• Tidak ada hasil yang ditemukan

Competence (Kemampuan)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Pressure, Opportunity, Rationalization, Competence dan Arogance

2.3.4 Competence (Kemampuan)

Competence atau capability merupakan kemampuan atau keterampilan individu yang dimiliki oleh seseorang untuk mengabaikan internal control, memahami sistem dan mengetahui kelemahan suatu organisasi serta memanfaatkannya untuk melakukan kecurangan. Competence merupakan perluasan pada elemen dari opportunity yang meliputi kemampuan individu untuk mengesampingkan pengendalian internal dan untuk mengendalikan secara sosial situasi tersebut untuk keuntungan pribadinya. Fraud tidak akan terjadi tanpa keberadaan seseorang dengan kemampuan yang tepat untuk mengenali peluang sebagai sebuah kesempatan dan mengambil keuntungan tersebut.

Wolfe dan Hermanson (2004) menjelaskan sifat-sifat yang sangat penting yang berkaitan dengan elemen capability untuk menciptakan fraud, yaitu :

1. Posisi/fungsi seseorang dalam perusahaan (positioning) 2. Kecerdasan (intelligence and creativity)

3. Tingkat kepercayaan diri/ego (confident/ego) 4. Kemampuan pemaksa (coercion skills) 5. Kebohongan yang efektif (effective lying) 6. Kekebalan terhadap stres (immunity to stress) 2.3.5 Arogance (Arogansi)

Arogance merupakan sifat kurangnya hati nurani, adanya sikap superioritas dan keserakahan dalam diri seseorang yang menganggap bahwa pengendalian internal atau kebijakan dan prosedur perusahaan tidak dapat

diberlakukan untuknya secara pribadi. Tingkat arogansi yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya kecurangan karena arogansi yang dimiliki seorang CEO dapat membuatnya melakukan cara apapun untuk mempertahankan posisi dan kedudukan yang dimiliki sekarang. Seorang CEO biasanya lebih ingin menunjukkan kepada publik akan status dan posisi yang dimilikinya dalam sebuah perusahaan karena tidak ingin kehilangan status atau posisi tersebut. Arogance bisa berdampak buruk kepada perusahaan dan seseorang, karena bisa menghancurkan karir atau perusahaan tersebut.

Howarth (2011) mengemukakan bahwa ada lima elemen dari arogance dari perspektif CEO, sebagai berikut (Yusof et al., 2015) :

a. Ego besar – CEO terlihat seperti selebritu daripada seorang pengusaha b. Mereka menganggap pengendalian internal tidak berlaku untuk dirinya c. Memiliki karakterisktik perilaku pengganggu

d. Memiliki kebiasaan memimpin secara otoriter

e. Memiliki ketakutan akan kehilangan posisi, kedudukan atau status 2.4 PENELITIAN TERDAHULU

No Nama Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Skousen et al.

Faktor resiko fraud triangle yaitu pressure dan opportunity memiliki

Terdapat satu variabel masuk ke dalam model (variabel in equation) yaitu audit report sebagai proksi dari rasionalisasi.

Hal ini berarti bahwa semakin tinggi nilai audit report (rationalization), maka probabilitas perusahaan melakukan fraud

3. Sihombing dan target, innefective monitoring, change in auditor, dan capability yang diproksikan dengan perubahan direksi memiliki variabel external pressure (LEV) dan rationalization (TATA) terbukti financial need (OSHIP), nature of industry (RECEIVABLE), ineffective monitoring (DBOUT), change in auditor (∆CPA) dan capability (DCHANGE)

Opportunity Quality of external audit tidak berpengaruh terhadap financial statement fraud. Rationalization; change auditor berpengaruh terhadap financial statement fraud. Competence; change of directors berpengaruh terhadap financial statement fraud Arrogance; frequency numbers of CEO’s picture berpengaruh terhadap financial statement fraud

Variabel change of auditor dan auditor opinion berpengaruh terhadap financial statement fraud. Sedangkan financial target, financial stability, external pressure, institutional share ownership, ineffectiveness of supervision, quality of external auditor, change of board of directors, frequency of appearance of CEO tidak berpengaruh terhadap financial statement fraud.

appearance of CEO, financial targets, external pressure dan financial personal need berpengaruh terhadap financial statement fraud.

