• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Core habitat dan Edge habitat

Habitat adalah kawasan yang terdiri dari berbagai komponen, baik fisik maupun biotik, yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembang biaknya satwa liar (Alikodra, 1990). Satwa liar menempati habitat sesuai dengan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung kehidupannya (Alikodra,1990). Habitat inti (core habitat) atau interior ialah habitat yang memiliki tingkat isolasi yang tinggi dari gangguan seperti bising, angin, radiasi surya, dan peningkatan predator (Tietje, 2000). Habitat pinggir (edge habitat) adalah tempat yang terdiri dari sekumpulan tumbuhan bertemu dengan daerah suksesi atau sekumpulan tumbuhan lain. Area ini dipengaruhi oleh transisi antara komunitas yang disebut sebagai ecotone. Area ini umumnya lebih kaya satwaliar dibanding area sekitarnya. Edge habitat memiliki karakteristik yang mempengaruhi ukuran dari edge habitat dan tingkat kekayaan habitat tersebut (Thomas, 1979).

Edge habitat merupakan bagian terluar dari suatu inti (patch) yang memiliki nilai lingkungan berbeda dengan bagian inti. Luasan area ini dapat berukuran kecil sampai ratusan meter bergantung pada faktor lingkungan (Tietje, 2000).

Core habitat merupakan area yang memiliki tingkat perlindungan yang cukup tinggi. Core habitat umumnya dikelilingi oleh edge habitat. Fungsi dari edge habitat ini di antaranya sebagai penyangga yang dapat menjamin aktivitas penggunaan lahan yang tidak mengancam integritas dari fungsi core habitat. Edge habitat ini juga berfungsi untuk menciptakan koridor satwa liar dan konektivitas diantara kedua core habitat. Fungsi core habitat dan edge habitat secara ekologis tersaji pada Gambar 2 (Phillips, 2002).

Area yang dikelilingi oleh kawasan lahan basah (wetlands) dan sungai memiliki fungsi lebih dari sekedar area untuk melindungi sumber daya akuatik, tetapi area ini dapat disebut sebagai core habitat untuk spesies tertentu. Area ini dapat dijadikan sebagai kriteria baru untuk mengevaluasi, melindungi dan mengelola area kritis. Habitat ini penting untuk menyelamatkan jumlah spesies dan melestarikan keanekaragaman biologis (Semlitsch RD, Jensen JB, 2001).

Zona penyangga (edge habitat) mendapat perhatian yang lebih besar dari para ahli

konservasi dan peneliti dikarenakan nilainya dalam melindungi sumber akuatik.

Keberadaan zona penyangga (edge habitat) harus berada di sekitar area daratan yang menjadi core habitat. Edge habitat ini diperlukan untuk melindungi habitat daratan dan akuatik dari pemanfaatan tata guna lahan yang bisa merusak area tersebut. Ketika core habitat menopang populasi agar dapat hidup, edge habitat berfungsi untuk melindungi sumber daya air (Semlitsch et al., 2001).

Gambar 2. Core Habitat dan Edge Habitat (Sumber : www.data.iucn.org) 2.4. Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhyncus)

Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus) atau sering dikenal dengan istilah Oriental Honey Buzzards adalah burung pemangsa yang hidup di kawasan hutan, kawasan lahan yang terolah, dan semi-gurun (Ferguson J, Christie DA, 2005).

2.4.1. Deskripsi Fisik

Elang berukuran sedang, berwarna gelap dengan jambul kecil (Gambar 3).

Panjang burung sekitar 53 – 65 cm, lebar sayap sekitar 113-142 cm, dan lebar ekor sebesar 24-29 cm (Ferguson et al., 2005). Warna sangat bervariasi dengan penampilan warna terang, normal, dan gelap dari dua ras yang berbeda. Tubuh bagian atas berwarna coklat sedangkan bagian tubuh bawah berwarna putih sampai merah sawo matang dan coklat gelap berbintik-bintik dan bergaris-garis banyak. Pada ekor, terdapat garis-garis yang tidak teratur. Setiap ras mempunyai bercak di kerongkongan yang umumnya berwarna pucat dan dibatasi coretan hitam sehingga sering mempunyai garis tengah berwarna hitam. SMA memiliki

warna iris jingga, warna paruh abu-abu, kaki kuning, dan dari jarak pendek bulu-bulu yang berbentuk sisik di depan mata merupakan ciri khas yang bersifat diagnostik. Suara burung ini keras dan bernada tinggi (MacKinnon, 1990).

