• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. SUMBANGAN KATEKESE DALAM UPAYA MEMAKNAI

E. Program Pembinaan Dalam Katekese

6. Contoh Persiapan Katekese

Penulis menguraikan satu contoh katekese model Shared Christian Praxis (SCP) yang akan dipakai dalam pembinaan dalam usaha meningkatkan pemahaman tentang makna komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas.

1. Identitas

Tema :- Komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas.

Tujuan :- Membantu peserta agar semakin memahami pentingnya komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas.

a) Peserta :- Para Bruder MTB

b) Tempat :- Komunitas Alverna, Jln. Ngadikan No. 01 Kotabaru- Yogyakarta

c) Hari/tanggal :- Sabtu (malam Minggu) ke dua, Oktober 2010 d) Waktu :- 90 Menit e) Metode :- Informasi - Permainan - Presentasi - Tanya Jawab - Refleksi

f) Model :- Shared Christian Praxis (SCP) g) Sarana :- Madah Bakti

- Potongan kertas

- Konstitusi Bruder MTB - Statuta Bruder MTB • Sumber Bahan :- Matius 8: 1- 4

- Pengalaman Peserta - Statuta Pasal 1, art 4 - Konstitusi art 4 dan 5 - Anggaran Dasar art 23

- Buku Sarana Pembinaan Iman 2. Pemikiran Dasar

Komunikasi merupakan kebutuhan bagi setiap orang untuk saling berinteraksi dengan sesama. Dengan komunikasi, seseorang dapat menyatakan kebutuhan, keinginan bahkan dirinya sendiri, sehingga dapat dimengerti oleh orang lain. Komunikasi yang baik akan menciptakan relasi yang baik pula. Pada zaman sekarang, banyak orang termasuk dalam hidup berkomunitas dalam suatu biara cenderung memanfaatkan alat komunikasi seperti Handphone (HP). Karena dianggap cepat, tepat dan tanpa banyak menyita waktu untuk berkomunikasi kapan dan di mana saja. Kebersamaan dan kesatuan hidup sebagai saudara dalam komunitas diganti dengan kehadiran media komunikasi yang cepat dan praktis. Dengan demikian perjumpaan setiap pribadi untuk saling menyapa secara langsung jarang dilakukan. Kebiasaan ini berdampak pada melemahnya semangat kebersamaan dan persaudaraan dalam hidup berkomunitas, karena setiap individu mementingkan diri sendiri, karena alasan demi kepentingan karya dan

kesejahteraan bersama, profesi dan karir. Maka kehadiran alat komunikasi seperti: telpon, Handphone (HP), surat-surat, Facebook (FB) bukan sekedar sarana, tetapi menjadi suatu budaya yang menguasai di mana setiap orang hidup dan berkarya.

Kemampuan memahami dan memaknai komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas akan menciptakan komunitas yang harmonis, yang menjadi wujud kehadiran Allah bagi siapa saja. Komunikasi tatap muka antar priabdi dapat kita ciptakan misalnya waktu rekreasi bersama, maupun dialog dalam bentuk bimbingan pribadi dengan pimpinan komunitas atau propinsial, obrolan/percakapan disaat-saat santai bersama atau melalui kerja sama. Injil Matius 8:1-4, menujukkan kepada kita suatu komunikasi tatap muka antar pribadi yaitu orang kusta dengan Yesus. Orang kusta ini mengkomunikasikan penderitaannya kepada Yesus secara langsung dan Yesus sungguh memberi perhatian kepadanya, maka terjadilah kesembuhan bagi si kusta itu. Komunikasi tatap muka antar pribadi pada akhirnya menciptakan kesatuan pikiran, perasaan yang intim dengan Yesus. Dalam statuta kongergasi dikatakan “ Kesatuan dengan Kristus dan hidup bersama orang lain sebaik-baiknya, perlu kita nyatakan dalam persekutuan atau komunitas. Suasana ini dapat dibangun dengan dialog. (Bdk Statuta Pasal 1 art 4). Dengan demikian kita mewujudnyatakan semangat persaudaraan dalam persekutuan dengan membaktikan diri kepada Allah, manusia dan dunia. (Bdk. Konst pasal 1 art 4) dan ikut membangun kebahagiaan umat manusia (art 5). Semua itu kita tekuni demi cinta kasih Allah, sehingga kita mengasihi saudara-saudari (bdk AD 23).

