˚ Terdapat perbedaan berarti (signifikan) produktivitas kerja antara pegawai negeri, pegawai BUMN, dan pegawai swasta;
˚ Terdapat kesamaan antara cara promosi perusahaan A dengan perusahaan B;
˚ Terdapat perbedaan berarti kemampuan dan disiplin kerja antara pegawai swasta nasional dengan perusahaan asing;
˚ Terdapat perbedaan berarti jumlah penjualan antara model sedan dengan mobil niaga.
3. Rumusan hipotesis hubungan/pengaruh
Contoh rumusan masalah hubungan simetris
˚ Bagaimana bentuk hubungan antara banyaknya radio/televisi di pedesaan dengan sepatu yang dibeli melalui iklan;
˚ Apakah kenaikan harga ikan berhubungan dengan kenaikan harga telur di pasar tradisional Karombasan Manado;
˚ Apakah berhubungan positif dengan inflasi tahun 2003 dengan inflasi tahun 2004. Contoh rumusan hipotesis hubungan simetris
˚ Terdapat hubungan fungsional antara banyaknya radio/televisi di pedesaan dengan sepatu yang dibeli melalui iklan;
˚ Kenaikan harga ikan berhubungan fungsional dengan kenaikan harga telur di pasar tradisional Karombasan Manado.
˚ Terdapat hubungan positif inflasi tahun 2003 dengan inflasi tahun 2004. Contoh rumusan masalah hubungan kausal
˚ Berapa besar pengaruh, modal, tenaga kerja, dan skills terhadap produktivitas minyak kelapa PT Bimoli Bitung;
˚ Apakah sistem penggajian perpengaruh positif terhadap prestasi kerja karyawan;
˚ Berapa besar pengaruh harga beras, kualitas beras terhadap kuantitas beras yang diminta. Contoh rumusan hipotesis hubungan kausal
˚ Modal, tenaga kerja, dan skills berpengaruh positif dan berarti terhadap produktivitas minyak kelapa PT Bimoli Bitung;
˚ Sistem penggajian perpengaruh positif terhadap prestasi kerja karyawan;
˚ Harga beras dan kualitas beras berpengaruh kuat terhadap kuantitas beras yang diminta. Contoh rumusan masalah hubungan interaktif/timbal balik
˚ Bagaimana hubungan antara konsumsi dan pendapatan. Disini dapat dinyatakan konsumsi mempengaruhi pendapatan dan sebaliknya pendapatan mempengaruhi konsumsi;
˚ Apakah inflasi berhubungan dengan kenaikan kurs rupiah terhadap dolar. Contoh rumusan hipotesis hubungan interaktif/timbal balik
˚ Antara konsumsi dan pendapatan saling berhubungan positif;
˚ Antara inflasi dengan kenaikan kurs rupiah terhadap dolar berhubungan timbal balik dan positif.
D.Kekeliruan Dalam Pengujian Hipotesis
Menurut Rudi Susilana (2009), pada dasarnya menguji hipotesis adalah menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel. Menurut Sugiyono (2001:86) menyatakan bahwa terdapat 2 (dua) cara menaksir, yaitu a point estimate dan interval estimate atau convidence interval. A point estimate (titik taksiran) adalah suatu taksiran parameter populasi berdasarkan satu nilai data sampel. Sedangkan interval estimate
114
(taksiran interval) adalah suatu taksiran parameter populasi berdasarkan nilai interval data sampel. Sebagai contoh, saya berhipotesis (menaksir) bahwa daya tahan kerja orang Indonesia itu 10 jam/hari. Hipotesis ini disebut point estimate, karena daya tahan kerja orang Indonesia ditaksir melalui satu nilai yaitu 10 jam/hari. Bila hipotesisnya berbunyi daya tahan tenaga kerja orang Indonesia antara 8 sampai dengan 12 jam/hari, maka hal ini disebut interval estimate. Nilai intervalnya adalah 8 sampai dengan 12 jam.
