• Tidak ada hasil yang ditemukan

commit to user Penerimaan calon benda koleksi

2.1.2 Semangat Jiwa Tempat ( Spirit of Place )

Tinjauan semangat jiwa tempat (Spirit of Place) ini mendeskripsikan bagaimana aspek-aspek jiwa tempat dalam rancangan arsitektur dapat digali dari potensi setempat yang diangkat.

2.1.2.1. Genius Loci- Spirit of Place- Jiwa Tempat

Semangat jiwa tempat (Spirit of Place) merupakan pengistilahan dalam bahasa Indonesia dari Spirit of Place, implikasi dalam konteks dunia arsitektur modern dari Genius Loci, sebuah istilah/konsep mitologi kuno jaman Romasi bahwa sesuatu punya jiwa/ruh yang melindungi, dahulu digambarkan sbagai ular. Genius Loci mempunyai implikasi terhadap place-making, tergolong filosofis dari cabang phenomenology.

Spirit of Place mengacu pada sesuatu yang unik, yang membedakan dan memberi karakteristik pada aspek tempat. Memperlihatkan jalinan kultur yang tek terlihat (cerita, seni, memori, kepercayaan, sejarah, dll).

2.1.2.2. Penggalian Aspek Jiwa Setempat

Jiwa tempat itu sendiri dapat digali dari kekhasan karakter,identitas, semangat setempat (lokal), yang dapat mengangkat dan membentuk sebuah keunikan.

a. The Structure of Place (Struktur kawasan dari suatu wilayah tempat)

• Gambaran situasi geografis wilayah (geographical situations)

• Kepekaan terhadap situasi setempat/kedudukan bangunan terhadap lingkungan

• Kontekstual terhadap iklim setempat (kualitas dan kuantitias pencahayaan, curah hujan dan temperatur)

• Kekhasan karakter dalam tipologi bangunan local (local building typology), tampilan fisik bangunan, langgam arsitektur, kualitas estetis local dan pola pemukiman setempat (regional settlement pattern)

b. Representasi mental masyarakat (Mentality People’s) dan aktivitas maupun kebiasaan-kebiasaan penduduknya (keseharian maupun sesaat/temporal)

       10

Dikonstruksikan dari : Christian Norberg-Schulz. Genius Loci : Towards a Pnenomenology of Architecture, London : Academy Editions London, 1980 dan www.wikipedia.com

commit to user

Komponen ini mencakup ekspresi budaya yang dibentuk oleh interaksi dari lokasi fisik dan kegiatan masyarakat di daerah itu dan artefak budaya lainnya yang dikenal masyarakat akibat sejarah khusus, yaitu bagaimana suatu tempat berinteraksi dengan masyarakatnya. c. Pemberdayaan Potensi Lokal (Potesi Masyarakat)

Penggunaan material lokal sebagai suatu bahan bangunan, keterampilan dan keahlian lokal yang tercermin dari benda yang dihasilkan.

d. Simbol-kiasan-kenangan (suatu tempat akan memiliki makna khusus bagi orang- orang yang mendapatkan pengalaman dari tempat tersebut)

Aspek yang kompleks sebagai akibat pengalaman dan reaksi masyarakat (pengalaman mental) terhadap aspek-aspek fisik dan fungsional yang dibentuk oleh unsur-unsur visual sebagai akibat interaksi antara nilai/nilai tertentu dan lokasi.

Penggalian jiwa tempat juga dapat melalui penelusuran sejarah yang bersumber dari literatur dan informasi. Data dari hasil penelusuran secara verbal tetap harus disertai dengan data otentik berupa peta dan foto sebab informasi dari informan mempunyai kecenderungan bersifat kualitatif sera sangat dipengaruhi peta mental informan.

2.1.2.3. Bahasa Ungkapan Dan Penghayatan Gatra –Ruang Arsitektur11

Tinjauan mengenai bahasa ungkapan dan penghayatan gatra-ruang arsitektur adalah untuk mendeskripsikan bahwa dalam berarsitektur terdapat unsur-unsur lain selain pemenuhan wadah fungsi semata. Ada nilai, unsur maupun tuntutan lain yang lebih dari sekedar ”asal berguna”. Tinjauan ini mengarah pada tuntutan kualitatif/pemograman performansi yang nantinya bersama pemograman fungsional tersimpulkan dalam pemrogaman arsitektur (rancangan).

a. Bahasa Ungkapan Arsitektur

Manusia tidak hanya berbahasa dengan cakap lidah, tetapi juga dengan gerakan tubuh. Artinya mengungkapkan isi batin yang tersimpan, agar diketahui orang lain. Tubuh manusialah yang menghubungkan yang serba dalam batin dengan alam semesta yang di luar diri kita, khususnya yang berciri materi. Agar menjadi roh manusia yang sempurna, manusia harus semakin menjadi badan. Dan tentulah sebaliknya juga, agar menjadi badan manusia yang sempurna, manusia harus semakin menjadi roh.12 Ungkapan ini

dapat kita telaah dalam karya arsitektur. Dalam segenap karya pembangunan kita dapat       

11

Dikonstruksikan dari : YB. Mangunwijaya. Wastu Citra. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. 1992.

