BAB IV KAPITALISASI KOLONIAL DAN DAMPAK BATIG SLOT POLITIEK
B. Comptabiliteits Wet 1867 dan Pembubaran Sistem Kesatuan Ekonomi
KebijakanBatig Slot Politiek pada dasarnya mengacu pada neraca surplus yang dimiliki pemerintah kolonial Belanda selama masa Tanam Paksa berlangsung. Besarnya nilai surplus tersebut, dimanfaatkan untuk pembiayaan di negeri induk Belanda. Namun pasca dikeluarkannya Comptabiliteits Wet 1864,
neraca surplus Tanam Paksa digunakan juga untuk pembiayaan di negeri jajahan sebagai salah satu bentuk perwujudan sistem kesatuan ekonomi. Sejak tahun 1841 sampai tahun 1863 hasil keuntungan bersih dari Tanam Paksa mencapai angka 461 juta gulden, sedangkan antara tahun 1863 sampai 1866 mencapai 692 juta
gulden.89 Merupakan jumlah yang besar pada masa itu untuk mencukupi segala pembiayaan di Jawa. Jumlah penghasilan ini juga didapatkan dari NHM sebagai perusahaan negara, terutama ketika NHM menjadi bank bagi perusahaan-perusahaan swasta di Jawa. Namun penghasilan tersebut tidak membuat kolonial puas. Mereka terus melakukan intensifikasi dalam penanaman tanaman dagang sebagai bentuk upaya mengembangkan kekayaan negeri jajahan demi keuntungan negeri induk Belanda. Meski Sistem Tanam Paksa versi Van den Bosch telah dihapuskan seperti pengurangan beberapa jenis tanaman dagang, tetapi kolonial tetap mempertahankan beberapa komoditi utama yang memiliki nilai jual yang tinggi, seperti gula dan kopi. Dari dua komoditi utama tersebut, kolonial mampu memperoleh pendapatan sampai ratusan juta gulden yang sebagian besar dialirkan ke negeri induk Belanda.
Keuntungan surplus tersebut dialirkan ke negeri Belanda untuk pembiayaan hutang sebesar 236 juta gulden termasuk hutang-hutang VOC, serta segala pembiayaan infrastruktur seperti kereta api dan bangunan pertahanan yang menghabiskan biaya hampir 300 juta gulden.90 Dalam hal ini, segala pembiayaan ditanggung oleh daerah jajahan khususnya Jawa dari pendapatan yang dihasilkan di wilayah tersebut. Meski tidak semua penghasilan digunakan untuk pembelanjaan di negeri induk, tetapi lebih dari 50 % penghasilan masuk ke negeri induk, bahkan penghasilan negeri induk Belanda dari daerah jajahan mencapai 1/3 atau 30% dari penghasilan negeri Belanda sendiri. Ini jelas menguntungkan dan
89
Marwati Djoened, Nugroho Notosusanto,op.cit,hal. 10 90
mampu untuk membayarkan segala macam hutang-hutang baik yang ditinggalkan VOC dan pembiayaan-pembiayaan lain seperti pembangunan beberapa infrastruktur seperti perkapalan dan perkembangan industri Belanda.
Pendapatan yang besar dari tanah Jawa sebagai sumber terbesar penyedia komoditi tanaman ekspor, menjadikan jumlah pengeluaran kolonial semakin meningkat. Selain untuk pembiayaan di negeri Belanda, di Jawa sendiri mereka juga membangun banyak sarana infrastruktur seperti jalur kereta api, irigasi, dan pelabuhan yang jumlah akumulasi pengeluaran mencapai 213 juta gulden.91Dapat dikatakan bahwa ini merupakan salah satu bentuk dari usaha kolonial untuk memenuhi apa yang tertuang dalam Kebijakan Batig Slot Politiek. Namun data menunjukan perbedaan yang sangat mencolok antara pengeluaran di negeri Belanda dengan di daerah jajahan yang jauh berbeda besarnya.
Meski selama proses pelaksanaan KebijakanBatig Slot Politiek, keuangan neraca sendiri mengalami kenaikan yang cukup besar, tetapi muncul beberapa permasalahan. Dari semua penghasilan yang didapatkan selama intensifikasi Tanam Paksa sampai pada pelaksanaan kebijakan Batig Slot Politiek, nampak adanya perbedaan yang mencolok dalam hal pembagian hasil antara negeri Belanda dengan daerah jajahan. Meski dalam hal ekspor, mengalami kemajuan yang besar, tetapi hasil yang didapat tidak seimbang. Jika dihitung dari penghasilan yang di dapat pada tahun 1863-1866, jumlah penghasilan yang diterima mencapai 692 juta gulden. Namun oleh pemerintah kolonial, hampir setengahnya atau sekitar 400 juta gulden dialirkan ke negeri induk untuk
91
pembiayaan hutang-hutang dan pembiayaan lain seperti pembangunan infrastruktur-infrastruktur. 92 Praktis keuntungan yang di dapatkan oleh negeri jajahan hanya sekitar 292 juta gulden, ini bahkan tidak mencapai setengah dari total penghasilan.