Selanjutnya Rudi Susilana (2009) menyatakan bahwa menaksir parameter populasi yang menggunakan nilai tunggal (point estimate) akan mempunyai resiko kesalahan lebih tinggi dibanding dengan interval estimate. Menaksir daya tahan kerja orang Indonesia 10 jam/hari akan mempunyai kesalahan yang lebih besar bila dibandingkan dengan nilai taksiran antara 8 sampai dengan 12 jam. Makin besar interval taksirannya maka akan semakin kecil kesalahannya. Menaksir daya tahan kerja orang Indonesia 6 sampai 14 jam/hari akan mempunyai kesalahan yang lebih kecil bila dibandingkan dengan interval taksiran 8 sampai 12 jam. Untuk selanjutnya kesalahan taksiran ini dinyatakan dalam peluang yang berbentuk persentase. Menaksir daya tahan kerja orang Indonesia dengan interval antara 6 sampai dengan 14 jam/hari akan mempunyai persentase kesalahan yang lebih kecil bila digunakan interval taksiran 8 sampai dengan 12 jam/hari. Biasanya dalam penelitian kesalahan taksiran ditetapkan terlebih dahulu, yang digunakan adalah 5%dan 1%. Semakin kecil taraf kesalahan yang ditetapkan, maka interval estimate-nya semakin besar, sehingga tingkat ketelitian taksiran semakin rendah.
Sugiyono (2001:88) menyatakan bahwa dalam menaksir populasi berdasarkan data sampel kemungkinan akan terdapat dua kesalahan, yaitu:
ū Kesalahan tipe I adalah suatu kesalahan bila menolak hipotesis nol (Ho) yang benar (seharusnya diterima). Dalam hal ini tingkat kesalahan dinyatakan dengan a (baca alfa). ū Kesalahan tipe II adalah kesalahan bila menerima hipotesis yang salah (seharusnya ditolak).
Tingkat kesalahan untuk ini dinyatakan dengan b (baca beta).
Berdasarkan hal tersebut, maka hubungan antara keputusan menolakatau menerima hipotesis dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 3.
Keputusan Menolak Atau Menerima Hipotesis
Keputusan Keadaan Sebenarnya
Hipotesis Benar Hipotesis Salah Terima hipotesis Tidak membuat kesalahan Kesalahan tipe II
Tolak hipotesis Kesalahan tipe I Tidak membuat kesalahan Dari tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
ŕ Keputusan menerima hipotesis nol yang benar, berarti tidak membuat kesalahan. ŕ Keputusan menerima hipotesis nol yang salah, berarti terjadi kesalahan tipe II. ŕ Membuat keputusan menolak hipotesis nol yang benar, berarti terjadi kesalahan tipe I. ŕ Keputusan menolak hipotesis nol yang salah, berarti tidak membuat kesalahan.
Bila nilai statistik (data sampel) yang diperoleh dari hasil pengumpulan data sama dengan nilai parameter populasi atau masih berada pada nilai interval parameter populasi, maka hipotesis yang dirumuskan 100% diterima. Jadi tidak terdapat
115
kesalahan. Tetapi apabila nilai statistik di luar nilai parameter populasi akan terdapat kesalahan. Kesalahan ini semakin besar bila nilai statistik jauh dari nilai parameter populasi. Tingkat kesalahan ini kemudian disebut level of signican atau tingkat signifikansi. Dalam praktiknya tingkat signifikansi telah ditetapkan oleh peneliti terlebih dahulu sebelum hipotesis di uji. Biasanya tingkat signifikansi (tingkat kesalahan) yang diambil adalah 1% dan 5%. Suatu hipotesis terbukti dengan mempunyai kesalahan 1% berarti bila penelitian dilakukan pada 100 sampel yang diambil dari populasi yang sama, maka akan terdapat satu kesimpulan salah yang dilakukan untuk populasi.
E. Rangkuman
Dalam dunia ilmu, orang kadang sulit membedakan antara teori, konsep, fakta dan kenyataan. Seorang ilmuwan dalam mencari pengetahuan bukan hanya mencari fakta atau kenyataan, akan tetapi berusaha menemukan dalil-dalil. Dengan dalil tersebut, seorang ilmuwan dapat melakukan peramalan rangkaian peristiwa berikutnya. Dalil-dalil yang tersusun secara sistematis yang ditemukan inilah yang pada akhirnya merupakan teori. Teori merupakan rangkaian konstruk atau konsep, definisi, dan proposisi yang menggambarkan fenomena secara sistematis melalui penentuan hubungan antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan (memprediksi) fenomena alam. Beberapa komponen yang berhubungan dengan teori yaitu konstruk, konsep, fenomena dan variabel. Atas dasar itu terdapat 3 (tiga) hal pokok yang terungkap dalam definisi teori, yaitu:
5 Elemen teori terdiri atas konstruk, konsep, definisi dan proposisi;
5 Elemen teori memberikan gambaran sistematis mengenai fenomena melalui penentuan- penentuan hubungan antar variabel;
5 Tujuan teori adalah untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena alam.
Masalah dalam penelitian pada hakikatnya merupakan pertanyaan-pertanyaan tentang keadaan atau fenomena di lapangan yang jawabannya akan dicari melalui suatu penelitian. Pertanyaan yang sering muncul dari peneliti adalah bagaimana menemukan masalah. Pertanyaan ini telah dibahas sebelumnya bahwa untuk menemukan masalah, diperoleh antara lain melalui suatu deduksi dari teori. Banyak pakar peneliti mengungkapkan bahwa teori merupakan sumber menemukan masalah yang sangat baik jika dipadukan dengan fenomena alam yang tersedia.