Burung ini bertengger secara berkelompok (Ferguson et al., 2005).

Berdasarkan jenis kelamin, burung ini memiliki beberapa perbedaan, di antaranya:

1. jantan dewasa : memiliki puncak kepala yang ramping, bulunya berwarna coklat, kepala dan badannya berwarna coklat tua gelap,

2. jantan dewasa tipikal : memiliki puncak kepala yang panjang, berwarna coklat, dan

3. Betina Dewasa : terbang rendah, tidak memiliki puncak, lebih pucat, besar

Gambar 3. Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhyncus) (Sumber : www.reference.findtarget.com)

2.4.2. Penyebaran

Sikep Madu Asia (SMA) berkembang biak di bagian Selatan Siberia, Utara Mongolia, Timur Laut Cina, Korea dan Jepang yang kemudian bermigrasi ke arah Selatan pada musim dingin (Ornithological Society of Japan, 2000). SMA ini merupakan salah satu dari burung pemangsa yang bermigrasi yang

menghabiskan waktu musim dingin di Asia Tenggara yang dijadikan sebagai habitat musim dingin. SMA terdistribusi ke Filipina, Malaysia, Indonesia, dan Timor Leste. Semua SMA yang bermigrasi ke Asia Tenggara akan bergerak menuju semenanjung Malaysia, tetapi arah dan titik pangkalan berbeda antar individu. Setelah mencapai Sumatera, tujuh burung mengubah arah pergerakan ke arah timur laut: satu individu tiba di Pulau Mindanau dan enam individu mengakhiri migrasi untuk menetap selama musim dingin di Pulau Kalimantan (Yamaguchi et al., 2008).

Setiap tahunnya, SMA melakukan dua tipe migrasi, yaitu migrasi musim gugur (autumn migration) dan migrasi musim semi (spring migration). Migrasi musim gugur yang dilakukan oleh individu SMA dilakukan pada bulan September dari breeding habitat di Jepang kemudian sampai di habitat musim dingin di kawasan Asia Tenggara sekitar bulan Desember. Migrasi musim semi dilakukan pada akhir bulan Februari dari habitat musim dingin. Individu SMA kembali ke habitat asalnya sekitar bulan Mei (Higuchi H, Shiu H, Nakamura H, Uematsu A, Kuno K, Saeki M, Hotta M, Tokita K, Moriya E, Morishita E, Tamura E, 2005).

2.4.3. Kebiasaan, Makanan, dan Perkembangbiakan

SMA sering mengunjungi bukit berhutan. Spesies ini juga memiliki gaya terbang yang khas, yaitu dengan beberapa kepakan sayap yang diikuti oleh gerakan melayang yang lama. Spesies ini juga terbang membumbung tinggi di langit dengan bentangan sayap tetap datar. SMA mempunyai kebiasaan mengambil sarang tawon dan lebah. Makanan SMA adalah lebah, tawon, madu, dan tempayak juga buah-buahan yang lunak, reptilia, dan lain-lain. Sarang burung ini terbuat dari ranting-ranting bercampur daun-daun hijau, diletakkan pada pohon-pohon di hutan. Saat reproduksi, SMA menghasilkan satu atau dua butir telur berwarna putih atau kuning tua dengan banyak bercak merah atau coklat (MacKinnon, 1990).

2.5. Satellite Tracking

Satellite tracking merupakan alat yang sangat ampuh untuk menginvestigasi pergerakan hewan khususnya dalam situasi ketika subyek yang diteliti bepergian

dalam skala global (Cohn, 1999; Webster et al., 2002). Dengan menggunakan teknologi ini, ahli ekologi dapat mengakumulasi bukti yang terkait pada jalur migrasi, tempat singgah, dan tempat mencari makan. Data satellite tracking ini tidak hanya menyediakan informasi dasar mengenai pergerakan dari spesies target, tetapi juga menunjukkan tempat singgah penting yang didatangi oleh burung-burung yang sedang mencari makan atau yang berada di area perikanan (Higuchi et al., 2005).

