• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

BAB I PENDAHULUAN

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.2 Manfaat Penelitian

Sejalan dengan tujuan penelitian di atas, maka kegunaan penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Bagi akademisi, memberikan sumber referensi terbaru penelitian analisis pengaruh indikator fraud pentagon dalam mendeteksi terjadinya kecurangan laporan keuangan.

2. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan mampu memberikan bahan untuk pengambilan kebijakan berkaitan dengan pencegahan tindakan kecurangan keuangan.

3. Bagi investor, penelitian ini memberikan sumbangan pemikiran bagi investor terkait pertimbangan dalam memilih perusahaan agar terhindar dari kerugian, yang berupa pendeteksian kecurangan laporan keuangan menggunakan fraud pentagon.

4. Bagi peneliti, adanya penelitian ini memberi manfaat besar bagi peneliti diantaranya pengetahuan lebih mendalam mengenai pendeteksiaan financial statement fraud.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 LANDASAN TEORI

2.1.1 Teori Kepatuhan (Compliance Theory)

Kepatuhan berasal dari kata patuh, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, patuh artinya suka dan taat kepada perintah atau aturan, dan berdisiplin. Kepatuhan berarti sifat patuh, taat, tunduk pada ajaran atau peraturan.

Dalam kepatuhan yang dinilai adalah ketaatan semua aktivitas sesuai dengan kebijakan, aturan, ketentuan dan undang-undang yang berlaku. Sedangkan kepatutan lebih pada keluhuran budi pimpinan dalam mengambil keputusan. Jika melanggar kepatutan belum tentu melanggar kepatuhan.Selain itu, kepatuhan menentukan apakah pihak yang diaudit telah mengikuti prosedur, standar, dan aturan tertentu yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Hal ini bertujuan untuk menentukan apakah yang diperiksa sesuai dengan kondisi, peratuan, dan undang-undang tertentu. Adanya kepatuhan ini juga dapat mengakibatkan individu melakukan hal-hal yang tidak etis sesuai otoritas atasannya.

Menurut Tyler (1990) dalam Soleh (2003) terdapat dua perspektif dasar mengenai kepatuhan hukum yaitu instrumental dan normatif. Perspektif instrumental berarti individu oleh kepentingan pribadi dan tanggapan terhadap perubahan yang berhubungan dengan perilaku. Perspektif normatif berhubungan dengan moral dan berlawanan dengan kepentingan pribadi mereka. Seseorang lebih cenderung patuh pada hukum yang dianggap sesuai dan konsisten dengan

norma-normal internal mereka. Komitmen normatif melalui moralitas personal (normative commitment through morality) berarti patuh pada hukum karena hukum dianggap suatu keharusan, sedangkan komitmen normatif melalui legitimasi (normative commitment through legitimacy) berarti patuh pada peraturan karena otoritas penyusun hukum yang memiliki hak untuk mendikte perilaku (Sudaryanti, 2008 dalam Sulistyo, 2010).

2.1.2 Fraud Theory 2.1.2.1 Fraud Triangle

Fraud triangle adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh Donald R.

Cressey pada tahun 1953. Teori ini menjelaskan alasan mengapa seseorang melakukan fraud. Ia melakukan penelitian dengan mewawancarai 200 orang yang didakwa melakukan fraud. Penelitian Cressey diterbitkan dengan judul “Other’s People Money : A Study in the Social Psychology of Embezzelent”. Dari penelitiannya, Cressey mengungkapkan ada tiga faktor yang menyebabkan seseorang melakukan kecurangan, yaitu pressure (tekanan), opportunity (kesempatan) dan rationalization (pembenaran).

Bentuk fraud triangle digambarkan sebagai berikut : Gambar 2.1 Fraud Triangle

Pressure

Opportunity Rationalization

2.1.2.2 Fraud Diamond

Fraud diamond merupakan bentuk penyempurnaan dari teori fraud triangle oleh Cressey (1953). Teori Fraud Diamond adalah teori yang menunjukkan hubungan antara empat elemen yaitu pressure (dorongan), opportunity (kesempatan), rationalization (pembenaran), dan capability (kemampuan). Wolfe dan Hermanson (2004) mempertimbangkan elemen keempat yaitu individual’s capability. Teori ini berpendapat bahwa sifat dan kemampuan yang dimiliki seseorang yang berperan dalam sebuah organisasi juga dapat menghadirkan adanya fraud diluar dari elemen dalam segitiga penipuan.

