100 c.apakah topik tersebut menarik
B. Penyajian 1 Definisi Teor
Landasan teori dari suatu penelitian tertentu atau karya ilmiah sering disebut sebagai studi literatur atau tinjauan pustaka. Salah satu contoh karya tulis yang penting adalah tulisan itu berdasarkan riset. Melalui penelitian atau kajian teori diperoleh kesimpulan-kesimpulan atau pendapat-pendapat para ahli, kemudian dirumuskan pada pendapat baru. Penulis harus belajar dan melatih dirinya untuk
104
mengatasi masalah-masalah yang sulit, bagaimana mengekspresikan semua bahan dari bermacam-macam sumber menjadi suatu karya tulis yang memiliki bobot ilmiah.
Biasanya setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori, konsep-konsep dan generalisasi- generalisasi hasil penelitian yang bisa dijadikan landasan teori untuk pelaksanaan penelitian.
Penyajian teori dalam landasan teori dianggap tidak terlalu sulit karena bersumber dari bacaan-bacaan. Akibatnya terjadilah penyajian materi yang tidak proporsional, yaitu mengambil banyak teori walaupun tidak mendasari bidang yang diteliti. Jadi seharusnya teori yang dikemukakan harus benar-benar menjadi dasar bidang yang diteiti. Selain itu, pada bagian ini juga dibahas temuan-temuan penelitian sebelumnya yang terkait langsung dengan penelitian. Teori yang ditulis orang lain atau temuan penelitian orang lain yang dikutip harus disebut sumbernya untuk menghindari tuduhan sebagai pencuru karya orang lain tanpa menyebut sumbernya. Etika ilmiah tidak membenarkan seseorang melakukan pencurian karya orang lain.
Dalam dunia ilmu, orang kadang sulit membedakan antara teori, konsep, fakta dan kenyataan. Seorang ilmuwan dalam mencari pengetahuan bukan hanya mencari fakta atau kenyataan, akan tetapi berusaha menemukan dalil-dalil. Dengan dalil tersebut, seorang ilmuwan dapat melakukan peramalan rangkaian peristiwa berikutnya. Dalil-dalil yang tersusun secara sistematis yang ditemukan inilah yang pada akhirnya merupakan teori.
Hoy dan Miskel (1987:2) mendefinisikan "theory is a set of interrealated concepts, assumptions and generalizations that systematically describes and explains regularities in behavior in organization". Dapat diartikan, teori itu berkenaan dengan konsep, asumsi dan generalisasi logis yang berfungsi mengungkapkan, menjelaskan dan memprediksi perilaku yang memiliki keteraturan sebagai stimulan dan panduan untuk mengembangkan pengetahuan.
Teori para pakar kadang berbeda dalam merumuskannya. Menurut Marzuki (2003), teori adalah prinsip-prinsip umum yang ditarik dari fakta-fakta; mungkin juga berupa dugaan yang menerangkan sesuatu, seperti teori atom, evolusi, gravitasi, dan sebagainya. Dari definisi tersebut, dapat dinyatakan bahwa teori merupakan prinsip- prinsip umum, bukan spekulasi; teori ditarik dari fakta/fenomen yang berlaku, oleh karena itu teori dan fakta saling berhubungan; teori merupakan dugaan yang menerangkan sesuatu, karena itu peneliti sangat berkepentingan dengan teori dan fakta.
Sedangkan menurut Kerlinger (1985), teori merupakan suatu rangkaian konstruk atau konsep, definisi dan proposisi yang menggambarkan fenomena secara sistematis melalui penentuan hubungan antar variabel dengan tujuan menjelaskan (memprediksi) fenomena alam.
Bertolak dari konsep di atas, terdapat hal pokok yang terungkap dalam definisi teori, yaitu:
105
o Elemen teori memberikan gambaran sistematis mengenai fenomena melalui penentuan- penentuan hubungan antar variabel;
o Tujuan teori adalah untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena alam.
