Henry Guntur Tarigan (2008: 28) menyatakan menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
St. Y. Slamet (2009: 6) bahwa menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan, mengidentifikasi, menginterpretasi bunyi bahasa, kemudian menilai hasil interpretasi makna dan menanggapi pesan tersirat di dalam wahana bahasa tersebut.
Menurut Rusel dalam Tarigan (2008: 28) berpendapat bahwa menyimak merupakan upaya untuk memahami bahasa yang dituturkan pembicara melalui sarana komunikasi lisan. Olehkarena itu menyimak bersifat reseptif. Bertolak dari itu, kita harus bisa mendengarkan dengan penuh perhatian dan pemahaman serta interprestasi.
Sedangkan Djago Tarigan (1986: 24) menyatakan bahwa kegiatan menyimak memang selalu dimulai bunyi gahasa baik secara langsung atau tidak langsung maupun melalui rekaman disertai kegiatan pemusatan perhatian. Setelah diikuti kegiatan identifikasi bunyi bahasa tersebut yaitu mengenal, mengelompokkan menjadi suku kata, kata, frase, kalimat, dan wacana. Lagu dan intonasi pun tak lepas dari perhatian penyimak. Langkah berikutnya, penyimak menginterpretasi, memahami makna ujaran yang diterima. Akhirnya penyimak mengkaji, menelaah, dan menguji makna tersebut baru memutuskan untuk menerima atau menolaknya. Oleh karena itu menyimak dapat dikatakan juga sebagai proses kegiatan mendengarkan bahasa lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, interpretasi, reaksi dan evaluasi.
Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa menyimak merupakan upaya untuk memahami bahasa yang dituturkan pembicara melalui sarana komunikasimlisan guna memperoleh informasi untuk dikaji
commit to user
dan ditelaah dan dipahami isi dari informasi yang diperoleh dari kegiatan menyimak. Oleh karena itu, menyimak bersifat reseptif (menerima).
c. Tahapan Menyimak
Tahapan kegiatan menyimak menurut Henry Guntur Tarigan (2008: 24) terdiri dari :
1) Mendengarkan bunyi bahasa disertai pemusatan perhatian. 2) Mengidentifikasi bunyi bahasa dengan cara mengenali,
mengelompokkan menjadi suku kata, kata, frase, kalimat, dan wacana yang memperhatikan lagu dan intonasi, memahami, dan mengapresiasi.
3) Mengintepretasi dan memahami makna ujaran yang diterima. 4) Mengaji, menelaah, dan menguji makna tersebut (reaksi). 5) Memutuskan untuk menerima atau menolaknya (evaluasi). Sedangkan menurut Djago tarigan (1986: 15) menyimak merupakan adalah suatu proses. Adapun tahap-tahap dalam keterampilan menyimak antara lain:
1) Tahap mendengar: penyimak berusaha menangkap pesan pembicara yang sudah diterjemahkan dalam bentuk bunyi bahasa. Untuk menangkap bunyi bahasa diperlukan telinga yang peka dan perhatian terpusat.
2) Tahap mengidentifikasi: bunyi yang sudah ditangkap perlu diidentifikasi, dikenali dan dikelaompokkan menjadi suku kata, kelompok kata, semakin sempurna apabila penyimak memiliki kemampuan linguistik.
3) Tahap menginterpretasi: bunyi bahasa itu perlu untuk menginterpretasikannya. Perlu diupayakan agar interpretsi ini sesuai atau mendekati makna yang dimaksud oleh pembicara. 4) Tahap memahami: setelah proses penginterpretasian maka
selesai, maka penyimak dituntut untuk memahami atau menghayati makna itu. Hal ini sangat perlu untuk langkah berikutnya, yaitu penilaian.
5) Tahap menilai: makna pesan yang sudah dipahami kemidian ditelaah, dikaji, dipertimbangkan, dikaitkan dengan
commit to user
pengalaman, dan pengetahuan penyimak. Kualitas hasil penilaian hasil menyimak sangat tergantung kepada kualitas pengalaman dan pengetahuan penyimak.
