• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Proposal PTK

Dalam dokumen Materi PTK PLPG Bhs. Jawa (Halaman 57-79)

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYIMAK PUISI

MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES PADA SISWA KELAS VII-5 SMPN 1 JUMAPOLO, KARANGANYAR

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan alat komunikasi paling penting bagi manusia. Melalui bahasa manusia dapat berinteraksi, berhubungan dengan orang lain, menyampaikan gagasan dan meningkatkan pengetahuan dari tuturan yang disampaikan. Jadi, bahasa merupakan dasar bagi seseorang untuk menyampaikan segala sesuatu kepada orang lain. Di lain pihak, pendidikan dapat mempermudah seseorang dalam mempelajari suatu bahasa. Sebab, di dalam pendidikan akan dipelajari bahasa secara fungsional. Artinya, berbagai macam ilmu yang diajarkan dalam pendidikan tentu salah satunya menggunakan bahasa sebagai per-antaranya. Kaitannya dengan pendidikan, salah satu bahasa yang diajar- kan di sekolah ialah bahasa Indonesia. Hal itu terbukti dari mata pelajaran bahasa Indonesia dijadikan sebagai alat pengantar bagi guru dalam mem-belajarkan berbagai ilmu kepada siswa. Selain itu, bahasa Indonesia se-bagai salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional.

Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang hendak dicapai oleh siswa, antara lain meliputi unsur: kebahasaan, pemahaman, dan penggu- naan. Unsur kebahasaan terdiri dari pembelajaran lafal, kosa-kata, dan paragraf. Unsur pemahaman mempelajari keterampilan menyimak dan membaca, sedangkan unsur penggunaan meliputi keterampilan berbicara dan menulis. Pembelajaran bahasa Indonesia diperlukan penguasaan ba- hasa yang baik pada siswa, yaitu terampil berbahasa.

Penjelasan di atas mengisyaratkan bahwa keterampilan berbahasa mempunyai peran penting di dalam kehidupan siswa. Hal ini terbukti dari pelajaran bahasa Indonesia yang melibatkan empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Namun, tampaknya pelajaran bahasa Indonesia kurang mendapat perhatian yang serius dari siswa. Hal ini terbukti kurang antusiasnya siswa dalam mem-pelajari

bahasa Indonesia, padahal banyak di antara mereka yang belum dapat memahami materi yang terdapat di dalamnya.

Banyak faktor yang menyebabkan kurang antusiasnya siswa dalam mempelajarai bahasa Indonesia, antara lain cara yang digunakan oleh gu- ru kurang bervariasi dan kemampuan siswa belum dioptimalkan. Hal itu tentu dapat mempengaruhi keadaan siswa dalam menangkap isi pelajaran yang diberikan. Salah satu contoh pada pelajaran menyimak, yaitu siswa banyak yang kurang mengerti maksud sesuatu yang disimaknya. Hal itu terjadi karena guru kurang memberikan cara yang tepat agar siswa dapat memahami sesuatu yang sedang dipelajari.

Dalam menyimak diperlukan cara yang tepat agar siswa mudah memahami materi dan bisa membuat siswa antusias terhadap pembelajar-an. Karena itu, peran guru sangat besar dalam merencanakan, melaksa-nakan, dan mengevaluasi kegiatan belajar-mengajar. Dalam hal ini, evalu- asi belajar berfungsi untuk mengetahui hasil belajar siswa dan untuk me-ngetahui sejauh mana keberhasilan seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Dalam menyampaikan materi pelajaran, guru tidak hanya menggunakan satu pendekatan saja, tetapi ia harus mampu memilih dan menggunakan beberapa pendekatan yang sesuai dengan materi yang di- sampaikan. Selain itu, guru harus mampu mengatur waktu yang tersedia dengan jumlah materi yang ada sehingga pada akhir pembelajaran dapat tuntas dan hasil yang dicapai pun sesuai. Dengan pemilihan penggunaan pendekatan yang tepat, materi yang disampaikan dapat mudah dimengerti dan diterima oleh siswa sehingga diharapkan terjadi proses pembelajaran yang optimal. Jadi, untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran me- nyimak perlu dicarikan cara atau pendekatan tertentu.

