semua sisi dapat mendapatkan sinar matahari yang cukup, serta pembayangan dapat tereduksi.

Gambar 6.5 Massa bangunan membujur timur-barat agar semua sisi dapat mendapatkan sinar matahari yang cukup, serta pembayangan dapat tereduksi.

Sumber: Analisa pribadi

commit to user

6.3.2. View dan Orientasi Bangunan

Potensi sekitar site tidak menjadi kendala dalam mengekspos bangunan dan mengorientasi bangunan terhadap ruang luar dari arah Jl. Parang Tritis, baik oleh bentuk dan ketinggian bangunan sekitar, bahwa view ke ruang luar akan sangat menarik jika dilihat dari ketinggian tertentu yaitu dengan adanya potensi pantai Parang Tritis.

commit to user

6.3.3. Noise

6.3.4. Sirkulasi (pencapaian

Simpul Jl. Parang Tritis dan Jl. Panembahan Senopati berpotensi menimbulkan arus silang, dihindari untuk penempatan entrance dengan jarak tertentu dari simpul Jl. Parang Tritis. Jl

Zone bising tinggi, digunakan sebagai kelompok ruang yang menyediakan fasilitas rekreasi/hiburan terbuka (mis: berupa ruang komunal, ruang parkir)

Zona dengan kebisingan sedang/peralihan. Dipakai sebagai kelompok ruang pameran, kegiatan service, dan kegiatan pendukung.

Zona dengan kebisingan rendah. Dipakai sebagai kelompok ruang pameran, kegiatan pendukung, kegiatan penerimaan, serta kegiatan pengelola.

commit to user

Parang Tritis lebih potensial untuk pencapaian utama/main entrance (ME), sedangkan side entrance (SE) pada Jl. Panembahan Senopati.

commit to user

Dalam setiap penempatan entrance (pencapaian ke dalam site), juga mempertimbangkan pencapaian oleh pejalan kaki, dengan penempatan jalur bagi pejalan kaki yang tidak menimbulkan arus silang (saling terganggu) dengan pencapaian dengan kendaraan bermotor entrance dibuat dengan kesan terbuka, akses yang mudah dari potensi jalan yang mengelilingi dan karakter yang kuat sebagai pintu masuk utama Museum Gempa Jogja.

6.4. Konsep Pendekatan Teori Semangat Jiwa Tempat dalam Rancangan Arsitektur

6.4.1. The Structure of Place (Struktur Khas dari Suatu Wilayah)

• Gambaran situasi geografis wilayah (geographical situation).

Museum Gempa Jogja yang direncanakan menjadi bagian lingkungan binaan dalam setting geografis Jogja yang rawan terjadi gempa sehingga bangunan museum yang direncanakan memiliki struktur yang lebih kuat terhadap gempa (meminimalkan kerusakan akan pengaruh gempa), yaitu dengan struktur yang rigid, dengan pembebaan struktur yang lebih stabil, dan mengantisipasi bencana banjir akibat gempa yang

commit to user

berpotensi tsunami dengan meninggikan level lantai dasar museum untuk meminimalkan dampak bencana.

commit to user

• Kepekaan terhadap situasi setempat/kedudukan bangunan terhadap lingkungan.

Museum Gempa Jogja yang direncanakan seoptimal mungkin memanfaatkan potensi sekitar secara menyatu, yaitu menjadikan ruang terbuka sekitar dapat dioptimalkan sebagai view ke luar bangunan (dari ketinggian tertentu) dan potensi ruang terbuka ini menjadi potensi view ke dalam site secara maksimal. Untuk menjadikan museum ini menyatu dengan lingkungan, maka dilakukan kesinambungan tampilan visual dengan lingkungan sekitar. Kedudukan bangunan dikembangkan dalam rangka membentuk sebuah museum yang dapat menjadi sebuah monumen Peringatan dengan sekuens pengalaman ruang yang dihadirkan.

commit to user

• Kekhasan karakter dalam tipologi bangunan lokal {local building typology), tampilan fisik bangunan, langgam arsitektur, kualitas estetis lokal dan pola pemukiman setempat (regional settlement pattern).

Tipologi bangunan menggunakan tipologi bangunan umah kampung, bukan menggunakan Joglo yang berwujud sebuah sifat kemegahan, memunculkan bangunan “ningrat” diantara bangunan-bangunan sekitarnya, mengakibatkan ketidakselarasan dengan lingkungan sekitar, cenderung merusak lingkungan sekitar. Penggunaan tipologi bangunan kampung bertujuan agar selaras dengan semboyan orang Jawa sepi ing pamrih, rame ing gawe, hamemayu hayuning bawana. (Magnis-Suseno, F, 2001: 138; Subagyo, R, 1973;229). Tipologi lainnya menggunakan tumpangsari dari rumah Joglo dalam ruangan yang bersifat formal seperti ruang serbaguna dan ruang pimpinan museum.