3. Pengembangan langkah-langkah a) Pembukaan

(1) Pengantar

Para Bruder yang dicintai dan mencintai Tuhan. Pada kesempatan yang khusus ini kita mau masuk dalam pengalaman akan kasih Tuhan yang istimewa. Kita diundang untuk mempertajamkan pemahaman kita tentang komunikasi tatap muka antar pribadi.

Pada pertemuan ini kita dibantu dengan permainan menyusun potongan kertas hingga membentuk suatu bangunan atau gambar tertentu dalam kelompok kecil. Pertama kita kerjakan tanpa komunikasi, yang kedua nanti kita saling berkomunikasi masing-masing dalam waku 5 (lima) menit, dengan syarat boleh menerima dari kelompok lain tetapi tidak boleh meminta. Kemudian kita disadarkan oleh pengalaman orang kusta dan Yesus dari Injil Matius 8:1- 4. Kita akan belajar dari kedua tokoh utama itu tentang apa artinya dan makna komunikasi tatap muka antar pribadi dalam bacaan itu sehingga mampu memantulkan kasih Allah dalam kehidupan mereka.

Untuk itu, marilah kita menyiapkan hati untuk mengikuti pertemuan ini dengan terlebih dahulu melepaskan segala kepenatan, kesibukan, beban yang masih tertunda yang dapat mengganggu proses pertemuan ini. Kita membiarkan Tuhan hadir bersama kita dan menyapa kita satu persatu. Kita sadari bahwa kita di sini bersama saudara sekomunitas sebagai pemimpin dan sebagai anggota, yang saling melayani, meneguhkan, mempercayai dan saling mengingatkan satu sebagai saudara.

(2) Lagu pembuka: Madah Kasih, MB. No. 66 (3) Doa Pembuka

Allah Bapa yang maha kasih, kami bersyukur atas rahmat dan kasih-Mu yang senantiasa menyertai kami sampai saat ini. Kami mohon ajarilah kami untuk selalu terbuka, berdialog dan selalu menyediakan waktu untuk kepentingan komunitas kami dengan menyapa sesama dari hati ke hati, sehingga dalam hidup sehari-hari kami semakin mampu memahami dan memaknai hidup kami bersama saudara-saudara sekomunitas. Hadirlah bersama kami dan berkatilah kami dalam pertemuan ini, agar segala sesuatu yang kami bicarakan, niat baik dan ketulusan hati kami juga menjadi ketulusan hati-Mu. Semua ini kami mohon dengan perantaraan Kristus Tuhan kami, Amin.

b). Langkah I: Mengungkapkan pengalaman faktual Hidup Peserta.

(1). Pendamping membagikan peserta dalam kelompok 3 kecil masing-masing 4 orang, dan potongan kertas untuk disusun menjadi bangunan atau gambar tertentu (masing-masing kelompok berbeda) tanpa komunikasi. Waktu 5 menit

(2). Pendamping mempersilakan masing-masing kelompok untuk menyususun kembali potongan kertas dengan berkomunikasi dalam durasi waktu yang sama. (3). Inti/isi cerita:

Setiap orang membutuhkan komunikasi untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Dengan komunikasi kita dapat saling mengerti dan memahami satu dengan yang lain, kita dapat menyatakan kebutuhan dan menyelaraskan pemahaman atau pendapat yang berbeda. Dalam hidup berkomunitas, komunikasi

tatap muka antar pribadi mutlak diperlukan baik dalam kegiatan bersama atau sekedar untuk sharing atau dalam waktu santai bersama saudara lainnya. Permainan tadi menunjukkan kepada kita bagai mana rasanya hidup dan bekerja jika tidak ada komunikasi. Semuanya sulit disatukan, sulit mengerti/memahami ide teman dalam satu kelompok kecilpun. Di sini kita menyadari bahwa komunikasi tatap muka itu penting, namun tidak semua orang bisa melakukannya atau berani berkomunikasi secara langsung. Orang demikian buiasanya kemudian memilih untuk memanfaatkan alat komunikasi lainnya seperti Handphone (HP) misalnya atau hanya ditulis di papan pengumuman komunitas yang praktis dan mudah. Namun kebiasaan ini sangat mempengaruhi hidup bersama, karena hakekat hidup berkomunitas adalah saling menyapa, bertemu dalam banyak kegiatan di komunitas.

