• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Stress dan Coping

2. Coping

a. PengertianCoping

Manusia dalam rentang perkembangannya akan dihadapkan dengan berbagai hambatan yang bisa dikategorikan sebagai suatu tahapan krisis (Smet, 1994). Kondisi fisik suatu lingkungan mempunyai andil cukup besar dalam memunculkan masalah pada individu, sehingga reaksi individu dalam menghadapi kondisi lingkungan yang penuh masalah berupaya untuk menyeimbangkan dirinya dengan lingkungannya (Smet, 1994). Reaksi ini akan diikuti dengan berbagai tindakan sebagai upaya untuk mengatasi dan mencari pemecahan masalah sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu agar tercipta keseimbangan ini disebut coping yang pada hakekatnya merupakan hubungan yang terjadi antar individu dengan lingkungan dan prosesnya bersifat dinamis.

Smet juga menggambarkan coping sebagai suatu proses individu untuk mengatur jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan, baik yang berasal dari individu maupun daya yang digunakan individu dalam menghadapi masalah, disamping itu ia mengemukakan bahwa coping dipandang sebagai suatu proses akan didahului oleh peristiwa yang penuh dengan masalah yang dihadapi oleh individu. Penafsiran dan penilaian terhadap masalah selanjutnya akan diikuti oleh respon coping dan strateginya yaitu faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi dalam pembentukan coping dan strateginya. Proses selanjutnya adalah tahapan mengurangi bahaya, toleransi dan penyesuaian terhadap peristiwa-peristiwa negatif sebagai realisasi dari fungsi tugas coping. Tahapan selanjutnya dari proses coping adalah hasil akhir coping yang diwujudkan dalam bentuk perilaku.

Pengertian Coping menurut Baron & Byrne (1991) adalah respon individu untuk mengatasi masalah, respon tersebut sesuai dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan untuk mengontrol, mentolerir dan mengurangi efek negatif dari situasi yang dihadapi, sedangkan Taylor (1991) mengemukakan bahwa coping terdiri dari usaha-usaha yang berorientasi kepada tindakan atau perilaku maupun pikiran untuk mengatasi berbagai permasalahan.

Apabila individu menghadapi suatu tekanan atau stres, maka akan terjadi suatu proses penyesuaian terhadap situasi tersebut yang lazim disebut sebagai coping mechanism atau strategi mengatasi masalah, yang

mana individu dalam menghadapi tekanan-tekanan atau stress akan memberikan reaksi yang berbeda dalam menghadapinya.

Flokman & Lazarus (dalam Smet, 1994) secara umum membedakan bentuk dan fungsi coping dalam dua klasifikasi yaitu :

1) Problem Focused Coping (PFC) adalah merupakan bentuk coping yang lebih diarahkan kepada upaya untuk mengurangi masalah, artinya coping yang muncul terfokus pada masalah individu yang akan mengatasi stress dengan mempelajari cara-cara keterampilan yang baru. Penggunaan strategi PFC lebih memiliki kecenderungan untuk individu yang mengalami stress dan mengalami keyakinan dapat mengubah situasi.

2) Emotion Focused Coping (EFC) merupakan bentuk coping yang diarahkan untuk mengatur respon emosional terhadap stress. Pengaturan ini dilakukan melalui perilaku individu seperti penggunaan alkohol, bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan melalui strategi kognitif. Individu bila dihadapkan dengan kondisi ketidakmampuan untuk mengubah kondisi yang penuh dengan stress maka individu yang bersangkutan akan cenderung untuk mengakui emosinya.