Sedangkan variabel financial stability, ineffective monitoring, nature of industry, opini audit dan perubahan direksi tidak berpengaruh terhadap terdapat satu variabel yang berpengaruh terhadap fraudulent financial reporting yaitu Financial targets. Variabel Financial stability, External pressure, Personal financial needs, Nature of industry, Ineffective monitoring, Quality of external auditor, Change in auditor, Change of directors, Frequent number of CEO’s pictures tidak berpengaruh nature of industry, rationalization yang diproksikan dengan auditor changes dan capability yang diproksikan dengan signifikan, sedangkan rasionalisasi, kemampuan, dan arogansi tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan pelaporan keuangan pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017

2.5 KERANGKA KONSEPTUAL

Laporan keuangan hendaknya dapat menyajikan informasi yang andal dan reliable. Akan tetapi, terdapat salah saji dalam laporan keuangan. Salah saji dalam laporan keuangan terdiri dari kekeliruan (error) dan kecurangan (fraud). Fokus pada penelitian ini adalah salah saji dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh adanya kecurangan (fraud). Kecurangan ini sengaja dilakukan untuk menipu para investor dan kreditur untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan perusahaan. Untuk mengindikasi adanya kecurangan pada laporan keuangan ada beberapa teori yaitu dengan fraud triangle, fraud diamond dan fraud pentagon.

Penelitian ini mendeteksi adanya kecurangan laporan keuangan dengan fraud pentagon. Fraud pentagon dikemukakan oleh Crowe Howarth pada tahun 2011 memiliki lima elemen yaitu pressure, opportunity, rationalization, competence dan arogance.

Elemen-elemen fraud pentagon tersebut tidak dapat secara langsung digunakan dalam penelitian. Sehingga diperlukan variabel proksi agar lebih mudah diteliti (Skousen et al., 2009). Penelitian ini menggunakan lima variabel proksi independen. Elemen pressure diproksikan dengan financial target. Elemen opportunity diproksikan dengan nature of industry. Elemen rationalization diproksikan dengan change in auditor. Elemen competence diproksikan dengan change of director. Elemen arogance diproksikan dengan frequent number of CEO’s picture. Hal tersebut disebabkan adanya penyesuaian dengan data laporan keuangan perusahaan yang tersedia untuk penelitian. Selanjutnya, variabel

dependen penelitian, yaitu financial statement fraud yang diproksikan dengan manajemen laba dan dapat diukur dengan discretionary accruals model.

Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan sebelumnya, kerangka konseptual dalam penelitian ini sebagai berikut:

Gambar 2.4 Kerangka Konseptual

2.6 HIPOTESIS PENELITIAN

2.6.1 Pengaruh Pressure terhadap Financial Statement Fraud

Pressure (tekanan) merupakan dorongan seseorang untuk melakukan kecurangan (fraud). Tekanan muncul karena kebutuhan atau masalah finansial, tetapi banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan. American Institute of Certified Public Accountant (2002) menyatakan bahwa manajer mengalami tekanan untuk melakukan kecurangan karena profitabilitas perusahaan terancam

Ha1

Arogance (X5) Pressure (X1)

Opportunity (X2)

Rationalization (X3)

Competence (X4)

Financial Statement

Fraud (Y)

Ha5

Ha2

Ha3

Ha4

Ha6

dari kondisi ekonomi, industri, dan situasi lainnya. Dalam penelitian ini, pressure diproksikan dengan financial target. Financial target atau target keuangan adalah target jangka pendek perusahaan berkaitan dengan pencapaian laba (profitabilitas) dalam jumlah tertentu. Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) adalah rasio atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan, aset, dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu. Jenis-jenis rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan yang memengaruhi catatan atas laporan keuangan yang harus sesuai dengan standar akuntansi keuangan.