Sejak tahun 1980, teknologi satellite tracking digunakan untuk memantau burung. Satellite tracking pada hewan menggunakan PTTs (Platform Transmitter Terminals) untuk ditrack menggunakan satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration). PTT ditempelkan pada bagian punggung dari burung kemudian PTT digabungkan dengan GPS (Global Positioning System) (Gillespie, 2001).

Berat PTT relatif kecil (sekitar 200 gram) untuk menghindari gangguan pada burung saat sedang terbang. Energi yang digunakan dalam PTT memanfaatkan tenaga surya dengan menggunakan baterai nikel-kadmiun yang dapat diisi kembali. Baterai ini dapat diisi ulang sebanyak 1000 kali dan bertahan selama 3 tahun (Seegara WS, Henkeb MB, Schorc M, Stoned M, 1996). Akan tetapi, kegagalan dalam tracking dapat terjadi pada saat penggunaaan PTT yang dikarenakan oleh burung mati, PTT yang terlepas, daya tahan baterai habis, dan baterai yang digunakan terlepas dari PTT.

Secara umum, satellite tracking memberikan informasi waktu dan lokasi satwa bergerak. Dengan mengintegrasikan data dengan beberapa variabel lingkungan dan menggabungkannya dengan teknik Sistem Informasi Geografi (GIS), penggunaan habitat dari burung yang telah ditandai dapat dianalisis.

Beberapa peneliti menggunakan pendekatan ini untuk memeriksa strategi migrasi (Fujita G, Hong-Liang G, Ueta M, Goroshko O, Krever V, Ozaki K, Mita N, Higuchi, H, 2004), dan untuk penggunaan habitat (Kernohan BJ, Millspaugh JJ, Jenks JA, Naugle DE, 1998).

SMA di-track dengan sistem Argos (Argos, 1996). Sistem ARGOS menggunakan satelit US National Oceanic and Atmospheric Adminsitration

(NOAA). NOAA mengikuti lintasan sepanjang 830 km di atas permukaan bumi pada kecepatan satu lintasan orbit setiap 102 menit. Data yang diterima dan ditaruh oleh NOAA akan dikirimkan ke stasiun pusat di Amerika Serikat dan Prancis. Data ini umumnya diterima sekali per orbit dan dikirimkan ke ARGOS Global Processing Centre. Informasi diubah ke dalam informasi posisi lintang dan bujur. Informasi ini dikirimkan kepada peneliti melalui internet (Gambar 4).

Proses ini membutukan 1-2 jam dari waktu saat satelit menerima signal dari transmitter ke waktu saat data lokasi diperoleh oleh peneliti (Higuchi et al., 2005).

Gambar 4. Mekanisme Satellite Tracking dengan ARGOS (Sumber : Higuchi et al., 2005)

Berdasarkan akurasi lokasi yang diperkirakan, Argos membagi kelas-kelas lokasi (LCs) dengan akurasi: Z (akurasi terkecil), B, A, 0, 1, 2, dan 3 (akurasi terbesar). Akurasi yang dimulai dari urutan terkecil seperti A, B, dan Z tidak dapat diestimasi dengan sistem ARGOS. Secara umum, kelas lokasi (LC) 0-3 digunakan untuk analisis data yang telah ditetapkan satu akurasi standar deviasi lebih dari 1000 m, 350-1000 m, 150-350 m, dan <150 m. Habitat musim dingin didefinisikan sebagai area yang ditinggali oleh SMA kurang dari 30 km selama minimal 24 jam (Higuchi et al., 2005). Distribusi habitat musim dingin SMA tersaji pada gambar 5.

Gambar 5. Distribusi habitat musim dingin 49 invididu SMA yang di-track tahun 2003-2010

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

Jumlah SMA Persentase

III. METODOLOGI

3.1. Tempat dan Waktu

Studi ini dilakukan pada core dan edge habitat SMA di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia (Gambar 6). Kegiatan survei dilakukan dengan mengambil beberapa lokasi di Provinsi Kalimantan Selatan, di antaranya, Sultan Adam, Hulu Sungai Selatan, dan muara Sungai Barito. Survei lapang dilakukan pada tanggal 20-23 Februari 2011. Penelitian dilakukan selama 6 bulan dimulai pada Februari 2011 dan berakhir pada bulan Juli 2011.

