SENARAI BACAAN
E. Paradigma Penelitian Ekonom
Ilmu ekonomi dalam konteks pembagian bidang ilmu masuk pada golongan ilmu-ilmu sosial, namun dalam dalam konsorsium ilmu ekonomi berkeinginan ilmu ekonomi berdiri sendiri dalam kajiannya, karena ilmu ekonomi memiliki karakteristik yang lain dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya. Dalam banyak hal ilmu ekonomi sering mengkaji dan meramalkan keilmuannya dengan menggunakan alat bantu matematis dan statistis, sehingga pengkajian penelitian ilmu ekonomi memiliki kecenderungan untuk memiliki paradigma yang sedikit berbeda dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Paradigma ilmu ekonomi dan manajemen, seperti disarikan dari Robert Gephart (1999) yang tergambar pada tabel berikut:
Tabel 1.
Paradigma Penelitian Ilmu Ekonomi dan Manajmen
Positivisme Interpretivisme Teori
Kritis/Postmodernisme Asumsi Dunia objektif dimana il-
mu pengetahuan dapat mencerminkan kebenaran dan ilmu pengetahuan.
Dunia inter subjektif dimana il- mu pengetahuan dapat mewa- kili dengan konsep dari konsep para pelaku yang ada; konst- ruksi sosial dari kenyataan ya- ng ada.
Dunia material dari kon- tradiksi yang terstruktur dan/atau eksploitasi ya- ng mana bisa saja bersi- fat objektif dan hanya di- kenali dengan cara mela- kukan pemindahan bias dari ideologi yang dipa- hami.
Ide atau fok- us utama
Pengamatan terhadap vari- abel kontekstual dan orga- nisasi yang mampu meni- mbulkan tindakan dalam skala organisasi.
Pengamatan tentang pola-pola dari pengertian yang ada.
Pengamatan yang dila- kukan untuk menemu- kan kontradiksi yang ter- sembunyi oleh ideologi buka suara karena suara sebelumnya tidak diper- dengarkan.
Teori pokok dalam parad- igma
Teori kontingensitas (terga- ntung pada peristiwa tak tentu); teori sistem, ekologi populasi, biaya transaksi ekonomi dari pengelompo- kan; empiris dustbowl (bo- la debu).
Interaksi berlambang; etno- metodologi, fenomenologi, he- rmeneutika.
Marxisme; teori kritis; perspektif radikal. PM: poststruktualisme; postmodernisme; dekon- struksionisme; semiotik.
Fitur utama Lorsch dan Lawrence; Ha- nnan dan Freeman; Oliver Williamson.
Goffman; Garfinkel, Schutz, Van Maanen, David Silverman.
Marx; Habermas: Offe.
Tujuan para- digma
Menyembunyikan kebena- ran dan fakta sebagai hu- bungan khusus yang bers- ifat kuantitatif di antara va- riabel yang ada.
Menjelaskan pengertian, me- mahami pengertian situasi dari para anggotanya, menguji se- berapa objektif kenyataan yang dihasilkan.
Menyembunyikan keter- tarikan yang tersembu- nyi; mengekspos kont- raksi yang terjadi; me- mungkinkan terciptanya susana yang lebih sadar akan kenyataan; meng- gantikan pandangan ide- ologi dengan pandangan keilmuan; mengubah. Kebiasaan il- Menguji ulang hipotesa Penjabaran abstrak dari penge- Pandangan struktural at-
50
mu pengetah-uan atau ben- tuk teori
yang melibatkan variabel yang telah diperhitungkan, valid, dan dapat diandal- kan.
rtian dan para anggotanya, de- finisi dari keadaan yang diha- silkan dalam konteks sebe- narnya.
au sejarah akan mengga- ntikan kontradiksi yang ada.
Kriteria unt- uk penelitian perkiraan
Prediksi = penjelasan Rig- or; validitas internal dan eksternal, dapat diandalk- an.
Dapat diandalkan keaslian. Konsistensi teoritas, pan- dangan sejarah, pemaha- man lebih, alasan akan tindakan yang dilakuk- an, perubahan potensial dan mobilisasi.