(4). Penungkapan pengalaman: Peserta diajak untuk mendalami permainan dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

• Bagaimana perasaan para bruder selama bekerja dalam kelompok tanpa komunikasi, dan setelah ada komunikasi?

• Kesulitan-kesulitan apa yang dirasakan selama bekerja tanpa komunkasi?

(5). Arah Rangkuman

Jangankan tanpa komunikasi, ada komunikasipun sering kali kita mengalami kesulitan untuk menangkap maksud orang lain. Bekerja tanpa komunikasi kekhawatiran dan kecemasan lebih besar dibandingkan ada

komunikasi. Tanpa komunikasi kita sulit menebak arah pikiran, maksud dan tujuan yang hendak dan yang sampaikan. Sedangkan bekerja dengan saling berkomunikasi biasanya kesulitan kita adalah memahami maksud atau pernyataan dari orang yang menyampaikan berita itu. Namun bagaimana pun juga, bekerja dengan saling berkomunikasi itu jauh lebih baik hasilnya dan lebih menyenangkan dibandingkan tanpa komunikasi. Oleh sebab itu pentinglah komunikasi terutama komunikasi tatap muka bagi kita sehingga kita dapat mengerti, memahami orang lain secara sungguh-sungguh karena kita juga melihat langsung reaksi, mimik wajah atau ungkapan bahasa tubuh lainnya ketika kita sedang berbicara dengan mereka. Dengan adanya komunikasi, kita akan mudah menyatukan ide, gagasan, pendapat yang kurang tepat.

c) Langkah II: Refleksi Mendalami Pengalaman Hidup Faktual Peserta.

(1) Peserta diajak untuk merefleksikan dan mensharingkan pengalaman berkomunikasi dengan tatap muka

• Menurut anda, apa yang dimaksudkan dengan komunikasi tatap muka antar pribadi?

• Menurut anda, apa yang dimaksudkan dengan hidup berkomunitas? • Mengapa komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup

berkomunitas itu penting/perlu?

(2). Dari jawaban yang telah diungkapkan peserta, pendamping memberi arah rangkuman singkat

Komunikasi tatap muka antar pribadi adalah sebuah kegiatan interaksi atau pertukaran informasi yang terjadi antara dua orang atau lebih pada tempat dan waktu yang bersamaan. Dikatakan tatap muka, apabila terjadi pertukaran informasi oleh dua orang atau lebih pada tempat dan waktu yang bersamaan. Jadi keduanya berada dalam satu tempat dan waktu yang sama tanpa menggunakan alat komunikasi lain seperti Handphone (HP), mereka berbicara langsung.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, komunitas adalah kelompok (orang) yang hidup dan saling berinteraksi dalam suatu daerah tertentu. (Paguyuban). Dalam konteks ini, komunitas adalah (sekelompok) kita para bruder yang hidup dalam satu rumah di Alverna Kotabaru yang disatukan oleh satu panggilan sebagai religius, dalam tarekat bruder Maria Tak Bernoda (MTB).

Pada dasarnya hidup religius adalah hidup terpanggil secara khusus untuk menampakkan kesucian hidup dalam persekutuan dengan Gereja. Oleh karena itu, dalam komunitas-komunitas religius persaudaraan sejati yang dihayati dalam kehidupan berkomunitas menjadi ciri khas yang harus di perjuangkan oleh setiap anggota. (Darminta, 1982:7) mengatakan “hidup bersama merupakan hidup dalam persekutuan di mana orang sanggup dan rela untuk saling membantu, menopang, menghibur dan memberi semangat maupun saling memberi koreksi. Dasar dari semua ini adalah cinta, sebab manusia dipanggil untuk hidup mencinta”. Statua kongregasi bruder Maria Tak Bernoda (MTB) (2003: art. 30) :

