• Tidak ada hasil yang ditemukan

Company’s Business Prospects

Dalam dokumen AR BANK SAUDARA 2013 (Halaman 126-128)

Krisis hutang negara-negara di Dunia, dampaknya cukup dirasakan terhadap situasi perekonomian Indonesia tahun 2013. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada tingkat terendah dalam 3 (tahun) terakhir: 6.50 % di tahun 2011, 6.23% pada 2012, dan 5,7% pada tahun 2013. Perlambatan laju pertumbuhan ekonomi ini terlihat dari beberapa indikator ekonomi makro yang mengalami pelemahan

Sejalan dengan perkembangan ekonomi domestik tersebut, kondisi likuditas perbankan Indonesia juga diperkirakan semakin membaik. Dengan masih tetap terjaganya daya beli masyarakat dan membaiknya likuiditas perbankan maka laju pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan masih akan tetap terjaga yang ditopang oleh pertumbuhan kredit konsumer. Sementara pertumbuhan kredit komersil diperkirakan akan melambat seiring masih melekatnya risiko perlambatan ekonomi global yang berdampak pada penurunan eksport. Dengan kondisi tersebut diperkirakan kredit Bank Saudara yang ditopang oleh kredit konsumer masih akan melanjutkan trend pertumbuhannya. Perubahan kondisi likuiditas Bank dipengaruhi oleh arus dana masuk dan keluar. Kesenjangan arus dana diantisipasi dengan memelihara aset likuid tingkat pertama yang berupa pemeliharaan cadangan wajib serta efek-efek jangka pendek yang sangat likuid. Aset likuid tingkat dua dipelihara melalui penempatan dana jangka pendek di bank lain serta efek-efek dalam kelompok tersedia untuk dijual. Selain itu, Bank Saudara senantiasa memelihara kemampuannya untuk melakukan akses ke pasar uang, dengan memelihara hubungan dengan bank-bank koresponden.

Kemampuan untuk mendapatkan pendanaan dengan harga yang menarik saat ini karena Bank mengutamakan value dan brand Bank serta dukungan yang kuat dari Medco Group milik

pengusaha Arifin Panigoro. Value Bank yaitu sebagai bank swasta nasional yang memberikan layanan personal, kualitas layanan yang baik dan inovatif dan positioning sebagai bank yang bermain dalam ceruk pasar yang belum banyak digarap oleh perbankan lainnya.

Konsumen / nasabah simpanan Perseroan masih terkonsentrasi pada deposan besar dengan komposisi 70% dari seluruh dana pihak ketiga (DPK) yang dimiliki oleh Bank. Dengan kondisi tersebut perilaku nasabah sangat sensitif terhadap suku bunga deposito. Namun demikian, seiring membaiknya perekonomian domestik dan tren penurunan suku bunga mengakibatkan perubahan pada perilaku nasabah menjadi berorientasi pada produk dan pelayanan. Guna mengantisipasi hal tersebut, Bank mendirikan Personal Banking dimana khusus melayani nasabah dengan penempatan yang besar.

The ongoing crisis in various parts of the world, had brought negative influences to Indonesian economic condition in 2013. The country’s economy saw the weakest growth over the past three years: 6.50% in 2011, 6.23% in 2012 and 5.7% in 2013. This slowdown of Indonesian economic growth was reflected in several macro economic indicators

In line with the economic development in the Country, Indonesian banking liquidiy is expected to recover. With well- maintained public consumption and more liquid banking liquidity, the growth of banking loan is expected to remain well-maintained supported by the growth of consumer loans. Meanwhile, the growth of commecial loans is projected to go slower as there is still the risk of global economic slowdown impacting in a decline of export. Considering such conditions, Bank Saudara’s loans -- that is mainly supported by consumer loans -- will continue its recent trend of growth. The change in the Bank’s liquiity condition is affected by its inflow and outflow of funds. The gap in the funds has been anticipated by maintaining 1st tier liquid assets com including the maintenance of mandatory reserve as well as short-term liquid securities. The 2nd tier liquid assets are maintained by the placement of short-term funds in other banks and securities available-for-sale. In addition, Bank Saudara strives to maintain its capability in making available the access to the money markets by maintaining relations with correspondent banks.

Bank Saudara’s ability to obtain funds in best prices is because the Bank puts priority on value and brand along with the strong support from Medco Group owned by Arifin Panigoro. The Bank’s value is as a national private bank providing personal services, good and innovative quality service and its position as a bank engaging in a niche market other banks have not entered.