Unit dari ana- lisis
Variabel. Pengertian; tindakan simbolik. Kontradiksi, pemanfaat- an.
PM: tanda yang dihasil- kan
Metode pene- litian dan jen- is analisis
Pengalaman; kuisioner; an- alisa data sekunder; doku- men berkode yang bersifat kuantitatif.
Kuantitatif: regresi; penye- kalaan Likert; model persa- maan struktural.
Kualitatif: pengujian teori mendasar
Etnografi; observasi partisi- pan; wawancara; analisa konv- ersasional, perkembangan teori mendasar.
Studi kasus; Analisis tekstual dan konversasional; analisa pe- ngembangan
Penelitian lapangan, ana- lisis sejarah, analisa dial- ektikal.
PM: dekonstruksi, anali- sis tekstual.
Menurut Sonny Leksono (2008:8), positivisme sebagai salah satu aliran filsafat yang bebas nilai dikembangkan mulai abad ke-19 melalui rintisan Auguste Comte – sesungguhnya merupakan penajaman tren pemikiran rasionalisme dan empirisme (Hardian, 2002). Pendekatan positivisme dinilai sebagai hal yang baru adalah karena pandangan tentang metodologi ilmu pengetahuan yang menitikberatkan pada metodologi ilmu pengetahuan. Dalam pemikiran empirisme dan rasionalisme (yang berkembang sebelum positivisme) sesuatu pengetahuan masih sebatas ditempatkan sebagai refleksi, maka setelah itu dengan positivisme kedudukan pengetahuan diganti dengan metodologi (Hardian, 2002:57). Dan satu-satunya pilihan metodologi yang unggul berjaya sejak masa renaisans adalah metodologi ilmu-ilmu alam bukan ilmu yang lain. Sehingga, dengan ini positivisme mengambil alih sesuatu pengetahuan yang semula menjadi wilayah refleksi epistemologi yaitu bagaimana pengetahuan manusia tentang kenyataan, telah menjadi terkooptasi oleh ruang metodologi ilmu-ilmu alam. Awalnya “metodologi” yang semestinya sebagai salah satu cara valid mendapatkan pengetahuan tentang kenyataan, ternyata kemudian tergusur menjadi metodologi positivisme, maka artinya sejak saat itu telah berlangsung reduksi terhadap pelacakan sesuatu pengetahuan.
Teori kebenaran yang dianut positivisme termasuk teori korespondensi (Muhadjir, 2000:13-14). Teori korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan adalah benar jika terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan tersebut (Suriasumantri, 1999:20). Atau dengan kata lain, suatu pernyataan dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam pernyataan tersebut bersesuaian (korespodensi) dengan objek faktual yang ditunjuk oleh pernyataan tersebut. Dengan keseluruhan “keunggulan” yang dinyatakannya sendiri maka ide pokok dari aliran positivisme (Kincaid, 1998:558-560 dalam Pawito, 2007:49) yaitu bahwa ilmu pengetahuan (science) merupakan jenis pengetahuan yang paling tinggi tingkatannya,
51
dan karenanya kajian filsafat harus juga bersifat ilmiah; bahwa hanya ada satu jenis metode ilmiah yang berlaku secara umum, untuk segala bidang atau disiplin ilmu, yaitu metode penelitian ilmiah yang lazim digunakan dalam ilmu alam; bahwa pandangan-pandangan metafisik tidak dapat diterima sebagai ilmu, tetapi "sekadar" merupakan pseudoscientific.
Bertolak pada ide dasar menurut butir kedua di atas, menunjuk pula naturalisme yang merupakan gagasan berpengaruh pada perkembangan ilmu-ilmu sosial dan perilaku, yaitu digunakannya metode kuantitatif sedemikian kuat dan meluas, terutama melalui survei dan eksperimen. Dalam konteks ini, naturalisme telah dipahami sebagai suatu pandangan bahwa ilmu sosial yang bagus adalah yang menggunakan metode ilmiah yang lazim digunakan dalam ilmu-ilmu alam (Kincaid, 1998:559, dalam Pawito, 2007:50).
