• Tidak ada hasil yang ditemukan

CORONA VIRUS DISEASE (COVID-19) 1 Definisi COVID-19

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : VIKTRIS GRACIA SALSALINA (Halaman 30-37)

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS CoV-2). SARS CoV-2 merupakan coronavirus varian terbaru yang diidentifikasi pada manusia. Masa inkubasi rata-rata 5 sampai 6 hari dengan masa inkubasi yang terpanjang dapat mencapai 14 hari (Kemenkes RI, 2020). Coronavirus jenis baru atau SARS-CoV2 penyebab Covid-19 dapat diklasifikasikan dalam kelompok betacoronavirus yang menyerupai SARS-CoV dan MERS-CoV tetapi tidak sama (Levani et al., 2021).

Patogenesis dan penggandaan virus nCov-19 diperkuat dengan adanya temuan ACE-2 sebagai reseptor sel untuk SARS-CoV di bagian bawah saluran pernapasan manusia yang dapat diperoleh dari cairan bronchoalveolar dari pasien COVID-19 (Grace, 2020). Gejala umum di awal penyakit adalah demam, kelelahan atau myalgia, dan batuk kering. Pada beberapa organ yang terlibat dalam pernapasan dapat menimbulkan gejala berupa batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, hemoptisis (batuk darah), nyeri dada. Pada organ gastrointestinal dapat menimbulkan gejala diare, mual, muntah. Gejala yang bersangkutan dengan neurologis seperti kebingungan dan sakit kepala. Seperempat pasien yang dirawat di rumah sakit Wuhan memiliki komplikasi serius berupa aritmia, syok, cedera ginjal akut dan acute respiratory distress syndrome (ARDS) (Levani et al., 2021).

Pencitraan dengan rontgen thoraks atau CT scan menggambarkan infiltrasi bilateral

atau opasitas ground glass. Saat dilakukan tes darah menunjukkan adanya limfopenia (Grace, 2020).

Penularan SARS CoV-2 dapat terjadi secara langsung melalui transmisi manusia ke manusia. penyebaran SARS-CoV-2 dari orang ke orang diduga terjadi terutama melalui tetesan pernapasan, ketika pasien batuk, bersin, atau bahkan berbicara atau bernyanyi. Tetesan biasanya tidak dapat melintasi lebih dari enam kaki (hampir dua meter). SARS-CoV-2 tetap utuh dan menular dalam tetesan (diameter kurang dari lima mikron) dan dapat melayang di udara hingga tiga jam, sehingga memungkinkan penularan melalui airbone. Pemakaian alat pelindung diri juga bisa menjadi sumber penularan melalui airbone. Dapat juga terjadi penularan melalui kontak tidak langsung yang terjadi saat kita menyentuh benda yang terkontaminasi SARS-CoV- 2 lalu tangan kita kontak langsung dengan selaput lendir seperti mata, hidung, atau mulut (Lotfi et al., 2020).

2.3.2 Pencegahan Penularan COVID-19

Orang yang terinfeksi virus mungkin akan memiliki gejala atau tidak ada gejala sama sekali. Pada pasien COVID-19 yang tanpa gejala tanpa disadari dapat menularkan SARS-CoV-2 ke orang lain (Sukur et al., 2020). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Resmawan mengungkapkan pentingnya karantina dalam memperlambat laju penyebaran COVID-19. Dapat dilihat dari gambar grafik di bawah ini.

Gambar 2.2 Pengaruh laju perpindahan individu terpapar ke individu karantina (Resmawan et al., 2021)

Hasil dari simulasi ini menunjukkan peningkatan intervensi berupa karantina yang mampu menekan bilangan reproduksi dasar, yang berarti dapat memperlambat terjadinya penularan COVID-19 juga mencegah terjadinya wabah. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk menekan penyebaran COVID-19 adalah dengan meningkatkan intervensi karantina khususnya pada manusia yang terdeteksi terpapar virus (Resmawan et al., 2021).

Penting pula bagi kita, setiap individu agar terhindar dari COVID-19 haruslah:

1. Membersihkan tangan secara teratur dengan mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir selama 40-60 detik atau menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol (handsanitizer) minimal 20 – 30 detik. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang tidak bersih.

2. Menggunakan alat pelindung diri berupa masker yang menutupi hidung dan mulut saat berinteraksi dengan orang lain.

3. Menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain untuk menghindari terkena droplet dari orang yang yang batuk atau bersin.