Gambar 6. Lokasi Penelitian (Provinsi Kalimantan Selatan)

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan selama penelitian ini adalah a. kamera digital

b. binokular

c. Global Positioning System (GPS)

d. software ArcGIS 9.3 (ESRI, 2009), ERDAS Imagine 9.1 (Leica, 2006), dan

3.3. Data

Jenis, bentuk, dan sumber data disajikan dalam Tabel 1. Data yang digunakan memiliki bentuk raster dan vektor.

Tabel 1. Jenis, Bentuk dan Sumber Data

No Jenis Data Bentuk Data Sumber

5. Peta Elevasi (Gambar 10) Raster, Kontinu (resolusi : 50 x 50 m)

Gambar 7. Peta Distribusi Core dan Edge Habitat di Kalimantan Selatan (Sumber : Syartinilia et al., 2010)

Gambar 8. Peta Penutupan Lahan Kalimantan Selatan

(Sumber : Laboratorium Remote Sensing, Fakultas Kehutanan IPB, 2007)

Gambar 9. Peta Kemiringan Lahan Kalimantan Selatan (Sumber : dibuat dari DEM SRTM)

Gambar 10. Peta Elevasi Kalimantan Selatan (Sumber : DEM SRTM)

Gambar 11. Satellite Tracking

3.4. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, di antaranya: inventarisasi, analisis, dan output. Bagan alur penelitian disajikan pada Gambar 12. Rincian tahapan penelitian sebagai berikut:

3.4.1. Inventarisasi

Tahapan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu pengumpulan data dan survei lapang (groundcheck). Data yang dikumpulkan adalah data spasial dan nonspasial. Data yang digunakan selama kegiatan groundcheck adalah peta penutupan lahan. Peta ini digunakan untuk mengecek kondisi penutupan lahan, baik pada core maupun edge habitat. Selain itu, peta penutupan lahan beserta peta kemiringan lahan dan peta elevasi digunakan untuk menghasilkan variabel lingkungan. Berdasarkan data satellite tracking, sebanyak empat individu SMA bermigrasi ke Kalimantan Selatan (Syartinilia et al., 2010). Masing-masing individu SMA dipasangkan transmitter dengan nomor platform yang berbeda-beda. Nomor platform 40759 telah di-track dari tahun 2007 sampai 2010, nomor

platform 40753 telah di-track dari tahun 2007 sampai 2009, nomor platform 66552 telah track dari tahun 2006-2010, dan nomor platform 95445 telah di-track tahun 2009.

Survei dilakukan selama empat hari pada tanggal 20-23 Februari 2011. Survei lapang dilakukan pada bulan Februari saat individu SMA akan melakukan spring migration, individu ini akan melakukan migrasi dari habitat musim dingin (wintering habitat) ke habitat asalnya (breeding habitat) di Jepang. Kegiatan yang dilakukan selama survei adalah pengecekan kondisi lapang, pengambilan foto, dan tracking dengan menggunakan GPS.

Pada hari pertama, survei dilakukan di core dan edge habitat pada Taman Hutan Raya Sultan Adam. Dua individu SMA ditemukan di kawasan ini. Pada hari kedua, survei dilakukan di core dan edge habitat pada kawasan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pada hari ketiga, survei dilakukan di edge habitat pada daerah Gunung Kentawan dan Tanuhi, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pada hari keempat, survei dilakukan di muara sungai Barito yang menjadi edge habitat.

3.4.2. Analisis

Tahapan analisis dibagi menjadi dua tahapan, meliputi: analisis spasial dan analisis statistik. Analisis spasial menggunakan Sistem Informasi Geografi dengan software ArcGIS and ERDAS. Analisis statistik dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu metode Analisis Komponen Utama (AKU) dan metode uji-perbandingan variabel (uji t-student).

3.4.2.1. Pangkalan Data Variabel Lingkungan

Setiap peta akan memiliki beberapa variabel lingkungan yang terklasifikasi.