Implikasi pemahaman ini menyebabkan keharusan sesuatu konsep penelitian yang digunakan perlu didefinisikan secara operasional dengan batasan aspek aspek tertentu serta ukuran-ukuran tertentu. Oleh karena itu, dalam positivisme diakui bahwa operasionalisasi konsep-konsep merupakan bagian penting dalam penelitian ilmiah. Dalam positivisme secara umum, dan apalagi dalam naturalisme pada khususnya, istilah atau konsep harus didefinisikan secara spesifik (operasional) agar penelitian dapat melakukan pengukuran-pengukuran. Aliran filsafat positivisme telah mendorong perkembangan teknik-teknik statistik, baik untuk kepentingan deskriptif maupun eksplanatif (disertai pengujian hipotesa dan/atau teori). Pada kenyataan penerapannya dalam khazanah ilmu ekonomi (yang normatif) ternyata positivisme menjadi kurang tepat dan monopolinya telah mengalami banyak kegagalan ontologis, epistemologis maupun aksiologis; karena memiliki cacat teoritik. Secara ontologis, positivisme lemah dalam hal membangun konsep teori (Muhadjir, 2000:150), dengan kata lain tidak ada sumbangan dalam membangun teori. Lanjutnya, ilmu (sosial dan/atau ekonomi) yang dikembangkan dengan metodologi berlandaskan positivisme menjadi semakin miskin konseptualisasi teoritiknya, tidak ada teori-teori baru yang mendasar muncul. Menurut istilah Muhadjir (Muhadjir, 2000:23) positivisme menganalisis berdasar data empirik sensual, sedangkan postpositivisme mencari makna di balik yang empiri sensual. Epistemologi positivisme menghendaki generalisasi serta keterpisahan antara subjek yang diteliti dengan peneliti sebagai instrumennya sehingga terdapat objectivitas. Pertanyaannya, bagaimana mendapatkan teori dengan tanpa keterlibatan subjek peneliti. Aspek aksiologis dalam filsafat ilmu
adalah berusaha menjawab pertanyaan “untuk apa pengetahuan atau ilmu
pengetahuan digunakan?”.
Non positivisme adalah satu cara pandang terbuka untuk mendapatkan keunikan informasi serta tidak untuk generalisasi; yang poin utama pendekatannya berawal dari pemaknaan untuk menghasilkan teori dan bukan untuk mencari pembenaran terhadap sesuatu teori ataupun menjelaskan sesuatu teori; dikarenakan kebenaran yang diperoleh adalah pemahaman terhadap teori yang dihasilkannya. Untuk ini dalam non positivisme terdapat 3 (tiga) hal penyikapan yaitu memusatkan perhatian pada interaksi antara aktor dengan dunia nyata, aktor manusia pelaku
52
ekonomi maupun dunia ekonomi senyatanya perlu dipandang sebagai proses dinamis dan bukan sebagai struktur yang statis, arti penting yang terkait dengan kemampuan aktor pelaku ekonomi untuk menafsirkan kehidupan sosialnya.
Dalam interaksi sosial, non positivisme mengakomodasi perhatian pada kajian penjelasan aktor pelaku maupun cara cara penjelasannya dapat diterima atau ditolak pihak lain.
Non positivisme (dalam ilmu ekonomi – konteks filsafat ilmu, ilmu ekonomi termasuk bagian ilmu sosial), yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan praktis, sebagaimana disebutkan Paul A Samuelson sebagai ilmu yang beruntung, karena dapat diterapkan langsung pada kebijakan umum. Pemahaman ini sejalan dengan Landreth H (1994:1) bahwa ilmu ekonomi adalah sebuah sains sosial (economics is a social science). Semboyan positivisme “savoir pour previor” (mengetahui untuk
meramalkan), yang menurut pandangan ekonom non mainstream sebagai metodologi
yang sepertinya elegan dalam menciptakan model rekayasa masyarakat (social
ngineering) namun disadari maupun tidak, pada nyatanya bersifat artifisial.