Menurut SAS No.99, financial target merupakan suatu risiko akibat adanya tekanan yang kuat kepada manajemen dalam mencapai target keuangan yang didasarkan pada ketentuan manajemen atau direksi termasuk di dalamnya penentuan bonus dan insentif yang akan diterima oleh karyawan. Financial target dapat diukur dengan NPM (net profit margin). Net profit margin atau margin laba bersih merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase laba bersih yang didapat setelah dikurangi pajak terhadap pendapatan yang diperoleh dari penjualan. Margin laba bersih ini disebut juga profit margin ratio. Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan.

Semakin tinggi rasio NPM sebuah perusahaan maka dapat menggambarkan bahwa perusahaan dapat menetapkan tingkat harga barang dengan tepat dan mampu mengendalikan biaya produksi dan juga dapat digunakan

karena memiliki lingkungan dan basis pelanggan yang sama. Warren Buffet berkata, “Perusahaan yang menarik adalah yang menikmati margin laba yang tinggi dan menghasilkan keuntungan kas untuk pemiliknya. Daya tarik ini berlanjut jika laba bersih perusahaan memberikan keuntungan tinggi pada ekuitas perusahaan.”

Semakin tinggi NPM yang ditargetkan perusahaan, maka semakin rentan manajemen melakukan manipulasi laba yang menjadi salah satu bentuk kecurangan sehingga memiliki pengaruh dengan kecurangan laporan keuangan.

Penelitian yang dilakukan Nugraheni dan Triatmoko (2017) membuktikan bahwa pressure yang diproksikan dengan financial target merupakan bentuk dari kinerja perusahaan dan mempengaruhi terjadinya financial statement fraud.

Ha1 : Pressure berpengaruh terhadap financial statement fraud

2.6.2 Pengaruh Opportunity terhadap Financial Statement Fraud

Kesempatan adalah peluang seseorang untuk melakukan kecurangan (fraud). Menurut Priantara dalam Ulfah et al. (2017) pelaku fraud percaya bahwa aktivitas mereka tidak akan terdeteksi. Dalam penelitian ini, opportunity diproksikan dengan nature of industry. Nature of industry merupakan keadaan atau kondisi ideal suatu perusahaan dalam industri. Pada laporan keuangan terdapat akun-akun tertentu yang besarnya saldo ditentukan oleh perusahaan berdasarkan suatu estimasi, misalnya akun piutang tak tertagih dan akun persediaan usang (Triatmoko, 2017).

Perusahaan yang baik memiliki persediaan yang tidak terlalu tinggi, karena apabila perusahaan tersebut memiliki persediaan yang terlalu tinggi berarti penjualan pada suatu perusahaan menjadi rendah dan akan mengganggu jalannya kegiatan operasional perusahaan karena rendahnya dana yang masuk pada perusahaan yang mengakibatkan menurunnya kemampuan perusahaan dalam membayar hutang-hutangnya yang semestinya dapat digunakan untuk ekspansi atau memperbaiki kegiatan operasional perusahaan dikarenakan penjualan yang rendah.

Penelitian Nugraheni dan Triatmoko (2017) menyatakan bahwa opportunity dengan proksi nature of industry mempunyai pengaruh terhadap financial statement fraud. Namun, penelitian Yesiariani dan Rahayu (2016) tidak mendukung hipotesis yang diajukan.