Sebagai alternatif pemecahan masalah dalam pembelajaran me-nyimak tersebut, sekiranya cara atau pendekatan yang dipandang tepat dan sesuai adalah pendekatan keterampilan proses. Pendekatan keterampilan proses, yaitu suatu anutan pembelajaran yang mengoptimalkan fisik, mental, dan keterampilan siswa dalam proses pembelajaran. Keberhasilan penggunaan pendekatan pembelajaran

juga terkait dengan bagaimana cara menyajikan kegiatan pembelajaran itu sendiri.

Praktiknya, ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam pendekatan keterampilan proses, yaitu metode demonstrasi dan metode eksperimen. Metode demonstrasi ialah cara mengajar di mana seorang guru menunjukkan, memperlihatkan suatu proses sehingga seluruh siswa dalam kelas dapat melihat, mengamati, mendengar, mungkin meraba-ra-ba, dan merasakan proses yang ditunjukkan oleh guru. Dalam demon- strasi ini siswa tidak melakukan percobaan. Jadi, penggunaan metode ini sangat menunjang dalam proses pembelajaran di kelas. Metode eksperi- men adalah suatu metode yang banyak dihubungkan dengan metode pe- mecahan masalah, antara lain mengatasi masalah yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran. Metode ini berkembang pada pelajaran IPA karena dalam IPA itu berkembang atas dasar observasi dan eksperimen.

Dari hasil survei awal yang dilakukan peneliti dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia diperoleh informasi bahwa dalam pembelajar- an menyimak sastra, siswa masih kesulitan dalam memahami maknanya sehingga nilai yang didapat juga kurang memuaskan. Rata-rata dari mere- ka kurang meminati karya sastra puisi, persentasenya adalah 50% dari total jumlah siswa. Kesulitan siswa memahami puisi karena penggunaan bahasanya memang sulit dipahami. Akibatnya, sebagian besar siswa ku- rang bisa memahami makna yang terkandung dalam puisi (begitu pun de-ngan jenis karya sastra yang lain). Untuk itu, guru harus berusaha mene- rapkan pendekatan yang dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa.

Hasil penelitian awal juga dapat dikemukakan bahwa ternyata guru masih menggunakan pendekatan tradisional. Misalnya, guru dalam mem-belajarkan baca puisi hanya memberi contohnya saja tanpa membacakan atau mendemonstrasikan sehingga siswa kesulitan dalam memahaminya. Kurangnya sikap komunikatif dengan siswa juga mempengaruhi rendah-nya tingkat pemahaman siswa. Karena itu, guru harus berupaya mencari pendekatan pembelajaran yang tepat dan sesuai.

Dalam pembelajaran, siswa masih menunjukkan ketidaksukaannya pada puisi. Hal ini ditunjukkan dari sikap siswa yang kurang memperhati-kan guru pada waktu menyajikan materi puisi. Nilai siswa juga belum opti- mal karena mereka kesulitan dalam memahami puisi yang diperdengar-kan. Sikap guru yang kurang memperhatikan aktivitas siswa juga ikut ber- pengaruh pada proses pembelajaran. Hal itu berdampak pada hasil bel-ajar sehingga nilai yang dicapai oleh siswa pada materi menyimak belum memenuhi standar KKM yang ditetapkan oleh sekolah, yaitu 70.

Terkait dengan masalah tersebut, peneliti berdiskusi dengan guru dalam upaya awal memecahkan masalah bagaimana cara agar siswa me-nyukai pembelajaran puisi. Untuk itu, peneliti memberi solusi pada guru agar menerapkan pendekatan keterampilan proses dalam membelajarkan puisi. Melalui penggunaan pendekatan ini diharapkan siswa dapat menun-jukkan proses hasil yang akan membuat nilai menjadi baik atau terjadinya peningkatan. Selanjutnya dalam proses, guru mengadakan tes menyimak puisi yang dibacakan atau yang didengarkan dari media dengan menggu- nakan metode demonstrasi. Dalam kegiatan menyimak puisi, siswa harus konsentrasi agar mereka dalam mengerjakan langkah selanjutnya bisa lancar atau mampu mengerjakan soal dari wacana yang telah disimak.

Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti akan melakukan pe-nelitian dengan judul Peningkatan Kemampuan Menyimak Puisi melalui Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada Siswa Kelas VII-5 SMPN 1 Jumapolo, Karanganyar, Tahun 2008 .