Bentuk fraud diamond diagmbarkan sebagai berikut : Gambar 2.2 Fraud Diamond

Pressure Opportunity

Rationalization Capability

2.1.2.3 Fraud Pentagon

Seiring dengan perkembangan zaman, teori fraud juga mengikuti perubahan. Penelitian terbaru yang mengupas lebih dalam tentang faktor pemicu fraud dilakukan oleh Crowe Howarth pada tahun 2011, yaitu teori fraud pentagon. Teori ini merupakan perluasan dari teori fraud triangle oleh Cressey (1953) dan fraud diamond oleh Wolfe dan Hermanson (2004). Crowe

menambahkan dua penyebab fraud yaitu competence (kompetensi) dan arogance (arogansi).

Secara umum, definisi competence yang dipaparkan dalam fraud pentagon memiliki makna yang sama dengan capability dalam fraud diamond. Competence merupakan perluasan dari elemen opportunity dimana individu memiliki kemampuan dalam mengabaikan pengendalian internal, mengatur sesuai kedudukan sosialnya dan mengambil keuntungan pribadi dalam situasi tersebut.

Sedangkan arogance merupakan sifat kurangnya hati nurani, adanya sikap superioritas dan keserakahan dalam diri seseorang yang menganggap bahwa pengendalian internal atau kebijakan dan prosedur perusahaan tidak dapat diberlakukan untuknya secara pribadi.

Gambar 2.3 Fraud Pentagon

Rationalization Competence

Opportunity Arrogance

Pressure

2.2 Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud)

Kecurangan laporan keuangan adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan oleh perusahaan untuk mengecoh pengguna laporan keuangan dengan merekayasa

nilai material dari laporan keuangan dengan penyajian yang tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.

Menurut American Institute Certified Public Accountant (ICPA, 2002), kecurangan laporan keuangan adalah tindakan kelalaian yang disengaja yang berakibat pada salah saji material untuk menyesatkan pengguna laporan keuangan.

Menurut Australian Auditing Standards (AAS), kecurangan pelaporan keuangan merupakan suatu kelalaian maupun penyalah sajian yang disengaja dalam jumlah tertentu atau pengungkapan dalam pelaporan keuangan untuk menipu para pengguna laporan keuangan (Mc, 2007). Kecurangan laporan keuangan menurut Arens et al. ( 2012 ) adalah salah saji yang disengaja atau penghilangan jumlah atau pengungkapan dengan maksud untuk menipu para pengguna laporan keuangan. Kecurangan laporan keuangan merupakan salah saji (misstatement) baik overstatement maupun understatements. Overstatement berarti menyajikan aset atau pendapatan lebih tinggi dari yang sebenernya. Kedua, understatement berarti sebaliknya yaitu menyajikan aset atau pendapatan lebih rendah dari yang sebenarnya (Tuanakotta,2012).

Menurut SAS No. 99, financial statement fraud digolongkan ke dalam tiga kelompok sebagai berikut :

1. Manipulasi, pemalsuan atau penggantian catatan akuntansi serta dokumen yang menjadi pendukung dasar penyajian laporan keuangan.

2. Kesalahan dalam penyajian laporan keuangan yang dilakukan dengan sengaja untuk menghilangkan suatu transaksi dan informasi terkait laporan keuangan.

3. Kesalahan penerapan prinsip akuntansi yang dilakukan dengan sengaja berkaitan dengan jumlah klasifikasi.

Menurut Tayloasr (2004) dalam Norbarani (2012) pelaku financial statement fraud diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama, yaitu :

a. Senior manajemen (CEO, CFO, dan lain-lain). CEO terlibat fraud pada tingkat 72%, sedangkan CFO pada tingkat 43%.

b. Karyawan tingkat menengah dan tingkat rendah. Karyawan ini bertanggungjawab pada anak perusahaan, divisi, atau unit lain dan mereka dapat melakukan kecurangan pada laporan keuangan untuk melindungi kinerja mereka yang buruk atau untuk mendapatkan bonus berdasarkan hasil kinerja yang lebih tinggi.