6) Tahap menghadapi: tahap akhir dari proses menyimak adalah menanggapi makna pesan yang telah selesai dinilai. Tanggapan atau reaksi penyimak terhadap pesan yang telah selesai dinilai. Tanggapan atau reaksi penyimak terhadap pesan yang diterimanya dapat berwujud berbagai bentuk sepertimengangguk-angguk tanda setuju, menggeleng tanda tidak setuju, mencibir atau mengerjakan sesuatu.
Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan menyimak terdapat tahapan yang harus dilalui oleh pemyimak, tahapan dalam menyimak adalah: tahap mendengar, tahap mengidentifikasi, tahap menginterpretasi, tahap menilai dan tahap menaggapi.
d. Jenis-jenis Menyimak
Djago Tarigan (1986: 25) berdasarkan taraf hasil simakan dikenal sembilan jenis menyimak :
1) Menyimak tanpa mereaksi: penyimak mendengar sesuaru tanpa suara atau teriakan, namun yang bersangkutan tidak memberikan reaksi apa-apa. Suara masuk ketelinga kiri keluar ketelinga kanan.
2) Menyimak terputus-putus: penyimak sebemtar menyimak sebentar tidak menyimak, kemudian meneruskan menyimak lagi dan seterusnta. Pikiran penyimak bercabang, tidak terpusat pada bahan simakan.
3) Menyimak terpusat: pikiran penyimak terpusat pada sesuatu, misalnya pada aba-aba, untuk mengetahui apabila saatnya mengerjakan sesuatu.
commit to user
4) Menyimak pasif: menyimak pasif hampir sama dengan menyimak tanpa mereaksi, dalam emnyimak pasif sudah ada reaksi walaupun hanya sedikit.
5) Menyimak dangkal: penyimak hanya menangkap sebagian dari isi simakan, bagian-bagian yang tidak penting tidak disimak, mungkin karena sudah tahu, menyetujui atau menerima.
6) Menyimak untuk membandingkan: penyimak menyimak sesuatu oesan, kemudian membandingkan isi pesan itu dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak yang relevan.
7) Menyimak organisasi materi: penyimak berusaha mengetahui orgaisasi materi yang disampaiakn, ide pokoknya beserta detail penunjangnya.
8) Menyimak kritis: penyimak menganalisis secara detail terhadap materi yang disampaiakn pembicara. Bila siperlukan, pemnyimak meminta data atau keterangan terhadap isi yang disampaikan.
9) Menyimak kreatif dan apresiasif: penyimak memberikan respon mental dan fisik yang asli terhadap bahan simakan yang diterima.
Sedangkan menurut Henry Guntur Tarigan (2008: 57) barpendapat bahwa jenis-jenis menyimak adalah:
1) Menyimak untuk meyakinkan. 2) Menyimak untuk belajar. 3) Menyimak untuk menikmat. 4) Menyimak untuk megapresiasi. 5) Menyimak untuk membedakan bunyi.
6) Menyimak untuk memperbaiki kemampuan berbicara. Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis menyimak antara lain: menyimak memahami, menyimak terpusat,
commit to user
menyimak pasif, menyimak untuk membandingkan, menyimak untuk belajar, dan menyimak untuk menikmati.
3. Kajian Tentang Media Pembelajaran a. Pengertian Media Pembelajaran
.DWD ³0HGLD´ VHFDUD KDUSLDK DGDODK ³SHUDQWDUD DWDX SHQJDQWDU´ 3HQJHUWLDQPHGLDVHEDJDLVXPEHUEHODMDUDGDODK³0DQXVLDEHQGDDWDXSXQ
peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan
NHWHUDPSLODQ´%DVXNi Wibawa dan Farida Mukti, 2001: 6).
Media dalam arti umum adalah segala bentuk peraturan yang dipakai orang menyebabkan ide sehingga gagasan itu sampai pada penerima (Wina Sanjaya:2002: 9).