B. Rumusan Masalah

Berlandastumpu pada latar belakang masalah yang telah dikemu-kakan di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Apakah dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses da-pat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menyimak puisi di kelas VII- 5 SMPN 1 Jumapolo-Karanganyar?

2. Apakah dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses ju-ga dapat meningkatkan kualitas hasil keterampilan menyimak puisi di kelas VII-5 SMPN 1 Jumapolo-Karanganyar?

C. Tujuan Penelitian

Selaras dengan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kualitas:

1. Proses pembelajaran menyimak puisi dengan menerapkan pende-katan keterampilan proses di kelas VII-5 SMPN 1 Jumapolo - Ka-ranganyar. 2. Hasil pembelajaran menyimak puisi dengan menerapkan pendekat- an

keterampilan proses di kelas VII-5 SMPN 1 Jumapolo - Karang-anyar.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini memperkaya khazanah keilmuan. 2. Manfaat Praktis

a. Bagi guru

Memberikan alternatif pemecahan masalah dengan mene-rapkan strategi yang tepat dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran menyimak puisi.

b. Bagi siswa

1) Memotivasi siswa agar menunjukkan keseriusan dalam pembelajaran menyimak puisi.

2) Menciptakan pembelajaran pada peningkatan hasil belajar. 3) Membuat siswa menyukai karya sastra, khususnya puisi. c. Bagi sekolah

2) Sebagai motivasi agar guru dalam pembelajaran bahasa Indo-nesia dapat menggunakan pendekatan yang variatif, khusus da-lam pembelajaran menyimak puisi dan yang lainnya.

BAB II

LANDASAN TEORETIK A. Kajian Teori

1. Hakikat Pembelajaran Menyimak

Keterampilan berbahasa meliputi: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pada dasarnya keempat aspek tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Sekali pun dapat dibedakan, namun keempat aspek itu merupa- kan kesatuan utuh, yang sering disebut catur-tunggal. Menyimak memiliki hubungan yang sangat erat dengan membaca, di samping dengan aspek keterampilan yang lainnya. Menyimak memiliki persamaan dengan mem- membaca, yaitu keduanya merupakan alat untuk menerima informasi. Perbedaan antara menyimak dan membaca terletak pada jenis ko- munikasinya. Kegiatan menyimak terletak pada jenis komunikasi berben- tuk lisan,sedangkan membaca termasuk jenis komunikasi tertulis. Antara menyimak dan membaca memiliki persamaan, yaitu sama bertujuan men-dapatkan informasi, menangkap isi, dan memahami makna komunikasi.

Menyimak adalah aktivitas komunikasi yang menuntut ketajaman dan ketepatan dalam menangkap amanat dari luar diri seseorang. Menu-rut Anderson (dalam Tarigan,1993:28), menyimak bermakna mendengar-kan dengan penuh pemahaman dan perhatian secara apresiasi. Di lain pi-hak, Tarigan (1993) juga menyatakan bahwa menyimak adalah suatu pro- ses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh per-hatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk rnemperoleh infor-masi, menangkap isi, atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.

Dari kedua pengertian menyimak di atas dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah aktivitas komunikasi yang menuntut adanya perhatian, pemahaman, apresiasi serta interpretasi untuk memperoleh informasi ser-ta dapat

memahami apa yang disampaikan oleh pembicara. Menyimak di sini ditekankan pada artinya memperhatikan dan mengamati dengan baik pembicaraan orang lain maupun mendengarkan dari suatu media tertentu. Oleh karena itu,apabila siswa tidak memperhatikan ujaran yang disampai- kan atau didengarkan maka siswa tidak mungkin bisa menangkap maksud atau isi yang terkandung dalam ujaran tersebut. Menyimak merupakan ak-tivitas berbahasa yang paling awal dikerjakan anak melalui bahasa ibu-nya. Menyimak dan membaca merupakan tindak berbahasa reseptif, pu-nya ketergantungan mutlak dengan keterampilan berbahasa.