The bank’s consumers in funding are still concentrated on big depositors dominating 70% share of the Bank’s third party fund. With such conditions, the customer behavior is very sensitive to time deposit interest rate. However, inline with the recovery of the Country’s economy and the downward trend in interest rates, the customer behavior is changed to be more oriented to products and services. To anticipate, the Bank established Personal Banking that aims to specially serving the customers of big amount of placements. Meanwhile, the Bank’s financing is focused on the consumer retail of which the customers are

Sementara itu, kredit Bank fokus pada konsumer retail dengan nasabah yang lebih menyebar dan saingan yang belum terlalu ketat sehingga nasabah masih kurang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Namun, seiring masuknya beberapa kompetitor berakibat pada persaingan suku bunga. Guna mengantisipasi hal tersebut, Bank telah melakukan diversifikasi produk dengan meningkatkan kredit di segmen lain seperti kredit komersil UMKM.

Aktivitas pemasaran Bank lebih mengandalkan pada kemampuan distribusi yang dimiliki jaringan kantor cabang. Aktivitas pemasaran lainnya diantaranya melalui strategi kemitraan dan wholesale banking. Kemitraan yang telah dilakukan melalui lembaga pensiun antara lain bekerja-sama dengan PT ASABRI, PT Pos Indonesia, PT Taspen, sales agent untuk pendanaan, dan bank lain seperti Bank CIMB Niaga melalui kemitraan program Asset Sales (Penjualan Asset Kredit) portfolio Kredit Pegawai. Strategi Wholesale Banking yaitu pola kerjasama perkreditan dua tahap (two step loan) berupa Lingkage Program, asset buy, channeling dengan beberapa BPR , BMT dan Koperasi yang difokuskan untuk meraih portfolio UMKM. Salah satu pesaing utama saat ini tidak terlampau fokus di segmen konsumer/ pensiunan sehingga pasar yang bisa digarap oleh Bank Saudara masih cukup banyak. Pesaing baru yang bermain di segmen konsumer/ pensiunan mulai bertambah yang notabene merupakan bank besar dengan pricing kompetitif dan jaringan luas. Sementara itu, persaingan baik perkreditan maupun pendanaan masih sangat ketat dengan tingkat bunga yang kompetitif.

Naik turunnya pendapatan Bank lebih banyak dipengaruhi oleh ekspansi Aset Produktif khususnya kredit, berapa banyak cabang baru dibuka, berapa besar sumber dana dapat dihimpun, dan kebijakan suku bunga dari Bank Indonesia. Kredit yang dilakukan ditentukan dengan tertagih harus dibatalkan pada saat kredit diklasifikasikan non-performing. Pendapatan bunga atas kredit non-performing yang belum diterima dilaporkan sebagai tagihan kontinjensi dalam akun administratif. Pengembangan produk baru lebih dititikberatkan kepada diversifikasi produk baik produk pendanaan maupun produk bidang perkreditan. Diversifikasi produk baik bidang pendanaan maupun perkreditan akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan para nasabah. Diversifikasi produk baik bidang perkreditan maupun pendanaan akan lebih fokus kepada kebutuhan nasabah mikro/kecil yang akan dikemas secara khusus dan lebih simple.

Prospek Usaha Perusahaan

Company’s Business Prospects

spreaded wider and the competition is not too stiff so that the customers are not sensitive to the change in interest rates. However, new enter of competitors has resulted in the fierce competition in interest rates. In response to such condition, the Bank has diversified the products by increasing loans in other segments such as MSMEs and Commercial loans.

The Bank’s marketing activity depends more on the distributing ability of branch offices. Other marketing activities are conducted through partnership strategies and wholesale banking. The Bank has partnered with several pension instituions such as PT ASABRI, PT Pos Indonesia, PT Taspen, and sales agent for funding, and other banks such as CIMB Niaga though partnership in Asset Sales portfolio of Employees loans. Wholesale banking strategy is a two-step loan in the form of Linkage Program, asset buy, channeling with rural banks, BMT and cooperatives with a focus to achive MSME portfolio. One of Bank Saudara’s main contenders is currently not too focused on the consumer/retirement segment so that there are still many opportunities for the Bank in the market. More competitors, which incidentally are big banks,with competitive pricing and larger netwrok, started to enter this consumer/retirement segment. Meanwhile, competition in loan and financing is very tight with a competitive interest rates.

The ups and downs of the Company’s revenue is more influenced by the expansion of its productive assets particularly loans, the number of new branches opened, amount of the fund raising, and the interest rate policy set by Bank Indonesia. Loan disbursement determined by the collectible should be canceled when the loan is classified as non- performing. Interest income on non-performing loans that are not receivable will be recorded as a contingent receivables in the administrative account. New product development is more emphasized on product diversification both funding and lending. Product diversification both funding and lending will be done in accordance with the needs of our customers. Product diversification both lending and funding areas will be more focused on the needs of micro customers to be packaged specifically and more simple.

Dalam dokumen AR BANK SAUDARA 2013 (Halaman 126-128)