“sejauh kemampuan kita, kita berusaha membantu setiap saudara untuk menghayati selibatnya dengan: saling membantu dengan ikhlas didalam kesulitannya, berkreatif menciptakan suasana hidup komunitas menjadi tempat kediaman yang aman, meneguhkan, tempat meminta pertolongan

sekaligus tempat yang menantang perwujudan diri, menciptakan keterbukaan untuk perwujudan penyerahan diri secara otentik sebagai religius, saling mengampuni dan mengakui kesalahan, saling mendengarkan, bertemu dan menemui serta mendukung keputusan bersama, menjauhkan kritikan atau sindiran, ketidak-pedulian, sikap menyendiri, menutup diri yang melemahkan semangat persuadaraan kita”.

Semua orang menginginkan/mengharapkan situasi, kehidupan dan persaudaraan yang menyenangkan, rukun dan penuh kedamaian dan kasih. Untuk mencapai harapan itu, kita tidak bisa tinggal diam tetapi berinisiatif membangun persaudaraan ini mulai dari diri sendiri untuk tidak bersikap acuh tak acuh terhadap hidup bersama. Kita mesti sadar bahwa kita hidup bersama dengan saudara lain dengan segala suka dukanya, maka tidak tepatlah kalau kita hanya mementingkan diri sendiri atau menganggap diri kita yang paling hebat, paling baik. Tetapi hendaklah kita menaruh empati pada suka duka komunitas.

Komunikasi tatap muka antar pribadi bukan sekedar dukuk bersama mendengar siapa yang bicara, tetapi komunikasi adalah bentuk keterlibatan kita, bentuk solidaritas kita kepada yang lain, tetapi sebagai ungkapan pernyataan diri terhadap orang lain. Komunikasi tatap muka mengandaikan semua berperan aktif, membicarakan dan memberi tanggapan sehingga komunikasi menjadi hidup dan memberi kehidupan baru, pandangan baru, kekuatan baru dan lain sebagainya. Dengan berkomunikasi kita telah memberi kesempatan kepada orang untuk menyatakan dirinya sehingga yang bersangkutan dapat berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Komunikasi tatap muka antar pribadi mengandaikan ada kebebasan bukan keterpaksaan. Ada komitmen yang harus

disepakati bersama, artinya komunikasi menjadi kebutuhan bersama. Di sinilah letak pentingnya komunikasi dalam hidup berkomunitas.

c) Langkah III: Menggali pengalaman iman kristiani

(1). Salah seorang diminta bantuannya untuk membacakan perikop Kitab Suci “Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta”, Injil Matius 8:1-4

(2). Peserta diberi waktu sebentar untuk merenungkan isi bacaan dengan bantuan beberapa buah pertanyaan sebagai berikut:

• Ayat mana yang menunjukkan komunikasi tatap muka antara Yesus dan orang sakit Kusta?

• Apa yang melatarbelakangi komunikasi ini? • Makna apa yang dapat diambil dari perikop ini? (3). Interpretasi dari pendamping

Injil Matius menampilkan komunikasi tatap muka antara Yesus dan orang kusta pada ayat 2 sampai ayat 4. Diawali dengan segerombolan orang banyak mengikuti Yesus, lalu datang seorang kusta kepada-Nya bersujud dan menyembah seraya memohon “jika Tuan mau, Tuan pasti dapat menyembuhkan daku”. Sebuah ungkapan kerendahan hati yang tulus, penuh iman dan berpengharapan. Melihat ketulusan, iman dan kepercayaan si kusta akan kemampuanNya, Yesus segara mengulurkan tangan-Nya dan menjamahnya, seketika itu juga si kusta menjadi sembuh. Kemudian Yesus melanjutkan amanah-Nya dengan berpesan “Jangan memberitahukan kepada siapapun, tetapi pergilah dan perlihatkanlah

dirimu kepada imam-imam dan persembahkanlah persembahan yang

diperintahkan oleh Musa sebagai bukti bagi mereka”.

Para Bruder yang terkasih. Melalui dialog tatap muka antara pribadi Yesus dan orang kusta ini, beberapa aspek yang ditunjukkan dalam Injil perihal komunikasi tatap muka antar pribadi. Pertama adanya kemauan dan inisiaif. Ini ditunujukkan oleh orang yang sakit kusta di tengah segerombolan banyak orang ia datang kepada Yesus. Kedua, Inisiatif ini disertai dengan sikap dan iman dan kepercayaan. Orang kusta datang kepada Yesus memohon agar disembuhkan.