Menurut Zimbleman et al (2014), fraud diklasifikasikan menjadi enam jenis yang digambarkan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 2.1 Jenis-jenis fraud

Jenis Fraud Pelaku Korban Penjelasan

Employee Embezzlement

Pegawai dalam organisasi

Pemilik perusahaan

Pegawai yang

menggunakan posisinya untuk mengambil atau mengalihkan asset yang dimiliki perusahaan

Vendor Fraud Pemasok, tempat

Perseorangan Investor Melakukan kebohongan investasi dengan menanam

Setiap kali ada pohak yang mencoba mengambil Sumber : Zimbleman et. al (2014)

2.3 Pressure, Opportunity, Rationalization, Competence dan Arogance 2.3.1 Pressure (Tekanan)

Pressure merupakan dorongan seseorang untuk melakukan kecurangan (fraud). Pada umumnya seseorang melakukan kecurangan karena memiliki tekanan finansial seperti banyaknya tagihan dan utang, keserakahan, standar hidup yang tinggi dan kebutuhan hidup yang tak terduga. Ada pula tekanan beban non keuangan yaitu tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan karena adanya ketidakadilan sehingga membuat seseorang melakukan fraud untuk mendapatkan

imbalan atas hasil kerjanya. Dan yang terakhir adalah tekanan untuk memenuhi kebiasaan buruk seperti berjudi, alkohol dan obat-obat terlarang.

Dalam Skousen et al. (2008) terdapat beberapa kondisi terkait dengan tekanan yang mengakibatkan seseorang untuk melakukan kecurangan menurut SAS No. 99, yaitu financial stability (stabilitas keuangan), financial target (target keuangan), external pressure (tekanan eksternal) dan personal financial need (kebutuhan keuangan pribadi).

2.3.2 Opportunity (Peluang/kesempatan)

Opportunity adalah peluang yang memungkinkan seseorang untuk melakukan suatu kecurangan. Opportunity merupakan elemen yang paling mendasari terjadinya kecurangan. Para pelaku fraud percaya bahwa tindakan mereka tidak akan terdeteksi sehingga seseorang tanpa tekanan sekalipun dapat melakukan kecurangan karena adanya kesempatan, meskipun sebelumnya tidak memiliki motif untuk melakukan fraud.

Hal ini disebabkan karena pengawasan yang tidak efektif (ineffective monitoring) dari manajemen, lemahnya pengendalian internal pada suatu perusahaan, atau penyalahgunaan wewenang. Selain itu opportunity juga terjadi karena lingkungan industri (nature of industry) dimana kondisi tersebut menyediakan peluang untuk melakukan kecurangan dalam laporan keuangan.

2.3.3 Rationalization (Rasionalisasi/pembenaran)

Rasionalisasi adalah tindakan seseorang untuk mencari pembenaran atas kecurangan yang dilakukannya, untuk tetap mempertahankan reputasinya sebagai orang yang dipercaya. Para pelaku kecurangan merasa bahwa perbuatannya bukan suatu pelanggaran tetapi sesuatu yang memang haknya karena ia merasa telah berjasa untuk perusahaan tersebut. Setelah melakukan fraud, rasionalisasi ini ditinggalkan karena sudah tidak dibutuhkan lagi. Menurut SAS No.99 rasionalisasi pada perusahaan dapat diukur dengan siklus pergantian auditor, opini audit yang diberikan kepada perusahaan tersebut serta keadaan total akrual dibagi dengan total aktiva. Perubahan akuntan publik bertujuan untuk penghapusan jejak audit agar fraud pada audit sebelumnya tidak ditemukan dan untuk menutupi resiko kecurangan sehingga kecil kemungkinan auditor mengetahui kecurangan yang dilakukan karena auditor baru belum memahami kondisi perusahaan dengan baik. (Siddiq et al., 2017)

