• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

5. Consensus orientation

Good governance menjadi perantara untuk beberapa kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas. Berdasarkan hasil analisis stakeholder, stakeholder yang memiliki nilai tertinggi dalam hal aspek kepentingan di DataranTinggi Dieng adalah Pokdarwis “Dieng Pandhawa” dan TKPD. Kedua stakeholder tersebut merupakan stakeholder yang masih tergolong baru, yaitu berdiri pada tahun 2007. TKPD memiliki tugas mengkoordinasikan stakeholder-stakeholder yeng mempunyai kepentingan di sepanjang DAS Serayu dimana mata Sungai Serayu berada di Dataran Tinggi Dieng. Sedangkan Pokdarwis "Dieng Pandhawa" memiliki divisi (cluster) yang masing-masing divisi mewakili kepentingan yang berbeda-beda.

6. Equity

Masyarakat mempunyai kesempatan untuk meningkatkan atau menjaga kesejahteraan mereka. Masyarakat mendirikan beberapa organisasi untuk dapat ikut terlibat dalam tata kelola wisata di Dataran Tinggi Dieng. Organisasi-organisasi tersebut adalah PPDB, APC dan Pokdarwis “Dieng Pandhawa”. Pemerintah memberikan dukung kepada organisasi-organisasi tersebut dengan cara memberikan legalitas terhadap organisasi-organisasi tersebut, memberikan pelatihan dan memberikan bantuan alat-alat yang dibutuhkan.

Selain dalam bentuk organisasi, masyarakat juga mempunyai kebebasan untuk mengelola tanah yang mereka miliki menjadi lahan pertanian kentang. Akan tetapi, kebebasan yang dimiliki masyarakat kurang bertanggung jawab. Lahan-lahan pertanian yang digarap oleh masyarakat merambah masuk ke Lahan-lahan-Lahan-lahan milik negara. Hampir seluruh lahan yang ada di Dataran Tinggi Dieng dan sekitarnya dirubah menjadi lahan pertanian kentang oleh masyarakat. Bahkan pada lahan-lahan yang seharusnya tidak ditanami tanaman pertanian pun ikut digarap, misalnya lahan-lahan dengan kemiringan yang curam. Oleh karena itu, berkembanglah isu-isu tentang kerusakan lahan.

7. Effectiveness and efficiency

Setiap stakeholder dalam good governance berusaha untuk mencapai tujuan sesuai dengan yang telah direncakanan menggunakan sumberdaya yang tersedia. Seluruh stakeholder yang memiliki kepentingan dan pengaruh dalam tata kelola

wisata Dataran Tinggi Dieng memiliki tujuan yang berbeda-beda dalam keterlibatannya. Tujuan tersebut tertera di dalam TUPOKSI masing-masing dinas pemerintahan dan rencana kegiatan masing-masing organisasi masyarakat.

Walaupun dengan sumberdaya yang kurang memadai, masing-masing stakeholder berusaha untuk mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa kendala sumberdaya yang paling banyak dihadapi oleh masing-masing stakeholder adalah keuangan, kurangnya jumlah SDM, SDM yang ditempatkan tidak sesuai dengan bidang keahliannya serta fasilitas. Seringkali, tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tidak tercapai karena masalah kurangnya sumberdaya, baik itu dana, SDM maupun fasilitas.

8. Accountability

Lembaga Administrasi Negara (2000) dalam Widodo (2001) menjelaskan bahwa akuntabilitas merupakan kewajiban perorangan atau sekelompok orang dalam suatu organisasi untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumberdaya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Bentuk pertanggungjawaban setiap penggunaan sumberdaya yang telah digunakan dalam rangka mencapai suatu tujuan, masing-masing stakeholder membuat laporan keuangan setiap akhir tahun maupun membuat laporan kegiatan dan laporan pertanggungjawaban untuk setiap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.

9. Strategic Vision

Stakeholder diharapkan memiliki perspektif good governance dan pengembangan manusia yang luas dan jangka panjang. Setiap stakeholder yang terlibat dalam tata kelola wisata di Dataran Tinggi Dieng menerapkan prinsip ini dalam bentuk memberikan pelatihan kepada SDM yang dimilikinya untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki. Instansi pemerintahan biasa meningkatkan kualitas SDM dengan cara melakukan study banding. Pengembangan SDM yang dilakukan oleh stakeholder non-pemerintahan biasanya dilakukan dengan adanya pelatihan dan seminar yang diberikan oleh instansi pemerintahan yang bersangkutan.