Dari keterangan di atas, ada beberapa komponen yang berhubungan dengan teori yaitu konstruk, konsep, fenomen dan variabel. Hubungan antara teori, konstruk, konsep, fenomena dan variabel, baik dilihat dari bagaimana lahirnya teori, dan bagaimana menjelaskan variabel-variabel penelitian, dapat dijelaskan melalui Gambar 5 dan Gambar 6.
Gambar 5.
Hubungan Antara Teori, Konstruk Dan Konsep (Dianalisis Dari Lahirnya Suatu Teori)
Bertolak dari gambar di atas, dapat dinyatakan bahwa fenomena yang akan diteliti merupakan subjek dan objek penelitian. Teori, konstruk dan variabel merupakan sesuatu yang abstrak, sedangkan fenomena alam dan objek/subjek penelitian merupakan suatu realita atau kenyataan.
Dalam gambar tersebut, menunjukan bahwa variabel diperoleh dari teori yang telah dikonstrukkan atau dikonsepkan. Pentingnya konstruk atau konsep teori dalam rangka pengukuran atas variabel. Sedangkan variabel itu akan menggambarkan objek ataupun subjek penelitian.
Fenomena Fakta-fakta
Konstruk Konsep
Definisi
106
Gambar 6.Skema Hubungan Teori-Konstruk-Variabel-Fenomena (Dianalisis Dari Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2004)
Abstrak Kebutuhan
Ilmiah
Realita
2. Hubungan Masalah dan Teori
Sebagaimana dikemukakan dalam bab sebelumnya, masalah dalam penelitian pada hakikatnya merupakan pertanyaan-pertanyaan tentang keadaan atau fenomena di lapangan yang jawabannya akan dicari melalui suatu penelitian. Pertanyaan yang sering muncul dari peneliti, adalah bagaimana menemukan masalah. Pertanyaan ini telah dibahas sebelumnya bahwa untuk menemukan masalah, diperoleh antara lain melalui suatu deduksi dari teori. Banyak pakar peneliti mengungkapkan bahwa teori merupakan sumber menemukan masalah yang sangat baik jika dipadukan dengan fenomena alam yang tersedia. Teori pada hakikatnya merupakan prinsip-prinsip umum yang ditarik dari fakta-fakta atau dugaan-dugaan yang menerangkan sesuatu. Kelayakan teori untuk diterapkan pada permasalahan-permasalahan bidang ilmu belum dapat dibuktikan kesahihannya sebelum prinsip-prinsip tersebut dikukuhkan (dibuktikan secara empiris). Implikasi dari teori akan merupakan deduksi yang ditarik untuk menjadi masalah yang dapat diterangkan pada suatu objek penelitian. Misalkan teori pendapatan dari Engel, mungkin dapat menjadi titik awal yang sangat berguna bagi penelitian pendapatan masyarakat/rumah tangga di suatu desa. Dengan demikian antara teori dan masalah, saling berhubungan dalam hal melahirkan masalah yang bersumber dari teori.
3. Hubungan Teori dan Hipotesis
Hipotesis pada hakelatnya lahir dari kerangka konsep, sedangkan kerangka konsep lahir dari teori. Oleh karena itu penentuan kerangka konseptual oleh peneliti
Teori Konstruk Proksi Pengukuran Variabel-Variabel Gambaran Sistematik Subjek/Objek Penelitian Fenomena Alam
107
akan sangat membantu dalam menentukan arah kebijakan dalam pelaksanaan penelitian. Kerangka konseptual merupakan kerangka pikir mengenai hubungan antar variabel-variabel yang terlibat dalam penelitian atau hubungan antar konsep dengan konsep lainnya dari masalah yang diteliti sesuai dengan apa yang telah diuraikan pada studi kepustakaan.