Menurut Mulyasa (2009: 78) mengemukakan bahwa pengertian media adalah :
³0HGLD DGDODK EHQWXN MDPDN GDUL NDWDmedium merupakan istilah dari bahasa latin yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar, dapat pula diartikan sebagai alat, sarana, atau wahana. Media sering kali ditemukan sebagai istilah dalam bidang komunikasi maupun transportasi yang memiliki arti sebagai alat untuk berkomunikasi atau alat untuk transportasi.dalam dunia pendidikan dan pengajaran, biasa disebut media
peQGLGLNDQDWDXPHGLDSHQJDMDUDQ´
Sedangkan menurut Oemar Hamalik dalam Mulyasa (2009: 78-79) menyatakan bahwa media pendidikan atau media pembelajaran adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran disekolah.
Menurut Assiciation of education and comunikation technology
(AECT) dalam Mulyasa (2009: 78) media adalah segala bentuk yang digunakan untuk menyelurkan informasi. Media diartikan sebagai segala benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan, beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut. Jekasnya media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan,
commit to user
merangsang pikiran, perasaan dan kekauan siswa sehingga terdorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
Penggunaan media dalam proses belajar mengajar sangat penting. Ketidak jelasan guru dalam menyampaikan bahan pengajaran dapat terwakili dengan kehadiran media
Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan media yang dapat digunakan dalam pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran.
Apabila tingkatan SD yang siswanya belum mampu berfikir abstrak, masih berfikir kongrit. Keabstrakan bahan pelajaran dapat dikongritkan dengan kehadiran media, sehinga anak didik lebih mudah mencerna bahan pelajaran daripada tanpa bantuan media. Dalam penggunaan media, perlu diperhatikan bahwa pemilihan media pengajaran haruslah jelas dengan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan., apabila diabadikan media pengajaran bukanya membantu proses belajar mengajar, tapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efesien. Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan, membantu mempertegas bahan pelajaran, sehingaga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa dalam proses belajar.
b. Fungsi Dan Peranan Media Pembelajaran
Peranan media pembelajaran sangatlah penting dalam kegiatan belajar mengajar. Sangatlah sulit materi pelajaran tersampaikan dengan baik tanpa melalui media pembelajaranyang tepat. Oemar Malik dalam Mulyasa (2009: 79-80) mengemukakan fungsi media pembelajaran secara umumyang meliputi:
1) Meletakkan dasar-dasar berfikir konkret dan mengurangi verbalisme.
commit to user
3) Meletakkan dasar-dasar penting untuk perkembangan belajar, membuat pelajaran lebih mantap.
4) Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan siswa.
5) Menumbuhkan pemikiran yang teratur, terutama dalam gambar hidup.
6) Membantu tunbuhnya pengertian atau perkembangan kemampuan berbahas.
7) Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu perkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar
Fungsi media pengajaran sebagai sumber belajar. Maryati T Permana, (2010: 16) merumuskan fungsi media sebagai berikut:
1) Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat Bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif
2) Penggunana media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar.
3) Media pengajaran, penggunaannya dengan tujuan dari sisi pelajaran .
4) Penggunaan media bukan semata ± mata alat hiburan, bukan sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5) Penggunaan media dalam pengajaran lebih dituangkan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap perhatian yang diberikan guru.
6) Pengunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.
commit to user
Ketika fungsi ± fungsi media pengajaran itu diaplikasikan kedalam proses belajar mengajar, maka penulis menyimpulkan bahwa fungsi media adalah :
1) Media yang digunakan guru sebagai penjelas dari keterangan terhadap suatu bahan yang guru sampaikan.
2) Media dapat memunculkan permasalahan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa dalam proses belajarnya. 3) Media sebagai sumber belajar bagi siswa.
c. Kriteria Media Pembelajaran
Didalam pemilihan media pembelajaran harus sesuai dengan kriteria, supaya dalam penggunaan media dapat sesuai dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Menurut Mulyasa (2009: 81) menyatakan bahwa kriteria media pembelajaran harus memenuhi:
1) Tujuan
Media pembelajaran hendaknya sesuai dan menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.
2) Materi pembelajaran
Materi yang dipilih hendaknya relevan dan tidak out of date.