Karyono (2013) berpendapat bahwa pelaku kecurangan mencari pembenaran antara lain (Ulfah, dkk., 2017) :

a. Pelaku menganggap bahwa yang dilakukan sudah merupakan hal yang biasa/wajar dilakukan oleh orang lain pula.

b. Pelaku merasa berjasa besar terhadap organisasi dan seharusnya ia menerima lebih banyak dari yang telah diterimanya.

c. Pelaku menganggap tujuannya baik yaitu untuk mengatasi masalah, nanti akan dikembalikan.

2.3.4 Competence (Kemampuan)

Competence atau capability merupakan kemampuan atau keterampilan individu yang dimiliki oleh seseorang untuk mengabaikan internal control, memahami sistem dan mengetahui kelemahan suatu organisasi serta memanfaatkannya untuk melakukan kecurangan. Competence merupakan perluasan pada elemen dari opportunity yang meliputi kemampuan individu untuk mengesampingkan pengendalian internal dan untuk mengendalikan secara sosial situasi tersebut untuk keuntungan pribadinya. Fraud tidak akan terjadi tanpa keberadaan seseorang dengan kemampuan yang tepat untuk mengenali peluang sebagai sebuah kesempatan dan mengambil keuntungan tersebut.

Wolfe dan Hermanson (2004) menjelaskan sifat-sifat yang sangat penting yang berkaitan dengan elemen capability untuk menciptakan fraud, yaitu :

1. Posisi/fungsi seseorang dalam perusahaan (positioning) 2. Kecerdasan (intelligence and creativity)

3. Tingkat kepercayaan diri/ego (confident/ego) 4. Kemampuan pemaksa (coercion skills) 5. Kebohongan yang efektif (effective lying) 6. Kekebalan terhadap stres (immunity to stress) 2.3.5 Arogance (Arogansi)

Arogance merupakan sifat kurangnya hati nurani, adanya sikap superioritas dan keserakahan dalam diri seseorang yang menganggap bahwa pengendalian internal atau kebijakan dan prosedur perusahaan tidak dapat

diberlakukan untuknya secara pribadi. Tingkat arogansi yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya kecurangan karena arogansi yang dimiliki seorang CEO dapat membuatnya melakukan cara apapun untuk mempertahankan posisi dan kedudukan yang dimiliki sekarang. Seorang CEO biasanya lebih ingin menunjukkan kepada publik akan status dan posisi yang dimilikinya dalam sebuah perusahaan karena tidak ingin kehilangan status atau posisi tersebut. Arogance bisa berdampak buruk kepada perusahaan dan seseorang, karena bisa menghancurkan karir atau perusahaan tersebut.

Howarth (2011) mengemukakan bahwa ada lima elemen dari arogance dari perspektif CEO, sebagai berikut (Yusof et al., 2015) :

a. Ego besar – CEO terlihat seperti selebritu daripada seorang pengusaha b. Mereka menganggap pengendalian internal tidak berlaku untuk dirinya c. Memiliki karakterisktik perilaku pengganggu

d. Memiliki kebiasaan memimpin secara otoriter

e. Memiliki ketakutan akan kehilangan posisi, kedudukan atau status 2.4 PENELITIAN TERDAHULU

No Nama Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Skousen et al.

Faktor resiko fraud triangle yaitu pressure dan opportunity memiliki

Terdapat satu variabel masuk ke dalam model (variabel in equation) yaitu audit report sebagai proksi dari rasionalisasi.