Metodologi ilmu ekonomi positif bersifat formal dan abstrak; metodologi berusaha untuk memisahkan kekuatan-kekuatan ekonomi dari kekuatan politik dan sosial, sebagaimana dikemukakan Landreth H (1994:10), “The methodology of positive economics is formal and abstract; it tries to separate economic forces from political and social forces”. Dasar pemikiran klasik dalam mengemukakan teori pasar menjadi bukti penunjuk tentang diampunya pandangan positivisme, dengan pendapatnya bahwa perekonomian akan efisien bila ada persaingan bebas. Selanjutnya persaingan bebas akan memerlukan pasar bebas sebagai wadahnya. Bertolak pada hal ini, hiduplah suatu pola pikir akademik, bahwa persaingan haruslah bebas dan pasar yang ideal adalah pasar bebas.
Persaingan dan pasar bebas, keduanya adalah dua pasangan yang akan menjamin manfaat optimal, yaitu efisiensi ekonomi. Menurut Smith, persaingan sempurna (perfect competition), kebebasan individual sepenuhnya adalah perfect individual liberty. Pamrih pribadi (self interest) Smith ini kemudian bertemu dengan individualismenya Thomas Hobbes. Etika ekonomi semacam ini ditolak penganut paham ilmu ekonomi yang memandang ilmu ekonomi sebagai ilmu moral (a moral science) yang orientasinya jauh lebih luas daripada sekadar self interest (Amartya Sen, 1987, 1991).
Kritik tajam terhadap pandangan dan cara pandang ekonomi
klasik/konvensional (ortodoks) dikemukakan oleh aliran ekonomi kelembagaan radikal yang menyatakan bahwa dalam argumentasi ekonomi mainstream terdapat inkonsistensi penting antara teori bila disandingkan dengan dunia riil. Para pakar
ekonomi mainstream melihat fenomena ekonomi sebagai keharmonisan sosial,
sedangkan kaum institusional radikal melihat sesuatu fenomena ekonomi sebagai sebuah konflik. Sebagaimana dikemukakan oleh Landreth H (1994:386) “Radicals argue that there are major inconsistencies between neoclassical theory and real-world experience. Where mainstream economists see social harmony, radicals see confict.” Bahkan pula Kenneth Boulding, menyebut ekonomi neo klasik sebagai mekanika
53
kelestial (di awang-awang) atas dunia non eksisten, dan mereka berargumen bahwa kebanyakan pekerjaan dalam ekonomi modern adalah permainan yang rumit. Demikian halnya, Gunnar Myrdal mengemukakan bahwa teori ekonomi ortodoks tidak memiliki penjelasan yang memuaskan tentang kesenjangan yang meluas ini, teori itu juga tidak memberikan kebijakan-kebijakan yang sesuai untuk membalik kecenderungan tersebut.
Beberapa definisi yang digunakan oleh para pakar ekonomi (ortodoks; pen) tersebut adalah terlalu dangkal, dan model-model terhadap pengembangan ekonomi adalah berada dalam tradisi dasar model-model keseimbangan statis; mereka gagal untuk memahami hubungan yang kompleks di antara faktor-faktor ekonomi, sosiologi, politik dan psikologis yang membentuk pengembangan ekonomi (Landreth H, 1994:394).
Menurut Sony Leksono (2008:11), dengan ini metode dan pandangan untuk mendapatkan pengetahuan menurut konteks yang utuh dan senyatanya tentang dunia kehidupan pelaku ekonomi, pendekatan yang mantap dan tepat adalah dengan
menafsirkan makna tindakan-tindakan dan bukan dengan erklaren (penjelasan
menurut sebab akibat). Ketika persoalan ekonomi dipahami dengan pemahaman menurut sifat ilmu alam; maka pelaku ekonomi sebagai manusia akan diperlakukan sebagai objek seperti barang dan dengan penelitiannya ada distansi; menyikapi pelaku ekonomi secara netral, tidak memberi apresiasi pelaku ekonomi (pedagang, konsumen, produsen) pada harapan-harapannya yang hidup atau nilai-nilai dan norma serta etika yang diampunya dan berkemungkinan pula peneliti akan mendesain (rekayasa sosial)
dengan menempatkan pelaku-pelaku ekonomi sebagai treatment dalam hubungan
sebab akibat, membutakan diri terhadap pendekatan yang sesungguhnya tidak sesuai.