Klasifikasi kemiringan lahan disajikan pada Tabel 2. Klasifikasi elevasi berbentuk data kontinyu disesuaikan dengan distribusi data. Variabel lingkungan digunakan untuk menentukan karakteristik lanskap habitat musim dingin SMA. Sebanyak 21 variabel lingkungan (euclidean distance) digunakan dalam penelitian ini (Tabel 3). Variabel lingkungan ini berbentuk jarak terdekat (euclidean distance) dengan rincian berupa enam jarak terdekat terhadap faktor kemiringan lahan, lima jarak

terdekat terhadap faktor elevasi, dan sepuluh jarak terdekat terhadap penutupan lahan.

Untuk memperoleh jarak terdekat tersebut, seluruh peta diubah melalui proses recode/reclassify yang bertujuan untuk menyeragamkan informasi masing-masing piksel data menjadi bernilai 0 dan 1 dengan menggunakan Spatial Analysis Tools.

Nilai 1 adalah nilai variabel lingkungan yang ingin diinformasikan sedangkan nilai 0 adalah nilai variabel lngkungan yang sementara dihilangkan informasinya.

Setelah itu, peta-peta diubah melalui proses vector polygon. Proses ini bertujuan untuk mengubah data raster menjadi bentuk vektor. Pada akhirnya, peta-peta bentuk vektor akan diubah menjadi peta jarak terdekat (euclidean distance).

Fungsi euclidean distance adalah memberikan informasi tentang jarak dari setiap sel dalam raster ke sumber terdekat (ESRI, 2007). Peta-peta euclidean distance tercantum pada Lampiran 1 sampai Lampiran 21.

Tabel 2. Klasifikasi Faktor Kemiringan Lahan

Kelas Kemiringan Lahan Klasifikasi

I 0-3% Datar

Sumber : SK. Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No.:

683/Kpts/Um/8/1981

Tabel 3. Variabel Lingkungan

No. Variabel Lingkungan Singkatan Sumber

1 Jarak Terdekat ke Elevasi 0-300 meter JTE1 Ekstraksi dari DEM SRTM 2 Jarak Terdekat ke Elevasi 300-500 meter JTE2

3 Jarak Terdekat ke Elevasi 500-700 meter JTE3 yang dibuat menjadi peta euclidean distance 4 Jarak Terdekat ke Elevasi 700-1000 meter JTE4

5 Jarak Terdekat ke Elevasi > 1000 meter JTE5 6 Jarak Terdekat ke Kemiringan Lahan 0-3% JTK1 7 Jarak Terdekat ke Kemiringan Lahan 3-8% JTK2 8 Jarak Terdekat ke Kemiringan Lahan

12 Jarak Terdekat ke Hutan Mangrove JTMG Ekstraksi dari peta penutupan 14 Jarak Terdekat ke Hutan Rawa Gambut JTHR 15 Jarak Terdekat ke Hutan Lahan Kering JTHK 16 Jarak Terdekat ke Lahan Terbangun JTBG 17 Jarak Terdekat ke Semak Belukar Rawa JTSB 18 Jarak Terdekat ke Pertanian/Perkebunan/

Semak

JTPS

19 Jarak Terdekat ke Lahan Terbuka JTBK 20 Jarak Terdekat ke Perkebunan Sawit JTST

21 Jarak Terdekat ke Sawah JTSH

Luasan core habitat dan edge habitat SMA di Kalimantan Selatan masing-masing sebesar 342.926,912 ha dan 1.892.410,152 ha (Syartinilia et al., 2010).

Pengambilan sampel dilakukan dengan persentase sebesar 2% dari masing-masing luasan untuk diekstraksi nilainya. Pengambilan sampel ini dilakukan secara acak.

Setelah mendapatkan sampel, nilai jarak terdekat dari masing-masing sampel akan didapat baik pada core maupun edge habitat.

3.4.2.2. Analisis Karakteristik Lanskap Habitat Sikep Madu Asia

Analisis karakteristik lanskap menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA) atau Analisis Komponen Utama (AKU). Analisis Komponen Utama adalah teknik statistik yang secara linear mengubah rangkaian variabel menjadi rangkaian kecil variabel yang berkorelasi yang menunjukkan informasi yang lebih banyak dari variabel asli (Dunteman, 1989). Tujuan dari metode ini adalah untuk mengurangi dimensional dari rangkaian data yang asli yang terdiri dari banyak jumlah variabel yang tidak terkait, lalu memberikan sebanyak mungkin variasi yang ada dari data sebelumnya (Jolliffe, 2002).