Tarigan (1993) menjelaskan tujuan menyimak itu beraneka ragam, antara lain: (1) Menyimak untuk untuk belajar; (2) Menyimak untuk mem-peroleh kenikmatan; (3) Menyimak untuk menilai atau mengevaluasi; (4) Menyimak untuk mengapreasikan materi simakan; (5) Menyimak untuk mengomunikasikan ide-ide, gagasan maupun perasaan-perasaan orang lain; (6) Menyimak untuk belajar bahasa asing; (7) Menyimak untuk me- mecahkan masalah secara kreatif dengan analisis; dan (8) Menyimak un- tuk meyakinkan suatu masalah atau pendapat yang dia ragukan. Menyimak merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting diajarkan di sekolah. Penyebab kurang diperhatikan- nya keterampilan menyimak barangkali karena orang berasumsi bahwa menyimak itu merupakan kemampuan alamiah belaka. Hal ini dapat dipa- hami apabila orang menyadari bahwa dalam mempelajari bahasa dengan jalan: (1) menyimak terlebih dahulu dari bahasa yang diucapkan (bunyi); (2) menirukan bahasa yang diucapkan tersebut,dan (3) mempraktikannya. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam pengajaran menyi-mak adalah sebagai berikut: (1) Menentukan makna. Pada tahap ini, guru menjelaskan penggunaan atau makna kata-kata yang sukar; (2) Mempe-ragakan ekspresi. Setelah menerangkan makna kata, guru mengucapkan pokok atau hal yang baru tersebut beberapa kali dan siswa menyimaknya. Di samping itu harus diusahakan agar siswa dapat melihat guru; (3) Me-nyuruh siswa untuk Mengulangi. Pada tahap ini, siswa disuruh menirukan atau mengulangi apa yang telah diucapkan oleh guru. Dalam hal ini guru dapat menunjukkan suatu gerak, menunjuk pada suatu gambar atau objek dan seterusnya siswa mengucapkannya; dan (4)

Memberi latihan eksten- sif. Latihan ini dapat dilakukan dengan cara, misalnya menyuruh siswa menjawab pertanyaan. Pemberian latihan ini banyak ditentukan guru.

2. Hakikat Pembelajaran Puisi

Istilah pembelajaran atau pengajaran sama juga dengan proses belajar- mengajar (PBM), yaitu proses kegiatan dalam rangka perencana-an, pelaksanaan, dan pengevaluasian program pengajaran yang melibat-kan peran serta guru, siswa, dan komponen lainnya (Tarigan, 1990: 33). Adapun yang dimaksud dengan komponen tersebut, antara lain: (1) Guru bertindak sebagai pengelola pembelajaran; (2) Siswa penerima, pencari, penyimpan materi untuk mencapai tujuan; (3) Tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran; (4) Materi pelajaran merupakan informasi yang di-gunakan dalam pembelajaran; (5) Metode, cara yang digunakan dalam pembelajaran; (6) Media berupa alat yang digunakan dalam pembelajar-an; dan (7) Evaluasi, menilai proses dan hasil belajar siswa.

Di sisi lain, puisi menurut Waluyo (2002:1) adalah bentuk kesusas- traan yang paling tua. Setiap puisi pasti berhubungan dengan penyairnya karena puisi diciptakan dengan mengungkapkan diri penyair sendiri. Un-tuk memahami puisi biasanya diberikan ciri-ciri puisi dan unsur-unsur yang membedakan puisi dengan karya sastra yang lain. Dari segi bentuk fisik yang terlihat dalam karya tulis, puisi menunjukkan perbedaan dari prosa dan drama. Selain itu, puisi sudah menunjukkan ciri-ciri khas yang kita ke- nal sekarang, meskipun puisi telah mengalami perkembangan dan per-ubahan dari tahun ke tahun. Bentuk karya sastra puisi memang dikonsep penulis atau penciptanya sebagai puisi dan bukan bentuk prosa yang di- dipuisikan. Sejak di dalam konsep, penyair telah mengonsentrasikan se- gala kekuatan bahasa dan gagasannya untuk melahirkan puisi.

Waluyo (2002:22) menjelaskan lebih lanjut bahwa puisi ialah karya sastra yang bersifat imajinatif dan bahasanya bersifat konotatif karena ba- nyak digunakan makna kias dan makna lambang. Dibandingkan dengan karya sastra yang lain, puisi lebih bersifat konotatif. Bahasa puisi lebih ba- nyak memiliki

kemungkinan makna. Hal ini disebabkan terjadinya pengon- sentrasian atau pemadatan segenap kekuatan bahasa di dalam puisi.