Konsep dalam hal ini adalah suatu abstraksi atau gambaran yang dibangun dengan menggeneralisasikan suatu pengertian. Oleh karena itu, konsep tidak dapat diamati dan diukur secara langsung. Agar konsep tersebut dapat diamati dan diukur, maka konsep harus dijabarkan terlebih dahulu menjadi variabel-variabel. Dengan adanya kerangka konseptual akan bermanfaat bagi:
H Minat penelitian akan lebih terfokus ke dalam bentuk yang layak di uji dan akan memudahkan penyusunan hipotesis.
H Memudahkan identifikasi fungsi variabel penelitian, baik sebagai variabel bebas, tergantung, kendali, dan variabel lainnya.
Cara yang terbaik untuk mengembangkan kerangka konseptual tentu saja harus memperkaya asumsi-asumsi dasar yang berasal dari bahan-bahan referensi yang digunakan. Hal ini dapat diperkuat dengan mengadakan pengamatan langsung pada lingkup area masalah yang akan dijadikan penelitian. Dengan demikian kerangka konseptual yang dibuat merupakan paduan yang harmonis antara hasil pemikiran dari konsep-konsep (deduksi) dan hasil empirikal (induksi). Pola berpikir deduksi adalah proses logika yang berdasar dari kebenaran umum mengenai suatu fenomena (teori) dan menggeneralisasikan kebenaran tersebut pada suatu peristiwa atau data tertentu yang berciri sama dengan fenomena yang bersangkutan. Pola pikir induksi adalah proses logika yang berangkat dari data empirik lewat observasi menuju suatu teori. Dengan kata lain induksi adalah proses mengorganisasikan fakta-fakta atau hasil-hasil pengamatan yang terpisah menjadi suatu rangkuman hubungan atau suatu generalisasi.
Pada suatu penelitian dengan paradigma kuantitatif sebagaimana yang banyak dilakukan dalam bidang ilmu ekonomi dan bisnis, terutama pada penelitian yang bertujuan mencari hubungan, pengaruh dan komparasi, maka penentuan rumusan hipotesis merupakan hal yang sangat penting. Persoalannya adalah bagaimana merumuskan hipotesis dan dari mana sumber kekuatan atas rumusan hipotesis tersebut.
Dalam penelitian kuantitatif pada dasarnya teori adalah alat ilmu pengetahuan untuk menjelaskan masalah, sebab tanpa teori (prinsip-prinsip umum), ilmu pengetahuan tidak akan menghasilkan ramalan atau prediksi atas fenomena/kejadian alam dan tanpa prediksi, tidak akan ada pengawasan terhadap gejala-gejala atas kejadian di dunia ini.
Guna menemukan sebuah dalil atau teori yang terbukti kebenarannya, mula- mula dibuat konstruk dan konsep sementara atas dasar teori yang dipergunakan sebagai pedoman atau petunjuk untuk memecahkan masalah. Selanjutnya peneliti mencari data untuk menguji kebenaran atas konsep yang dibuatnya. Konsep atau konstruk yang dibuat dalam bentuk jawaban sementara atas masalah tersebut yang
108
kita sebut sebagai hipotesis. Hipotesis, dibuat dan bertolak pada teori yang telah ada. Jadi suatu hipotesis penelitian akan dapat dirumuskan apabila ada teori yang mendasarinya. Hubungan teori dan hipotesis dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7.
Hubungan Antara Teori Dan Hipotesis
Bertolak dari Gambar 7 tersebut, dapat dinyatakan bahwa hipotesis penelitian lahir dari suatu konsep/konstruk teori yang tergambar pada variabel dan kerangka berpikir. Jadi teori menjelaskan variabel yang akan diteliti, yang kemudian dirangkaikan dalam sebuah kerangka berpikir untuk menggambarkan hubungan atau postulat antar variabel (jika model penelitian hubungan/pengaruh). Berdasarkan kerangka berpikir itulah kemudian melahirkan hipotesis.