4. Membatasi diri terhadap interaksi dengan orang lain yang tidak diketahui status kesehatannya.

5. Setelah bepergian dan tiba di rumah, segera mandi dan berganti pakaian sebelum kontak dengan anggota keluarga di rumah.

6. Melakukan pola hidup bersih dan sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi gizi seimbang, aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, dan istirahat yang cukup. (Kemenkes RI, 2020).

2.3.3 Gambaran Aktivitas Fisik Saat Pandemi COVID-19

Penularan SARS-CoV-2 yang dapat terjadi melalui transmisi dari manusia ke manusia melalui droplet saat batuk, bersin maupun berbicara menyebabkan peningkatan jumlah kasus yang cepat di seluruh dunia termasuk Indonesia (Lotfi et al., 2020). Peningkatan penyebaran virus SARS-CoV-2 menimbulkan keresahan masyarakat Indonesia. Untuk itu Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19) yang

didelegasikan oleh Undang- Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan (Amalia & Oktava, 2020). Pembatasan sosial berskala besar berupa peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat umum, pembatasan kegiatan sosial dan budaya, dan pembatasan transportasi. Langkah yang diambil oleh pemerintah tentu akan berdampak pada aktivitas fisik masyarakat sehingga individu yang terus berada di dalam rumah menjadi kurang aktif. Penelitian melaporkan saat berada di rumah dalam waktu yang lama akan menimbulkan gaya hidup sedentari, seperti lebih banyak duduk, bermain games, dan menonton televisi (Srivastav et al., 2021). Mahasiswa yang berdiam diri di rumah akibat terbatasnya akses keluar rumah dalam waktu yang lama berisiko mengalami perubahan gaya hidup menjadi gaya hidup sedentari (Ashadi et al., 2020).

Gaya hidup sedentari adalah perilaku yang membutuhkan pengeluaran energi yang sangat rendah, seperti duduk atau berbaring sambil menonton televisi, bermain game elektronik, membaca, dan lainnya. Gaya hidup sedentari dapat menurunkan aktivitas fisik dan meningkatkan risiko untuk menjadi obesitas dan overweight (Pramudita & Nadhiroh, 2018). Selama pandemi COVID-19, aktivitas fisik pada remaja cenderung berkurang. Penelitian yang dilakukan pada remaja di Kota Medan untuk melihat aktivitas fisik selama pandemi COVID-19 membuktikan bahwa aktivitas fisik pada remaja cenderung ringan (Rukmana et al., 2020).

Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Fadhel tentang pengaruh pandemi COVID-19 terhadap aktivitas fisik menyimpulkan bahwa saat pandemi COVID-19 terjadi penurunan aktivitas fisik pada mahasiswa pascasarjana Universitas Sam Ratulangi (Nurmidin et al., 2020).

Penelitian lain yang dilakukan Jihan untuk melihat tingkat aktivitas fisik pada masyarakat yang tinggal di Komplek Pratama, Kelurahan Medan Tembung menyatakan bahwa terjadi penurunan aktivitas fisik di masa pandemi. Penurunan aktivitas fisik ini dikarenakan masyarakat yang khawatir akan penularan COVID-19 saat beraktivitas di luar rumah. Padahal aktivitas fisik yang terbatas selama pandemi akan mengakibatkan tubuh seseorang rentan terhadap penularan COVID-19 (Nurhadi & Fatahillah, 2020).

Penelitian yang dilakukan oleh Susy Olivia untuk melihat gambaran tingkat aktivitas fisik pada masyarakat di Kelurahan Tomang, Jakarta Barat pada tahun 2020 menyatakan bahwa 59,7% subjek memiliki gaya hidup sedentari, hanya melakukan aktivitas ringan dan kurang melakukan gerakan seperti menonton televisi, mendengarkan radio (Lontoh et al., 2020).

2.3.4 Gambaran Indeks Massa Tubuh Saat Pandemi COVID-19

Berdasarkan laporam dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten pada tahun 2020, saat terjadi pandemi COVID-19, menyimpulkan dari 101.343 masyarakat Kabupaten Lebak, 2.670 diantaranya merupakan masyarakat dengan status gizi lebih sementara masyarakat dengan status gizi kurang berjumlah 3.943 orang dan masyarakat dengan status gizi buruk berjumlah 825 orang (Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, 2021).

Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa angkatan 2017 Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati menunjukkan sebagain besar responden mengalami kenaikan berat badan saat pandemi COVID-19 dengan presentase mencapai 56,8%

dari total seluruh responden. Sementara hanya 29,5% responden yang mengalami penurunan berat badan. Persentase responden dengan status gizi obesitas mencapai 47,7% dan responden dengan statu gizi overweight mencapai 27,3% dan 25%

responden memiliki IMT normal (Mustofa et al., 2021).

Penelitian yang dilakukan oleh Enrico terhadap mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia saat pandemi COVID-19 menyatakan bahwa dari 105 responden, 30 responden memiliki status gizi obesitas dengan persentase 28,6%. Persentase responden dengan IMT normal mencapai 50,5% (Supit et al., 2021). Penelitian yang dilakukan oleh Christy selama masa pandemi menunjukkan telah terjadi penurunan berat badan dan indeks massa tubuh pada responden jika dibandingkan dengan berat badan dan indeks massa tubuh sebelum pandemi COVID-19. Rerata berat badan responden laki-laki sebelum masa pandemi yaitu 71,22 kg sedangkan pada masa pandemi rata-rata berat badan menjadi 69,232 kg. Begitu pula dengan responden perempuan, sebelum masa pandemi rata-rata berat badan perempuan 54,47 kg dan saat masa

pandemi rata-ratanya menjadi 53,39 kg. Terjadi penurunan status gizi yang bermakna pada responden ketika masa pandemi COVID-19 (Bolang et al., 2021).

2.3.5 Pengaruh IMT Terhadap COVID-19

Indeks massa tubuh seseorang dapat mempengaruhi tingkat keparahan gejala COVID-19. Studi analisis mengungkapkan IMT yang tinggi berpengaruh terhadap peningkatan mortalitas dan keparahan gejala COVID-19. Seseorang dengan obesitas dibandingkan dengan seseorang dengan IMT normal akan lebih berisiko mengalami hipertensi, dislipidemia, resistensi insulin, diabetes mellitus tipe 2, penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular yang mempengaruhi prognosis yang buruk pada pasien COVID-19 (Pranata et al., 2021).

Penurunan status gizi disaat pandemi COVID-19 tentunya tidak baik karena dikhawatirkan untuk status gizi kurang maupun berlebih akan berisiko memperburuk tingkat keparahan seseorang saat terpapar COVID-19. Salah satu studi di Amerika Serikat melaporkan bahwa pasien COVID-19 yang memiliki kategori status gizi kurang atau underweight memiliki risiko 20% lebih tinggi untuk menjalani rawat inap dibandingkan dengan pasien yang memiliki berat badan normal. Pasien usia dibawah 65 tahun dengan proporsi berat badan kurang dilaporkan 41% lebih mungkin untuk menjalani rawat inap dibanding pasien dengan berat badan normal. Dibawah ini adalah grafik mengenai hubungan antara IMT dengan risiko perawatan di rumah sakit, risiko perawatan ICU, risiko memakai ventilasi hingga risiko kematian dan dibagi menjadi beberapa golongan umur (Kompaniyets et al., 2021).

Gambar 2.3 Estimasi Tingkat Risiko Keparahan kondisi pasien COVID-19 (Kompaniyets et al., 2021)

Bentuk kurva yang berbentuk huruf J menyimpulkan bahwa baik individu dengan status gizi kurang maupun status gizi lebih sama-sama berisiko mengalami keparahan gejala COVID-19 dibandingkan dengan individu yang memiliki indeks massa tubuh normal. Jika diliat berdasarkan umur, individu dengan umur 18 sampai 39 tahun memiliki risiko yang terendah mengalami keparahan gejala COVID-19 (Kompaniyets et al., 2021). Penelitian di New York juga menunjukkan bahwa pasien COVID-19 dengan obesitas lebih berisiko akan memerlukan bantuan ventilasi dan kematian diantara pasien dengan infeksi COVID-19 yang lain. Hal ini dikarenakan adanya hubungan antara obesitas dengan komplikasi paru, diabetes, hipertensi, sleep apnea, adanya penumpukan lemak di hati (steatosis hati) dan penyakit ginjal (Kim et al., 2021).

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : VIKTRIS GRACIA SALSALINA (Halaman 30-37)

Dokumen terkait