Ketiga, ia memohon dengan bersujud di hadapan Yesus, tanpa memaksa, tetapi

membiarkan Yesus bertindak sesuai dengan keinginan-Nya karena yakin bahwa Yesus dapat menyembuhkan dia. Maka tergeraklah hati Yesus akan belaskasihan oleh cara dan permohonan si kusta yang penuh keyakinan dan iman itu. Akhirnya Yesus bertindak dan si kusta pun menjadi sembuh. Komunikasi adalah bentuk kesediaan diri bagi mereka yang membutuhkan. Komunikasi bukan sekedar mendengarkan, memberi informasi tetapi sebuah pemberian diri demi orang lain. Komunikasi juga mengandaikan ada kesepahaman, ada tujuan yang hendak dicapai yaitu kesembuhan bagi orang kusta. Komunikasi menjadi jalan menuju kesembuhan bagi si kusta dan sebagai sarana untuk mempertemukan dua pribadi (Yesus dan orang kusta) sehingga keduanya menjadi satu kesepahaman dalam tindakan dan pikiran yaitu keselamatan bagi si kusta.

d) Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam situasi Peserta konkrit (1) Pengantar:

Para bruder yang dikasihi dan mengasihi Tuhan. Kita telah memahami pentingnya komunikasi dari Injil. Sadar akan kekuatan dan kelemahan diri kita, maka kita membutuhkan orang lain. Komunikasi adalah jalan yang harus kita tempuh untuk saling mengerti dan memahami. Kita mau berkomunikasi dengan bertatap muka secara langsung, bukan melalui perantara atau lewat SMS, telpon dan sebagainya. Inilah yang melatarbelakangi kita dalam berkomunikasi. Jadi berkomunikasi bukan terpaksa, atau desakkan dari orang lain. Kita menyadari bahwa komunikasi adalah kebutuhan hidup kita, maka hendaknya kita berkomunikasi dengan jujur, terbuka, dengan rendah hati menyatakan apa adanya, tidak memaksa, bersedia untuk mendengarkan, saling percaya dan mempercayai dengan kebebasan hati, tulus dan lain sebagainya. Komunikasi tatap muka yang demikianlah yang melahirkan rasa belaskasihan dari lawan bicara kita.

(2) Sebagai bahan refleksi agar kita semakin mampu memahami dan memaknai komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas, maka marilah kita merefleksikan beberapa pertanyaan berikut ini:

• Apakah para bruder menemukan pemahaman atau hal-hal baru tentang komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas?

• Hal baru mana yang ditemukan dan mau dikembangkan dalam hidup berkomunitas selanjutnya?

(3) Rangkuman penerapan pada situasi peserta

Komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas adalah komunikasi yang menghadirkan pribadi pada tempat dan waktu yang bersamaan dalam kegiatan komunitas, misalnya rekreasi, rapat komunitas, dialog, sharing

bersama. Lewat bimbingan pribadi dengan pimpinan komunitas atau dengan siapa saja yang dianggap dapat membantu kita.

Setiap hari kita berjumpa dan berbicara dengan orang yang sama, hidup dalam satu rumah yang sama, maka hendaklah kita saling menyapa, mendengarkan, mengingatkan, menasehati dan menjadi bagian dalam pergulatan dan permasalahan sesama. Kita ambil bagian dari apa yang mereka alami. Sebagai sesama dalam komunitas, baiklah kita memberi bantuan, masukkan sumbang-saran dan pemikiran sepantasnya tetapi kita tidak mengadili mereka atau menyamaratakan permasalahan mereka dengan permasalahan saya biarlah ia sendiri yang mengambil keputusan, kesimpulan sendiri sesuai dengan hati nuaraninya.

e) Langkah V: Mengusahakan suatu aksi konkrit (1) Pengantar

Para bruder yang terkasih, sebelum kita bergabung dalam tarekat MTB, kita tidak pernah berpikir apa arti hidup bersama orang lain, apa itu hidup berkomunitas. Namun satu niat yang kita miliki ialah ingin mengabdikan diri bagi orang lain, kita menginginkan suatu kehidupan yang serba baik, harmonis, menyenangkan, damai dan lain sebagainya. Namun setelah kita mengalami, merasakan dan bahkan merefleksikannya, ternyata itu semua tidak segampang yang kita bayangkan. Kini kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa banyak saudara-saudara kita yang super sibuk sehingga tidak ada waktu untuk sekedar berbicara bersama, menyapa dan mendengarkan saudara lain.