Hal ini berarti bahwa semakin tinggi nilai audit report (rationalization), maka probabilitas perusahaan melakukan fraud

3. Sihombing dan target, innefective monitoring, change in auditor, dan capability yang diproksikan dengan perubahan direksi memiliki variabel external pressure (LEV) dan rationalization (TATA) terbukti financial need (OSHIP), nature of industry (RECEIVABLE), ineffective monitoring (DBOUT), change in auditor (∆CPA) dan capability (DCHANGE)

Opportunity Quality of external audit tidak berpengaruh terhadap financial statement fraud. Rationalization; change auditor berpengaruh terhadap financial statement fraud. Competence; change of directors berpengaruh terhadap financial statement fraud Arrogance; frequency numbers of CEO’s picture berpengaruh terhadap financial statement fraud

Variabel change of auditor dan auditor opinion berpengaruh terhadap financial statement fraud. Sedangkan financial target, financial stability, external pressure, institutional share ownership, ineffectiveness of supervision, quality of external auditor, change of board of directors, frequency of appearance of CEO tidak berpengaruh terhadap financial statement fraud.

appearance of CEO, financial targets, external pressure dan financial personal need berpengaruh terhadap financial statement fraud.

Sedangkan variabel financial stability, ineffective monitoring, nature of industry, opini audit dan perubahan direksi tidak berpengaruh terhadap terdapat satu variabel yang berpengaruh terhadap fraudulent financial reporting yaitu Financial targets. Variabel Financial stability, External pressure, Personal financial needs, Nature of industry, Ineffective monitoring, Quality of external auditor, Change in auditor, Change of directors, Frequent number of CEO’s pictures tidak berpengaruh nature of industry, rationalization yang diproksikan dengan auditor changes dan capability yang diproksikan dengan signifikan, sedangkan rasionalisasi, kemampuan, dan arogansi tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan pelaporan keuangan pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017

2.5 KERANGKA KONSEPTUAL

Laporan keuangan hendaknya dapat menyajikan informasi yang andal dan reliable. Akan tetapi, terdapat salah saji dalam laporan keuangan. Salah saji dalam laporan keuangan terdiri dari kekeliruan (error) dan kecurangan (fraud). Fokus pada penelitian ini adalah salah saji dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh adanya kecurangan (fraud). Kecurangan ini sengaja dilakukan untuk menipu para investor dan kreditur untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan perusahaan. Untuk mengindikasi adanya kecurangan pada laporan keuangan ada beberapa teori yaitu dengan fraud triangle, fraud diamond dan fraud pentagon.

Penelitian ini mendeteksi adanya kecurangan laporan keuangan dengan fraud pentagon. Fraud pentagon dikemukakan oleh Crowe Howarth pada tahun 2011 memiliki lima elemen yaitu pressure, opportunity, rationalization, competence dan arogance.

Elemen-elemen fraud pentagon tersebut tidak dapat secara langsung digunakan dalam penelitian. Sehingga diperlukan variabel proksi agar lebih mudah diteliti (Skousen et al., 2009). Penelitian ini menggunakan lima variabel proksi independen. Elemen pressure diproksikan dengan financial target. Elemen opportunity diproksikan dengan nature of industry. Elemen rationalization diproksikan dengan change in auditor. Elemen competence diproksikan dengan change of director. Elemen arogance diproksikan dengan frequent number of CEO’s picture. Hal tersebut disebabkan adanya penyesuaian dengan data laporan keuangan perusahaan yang tersedia untuk penelitian. Selanjutnya, variabel

dependen penelitian, yaitu financial statement fraud yang diproksikan dengan manajemen laba dan dapat diukur dengan discretionary accruals model.

Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan sebelumnya, kerangka konseptual dalam penelitian ini sebagai berikut:

Gambar 2.4 Kerangka Konseptual

2.6 HIPOTESIS PENELITIAN

2.6.1 Pengaruh Pressure terhadap Financial Statement Fraud

Pressure (tekanan) merupakan dorongan seseorang untuk melakukan kecurangan (fraud). Tekanan muncul karena kebutuhan atau masalah finansial, tetapi banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan. American Institute of Certified Public Accountant (2002) menyatakan bahwa manajer mengalami tekanan untuk melakukan kecurangan karena profitabilitas perusahaan terancam

Ha1

Arogance (X5) Pressure (X1)

Opportunity (X2)

Rationalization (X3)

Competence (X4)

Financial Statement

Fraud (Y)

Ha5

Ha2

Ha3

Ha4

Ha6

dari kondisi ekonomi, industri, dan situasi lainnya. Dalam penelitian ini, pressure diproksikan dengan financial target. Financial target atau target keuangan adalah target jangka pendek perusahaan berkaitan dengan pencapaian laba (profitabilitas) dalam jumlah tertentu. Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) adalah rasio atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan, aset, dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu. Jenis-jenis rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan yang memengaruhi catatan atas laporan keuangan yang harus sesuai dengan standar akuntansi keuangan.