Teori pada hakikatnya merupakan prinsip-prinsip umum yang ditarik dari fakta-fakta atau dugaan-dugaan yang menerangkan sesuatu. Kelayakan teori untuk diterapkan pada permasalahan-permasalahan bidang ilmu belum dapat dibuktikan kesahihannya sebelum prinsip-prinsip tersebut dikukuhkan (dibuktikan secara empiris). Implikasi dari teori akan merupakan deduksi yang ditarik untuk menjadi masalah yang dapat diterangkan pada suatu objek penelitian. Misalkan teori pendapatan dari Engel, mungkin dapat menjadi titik awal yang sangat berguna bagi penelitian pendapatan masyarakat/rumah tangga di suatu desa. Dengan demikian antara teori dan masalah, saling berhubungan dalam hal melahirkan masalah yang bersumber dari teori.
116
Dalam penelitian kuantitatif, pada dasarnya teori merupakan alat ilmu pengetahuan untuk menjelaskan masalah, sebab tanpa teori (prinsip-prinsip umum), ilmu pengetahuan tidak akan menghasilkan ramalan-ramalan atau prediksi atas fenomena/kejadian alam dan tanpa prediksi, tidak akan ada pengawasan terhadap gejala-gejala atas kejadian di dunia ini. Guna menemukan sebuah dalil atau teori yang terbukti kebenarannya, mula-mula dibuat konstruk dan konsep sementara atas dasar teori yang dipergunakan sebagai pedoman atau petunjuk untuk memecahkan masalah. Selanjutnya peneliti mencari data untuk menguji kebenaran atas konsep yang dibuatnya. Konsep atau konstruk yang dibuat dalam bentuk jawaban sementara atas masalah tersebut yang kita sebut sebagai hipotesis.
Hipotesis dibuat dan bertolak pada teori yang telah ada. Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoretis dianggap paling mungkin atau paling tinggi tingkat kebenarannya. Secara teknik, hipotesis adalah pernyataan mengenai keadaan populasi yang akan di uji kebenarannya melalui data yang diperoleh dari sampel penelitian. Secara statistik, hipotesis merupakan pernyataan keadaan parameter yang akan di uji melalui statistik sampel. Di dalam hipotesis itu terkandung suatu ramalan. Ketepatan ramalan itu tentu tergantung pada penguasaan peneliti itu atas ketepatan landasan teoritis dan generalisasi yang telah dibacakan pada sumber-sumber acuan ketika melakukan telaah pustaka.
Dalam menaksir populasi berdasarkan data sampel kemungkinan akan terdapat 2 (dua) kesalahan, yaitu:
" Kesalahan tipe I adalah suatu kesalahan bila menolak hipotesis nol (Ho) yang benar (seharusnya diterima). Dalam hal ini tingkat kesalahan dinyatakan dengan a (baca alfa). " Kesalahan tipe II, adalah kesalahan bila menerima hipotesis yang salah (seharusnya ditolak).
Tingkat kesalahan untuk ini dinyatakan dengan b(baca beta).
Berdasarkan hal tersebut, maka hubungan antara keputusan menolak atau menerima hipotesis, dapat dijelaskan sebagai berikut:
' Keputusan menerima hipotesis nol yang benar, berarti tidak membuat kesalahan. ' Keputusan menerima hipotesis nol yang salah, berarti terjadi kesalahan tipe II.
' Membuat keputusan menolak hipotesis nol yang benar, berarti terjadi kesalahan tipe I. ' Keputusan menolak hipotesis nol yang salah, berarti tidak membuat kesalahan.
F. Tes Formatif Dan Kunci Jawaban
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan memilih salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat.
1. Seorang ilmuwan dalam mencari pengetahuan bukan hanya mencari fakta atau kenyataan, akan tetapi berusaha menentukan
a. dalil-dalil b. konsep c. hipotesis
d. masalah penelitian
2. Masalah dalam penelitian pada hakikatnya merupakan pertanyaan-pertanyaan
tentang keadaan atau fenomena di lapangan yang jawabannya akan dicari melalui