Pada awal pertemuan melalui kerja kelompok tadi kita telah disadarkan kembali betapa pentingnya komunikasi tatap muka antar pribadi-pribadi. Kemudian Iinjil Matius juga menekankan komunikasi tatap muka antar pribadi sangat membantu kita untuk mengerti dan memahami orang lain, bahkan menimbulkan rasa belas kasihan karena kita secara langsung melihat kebutuhan dan permohonan serta ketulusan hati mereka yang kita ajak bicara. Konstitusi, anggaran dasar dan statuta kita juga menekankan hal yang sama. Oleh sebab itu marilah kita hening sejenak untuk merenungkan/memikirkan niat-niat apa yang mau kita buat baik secara kelompok maupun secara pribadi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran kita tentang komunikasi tatap muka antar pribadi dalam komunitas ini.

(2) Membangun niat-niat dan aksi konkrit

• Niat apa yang hendak kita lakukan untuk meningkatkan komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas?

• Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan komunikasi tatap muka antar pribadi?

Selanjutnya perserta diberi kesempatan dalam suasana hening untuk memikirkan niat-niat pribadi/bersama yang akan dilakukan. Kemudian niat kelompok jika ada dapat dibicarakan bersama secara bersama-sama. Adapun tujuannya agar mereka semakin memperbaharui diri untuk berani menjauhkan diri dari pikiran negatif yang menghambat komunikasi tatap muka, namun sebaliknya mendorong agar komunikasi tatap muka menjadi kebutuhan hidup sehari-hari.

(3) Kesempatan doa Umat/spontan diawali oleh pendamping dan disusul oleh peserta lain. Akhir doa spontan ditutup oleh pendamping dengan doa penutup. (4) Doa Penutup.

Tuhan Yesus Kristus guru dan teladan kami, syukur atas rahmat panggilan yang Engkau anugerahkan kepada kami masing-masing. Engkau telah memanggil kami menjadi murid-murid-Mu di tengah gereja dan masyarakat kami. Terima kasih pula Engkau telah menunjukkan kepada kami betapa pentingnya komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas bagi kami, Engkau telah menunjukkan kepada kami bahwa tiada jalan lain untuk mengikuti Engkau kecuali dengan saling menyapa, menerima dan saling memberi sesama kami di komunitas ini. Biarlah seluruh pengalaman kami hari ini, kemarin dan yang akan datang memampukan kami sanggup dan rela menerima sesama apa adanya demi memuji dan memuliakan nama-Mu. Semua ini kami mohon dengan perantaraan Kristus Tuhan kami, Amin.

(5) Sesudah doa penutup, kemudian diakhiri dengan lagu penutup: “Hidup Rukun dan Damai”, Madah Bakti No. 530.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini penulis menegaskan kembali pokok-pokok penting yang berkaitan dengan komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas, sehingga komunitas menjadi tempat yang menyenangkan, membahagiakan dan menjadi tempat untuk saling meneguhkan panggilan. Usaha untuk memaknai komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas dilaksanakan dalam bentuk katekese model Shared Christian Praxis (SCP). Pokok-pokok penting tersebut merupakan kesimpulan dari rumusan yang telah dijabarkan oleh penulis menjadi inti dari keseluruhn skripsi ini. Dalam bab ini juga penulis menyampaikan beberapa saran yang ditujukan kepada kongregasi/tarekat Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) secara keseluruhan yang menjadi subyek penulisan skripsi ini. Harapan penulis semoga saran-saran ini dapat menjadi masukkan atau sumbangan yang berharga bagi para bruder Maria Tak Bernoda (MTB) khususnya dalam wilayah propinsi Kalimantan Barat.

Dokumen terkait