Menurut SAS No.99, financial target merupakan suatu risiko akibat adanya tekanan yang kuat kepada manajemen dalam mencapai target keuangan yang didasarkan pada ketentuan manajemen atau direksi termasuk di dalamnya penentuan bonus dan insentif yang akan diterima oleh karyawan. Financial target dapat diukur dengan NPM (net profit margin). Net profit margin atau margin laba bersih merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase laba bersih yang didapat setelah dikurangi pajak terhadap pendapatan yang diperoleh dari penjualan. Margin laba bersih ini disebut juga profit margin ratio. Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan.

Semakin tinggi rasio NPM sebuah perusahaan maka dapat menggambarkan bahwa perusahaan dapat menetapkan tingkat harga barang dengan tepat dan mampu mengendalikan biaya produksi dan juga dapat digunakan

karena memiliki lingkungan dan basis pelanggan yang sama. Warren Buffet berkata, “Perusahaan yang menarik adalah yang menikmati margin laba yang tinggi dan menghasilkan keuntungan kas untuk pemiliknya. Daya tarik ini berlanjut jika laba bersih perusahaan memberikan keuntungan tinggi pada ekuitas perusahaan.”

Semakin tinggi NPM yang ditargetkan perusahaan, maka semakin rentan manajemen melakukan manipulasi laba yang menjadi salah satu bentuk kecurangan sehingga memiliki pengaruh dengan kecurangan laporan keuangan.

Penelitian yang dilakukan Nugraheni dan Triatmoko (2017) membuktikan bahwa pressure yang diproksikan dengan financial target merupakan bentuk dari kinerja perusahaan dan mempengaruhi terjadinya financial statement fraud.

Ha1 : Pressure berpengaruh terhadap financial statement fraud

2.6.2 Pengaruh Opportunity terhadap Financial Statement Fraud

Kesempatan adalah peluang seseorang untuk melakukan kecurangan (fraud). Menurut Priantara dalam Ulfah et al. (2017) pelaku fraud percaya bahwa aktivitas mereka tidak akan terdeteksi. Dalam penelitian ini, opportunity diproksikan dengan nature of industry. Nature of industry merupakan keadaan atau kondisi ideal suatu perusahaan dalam industri. Pada laporan keuangan terdapat akun-akun tertentu yang besarnya saldo ditentukan oleh perusahaan berdasarkan suatu estimasi, misalnya akun piutang tak tertagih dan akun persediaan usang (Triatmoko, 2017).

Perusahaan yang baik memiliki persediaan yang tidak terlalu tinggi, karena apabila perusahaan tersebut memiliki persediaan yang terlalu tinggi berarti penjualan pada suatu perusahaan menjadi rendah dan akan mengganggu jalannya kegiatan operasional perusahaan karena rendahnya dana yang masuk pada perusahaan yang mengakibatkan menurunnya kemampuan perusahaan dalam membayar hutang-hutangnya yang semestinya dapat digunakan untuk ekspansi atau memperbaiki kegiatan operasional perusahaan dikarenakan penjualan yang rendah.

Penelitian Nugraheni dan Triatmoko (2017) menyatakan bahwa opportunity dengan proksi nature of industry mempunyai pengaruh terhadap financial statement fraud. Namun, penelitian Yesiariani dan Rahayu (2016) tidak mendukung hipotesis yang diajukan.