Selama pelaksanaan periode Tanam Paksa sampai pada pelaksanaan kebijakan Batig Slot Politiek, penghasilan yang diterima sebagian besar di dapatkan dari penjualan hasil-hasil penanaman produk-produk ekspor yaitu mencapai 50 sampai 60 % dari seluruh pendapatan.93Hal ini masih di tambah dari pajak tanah, pajak impor, serta pajak ekspor. Pendapatan dari pos-pos ini sangatlah besar, seperti yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya. Tidak mengherankan jika pada pertengahan Abad ke-19 tepatnya di tahun 1860-an , usaha perkapalan di Belanda maju pesat. Usaha ini semakin pesat terutama setelah di bukanya Terusan Suez di tahun 1869. Kemajuan ini diringi dengan perkembangan dalam hal industri maupun teknologinya. Perkembangan ini tidak terlepas dari sokongan dana yang di dapatkan dari negeri jajahan terutama dari neracaBatig Slotyang sangat besar.
Hasil yang sangat besar dari pos-pos penghasilan di atas, digunakan untuk pembelanjaan baik di negeri Belanda ataupun di Jawa sendiri. Pembelanjaan tersebut antara lain digunakan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalur kereta api (150 juta), irigasi (33 juta) dan pelabuhan (30 juta).94 Namun akibat
92
Ibid.Hal.12-13 93
Anne Booth, William J.O’Malley, Anna Weidemann,op.cit,hal. 294 94
dari adanya pembiayaan-pembiayaan yang sangat besar tersebut, yang kemudian terjadi adalah defisit keuangan khususnya defisit bagi negeri jajahan. Bagi negeri jajahan, defisit ini tentu saja disebabkan karena tidak imbangnya pembagian hasil neraca surplus Batig Slot. Pendapatan yang terbatas, harus digunakan juga untuk memenuhi pembelanjaan di daerah jajahan.
Dalam hal ini, kolonial tetap berusaha untuk bertahan pada kondisi mereka saat itu yang sedang mengalami perkembangan positif dalam pembangunan negaranya. Oleh karena itu, defisit yang mereka alami dibebankan oleh daerah jajahan yang dianggap masih memiliki cadangan anggaran yang besar dari surplus Tanam Paksa. Selain itu mereka juga membenarkan politik semacam itu karena berdasarkan sistem kesatuan ekonomi yang tertuang dalam Comptabiliteits Wet 1864,salah satu hal yang ditegaskan adalah bahwa segala bentuk pendapatan yang diterima di negeri jajahan akan menjadi pemasukan untuk pemerintah yang menguasai wilayah tersebut, termasuk segala pembiayaan hutang. Jumlah hutang pemerintah kolonial sejumlah 236 juta gulden dan belum termasuk pembiayaan atas pembangunan beberapa infrastruktur, dibebankan pembayarannya kepada daerah jajahan. Jumlah biaya untuk pembayaran hutang tersebut sesungguhnya merupakan hak yang semestinya digunakan oleh daerah jajahan sendiri. Jika dihitung total pendapatan yang sesungguhnya harus diterima oleh daerah jajahan mencapai 528 juta gulden, dan jika dihitung bersama bunga yang dipakai oleh Belanda, maka pendapatan yang diterima mencapai 1585 juta gulden.95 Dari sekian juta yang didapatkan tersebut, hampir sebagian besar atau setengah lebih
95
dari jumlah tersebut, menjadi milik Pulau Jawa karena wilayah ini yang menjadi sumber terbesar dari produksi komoditas tanaman ekspor termasuk juga penyedia tenaga kerja terbesar.
Pada akhirnya kas dari neraca Batig Slot justru lebih besar mengalir ke negeri induk untuk pembayaran hutang-hutang dan pembiayaan-pembiayaan lain seperti pembangunan infrastruktur-infrastruktur umum seperti jalan kereta api, pelabuhan, serta irigasi yang menyebabkan pengeluaran pemerintah kolonial menjadi semakin besar. Kondisi ini kembali menjadi sorotan berbagai pihak yang menentang sistem kolonial ini yang pada kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang tertuang dalam Kebijakan Batig Slot Politiek. Dalam kebijakan tersebut, secara tegas dinyatakan bahwa setiap surplus yang dihasilkan di tanah jajahan, juga berhak menjadi milik tanah jajahan. Hal ini berarti bahwa kebijakan ini menekankan adanya sistem bagi hasil kolonial dengan wilayah jajahan. Namun yang terjadi, keuntungan lebih berpihak pada kolonial. Ini menyebabkan KebijakanBatig Slot Politiekmenjadi lemah.
