• Tidak ada hasil yang ditemukan

Katekese Model Shared Christian Praxis (SCP) sebagai alternatif

BAB IV. SUMBANGAN KATEKESE DALAM UPAYA MEMAKNAI

D. Upaya Katekese Dalam Memaknai Komunikasi Tatap Muka Antar

2. Katekese Model Shared Christian Praxis (SCP) sebagai alternatif

2. Katekese Model Shared Christian Praxis (SCP) sebagai alternatif Pembinaan iman dalam memaknai komunikasi tatap muka antar pribadi.

Dalam usaha memaknai komunikasi tatap muka antar pribadi dalam hidup berkomunitas, penulis merasa katekese model Shared Christian Praxis (SCP) ini lebih cocok dengan situasi para bruder Maria Tak Bernoda (MTB) di Kalimantan Barat. Dengan mengutamakan pengalaman faktual dan proses yang dialogal dan partisipatif, model ini dianggap tepat karena dari hasil penelitian terdapat beberapa responden yang masih takut, segan dan tidak percaya diri dalam berkomunikasi dalam komunitasnya sendiri. Hal ini tentu mempersulit yang bersangkutan untuk sampai menemukan makna yang terkandung dalam komunikasi tatap muka antar pribadi tersebut. Dalam katekese model Shared

Christian Praxis (SCP) mengandaikan semua peserta aktif secara penuh, mampu

merefleksikan pengalaman hidupnya, dan sedikit interpensi dari pemimpin. Sejauh pengamatan penulis, ini tepat karena sebagian para bruder Maria Tak Bernoda (MTB) tidak senang mendengarkan atau dikotbahi. Mereka lebih senang melaksanakan apa yang menjadi keputusan, menemukan atau kesepakatan bersama. Bagi penulis, katekese model Shared Christian Praxis (SCP) tidak hanya mengharapkan bertambahnya pengetahuan dan iman peserta, tetapi juga sikap dan kesadaran baru untuk terus terlibat dalam segala kegiatan bersama dalam komunitas. Komunikasi tatap muka antar pribadi mengandaikan setiap orang mempunyai sikap ini.

 

Katekese model Shared Christian Praxis (SCP) sebenarnya hampir sama dengan ketiga model berkatekese yang lain yaitu katekese model Biblis, katekese model pangalaman hidup dan katekese model campuran. (sama-sama mengangkat pengalaman hidup dan Kitab Suci sebagai sumber berkatekese). Kekhususan model Shared Christian Praxis (SCP) ini terletak pada pendekatan berkatekese yang menekankan proses yang bersifat “dialogis Partisipatif”, yaitu mengusahakan terjadinya dialog antara visi dan tradisi hidup peserta dengan Tradisi dan Visi kristiani. Melalui dialog ini peserta dimampukan untuk menegaskan sikap dan mengambil keputusan demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam kehidupan mereka. Proses dialogis Partisifatif ini sekaligus membedakan katekese model Shared Christian Praxis (SCP) dengan model yang lainnya.

Menurut Thomas H. Groome yang disadur oleh Heryatno Wonowulung (1997:2-4) model Shared Christian Praxis (SCP) mempunyai tiga komponen pokok, yaitu:

1. Shared

Shared atau sharing adalah sebuah istilah yang mengandung makna komunikasi timbal balik. Keterlibatan aktif, keterbukaan terhadap diri sendiri sesama dan rahmat Tuhan merupakan tekanan yang pokok dalam katekese model

Shared Christian Praxis (SCP) ini. Dalam sharing, peserta diharapkan mampu

berdialog dengan sikap terbuka, mampu mendengarkan dengan hati, dan berkomunikasi dengan kebebasan hati. Sharing dimaksudkan supaya peserta

 

saling meneguhkan, penegasan bersama dan memupuk hasrat untuk maju bersama dalam iman dan kasih.

2. Christian

Katekese model SCP berusaha agar kekayaan iman Kristiani semakin terjangkau, dekat dan tetap relevan dalam kehidupan peserta di zaman sekarang. Dalam proses itu diharapkan kekayaan iman Gereja dalam sejarah berkembang menjadi pengalaman iman jemaat pada masa sekarang. Kekayaan iman dalam model ini meliputi dua unsur, yaitu: pengalaman hidup iman Kristiani dan visinya. Tanggapan manusia terhadap pewahyuan diri Allah yang terlaksana di tengah kehidupan manusia merupakan Tradisi Kristiani yang hidup dan sungguh dihidupi. Tradisi ini dipahami sebagai perjumpaan antara rahmat Allah dalam Kristus dan tanggapan manusia. Oleh sebab itu, Tradisi bukan hanya berupa pengajaran Gereja, tetapi juga meliputi Kitab Suci, Spiritualitas, refleksi teologis, sakramen, liturgi, seni dan nyanyian rohani, kepemimpinan, kehidupan jemaat dan lain-lain. Tradisi kristiani senantiasa mengundang keterlibatan praktis untuk menumbuhkan rasa memiliki dan kesatuan sebagai jemaat beriman, sekaligus meneguhkan identitas peserta sebagai orang kristiani.