3) Metode atau pendekatan
Sebagai contoh,pemilihan metode demonstrasi akan lebih banyak memerlukan media daripada metode ceramah
4) Evaluasi
Sebetulnya evaluasi mengukur keberhasilan tujuan. Oleh karena itu media dipilih sekain mengacu pada tujuan terkait juga pada evaluasi yang digunakan.
5) Siswa
Pemilihan media pembelajaran perlu disesuaikan dengan perkembangan intelektual siswa, yaitu diseduaikan dengan kemampuan siswa dalam hal membaca, mendengar dan melihat.
commit to user
Maryati T Permana (2010: 18) mengemukakan beberapa kriteria dalam memilih media pelajaran, sebagai berikut:
1) Ketepatan dengan tujuan pengajaran.
2) Dukungan terhadap isi bahan pelajaran. Adanya media bahan pelajaran lebih mudah dipahami siswa.
3) Media yang digunakan mudah diperoleh, mirah, sederhan dan praktis penggunaannya.
4) Keterampilan guru dalam menggunakan media dalam proses pengajaran.
5) Tersedia waktu untuk menggunakanya, sehinga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung. 6) Sesuai dengan taraf berfikir siswa.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa dalam menggunakan media pembelajaran harus memenuhi kriteria dalam pemilihan media pembelajaran yang meliputi:
1) Media harus sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran 2) Media harus sesuai dengan siswa
3) Media mudah didapat dan digunakan
4) Media harus sesuai dengan keterampilan guru 5) Media yang digunakan murah dan dapat dijangkau
d. Prinsip Dalam Menggunakan Media Pembelajaran
Wina Sanjaya (2002: 158) mengungkapkan tentang beberapa prinsip dalam menggunakan media pembelajaran sebagai berikut:
1) Media yang digunakan oleh guru harus sesuai dengan tujuan pembelajaran dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2) Media yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.
3) Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kondisi siswa.
commit to user
4) Media yang digunakan harus efektif dan efisien
Menurut Arief Sidharta dalam Mulyasa (2009: 80) mengemukakan bahwa dalam menggunakan media harus memperhatikan prinsip-prinsip:
1) Access
Kemudahan skses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Apakah media itu tersedia, mudah dan dapat dimanfaatkan oleh siswa.
2) Cost
Biaya juga harus dipertimbangkan. Banyak media yang canggih tetapi mahal harganya. Kita harus mempertimbangkan aspek manfaatnya nedia tersebut.
3) Technology
Mungkin kita tertarik pada suatu media tertentu, kita harus memperhatikan apakah teknologinya tersedia dan mudah menggunakannya. Misalnya kita akan menggunakan media audoio visual, maka harus dipertimbangkan apakah fasilitas listrik, tegangan listrik teredia atau sesuai.
4) Interactivity
Media yang kita kembangkan hendaknya dapat memunculkan komunikasi dua arah antara guru dengan siswa
5) Organization
Perlu dipertimbangkan apakah pimpinan sekolah atau pemimpin lembaga yayasan mendukung, bagaimana pengorganisasiannya.
6) Novelty
Biasanya media yang baru lebih menarik bagi siswa sehingga kebaruan suatu media hendaknya juga menjadi pertimbangan pemilihan suatu media.
Dari pendapat diatas maka dalam memilih media pembelajaran harus memenuhi prinsip kemudahan penggunaan media, prinsip biaya, prinsip relevan terhadap materi yang akan dipelajari.
commit to user
4. Kajian Tentang Penggunaan VCD Dalam Penbelajaran a. Hakikat VCD
Media VCD (Video Compact Disk) adalah salah 1 jenis media audio visual atau media yang berupa perpaduan gambar dan suara. Dengan kata lain VCD (Video Compact Disk) merupakan rangkaian gambar elektronik yang disertai dengan unsur audio.
Basuki Wibawa dan Farida Mukti (2010: 72) mengemukakan bahwa VCD (Video Compact Disk) merupakan media yang dapat menampilkan pesan audio-visual-gerak. Seperti halnya film dan televisi yang menyajikan hal-hal yang nyata maupun yang fiktif, juga pesan yang disampaikan dapat berupa informatif, pendidikan dan pengajaran.