Ha2 : Opportunity berpengaruh terhadap financial statement fraud

2.6.3 Pengaruh Rationalization terhadap Financial Statement Fraud

Rasionalisasi terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas aktivitasnya yang mengandung fraud. Para pelaku fraud menganggap perilaku tersebut etis karena merupakan haknya yang telah berjasa banyak untuk perusahaan (Priantara dalam Ulfah et al. 2017). Rasionalisasi (rationalization) diproksikan dengan perubahan akuntan publik (auditor) (change in auditor) karena adanya upaya penghapusan jejak audit tentang ditemukannya fraud pada audit sebelumnya. Selanjutnya, perusahaan melakukan perubahan auditor untuk menutupi risiko kecurangan yang dilakukan sehingga kemungkinan diketahui oleh

auditor menjadi kecil karena auditor baru belum memahami kondisi perusahaan dengan baik (PCAOB dalam Auditing Standards 2401, 2017:241). Dalam SAS No.99 (AICPA, 2002) menyatakan bahwa pengaruh adanya pergantian auditor dalam perusahaan dapat menjadi indikasi terjadinya kecurangan. Auditor yang lama mungkin lebih dapat mendeteksi segala kemungkinan kecurangan yang dilakukan oleh manajemen, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Namun, dengan adanya pergantian auditor, maka kemungkinan terjadinya kecurangan akan semakin meningkat (Yesiariani dan Rahayu, 2016).

Pernyataan tersebut didukung hasil penelitian yang dilakukan Yesiarani dan Rahayu (2016) yang menyatakan bahwa rasionalisasi yang diproksikan dengan change in auditor berpengaruh positif terhadap financial statement fraud.

Pergantian auditor pada perusahaan dapat dinilai sebagai suatu upaya dalam menghapus jejas kecurangan yang ditemukan oleh auditor sebelumnya.

Ha3 : Rationalization berpengaruh terhadap financial statement fraud

2.6.4 Pengaruh Competence terhadap Financial Statement Fraud

Competence artinya seberapa besar daya dan kapasitas dari seseorang untuk melakukan fraud dilingkungan perusahaan. Competence dapat menunjang seseorang dalam melakukan kecurangan, karena kemampuan mempunyai peran penting dalam pribadi seseorang untuk melakukan kecurangan. Proksi dari competence adalah change of director (pergantian direksi). Pergantian direksi merupakan salah satu upaya perusahaan untuk mengganti direksi pada seseorang yang dianggap lebih kompeten. Akan tetapi disisi lain, pergantian direksi

dimaksudkan sebagai salah satu cara untuk menutupi fraud yang telah dilakukan oleh manajer. Wolfe dan Hermanson (2004) mengemukakan bahwa perubahan direksi mampu menyebabkan stress period yang berdampak pada semakin terbukanya peluang untuk melakukan fraud. Pergantian susunan direksi ini juga dapat mengindikasikan suatu kepentingan politik tertentu untuk menggantikan jajaran direksi sebelumnya. Selain itu, pergantian susunan direksi juga dianggap sebagai upaya dalam mengurangi efektivitas kinerja manajemen karena memerlukan waktu lebih untuk dapat beradaptasi dengan budaya kerja direksi baru (Sihombing dan Rahardjo, 2014).

Hal ini didukung dengan penelitian Devy, dkk. (2017) yang menyatakan bahwa pergantian direksi memiliki pengaruh terhadap terjadinya kecurangan.

Namun, hal ini tidak sejalan dengan penelitian Sihombing dan Rahardjo (2014).

Ha4 : Competence berpengaruh terhadap financial statement fraud

2.6.5 Pengaruh Arogance terhadap Financial Statement Fraud

Variabel arogance yang diproksikan dengan frequent number of CEO’s pictures merupakan jumlah foto CEO yang terpampang pada laporan tahunan perusahaan. Banyaknya foto CEO yang terpampang dalam sebuah laporan tahunan perusahaan dapat merepresentasikan tingkat arogansi atau superioritas yang dimiliki CEO tersebut. Seorang CEO cenderung lebih ingin menunjukkan kepada semua orang akan status dan posisi yang dimilikinya dalam perusahaan karena mereka tidak ingin kehilangan status atau posisi tersebut (atau merasa tidak dianggap), hal ini sesuai dengan salah satu elemen yang dipaparkan oleh

Crowe (2011) dalam Tessa dan Harto (2016). Arrogance dapat memicu terjadinya financial statement fraud dengan cara menggunakan dan memanfaatkan wewenang yang dimiliki. Internal control system apapun tidak bisa membatasi tindakan dan perilaku seorang CEO karena kekuasaan yang dimiliki (Siddiq, et al, 2017).