3. Praxis.

Praxis mengacu pada tindakan manusia yang bertujuan untuk tercapainya suatu transformasi kehidupan yang di dalamnya terkandung proses kesatuan dialektis kreativitas dan keterlibatan baru.

Wonowulung (1997: 2-4) menyatakan , paxis mengandung tiga komponen yang saling berkaitan, yaitu:

 

a. Aktivitas.

Komponen aktivitas meliputi kegiatan mental dan fisik, kesadaran, tindakan personal dan sosial yang bersifat historis maka aktivitas ditempatkan dalam konteks waktu dan tempat.

b. Refleksi

Refleksi kritis memungkinkan peserta menganalisa dan memahami tempat dan peran mereka, masyarakat dan permasalahannya serta membuka peluang untuk merefleksikan iman kristiani sebagai sabda yang hidup di zaman sekarang.

c. Kreativitas

Kreativitas merupakan perpaduan antara aktivitas dan refleksi manusia yang menekankan dinamika praktis di masa depan yang terus berkembang untuk melahirkan praxis baru.

2. Langkah-langkah Model Shared Christian Praxis (SCP)

Sebagai model dalam pendalaman iman, SCP memiliki lima langkah yang saling berurutan. Dalam prakteknya, kelima langkah ini dapat dipersempit dengan menggabungkan beberapa langkah sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan.

a) Pengungkapan Praksis Faktual

Langkah ini mengajak peserta mengungkapkan pengalaman hidup dan keterlibatan mereka melalui lambang, tarian, drama dan lain sebagainya, untuk menjelaskan nilai, sikap, kepercayaan dan keyakinan yang melatarbelakanginya.

 

Pengungkapan pengalaman faktual ini dimaksudkan agar peserta sadar dan bersikap kritis terhadap pengalaman itu untuk melahirkan pandangan baru.

b) Refleksi Kritis Pengalaman Faktual

Langkah ini mendorong peserta untuk lebih aktif, kritis dan kreatif dalam memahami serta mengolah keterlibatan hidup pribadi maupun kelompok. Tujuannya untuk memperdalam refleksi dan mengantar peserta pada kesadaran kritis akan keterlibatan mereka, akan asumsi supaya pengalaman konkret sampai pada nilai dan visi Kristiani (langkah empat).

c) Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau

Dalam langkah ini peran pendamping mendapat tempat yang besar. Pendamping berperan supaya Tradisi dan Visi kristiani menjadi lebih terjangkau, lebih dekat dan relevan bagi peserta zaman sekarang dengan menjelaskan dan menginterpretasikannya supaya peserta mendapat nilai-nilai Kerajaan Allah sehingga iman peserta semakin diteguhkan.

d) Interpretasi Dialektis Antara Praksis dan Visi Peserta Dengan Tradisi dan Visi Kristiani

Langkah keempat ini mengajak peserta memperkembangkan dan menyempurnakan pokok penting pada langkah pertama dan kedua. Kemudian dikonfrontasikan dengan hasil interpretasi pada langkah tiga untuk menemukan kesadaran atau sikap-sikap baru yang hendak diwujudkan.

Interpretasi yang dialektis ini akan memampukan peserta menginternalisasi (memasukan kedalam/menyatukan dalam diri hingga menjadi miliknya sendiri) dan mensosialisasi (membagikan pengetahuan iman kepada

 

orang lain) nilai Tradisi dan Visi kristiani sehingga iman peserta diharapkan mennjadi lebih menjadi aktif, dewasa dan misioner.

e) Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia. Tujuan dari langkah ini adalah untuk mendorong peserta supaya sampai pada keputusan konkret bagaimana menghidupi iman kristiani pada konteks hidup yang telah dianalisis dan dipahami, direfleksi secara kritis, dinilai secara kreatif dan dipertanggungjawabkan.

E. Program Pembinaan dalam katekese

Dokumen terkait