12

J.B.Metz, ahli piker, dalam ungkapan aslinya “Um vollendeter menschlicher Geist zu sein, musz er immer mehr Leib werden”.

commit to user

membangun asal berdiri dan dapat dipakai. Namun ada unsur-unsur yang “lebih dari asal berguna”. Seperti keindahan pada binatang (sayap kupu-kupu, tanduk rusa, bulu-bulu cenderawasih dan sebagainya) tidak Cuma sekedar berbiologi semata. Misalnya tanduk rusa yang tidak effisien dalam pertahanan diri dan tidak praktis. Para ahli biologi yakin, ada sesuatu yang ”lebih” daripada aspek efisien-teknis dan fungsional, bahkan ada unsur- unsur yang merupakan bayangan semacam ”murni” diri makhluk binatang.

Dalam berarsitektur, artinya berbahasa dengna ruang dan gatra, dengan garis dan bidang, dengan bahan material dan suasana tempat berarsitektur dengan budaya. Berarsitektur adalah berbahasa manusiawi dalam arti dengan citra unsur-unsurnya, baik dengan bahan material maupun dengan bentuk serta komposisinya. Dalam karya arsitektur kita juga menemukan nilai-nilai pengangkatan (nilai yang diangkat dari karya arsitektur), sehingga selain unsur guna, ditemukan unsur citra dari budaya manusia.

Kata ”guna” menunjuk pada keuntungan, pemanfaatan (use, bahasa Inggris) yang diperoleh. Pelayanan yang dapat kita dapat darinya. Seperti dalam karya arsitektur, karena tata ruang, pengaturan fisik yang tepat dan efisie, kenikmatan (comfort) yang kita rasakan. Guna dalam arti kata aslinya tidak hanya berarti manfaat, untung material belaka, tetapi lebih dari itu memiliki ”daya” yang menyebabkan kita dapat hidup lebih meningkat.

Sedangkan ”citra” menunjukan suatu ”bambaran” image, suatu kesan penghayatan yang menangkap arti bagi seseorang. Citra tidak jauh dari ’guna’, tetapi lebih bertingkat spiritual, lebih menyangkut derajat dan martabat manusia. Citra menunjuk pada tingkat kebudayaan sedangkan guna lebih kepada keterampilan atau kemampuan.

Oleh Cing dalam Snyder (1979), dinyatakan sejak zaman Vitruvius tujuan-tujuan arsitektur telah dinyatakan dalam pengertian kemantapan (firmness), komoditas (commodity) dan kesenangan (delight), dipahami sebagai: nilai-nilai teknologi (technology), fungsi (function) dan estetika (aesthetics). Kompleksitas dalam perkembangan waktu, arsitektur (dalam skala bangunan atau building) didefinisikan memiliki empat komponen, yaitu bentuk, fungsi, teknik dan konteks. Keempat komponen ini terkait dalam menghasilkan karya yang

commit to user

disebut arsitektur. Lalu oleh Rapoport (1990) dikemukakan sebagai nilai tambah yaitu arsitektur merupakan wujud karya (rekayasa) budaya dan sosial sebagai lingkungan binaan (built environment) guna memenuhi kegiatan wadah kegiatan (fungsi) didalam menjalani hidup dalam pengertian yang luas yang berdasar pada tatanan yang dilandasi oleh tata nilai yang dipilih manusia, baik individu maupun kelompok. Jadi jelas sudah, ada bahasa ungkapan dalam berarsitektur selain adanya tuntutan fungsi dan teknologi konstruksi semata.

b. Penghayatan Gatra-Ruang Arsitektur

Kajian pada kasus arsitektur Yunani yang dikenal mengolah atau bermain dengan gatra- gatra (volume-volume) atau massa-massa materi. Berarti mengolah tektoon dan statika bangunan, karena bahan pokonya batu alam dengan volume-volume yang penuh, kompak, berat, keras dan padat. Bangsa Yunani dikenal dengan pencinta gatra, tertarik pada penikmatan segala yang agung. Baru pada masa bangsa Romawi seni gatra itu disempurnakan dengan seni ruang.

Berikutnya penghayatan gatra-ruang arsitektur juga dapat ditelaah dari karya arsitektur di Mesir. Pada bangunan-bangunan piramida, kemurnian geometrik seperti yang dimonumentalkan, memperlihatkan konstruksi dan konsekuensi ekstrem dari citarasa dari disiplin matematika yang tidak mengenal kompromi. Namun oleh kepentingan sebagai tempat tinggal harafiah bagi maharaja yang telah meninggal, maka makna itu lebih daripada hanya manumen belaka. Ide monumental, memorial, datang dari manusia yang sudah masuk dalam tahap penghayatan ontologism. Ekspresi bangunan-bangunan itu memang hebat, meski mencitrakan kesederhanaan. Namun, ukuran-ukurannya yang maha raksasa juga karena pembuatannya yang menunjukan teknik dan kecermatan yang luar biasa serta nilai kosmis yang luhur, citra agung tetap terlihat dari massa yang sederhana.

Ruang pada dasarnya terjadi karena adanya hubungan antara sebuah objek dan manusia yang melihatnya. Hubungan ini mula-mula ditentukan oleh penglihatan, tetapi bila ditinjau dari pengertian ruang secara arsitektur, maka hubungan tersebut dapat dipengaruhi juga oleh penciuman, pendengaran dan perabaan. Sering terjadi bahwa ruang yang sama mempunyai kesan atau suasana yang berbeda sama sekali, karena dipengaruhi oleh adanya hujan, angin, ataupun terik matahari dan sebagainya.

commit to user

Dokumen terkait