Stakeholder yang terlibat dalam tata kelola wisata di Dataran Tinggi Dieng belum seluruhnya melaksanakan prinsip good governance. Stakeholder yang telah melaksanakan seluruh prinsip good governance tersebut adalah Pokdarwis "Dieng Pandhawa". Akan tetapi, wewenang yang dimiliki oleh Pokdarwis "Dieng Pandhawa" tidak sebesar yang dimiliki oleh instansi pemerintahan lainnya. Sehingga keberadaan Pokdarwis "Dieng Pandhawa" kurang berpengaruh dalam tata kelola wisata di Dataran Tinggi Dieng.

Stakeholder yang potensial dapat menjalankan seluruh prinsip good governance dengan baik adalah TKPD. TKPD merupakan stakeholder masih baru, yaitu baru dibentuk pada tahun 2007. Prinsip yang telah dijalankan oleh TKPD adalah rule of law dan consensus orientation. Dengan dijalankannya prinsip consensus orientation berarti TKPD telah menjadi perantara bagi beberapa kepentingan yang berbeda. Hal ini sesuai dengan tujuan dibentuknya TKPD adalah untuk mengkoordinasikan, mengintegrasikan dan mensinergiskan kinerja perangkat daerah di Kabupaten Wonosobo dan pihak-pihak lainnya yang terkait dalam upaya pemulihan Kawasan Dieng dalam konteks Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu.

6.1 Kesimpulan

1. Teridentifikasi sebanyak 12 stakeholder yang terlibat dalam tata kelola wisata di Dataran Tinggi Dieng. Stakeholder tersebut termasuk ke dalam kuadran key player, subject dan crowd. Stakeholder yang termasuk ke dalam kuadran key player adalah 1) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo, 2) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banjarnegara, 3) Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) “Dieng Pandhawa” dan 4) Paguyuban Pengemudi Dieng Batur (PPDB). Stakeholder dalam kuadran key player mampu mengendalikan arah pengelolaan dalam tata kelola wisata di Dataran Tinggi Dieng. Stakeholder yang berada dalam kuadran subject adalah 1) Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah, 2) Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Wonosobo, 3) Dishutbun Banjarnegara, 4) Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dispertan) Wonosobo, 5) Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan (Dispertan) Banjarnegara dan 6) Tim Kerja Pemulihan Dieng (TKPD). Stakeholder yang ada dalam kuadran subject memiliki kemampuan yang kecil untuk mengubah siatuasi di Dataran Tinggi Dieng. Sedangkan stakeholder yang termasuk dalam kuadran crowd adalah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Asosiasi Pedagang Carica (APC). Stakeholder yang ada dalam kuadran crowd akan mempertimbangkan segala kegiatan mereka untuk ikut terlibat dalam tata kelola wisata di Dataran Tinggi Dieng.

2. Kebijakan atau peraturan yang berkaitan dengan tata kelola wisata di Dataran Tinggi Dieng adalah Keputusan Bersama No. 485 Tahun 2002 dan No. 17 Tahun 2002 Bupati Banjarnegara dengan Bupati Wonosobo tentang Kerjasama Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Dataran Tinggi Dieng serta Peraturan Gubernur No. 5 Tahun 2009 tentang Pengendalian Lingkungan Hidup di Kawasan Dataran Tinggi Dieng.

3. Hubungan kerjasama yang dilakukan oleh stakeholder yang berbeda kepentingan belum ada. Kerjasama hanya dilakukan oleh stakeholder yang memiliki kepentingan yang sama. Salah satu kerjasama antar stakeholder yang dilakukan adalah penetapan harga tiket masuk objek wisata, yaitu antara Disparbud Wonosobo, Disbudpar Wonosobo dan BKSDA Jawa Tengah.

6.2 Saran

1. Kerjasama atau koordinasi antar stakeholder yang memiliki kepentingan yang berbeda harus ditingkatkan untuk mencapai kesamaan visi dalam pengembangan wisata di Dataran Tinggi Dieng. Kinerja TKPD perlu ditingkatkan agar dapat mengkoordinasikan seluruh stakeholder yang mempunyai kepentingan terhadap Dataran Tinggi Dieng, baik itu instansi pemerintahan, swasta maupun organisasi masyarakat. Peningkatan kinerja TKPD dapat dilakukan dengan menambah jumlah SDM dan fasilitas. 2. Partisipasi sektor swasta dalam tata kelola wisata di Dataran Tinggi Dieng

perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha agar pihak-pihak swasta dan investor tertarik untuk berinvestasi di Dataran Tinggi Dieng. Dieng Culture Festival (DCF) yang diadakan oleh Pokdarwis "Dieng Pandhawa" pada tahun 2010 perlu dijadikan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan secara bersama-sama oleh Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Selain itu, kegiatan yang dilakukan dalam DCF tidak hanya dalam ruang lingkup pariwisata dan kebudayaan saja, tetapi mengangkat masalah-masalah lingkungan yang terjadi di Dataran Tinggi Dieng.