Aldwin&Revenson (1987) mengemukakan pengklasifikasian bentuk coping sebagai berikut :

1) Perilaku coping yang berorientasi pada masalah (PFC):

a) Kehati-hatian (cautiouness). Pengertian dari kehati-hatian adalah ketika individu mengalami masalah, maka individu memikirkan dan mempertimbangkan secara matang beberapa alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan, meminta pendapat dan pandangan dari orang lain tentang masalah yang dihadapi, bersikap hati-hati sebelum memutuskan sesuatu dan mengevaluasi strategi yang pernah dilakukan.

b) Tindakan instrumental (instrumental action). Individu mengambil tindakan yang ditujukan untuk menyelesaikan masalah secara langsung serta menyusun rencana serta langkah apapun yang diperlukan. Meliputi usaha-usaha langsung individu menemukan solusi masalahnya, misal dengan menyusun suatu rencana dan kemudian melaksanakan langkah-langkah yang telah direncanakan itu.

c) Negosiasi (Negotiation). Individu melakukan usaha-usaha yang ditujukan kepada orang lain yang terlibat atau yang menjadi penyebab masalah yang sedang dihadapinya untuk ikut serta memikirkan atau menyelesaikan masalah. Negosiasi merupakan salah satu taktik yang diarahkan langsung pada orang lain yang menjadi penyebab masalah. Individu mencoba mengadakan

kompromi/mengubah pikiran orang lain demi mendapatkan hal yang positif dari situasi problematik tersebut.

Carver & Scheier (1989) mengemukakan bentuk-bentuk PFC sebagai berikut:

a) Menghadapi masalah secara aktif (active coping), merupakan proses pengambilan langkah langkah aktif untuk mencoba menghilangkan / menghindari tekanan dengan memulai tindakan langsung pada pangkal permasalahan, meningkatkan usaha, dan menghadapi masalah dengan cara-cara yang bijaksana.

b) Perencanaan (planning), adalah memikirkan bagaimana mengatasi tekanan. Perencanaan melibatkan strategi-strategi tindakan, memikirkan tindakan yang diambil dan menentukan cara penanganan terbaik untuk memecahkan masalah.

c) Fokus pada satu bidang, mengurangi aktifitas yang lain (Suppresion of competing). Individu dapat menahan diri untuk tidak terlibat dalam aktivitas -aktivitas kompetetif atau menahan alur informasi yang bersifat kompetetitif agar bisa berkonsentrasi penuh pada satu tantangan/ancaman yang dihadapi.

d) Pengendalian diri (restraint coping), merupakan suatu respon yang bersifat menahan diri yang dianggap bermanfaat dan diperlukan untuk mengatasi tekanan.

e) Mencari dukungan sosial karena alasan instrumental (seeking social support for instrumental reasons), adalah upaya untuk

mencari dukungan sosial, berupa bantuan langsung maupun informatif seperti mencari nasihat, informasi, dan bimbingan.

2) Perilaku coping yang berorientasi pada emosi (EFC)

Aldwin&Revenson (1987) mengemukakan pengklasifikasian bentuk EFC sebagai berikut :

a) Pelarian diri dari masalah (Escapism). Individu berusaha menghindari masalah dengan makan, tidur, merokok berlebihan, atau mengandaikan dirinya berada pada situasi lain yang menyenangkan.

b) Pengurangan beban masalah (Minimization), meliputi usaha yang disadari untuk tidak memikirkan masalah/bersikap seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi.

c) Menyalahkan diri (self blame), merupakan bentuk coping yang lebih diarahkan kedalam daripada berusaha untuk keluar dari masalah. Misal : individu menyesali apa yang pernah terjadi.

d) Pencarian makna (seeking meaning), merupakan usaha pencarian makna kegagalan yang dialami dan mencoba untuk menemukan jawaban dari masalah dengan melihat segi-segi penting dalam kehidupan.