Penjelasan tersebut didukung oleh penelitian Siddiq et al (2017) menyatakan bahwa frequency numbers of CEO’s pictures berpengaruh terhadap financial statement fraud. Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Tessa dan Harto (2016) yang menyatakan bahwa frequent number of CEO’s pictures (CEOPIC) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap financial statement fraud.

Ha5 : Arogance berpengaruh terhadap financial statement fraud

2.6.6 Pengaruh Pressure, Opportunity, Rationalization, Competence dan Arogance terhadap Financial Statement Fraud

Berdasarkan uraian diatas diajukan hipotesis keenam sebagai berikut:

Ha6 : Pressure, opportunity, rationalization, competence dan arogance berpengaruh terhadap financial statement fraud

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian asosiatif kausal dimana peneliti akan mencoba membuktikan adanya pengaruh antara variabel independen dan dependen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pressure, opportunity, rationalization, competence dan arogance terhadap financial statement fraud.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan sub sektor property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2018. Data diperoleh dari website Indonesian Stock Exchange (IDX) melalui situs resmi www.idx.co.id yang berupa laporan keuangan perusahaan yang akan diteliti.

3.3 Batasan Operasional

Batasan operasional dilakukan agar penelitian dan pembahasannya lebih terarah, sehingga hasilnya sesuai dengan harapan peneliti. Adapun ruang lingkup penelitiannya adalah (1) variabel independen penelitian, yaitu financial target, nature of industry, change in auditor, change of director dan frequent number of CEO’s picture. (2) variabel dependen penelitian ini ialah financial statement fraud. (3) perusahaan yang diteliti adalah perusahaan sub sektor property dan real estate yang terdaftar di BEI tahun 2015-2018.

3.4 Definisi Operasional 3.4.1 Variabel Dependen

Variabel dependen atau variabel terikat adalah variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen atau variabel bebas (Sekaran, 2006).

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah financial statement fraud.

Kecurangan laporan keuangan adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan oleh perusahaan untuk mengecoh pengguna laporan keuangan dengan merekayasa nilai material dari laporan keuangan dengan penyajian yang tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Kecurangan laporan keuangan diukur dengan proksi manajemen laba, karena manajemen laba merupakan suatu tindakan yang disengaja untuk memanipulasi informasi yang ada dalam laporan keuangan, sebagaimana digunakan oleh (Sihombing & Rahardjo, 2014).

Manajemen laba dapat diukur dengan discretionary accrual (DACC) dengan cara menghitung selisih total accruals (TACC) dan nondiscretionary accruals (NDACC). Discretionary accruals (DACC) merupakan tingkat akrual yang tidak normal yang berasal dari kebijakan - kebijakan manajemen dalam melakukan perekayasaan laba sesuai dengan yang mereka inginkan. Dalam menghitung DACC, digunakan Modified Jones Model. Model Modified Jones yang merupakan perkembangan dari model Jones dapat mendeteksi manajemen laba lebih baik dibandingkan dengan model-model lainnya sejalan dengan hasil penelitian Dechow et al. (1995) dalam Ujiyantho dan Pramuka (2007).