Suwarna (2005: 118). Mengemukakan bahwa media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur-unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena me;iputi jenis media auditif dan visual. Dia juga menambahkan media ini dibagi lagi menjadi 3 yaitu :
1) Audiovisual diam, yaiytu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sounds slides), film rangkai suara, cetak suara.
2) Audiovisual gerak, yaitu media yang menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video-cassete. VCD (Video Compact Disk) sebagai media yang dapat menampilkan efek suara dan gerak, tentunya memiliki kelebihan dan keterbatasan.
Menurut Basuki Wibawa dan Farida Mukti (2001: 72-73) kelebihan dan kelemahan VCD adalah :
Kelebihan VCD
1) Penyajiannya tidak memerlukan ruang gelap. 2) Program dapat diputar berulang-ulang.
commit to user
3) Program sajian rumit/ berbahaya dapat direkam sebelumnya sehingga waktu mengajar guru bisa memusatkan perhatian pada penyajiannya.
4) Mudah dikontrol oleh guru. Kelemahan VCD
1) Daya jangkaunya terbatas. 2) Sifat komunikasinya satu arah. 3) Peralatannya cukup mahal.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa VCD (Video Compact Disk) adalah proses teknologi sinyal elektronik yang menunjukkan gambar bergerak.
b. Manfaat VCD Dalam Pembelajaran
VCD (Video Compact Disk) sebagai salah satu dari media audio visual selain mempunyai fungsi sebagai alat bantu media juga sebagai penyalur pesan atau informasi belajar. Media tersebut bukan hanya sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga sebagai alat penyakur pesan (Arif Sadiman, dkk, 2007: 8).
Suwarna (2005: 135) Media VCD ini memiliki unsur gambar dan unsur suara (tampak dengar) dalam hal ini biasanya menamoilkan beruoa rekaman gambar disertai suara yang menjelaskan mengenai gambar yang disajikan. sebagai komponen dari suatu sistem instruksiaonal, media tersebut mempunyai nilai praktis berup kemampuan untuk :
1) Konkkritisasi konsep yang abstrak.
2) Menyajikan informasi belajas secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.
3) Membangkitkan minat siswa.
4) Memungkinkan pengamatan dan presepsi siswa yang beragam bagi pengalaman belajar siswa.
commit to user
Melihat adanya sebuah kelebihan dan kelemahan dari media tampak dengar atau audio visual, ternyata benyak kelebihannya, maka dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan media VCD dapat memudahkan siswa dalam menyerap materi tang disampaikan oleh guru.
B. Penelitian Yang Relevan
Ada penelitian yang dipandang relevan dengan penelitian ini yaitu :
Penelitian yang dilakukan oleh Tri Astuti (2007) dalam penelitian yang
EHUMXGXO³8VDKD0HQLQJNDWNDQ Pembelajaran Bahasa Indonesia Dengan
Menggunakan Media VCD pada siswa SMP Islam Al-+DGL6XNRKDUMR´
Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terjadi peningkatan konsentrasi dan antusias siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indinesia dengan menggunakan media VCD dengan ditunjukkan dengan meningkatnya nilai Bahasa Indonesia Siswa.
Berdasarkan penelitian diatas pada umumnya siswa sangat tertarik dengan media pembelajaran audiovisual yang menampilkan gambar bergerak dan suara, oleh sebab itu penggunaan media audiovisual dapat digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan pada siswa, oleh sebab itu peneliti menggunakan media VCD dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan Menyimak Cerita anak berkesulitan belajar di SDN Inklusi Petoran Surakarta Tahun ajaran 2010/2011.
commit to user
C. KERANGKA BERFIKIR
Untuk menjelaskan penelitian ini maka penulis membuat kerangka berfikir seperti dibawah ini :
SKEMA 2.1. Kerangka berfikir
D. HIPOTESIS
Berdasarkan kejian teori dan kerangka berfikir tersebut diatas dapat