Carver & Scheier (1989) aspek yang termasuk dalam EFC adalah sebagai berikut:

a) Reinterpretasi dan perkembangan yang positif (positive reinterpretation and growth), yaitu mengatur emosi yang berkaitan dengan distress, bukan menghadapi stressor itu sendiri. b) Mencari dukungan sosial karena alasan emosional (seeking social

support for emotional reasons), merupakan upaya untuk mencari dukungan sosial seperti, mendapat dukungan moral, simpati/pengertian.

c) Penerimaan (acceptance), yaitu individu menerima kenyataan akan situasi yang penuh stres, menerima bahwa kenyataan tersebut pasti terjadi. Penerimaan dapat memiliki dua makna, yaitu sebagai sikap menerima tekanan sebagai suatu kenyataan dan sikap menerima karena belum adanya strategi menghadapi masalah secara aktif yang dapat dilakukan.

d) Mengalihkan pada agama (turning to religion), merupakan upaya yang dilakukan individu untuk kembali pada agama, ketika berada pada tekanan untuk berbagai macam alasan: agama dapat berperan sebagai sumber dukungan moral.

e) Pelepasan emosi (focus on and venting emotion), merupakan upaya yang dilakukan individu dengan cara mengekspresikan perasaannya.

f) Penolakan (denial), yaitu menolak untuk percaya bahwa suatu stressor itu ada, atau mencoba bertindak seolah-olah stressor tersebut tidak nyata.

g) Tindakan pelarian (behavioral disengagement), adalah kecenderungan untuk menurunkan upaya dalam mengatasi tekanan, bahkan menyerah/menghentikan upaya untuk mencapai tujuan. Penyimpangan perilaku disebut juga ketidakberdayaan (helplessness). Paling banyak terjadi pada saat individu tidak mengharapkan hasil yang tidak terlalu baik.

h) Pelarian secara mental (mental disengagement), Merupakan variasi dari tindakan pelarian, terjadi ketika kondisi pada saat itu menghambat munculnya tindakan pelarian. Strategi yang menggambarkan pelarian secara mental ini adalah melakukan tindakan tindakan alternatif untuk melupakan masalah, melamun, melarikan diri dengan tidur, membenamkan diri nonton televisi. i) Penyimpangan dalam penggunaan alkohol (alcohol-drug

disengagement), merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk menghilangkan tekanan melalui pemakaian obat- obatan/ minum-minuman keras.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Coping

Perilaku coping dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain jenis kelamin, sedangkan eksternal antara lain dukungan sosial (dalam Yesamine, 2000). Dilihat dari faktor internal, hasil penelitian Pearlin dan Scooler (dalam Sadiyati, 1995) menyimpulkan bahwa perbedaan sifat, minat dan orientasi antara laki-laki dan perempuan dalam membawakan peran jenisnya mempengarhhuhi strategi coping yang digunakan dalam menghadapi masalah. Laki-laki cenderung mengarahkan usaha untuk menghadapi dan mengatasi masalah secara langsung (PFC), sedangkan perempuan lebih tertuju pada usaha untuk mengurangi atau menghilangkan tekanan emosi yang dirasakan dan untuk mempertahankan keseimbangan afeksinya (EFC).

Baron dan Bayrne (1991) menyimpulkan dari beberapa penelitian sebelumnya bahwa jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap coping individu. Menurut Baron dan Bayrne, perbedaan sifat, minat dan orientasi seperti yang diungkapkan Pearlin dan Scooler lebih dimungkinkan karena adanya perbedaan isi problem yang direspon. Maksudnya adalah perbedaan sifat, minat dan orientasi antara laki-laki dan perempuan disebabkan masalah yang dihadapi laki-laki dan perempuan berbeda. Dengan demikian, perbedaan strategi coping yang dilakukan seseorang tidak didasarkan pada jenis kelaminnya namun didasarkan pada masalah-masalah yang dihadapi seseorang.

Tingkat pendidikan yang relatif cukup tinggi (SMA - S1) membuat pengalaman bertambah sehingga mendukung pemilihan strategi mengatasi masalah. Semakin baik tingkat pendidikannya, individu semakin cenderung dapat menemukan strategi dalam menyelesaikan masalahnya. Sementara individu yang tingkat pendidikannya kurang baik, maka individu tersebut cenderung mengalami hambatan dalam menyelesaikan masalahnya (Baron & Bayrne. 1991).

Dokumen terkait