3. Untuk mencegah terjadinya bencana-bencana seperti tanah longsor dan kekurangan air bersih seperti yang telah diberitakan oleh beberapa media cetak, masyarakat disarankan untuk mengubah pola pertaniannya. Lahan-lahan yang memiliki kelerengan yang curam dan daerah sempadan sungai harus ditanami dengan tumbuhan berkayu yang memiliki perakaran yang kuat dan merupakan tumbuhan pionir, seperti Ficus spp., Macaranga dan Casuarina junghuhniana.

[BLH] Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah. 2009. Peraturan Gubernur Jawa Tengah No. 5 Tahun 2009 tentang Pengendalian Lingkungan Hidup di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Semarang : BLH. [Depbudpar] Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. 2009. Undang-undang

Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Jakarta : Depbudpar. [Depdiknas]. 2008. Pusat Bahasa : Kamus Besar Bahasa Indonesia. www.

pusatbahasa.diknas.go.id [9 April 2010]

[Disparbud] Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo. 2002. Keputusan Bersama Bupati Wonosobo dan Bupati Banjarnegara tentang Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Dataran Tinggi Dieng. wonosobo : Disparbud

Borrini-Feyerabend G. 1995. Collaborative management of Protected Areas: Tailoring the Apporach to the Content. Sosial Policy group IUCN. Di dalam Pusat Informasi Pengelolaan Kolaboratif. 2006. Apa itu pengelolaan Kolaboratif. http://www. kolaboratif. org/ [10 April 2010] Damanik J, Weber HF. 2006. Perencanaan Ekowisata : Dari Teori ke Aplikasi.

Jogjakarta : Pusat Studi Pariwisata UGM dan Penerbit Andi Jogjakarta. Krina LL. 2003. Indikator dan Alat Ukur Prinsip Akuntabilitas, Transparansi dan

Partisipasi. Sekretariat Good Public Governance. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta. http://www. solex-un. net [10 April 2010] Muntasib H. 2009. Tata Kelola Pariwisata Alam di Indonesia. Di Dalam Seminar Kebijakan, Tantangan dan Peluang Pariwisata Alam di Indonesia. Asosiasi Pariwisata Alam Indonesia (APAI). Gedung Manggala Wanabakti. Jakarta. 21-22 Juli 2009.

Pendit, NS. 1999. Ilmu Pariwisata : Sebuah Pengantar Perdana. Cetakan Keenam. Jakarta : PT Pradnya Paramita.

Reed M, Graves A, Dandy N, Posthumus H, Hubacek K, Morris J, Prell C, Quinn CH, dan Stringer LC. 2009. Who’s nad why? A Typology of Stakeholder Analysis Methods for Natural Resource Management. Journal of Environmental Management.

Sembiring E. 2010. Resolusi Konflik Pengelolaan Taman Nasional Teluk Cendrawasih di Kabupaten Teluk Wondama Provinsi Papua Barat [Tesis]. Bogor : Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Tadjudin D. 2000. Manajemen Kolaborasi. Di dalam Pusat Informasi Pengelolaan Kolaboratif. 2006. Apa itu Pengelolaan Kolaboratif. http://www. kolaboratif. org/ [7 April 2010]

Tim Redaksi. 29 Januari 2008. Penyelamatan Dieng Perlu Kesamaan Persepsi 6 Daerah. Suara Merdeka Cyber News : Suara Pantura. http://suaramerdeka. com/v1/index. php/read/cetak/2008/01/29/92/Penyelamatan-Dieng-Perlu-Kesamaan-Persepsi-6-Daerah [20 September 2010]

Tim Redaksi. 14 November 2009. Sinergi pengelolaan Dieng Plateau. Suara Merdeka Cyber News : Wacana. http://suaramerdeka.com/v1/index.php/ read/cetak/2009/11/14/88097/Sinergi. Pengelolaan. Dieng. Plateau [20 September 2010]

Tjugianto LA. 2006. Dieng Plateau. Jogjakarta : Jentera Intermedia.

Utama AC. 2006. LSM vs LAZ : Bermitra atau Berkompetisi. Mencari Model Kemitraan bagi Optimalisasi Potensi Filantropi Menuju Keadilan Sosial. Depok : Piramedia.

Wardiyanta. 2006. Metode Penelitian Pariwisata. Jogjakarta : Andi Offset.

Widodo J. 2001. Good Governance. Telaah dari Dimensi : Akuntabilitas dan Kontrol Birokrasi pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Surabaya : Insan Cendekia.

Zalukhu S. 2009. Panduan Dasar Pelaksanaan Ekowisata. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nias Selatan. http://unesdoc. unesco. org [12 April 2010]

Lampiran 1 Panduan Wawancara Untuk Lembaga Pemerintahan Nama instansi / lembaga :

Dokumen terkait