Perkembangan perusahaan-perusahaan swasta yang semakin meluas, juga menjadi beberapa alasan yang turut melemahkan Kebijakan Batig Slot Politiek.
Perkembangan ini menyebabkan keadaan penduduk pribumi semakin sulit dan tidak berdaya. Pemaksaan untuk menyediakan surplus sebesar-besarnya bagi pemerintah kolonial, harus ditambah lagi dengan adanya kekuasaan swasta yang juga memeras tenaga kerja serta tanah milik mereka untuk digunakan dalam mendirikan perkebunan-perkebunan swasta. Hukum-hukum adat dan hak-hak pribumi atas tanahnya sendiri, semakin tersudut. Menurut kaum liberal sendiri,
baik kaum kapitalis maupun petani, bebas untuk menggunakan tanahnya sendiri dan mengubah tanah komunal menjadi tanah perseorangan tanpa campur tangan pemerintah. Tetapi pada kenyataanya, justru kaum kapitalislah yang hanya memiliki tanah tersebut. Di sini, penduduk seolah-olah hanya dijadikan sebagai penyedia tanah dan tenaga kerja bagi kaum kapitalis.
Kaum liberal hendak menentang eksploitasi atau campur tangan pemerintah. Mereka menghendaki adanya adanya kebebasan bekerja dan kebebasan dalam penggunaan lahannya, atau dengan kata lain menghendaki sistem laissez-faire.96 Namun dalam prakteknya, pernyataan ini hanyalah semacam kamuflase dari pihak swasta untuk menutupi kepentingan mereka yang sesungguhnya yaitu menguasai tanah atau lahan pribumi. Inisiatif swasta untuk menekan ekploitasi pemerintah justru menjadi bibit tumbuhnya sistem penjajahan baru, yaitu kapitalisasi swasta.
Ketimpangan-ketimpangan ini kemudian menghasilkan berbagai kritikan yang tajam dari berbagai pihak. Kritikan itu menyatakan bahwa keuntungan di Jawa merupakan penghasilan bagi negeri Belanda sendiri. Banyak tuduhan yang dilontarkan kepada pemerintah kolonial yang menyatakan bahwa mereka telah merampok kekayaan dan hak-hak pribumi. Para pemikir kritis tersebut menuntut penghitungan kembali jumlah kekayaan daerah jajahan dan pemerintah kolonial
harus mengembalikan jumlah tersebut sebagai bentuk “hutang kehormatan”.97
Kecaman paling radikal dikeluarkan oleh van Dedem. Ia menuntut dihapuskannya
96
Sistem ekonomi yang bebas dari campur tangan pemerintah. 97
pengambilan keuntungan dari negeri jajahan atau dengan kata lain penghapusan sistem kesatuan keuangan. Ia berpendapat bahwa kemungkinan kesatuan keuangan yang akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak yaitu pemerintah Belanda dan masyarakat pribumi, justru lebih besar ke negeri Belanda.98
Akibat adanya berbagai macam kecaman oleh berbagai pihak, pemerintah kolonial harus kembali merasakan pertaruhan nama baik kolonial terutama negeri induk Belanda. Pemerintah kolonial mempertimbangkan kembali untuk mempertahankan KebijakanBatig Slot Politiekterutama sistem kesatuan ekonomi kolonial Belanda, mengingat bahwa pemerintah kolonial kembali mendapatkan kecaman-kecaman yang sangat keras dari beberapa pihak. Maka pada tahun 1867, dikeluarkanlah lagi suatu peraturan pemerintah atau Comtabiliteits wet 1867. Dalam peraturan tersebut secara tegas memerintahkan untuk melakukan pemisahan secara resmi kesatuan keuangan atau kesatuan ekonomi kolonial Belanda dengan daerah kekuasaan yaitu tanah Jawa.
Pada tahun itu pula, pemerintah Belanda harus memulai pembayaran atau pengembalian segala kekayaan daerah jajahan yang telah diambil oleh negara induk. Menurut catatan yang dikeluarkan oleh Van Deventer, kekayaan yang didapatkan daerah jajahan sampai tahun 1867 mencapai 823 juta gulden.99Namun hasil yang didapatkan dari surplus sebelum tahun 1867, masih terhitung sebagai hasil sistem kesatuan ekonomi, sehingga sistem bagi hasil keuntungan di sini
98
Sartono Kartodirdjo,op.cit,hal. 26 99
masih berlaku. Oleh karena itu, tepat tahun 1867 itulah awal kolonial harus mulai mengembalikan segala hutang-hutangnya yang disebut dengan “hutang kehormatan” kepada daerah jajahan. Inilah masa berakhirnya Batig Slot Politiek,
meski masa kolonialisme dan monopoli keuntungan tetap berlanjut. Pemerintah kolonial juga memikirkan kembali bagaimanakah cara untuk benar-benar memulihkan citra kolonial serta memberikan bukti nyata balas budi pemerintah kolonial terhadap pribumi.