Analisis Komponen Utama (AKU) ini menggunakan dengan metode Rotasi Varimax dengan Kaiser Normalization. Melalui analisis ini, Komponen Utama (KU) akan dihasilkan dengan mengkorelasikan antar variabel lingkungan melalui proses AKU tersebut. Penelitian ini menggunakan software XLStat untuk menganalisis keseluruhan variabel lingkungan.

3.4.2.3. Analisis Perbandingan Variabel Lingkungan

Analisis perbandingan variabel lingkungan dilakukan dengan uji t-student (t-test). Analisis t-test adalah analisis statistik yang menilai apakah rata-rata dari dua grup berbeda satu sama lain. Analisis ini pantas digunakan ketika ingin membandingkan rata-rata dari dua grup (Trochim, 2006). Uji ini menggunakan software XLStat. Analisis ini akan menggunakan uji dua sampel tidak berpasangan (Two Sample t-test).

3.5. Output

Hasil dari penelitian ini adalah karakteristik lanskap habitat SMA baik di core dan edge habitat di Kalimantan Selatan, perbandingan karakterstik keduanya, dan perbandingan variabel yang membentuk karakteristik lanskap habitat SMA.

Gambar 12. Bagan Alur Penelitian

IV. KONDISI UMUM

4.1. Letak Administratif

Secara geografis, provinsi Kalimantan Selatan terletak antara 114º 20‟ 49,2„‟

- 116º 32‟ 43,4‟‟ Bujur Timur dan 1º 21‟ 47,88‟‟ - 4º 56‟ 31,56‟‟ Lintang Selatan.

Batas-batas administratif provinsi Kalimantan Selatan di antaranya sebelah utara berbatasan dengan provinsi Kalimantan Timur, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Selat Makasar, dan sebelah barat berbatasan dengan Kalimantan Tengah. Berdasarkan keputusan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor: 0337 tahun 2006, tanggal 17 Juli 2006, wilayah administratif Kalimantan Selatan dibagi menjadi 13 kota/Kabupaten, 134 kecamatan, dan 119 kelurahan (Pemprovkalsel, 2010).

4.2. Kondisi Biofisik

Penutupan lahan di wilayah provinsi Kalimantan Selatan dibagi dalam 10 klasifikasi. Hutan lahan kering adalah kelas penutupan lahan yang dominan di Kalimantan Selatan dengan luas 1.351.000 ha (35,94%). Grafik luas penutupan lahan di Kalimantan Selatan tercantum pada Gambar 13. Bentuk geologi wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar berupa aluvium muda dan formasi berai.

Kemiringan lahan di wilayah provinsi Kalimantan Selatan dibagi dalam enam klasifikasi. Kemiringan lahan 0-3% merupakan kelas kermiringan lahan yang mendominasi di Kalimantan Selatan dengan luas 5.562.550 ha (39,78%). Grafik persentase luas kemiringan lahan tersaji pada Gambar 14.

Kelas elevasi (ketinggian) di wilayah provinsi Kalimantan Selatan dibagi ke dalam lima kelas (Gambar 15). Kelas elevasi 0-300 meter memiliki luas tertinggi sebesar 13.073.675 ha (88,06%). Hal ini menunjukkan bahwa Kalimantan Selatan memiliki dominasi elevasi yang rendah.

Temperatur udara di suatu tempat ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Temperatur rata-rata di

daerah Kalimantan Selatan pada tahun 2004 berkisar antara 23,300C sampai 32,700C. Sedangkan kelembaban udara rata-ratanya berkisar antara 47% sampai dengan 98% tiap bulan (Portal Nasional RI, 2010).

Gambar 13. Luas Penutupan Lahan di Kalimantan Selatan

Gambar 14. Luas Kemiringan Lahan di Kalimantan Selatan

0

Hutan Lahan Kering Hutan Rawa Gambut Badan Air Lahan Terbuka/Pertambangan Lahan Terbangun Hutan Mangrove

Gambar 15. Luas Elevasi di Kalimantan Selatan

Secara umum, Kalimantan Selatan terdiri dari dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau (panas). Musim hujan biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai Mei. Musim kemarau (panas) terjadi pada bulan Juni sampai Agustus.