Mengukur discretionary accruals, pertama menghitung i di tahun t dengan metode modifikasi Jones yaitu:

TAC it = Niit – CFOit ……….…(1) Dimana,

TAC it = Total akrual Niit = Laba Bersih CFOit = Arus kas Operasi

Nilai total accrual (TAC) diestimasi dengan persaman regresi OLS sebagai berikut:

TACit/Ait-1 = β1(1/Ait-1)+β2(ΔRevt/Ait-1)+β3(PPEt/Ait-1)+e... (2)

Dengan menggunakan koefisien regresi diatas, nilai non discretionary accrual (NDA) dapat dihitung dengan rumus :

NDAit = β1(1/Ait-1)+β2(ΔRevt/Ait-1-ΔRect/Ait-1)+β3(PPEt/Ait-1)…... (3)

Selanjutnya discretionary accrual (DA) dapat dihitung sebagai berikut:

DAit = TACit/Ait-NDAit ... (4)

Dimana:

DAit = Discretionary Accruals perusahaan i pada periode ke t NDAit = Non Discretionary Accruals perusahaan i pada periode ke t TACit = Total akrual perusahaan i pada periode ke t

Niit = Laba bersih perusahaan i pada periode ke t

CFOit = Aliran kas dari aktivitas operasi perusahaan i pada periode ke t Ait-1 = Total aktiva perusahaan i pada periode ke t-1

Δrevt = Perubahan pendapatan perusahaan i pada periode ke t PPEt = Aktiva tetap perusahaan pada periode ke t

Δrect = Perubahan piutang perusahaan i pada periode ke t E = error

3.4.2 Variabel Independen

Variabel independen pada penelitian ini adalah pressure yang diproksikan dengan financial target dan diukur dengan Net Profit Margin (NPM), Opportunity yang diproksikan dengan Nature of Industry dan diukur dengan Rasio Piutang Usaha (Receivable), Rationalization yang diproksikan dengan Change in Auditor atau Pergantian Akuntan Publik (ΔCPA), Competence yang diproksikan dengan Change of Director atau Perubahan Direksi (DCHANGE) dan Arogance yang diproksikan dengan Frequent Number of CEO’s Picture yaitu banyaknya jumlah profil CEO yang dimunculkan dalam annual report (CEOPIC).

3.4.2.1 Pressure diproksikan dengan Financial Target

Dalam menjalankan aktivitasnya, manajer mengalami tekanan untuk melakukan kecurangan karena profitabilitas perusahaan terancam dan perusahaan seringkali mematok besaran tingkat laba yang harus diperoleh atas usaha yang dikeluarkan untuk mendapatkan laba tersebut, kondisi inilah yang disebut financial target. Salah satu pengukurannya adalah NPM. Semakin tinggi rasio NPM sebuah perusahaan maka dapat menggambarkan bahwa perusahaan dapat menetapkan tingkat harga barang dengan tepat dan mampu mengendalikan biaya produksi dan juga dapat digunakan untuk membandingkan keuntungan kompotitor yang memiliki produk yang sama karena memiliki lingkungan dan basis pelanggan yang sama. Perbandingan total jumlah laba bersih dengan total jumlah pendapatan perusahaan (NPM) adalah ukuran kinerja operasional yang banyak digunakan untuk menunjukkan seberapa efisien perusahaan telah bekerja. NPM dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

NPM =

3.4.2.2 Opportunity diproksikan dengan Nature of Industry

Nature of industry merupakan keadaan atau kondisi ideal suatu perusahaan dalam industri. Akun piutang dan persediaan memerlukan penilaian subjektif dalam memperkirakan tidak tertagihnya piutang dan obsolete inventory. Dengan adanya penilaian subjektif dalam menentukan nilai dari akun tersebut, manajemen dapat menggunakan akun tersebut sebagai alat untuk manipulasi laporan keuangan. (Summers dan Sweeney, 1998). Argumen ini didukung oleh Loebbecke et al. (1989), yang menemukan bahwa akun piutang dan persediaan terlibat dalam sejumlah besar fraud dalam sampel mereka. Rasio total piutang dihitung dengan rumus yang digunakan Skousen (2009) yaitu:

Receivable = t

t t-1

t-1

3.4.2.3 Rationalization diproksikan dengan Change in Auditor

Pergantian auditor merupakan kegiatan dimana perusahaan mengganti auditor eksternal untuk mengaudit perusahaannya. Pergantian auditor pada suatu perusahaan dapat dinilai sebagai suatu upaya untuk menghilangkan jejak fraud (fraud trail) yang ditemukan oleh auditor sebelumnya. Auditor yang lama mungkin lebih dapat mendeteksi segala kemungkinan kecurangan yang dilakukan oleh manajemen, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Namun, dengan adanya pergantian auditor, maka kemungkinan terjadinya kecurangan akan semakin meningkat. Oleh karena itu, penelitian ini memproksikan Rationalization dengan pergantian auditor (∆CPA) yang diukur dengan variabel

dummy dimana apabila terdapat perubahan auditor selama periode 2015-2018 maka diberi kode 1, sebaliknya apabila tidak terdapat perubahan auditor selama periode 2015-2018 maka diberi kode 0.

3.4.2.4 Competence diproksikan dengan Change of Director

Competence adalah kemampuan/daya yang dimiliki seseorang untuk melakukan kecurangan di dalam perusahaan. Posisi eksekutif dalam perusahaan dapat menjadi faktor penentu terjadinya kecurangan, dengan memanfaatkan posisi yang dimilikinya para eksekutif dapat memengaruhi orang lain guna memperlancar tindakan kecurangannya. Pergantian direksi merupakan salah satu upaya perusahaan untuk mengganti direksi pada seseorang yang dianggap lebih kompeten. Kaitan antara pergantian direksi dengan financial statement fraud adalah sebagai upaya menyingkirkan direksi yang dinilai mengetahui adanya fraud sehingga para manajer yang melakukan fraud akan merasa aman. Selain itu, adanya pergantian direksi juga dapat mengungkap kecurangan yang selama ini telah terjadi di perusahaan. Penelitian ini menilai variabel independen pergantian direksi dengan memberikan skor 1 untuk perusahaan yang melakukan pergantian direksi dan memberikan skor 0 untuk perusahaan yang tidak melakukan pergantian direksi.

3.4.2.5 Arogance diproksikan dengan Frequent Number of CEO’s Picture Arogance merupakan sifat kurangnya hati nurani, adanya sikap superioritas dan keserakahan dalam diri seseorang yang menganggap bahwa pengendalian internal atau kebijakan dan prosedur perusahaan tidak dapat

kepada seorang yang memiliki jabatan tinggi dalam sebuah perusahaan. Penelitian dari Tessa dan Harto (2016) mengemukakan bahwa seorang CEO cenderung lebih ingin menunjukkan kepada semua orang akan status dan posisi yang dimilikinya dalam perusahaan karena mereka tidak ingin kehilangan status atau posisi tersebut. Variabel arogance dengan proksi jumlah foto CEO yang terdapat dalam sebuah laporan tahunan berpengaruh signifikan terhadap pendeteksian fraudulent financial statement. Berdasakan hal tersebut, penelitian ini menggunakan proksi sebagai berikut:

CEOPIC = Total foto CEO yang terpampang dalam sebuah laporan tahunan

3.5 Skala Pengukuran Variabel

Tabel 3.1

Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel

Variabel Variabel

Penelitian Definisi Operasional Indikator Skala

Dependen Financial

(∆CPA) mengandung fraud, diproksikan dengan change in auditor.

1 : Terjadi pergantian auditor

Competence

0 : Tidak terjadi pergantian direksi 1 : Terjadi pergantian direksi

Nominal

Total foto CEO yang terpampang dalam sebuah laporan tahunan

Nominal

3.6 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2018). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan sub sektor property dan real estate yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2015-2018.

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2018). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan sub sektor property dan real estate yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2015-2018.

Dokumen terkait