Muljana (dalam Waluyo 2002:3) menyatakan bahwa puisi merupa-kan bentuk kesusastraan yang menggunakan pengulangan suara sebagai ciri khasnya. Pengulangan kata menghasilkan rima, ritma,dan musikalitas. Selanjutnya, Coleridge (dalam Waluyo 2002:23) juga menjelaskan makna puisi ialah bahasa pilihan, yakni bahasa yang benar-benar diseleksi pe-nentuannya secara ketat oleh penyair. Karena bahasanya harus pilihan maka gagasan yang dicetuskan harus diseleksi dan dipilih yang terbagus. Sementara itu, Waluyo (1991:25) memberikan definisi puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya. Puisi terdiri atas unsur-unsur yang saling mengikat keterjalinan dan semua unsur itu membentuk totalitas makna yang utuh. Dalam penafsiran puisi tidak dapat lepas dari faktor genetik puisi, yaitu penyair dan kenyataan sejarah. Faktor genetik dapat memperjelas makna yang dilatarbelakangi oleh kebudayaan penyair. Struktur batin puisi terdiri atas: tema, nada, perasaan, dan amanat; sedangkan struktur fisik puisi terdiri atas: diksi, pengimajian, kata konkret, majas, (lambang dan kiasan) versifikasi (rima, ritme, dan metrum) dan tipografi puisi.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa puisi me-rupakan salah satu bentuk karya sastra yang bersifat imajinatif, bahasa yang digunakan memiliki makna tersendiri. Penulis puisi disebut penyair dan dalam menuliskan karyanya seorang penyair harus mampu mengung- kapkan segala gagasannya dalam bentuk bahasa-bahasa yang lugas/pi- lihan yang akan membentuk suatu karya yang indah.

Kedua istilah yang telah dijelaskan di depan jika digabungkan men-jadi pembelajaran puisi dan memiliki makna tersendiri. Terkait dengan hal ini, Dardjowidjojo (dalam Suyitno, 2004) menjelaskan bahwa pembel- ajaran puisi adalah usaha di atas sadar yang menyebabkan orang memi-liki pengetahuan tentang dan kemampuan memahami puisi. Oleh karena itu, dilakukan melalui kegiatan formal di kelas.

Pembelajaran puisi merupakan bagian dari pembelajaran sastra. Hakikat pembelajaran sastra adalah membawa siswa ke arah pengalam-an sastra (literary experince). Dengan begitu sikap responsif dan sensitif diharapkan muncul

secara wajar. Siswa menghayati dan menelusuri sen-diri setiap karya sastra secara total dan utuh, bukan penghayatan yang bersifat intelektual belaka maka unsur efektiflah yang berperan penting.

Materi-materi puisi yang diajarkan di sekolah berkisar tentang pe- ngetahuan siswa mengenai penulis puisi itu sendiri, ekspresi yang ditim- bulkan pembacanya, makna dari setiap puisi yang disampaikan. Pertanya- an yang diberikan, antara lain: makna dari kata maupun baitnya, unsur in- trinsik puisi atau mengenai ekspresinya yang meliputi lafal, intonasi, jeda, maupun penekanan-penekanan yang ditimbulkan dari pembacanya. Pe-makaian cara-cara yang berbeda dapat membantu siswa untuk menyukai puisi sehingga ia tidak bosan dengan cara yang digunakan oleh guru.

3. Hakikat Pendekatan KeterampilanProses

Pendekatan adalah jalan atau arah yang ditempuh oleh guru dalam mencapai pengajaran, dilihat dari sudut bagaimana materi itu disusun dan disajikan (Margono, 1998:123). Jadi, pendekatan yang digunakan guru dengan guru lain, serta materi satu dengan materi lain tidak sama. Berdasarkan penilaian terhadap kenyataan pembelajaran yang ku- rang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan diri se- suai taraf kemampuannya maka diadakan uji coba dengan pendekatan baru. Pendekatan itu adalah anutan cara belajar siswa aktif (CBSA), na- mun bukan cara belajar siswa aktif tanpa isi, tanpa pesan, tanpa rancang- an, dan tanpa arah. CBSA yang dipraktikkan adalah cara belajar siswa ak- tif yang mengembangkan keterampilan memproseskan perolehan. Pende- katan ini dikenal dengan pendekatan keterampilan proses. Menurut Semi- awan, dkk. (1992:16), pendekatan keterampilan proses diartikan sebagai suatu tindakan dalam proses pembelajaran berupa keterampilan-keteram-pilan yang menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan sikap dan nilai.

Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada pada siswa (Moedjiono dan Dimyati, 1991:14). Pen- dekatan ini juga memberikan kepada siswa pengertian yang tepat tentang hakikat ilmu pengetahuan. Siswa dapat mengalami rangsangan ilmu pe-ngetahuan dan mengerti lebih baik fakta dan konsep ilmu pengetahuan. Terdapat berbagai keterampilan dalam keterampilan proses, kete- rampilan-keterampilan dasar (basic skill) dan keterampilan-keterampilan ter-

integrasi (integrate skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri atas enam

keterampilan, yaitu: mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, meng- ukur, menyimpulkan, dan mengomunikasikan. Keterampilanlan terintegra- si meliputi mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antarvariabel, me- ngumpulkan dan mengolah data, menganalisis penelitian, menyusun hipo- tesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian, dan melaksanakan eksperimen (dalam Moedjiono dan Dimyati, 1991). Adapun metode yang dapat diterapkan dalam pendekatan keteram- pilan proses di antaranya metode demonstrasi dan eksperimen. Tetapi di sini hanya digunakan metode demonstrasi karena eksperimen biasanya dipakai pada pelajaran fisika, atau pelajaran eksak lainnya.

Pendekatan keterampilan proses diartikan sebagai suatu tindakan dalam proses belajar-mengajar yang berupa keterampilan-keterampilan yang menjadi roda penggerak penemuan, pengembangan fakta dan kon-sep serta penumbuhan dan pengembangan sikap dan nilai. Metode de-monstrasi adalah cara mengajar di mana seorang guru menunjukkan, memperlihatkan suatu proses sehingga siswa dalam kelas dapat melihat, mengamati, mendengar, dan merasakan proses yang dipertunjukkan oleh guru tersebut. Dengan demikian yang dimaksud dengan pendekatan kete-rampilan proses melalui metode demonstrasi adalah suatu proses belajar-mengajar di mana seorang melakukan suatu percobaan di hadapan siswa dalam kelas dan guru juga membantu siswa dalam mengembangkan ke-

terampilan yang menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan fakta dan konsep serta pertumbuhan dan pengembangan sikap dan nilai.

B. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang dipandang relevan dengan penelitian ini adalah pe-nelitian Ashari (2007) yang berjudul Pemanfaatan Media Rekaman Mono-log dan Dialog untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Menyimak pa-da Siswa Kelas X SMA Batik Surakarta . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa dengan menggunakan media rekam- an monolog dan dialog meningkat setiap siklusnya. Keaktifan siswa dalam kegiatan belajar-mengajar siklus I meningkat 60% menjadi 75% pada si-klus II dan 90% pada siklus III. Keberanian siswa mengungkapkan hasil pekerjaan meningkat 20% dari siklus I menjadi 50% pada siklus II dan pa-da siklus III 70%I. Persentase ketuntasan belajar siswa meningkat dari si- klus I sebesar 45% menjadi 60% pada siklus II dan 70%pada siklus III.

Hasil penelitian lain yang relevan adalah penelitian berjudul Pe- ningkatan Kemampuan Menyimak Dongeng dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Media Hand Puppet (Suniyah, 2008). Hasil penelitian- nya

disimpulkan terjadi peningkatan pada setiap siklusnya.Keaktifan siswa selama kegiatan pembelajaran dari siklus I sebesar 61% menjadi 74% pa-da siklus II dan 87% pada siklus III.Keaktifan dan keberanian siswa dalam menjawab pertanyaan dan mengungkapkan pendapat pada siklus I 39% menjadi 74% pada siklus II dan 90% pada siklus III. Ketuntasan hasil bel- ajar meningkat 61% siklus I

Dalam dokumen Materi PTK PLPG Bhs. Jawa (Halaman 57-79)

Dokumen terkait