Antara kedua musim tersebut terdapat musim pancaroba (Portal Nasional RI, 2010).

4.3. Kondisi Sosial Budaya

Penduduk asli Kalimantan Selatan umumnya berasal dari suku bangsa Banjar yang terdiri dari sub suku, yaitu Maayan, Lawangan dan Bukiat (Portal Nasional RI, 2009). Sektor pertanian merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Pada bulan Februari 2011 tercatat sebanyak 41,66 persen tenaga kerja diserap sektor pertanian (BPS Kalimantan Selatan, 2011) .

Penduduk Kalimantan Selatan yang tinggal di Loksado dan sekitarnya (daerah perbukitan) menopang kebutuhan ekonominya melalui kegiatan berladang dan mengumpulkan hasil hutan. Di samping itu, ada pula usaha lain dalam skala kecil misalnya beternak, berdagang dan mencari ikan. Perladangan yang mereka lakukan masih berupa perladangan berpindah dengan padi sebagai tanaman utamanya (Disporbudpar Kalsel, 2011). Berdasarkan hasil survei di daerah Kandangan, sebagian besar penghidupan masyarakatnya berasal dari sektor perkebunan. Tiga sumber penghidupan utama berasal dari tanaman karet (Hevea

0

0-300 m 300-500 m 500-700 m 700-1000 m > 1000 m

brasiliensis), kemiri (Aleurites moluccana), dan kayu manis (Cinnamomum burmannii). Terkadang masyarakat juga membuat anyaman bambu untuk dijual, dan juga berjualan cabai (lombok). Getah karet dan kulit kayu manis merupakan salah satu aset ekonomi untuk menunjang kehidupan mereka. Di dataran rendah aluvial, rawa-rawa dan daerah aliran sungai, penduduk hidup dari pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, perdagangan, kerajinan rumah, bertukang, mendulang, dan lain-lain.

Dari sektor pertanian, persawahan basah dengan padi sebagai tanaman utamanya banyak ditemukan di Kalimantan Selatan. Pada musim panas, lahan pertanian digunakan menanam ubi-ubian, sayuran, serta buah-buahan tertentu.

Untuk buah-buahan, buah yang biasanya ditanam oleh penduduk setempat adalah semangka. Buah ini banyak terdapat di daerah Lupak dan Nagara. Usaha perkebunan terutama untuk menghasilkan tanaman buah-buahan yang kini terus dibudidayakan adalah tanaman jeruk (Disporbudpar Kalsel, 2011).

Jumlah penduduk di provinsi Kalimantan Selatan mengalami pertambahan dari tahun ke tahun. Menurut hasil sensus dari Biro Pusat Statistik (2010), jumlah penduduk pada tahun 1971 berjumlah 1.699.105 jiwa, kemudian meningkat pada tahun 1995 sebanyak 2.893.477 jiwa (tahun 1995) kemudian meningkat menjadi 2.985.240 jiwa (tahun 2000) dan terus meningkat sebesar 3.626.616 jiwa pada tahun 2010. Peningkatan pertambahan penduduk naik sebesar 21,5% dari tahun 2000 ke tahun 2010.

4.4. Kebijakan Pemerintah terkait Pengelolaan Tata Ruang

Menurut Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan (2005), program pengelolaan ruang dengan tujuan memberikan perlindungan pada kawasan adalah upaya untuk mengendalikan luasan hutan lindung Pulau Kalimantan. Program lainnya adalah mencegah terjadinya erosi dan/atau sedimentasi pada kota-kota atau kawasan-kawasan produksi pertanian, perkebunan, pariwisata, dan sebagainya, khususnya kawasan yang berada pada kemiringan lahan yang terjal; melakukan penelitian dengan tingkat kedalaman yang lebih rinci dalam rangka penetapan kawasan bergambut; dan mempertahankan keberadaan zona-zona resapan air di Pulau Kalimantan.

Menurut Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan

Menurut Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan

Dokumen terkait