6.4.2. Representasi mental masyarakat (Mentality People) dan aktivitas maupun

kebiasaan-kebiasaan penduduknya (keseharian maupun sesaat/temporal)

Pada kelompok kagiatan dalam Museum Gempa Jogja, dalam hal ini ruang restorannya, direncanakan didesain mengadopsi dari budaya makan masyarakat Jogja yang telah membudaya, yaitu warung angkringan, sehingga suasana yang ditimbulkan dalam restoran nanti akan bersifat santai dan penuh kekeluargaan, sebuah suasan harmonis dalam rancangan.

commit to user

Budaya jagongan, dalam perencanaan rancangan Museum Gempa Jogja melahirkan sebuah pemikiran pemunculan ruang komunal bersama dalam rancangan. Ruang komunal yang dapat diakses secara langsung, bebas oleh pengunjung museum. Dimana penghadiran ruang komunal ini sekaligus sebagai upaya penangan mental recovery masyarakat akibat gempa Jogja silam. Dengan begitu akan memunculkan budaya mangan ora mangan asal kumpul ke dalam rancangan yang akan memunculkan suasana kebersamaan, keselarasan, saling berdampingan dapat lebih terasa, yang lama kelamaan akan mumudarkan suasana stress masyarakat akibat bencana gempa Jogja, dan menumbuhkan keyakinan adanya kemudahan dalam setiap kesusahan dari Sang Maha Kuasa.

commit to user

6.4.3. Pemberdayaan potensi lokal (potensi masyarakat setempat)

Material kayu yang melimpah di wilayah Jogja dan mudah Pengerjaannya, juga lebih dikuasai teknologi pengerjaanya oleh masyarakat, dieksplorasi penggunaannya dalam rancangan Museum Gempa Jogja. Kerajinan tangan (teknologi lokal) masyarakat juga diaplikasikan dalam elemen bangunan seperti pada partisi, plafound ruang maupun elemen bangunan yang lain. Serta penggunaan material batu alam yang juga melimpah hampir disemua daerah di wilayah Jogja.

6.4.4. Simbol-kiasan-kenangan

Suatu tempat akan memiliki makna khusus bagi orang-orang yang mendapatkan pengalaman dari tempat tersebut, ruang dan gatra yang bermakna untuk mengekspresikan bencana gempa dan merepresentasikan bencana dalam rangka mengingat dan mengenang yang pada ujungnya untuk mengingatkan betapa dahsyat kuasa Ilahi, sehingga akan memunculkan rasa syukur dan perasaan rendah terhadap kebesaran Ilahi Rabbi.

6.5. Konsep Sistem Bangunan

6.5.1. Konsep Struktur Bangunan

a. Sub Struktur

Pondasi yang digunakan adalah pondasi tiang pancang karena memiliki karakteristik sesuai dengan jenis tanah area site. Tiap bangunan memiliki spesifikasi jumlah tiang pancang dan dimensi pile cap yang berbeda.

Selain itu, jenis denah yang digunakan dalam rancangan juga mempengaruhi rancangan Museum Gempa Jogja. Dalam kaitannya dalam sistem sederhana bangunan tanggap gempa, Denah bangunan sebaiknya sederhana, simetris dan tidak terlalu panjang.

commit to user

Simetris dan sederhana

Simetris namun tidak

sederhana

Simetris namun terlalu panjang

commit to user

commit to user

Tidak baik Baik

Tidak baik Baik

Catatan : Alur pemisah dibuat dari bahan yang mudah diperbaiki

b. Super Struktur

Pola peruangan dengan fleksibilitas yang tinggi tanpa pembatas ruang yang permanen membutuhkan sistem struktur yang ringan tanpa menggunakan dinding masif sebagai pemikul beban. Struktur rangka baja dengan kolom dan balok baja sebagai pemikul beban merupakan alternatif struktur badan bagi bangunan yang direncanakan, hal ini berdasarkan pertimbangan struktur rangka baja memiliki karakteristik cukup ringan, fleksibel dalam pembagian ruang dan pembuatan bukaan, mampu menahan gempa dan getaran, dengan bentangan cukup luas. Namun pada bagian tertentu tidak menutup penggunaan struktur rangka beton serta perkuatan core.

c. Upper Struktur

Menggunakan kombinasi struktur rangka baja dan struktur beton bertulang agar dapat menciptakan kombinasi bentuk atap.

Alur pemisah 

commit to user

6.5.2. Konsep Utilitas Bangunan

6.5.2.1.Jaringan Listrik

6.5.2.2.Jaringan Komunikasi

6.5.2.3.Sanitasi

• Air bersih

1) Sumber air sumur artesis.

Air bersih dari sumur artesis ditampung di bak penampung dan disalurkan dengan saluran perpipaan untuk menjangkau titik-titik pendistribusian, misal wc umum, fire hidrant ke bangunan-bangunan.

Skema 6.1 Analisa Jaringan Listrik

PLN Genset Panel utama Panel skunder Distribusi Distribusi Meteran Panel skunder

Skema 6.2 Analisa Jaringan Komunikasi Sumber: Analisa penulis

PT. Telkom Panel Kontrol Telepon Lokal Faks Operator

SLJJ/SLI

Pompa

Sumur dalam

Ground Water Tank Pompa

Upper tank

distribusi Skema 6.3 Analisa aliran air bersih artesis

commit to user

Dokumen terkait