Ha2 : Opportunity berpengaruh terhadap financial statement fraud

2.6.3 Pengaruh Rationalization terhadap Financial Statement Fraud

Rasionalisasi terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas aktivitasnya yang mengandung fraud. Para pelaku fraud menganggap perilaku tersebut etis karena merupakan haknya yang telah berjasa banyak untuk perusahaan (Priantara dalam Ulfah et al. 2017). Rasionalisasi (rationalization) diproksikan dengan perubahan akuntan publik (auditor) (change in auditor) karena adanya upaya penghapusan jejak audit tentang ditemukannya fraud pada audit sebelumnya. Selanjutnya, perusahaan melakukan perubahan auditor untuk menutupi risiko kecurangan yang dilakukan sehingga kemungkinan diketahui oleh

auditor menjadi kecil karena auditor baru belum memahami kondisi perusahaan dengan baik (PCAOB dalam Auditing Standards 2401, 2017:241). Dalam SAS No.99 (AICPA, 2002) menyatakan bahwa pengaruh adanya pergantian auditor dalam perusahaan dapat menjadi indikasi terjadinya kecurangan. Auditor yang lama mungkin lebih dapat mendeteksi segala kemungkinan kecurangan yang dilakukan oleh manajemen, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Namun, dengan adanya pergantian auditor, maka kemungkinan terjadinya kecurangan akan semakin meningkat (Yesiariani dan Rahayu, 2016).

Pernyataan tersebut didukung hasil penelitian yang dilakukan Yesiarani dan Rahayu (2016) yang menyatakan bahwa rasionalisasi yang diproksikan dengan change in auditor berpengaruh positif terhadap financial statement fraud.

Pergantian auditor pada perusahaan dapat dinilai sebagai suatu upaya dalam menghapus jejas kecurangan yang ditemukan oleh auditor sebelumnya.

Ha3 : Rationalization berpengaruh terhadap financial statement fraud

2.6.4 Pengaruh Competence terhadap Financial Statement Fraud

Competence artinya seberapa besar daya dan kapasitas dari seseorang untuk melakukan fraud dilingkungan perusahaan. Competence dapat menunjang seseorang dalam melakukan kecurangan, karena kemampuan mempunyai peran penting dalam pribadi seseorang untuk melakukan kecurangan. Proksi dari competence adalah change of director (pergantian direksi). Pergantian direksi merupakan salah satu upaya perusahaan untuk mengganti direksi pada seseorang yang dianggap lebih kompeten. Akan tetapi disisi lain, pergantian direksi

dimaksudkan sebagai salah satu cara untuk menutupi fraud yang telah dilakukan oleh manajer. Wolfe dan Hermanson (2004) mengemukakan bahwa perubahan direksi mampu menyebabkan stress period yang berdampak pada semakin terbukanya peluang untuk melakukan fraud. Pergantian susunan direksi ini juga dapat mengindikasikan suatu kepentingan politik tertentu untuk menggantikan jajaran direksi sebelumnya. Selain itu, pergantian susunan direksi juga dianggap sebagai upaya dalam mengurangi efektivitas kinerja manajemen karena memerlukan waktu lebih untuk dapat beradaptasi dengan budaya kerja direksi baru (Sihombing dan Rahardjo, 2014).

Hal ini didukung dengan penelitian Devy, dkk. (2017) yang menyatakan bahwa pergantian direksi memiliki pengaruh terhadap terjadinya kecurangan.

Namun, hal ini tidak sejalan dengan penelitian Sihombing dan Rahardjo (2014).

Ha4 : Competence berpengaruh terhadap financial statement fraud

2.6.5 Pengaruh Arogance terhadap Financial Statement Fraud

Variabel arogance yang diproksikan dengan frequent number of CEO’s pictures merupakan jumlah foto CEO yang terpampang pada laporan tahunan perusahaan. Banyaknya foto CEO yang terpampang dalam sebuah laporan tahunan perusahaan dapat merepresentasikan tingkat arogansi atau superioritas yang dimiliki CEO tersebut. Seorang CEO cenderung lebih ingin menunjukkan kepada semua orang akan status dan posisi yang dimilikinya dalam perusahaan karena mereka tidak ingin kehilangan status atau posisi tersebut (atau merasa tidak dianggap), hal ini sesuai dengan salah satu elemen yang dipaparkan oleh

Dokumen terkait